ANALISIS YURIDIS AKIBAT HUKUM DARI BUKU
DAFTAR AKTA NOTARIS YANG TIDAK DITANDATANGANI DAN DI PARAF KEPADA MAJELIS PENGAWAS DAERAH
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
JUNITA TAMPUBOLON 167011091
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ANALISIS YURIDIS AKIBAT HUKUM DARI BUKU
DAFTAR AKTA NOTARIS YANG TIDAK DITANDATANGANI DAN DI PARAF KEPADA MAJELIS PENGAWAS DAERAH
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh
JUNITA TAMPUBOLON 167011091
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ii
iii
iv
v
vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. DATA PRIBADI
Nama : Junita Tampubolon
Tempat/Tanggal Lahir : Dairi/ 6 Juni 1992 Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Protestan
Alamat : Jl. Kp.kristen,Kota Pinang, Kab.Labuhan Batu Selatan
Telepon/hp : 081262139247
II. KELUARGA
Nama Ayah : TJ.Tampubolon Nama Ibu : Mariati Situmorang
Abang : Agus Santoso Tampubolon Kakak : Nila Novryani Tampubolon Adik : Thamrin Tampubolon III. PENDIDKAN FORMAL
1. SD. NO. 112243 Kota Pinang :2004
2. SMP 1 N Kota Pinang :2007
3. SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan :2010
4. S1 Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Yogyakarta :2014 5. S2 Program Studi Magister Kenotariatan FH-USU :2019
vii
ANALISIS YURIDIS AKIBAT HUKUM DARI BUKU DAFTAR AKTA NOTARIS YANG TIDAK DI TANDATANGANI DAN DI PARAF
KEPADA MAJELIS PENGAWAS DAERAH ABSTRAK
Dalam pasal 58 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan Atas Undang- Undang nomor 30 Tahun 2004 tentang Peraturan Jabatan Notaris, Notaris membuat daftar akta, daftar surat dibawah tangan, daftar surat dibawah tangan yang dibukukan dan daftar surat lain yang diwajibkan oleh Undang- Undang lain. Daftar akta adalah lapolaran bulanannya oleh Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah sesuai dengan Daerah kerja Notaris. Permasalahan dalam penelitian ini Bagaimana pengaturan tugas dan kewenangan majelis pengawas Daerah menurut Undang- undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan atas Undang- undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris. Pengaturan tentang Buku Daftar akta menurut ketentuan Undang undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan atas Undang- undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.
akibat hukum terhadap buku daftar akta Notaris yang tidak ditandatangani dan diparaf oleh Majelis Pengawas Daerah
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat yuridis normatif, sumber data yang digunakan data sekunder , yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian melalui kepustakaan ( library research), penelitian lapangan, dan alat pengumpulan data menggunakan studi dokumen dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tugas dan wewenang Majelis pengawas Daerah adalah menyelenggarakan sidang untuk memeriksa adanya dugaan pelanggaran kode etik notaris atau pelanggaran pelaksanaan jabatan notaris, dalam melakukan pemeriksaan terhadap protokol notaris secara berkalasatu kali dalam satu tahunatau setiap waktu yang dianggap perlu sebagaimana diatur dalam pasal 70 Undang- undang nomor 2 tahun 2014 perubahan atas undang- undang nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan notaris. Pengaturan tentang buku daftar akta diatur dalam pasal 58 undang- undang nomor 2 tahun 2014 perubahan atas undang- undang nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan Notaris, Notaris wajib membuat daftar akta, daftar surat dibawah tangan yang disahkan, daftar surat dibawah tangan yang dibukukan, dan daftar surat lain yang diwajibkan undang- undang. Akibat hukum dari buku daftar akta yang tidak ditandatangani dan diparaf oleh MPD tidak merubah sifat keotentikan akta tersebut, akan tetapi menimbulkan sanksi terhadap Notaris yang di atur dalam pasal 65A Undang- undang nomor 2 tahun 2014 perubahan atas undang- undang nomor 30 tahun 2004
Kesimpulan dalam penelitian menunjukkan bahwa Tugas dan wewenang Majelis Pengawas Daerah adalah menyelenggarakan sidang untuk memeriksa adanya dugaan pelanggaran kode etik notaris atau pelanggaran pelaksanaan jabatan Notaris, melakukan pemeriksaan terhadap protokol notaris secara berkala satu kali dalam satu tahun atau setiap waktu yang dianggap perlu.Notaris wajib mebuat buku daftar akta yang diatur dalam Undang-undang, akibat hukum buku daftar yang tidak ditandatangani tidak mengubah sifat akta namun menimbulkan sanksi terhadap notaris.
KATA KUNCI: Buku daftar akta, Notaris, Majelis Pengawas Daerah.
viii
JURIDICAL ANALYSIS ON LEGAL CONSEQUENCE OF THE LIST OF UNSIGNED AND UNINITIALED NOTARIAL DEEDS TO REGIONAL
SUPERVISORY COUNCIL ABSTRACT
Article 58, figure 1 of Law No. 2/2014 on the Amendment of Law No.
30/2004 on Notarial Position states that a Notary makes the list of deeds, the list of underhanded documents, the list of booked and underhanded deeds, and the other documents required by the laws. The list of deeds is a monthly report to the MPD (Regional Supervisory Council) in a Notary’s work place. The research problems are how about the regulation on the tasks and the authority of MPD according to Law No. 2/2014 on the Amendment of Law No. 30/2004 on Notarial Position, how about the regulation on the List of Deeds according to UUJN (Notarial Act) No. 2/2014 on the Amendment of Law No. 30/2004 on Notarial Position, and about legal consequence of unsigned and not initialed by MPD.
The research used juridical normative method. Secondary data were obtained from primary, secondary, and tertiary legal materials. They were gathered by conducting library research, field research, documentary study, and interviews. The gathered data were analyzed qualitatively.
The result of the research shows that the task and authority of MPD are organizing meetings to identify whether there is violation against the Code of Ethics by a Notary or against Notarial implementation. Auditing notarial protocol in one time scale yearly or in any time which is considered necessary as it is stipulated in Article 70 of Law No. 2/2014 on the Amendment of Law No. 30/2004 on Notarial Position. The book of the List of Deeds is regulated in Article 58 of Law No. 2/2014 on the Amendment of Law No. 30/2004 on Notarial Position. A Notary is required to make the list of deeds, the list of underhanded documents, the list of booked and underhanded deeds, and the other documents required by the laws. The legal consequence of the list of deeds unsigned and not initialed by MPD is that it will not change their authenticity and will cause impose the sanction on the Notary as it is stipulated in Article 65A of Law No. 2/2014 on the Amendment of Law No. 30/2004. MPD are organizing meetings for auditing whether violation against the Code of Ethics by a Notary or against Notarial implementation and auditing notarial protocol in one time scale yearly or in any time which is considered necessary. A Notary is required to make the list of deeds stipulated by law. The legal consequence of the list of deeds unsigned ad not initialed is not they will not cause the change their nature, but they will cause the imposition sanction on the Notary.
Keywords: Book of the List of Deeds, MPD (Regional Supervisory Council)
ix
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan yang telah memberikan kesehatan, kenikmatan dan anugerah kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini dengan judul: “ANALISIS YURIDIS AKIBAT HUKUM DARI BUKU DAFTAR AKTA NOTARIS YANG TIDAK DITANDATANGANI DAN DI PARAF KEPADA MAJELIS PENGAWAS DAERAH”
Ketika melakukan penulisan dan penyusunan tesis ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan baik dari isi tulisan maupuncara penulisannya. Hal ini dikarenakan oleh terbatasnya pengetahuan dan pengalaman untu kmenuangkannya kedalam tesis ini, oleh karena itu sangat diharapkan kritikan maupun saran guna memperbaiki kualitas dari penulisan dan bermanfaat pada masa yang akan datang.
