• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.1. Kesimpulan

Jumlah seluruh herpetofauna yang ditemukan pada seluruh areal pengamatan Siberut Conservation Programme (SCP) sebanyak 40 jenis. Jumlah jenis reptil yang berhasil ditemukan sebanyak 26 jenis dan amfibi sebanyak 14 jenis. Jenis-jenis yang ada di SCP kebanyakan merupakan jenis-jenis yang menghuni dataran rendah dan umum dijumpai. Beberapa jenis herpetofauna yang perlu mendapat perhatian (menurut CITES berstatus appendix II) antara lain

Python reticulatus, Ophiophagus hannah dan Varanus salvator. Dibandingkan

dengan beberapa lokasi lainnya di Sumatera, kekayaan hayati herpetofauna di SCP relatif lebih rendah. Namun demikian, keberadaan SCP terlihat menunjang keberadaan herpetofauna terbukti dengan dijumpainya jenis-jenis yang melimpah seperti Aphaniotis acustirostris dan Limnonectes kuhlii.

Terdapat beberapa jenis yang memiliki potensi manfaat bagi penduduk semisal katak yang dimakan seperti Limnonectes blythii, L. paramacrodon dan L.

shompenorum. Oleh karena itu keberadaan SCP di Siberut Utara, secara tidak

langsung mengajarkan kepada masyarakat tentang pentingnya konservasi satwaliar.

6.2. Saran

1. Perlu dilakukan survei yang lebih menyeluruh daerah di Pulau Siberut terutama pada daerah-daerah yang masih belum terjangkau oleh manusia. Sehingga dapat diketahui keanekaragaman herpetofauna yang ada di Pulau Siberut.

2. Penyuluhan yang dilakukan oleh pihak SCP harus dilakukan dengan kontinyu, sehingga masyarakat setempat mampu mengubah persepsi bahwa satwa liar yang ada bermanfaat bagi mereka dan tidak diburu secara berlebihan agar tetap lestari.

Alikodra HS. 1990. Pengelolaan Satwaliar (Jilid I). Pusat Antar Universitas (PAU) Ilmu Hayat. IPB. Bogor.

Berry. 1975. The Amphibian Fauna of Peninsular Malaysia. Kuala Lumpur: Tropical Pr.

Brower JE, Zar JH. 1997. Field and Laboratory Methods for General Ecology. Wn.C. Brown Company Publisher. Dubugue, Iowa.

Cox MJ, Van Dijk PP, Nabhitabhata J, Thirakhupt K. 1998. A Photographic Guide to Snakes and another Reptiles of Peninsular Malaysia, Singapore and Thailand. New Holland. Singapore.

Darmawan B. 2008. Keanekaragaman amfibi di berbagai tipe habitat: Studi kasus di Eks-HPH PT Rimba Karya Indah Kabupaten Bungo, Jambi [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Das I. 2005. Revision of the genus Cnemaspis strauch, 1887 (Sauria: Gekkonidae), from the Mentawai and adjacent archipelagos of western Sumatra, Indonesia, with the description of four new species. Journal of

Herpetology 39(2):233–247.

Dring JCM, CJ McCarthy and AJ Whitten. 1990. The terrestrial herpetofauna of the Mentawai islands, indonesia. Indo-Malayan Zoology 6:119–132.

Endarwin W. 2006. Keanekaragaman jenis reptil dan biologi Cyrtodactylus cf

fumosus di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Lampung – Bengkulu

[skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Goin CJ, Goin OB, Zug GR. 1978. Introduction to Herpetology. W.H. Freeman and Company. San Fransisco.

Halliday TR, Adler K. 2000. The Encyclopedia of Reptiles and Amphibians. Facts on File, New York.

Heyer WR, Donnelly MA, McDiarmid RW, Hayek LC, Foster MS. 1994. Measuring and Monitiring Biological Diversity: standard methods for amphibians. Smithsonia Institut Press. Washington.

[HIMAKOVA-IPB] Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Institut Pertanian Bogor. 2006. Laporan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2006: Eksplorasi Keanekaragaman Hayati Flora Fauna serta Nilai Budaya Masyarakat Lokal untuk Pengembangan Ekowisata di Taman Nasional Way Kambas, Propinsi Lampung. Laporan Kegiatan. Bogor: Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Tidak diterbitkan.

