• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERUGIAN SEKUNDERKerugian :

Dalam dokumen DIKTAT ILMU TERAPAN DAN LINGKUNGAN I (Halaman 116-132)

Langsung pada reseptor

KERUGIAN SEKUNDERKerugian :

KERUGIAN SEKUNDER Kerugian :

Efek terhadap nilai yang berguna KERUSAKAN:

Semua respon terhadap polutan

Nilai Ekonomis: Nilai Ekologis: Nilai Ideal:

KUANTITAS: Vegetasi Penutup Nilai Estetika Pertumbuhan Komponen ekosistem Bunga-bunga Hasil Penyangga kondisi di taman atau di KUALITAS: hidrologi, iklim halaman rumah

Wujud eksternal Proteksi Angin Kandungan substansi Proteksi polusi udara Hiasan, Bunga dan kebisingan

Gam bar 11. Dampak lingkungan akibat adany a pencemar/polutan

E Meninjau S umberdaya Air Bersih Dunia &

Krisis Air Bersih Di Jakarta

Sumberday a air merupakan sumberday a y ang sangat esensial bagi keh idup an umat manusia. Ketersediaan sumberday a air di bumi tidak mer ata, dinamis dari waktu ke waktu, dan berbed a dar i satu temp at ke temp at lainny a. Sementara disisi lain pertumbuhan pop ulasi manusia semakin b esar den gan tuntutan urbanisasi dan industrialisasi yang semakin melu as berimplikasi pada menin gkatny a kebutuhan akan sumberday a air. Ketimpangan antara tin gkat kebutuhan dan keterdapatan sumberday a air akan men gakibatkan adany a krisis air. M anajemen sumberday a air san gat dip erlukan dalam ran gka men gatasi kr isis air. Salah satu manajemen sumberdaya air adalah

pengelolaan ekosistem DAS. Diman a tujuan dar i pengelolaan ekosistem DAS adalah untuk melakukan monitorin g dan p erlindungan sumberday a air baik secara kualitas maup un kuantitas serta p enanggulangan bencana terkait dengan air.

Air merup akan salah satu kebutuhan y ang san gat esensial bagi manusia.

Sumberday a air dimanfaatkan manusia untuk berbagai sektor dan kebutuhan, mulai dari kebutuhan rumah tan gga, industri, transp ortasi, p embangkit en er gi, k ebutuhan kesehatan dan lain seb againy a. Melihat nilai strategis dari sumberday a air, maka sistem man ajemen sumberday a air menjadi san gat p enting artiny a. Berbagai kebijakan dalam man ajemen sumberday a air p erlu dilakukan untuk menan ggulan gi krisis air y an g berkelanjutan.

Diberbagai temp at di belahan muk a bumi, p ada saat ini terjadi kekur an gan sumberd ay a air, y ang men gak ibatkan hilangny a kehidup an dan sumber-sumb er kehidup an. Lap oran Unesco Tahun 2003 dalam bukuny a Water for people-water for life, menyatakan bahwa terkait dengan permasalahan man ajemen sumb erdaya air terdap at sekitar 25.000 oran g menin ggal dunia p er hari akibat malnutrisi dan 6000 orang lainnya, y ang kebany akan sumberday a air adalah untuk membuat kep astian terhadap ketersediaan supp ly secara mencukup i dari sumberd ay a air den gan kualitas y ang baik dan pen gelo laanny a untuk seluruh p op ulasi di muka bumi. M elakukan pengelolaan secar a hidrolo gis, biolo gis dan kemis dar i fun gsi-fun gsi ekosistem, adap tasi aktivitas-aktivitas manusia dalam keterbatasan kap asitas alam dan melawan vektor peny akit berkaitan dengan air (UN, 1992). Dalam United Nation Millenium Declaration (2000), Perserikatan Ban gsa-Ban gsa (PBB) men ghimb au kep ada negara-negara an ggotany a untuk menghentikan eksploitasi sumberday a air y ang mengak ibatkan ketidaktersediaan sumberdaya air y ang berkelanjutan, melakukan p engembangan strategi manajemen sumberday a air di tingk at regional, nasional maupun lokal menuju akses berkeadilan dan distribusi berkecukup an.