Saat penyelesaian tesis tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis menyadari tidak akan mampuun untuk membalas kebaikan dari berbagai pihak tersebut dan hanya dapat berdo’a agar semua pihak yang sudah terlibat membantu penulis selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sebagai ungkapan terimakasih, maka izinkanlah penulis untuk menyampaikan rasa hormat da nterimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH.,M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH.,CN.,M.Hum selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, sekaligus Dosem Pembimbing 3 yang telah meluangkan waktu membimbing serta memberikan arahan selama penyusunan tesis ini.
x
3. Dr. Suprayitno.,SH.,SpN.,M.Kn selaku dosen pembimbing 1 yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, petunjuk baik berupa saran dan arahan yang membangun selama penyusunan tesis ini serta atas ilmu yang diberikan selama masa studi pada Program Magister Kenotariatan USU.
4. Dr. Henry Sinaga.,SH.,SpN.,M.Kn selaku dosen pembimbing 2, yang telah meluangkan waktu membimbing serta semangat dan motivasi selama penyusunan tesis.
5. Bapak/Ibu Dosen Magister Kenotariatan Fakultas HukumUniversitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan tambahan wawasan ilmu dan pengetahuan hukum selama menjalankan perkuliahan di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
6. Seluruh staf dan pegawai Magister Kenotariatan FakultasHukumUniversitas Sumatera Utara yang telah membantu selama proses perkuliahan selama ini.
7. Terimakasih kepada para sahabat saya Bang Tigor Ambarita, Spontan Daeli, Helena Anggreni, Ira yulia Alfian, Aqra, Diana putri Trisna, Puteri intan Suhaila, Oci Napitu yang selama ini sudah menjadi Tim yang baik dalam menyelesaikan tesis, serta teman-teman yang lain yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.
8. Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih dan rasa sayang yang tak terhingga kepada ayahanda TJ.Tampubolon dan ibunda Mariati Situmorang yang tidak pernah lelah memberikan dukungan, semangat, do’a, serta kasih sayang yang tiada batas Akhir kata penulis berharap semoga tesis ini dapat menjadi kontribusi yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang hukum.
Medan, 7 februari2019 Penulis
Junita Tampubolon Nim : 167011091
xi DAFTAR ISI
Halaman PENGESAHAN
TANGGAL UJIAN ABSTRAK
ABSTRACT
DAFTAR ISI ... i
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 11
C. Tujuan Penelitian ... 11
D. Manfaat Penelitian ... 12
E. Keaslian Penelitian ... 12
F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 14
1. Kerangka Teori ... 14
2. Konsepsi ... 22
G. Metode Penelitian ... 23
1. Sifat dan Jenis Penelitian ... 24
2. Sumber Data ... 25
3. Teknik Pengumpulan Data ... 26
4. Analisis Data... 27
BAB II PENGATURAN TUGAS DAN KEWENANGAN MAJELIS PENGAWAS DAERAH MENURUT UNDANG- UNDANG JABATAN NOTARIS NOMOR 2 TAHUN 2014 PERUBAHAN ATAS UNDANG- UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS ... 28
A. Sejarah Notaris ... 28
B. Kewenangan Dan Kewajiban Notaris Menurut Undang- Undang ... 37
1. Kewenangan Notaris ... 37
2. Kewajiban Notaris ... 44
C. Majelis Pengawas Notaris ... 52
1. Pengertian Pengawasan ... 52
2. Pengertian Majelis Pengawas Notaris ... 53
3. Tingkatan Majelis Pengawas Notaris... 54
4. Majelis Pengawas Daerah ... 57
5. Tugas dan kewenangan MPD Notaris... 58
xii
6. Kewenangan MPD ... 61
BAB III PENGATURAN TENTANG BUKU DAFTAR AKTA MENURUT UNDANG- UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO. 2 TAHUN 2014 TENTANGPERATURANJABATANNOTARIS ... 65
A. Pengaturan Protokol Notaris yang merupakan Arsip Negara yang harus dipeliharaNotaris ... 65
1. Minuta Akta ... 65
2. Pembuatan Buku Daftar Dibawah Tangan yang harus disahkan ... 67
3. Pembuatan Buku dibawah Tangan yang harus dibukukan ... 70
4. Buku Daftar Protes ... 72
5. Buku Daftar yang harus disimpan Oleh Notaris berdasarkan ketentuan peraturan Perundang- undangan lain ... 72
B. Pengaturan tentang buku daftar akta... 73
C. Buku Daftar Akta yang Dibukukan ... 82
D. Buku Daftar Akta yang Disahkan ... 85
BAB IV AKIBAT HUKUM DARI DAFTAR AKTA NOTARIS YANG TIDAK DITANDATANGANI DAN DIPARAF KEPADA MAJELIS PENGAWAS DAERAH ... 87
A. Akta Notaris sebagai Alat Bukti ... 87
B. Sanksi Terhadap Notaris Yang Tidak Mengesahkan Buku Daftar Akta kepada Majelis Pengawas Daerah ... 91
C. Akibat Hukum Dari Buku Daftar Akta Notaris yang Tidak ditandatangani dan diparaf Notaris Kepada Majelis Pengawas adaerah 100 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...104
A. Kesimpulan ...104
B. Saran ...105
DAFTARPUSTAKA ... 107
LAMPIRAN ... 108
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Buku Daftar Akta atau Repertorium ... 110 Lampiran 2 Buku Daftar Surat Di BawahTangan yang Dibukukan ... 111
1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang
Notaris merupakan jabatan kepercayaan sekaligus sebagai salah satu profesi hukum yang bertugas memberikan pelayanan dan menciptakan kepastian dan perlindungan hukum kepada masyarakat dengan cara melakukan penerbitan akta autentik dalam suatu perbuatan hukum melakukan legalisasi dan warmeking terhadap surat surat dibawah tangan. Akta autentik Notaris merupakan alat bukti yang sempurna bagi para pihak yang melaksanakan perbuatan hukum tertentu yang memuat hak dan kewajiban para pihak yang diuraikan secara jelas dalam akta autentik notaris.1
Dalam pasal 58 angka 1 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan Atas Undang- Undang nomor 30 Tahun 2004 tentang Peraturan Jabatan Notaris, Notaris membuat daftar akta, daftar surat dibawah tangan, daftar surat dibawah tangan yang dibukukan dan daftar surat lain yang diwajibkan oleh Undang- Undang lain. Defenisi ini yang diberikan UUJN merujuk pada pembuatan, penyimpanan, dan penyerahan protokol Notaris.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2004 Jabatan Notaris jelas mengatur bahwa Notaris berkewajiban untuk membuat buku daftar akta dan wajib untuk menandatangani dan memparaf buku daftar akta tersebut, selain sudah jelas diatur pada Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang nomor
1Abdul Bari Azed, Profesi Notaris sebagai Profesi Mulia, Media Ilmu, Jakarta,2005,hlm.68
2
30 Tahun 2004 Jabatan Notaris Keberhasilan seorang Notaris terlihat tidak hanya terbatas pada beberapa berapa banyak jumlah akta yang ia buat setiap bulannya, melainkan terlihat dari bagaimana cara Notaris mengelola administrasi kantorya itu. Bagi Notaris adalah sangat penting untuk memelihara ketertiban administrasi kantor dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut dikarenakan seluruh akta-akta dan arsip yang disimpan oleh seorang Notaris adalah dokumen /arsip milik negara serta dipelihara dengan sungguh- sungguh. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seorang Notaris yang sukses dalam jabatannya dapat dipastikan telah menjalankan sistem adminstrasi dan tatakelola kantor yang baik. 2
Menurut Undang–undang Nomor 30 Tahun 2004 sebagaimana yang telah diubah menjadi Undang- undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Jabatan Notaris telah memberikan kewenangan kepada Menteri (dalam hal ini; Menteri Hukum dan HAM RI) melakukan pengawasan terhadap notaris.