Inger RF, Stuebing RB. 1997. A Field Guide to the Frogs of Borneo. Natural History Publication, Kota Kinabalu. Sabah

Inger RF, Voris HK. 2001. The biogeographical relation of the frogs and snakes of Sundaland. Journal of Biogeography 28:863–891.

Iskandar DT. 1998. Amfibi Jawa dan Bali – Seri Panduan Lapangan. Puslitbang LIPI. Bogor.

Iskandar DT. 2000. Kura-kura & Buaya Indonesia & Papua Nugini. Palmedia Citra. Bandung.

41 Iskandar DT and WR Erdelen. 2006. Conservation of amphibians and reptiles in

Indonesia: Issue and problems. Amphibian and Reptile Conservation 4(1): 60-93.

Jenkins B. 2002. Learning Reptilia through Latest Portfolio of Theory & Practice. Dominant Publishers and Distributors. New Delhi.

Krebs CJ. 1978. Ecology The Experimental Analysis of Distribution and Abudance. Ecological Methodology. New York: Harper and Row Publisher. Kurniati H. 2007. Biodiversity and Natural History of Amphibians and Reptiles In Kerinci Seblat National Park, Sumatera, Indonesia (2005, 2006, 2007). Cibinong: Research center for Biology-LIPI

Kusrini MD, Alford RA. 2006. Indonesia’s exports of frogs’ legs. Traffic Bull. 21(1): 13-24.

Leong TM and BL Lim. 2004. Rana siberu Dring, Mccarthy & Whitten, 1990 - a first record for peninsular malaysia (amphibia: Anura: Ranidae). The Raffles

Bulletin of Zoology 52(1): 261-263. 52rbz261-263.pdf

Magurran AE. 1998. Ecological Diversity and Its Measurement. New Jersey: Princeton University Press.

Mahardono A,Pratignyo S, Iskandar S. 1980. Anatomi Reptil. PT Intermasa. Jakarta.

Mardiastuti A, Soehartono T. 2003. Di dalam Kusrini MD, Mardiastuti A, Fitri A, editor. Konservasi Amfibi dan reptil Indonesia. 131-144. Bogor: Indonesian Reptile and Amphibian Trade Association (IRATA)

Mistar. 2003. Panduan Lapangan Amfibi Kawasan Ekosistem Leuser. Perpustakaan Nasional. Jakarta.

Mulyaniati E. 1997. Kandungan logam berat pada tubuh Katak Sawah (Rana

cancrivora) di Cagar Alam Muara Angke Jakarta. Skripsi. Jurusan

Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Tidak

dipublikasikan

Ommanney FD.1974. Frog, Toads and Newts. McGraw-Hill Book Company. New York San Fransisco. Hal : 10-28

Prasetyo T. 2002. Taman Nasional Siberut dan Permasalahan Pulau Siberut sebagai Cagar Biosfer. Prosiding pertemuan panitia nasional MAB Indonesia dan lokakarya cagar biosfer, cisarua, 19-20 desember 2002.

Simbolon H. 1996. Pengembangan Lingkungan dan Pemanfaatan Potensi Wilayah Pulau Siberut. Laporan teknik proyek penelitian pengembangan dan pendayagunaan potensi wilayah Tahun anggaran 1995/1996. Bogor : Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Sudrajat. 2001. Keanekaragaman dan Ekologi Heroetofauna (Reptil dan Amfibi) di Sumatera Selatan [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Sugiri N. 1979. Beberapa aspek biologi Kodok Batu (Rana blythi Boulenger, Ranidae, Anura, Ampfibia) di beberapa wilayah Indonesia dan kedudukan taksanya. Disertasi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Tidak dipublikasikan Tweedie MWF. 1983. The Snake Of Malaya. Singapore: Singapore National

Ul-Hasanah AU. 2006. Amphibian Diversity in Bukit Barisan Selatan National Park, Lampung-Bengkulu [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Van Hoeve UWBV. 2003. Ensiklopedia Indonesia Seri Fauna : Reptilia dan Amfibi. PT Ikrar Mandiri abadi. Jakarta

Veith M, Wulffraat S, Kosuch J, Hallmann G, Henkel HW, Sound P, Samsu, Rudhimanto L, Iskandar D. 2004. Amphibian of Kayan Mentarang National Park (East Kalimantan Indonesia): Estimating overall and local species richness. Tropical Zoology 17:1–13.

