• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN

4.4. Analisis Data

5.1.4 Kesamaan Jenis

Tabel 3. Hasil Pengukuran Keanekaragaman Amfibi

Habitat ∑ Spesies ∑ Individu H` E

Terestrial 13 157 2.03 0.79

Akuatik 10 418 1.52 0.66

Pada tabel 3 hasil pengukuran keanekaragaman amfibi, jumlah individu pada habitat akuatik diperoleh lebih banyak dari pada jumlah individu pada habitat terrestrial. Pada habitat akuatik ditemukan sebanyak 418 individu dari 10 jenis, sedangkan pada habitat terestrial ditemukan sebanyak 157 individu dari 13 jenis. Terdapat perbedaan nilai keanekaragaman dan kemerataan antara amfibi di terrestrial dan akuatik.

5.1.4 Kesamaan Jenis

Setiap kelompok reptil dan amfibi dibuat kesamaanya dengan menggunakan Ward`s Linkage Clustering berdasarkan habitatnya, yakni terrestrial

29 dan akuatik. Dengan begitu kesamaan antar transek dalam satu habitat akan terlihat dengan mudah.

Pada gambar 10, terdapat 2 kelompok kesamaan jenis reptil pada habitat terrestrial. Kelompok pertama terdiri dari Transek 7-16, Transek 7 Simakobu, Camp SCP, Transek 14 dan Transek 6, sementara kelompok ke tiga hanya Transek 21 saja. Variables Si m ila ri ty Tran sek 2 1 Tran sek 6 Tran sek 1 4 Camp SCP Tran sek 7 Sim akob u Tran sek 9 Tran sek 7 <->1 6 47.60 65.07 82.53 100.00

Gambar 9. Dendrogram kesamaan jenis reptil pada habitat terestrial

Pada gambar 11, kesamaan jenis reptil pada habitat akuatik diperoleh tiga kelompok yakni, kelompok pertama adalah Sungai Pungut dan Sungai pungut 2, Kelompok ke dua ialah Sungai Panggasan, Kolam 7, Sungai Simorara dan Sungai T 10, sementara kelompok ketiga Sungai 19 -15 memiliki kesamaan yang rendah dari lokasi lainnya.

Variables Si m ila ri ty Sung ai 19 -15 Sung ai T 10 Sung ai Si mor ara Kolam 7 Sung ai Pa ngga san Sung ai Pu ngut 2 Sung ai Pu ngut -1.72 32.19 66.09 100.00

Pada habitat terestrial, amfibi yang ditemukan diperoleh tiga kelompok persamaan jenis reptil diantaranya kelompok pertama Transek 7-16 dengan Transek 7 Simakobu, kelompok ke dua ialah transek 21, transek 9, transek 14 dan transek 6. Kelompok tiga hanya Camp SCP saja.

Variables S im ila rit y Tran sek 6 Tran sek 14 Tran sek 9 Tran sek 21 Camp SCP Tran sek 7 Sim akob u Tran sek 7 <->1 6 -22.88 18.08 59.04 100.00

Gambar 11. Dendrogram kesamaan jenis amfibi pada habitat terestrial Kemudian pada lokasi habitat akuatik, terdapat 3 kelompok kesamaan jenis amfibi. Kelompok pertama adalah Sungai Pungut, Sungai Pungut 2 dan Kolam 7. Kelompok dua ialah Sungai Panggasan, Sunagi Simorara dan Sungai 19-15. Sementara Pada Kelompok tiga hanya lokasi Sungai T 10 saja.

Variables S im ila rit y Sung ai 19 -15 Sung ai Si morar a Sung ai Pa ngga san Sung ai T 10 Kolam 7 Sung ai Pu ngut 2 Sung ai Pu ngut -11.69 25.54 62.77 100.00

Gambar 12. Dendrogram kesamaan jenis amfibi pada habitat akuatik

Lokasi kawasan SCP ini juga dibandingkan dengan beberapa lokasi di Sumatera yang telah dilakukan penelitian dan survei (Sudrajat 2001, Endarwin 2006, HIMAKOVA 2006, Ul-Hasanah 2006, Kurniati 2007, Darmawan 2008 dan

31 Yusuf 2008). Lokasi tersebut diantaranya lokasi di Musi banyuasin, Lahat dan Musi Rawas, Sumatera Selatan, Lokasi Taman Nasional Way Kambas dan Lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi dan Taman Nasional Kerinci Seblat dan Lokasi Tiniti Siberut Utara.