Kewenangan Menteri untuk melakukan pengawasan ini oleh Undang- Undang Jabatan Notaris diberikan dalam bentuk “Pendelegasian Legislatif (UU)”
kepada Menteri untuk membentuk Majelis Pengawas Notaris bukan untuk menjalankan fugsi-fungsi Majelis yang telah ditetapkan secara eksplisit dalam Undang-undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris, sebagaimana dirumuskan dalam: Pasal 67 ayat 1 Undang-Undang Nomor 2 Tentang Jabatan Notaris, yang berbunyi: “Pengawasan atas notaris dilakukan oleh Menteri” Pasal 67ayat 2 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Jabatan Notaris, yang berbunyi;
Dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud ayat 1, Menteri
2Sonny-Tobelo.com/2011/05/sistem-administrasi-dan-tata-kelola.diakses pada tangga 03-05- 2018
3
membentuk Majelis Pengawas”3 Majelis Pengawas Daerah yang di bentuk oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia sebagai pelaksanaan pembinaan dan pengawasan terhadap Notaris. Tujuan utama dari suatu pengawasan adalah pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap apa yang telah ditentukan.
Mulyadidan Setiawan, menyatakan bahwa pengawasan adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui, untuk menilai kenyataan yang sebenarnya tentang pelaksanaan tugas satau kegiatan apakah sesuai dengan semestinya atau tidak. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kenotariatan ditentukan beberapa pengertian pengawasan : Menurut Sudiyono, pengawasan dibedakan atas pengawasan internal dan pengawasan eksternal.
Pengawasan internal dilakukan oleh aparat pengawasan dalam lingkungan organisasi atau unit kerja sendiri, sedangkan pengawasan eksternal dilakukan oleh aparat di luar organisasinya.4
Bagi kehidupan masyarakat, maka perilaku dan perbuatan notaris dalam menjalankan jabatan profesinya rentan terhadap penyalahgunaan yang dapat merugikan masyarakat, sehingga lembaga pembinaan dan pengawasan terhadap Notaris perlu diefektifkan agar Notaris diharapkan dapat menjalankan profesi jabatannya dengan selalu meningkatkan kualitas profesionalisme dan perlindungan hukum kepada masyarakat.
Majelis Pengawas adalah suatu badan yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap notaris.
3 UUJN Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris
4file:///C:/Users/10/Downloads/j.%20BAB%20IV.pdf, diakses pada tanggal 3 juli 2018 pukul 15.00 wib
4
Pengawasan terhadap notaris dimaksudkan agar notaris dalam menjalankan tugas jabatannya wajib berdasarkan dan mengikuti peraturan perundang-undangan yang mengatur jabatan notaris. Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya wajib berpegang dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur Jabatan Notaris secara melekat, artinya segala hal yang disebutkan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur Jabatan Notaris wajib diikuti.
Tujuan dari pengawasan ialah bahwa notaris dihadirkan untuk melayani kepentingan masyarakat yang membutuhkan alat bukti berupa akta otentik, sehingga tanpa adanya masyarakat yang membutuhkan notaris maka Notaris tidak ada gunanya. Notaris diangkat oleh pemerintah, bukan untuk kepentingan diri Notaris itu, tetapi untuk kepentingan masyarakat umum.
Terkait dengan akibat hukum di atas, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 67 sampai dengan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004, telah diatur tentang pengawasan terhadap Notaris, yang kemudian dijabarkan lebih lanjut ke dalam :
1. Peraturan Menteri Hukum Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR08.10 Tahun 2004 tentang Tata Cara Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota, Susunan Organisasi, Tata Kerja dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris;
2. Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor: M.39- PW.07.10 Tahun 2004 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Majelis Pengawas Notaris;
Tahun 2006 tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian Notaris ; dan Berdasarkan Pasal 70 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004, telah ditentukan kewenangan Majelis Pengawas Daerah Notaris sebagai berikut:
5
1. Menyelenggarakan sidang untuk memeriksa adanya dugaan pelanggaran Kode Etik Notaris atau pelanggaran pelaksanaan jabatan Notaris;
2. melakukan pemeriksaan; terhadap Protokol Notaris secara berkala 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun atau setiap waktu yang dianggap perlu;
3. Memberikan izin cuti untuk waktu sampai dengan 6 (enam) bulan;
menetapkan Notaris Pengganti dengan memperhatikan usul Notaris yang bersangkutan;
4. Menentukan tempat penyimpanan Protokol Notaris yang pada saat serah terima Protokol Notaris telah berumur 25 (dua puluh lima) tahun atau lebih;
5. Menunjuk Notaris yang akan bertindak sebagai pemegang sementara Protokol Notaris yang diangkat sebagai pejabat negara ;
6. Menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya dugaan pelanggaran Kode Etik Notaris atau pelanggaran ketentuan dalam Undang-Undang Notaris; dan
7. Membuat dan menyampaikan laporan Kepada Majelis Pengawas Wilayah.5
Protokol Notaris adalah kumpulan dokumen yang merupakan arsip negara yang harus disimpan dipelihara oeh Notaris. Pada umumnya protokol Notaris terdiri dari :
1. Bundel minuta akta;
2. Daftar akta (repertorium)- (pasal 58 ayat (1) Undang- undang Jabatan Notaris);
3. Buku daftar pengesahan surat-surat dibawah tangan –( pasal 58 ayat (1) Undang-undang Jabatan Notaris;
4. Buku daftar surat dibawah tangan yang dilakukan (warmeking) – (pasal 58 ayat (1) Undang- undang Jabatan Notaris;
5. Buku daftar prates terhadap tidak dibayar atau tidak diterima surat berharga- (pasal 16 ayat (1) huruf g Undang-undang jabatan Notaris);
6. Buku daftra surat wasiat (pasal 16 ayat (1) huruf h Undang- undang Jabtan Notaris);
7. Dafar klapper untuk para penghadap;
8. Daftar klapper untuk surat dibawah tangan yang dilaksanakan dan ditandatangani dihadapan Notaris ( legalisasi)- (pasal 59 ayat (1) Undang- undang Jabatan Notaris);
5 Pengawasan Majelis Pengawas Daerah terhadap Notaris setelah berlakunya Undang- UndangNo. 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang No 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris
6
9. Daftar klapper untuk surat dibawah tangan yang dilakukan (warmeking) (pasal 59 ayat (1) Undang-undang Jabatan Notaris);
10. Daftar surat lain yang diwajibkan oleh Undang-undang jabatan Notaris (pasal 58 ayat (1) Undang-undang Jabatan Notaris).