Ketersediaan sumberday a air sangatlah beragam. Sumberdaya air dalam konteks siklus hidrolo gi merupakan sumberday a yang sangat dinamis. Artiny a sumberday a tersebut senantiasa berubah dari waktu ke waktu dan dari satu temp at ke temp at lain.

Dengan din amik a tersebut maka ketersediaan dan pen ggunaan kebutuhan sumberd ay a air selalu berubah d an dinamis setiap saat. Terjadiny a ketimp angan antara kebutuhan dengan ketersediaan akan menimbu lkan masalah, y ang k emudian disebut sebagai krisis air. Krisis air ini menurut Unesco dibagi men jadi tiga hal besar, y aitu kelan gkaan air (water scarcity), kualitas air (water quality), dan bencana berk aitan den gan air (water-related disaster).

Pemanfaatan sumb erday a air b agi k ebutuhan umat manusia semakin h ari semakin meningkat. Hal ini seir ama den gan p esatnya p ertumbuhan p enduduk di dunia, yang member ikan konsekuensi lo gis terhadap upay a-upay a p emenuhan kebutuhan hidup nya. Disatu sisi kebutuhan akan sumberday a air semakin menin gkat p esat dan disisi lain kerusak an dan p encemaran sumberday a air semak in menin gkat p ula sebagai imp likasi p ertumbuhan p op ulasi dan industrialisasi. Sumberd ay a air y ang dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia p aling domin an berasal d ari air hu jan. Menurut Shiklomanov (1997) dalam Unesco (2003) d isebutkan bahwa leb ih dar i 54% runoff y ang dap at dimanfaatkan, digun akan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Apabila tingk at kebutuhan semakin lama semakin tinggi, maka dikuatirkan ketersediaan air tidak mencukup i. Pada saat ini d iperkirakan terdap at lebih d ari 2 milyar manusia p er hari terkena damp ak kekurangan air di lebih dari 40 negar a didunia. 1,1 mily ar tidak mendapatkan air y an g memadai dan 2,4 milyar tidak mendap atkan sanitasi y ang lay ak (WHO/UNICEF, 2000). Implikasinya jelas p ada munculny a peny akit, kekurangan makanan, konf lik k ep entingan antara p en ggunaan dan keterbatasan air dalam aktivitas-aktivitas p roduksi dan kebutuhan sehari-hari.

Dip rediksikan bahwa p ada sekitar tahun 2050-an secara mencemaskan dikemukak an kemun gkinan 1 d ari 4 or an g ak an terkena damp ak dari kekur an gan air bersih. Pada saat ini d i negara-negara berkemban g memp unyai kesulitan dalam memenuh i kebutuhan air minum p er kap ita per tahun y aitu 1.7000 m3 sebagai air bersih yang diperlukan untuk aktivitas sehari-hari dan untuk p emenuhan asp ek kesehatan. Hal

ini sebagian b esar terdap at di Afrika, diikuti kemudian oleh Asia d an beberap a bagian di Erop a Timur dan Amerika Selatan.

Sementara itu dalam konteks lokal di Indonesia, kelan gkaan air ini telah menjadi permasalahan dalam manajemen sumberday a air y ang h arus dip ecahkan. Kelan gk aan air akan sangat terlihat p ada saat musim kemarau datan g. Seb agai salah satu contoh, adalah fenomena di Jakarta. Ibu Kota negara in i dialir i 13 sun gai, terletak di d ataran rendah dan berbatasan lan gsun g den gan Laut Jawa. Seir in g dengan p ertumbuhan p enduduk Jakarta yang san gat p esat, berkisar hamp ir 9 juta jiwa, maka p eny ediaan air bersih menjadi permasalahan yang ru mit. Dengan asumsi tingkat konsumsi maksimal 175 liter p er orang, dibutuhkan 1,5 juta meter kubik air dalam satu hari. Neraca Lin gkun gan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta tahun 2003 menunjukkan, Perusahaan Daerah Air M inum (PDAM ) dip erkirakan baru mamp u meny up lai sekitar 52,13 p ersen kebutuhan air bersih untuk sumber-sumber p erairan dan juga p eny akit berkaitan denganny a.

