SITUASI DERAJAT KESEHATAN
C. KESEHATAN ANAK
Upaya pemeliharaan kesehatan anak ditujukan untuk mempersiapkan generasi yang akan datang yang sehat, cerdas dan berkualitas serta untuk menurunkan angka kematian anak. Upaya pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak janin masih dalam kandungan, dilahirkan, setelah dilahirkan dan sampai berusia 18 tahun.
Upaya kesehatan anak diharapkan mampu menurunkan angka kematian anak.
Indikator angka kematian yang berhubungan dengan anak yaitu Angka Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA). Perhatian terhadap upaya penurunan angka kematian neonatal (0-28 hari) menjadi penting karena kematian neonatal memberi kontribusi paling besar (45%) kematian bayi di Kabupaten Temanggung tahun 2016.
Gambar 3.11 Tren Angka Kematian Neonatal, Bayi dan Balita di Kabupaten Temanggung Tahun 2012-2016
Sumber : Seksi Kesga DKK Temanggung Tahun 2016 0
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20
2012 2013 2014 2015 2016
11 11.2
8.9 12.2
15.4 15
16.8
3.8 12.9
16.7 16
19
5.4
AKN AKB AKABA
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 23 Data dan informasi yang akan disajikan berikut ini menerangkan berbagai indikator kesehatan anak yang meliputi prevalensi BBLR, penanganan komplikasi neonatal, pelayanan kesehatan neonatal, pelayanan kesehatan bayi, pemberian ASI Eksklusif, pemberian Vit A, penimbangan balita di Posyandu, Imunisasi Dasar, pelayanan kesehatan balita, pelayanan kesehatan pada siswa SD/setingkat, dan pelayanan kesehatan peduli remaja.
1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Berat Badan Lahir Bayi adalah berat badan bayi yang ditimbang dalam waktu satu jam pertama setelah lahir. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir < 2500 gram. BBLR tidak hanya dapat terjadi pada bayi prematur, tetapi juga pada bayi cukup bulan yang mengalami hambatan
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 24 Masalah BBLR terjadi terutama pada kelahiran prematur karena ketidakmatangan sistem organ pada bayi tersebut. Bayi Berat Lahir Rendah mempunyai kecenderungan ke arah peningkatan terjadinya infeksi dan mudah terserang komplikasi. Masalah pada BBLR yang sering terjadi adalah gangguan pada sistem pernafasan, susunan saraf pusat, kardiovaskuler, hematologi, gastro intestinal, ginjal dan termoregulasi.
2. Penanganan Komplikasi Neonatal
Neonatal dengan komplikasi adalah neonatal dengan penyakit dan atau kelainan yang dapat menyebabkan kecacatan atau kematian, seperti asfiksia, ikterus, hipotermia, tetanus neonatorum, sepsis, trauma lahir, BBLR, sindroma gangguan pernafasan dan kelainan kongenital maupun yang termasuk klasifikasi kuning dan merah pada pemeriksaan dengan Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM).
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 25 dengan komplikasi adalah penanganan terhadap neonatal sakit dan atau neonatal dengan kelainan atau komplikasi/kegawatdaruratan yang mendapat pelayanan sesuai standar oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan atau perawat) terlatih baik di rumah, sarana pelayanan kesehatan maupun sarana pelayanan kesehatan rujukan.
Pelayanan sesuai standar yaitu sesuai dengan standar MTBM, Manajemen Asfiksia Bayi Baru Lahir, dsb.
3. Pelayanan Kesehatan Neonatal
Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia sampai dengan 28 hari. Bayi hingga kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki resiko gangguan kesehatan paling tinggi, berbagai masalah kesehatan bisa muncul, sehingga tanpa penanganan yang tepat bisa berakibat fatal.
Kejadian kematian tertinggi pada bayi dan balita terjadi pada masa neonatus.
Dengan melihat adanya resiko kematian yang tinggi dan berbagai serangan kompikasi pada minggu pertama kelahiran, maka setiap bayi baru lahir harus mendapatkan pemeriksaan sesuai standar lebih sering, minimal dua kali dalam minggu pertama.