Mengenai cara penyimpanan dan tempat penyimpanan tidak dijelaskan secara terperinci dalam Undang-undang tersebut. Namun minuta-minuta ,daftar akta dan lain-lainnya harus disimpan ditempat yang aman, terhindar dari pencurian , serta bahaya kebakaran atau kebanjiran dan pengaruh- pengaruh lainnya dari luar seperti kelembaban dan binatang- binatang yang dapat merusak protokol Notaris. Dengan demikian dokumen-dokumen yang merupakan arsip negara tersebut tidak hilang, musnah dan rusak. Sebagaimana kebiasaan seseorang untuk menyimpan dan mengamankan uangnya, surat-surat penting dan barang berharga lainnya, yaitu dengan menyimpannya dalam lemari berisi dan tempat- tempat yang aman lainnya.6
Pasal 1686 KUH Perdata menyebutkan bahwa “ Akta Autentik ialah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-undang oleh suatu atau dihadapan pegawai umum yang berkuasa untuk itu ditempat dimana akta itu dibuatnya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang nomor 30 Tahun 2004 Jabatan Notaris sebagai Pejabat Publik yang berwenang membuat akta autentik. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang nomor 30 Tahun 2004 Jabatan Notaris pasal 15 ayat (1) menyebutkan bahwa :
“Notaris berwenang membuat akta autentik mengenai semua perbuatan,perjanjian, dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang
6Sudikno Mortokusumo, Penemuan Hukum suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1985, hlm.123.
7
berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta autentik, menjamin kepastian taggal pembuatan akta,menyimpan akta,memberikan grosse,salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang pembuatan akta itu tidak juga ditugaskan dan dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh Undang-undang”.
Dengan demikian dapat dikatan bahwa Notaris berwenang membuat akta autentik semua perbuatan, perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam akta autentik sepanjang tidak ditugaskan dan dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang- undang.
Keberhasilan seorang Notaris tidak hanya bisa diukur dari banyaknya akta yang ia buat, melainkan juga dari kepegawaiannya mengatur administrasi dikantornya. Akta yang banyak tidak disertai administrasi yang rapi dan teratur akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Oleh karena itu perlu bagi seorang Calon Notaris untuk mengetahui dan mempelajari serta memperhatikan administrasi kantor, sebelum ia melaksanakan jabatannya sebagai Notaris.
Sehingga secara singkat dapat dikatakan bahwa eksistensi Notaris bukanlah untuk dirinya sendiri melainkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kalimat inilah, menjadi dasar mengapa seorang Notaris harus menambah pengetahuan dan keterampilannya dalam melayani masyarakat sebagai misi utama dalam hidupnya.
Dokumen yang harus dipunyai setiap Profesi Notaris sebelum menjalankan jabatan profesi , antara lain: Surat keputusan Mentri Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tentang Pengangkatan sebagai Notaris, berita acara
8
Sumpah Notaris, Sertifikat Cuti. Dalam Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2014 penjelasan pasal 62, disebutkan bahwa protokol Notaris terdiri atas :
1. Minuta Akta
Minuta akta adalah asli akta Notaris , dimana didalam minuta akta ini terdiri dari data-data diri penghadap dan dokumen lain yang diperlukan untuk pembuatan akta tersebut.
2. Buku daftar akta
Dalam buku daftar akta ini , setiap hari Notaris harus mencatat semua akta yang dibuat oleh atau dihadapannya baik dalam bentuk minuta maupun Originali dengan mencantumkan nomor urut, nomor bulanan, tanggal, sifat akta dan nama para penghadap.7
Tanggungjawab Notaris terhadap akta Notaris yang dibuatnya mempunyai peranan penting dalam menciptakan kepastian hukum, akta Notaris bersifat Otentik. Akta otentik merupakan suatu alat bukti yang sempurna yaitu apabila akta otentik diajukan sebagai alat bukti dalam satu persidangan, maka tidak diperlukan bukti pendukung lain yang menyatakan bahwa akta otentik telah dapat dipastikan kebenarannya.
Akta otentik Notaris tersebut adalah salah satu dokumen/arsip Negara yang harus dirawat dan disimpan baik-baik agar tidak sampai hilang atau rusak, salah satu kewajiban Notaris dirumuskan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang nomor 30 Tahun 2004 Jabatan Notaris Pasal 58 tentang pembuatan, penyimpanan, dan penyerahan Protokol Notaris sebagai tanggungjawab Notaris salah satunya membuat daftar akta mencatatkan minuta akta yang telah dibuatnya pada buku daftar akta setiap harinya dengan mencantumkan nomor urut, nomor bulanan, tanggal, sifat akta dan nama penghadap tanpa sela-sela kosong sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 2
7 Sonny-tobelo.Blogspot.co.id/2011/-05/Sistem-administrasi-tata-kelola..html.Diakses pada tanggal 8 Mei 2018.
9
Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang- Undang nomor 30 Tahun 2004 Jabatan Notaris Pasal 58 ayat (2) , akibat hukum terhadap akta yang tidak dicatatkan pada daftar akta tidak akan mengakibatkan akta tersebut berubah sifat, namun keotentikan tersebut suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang dicantumkan oleh Undang-undang dibuat oleh atau dihadapan Pegawai umum yang berkuasa untuk itu ditempat dimana dibuatnya sedangkan akta Notaris yang tidak ditandatangani dan di paraf pada daftar akta akan dikenakan sanksi.8
Akta Notaris yang merupakan akta autentik mempunyai 3 (tiga) fungsi terhadap para pihak yang membuatnya yaitu: 9
1. Sebagai bukti bahwa para pihak yang bersangkutan telah mengadakan perjanjian tertentu;
2. Sebagai bukti bagi para pihak bahwa apa yang tertulis dalam perjanjian adalah menjadi tujuan daan keinginan para pihak;
3. Sebagai bukti kepada pihak ketiga bahwa pada tanggal tertentu kecuali jika ditentukan sebaliknya para pihak telah mengadakan perjanjian bahwa isi perjanjian adalah sesuai dengan kehendak para pihak.
Tanggung jawab Notaris selaku pejabat umum yang berhubungan dengan kebenaran Materil, dibedakan menjadi empat, yakni :
1) Tanggungjawab Notaris secara Perdata terhadap kebenaran Materil terhadap akta yang dibuatnya;
2) Taggungjawab secara Pidana terhadap kebenaran Materil dalam akta yang dibuatnya;
3) Tanggung jawab berdasarkan Peraturan Jabatan Notaris (UUJN) terhadap kebenaran materil dalam aktanya;
4) Tanggungjawab Notaris dalam menjalankan tugas jabatannya berdasarkan kode etik notaris.10
8 Mieke Rachmawati,S.H.,031424253020(2007) Tanggungjawab Notaris terhadap akta yang tidak dicatat kan pada Repertorium, Thesis, thesis, Universitas Airlangga, repostory.
unair.ac.id/62570 di akses tanggal 12 April 2018
9Salim HS, Hukum Kontrak-Teori Dan Teknik Penyusunan Kontrak,Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hlm.43.
10Habib Adjie, Salah Kaprah Mendudukkan Notaris Sebagai Tergugat,Media Notaris, Jakarta, 2008, hlm.21.