Pencemar an air adalah masukny a atau dimasukkanny a makhluk h idup , zat, energi, atau komp onen lain ke d alam air oleh k egiatan manusia, sehin gga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu y ang meny ebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai d en gan peruntukanny a. Pencemaran yang diakibatkan oleh adany a limbah industri dan domestik memp uny ai bany ak akibat buruk. Pencemaran limbah dapat mengakibatkan menurunnya keindahan lin gkun gan, p eny usutan sumberdaya, dan adany a wabah p eny akit dan keracunan.

Masukny a limbah ke dalam sun gai selain memberik an dampak terhadap p erubahan fisik air

sungai ju ga memb erikan damp ak secara khemis dan biolo gis terhadap air sungai. Secara umum damp ak tersebut adalah terjad iny a dekomp osisi bakteri aerobik, dekomp osisi bakteri anaerobik, dan p erubahan karakter biotik.

Visi 21 y ang diun gkapkan PBB terhadap target p enyediaan air dan sanitasi adalah:

1) M enguran gi sep aruh dari p rop orsi manusia dar i tanp a akses menuju f asilitas sanitasi higenis p ada tahun 2015, 2) Menguran gi separuh p rop orsi masy arakat dari tanp a akses air bersih yang berkelanjutan menuju k ecukup an secara kuantitatif pada tahun 2015, dan 3) Peny ediaan air dan sanitasi y ang higenis p ada tahun 2015.

Secara struktural dan institusional p elaksanaan manajemen p erkotaan, industri dan pertanian p ada negara-n egara b erkemb an g belum b erjalan den gan baik. Pad a beber apa negara di Asia bahkan sangat buruk, hal tersebut secara deskrip tif diny atakan dalam lap oran CSE (1999) tentang gambar an sun gai di Ind ia. Dikatakan b ahwa sungai-sungai di Ind ia, terutama sungai-sungai-sungai-sungai kecil, semu any a mengandun g aliran berbah aya (toxic stream). Dan b ahkan sungai y ang terbesar seperti Sungai Ganga ju ga san gat jauh d ari katagori sungai b ersih. Kondisi ini disebabkan oleh p ertumbuhan p op ulasi, modernisasi pertanian, urbanisasi dan industrialisasi-y ang semakin hari semakin besar. Sebagaian besar penduduk di kota-kota di India men ggantun gkan sumber air minumny a dari sun gai. Den gan demikian mereka berada p ada kondisi dan keadaan yang terancam.

Di Indonesia, sebagai salah satu contoh kasus ad alah kondisi p encemaran di Sun gai Gajahwong Yogy akarta. Sungai Gajahwong memiliki tidak kuran g dari 73 daerah pembuangan samp ah, dimana 97%nya merup akan p embuangan den gan kategori sedang samp ai dengan bany ak, artinya p roduksi samp ah di sep anjang daerah in i san gat besar dan

sebsar15,8-31,6 mg/l dan kad ar coli juga lebih tin ggi d ari 2400 M PN/100 ml. Sedan gkan di daerah hilir dari titik pengamatan d aerah Sukowaten hin gga Wirok erten diperoleh kadar Cl berkisar dari 26-180 mg/l dan kadar coli 1100 hingga lebih dari 2400 M PN/100ml.

Dampak Akibat Air

Sumberday a air dap at men gak ibatkan kerusak an dan b encan a di muka bu mi.

Bencana alam y an g terkait den gan sumberd ay a air antara lain b anjir, keker in gan, pencemaran air tanah, d an tsunami. Pad a Tahun 1991-2000 terdap at lebih dar i 665.000 manusia men inggal dunia dalam 2.557 kejadian bencana alam. Diman a 90% diantaranya terkait dengan air.