Langkah ini dilakukan untuk menemukan secara dini jika terdapat penyakit atau tanda bahaya pada neonatus sehingga pertolongan dapat segera diberikan untuk mencegah penyakit bertambah berat yang dapat menyebabkan kematian.
Kunjungan Neonatal pertama (KN1) adalah cakupan pelayanan kesehatan bayi baru lahir (umur 6 -48 jam) di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani sesuai standar oleh tenaga kesehatan terlatih di seluruh sarana pelayanan kesehatan.
Tahun 2016 di Kabupaten Temanggung cakupan Kunjungan Neonatus pertama (KN1) mencapai 100% dengan kata lain semua bayi baru lahir di lakukan pemeriksaan atau kunjungan kesehatan oleh tenaga kesehatan.
4. Pelayanan Kesehatan pada Bayi
Salah satu kelompok yang rentan terhadap gangguan kesehatan maupun serangan penyakit adalah bayi. Kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan kesehatan mereka selalu dalam kondisi optimal. Pelayanan kesehatan bayi termasuk salah satu indikator ukuran keberhasilan upaya peningkatan kesehatan bayi dan balita. Pelayanan kesehatan bayi ditujukan pada bayi usia 29 hari – 11 bulan dengan memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 26 yang memiliki kompetensi klinis kesehatan (dokter, bidan dan perawat) minimal 4 kali, yaitu pada 29 hari - 2 bulan, 3 – 5 bulan, 6 – 8 bulan, dan 9 – 12 bulan.
Pelayanan ini terdiri dari penimbangan berat badan, pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB1-3, Polio1-4, dan Campak), Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) bayi, pemberian Vitamin A, dan penyuluhan perawatan bayi dan pemberian ASI Eksklusif serta pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). sedini mungkin adanya kelainan atau penyakit, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup bayi. Gambaran cakupan Pelayanan Kesehatan Bayi menurut puskesmas di Kabupaten Temanggung tahun 2016 dapat dilihat pada gambar 3.14.
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 27 Pelayanan Kesehatan Bayi di puskesmas di Kabupaten Temanggung tahun 2016 rata-rata sudah mencapai target yaitu 97,7%, Capaian tertinggi ada pada Temanggung tahun 2016 sebesar 83,6% naik apabila dibandingkan dengan tahun 2015 sebesar 83,1%. Persentase pemberian ASI Eksklusif tertinggi pada Puskesmas
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 28 6. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A pada Balita Usia 6-59 Bulan
Vitamin A adalah salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak disimpan dalam hati dan tidak dapat diproduksi oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari luar.
Anak memerlukan vitamin A untuk membantu melawan penyakit, melindungi penglihatan mereka serta mengurangi risiko meninggal. Anak yang kekurangan vitamin A kurang mampu melawan berbagai potensi penyakit yang fatal dan berisiko rabun senja. Oleh karena itu dilakukan pemberian kapsul vitamin A dalam rangka mencegah dan menurunkan prevalensi kekurangan vitamin A (KVA) pada balita.
Vitamin A dosis tinggi diberikan dua kali dalam setahun kepada bayi usia 6-12 bulan dan balita usia 1-5 tahun. Suplemen vitamin A dosis tinggi harus diberikan pada anak yang menderita diare, Campak dan kekurangan gizi, karena penyakit diare dan campak dapat menguras vitamin A dari tubuh anak. Pemberian kapsul vitamin A dilakukan terhadap bayi (6-11 bulan) dengan dosis 100.000 SI, anak balita (12-59 bulan) dengan dosis 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pemberian kapsul vitamin A diberikan secara serentak setiap bulan Februari dan Agustus pada bayi dan balita usia 6-59 bulan.
Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada bayi dan balita 6-59 bulan di Kabupaten Temanggung tahun 2016 sudah mencapai 99,96%. Cakupan pemberian Vitamin A pada Bayi dan Balita di Kabupaten Temanggung tahun 2016 dapat dilihat pada gambar 3.16.