10
Dalam hal seorang Notaris yang memiliki jabatan dalam arti sebagai pejabat umum yang merupakan fungsi, tugas,wilayah kerja pemerintah pada umumnya atau badan perlengkapan pada khususnya.11 Jabatan merupakan suatu bidang pekerjaan atau tugas yang sengaja yang dibuat oleh aturan hukum untuk keperluan fungsi tertentu dan bersifat berkesinambungan sebagai suatu lingkungan pekerjaan tetap. Jabatan merupakan suatu subjek hukum, yakni pendukung hak dan kewajiban. Agar suatu jabatan dapat berjalan maka harus disandang dan dijalankan oleh subjek hukum lainnya yaitu orang yang disebut pejabat.
Dalam menjalankan jabatannya, Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Pasal 58 ayat (1) mengatur tentang Notaris membuat daftar surat dibawah tangan yang disahkan, daftar surat dibawah tangan yang dibukukan, daftar surat lain yang diwajibkan oleh Undang-Undang . Ketentuan ini sudah jelas di atur dalam Undang- Undang jabatan Notaris dan pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 pasal 65A sudah jelas dikatakan Notaris yang melanggar ketentuan pasal 58 dan pasal 59 dapat dikenakan sanksi berupa:
a. Peringatan tertulis
b. Pemberhentian sementara
c. Pemberhentian dengan hormat; atau d. Pemberhentian dengan tidak hormat.
Buku daftar akta adalah salah satu protokol yang diperiksa oleh MPD INI.
Buku repertorium harus ditanda-tangani terlebih dahulu oleh ketua MPD di
11Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administrasi Terhadap Notaris sebagai Pejabat Publik, PT RefikaAditama, Bnadung, 2008, hlm.16.
11
wilayah kerja Notaris dalam keadaan kosong. Jika sudah terisi, buku tidak akan ditanda-tangani. Dapat dilihat di sini bahwa repertorium merupakan kendali dalam kantor Notaris. Oleh karena itu jika ditemukan kesalahan atau kecacatan dalam pencatatan repertorium, maka Notaris dinilai tidak benar secara administratif.
Penelitian ini membahas tentang bagaimana apabila terjadi suatu kesalahan yang dilakukan oleh Notaris apabila Notaris tersebut tidak mengesahkan daftar akta yang wajib dilakukan secara rutin tiap bulannya oleh Notaris. Oleh karena itu penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul:
“Analisis Yuridis Akibat Hukum dari Buku Daftar Akta Notaris yang tidak ditandatangani dan di paraf kepada Majelis Pengawas Daerah”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaturan tugas dan kewenangan majelis pengawas Daerah menurut Undang- undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan atas Undang- undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris?
2. Bagaimana pengaturan tentang Buku Daftar akta menurut ketentuan Undang undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan atas Undang- undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris?
3. Bagaimana akibat hukum terhadap buku daftar akta Notaris yang tidak ditandatangani dan diparaf kepada Majelis Pengawas Daerah?
12 C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan diatas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui tugas dan kewenangan Majelis Pengawas Daerah menurut Undang- undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan atas Undang- undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris
2. Untuk mengetahi pengaturan tentang buku daftar akta menurut Undang- undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan atas Undang- undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris
3. Untuk mengetahui akibat hukum terhadap buku daftar akta Notaris yang tidak ditandatangani dan diparaf kepada Majelis Pengawas Daerah
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dsiharapkan dapat memberikan manfaat bagi peneliti baik secara teoritis maupun praktis.
1. Secara teoritis
Mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat menyumbangkan pemikiran bidang hukum yang akam mengembangkan disiplin ilmu hukum, khususnya mengenai perbuatan Notaris dalam Jabatannya.
2. Secara Praktis
Mengharapkan bahwa hasil penelitian dapat memberikan jalan keluar yang akurat terhadap permasalahan yang diteliti.
13 E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan penelusuran baik kepustakaan baik perpustakaan pusat maupun yang ada di sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, ternyata belum ada ditemukan judul mengenai “Analisis yuridis akibat hukum dari daftar akta yang tidak disahkan oleh Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah”.
Akan tetapi ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan judul dan permasalahan yang sedang diteliti dengan juduln:
1. Penelitian dengan judul “Analisis Hukum atas penggunaan dan Pembuatan Akta Notaris secara Elektronik”, NIM : 147011065, Tiska Sundani Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.
Adapun pokok permasalahan ini adalah :
a. Bagaimana Landasan Hukum keberadaan akta Notaris secara Elektronik berdasarkan peraturan Perundang-undangan yang berlaku?
b. Bagaimana Substansi hukum penggunaan dan pembuatan akta Notaris Secara elektronik?
c. Apa hambatan dan upaya pemerintah dalam pembuatan akta Notaris secara elektronik?
2. Penelitian dengan judul : “ Prinsip Kemandirian Notaris Dalam Pembuatan Akta Otentik”, NIM : 107011109 Fransiskus Sinaga, Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.
Adapun pokok permaslahan :
14
a. Bagaimana wujud dari pelaksaan prinsip Kemandirian Notaris dam Pembuatan Akta Otentik?
b. Bagaimana Tanggung jawab Notaris Dalam menjunjung tinggi prinsip kemandirian Notaris dalam pembuatan Akta Otentik?
c. Bagaimana akibat Hukum serta perlindungan hukum apabila terjadi pelanggaran prinsip kemandirian Oleh Notaris?
3. Penelitian dengan Judul “ Tanggungjawab Notaris setelah berakhirnya masa Jabatan ditinjau dari Undang-undang No 30 Tahun 2004 Jo Undang- undang No 2 Tahun 20014 Tentang Jabatan Notaris. NIM: 137011001, Irwanda Mahasiswa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara.
Adapun pokok permasalahan adalah :
a. Bagaimana ketentuan pertanggungjawaban hukum Notaris sebagai Pejabat umum atas akta yang dibuatnya?
b. Bagaimana batas waktu pertanggungjawaban Notaris bterhadap akta yang dibuatnya?
c. Bagaimana perlindungan hukum terhadap Notaris yang telah berakhir masa jabatannya apabila terjadi gugatan secara perdata oleh pihak ketiga terhadap akta yang dibuatnya?
F. Kerangka Teoritis dan Konseptual 1. Kerangka Teorirtis
15
Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi,12 dan suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya.
Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori tesis, mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi perbandingan/pegangan teoritis.13 Teori yang digunakan sebagai analisis yuridis akibat hukum dari daftar akta yang tidak disahkan oleh Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah” ini adalah;
a. Teori Kepastian Hukum
Dalam dunia ilmu, teori menempati kedudukan yang penting karena memberikan sarana kepada kita untuk bisa merangkum serta memahami masalah yang kita bicarakan secara lebih baik.14 Teori adalah suatu kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis, yang mungkin disetujui ataupun tidak disetujui yang dijadikan masukan dalam membuat kerangka berpikir dalam penulisan.15
Menurut Mukti Fajar, teori adalah suatu penjelasan yang berupaya untuk menyederhanakan pemahaman mengenai suatu fenomena atau teori juga merupakan simpulan dari rangkaian berbagai fenomena menjadi sebuah penjelasan yang sifatnya umum.16
12JJJ Mwuisman, dengan Menyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-ilmun sosial,(Jilid I), Jakarta,FE UI,1996,hal.203
13M.Solly Lubis, Filsafat dan Ilmu penelitian, Mandar Maju Bnadung,1994,hal.80.