Vogel G, Patrick D. 1996. The Snake of Sumatera.Edition Chimaira. CZ-Brno Whitten T, Soeriaatmadja RE, Afiff SA. 2000. The Ecology of Java and Bali Vol.

II. Periplus Editions, Singapore.

WWF. 1980. Penyelamatan Siberut: Sebuah Rancangan Induk Konservasi. World Wildlife Fund. Bogor.

Yusuf LM. 2008. Keanekaragaman jenis reptil pada beberapa tipe habitat di Eks-HPH PT Rimba Karya Indah Kabupaten Bungo, Propinsi Jambi [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

Lampiran 1. Deskripsi jenis reptil yang dijumpai di kawasan SCP

Famili Boidae

Python reticulatus (Schneider, 1801) Nama Inggris : Reticulated Python

Deskripsi : Kepala berwarna coklat, terdapat garis hitam di belakang mata sampai dibelakang sisik labial. Pupil vertikal, di bagian sisik rostral, infralabial dan anterior supralabial terdapat lubang yang berfungsi sebagai sensor panas. Tubuh bagian atas didominasi oleh warna coklat kemerahan dengan corak seperti batik berupa jaring-jaring berwarna hitam dengan bintik putih dikedua sisi lateralnya. hitam di belakang mata sampai dibelakang sisik labial.

Foto: Reza Widyananto

Kepala berwana coklat, terdapat garis

Habitat : Walaupun jenis ini bersifat terestrial, reptil ini dijumpai pada sungai. Penyebaran : Seluruh kawasan Asia Tenggara, Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi).

Famili Viperidae

Trimeresurus brongersmai (Hoge, 1969)

Nama Inggris : -

Deskripsi : Ular berukuran kecil sampai sedang dengan tubuh pendek dan gempal, panjangnya mencapai 47 cm. Kepala dan tubuh bagian atas berwarna abu-abu kecoklatan dengan corak berwarna hitam pudar, bagian tubuh samping terdapat titik-titik berwarna hitam dan pada bagian ekor berwarna hitam. Ular jenis ini memiliki ciri khas pada bagian moncong dan kelopak mata yang menyerupai bentuk spatula.

Foto: Reza Widyananto

Habitat : Ular jenis ini dijumpai pada serasah dibawah tegakan hutan.

Penyebaran : Di Indonesia terdapat di Pulau Siberut (Sumatera Barat) dan Pulau Simeuleue (Aceh)

45 Trimeresurus popeiorum (Smith, 1937)

Nama Inggris : Pope`s Pit-viper

Deskripsi : Kepala dan tubuh bagian atas berwarna hijau dan tubuh bagian bawah berwarna hijau terang. Diantara tubuh bagian atas dan bawah dibatasi dengan garis putih dan merah. Ekor berwarna coklat kemerahan.

Habitat : Ular ini hidup nokturnal, sering dijumpai pada semak dibawah tegakan hutan.

Penyebaran : Thailand, Malaysia, India, Myanmar, Indonesia (Kepulauan Mentawai, Sumatera).

Foto: Dede Hendra S

Tropidolaemus wagleri (Wagler, 1830)

Nama Inggris : Wagler`s Pit-viper atau Temple Viper

Deskripsi : Ular ini memiliki warna tubuh hijau dengan titik-titik berwarna hitam, merah dan putih. Memiliki kepada yang cukup besar dengan garis merah di belakang mata sampai dibelakang sisik labial dan memiliki ekor berwarna hitam. Habitat : Ular jenis ini bersifat arboreal dan nokturnal. Hidup pada vegetasi rendah termasuk pada mangrove hingga pada ketinggial 1,200 mdpl.

Foto: Andy Nurcahya

Penyebaran : Indonesia (Bangka, Belitung, Butung, Kalimantan, Karimata, Kepulauan Mentawai, Kepulauan Natuna, Nias, Sulawesi dan Sumatera), Brunai Darussalam, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand.