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 29 Gambar 3.16 Cakupan Pemberian Vitamin A pada Balita (6-59 Bulan)
Menurut Puskesmas di Kabupaten Temanggung Tahun 2016
Sumber : Seksi Gizi DKK Temanggung Tahun 2016
7. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S)
Cakupan penimbangan balita di Posyandu (D/S) adalah jumlah balita yang ditimbang di seluruh posyandu yang melapor di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu dibagi jumlah seluruh balita yang ada di seluruh posyandu yang melapor di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Manfaat penimbangan balita diantaranya untuk : 1) megetahui kesehatan, 2) mengetahui dan mencegah gangguan pertumbuhan, 3) mengetahui balita sakit atau berat badan dua bulan tidak naik, berat badannya BGM, 4) mengetahui balita gizi buruk sehingga dapat dirujuk ke puskesmas, 5) mengetahui kelengkapan imunisasi dan 6) mendapatkan penyuluhan tentang gizi.
Keadaan gizi yang buruk akan menurunkan daya tahan anak yang menyebabkan anak mudah sakit hingga berakibat pada kematian. Semakin banyak balita yang di
83.25
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 30 timbang di posyandu, maka aka semakin mudah mendeteksi adanya balita gizi kurang atau gizi buruk dan semakin cepat dilakukan upaya untuk penanggulangannya.
Gambar 3.17 Tren Cakupan Penimbangan Balita (D/S) di Posyandu di Kabupaten Temanggung Tahun 2012-2016
Sumber : Seksi Gizi DKK Temanggung Tahun 2016
Cakupan penimbangan balita (D/S) di Kabupaten Temanggung 2016 sudah melebihi dari target yang ditetapkan yaitu 80% bahkan melebihi cakupan di tahun 2015. Hal ini dimungkinkan karena adanya dukungan dana dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) berupa kegiatan sweeping D/S di desa dengan cakupan dibawah 80% dan kesadaran masyarakat untuk membawa anaknya ke posyandu untuk penimbangan dan pemantauan pertumbuhan.
8. Imunisasi
Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi diberikan pada populasi yang dianggap rentan terjangkit penyakit menular yaitu bayi, balita, anak-anak, wanita usia subur dan wanita hamil.
a. Imunisasi Dasar pada Bayi
Imunisasi melindungi anak terhadap beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Seorang anak diimunisasi dengan vaksin yang disuntikkan pada lokasi tertentu atau diteteskan melalui mulut.
87.4 87.6
90.5
87
89.9
85 86 87 88 89 90 91
2012 2013 2014 2015 2016
(%)
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 31 Gambar 3.18 Persentase Cakupan Imunisasi Campak pada Bayi
Menurut Puskesmas di Kabupaten Temanggung Tahun 2016
Sumber : Seksi Penanggulangan Wabah dan KLB DKK Temanggung Tahun 2016 Setiap bayi wajib mendapatkan imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT-HB dan atau DT-HB-Hib, 4 dosis polio dan 1 dosis Campak.Dari imunisasi dasar lengkap yang diwajibkan tersebut, campak merupakan imunisasi yang mendapat perhatian lebih. Hal ini terkait dengan realita bahwa campak adalah salah satu penyebab utama kematian pada balita.
Sehingga pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%secara tinggi dan merata.
b. Imunisasi Lengkap pada Bayi
Program imunisasi pada bayi mengharapkan agar setiap bayi mendapatkan imunisasi dasar secara legkap. Keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan imunisasi dasar tersebut diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap . Capaian indikator ini di Kabupaten Temanggung tahun 2016 adalah 98,714%.