Variables S im ila rit y TNBB S (51 jenis) Sum sel ( 27 je nis) TNKS (38 jenis) Jamb i (31 jenis ) TNW K (13 jenis) Tiniti (28 jenis) SCP (26 jenis) 42.98 61.99 80.99 100.00

Gambar 13. Dendogram kesamaan jenis reptil antar lokasi di Sumatera Pada kesamaan jenis reptil antar lokasi (Gambar 14), kawasan SCP memiliki kesamaan jenis dengan kawasan Tiniti di Siberut Utara. Sementara dibandingkan pada lokasi lainnya, kawasan SCP memiliki persamaan yang yang cukup rendah.

Namun pada kesamaan dendrogram jenis amfibi antar lokasi (Gambar 15), terdapat dua kelompok, diantaranya kelompok pertama lokasi SCP, lokasi Tiniti dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Dan kelompok kedua terdiri dari lokasi Musi Banyuasin, Lahat dan Musi Rawas, Sumatera Selatan, lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi, lokasi Taman Nasional Way Kambas dan lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Variables S im ila rit y Jamb i (37 jenis ) Sum sel ( 25 je nis) TNBB S (4 4 jen is) TNW K (1 8 jen is) TNKS (70 jenis) Tiniti (11 jenis) SCP (14 jenis) 36.31 57.54 78.77 100.00

Gambar 14. Dendrogram kesamaan jenis amfibi antar lokasi di Sumatera 5.1.5 Gangguan Terhadap Herpetofauna

Kebutuhan akan pemanfaatan kayu sebagai bahan bangunan dan pembuatan alat transportasi oleh masyarakat serta pembukaan lahan hutan menjadi lahan perkebunan merupakan ancaman utama bagi keberadaan satwa herpetofauna. Masyarakat biasa membuka lahan hutan dengan cara dibakar secara langsung dapat membakar hewan-hewan yang ada. Pembuatan perahu dan rumah dengan cara menebang pohon besar yang terdapat di dalam hutan mampu merusak habitat disekitar pohon tersebut.

5.2 Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekayaan jenis amfibi dan reptil di SCB relatif lebih rendah dengan daerah lain di daratan Pulau Sumatera. Jumlah reptil yang ditemukan di Siberut Conservation Program hanya berselisih satu jenis diibandingkan dengan yang ditemukan oleh Sudrajat (2001) pada lokasi Musi Banyuasin, Rahat dan Musi Lawas Sumatera Selatan yakni sebanyak 27 jenis. Yusuf (2008) pada lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi sebanyak 31 jenis, Kurniati (2007) pada lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat sebanyak 38 jenis dan Endarwin (2006) pada lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebanyak 51 jenis. Sedangkan jumlah jenis amfibi yang ditemukan di SCP dengan jumlah 14 jenis lebih sedikit jumlahnya dibandingkan oleh Sudrajat (2001) sebanyak 26 jenis pada lokasi Musi Banyuasin, Rahat dan Musi Lawas Sumatera Selatan dan Darmawan pada lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi

33 sebanyak 37 jenis, Ul-Hasanah (2006) pada lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan sebanyak 44 jenis dan Kurniati (2007) pada lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat sebanyak 70 jenis.

Sidik (2007) berhasil menemukan jenis reptil pada lokasi Tiniti Siberut Utara sebanyak 28 jenis reptil dan 11 jenis amfibi. Sementara Das (2005) berhasil menemukan jenis baru diantaranya Cnemaspis dezwaani, Cnemaspis jacobsoni,

Cnemaspis modiglianii dan Cnemaspis whittenorum. Bila ditotal dengan

penemuan oleh Sidik dan Das maka total kekayaan jenis reptil di Kepulauan Mentawai adalah sebanyak 42 jenis dan amfibi 20 jenis (Lampiran 5). Jenis reptil yang tidak dijumpai di SCP adalah Cnemaspis dezwaani, Cnemaspis jacobsoni,

Cnemaspis modiglianii, Cnemaspis whittenorum, Aphaniotis fusca, Broncochela cristatella, Draco volans sumatranus, Cosymbotus platyurus, Gehyra multirata, Hemiphyllodactylus typus, Lipina vittigera, Mabuya rudis, Cerberus rynchops, Coura amboinensis, Chelonia mydas, dan Eretmochelys imbricata. Sementara

jenis amfibi yang tidak dijumpai di SCP adalah Phelophryne brevipes, Rana

nicobariensis, Limnonectes macrodon, Occydozyga leavis, Polypedates leucomystax dan Polypedates macrotis (Berry 1975; Inger dan Stuebing 1997).