Famili Elapidae

Ophiophagus Hannah (Cantor, 1836)

Nama Inggris : King Cobra

Deskripsi : Ular ini merupakan jenis ular yang paling berbisa di dunia. Memiliki kepala yang cukup besar bentuk leher seperti sendok yang cukup besar. Ular ini memiliki warna tubuh abu-abu gelap kehitaman.

Habitat : Aktif pada siang dan malam hari, hidup terestrial pada hutan hingga perkebunan hingga 2.135 mdpl

Penyebaran : Indonesia ( Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera) Asia Tenggara, India dan Cina Selatan.

Famili Columbridae

Subfamili Natricinae

Xenochrophis trianguligera ( Boie, 1827 )

Nama Inggris : Triangle Keelback

Deskripsi : Ular berukuran sedang dan bertubuh ramping, panjang tubuhnya mencapai 1,2 m. Kepala coklat kehijauan, labial berwarna putih atau kuning dengan garis-garis hitam. Tubuhnya dengan sisik yang beralur (keel scale). Tubuh bagian atas berwarna coklat kehijauan dengan bintik berwarna hitam. Bagian sisi tubuhnya berwarna merah-oranye dibagian anterior dan putih atau kuning di bagian posterior dengan corak warna hitam berbentuk segi tiga sepanjang badan sampai ekor.

Foto: Reza Widyananto

Habitat : Semiakuatik sering ditemukan disekitar tepi aliran sungai, Habitatnya hutan dataran rendah sampai ketinggian 1000 mdpl.

Penyebaran : Indonesia ( Bangka, Belitung, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Mentawai, Nias, Kepulauan Riau, Kepulauan Sangihe, Sulawesi, Sumatera dan Ternate), Brunei Darissalam, Kamboja, Laos, India, Malaysia, Myanmar, Singapur, Thailand, Vietnam.

Rhabdophis chrysargus ( Schlegel, 1837)

Nama Inggris : Specklebelly Keelback Deskripsi : Kepala berwarna coklat tua, punggung berwarna coklat kehijauan, terdapat bintik berwarna merah terang membentuk suatu pola, tubuhnya bulat dan ramping, perutnya putih kekuningan dan terdapat bintik hitam, warna kuning pada bibir dibatasi oleh warna hitam hingga kebelakang kepala menyambung seperti cincin.

Habitat : Ular ini hidup nokturnal pada habitat terestrial.

Foto: Reza Widyananto

Penyebaran : Indonesia ( Kepulauan Anambas, Bali, Flores, Jawa, Kalimantan, Kepulauan Mentawai, Nias, Simeuleue, Sulawesi, Sumatera, Ternate), Brunei Darissalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Myannmar, Filipina, Thailand dan Vietnam.

47 Lycodon subcinctus (Boie, 1827)

Nama Inggris : Malayan Banded Wolf Snake

Deskripsi : Ular berukuran sedang, tubuh atasnya didominasi oleh warna hitam atau coklat gelap dengan beberapa cincin berwarna putih yang cukup lebar di bagian anterior, ventral berwarna putih. Di belakang kepala terdapat bercak berwarna putih. Pada individu muda cincin warna putih terihat jelas dan terdapat disepanjang tubuh sampai bagian ekor.

Foto: Wempy Endarwin

Habitat : Hidup terestrial dan aktif pada malam hari. Biasanya dijumpai pada pinggiran sungai.

Penyebaran : Indonesia (Bali, Jawa, Lombok, Kepulauan Mentawai, Nias, Simeulue, Sumatera, Sumbawa), Kamboja, Hong Kong, Laos, Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Ahaetulla mycterizans (Link, 1807)

Nama Inggris : Malayan Green Whip Snake

Deskripsi : Ular berukuran sedang memiliki tubuh yang ramping panjangnya mencapai 1,5 m. Bentuk kapala memanjang dan meruncing di bagian moncong, mata dengan pupil yang horizontal. Tubuh atas dan kepala berwarna hijau atau hijau muda, putih belang. Diantara sisik lateral dan ventral terdapat garis putih yang memanjang dari badan sampai ekor. Ventral berwarna hijau muda.