14 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2006), hlm. 259
15 M. Solly Lubis, Op.cit.
16 Mukti Fajar et.al, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: PT.
Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 134
16
Kerangka teori merupakan kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, mengenai suatu kasus ataupun permasalahan yang bagi si pembaca menjadi bahan perbandingan.17 Kerangka teori tesebut bertujuan untuk menyajikan cara-cara bagaimana mengorganisasi dan menginterpretasi (menafsirkan) hasil-hasil penelitian dan menghubungkan dengan hasil terdahulu.18
Kerangka teori mempunyai kegunaan paling sedikit mencakup hal-hal sebagai berikut:19
a) Teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.
b) Teori sangat berguna di dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkebangkan definisi-definisi.
c) Teori biasanya merupakan suatu ikhtisar daripada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang diteliti.
d) Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mengkin faktor-faktor tersebut akan timbul lagi pada masa-masa mendatang.
e) Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan- kekurangan padaa pengetahuan peneliti.
Sehubungan dengan uraian singkat diatas, adapun yang menjadi kerangka teori pada penelitian ini adalah teori kepastian hukum dan teori perlindungan hukum.
a. Teori Kepastian hukum
Kepastian adalah perihal (keadaan) yang pasti, ketentuan atau ketetapan.20 Sedangkan hukum adalah kumpulan peraturan-peraturan atau
17 M. Solly Lubis, Op.Cit, hlm. 80
18 Burhan Ashofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Bhineka Cipta, 1996), hlm. 19
19 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 121
17
kaidah-kaidah dalam suatu kehidupan bersama, keseluruhan peraturan tentang tingkah laku yang berlaku dalam suatu kehidupan bersama, yang dapat dipaksakan pelaksanaanya dengan suatu sanksi.21 Jadi, kepastian hukum adalah peraturan-peraturan yang telah diatur secara pasti dan jelas.
Kepastian hukum merupakan ciri yang tidak dapat dipisahkan dari hukum, terutama untuk hukum tertulis. Hukum tanpa nilai kepastian akan kehilangan makna karena tidak lagi dapat dijadikan pedoman perilaku bagi semua orang. Sebagaimana dikenal dengan istilah ubi jus incertum, ibi jus nullum (dimana tiada kepastian hukum, disitu tidak ada hukum).22
Lon Fuller mengemukakan bahwa terdapat 8 (delapan) asas sebagai landasan dan syarat-syarat legitimasi bagi implementasi asas legalitas (kepastian hukum), yakni:23
a) Hukum dipresentasikan dalam aturan-aturan umum b) Hukum harus dipublikasi
c) Hukum harus non retroaktif (tidak berlaku surut) d) Hukum harus dirumuskan secara jelas
e) Hukum harus tidak mengandung pertentangan antara hukum yang satu dengan yang lain
f) Hukum harus tidak menuntut atau mewajibkan sesuatu yang mustahil g) Hukum harus relatif konstan
h) Pemerintah sejauh mungkin berpegangan teguh pada aturan-aturan hukum (yang diciptakan sendiri atau yang diakuinya)
Pendapat Lon Fuller diatas dapat dikatakan bahwa harus ada kepastian antara peraturan dan pelaksanaannya, dengan demikian sudah
20 Achmad Ali, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), (Jakarta:
Gunung Agung, 2002), hlm. 85
21 Sudikno Mertokusumo dan H. Salim Hs, Perkembangan Teori Dalam Ilmu Hukum, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 24
22Ibid, hal 82
23 Arief Sidharta, Op.Cit, hlm 8
18
memasuki ranah aksi, perilaku, dan faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana hukum positif dijalankan.
Menurut Gustaf Radbruch, keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan adalah tiga terminologi yang sering dilantunkan di ruang-ruang kuliah dan kamar-kamar peradilan, namun belum tentu dipahami hakikatnya atau disepakati maknanya. Gustaf Radbruch pernah mengatakan bahwa hukum yang baik adalah ketika hukum tersebut memuat nilai keadilan, kepastian hukum dan kegunaan. Artinya, meski ketiganya merupakan nilai dasar hukum, namun masing-masing nilai mempunyai tuntutan yang berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga ketiganya mempunyai potensi untuk saling bertentangan dan menyebabkan adanya ketegangan antara ketiga nilai tersebut.24
Menurut Utrecht, kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian, yaitu pertama, adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh negara terhadap individu.25
Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas
24 Jaka Mulyata, Keadilan, Kepastian, dan Akibat hukum Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor: 100/PUU-X/2012 Tentang Judicial Review Pasal 96 Undang- Undang Nomor 113 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, Tesis, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2015
25 Ridwan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999), hlm. 23.
19
dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi tafsir) dan logis dalam artian dia menjadi sistem norma dengan norma lain, sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma. Konflik norma yang ditimbulkan karena ketidakpastian aturan dapat berbentuk kontestasi norma, reduksi norma atau distrosi norma.26 Untuk menjawab permasalahan pertama dalam penelitian ini, yaitu terkait dengan pemenuhan asas kepastian hukum dalam pengaturan tentang tugas Majelis Pengawas Daerah, digunakan teori kepastian Hukum oleh Pendapat Lon Fuller diatas dapat dikatakan bahwa harus ada kepastian antara peraturan dan pelaksanaannya, dengan demikian sudah memasuki ranah aksi, perilaku, dan faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana hukum positif dijalankan. Pembahasan pertama membahas tentang bagaimana tugas Majelis Pengawas Daerah dalam melakuikan pengawasan terhadap Notaris, apakah pelaksanaan sudah sesuai dengan tugas yang telah ditetapkan oleh Undang- undang, karena tugas yang diberikan oleh Menteri kepada Majelis pengawas Daerah merupakan tugas yang memberikan kepastian Hukum kepada Masyarakat dengan cara mengawasi semua kegiatan yang dilakukan Notaris, yang dalam hal ini Notaris memberikan pelayan hukum terhadap Masyarakat dengan cara dapat membuat Akta otentik kepada Mayarakat.
26Ibid, hlm. 89
20 b. Teori kepastian hukum
Jan M. Otto mengemukakan bahwa kepastian hukum dalam situasi tertentu mensyaratkan sebagai berikut:27
a) Tersedia aturan-aturan hukum yang jelas atau jernih, konsisten dan mudah diperoleh (accesible), yang diterbitkan oleh kekuasaan negara;
b) Bahwa instansi-instansi penguasa (pemerintahan) menerapkan aturan- aturan hukum tersebut secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya;
c) Bahwa mayoritas warga pada prinsipnya menyetujui muatan isi dan karena itu menyesuaikan perilaku mereka terhadap aturan-aturan tersebut;
d) Bahwa hakim-hakim (peradilan) yang mandiri dan tidak berpihak menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten sewaktu mereka menyelesaikan sengketa hukum; dan
e) Bahwa keputusan peradilan secara konkrit dilaksanakan.