Meningkatny a konsentrasi manusia dan menin gkatny a infrastruktur p ada daerah-daerah rawan sep erti pada dataran banjir dan daerah-daerah p esisir serta p ada daerah-daerah-daerah-daerah lahan mar ginal men gind ikasikan bahwa terdap at bany ak p op ulasi y ang hidup dalam tingkat resiko tinggi.Banjir merup akan bencan a alam terbesar berkaitan den gan air. Fenomena bencana banjir merup akan salah satu damp ak dar i kesalahan p engelolaan sumb erday a alam dan lin gkun gan. Banjir terjadi kar ena beb erap a hal; p ertama, terjadinya p enggundu lan hutan dan rusakny a kawasan resap an air di daerah hulu. Sep erti diketahui bahwa daerah hulu merup akan kawasan r esapan y ang b erfun gsi untuk menahan air hujan y ang turun agar tidak langsung menjadi aliran p ermukaan dan melaju ke daerah hilir, melaink an ditahan sementara dan sebagian airny a dapat diresap kan menjadi cadan gan air tanah y ang memberikan kemanfaatan besar terhadap kehidup an ekologi dan ekosistem (tidak h anya manusia). Tindakan p eneban gan hutan dan p erusakan daerah hu lu tidak terlep as dari sebuah alasan untuk memenuhi kebutuhan materialitas manusia.

Kedua, beralih fun gsiny a p enggun aan lahan di daerah hulu d ari kawasan pertanian dan budiday a menjad i kawasan p ermukiman dan kawasan terban gun ju ga men gakibatkan

aliran p ermukaan y ang lebih besar ketika hujan turun. Aliran p ermukaan y ang besar akan meny ebabkan terjad inya banjir ap abila k ap asitas daya tamp ung saluran sungai d an drainase tidak mencukupi.

Fenomena p erkembangan p ermukiman ju ga tidak d ap at dielakkan lagi seiring dengan p erkemban gan p emenuhan k ebutuhan hidup manusia.

Ketiga, banjir juga disebabk an oleh terjad inya p endangkalan di saluran sungai d an drainase akibat terjadinya erosi d i daerah hulu. Den gan demikian kap asitas day a tamp ung menjadi berkurang dan air diluap kan ke berbagai tempat sebagai ban jir.

Keemp at, banjir ju ga tidak luput dari perilaku manusia dan damp ak dari p emban gun an fisik perkotaan. Bany ak kawasan terbuka menjadi k awasan terbangun. Daerah terbuka y ang duluny a bermanfaat men jadi kawasan p eresapan sekaran g semak in berkuran g. I mplikasinya tidak ada lagi atau sangat sedikit sekali air hu jan yang d ap at diresap kan kedalam tanah sebagai cad an gan air tanah, dan sebagian b esar di alirkan sebagai aliran p ermukaan sehingga kap asitas saluran drain ase terutama di k awasan p erkotaan menjadi tidak memad ai.

Kelima, tidak ad any a kesadaran d an kep ekaan lin gkun gan dari p erilaku masy arakat.

Kegiatan p embuangan sampah dan limbah p adat industri meny ebabkan terjad inya pendangkalan dan p enyumbatan aliran sungai.

Selain banjir, kekerin gan ju ga merup akan bencana alam terkait dengan sumberd aya air. Kekuran gan sumberd ay a air dalam kurun waktu y ang lama akan men gakibatkan kekerin gan. Keker in gan dap at dikategorik an men jadi tiga, y aitu : Pertama, Kekerin gan meteorolo gis yaitu keadaan suatu wilay ah p ada saat-saat tertentu terjadi kekur an gan (defisit) air karena hujan leb ih kecil dar ip ada nilai evap otransp irasiny a (p enguap an air). Di wilay ah ini terjadi k ekuran gan air p ada musim kemar au sehingga masy arakat sudah terbiasa dan meny esuaikan aktivitasny a den gan iklim setemp at. Hany a saja, p eny imp angan musim masih dap at terjadi. Peny imp angan in ilah y ang serin g men imbulk an bencana kekeringan.

Kedua, Kekeringan hidro lo gis merupakan gejala menurunny a cadan gan air (deb it) sungai, waduk-waduk dan danau serta menurunny a p ermukaan air tanah sebagai damp ak

dari kejadian keker in gan. Keb eradaan hutan p erlu dip ertahankan dan dilestarikan agar dap at meny impan air cukup .