Foto: Chloe Juyon

Habitat : Bersifat arboreal dan aktif pada siang hari, mangsa utamanya adalah reptilia seperti kadal atau bunglon. Habitatnya cukup luas mulai dari hutan, areal perladangan dan disekitar permukiman.

Penyebaran : Indonesia ( Jawa, Kepulauan Mentawai), Thailand dan Malaysia

Dendralaphis pictus (Gmelin, 1789)

Nama Inggris : Common atau Painted Bronzeback

Deskripsi : Ular jenis ini memiliki warna perunggu pada kepala dan bagian atas tubuhnya, serta garis putih kekuningan dan garis hitam pada bagian samping. Perutnya berwarna kuning atau hijau muda. Terdapat bintik-bintik biru pada tubuhnya. Habitat : Ular jenis ini aktif pada malam hari, bersifat arboreal dan sering ditemukan pada semak belukar.

Penyebaran : Indonesia (Ambon, Bali, Bangka, Belitung, Boano, Butung, Jawa, Kalimantan, Lombok, Manipa, Kepulauan Mentawai, Misool, Kepulauan Natuna, Nias, Nusa Penida, Ternate, We), Brunai Darussalam, Kamboja, Hongkong, India, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Cina, Filipina, Singapura, Vietnam dan Thailand.

Boiga drapiezii (Boie, 1827)

Nama Inggris : White-spotted Cat Snake Deskripsi : Bentuk tubuh ramping dengan batas kepala dan badan jelas. Kepala berbentuk segi tiga bola mata besar dengan pupil vertikal. Warna dominan tubuhnya coklat atau hijau dengan corak–corak berwarna coklat gelap dan coklat muda melingkar pada bagian dorsal. Kepala berwarna coklat gelap, pada bagian labial berwarna terang. Ventral berwarna coklat muda atau putih kecoklatan.

Foto: Reza Widyananto

Habitat : Bersifat semi arboreal dan aktif pada malam hari. Ditemukan pada batang pohon kecil dibawah tegakan hutan.

Penyebaran : Indonesia (Jawa, Kalimantan, Kepulauan Mentawai, Kepulauan Natuna, Sumatera), Brunai Darussalam, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand.

Boiga nigriceps (Gunther, 1863)

Nama Inggris : Black-headed or Red, Cat Snake

Deskripsi : Ular berukuran sedang dengan bentuk tubuh yang ramping, tubuhnya berwarna merah atau merah kecoklatan dengan bintik-bintik hitam pada bagian dorsal, kepala berwarna kecoklatan, labial dengan warna yang lebih muda, batas kepala dengan badan jelas, bentuk kepala cenderung segi tiga, mata besar dengan pupil vertikal. Ventral berwarna merah muda atau kekuningan. Ukuran maksimum mencapai 1,5 meter.

Foto: Reza Widyananto

Habitat : Bersifat semi arboreal dan aktif pada malam hari. Ditemukan pada tangkai pohon di pinggir sungai. Makanan utamanya mamalia kecil, burung dan beberapa jenis reptil.

Penyebaran : Indonesia (Jawa, Kepulauan Mentawai, Nias, Simeulue, Sumatera) Malaysia, Cina dan Thailand.

49 Famili Gekkonidae

Gekko smithi (Gray, 1842)

Nama Inggris : Smith`s Green-eyed Gecko

Deskripsi : Tokek ini memiliki mata berwarna hijau, Tubuhnya berwarna coklat keabu-abuan. Terdapat alur bintik-bintik berwarna putih pada punggung hingga ekor.

Habitat : Merupakan jenis satwa nokturnal dan arboreal, namun sering dijumpai pada dinding-dinding dan atap bangunan.

Foto: Reza Widyananto

Penyebaran : Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura.

Hemidactylus frenatus (Schlegel, 1836)

Nama Inggris : Common House Gecko, Chichak

Deskripsi : Terdapat alur duri pada setiap sisi ekornya, moncong lebih panjang daripada jarak mata dan telinga, dahi cekung dan telinga bulat sangat kecil, Warna umumnya coklat dengan ragam kepekatan dan alur/corak berwarna hitam yang seragam.