Perbedaan jumlah jenis yang ditemukan dikarenakan perbedaan usaha pencaharian yang dilakukan dan juga perbedaan ketinggian lokasi (mdpl), sehingga beberapa jenis amfibi dataran tinggi tidak diketemukan. Dengan kondisi pulau Siberut dengan ketinggian 0 – 384 meter diatas permukaan laut, penelitian dilakukan pada ketinggian 15 – 20 mdpl. Sementara penelitian yang dilakukan di daratan Sumatera umumnya dilakukan pada ketinggian yang bervariasi dan luasan yang berbeda, seperti penelitian Endarwin (2006) dan Ul-Hasanah (2006) yang dilakukan pada ketinggian 50 - 1200 mdpl.

Berapa karakteristik fisik seperti, suhu, kelembaban dan suhu air menunjukan nilai yang sesuai bagi kehidupan herpetofauna. Suhu pada lokasi penelitian berkisar antara 23o – 29o C. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Berry (1975) yang menyatakan amfibi dapat mendapatkan suhu pertumbuhan yang optimum antara 26° - 33° C dan Van Hoeve (2003) yang menyatakan reptil hidup aktif pada suhu antara 20° - 40° C.

Kelembaban pada lokasi penelitian diperoleh antara 81% – 85% . Hal tersebut menunjukan kondisi tajuk yang lebih relatif terbuka dibandingkan dengan lokasi penelitian Endarwin (2006) dan Ul-Hasanah (2006) di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang sebesar 84% - 99%. Namun bila dibandingkan dengan Sudrajat (2001) pada lokasi Musi Banyuasin, Rahat dan Musi Lawas Sumatera Selatan yang memperoleh kelembaban 30% - 90%, Darmawan (2008) dan Yusuf (2008) pada lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, Jambi dengan kelembaban 36 – 83 %, kondisi tajuk di SCP lebih tertutup. Amfibi memerlukan kelembaban yang cukup untuk melindungi kulitnya dari kekeringan (Iskandar 1998). Semua habitat akuatik yang ada pada lokasi penelitian memiliki pH air 7 atau netral. Ukuran pH tersebut merupakan kondisi yang baik dalam kehidupan amfibi, sehingga pada penelitian ini tidak ditemukan kecacatan yang terjadi pada amfibi.

Pada (gambar 6) kurva akumulasi jenis reptil dan amfibi, terlihat bahwa dari seluruh total jenis reptil dan amfibi yang ditemukan terus mengalami peningkatan jumlah spesies di setiap minggunya. Hal tersebut dikarenakan oleh penemuan jumlah reptil yang terus meningkat. Terus meningkatnya jumlah reptil pada kurva diduga disebabkan oleh sifat dan keberadaan reptil yang lebih sulit dijumpai dari pada amfibi, sehingga selalu memungkinkan untuk menemukan jenis-jenis baru. Untuk itu dibutuhkan waktu penelitiannya yang lebih lama untuk mendapatkan kondisi kurva yang stabil atau mendatar. Sementara kurva akumulasi jenis amfibi dari tiap minggunya mengalami peningkatan dan diakhiri dengan kondisi stabil pada akhir minggu pengamatan. Hal tersebut dikarenakan oleh penemuan amfibi yang lebih mudah kita jumpai, namun hasil tersebut masih memungkinkan untuk menemukan jenis baru jika waktu penelitiannya dilakukan lebih lama.

Nilai keanekaragaman jenis (H`) reptil pada habitat terrestrial (1,95) tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan pada habitat akuatik (1,77). Nilai keanekaragaman jenis reptil di kawasan SCP tidak jauh berbeda dengan hasil Endarwin (2006) pada Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan nilai berkisar antara 1,12 - 2,15. Namun nilai keanekaragaman pada kawasan SCP relatif tinggi dibandingkan dengan hasil Sudrajat (2001) berkisar antara 0,99

-35 1,83pada lokasi Musi Banyuasin, Lahat dan Musi Rawas (Sumatera Selatan) dan hasil dari HIMAKOVA (2006) yang berkisar antara 0,56 - 1,74.

Nilai keanekaragaman jenis amfibi pada habitat terestrial (2,03) lebih besar daripada pada habitat akuatik (1,52). Hal tersebut dikarenakan beberapa jalur terestrial melintasi tempat perairan seperti sungai dan genangan air, sehingga beberapa jenis amfibi yang ditemukan di habitat perairan pada jalur terestrial, dicatat dan masuk kedalam catatan habitat terestrial. Namun, nilai keanekaragaman amfibi tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil Sudrajat (2001) dengan nilai kisaran antara 0,89 - 1,83 pada lokasi Musi Banyuasin, Lahat dan Musi Rawas (Sumatera Selatan), HIMAKOVA (2006) berkisar antara 0,67 - 2,02 pada lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Ul-Hasanah (2006) yang berkisar antara 0,87 - 2,38 dan Darmawan (2008) yang berkisar antara 1,44 – 2,18.