Ketiga, Keker in gan pertanian, kekerin gan muncu l karen a kadar len gas tanah di bawah titik lay u p ermanen dan dikatakan tanaman telah mengalami cekaman air.

Imp likasi dari bencana k ekerin gan terhadap p ertanian adalah b erup a kegagalan panen. Sebagai contoh, gagal p anen y ang terjadi di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang disebabkan min imny a curah hujan meland a 117 kecamatan men cakup 1.108 desa di 16 kabup aten/kota. Jumlah penduduk korban gagal p anen mencap ai 101.973 kep ala keluar ga (KK) atau 452.920 jiwa. Di berbagai daerah di Indonesia, terutama bagian timur, yang curah hujanny a relatif leb ih rendah dibandin gkan d i bagian barat, mak a p ada musim kemarau p anjang lebih sering terkena bencana kekeringan, galgal p anen dan gizi buruk.

Krisis Air Di Jakarta

Jakarta Timur dan Jakarta Utara harus bersiap untuk menghemat air bersih. Sebab, PT Thames Pam Jay a (TPJ), y ang memasok air bersih k e dua wilay ah itu, meny atakan kondisi krisis, meny usul tingkat kekeruhan p asokan air d ari wilayah hulu jauh meleb ihi amban g b atas toleransi. Curah hu jan y an g tin ggi dituding sebagai p enyebab kekeruhan.

Meny ikap i kondisi pasokan air dari hulu, TPJ berencana men guran gi, bahkan menghentikan sup lai air bersih ke 66 kelurahan di Jakarta Timur dan Jakarta Utara.

Keny ataan tersebut, tentu tidak dap at diterima oleh warga p elanggan air bersih.

Selama bertahun-tahun, merek a sangat ber gantung p ada sup lai air bersih dari op erator.

Tentu dap at dibay angkan kerep otan warga y ang harus men jalani keh idup an sehari-hari tanp a air bersih.

Berita krisis air b ersih tersebut terasa an eh, b ila kita melihat hari-h ari b elak an gan ini, air begitu melimpah men ggenan gi sejumlah permukiman di Jakarta, akibat ban jir

kiriman. Say angny a, air berlimp ah itu justru mendatangk an p etaka, tidak mampu diolah menjadi air bersih y ang dibutuhkan warga.

Krisis air bersih y ang men gancam sebagian war ga Jak arta, adalah bukti lemahnya pelay anan p ublik di neger i ini. Begitu sering p ublik diru gikan oleh ketidakmamp uan op erator p eny edia jasa dan pemerintah selaku regulator memenuhi tanggun g jawabnya.

Masy arakat, sebagai konsumen, ny aris tak pernah memiliki p osisi tawar terhadap setiap pelay anan y ang tidak sep erti dijanjikan.

Konsumen selalu ber ada di p osisi terpaksa menerima ap ap un kondisi y ang diber ikan oleh op erator. Hal itu disebabkan p erlindun gan huku m dari pemer intah lemah. Jaran g sekali ada tindakan tegas terhadap operator, misalny a memberikan komp ensasi kep ada konsumen yang dirugikan op erator.

Dalam masalah ancaman kr isis air bersih, misalnya, kemun gkinan b esar war ga kembali tak berday a, sementara di sisi lain op erator cukup digday a meski wanp restasi terhadap kewajiban y ang mestiny a dip enuhi. Berkaitan hal tersebut, terasa aneh manakala men getahui b ahwa kond isi tin gginya cur ah hujan di wilay ah hulu d ipersalahkan o leh op erator, sebagai p enyebab meningkatny a kadar kekeruhan pasokan air.

Masy arakat tidak terlamp au bodoh untuk dapat mengin gat bahwa curah hujan y ang tinggi di wilay ah hulu terjadi setiap tahun. Lantas, mengap a tahun ini hal itu dip ersalahkan.

Persoalan utama sebenarny a adalah sejauh mana op erator mampu menyup lai air bersih kep ada konsumen. Sebagaiman a diny atakan Pemp rov DKI Jakarta, menjadi kewajiban d an tanggun g jawab TPJ, dan op erator air bersih lainny a, untuk memenuhi kebutuhan air bersih war ga sepenuhnya. Dengan demikian, konsekuensiny a adalah op erator harus memilik i teknologi p en golah an air bersih, ap apun kondisi air baku yang diterima d ari hulu.

