• Tidak ada hasil yang ditemukan

Memaknai Perasaan dan Berempati dengan Hat

2. Kesehatan Seksual

Hubungan seks suami istri sering menjadi tawar ketika mereka telah menikah. Mereka jadi jarang melakukan hubungan seks lagi. Padahal semasa awal pernikahan mereka mengebu-gebu dalam hal ini. Mungkin kalau ditanyakan penyebabnya mereka pasti mengatakan terlalu sibuk untuk hal lainnya sehingga bila ingin melakukan hubungan seks sudah enggan karena kecapaian. Sebenarnya ini hanyalah alasan belaka. Inti persoalannya mungkin bukanlah hal tersebut. Inti penyebab masalah tersebut adalah seringnya pria merasa ditolak oleh istrinya dan hilangnya rasa kemesraan yang diinginkan oleh seorang istri yang tidak diperolehnya dari suaminya. Bagi seorang pria seks merupakan

cara untuk memperoleh dan merasakan cinta dari pasangannya, berbeda dengan wanita yang perlu merasakan cinta terlebih dahulu barulah ia dapat menikmati seks dengan suaminya. Seringnya pria mendapat penolakan dari istrinya karena istri tidak mood membuat para suami menjadi kecewa dan dia enggan untuk meminta seks lagi kepada istrinya.

Oleh karena itu sering didapati para pria yang berselingkuh dengan wanita lain karena ia mendapatkan penerimaan dari wanita lain dan tidak demikian dengan istrinya. Pria juga tidak menyadari bahwa wanita memerlukan kemesraan dan rasa disayang sebelum dia mendapat mood dalam melakukan hubungan seks dengan suaminya. Jadi perlu dibina komunikasi yang baik, positif diantara suami istri sehingga setiap kali istri tidak mood melakukan hubungan seks, pria tidak merasa ditolak. Pada saat istri mengajak suaminya untuk berbincang-bincang tetapi disaat tersebut dia tidak

berminat, sang suami bisa saja mengatakan ‚Saya senang bisa

berbincang-bincang dengan kamu tapi ijinkan saya menyendiri

sejenak dan nanti saya akan menemanimu berbincancang-bincang.‛

Dengan ungkapan tersebut sang istri mengetahui bahwa suaminya peduli padanya.

Demikian pula bila suaminya mengajak bercinta dan kebetulan istri tidak berminat, ia dapat berkata ‚Boleh juga tapi saat

ini kita ‘main’ kilat saja, ya.‛ Main kilat di sini maksudnya sang suami tidak perlu merangsang istrinya dan menunggu istrinya orgasme tetapi ia dapat orgasme sendiri. Dengan perkataan tersebut sang pria merasa tidak ditolak Ketika suami sudah kehilangan inisiatif untuk mengajak istrinya melakukan hubungan seks, dia akan dengan sabar menunggu sampai istrinya mood.

Ketika ia merasa bahwa ia harus selalu menunggu istrinya mood, ia akhirnya akan kehilangan hasratnya tanpa ia tahu sebabnya. Jadi bagi para istri haruslah berhati-hati dengan perkataan khususnya

mengenai seks. Perkataan ‚Malas, ah, saya sedang nggak mood‛ atau ‚Saya lagi capek nih‛, tanpa disadari dapat mematikan hasrat seks suami. Dan mungkin di lain kesempatan, suami akan takut untuk mengajak istrinya berhubungan badan lagi dan mencari wanita lain. Bila suami telah kehilangan hasratnya, istri mulai panik dan terus mengajak suaminya bercinta. Suami yang terus dikejar makin tidak berhasrat melakukan hubungan seks tanpa ia tahu sebabnya. Sebagian pria tidak menyadari semakin agresif seorang wanita semakin padam gairah seks mereka. Mulanya mereka gembira melihat agresivitas pasangan mereka namun lama kelamaan mereka tidak tahu mengapa gairah seksnya hilang terhadap pasangannya.