Nilai E jenis reptil pada habitat terestrial tidak jauh berbeda dengan pada habitat akuatik yakni 0,74 dan 0,73. Sementara Nilai E jenis amfibi pada habitat terrestrial pun tidak jauh berbeda dengan habitat akuatiknya yakni 0,79 dan 0,66. Berdasarkan hasil E dari reptil dan amfibi, terlihat bahwa sebaran individu masing-masing spesies cenderung merata yang berarti tidak ada jenis yang terlalu mendominasi dalam komunitas (Krebs 1978).

Pada habitat terrestrial (gambar 10), Transek 21 memiliki kesamaan yang paling rendah dibandingkan dengan lokasi lainnya, yakni sebesar 47,6 %. Namun, Transek 21 memiliki jumlah tertinggi jenis reptil yang dijumpai yakni 8 jenis. Jenis-jenis tersebut diantaranya Dendralaphis pictus, Aphaniotis acutirostris,

Cnemaspis kandidus, Draco obscurus laetepictus, Mabuya multifasciata, Gonocephalus chameleontinus, Gonocephalus grandis dan Mabuya rugifera.

Hampir semua jenis tersebut hidup pada habitat terrestrial, hanya Draco obscurus

laetepictus yang hidup pada habitat arboreal. Kondisi transek 21 yang memiliki

pohon-pohon besar dan tajuk yang tidak terlalu rimbun serta adanya sungai kecil di beberapa tempat merupakan habitat yang cocok bagi satwa-satwa tersebut.

Pada habitat akuatik (Gambar 11), Kolam 7 dan Sungai simorara memiliki nilai kesamaan 100 %, jenis-jenis tersebut diantaranya Aphaniotis acutirostris dan

pada pagi hari dengan aktifitas sedang berjemur (basking) mengingat kedua lokasi ini merupakan daerah perairan yang cukup terbuka dan tidak terhalang oleh tajuk pohon. Sementara Aphaniotis acutirostris lebih mudah dijumpai pada malam hari dengan aktifitas tidur pada dedaunan pancang. Selain itu, pada habitat ini Sungai 19 -15 merupakan sebuah kelompok tersendiri, hal tersebut dikarenakan jenis reptil yang diperoleh pada habitat ini memiliki jumlah terbanyak yakni 5 jenis. Jenis-jenis tersebut diantaranya Aphaniotis acutirostris, Cnemaspis kandidus,

Cyrtodactylus variegates, Mabuya rugifera dan Cyclemys dentata. Cyclemys dentata merupakan satu-satunya jenis kura-kura yang dijumpai di dalam jalur

pengamatan.

Pada gambar 12 antara transek 7 – 16 dengan transek 7 Simakobu memiliki kesamaan dengan nilai kesamaan 65 %. Beberapa jenis yang sama diantaranya terdapat Limnonectes kuhlii, Rana chalconota dan Rhacophorus

appendiculatus. Kesamaan jenis tersebut dikarenakan jalur transek yang memiliki

genangan air dan bersimpangan dengan sungai, sementara untuk jenis

Rhacophorus appendiculatus, ditemukan pada rawa yang terjadi ketika turun

hujan. Pada transek 21 dan transek 9, terdapat kesamaan dengan nilai kesamaan 88,9 %. Jenis yang banyak dijumpai diantaranya Phelopryne signata dan Rana

siberu. Phelopryne signata banyak ditemukan pada daun-daun pada pohon dengan

permukaan tanah yang kering. Sementara, Rana siberu lebih banyak ditemukan sedang bersuara di permukaan tanah. Transek 14 dengan transek 6 memiliki nilai kesamaan 76,8 %. Nyctixalus pictus, Limnonectes kuhlii dan Phelophryne signata merupakan jenis yang sama dijumpai pada kedua lokasi tersebut. Nyctixalus pictus dapat dijumpai hinggap pada dedaunan semak. Beberapa individu diantaranya ditemukan sedang bersuara.