Selanjutnya untuk menjawab permaslahan kedua dalam penelitian ini, yaitu terkait bagaimana pengaturan tentang Buku daftar akta menurut ketentuan Undang- undang Jabatan Notaris Nomor 2 Tahun 2014 Perubahan atas Undang- undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris an teori Jan M.Otto, karena dalam teori ini dijelaskan bahwa tersedia aturan hukum yang jelas atau jernih,konsisten dan mudah diperoleh (accesible). Yang diterbitkan oleh kekuasaan Negara, dan Bahwa instansi- instansi penguasa ( pemerintahan) menerapkan aturan- aturan hukum tersebut,secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya. Teori menjelaskan adanya peraturan yang diterbitkan oleh kekuasaan Negara yang mengatur tentang suatu kewajiban yang wajib dilaksanakan sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Dalam hal ini buku dafar akta merupakan salah satu kewajiban yang dimiliki dan dibuat oleh Notaris yang sudah di atur dalam Undang. Kewajiban yang telah diatur dalam Undang-
27Arief Sidharta, Ethika Hukum, (Bandung: Laboraturium Hukum Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, 2008), hlm 85
21
undang ini wajib dibuat dan dilaksanakan oleh Notaris untuk tercapainya kepastian Hukum yang diberikan Notaris terhadap masyarakat melalui penandatangan dan paraf yang dilakukan oleh Majelis pengawas daerah, demi terlaksananya dan memberikan kepastian hukum terhadap kebenaran laporan buku daftar akta yang diberikan Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah.
c. Teori tanggungjawab
Teori tanggungjawab hukum menurut Hans kelsen “ suatu konsep yang terkait dengan konsep kewajiban hukum adalah konsep tanggungjawab hukum, seorang yang bertanggungjawab secara hukum atas perbuatan tertentu bahwa ia dapat dikenakan suatu snksi dalam kasus perbuatannya bertentangan/ berlawanan hukum. Bahwa seorang bertanggungjawab hukum dan secara subyektif berrti bahwa dia bertanggungjawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan yang bertentangan.28
Menurut Abdul Abdul Muhammad teori tanggungjawab dalam perbuatan melanggar hukum, dibagi menjadi beberapa teori, yaitu:29
a. Tanggungjawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan dengan senagaja, tergugat harus sudah melakukan perbuatan sedemikian rupa hingga merugikan penggugat atau mengetahui bahwa apa yang dilakukan tergugat akan mengakibatkan kerugian.
28 Hans kelsen,Teori umum hukum dan Negara,Dasar- dasar ilmu Hukum Normatif sebagai Ilmu Hukum Deskriptif, Empiris,terjemahan Somardi (Jakarta:BEE media Indonesia.200t,hlm.81.
29 Abdulkadir Muhamad,hukum Perusahaan Indonesia,Citra Aditya Bakti,2010,hl,.503.
22
b. Tanggungjawab akibat perbuatan melanggar hukum dilakukan karena kelalaian, didasarkan pada konsep kesalahan, yang berkaitan dengan moral dan hukum yang sudah bercampur baur.
c. Tanggungjawab Mutlak akibat perbuatan melanggar hukum tanpa mempersoalkan kesalahan, didasarkan pada perbuatannya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, artinya meskipun bukan kesalahannyatetap bertanggungjawab atas kerugian yang timbul akibat perbuatannya.
Selanjutnya untuk menjawab permasalahan ketiga dalam penelitian ini, yaitu terkait dengan akibat hukum dari buku aftar akkta Notaris yang tidak ditandatangani dan diparaf kepada Majelis pengawas daerah, penulis mengaitkan teori tanggungjawab dengan permasalahan ketiga. Notaris yang memiliki kewajiban untuk membuat Buku daftar akta Notaris dan wajib untuk menandatangani dan memparaf buku daftar akta tersebut kepada Majelis pengawas Daerah. Akibat dari tidak ditandatangani dan diparaf buku daftar akta tersebut kepada Majelis pengawas daerah sehingga mengakibatkan timbulnya akibat hukum terhadap Notaris, dan notaris yang melakukan pelanggaran harus bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukian oleh notaris tersebut dengan tidak melakukan pemberian paraf dan penandatanganan buku daftar akta Notaris kepada Majelis pengawas Daerah. Sanksi yang diberikan kepada Notaris diatur dalam pasal 65A Undang-undang nomor 2 tahun 2014 perubahan atas undang- undang nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan Notaris.
23 2. Konsepsi
Konsep adalah bagian terpenting dari teori. Konsepsi diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatudari abstrack menjadi konkrit, yang disebut dengan Operational Definition,30 Dari Analisis Yuridis akibat dari daftar akta yang tidak didsahkan oleh Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah, sehingga perlu dibuat defenisi konseptual tersebut agar makna variabel yang ditetapkan dalam topik ini tidak menimbulkan multitafsir dan terjadinya perbedaan penafsiran ( dissenting Opinion).
a. Buku daftar Akta adalah Pelaporan tiap bulannya oleh Notaris kepada Majelis Pengawas Daerah sesuai dengan daerah Kerja Notaris.31
b. Notaris Menurut pasal 1 ayat 1 UUJN, Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud Undang-undang ini. Menurut Sutrisno,pasal 1 UUJN tersebut merupakan pegertian mengenai notaris secara umum, untuk defenisi apa itu Notaris, diuraikan lebih lanjut di dalam pasal 15 ayat (1) UUJN. Jadi bila digabung pasal 1 angka 1 dengan pasal 15 ayat (1), terciptalah defenisi Notaris, yaitu. 32
Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik,mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturang perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan,untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian
30Samadi Surya Barata,Metodologi Penelitian,Raja Grafindo,jakarta,2008,hlm.28.
31http://www.google.co.id/amp/s/adityapatria.wordpress.com/20014/06/01/administrasi- dasar-kantor-notaris-beberapa-istilah-dasar-for-dummies/amp/diakses pada tanggal.16.04.2018.
32Sutrisno, Diklat kuliah tentang Komentar atas undang-undang Jabatan Notaris,Buku 1,Medan,2007,hlm,117.
24
tanggal pembuatan akta, memberikan grosse,salinan, dan kutipan akta,semuanya sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lainatau orang lain yang ditetapkan oleh Undang- undang.
c. Majelis Pengawas Daerah ( MPD)
Majelis Pengawas adalah suatu badan pemerintahan yang dibentuk oleh Kementrian Hukum Dan Hak Asasi Manusia yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap notaris.
G. Metode Penelitian
Penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis, dan konsisten. Melalui proses penelitian tersebut diadakan analisis dan kontruksi terhadap data yang telah dikumpulkan dan diolah.33 Metode penelitian merupakan penelitian yang menyajikan bagaimana cara atau langkah- langkah yang harus diambil dalam suatu penelitian secara sistematis dan logis sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.34
1. Jenis Penelitian dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian dalam penulisan ini yaitu penelitian yuridis normatif.
Penelitian yuridis normatif, yakni suatu penelitian yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder seperti peraturan perundang-undangan,
33 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji,Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat,Raja Grafindo Persada,Jakarta,hlm.1.
34 Sutrisno Hadi, Metodologi Riset Nasional,Rineka Cipta, Jakarta,2001,hlm.21.
25
teori hukum, dan pendapat para sarjana hukum terkemuka.35 Menurut Mukti Fajar ND dan Yulianto Ahmad penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang meletakkan hukum sebagai suatu sistem norma. Sistem norma yang dimaksud adalah mengenai asas-asas, norma, kaedah dari peraturan perundang- undangan, putusan pengadilan, perjanjian serta doktrin (ajaran).36
Berdasarkan kegunaannya, jenis metode penelitian yuridis normatif berguna untuk mengetahui apakah dan bagaimanakah hukum positifnya mengenai suatu masalah tertentu dan juga dapat menjelaskan atau menerangkan kepada orang lain hukumnya mengenai peristiwa atau masalah tertentu.37 Oleh karena itu metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode penelitian yuridis normatif.