Angka ini mencapai target Renstra Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung 70.06
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 32 tahun 2013-2018 adalah 90%. Sebaran menurut puskesmas dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar 3.19 Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap Menurut Puskesmas di Kabupaten Temanggung Tahun 2016
Sumber : Seksi Penanggulangan Wabah dan KLB DKK Temanggung Tahun 2016
Puskesmas dengan capaian diatas 100% cakupan imunisasi dasar lengkap ada 9 puskesmas denga tertinggi dicapai Puskesmas Dharmarini (125,51%) dan Puskesmas Jumo dengan capaian terrendah yaitu 70,47%.
c. Angka Drop Out Cakupan Imunisasi DPT/HB1-Campak
Imunisasi dasar pada bayi seharusnya diberikan sesuai dengan umurnya. Pada kondisi ini diharapkan sistem kekebalan tubuh dapat bekerja secara optimal, namun demikian, pada kondisi tertentu beberapa bayi tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Kelompok inilah yang disebut dengan Drop Out (DO) imunisasi. Bayi yang mendapatkan imunisasi DPT/HB1 pada awal
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 33 pemberian imunisasi, namun tidak mendapatkan imunisasi campak, disebut angka Drop Out imunisasi DPT/HB1-Campak. Indikator ini diperoleh dengan menghitung selisih penurunan cakupan imunisasi Campak terhadap cakupan imunisasi DPT/HB1.
9. Pelayanan Kesehatan Anak Balita
Anak balita adalah anak berusia 12-59 bulan. Setiap anak berusia 12-59 bulan memperoleh pelayanan pemantauan pertumbuhan setiap bulan minimal 8 kali dalam setahun yang tercatat dalam kohort anak balita dan pra sekolah, Buku KIA/KMS atau buku pencatatan dan pelaporan lainnya.
Pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan per TinggiBadan (BB/TB). Di tingkat masyarakat pemantauan pertumbuhan adalah pengukuran berat badan per umur (BB/U) setiap bulan di Posyandu, Taman Beramin, Pos PAUD, TPA dan TK dll. Bila berat badan tidak naik dalam 2 bulan berturut-turut atau berat badan anak balita dibawah garis merah harus dirujuk ke sarana pelayanan kesehatan untuk menentukan status gizi dan upaya tindak lanjut.
Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan setiap anak usia 12-59 bulan dilaksanakan melalui pelayanan Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) minimal 2 kali per tahun (setiap 6 bulan) dan tercatat pada kohort anak balita dan prasekolah yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, ahli gizi, penyuluh kesehatan masyarakat dan petugas sektor lain yang terkait.
Persentase cakupan pelayanan anak balita di Kabupaten Temanggung Tahun 2016 sebesar 104,1%, mengalami peningkatan bila dbandingkan tahun 2015 sebesar 95,2%. Hal ini cakupan pelayanan kesehatan balita sudah mencapai target yaitu 85%.
Cakupan pelayanan kesehatan balita tahun 2016 di Kabupaten Temanggung menurut puskesmas dapat dilihat pada gambar berikut.
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 34 Gambar 3.20 Cakupan Pelayanan Anak Balita Menurut Puskesmas
di Kabupaten Temanggung Tahun 2016
Sumber : Seksi Kesga DKK Temanggung Tahun 2016
10. Pelayanan Kesehatan pada Siswa SD dan Setingkat
Penjaringan keshatan siswa SD dan setingkat adalah pemeriksaan kesehatan terhadap siswa kelas I SD dan MI yang meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan, pemeriksaan ketajaman mata, ketajaman pendengaran, kesehatan gigi, kelainan mental emosional dan kebugaran jasmani. Pelaksanaan penjaringan kesehatan dikoordinir oleh puskesmas bersama dengan guru sekolah dan kader kesehatan/konselor kesehatan. Setiap puskesmas mempunyai tugas melakukan penjaringan kesehatan siswa SD/MI di wilayah kerjanya dan dilakukan satu kali pada setiap awal tahun ajaran baru sekolah.
Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat di Kabupaten Temanggung tahun 2016 mencapai 100% dengan kata semua SD/MI yang ada di
Profil Kesehatan Kabupaten Temanggung Tahun 2016 35 wilayah Kabupaten Temanggung sudah dilakukan penjaringan kesehatan terhadap seluruh siswa SD/MI kelas I.