Berdasarkan analisa (gambar 13) amfibi yang terdapat pada Sungai Pungut memiliki persamaan dengan Sungai Pungut 2 dengan nilai kesamaan 83,3 %. Sungai Pungut 2 merupakan terusan dari Sungai Pungut yang lokasi transeknya diambil berjauhan. Perbedaan dari kedua sungai tersebut adalah pada Sungai Pungut memiliki kondisi sungai yang dipenuhi oleh bebatuan, sementara pada sungai Pungut 2 banyak terdapat lumpur disetiap sisi-sisinya. Jenis yang sama pada kedua sungai tersebut diantaranya Limnonectes bylthii, Limnonectes

37

shompenorum, Limnonectes kuhlii dan Limnonectes paramacrodon. Menurut

Mistar (2003), katak pada marga Limnonectes biasanya menempati sungai-sungai berpasir dan agak deras sebagai tempat berbiak. Beberapa jenis tersebut juga dijumpai pada Kolam 7 dan Sungai T 10. Sungai Panggasan memiliki kesamaan dengan Sungai Simorara dengan nilai kesamaan 90,08 %. Kondisi kedua sungai ini hampir mirip yakni dengan banyaknya bebatuan, arus sungai yang lambat dan tertutup dengan tajuk-tajuk pohon. Jenis sama yang diperoleh antara lain

Limnonectes kuhlii, Limnonectes shompenorum dan Rana hosii. Beberapa jenis

tersebut juga dijumpai pada sungai 19-15.

Kesamaan jenis reptil (Gambar 14) pada kawasan SCP memiliki kesamaan dengan lokasi Tiniti yang terletak pada daerah yang sama yakni Siberut Utara yakni dengan nilai kesamaan 71,1 %. Mengingat pada lokasi pulau yang sama nilai kesamaan tersebut masih tergolong rendah. Hal tersebut dikarenakan pada lokasi Tiniti terdapat pengamatan yang dilakukan pada pantai dan memperoleh jenis seperti Chelonia mydas dan Eretmochelys imbricata, sementara pada lokasi SCP pengamatan tidak dilakukan pada pantai. Sementara dibandingkan dengan lokasi lainnya yakni lokasi Taman Nasional Way Kambas, lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo, lokasi Musi Banyuasin, Lahat dan Musi Rawas (Sumatera Selatan), lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat dan lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan memiliki nilai kesamaan yang rendah yakni 42,9 % Namun, pada kesamaan jenis amfibi (Gambar 15), Kawasan SCP cenderung memiliki kesamaan yang lebih tinggi dengan lokasi Tiniti (nilai kesamaan 65,9 %), Siberut Utara yang beberapa jenis diantaranya terdapat juga pada lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat (nilai kesamaanya terhadap lokasi SCP 55,5%). Jenis-jenis yang sama dari ketiga lokasi tersebut diantaranya Limnonectes blythii, Limnonectes

paramacrodon, Limnonectes shompenorum, Phrynella pulchra dan Rana chalconota. Menurut Mistar (2003) kelima jenis amfibi tersebut merupakan katak

yang biasa hidup pada habitat dataran rendah. Sementara nilai kesamaan lokasi SCP dengan lokasi lainnya (lokasi Musi Banyuasin, Lahat dan Musi Rawas (Sumatera Selatan), lokasi Taman Nasional Way Kambas, lokasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan lokasi Eks-HPH PT RKI kabupaten Bungo) memiliki nilai yang cukup rendah yakni 36,3 %.

Nilai kesamaan reptil dan amfibi lokasi SCP dengan lokasi lainnya di Sumatera relatif rendah yakni 42,9 % dan 36,3 %. Beberapa perbedaan kesamaan jenis yang ditemukan di lokasi lain di Sumatera dikarenakan perbedaan usaha pencaharian yang dilakukan dan juga perbedaan ketinggian lokasi (mdpl), sehingga beberapa jenis amfibi dan reptil dataran tinggi tidak diketemukan. Selain itu luasan wilayah juga mempengaruhi sedikit atau banyaknya jenis satwaliar di wilayah tersebut.

Berbagai ancaman terhadap kehidupan satwa herpetofauna merupakan suatu hal yang harus segera diatasi. Perusakan lahan hutan yang terjadi akibat penebangan pohon dan pembakaran lahan hutan yang biasa dijadikan lahan perkebunan merupakan hal utama yang secara langsung mengancam kehidupan herpetofauna maupun satwaliar lainnya. Namun keberadaan SCP di Siberut Utara, secara tidak langsung mengajarkan kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi satwaliar, dan beberapa jenis penyuluhan secara langsung maupun tidak langsung dilakukan SCP untuk mengubah pandangan masyarakat tentang pentingnya keberadaan herpetofauna dan satwaliar lainnya.

Dokumen terkait