Dimana metode penelitian yuridis normatif adalah metode meneliti pasal-pasal yang ada ataupun meneliti segala hal-hal yang berhubungan dengan norma-norma yang ada dalam peraturan perundang-undangan. Alasan penelitian yuridis normatif ini digunakan, karena hendak meneliti norma-norma hukum tentang
“Akibat hukum buku daftar akta Notaris yang tidak ditandatangani dan diparaf kepada Majelis Pengawas Daerah”
Penelitian ini termasuk kategori pendekatan penelitian yang bersifat deskriptif analitis yaitu dengan menggambarkan keadaan atau suatu fenomena yang berhubungan dengan permasalahan yang akan diteliti.38 Penelitian deskriptif ini dimulai dengan pengumpulan data yang berhubungan dengan pembahasan diatas, menyusun, mengklarifiksi dan menganalisissnya serta kemudian
35Ibid, hlm. 7
36Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Hukum Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, hlm. 34
37Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad ke-20, Alumni, Bandung, 1994, hlm. 140.
38Bambang Sunggono,Metode Penelitian Hukum, PT.Raja Grafindo Perkasa,Jakarta,2003,hlm.36.
26
menginprestasikan data sehingga diperoleh gambaran yang jelas tentang fenomena yang diteliti.39
2. Sumber Data a) Data Primer
Data primer ini diperoleh melalui wawancara langsung dengan Sekertaris Majelis Pengawas Daerah Marzuki dan Kasubbid PPI HAM Flora Nainggolan.
b) Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini didapatkan melalui penelusuran kepustakaan (library research) untuk memperoleh bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Bahan hukum primer yaitu hukum yang mengikat dari sudut norma dasar, peraturan dasar dan perundang-undangan.40 Bahan hukum primer yang digunakan dalam penulisan ini adalah peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan Notaris.
Bahan hukum sekunder adalah semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen-dokumen resmi, yang terdiri atas buku-buku, jurnal ilmiah, makalah, artikel serta tulisan lain yang berkaitan dengan materi.41 Bahan hukum sekunder memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer sebagaimana yang terdapat
39 Ibid,hlm.37.
40 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm 27
41Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op.Cit, hlm. 90
27
dalam kumpulan pustaka yang bersifat penunjang dari bahan hukum primer serta implementasinya.
c) Data tersier
Bahan hukum tertier yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder yang terdapat dalam penelitian42. Pada penelitian ini, bahan hukum tersier yang digunakan adalah ensiklopedia hukum dan kamus-kamus hukum sebagai bahan rujukan untuk memperoleh informasi berupa pengertian suatu kata atau istilah yang diperlukan dalam penelitian ini.
3. Teknik Dan Alat Pengumpulan Data a) Tehnik Pengumpulan Data
1) Penelitian melalui kepustakaan (library research) adalah penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan penelitian ini yang dapat dipergunakan sebagai dasar penelitian dan menganalisa masalah-masalah yang ada.
2) Penelitian lapangan (field research) adalah penelitian yang dilakukan dengan cara turun langsung ke lapangan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung dengan Majelis Pengawas Daerah dan/atau pejabat lain yang dirasa relevan degan penelitian ini.
b) Alat pengumpulan data.
Berdasarkan metode pendekatan ini yang digunakan dalam penelitian ini, maka alat pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut:
42 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 93
28
1) Studi dokumen, dilakukan dengan menelaah semua literatur yang berhubungan dengan topik penelitian yang sedang dilakukan.
2) Pedoman wawancara, digunakan untuk melakukan wawancara dengan informasi yang terdiri dari:
a) Flora Nainggolan, Majelis Pengawas Daerah b) Marzuki, Sekertaris Majelis Pengawas daerah c) Notaris Nyak Ratnasari
4. Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif yaitu analisis data yang dilakukan berdasarkan atas peraturan perundang-undangan dan pandangan-pandangan dari nara sumber, sehingga dapat menjawab permasalahan dari penelitian ini.
29 BAB II
TUGAS DAN KEWENANGAN MAJELIS PENGAWAS DAERAH TERHADAP NOTARIS MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 PERUBAHAN ATAS UNDANG- UNDANG NOMOR 30
TAHUN 2004 TENTANG PERATURAN JABATAN NOTARIS
A. Sejarah Notaris
Perkataan Notaris berasal dari perkataan Notariius, ialah nama pada zaman Romawi, diberikan kepada orang- orang yang menjalankan pekerjaan menulis.
Fungsi Notariius (majemuknya Notaris) imi masih sangat berbeda dengan fungsi Notaris pada waktu Sekarang. Nama Notariius ini lambat laun mempunyai arti berbeda dengan semula, sehingga kira-kira pada abad ke-dua sesudah Kristus yang disebut dengan nama itu ialah mereka yang mengadakan pencatatan dengan tulisan cepat, jadi seperti stenograaf sekarang. Pejabat- pejabat yang dinamakan Notaris ini merupakan pejabat-pejabat yang menjalalankan tugas untuk pemerintaah dan tidak untuk melayani Publik (umum); yang melaayani publik dinamakan “Tabelliones”. Mereka ini menjalankan perkerjaan sebagai “penulis”
untuk publik yang membutuhkan keahliannya. Sesungguhnya fungsi mereka sudah agak mirip dengan Notaris pada zaman sekarang, akan tetapi tidak mempunyai sifat “ambetlijk”sifat jabatan negri, sehingga surat-surat yang dibuatnya tidak mempunyai sifat authentik.
Dalam pemerintahan gereja Notarii itupun mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting, baik didalam lingkungan paus maupun didalam instansi-instansi gereja yang lebih rendah. Dalam pemerintahan Paus para Notarii merupakan suatu college yang tertutup dengan dikepalai Oleh Primecerius Notariium. Mula-mula Notarii dari pemerintahan Paus ini merupakan pejabat-
30
pejabat sengketa hukum oleh paus diserahkan kepadanya kanselarijnya yang memutuskan tentang hal itu,dalam hal mana para Notarii dari Pemerintahan Paus ini ikut memberikan pertimbangannya. Notarii di gereja ini terutama ditugaskan untuk membuat akte-akte dan surat- surat dibidang Hukum Perdata. Notarii di gereja ini dapat dibagi nmenjadi dua golongan:
1. Mereka yang bekerja diibawah gereja atau dibawah pejabat gereja yang lebih rendah dari Paus.
2. Mereka yang diangkat oleh gereja atau pejabat gereja, dan ditugaskan untuk memberi bantuan kepada publik untuk urusan-urusan yang tidak semata-mata mengenai gereja. Mereka ini dinamakan “Clericus Notariius publicus” 43
Selama kerajaan Rumawi Barat diduduki oleh Bangsa Lombardia (568-774) pada umumnya keadaan ketatanegaraan tidak berubah. Para Tabelliones tetap memberikan jasa- jasanya kepada publik, tidak hanya kepada orang- orang Romawi, melainkan juga kepada orang-orang Lombardia. Bahkan raja-raja Lombardia menyususn pemerintahannya seperti bangsa Romawi Barat dan mempergunakan juga dewan Notarii dalam kabinetnya, seperti raja-raja negara Romawi Timur dan kerajaan Gereja (Paus).
Pada zaman kekuasaan Lombardia itu, Notarii kerajaan dipilih dari Tabiliones yang cakap, karena itu lambat laun Notarii kerajaan ini juga memberikan jasanya kepada publik, lebih disukai dan dihargai daripada Tabilliones biasa, karena itu di daerah-daerah yang dikuasai oleh raja-raja
43 R. Soegondo Notodisoerjo, Hukum Notariat Di Indonesia Suatu Penjelasan, Manajemen PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1982, hlm13-15.