Di sisi lain, kita juga menuntut Pemp rov DKI Jakarta bertindak tegas terhadap op erator air bersih y ang wanp restasi terhadap kewajibanny a. Dalam kondisi ini, sudah

saatny a Pemp rov DKI Jakarta, dan p emerintah p ada umumny a, berp ihak pada kepentingan masy arakat. Pelibatan p ihak swasta asin g dalam p eny ediaan air bersih di Ibukota, adalah bukti ketidakmamp uan p emerintah memenuhi k ebutuhan air bersih kepada masy arakat.

Dengan d emik ian, ancaman krisis air bersih y an g ditebar TPJ, menjadi tanggung jawab pemerintah p ula.

Sudah saatnya, p emerintah, DPR dan DPRD, serta lemb aga terkait, men gemb an gkan suatu aturan y ang bisa memaksa op erator member i komp ensasi kep ada warga (konsumen), man akala op erator wanp restasi terhadap kewajibanny a, meskip un dalam skala y ang kecil. Sebab, selama ini aturan komp ensasi dibuat sedemikian rupa, sehingga masih menguntungkan op erator.

Jakarta belum memenuhi k ebutuhan air bersih secara ku alitas dan ku antitas. Air bawah tanah p un sudah berkurang jumlahny a. Kualitasny a tercemar bakteri dan detergen.

Masy arakat Jakarta mengambil air tanah lebih d ari 251 juta meter kubik p er tahun,”

kata Daniel Abbas, kepala Bidan g Pen gend alian Kerusakan Lin gkun gan Badan Pen gelo la Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta kep ada Rep ublika kemarin.

Menurut Daniel, air tanah y ang boleh diambil tidak boleh melebih i 186,2 juta meter kubik per tahun. Pasalny a air tanah y ang boleh d iamb il untuk dip ergunakan masy arakat adalah 30-40 persen dari jumlah total. Sedan gkan volume air tanah di Jakarta h anya berkisar 532 juta meter kubik per tahun.

Air bawah tanah d i Jakarta d iperoleh dar i air hujan dan air ser ap an dari Bogor. Dari 2.000 juta meter kubik hany a dap at menamp ung 532 juta meter kubik p er tahun. Sed an gkan 37 juta meter kubik p er tahun diberikan oleh Bogor.

Dari data BPLHD p ada 2005, kebutuhan air p enduduk Jakarta mencap ai 547,5 juta meter kubik p er tahun. Padahal PDAM hanya sanggup memenuhi kebutuhan ini hin gga 54 peren saja, y aitu 295,6 meter kubik per tahun. M au tidak mau masy arakat men gamb il air tanah untuk memenuhi kebutuhan kesehar ian mer eka. Akibatny a terjadi keleb ihan

pengambilan air tanah dari b atas aman. Kelebihan ini mencap ai 66,6 juta meter kubik p er tahun.

Selain vo lume yang makin men ip is, kondisi air p un tidak memenuhi sy arat. Hampir seluruh air tanah di wilay ah Jakarta terkena p encemaran. Menurut Daniel, rumah tangga pun melakukan p encemaran air tanah. ”Orang suka ban gga tidak melakukan p eny edotan sep tic tank. Padahal seharusnya mereka waspada,”katany a.

Sep tic tank, imbuhny a terkadang tidak diban gun d engan men ggunakan beton, hanya tump ukan batu bata. Pergeseran tanah atau gemp a dap at meny ebabkan p erubahan struktur.

Rembesan air dan kotoran d i dalam sep tic tank dapat mengotori air tanah atau air sumur yang ada d i bawahny a. Tidak heran jika p ada air tanah atau sumur ditemukan bakteri e coli.

Itu sebabny a sep tic tank harus rutin disedot untuk mengurangi p encemaran air tanah.

Itu sebabny a sep tic tank harus rutin disedot untuk mengurangi p encemaran air tanah.

Dalam dokumen DIKTAT ILMU TERAPAN DAN LINGKUNGAN I (Halaman 116-132)

Dokumen terkait