Habitat : Hidup nocturnal, dan biasanya dijumpai pada dinding dan langit-langit bangunan.

Foto: Reza Widyananto

Penyebaran : Indo-China, Semenanjung Malaysia, Sumatera.

Cyrtodactylus marmoratus (Kuhl, 1831)

Nama Inggris : Marbled Bow-fingered Gecko

Deskripsi : Cicak berukuran sedang dengan kepala yang besar. Kepala dan punggungnya berwarna cokelat dengan corak sengan warna lebih gelap. Bagian bawah tubuhnya berwarna putih kuning kemerahan.

Habitat : Aktif pada malam hari (nocturnal), biasanya ditemukan pada akar dan batang pohon di dalam hutan.

Foto: Reza Widyananto

Cnemaspis kandianus

Nama Inggris : Wandering Round-eyed Gecko

Deskripsi : Cicak berukuran sedang. Kepala dan punggungnya berwarna cokelat dengan bintik-bintik hitam dan kuning. Bagian bawah tubuhnya berwarna putih kekuningan.

Habitat : Aktif pada malam hari (nocturnal), biasanya ditemukan pada akar dan batang pohon di dalam hutan.

Penyebaran : Thailand, Mentawai, Srilangka, India Selatan.

Foto: Reza Widyananto

Famili Agamidae

Aphaniotis acutirostris

Nama Inggris : -

Deskripsi :Tympanum telinga tidak kelihatan, moncong meruncing, Ekor bulat dan panjang, Kaki belakang panjang dan ramping, Warna tubuh coklat kehijauan, kadang terdapat corak kuning si kedua sisi tubuhnya.

Habitat : Sering ditemukan pada lantai hutan

Penyebaran : Sumatera

Foto: Reza Widyananto

Gonocephalus grandis (Gray, 1845)

Nama Inggris : Great anglehead Lizard Deskripsi : Memiliki tympanum yang terlihat jelas, sisik kepala kecil dan meruncing, Kaki belakang panjang dan hampir menyentuh mata, Pada saat dewasa terdapat duri yang bersambungan dari belakang kepala dan leher.

Habitat : Merupakan satwa arboreal dan aktif pada siang hari (diurnal)

Foto: Reza Widyananto Penyebaran : Thailand Selatan, Malaysia,

51 Gonocephalus chamaeleontinus (Laurenti, 1768)

Nama Inggris : Chameleon Anglehead Lizard

Deskripsi : Bunglon berukuran besar, tubuhnya berwarna kehijauan dengan bintik-bintik kecoklatan, warna tubunya dapat berubah menjadi kehitaman. Ekor berwarna lebih terang dengan lingkaran berwarna gelap. Kantung gular berukuran besar. Duri dibagian nuchal dan dorsal menyambung. Duri di bagian dorsal lebih rendah dari nuchal.

Foto: Reza Widyananto

Habitat : Hidup diurnal dan arboreal pada hutan hujan yang masih alami.

Penyebaran : Malaysia, Indonesia (Sumatera, Kep. Natuna, Kep. Mentawai, Jawa)

Draco obscurus laetepictus Nama Inggris : -

Deskripsi : Patagium berwarna kuning keocoklatan dengan lima buah garis tranversal berwarna gelap, bagian tepi berwarna kemerahan. Individu jantan memiliki kantung gular yang ditutupi oleh sisik-sisik yang besar, panjangnya melabihi moncong.

Habitat : Hidup diurnal pada batang pohon.

Penyebaran :Myanmar, Thailand, Kamboja, Sumatera, Kalimantan

Famili Varanidae

Varanus salvator

Nama Inggris : Water Monitor

Deskripsi : Merupakan salah satu jenis biawak terbesar, ukuran tubuhnya bisa mencapai 3 m. Tubuhnya berwarna hitam atau coklat gelap dengan bintik-bintik berwarna kuning yang membentuk garis-garis melintang di bagian dorsal. Ekor dengan garis-garis melingkar berwarna kuning.

Habitat : Sering dijumpai pada pinggiran sungai didaerah hutan maupun daerah yang sudah terganggu.