Sebagai jalan keluarnya seorang wanita dapat mengajak berhubungan seks suaminya secara tidak langsung dengan memberikan isyarat. Isyarat tersebut dapat berupa: berpakaian tidur yang seksi antara lain sutera merah muda, mengenakan parfum dengan aroma merangsang, mengenakan pakaian dalam yang seksi, dll. Baik juga bila sekai-sekali istri yang berinisiatif bercinta tapi jangan terus menerus. Hubungan seks menjadi begitu penting dalam kehidupan suami-istri yang romantis.

Kesehatan seksual menunjuk kepada suatu rentang kondisi perilaku seksual dari yang tidak sehat sampai pada yang sehat. Perilaku seksual yang sehat dapat disejajarkan dengan perilaku seksual yang normal, yang adekwat, dan yang tidak mengalami gangguan fungsi; dan sebaliknya perilaku seksual yang tidak sehat

dapat disejajarkan dengan perilaku seksual yang tidak normal, tidak adekwat, dan mengalami gangguan fungsi (disfungsi seksual). sesuai dengan topik pembicaraan kali ini, istilah-istilah tersebut diwakili oleh istilah perilaku seksual yang sehat untuk keadaan perilaku seksual yang positif, dan perilaku seksual yang tidak sehat untuk perilaku seksual yang negatif meskipun demikian dalam penyampaiannya akan digunakan istilah-istilah tersebut bergantian.

Kondisi perilaku seksual seseorang dan pasanganya, baik yang sehat maupun yang tidak sehat mewarnai kualitas hidup yang bersangkutan dan pasangannya; artinya perilaku seksual yang sehat dapat membuat hidupnya berkualitas dan sebaliknya perilaku seksual yang tidak sehat dapat membuat hidupnya tidak berkualitas. Hal ini sejalan dengan pandangan Wimpie Pangkahila (2006:13-14) yang menyatakan bahwa pada akhirnya disfungsi seksual dapat mengganggu kualitas hidup yang bersangkutan dan pasangannya. Pendapat ini menggambarkan betapa urgentnya kondisi perilaku seksual seseorang dalam kehidupannya. Kualitas hidup seseorang seolah tergantung pada kesehatan perilaku seksualnya. Namun, banyak yang tidak menyadari akan hal itu. Banyak orang tidak menyadari bahwa kehidupan seksual sangat mempengaruhi kualitas hidup.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencantumkan bahwa aktivitas seksual sebagai salah satu aspek dalam menilai kualitas hidup manusia. Berarti kalau kehidupan seksual terganggu, maka kualitas hidup juga terganggu. Sebaliknya, kalau kehidupan seksual baik dan menyenangkan, maka kualitas hidup menjadi lebih baik (Wimpie Pangkahila, 2006:3). Ternyata bercinta yang

sering bisa memberikan manfaat buat pasangan suami istri, selain memberikan kemesraan juga bisa mencegah pasangan suami istri dari penyakit. Sebuah penelitian menemukan, menjalani seks lebih sering bisa menghambat pertumbuhan sel-sel kanker dalam tubuh, selain itu ternyata hubungan sek yang sering bagi suami istri bisa dijadikan alat diet yang paling effektif bagi pasangan suami istri dan masih menurut sebuah survey bahwa berhubungan intim bagi pasangan bisa membakar 50-60 kalori. Selain itu, Berhubungan mesra di ranjang bagi suami istri juga bisa menekan angka perceraian bagi suami istri karena menurut survay juga salah satu angka perselingkuhan yang berujung perceraian karena kurang hangatnya saat berhubungan di atas ranjang. Sayangnya orang baru sadar setelah akibat darinya sudah terlalu jauh, sudah memporak porandakan kebahagiaan yang selama ini telah dicapai dan yang akan dicapainya.

Rono Sulistyo (1977:103-107) menggolongkan perilaku seksual manusia tidak memadai ke dalam tiga golongan,yakni: (1) cara-cara yang tidak normal dalam pemuasan keinginan seks, seperti: sadisme, masochisme, exhibitionisme, scoptophilia, voyeurisme, dll; (2) partner seksual yang tidak normal, seperti: homoseksualitas, pedophilia, bestiality, necrophilia, frottage, dll;  (3) derajat ketidak normalan daripada keinginan dan kekuatan dorongan seksual, seperti: anorgasme, dyspareunia, vaginisme, frigidity, impotency, dll. Wimpie Pangkahila (2006:3-5) mengemukakan jenis-jenis disfungsi seksual pada pria, yakni: (1) mengalami gangguan dorongan seksual atau gairah seksual, (2) mengalami gangguan ereksi, (3) mengalami gangguan ejakulasi, (4) mengalami disfungsi orgasme, (5) mengalami dyspereunia.