Foto: K3R

Penyebaran : Penyebarannya cukup luas, meliputi wilayah Asia Selatan mulai dari Sri Lanka sampai semenanjung Malaysia, Indonesia bagian barat sampai Sulawesi.

Mabuya multifasciata (Kuhl, 1820)

Nama Inggris : Many-lined Sun Skink Deskripsi :Kadal ini biasanya memiliki garis hitampada punggungnya yang berwarna perunggu, terkadang dijumpai individu berwarna oranye pada sisi kiri dan kanan tubuhnya, bermoncong pendek, memiliki tympanum cukup besar.

Habitat : Hidup pada semak belukar, kadang terlihat sedang berjemur (basking), pada hutan hujan dataran rendah.

Foto: Reza Widyananto

Penyebaran : Asia Selatan, Asia Tenggara hingga Papua New Guinea

Mabuya rugifera

Nama Inggris : Rough-scaled Skink

Deskripsi : Memiliki sisik yang besar, tubuh berwarna coklat dengan bintik hitam dan kuning, pada tubuh bagian bawa berwarna oranye keputihan

Habitat : Hidup pada semak belukar, kadang terlihat sedang berjemur (basking), pada hutan hujan dataran rendah.

Penyebaran :Thailand, Semenanjung Malaysia, Singapura, Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Pulau Nicobar.

Foto: Reza Widyananto

Dasia olivacea (Gray, 1839)

Nama Inggris : Olive Dasia atau Olive Tree Skink

Deskripsi : Memiliki moncong yang runcing, tympanum sangat kecil, sisik perut lebih kecil dari pada punggung. Warna tubuh bagian atas berwarna coklat dengan bintik hitam dan putih yang melingkar. Pada tubuh bagian bawah berwarna hijau hingga kuning kecoklatan. Habitat : Aktif pada siang hari (diurnal), sering dijumpai pada bangunan atau tembok rumah sedang memanjat mencari mangsa berupa laba-laba di langit-langit rumah.

Foto: Reza Widyananto

53

Famili Platysternidae

Cyclemys dentata

Nama Inggris : Asian Leaf Terrapin

Deskripsi : Leher memiliki garis kuning yang jelas pada daerah pinggir dan bawah. Vertebral pertama menyempit sementara pada bagian keliam melebar di bagian belakang.

Habitat :Pada sungai yang dangkal dengan pinggiran sungai yang agak rimbun denga tanaman air dan rerumputan.

Penyebaran : Mentawai, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali.

Foto: Reza Widyananto

Notochelys platynota

Nama Inggris : Six Shield Terrapin

Deskripsi : Memiliki jumlah keeping vertebral 6 atau tujuh buah, salah satu diantaranya berukuran jauh lebih kecil. Perisai punggungnya mempunyai penampang melintang berbentuk trapezium. Tepi kepingannya agak bergerigi dari depan hingga belakang. Perisai punggung berwarna coklat. Perisai perut berwarna oranye atau kuning

Foto: Reza Widyananto

Habitat : Sungai berarus deras hingga sedang

Lampiran 2. Deskripsi jenis amfibi yang dijumpai di kawasan SCP

Famili Bufonidae

Phelophryne signata (Boulenger, 1894)

Nama Inggris: Lowland Dwarf Toad

Deskripsi: Katak berukuran kecil, terdapat selaput tidak penuh tebal pada jari pertama. Memiliki piringan jari kecil disetiap jarinya. Warna pada bagian atas tubuh coklat kehitaman dengan bintik hitam dan krem. Pada bagian bawah tubuh berwarna krem keemasan dengan dipisah oleh garis hitam antara warna tubuh bagian atas dan bawah.

Foto: Reza Widyananto

Habitat : Biasanya dijumpai pada daun didalam hutan hingga ketinggian 5 meter. Hidup pada hutan primer.

Penyebaran: Kalimantan, Pulau Bunguran dan Semenanjung malaysia

Famili Microhylidae

Phrynella pulchra ( Baulenger, 1887)

Nama Inggris: Tree Hole Frog

Deskripsi: Katak berukuran sedang, berbadan tegap, kepala kecil, moncong

Dokumen terkait