Sedangkan jenis-jenis disfungsi seksual pada wanita, yakni: (1) mengalami gangguan dorongan seksual atau gairah seksual, (2) mengalami gangguan bangkitan seksual, (3) mengalami gangguan orgasme, (4) mengalami gangguan yang menimbulkan rasa sakit pada kelamin dan sekitarnya,dan kekejangan abnormal otot vagina 1/3 bagian luar. Itulah jenis-jenis perilaku seksual yang tidak memadai atau yang mengalami gangguan yang sengaja dikemukakan secara garis besar, sebagai gambaran tentang perilaku seksual yang tidak sehat; yang perlu mendapatkan perhatian dan yang sedang dikaji dari sudut pandang konseling perkawinan saat ini.

Perilaku seksual tidak sehat pada seseorang, dapat disebabkan oleh banyak faktor, namun dapat dikelompokkan kedalam dua faktor besar yakni: faktor fisik dan psikis. Dalam hal ini, Wimpie Pangkahila (2006:7-9) mengemukakan bahwa pada dasarnya disfungsi seksual, baik pada pria maupun wanita, dapat disebabkan oleh faktor fisik dan faktor psikis. Faktor fisik ialah semua penyebab yang berupa gangguan fisik atau penyakit yang berpengaruh terhadap fungsi seksual. Sedang faktor psikis, ialah semua penyebab yang secara kejiwaan dapat mengganggu reaksi seksual terhadap pasangannya sehingga fungsi seksual terganggu. Tanpa mengurangi perhatian saya terhadap faktor fisik, saya akan lebih fokus kepada faktor psikis yang dapat mempengaruhi fungsi seksual seseorang, karena faktor psikis penyebab sehat tidaknya perilaku seksual inilah yang merupakan bidang kajian konseling perkawinan.

Dalam hal faktor psikis yang dapat mengakibatkan disfungsi seksual, lebih lanjut Wimpie Pangkahila (2006:8) menyatakan

bahwa faktor psikis yang dapat mengakibatkan disfungsi seksual meliputi semua faktor dalam semua periode kehidupan, yaitu periode anak-anak, remaja, dan dewasa. Faktor psikis tersebut dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, dan faktor pembinaan. Faktor predisposisi, misalnya pandangan yang negatif tentang seks, trauma seksual, pendidikan seks kurang, hubungan keluarga terganggu, masalah gaya hidup, dan tipe kepribadian. Faktor presipitasi, misalnya akibat psikis karena penyakit atau gangguan fisik, proses penuaan, ketidak setiaan terhadap pasangan, harapan yang berlebihan, depresi dan kecemasan, dan kehilangan pasangan atau yang disebut widower syndrome. Faktor pembinaan misalnya karena pengalaman sebelumnya, hilangnya daya tarik pasangan, komunikasi tidak baik, takut yang berkaitan dengan keintiman, dan informasi seks yang kurang.

Seksualitas manusia mengalami perkembangan. Fundasi perkembangan seks dan seluruh kepribadian manusia telah ditentukan pada umur lima tahun pertama. Perkembangan

kepribadian manusia sebagian besar ditentukan oleh

perkembangan seksualitasnya (Sigmund Freud,dalam Sikun Pribadi (1981:184). Pendapat tersebut memberi gambaran kepada kita bahwa begitu eratnya hubungan antara seks dan kepribadian. Dalam hubungan ini, Masters Johnson, dalam Sikun Pribadi (1981:184) menyatakan bahwa seksualitas adalah dimensi (aspek) dan pernyataan dari kepribadian (sexuality is a dimension and expression of personality). Pendapat ini dapat dimaknai bahwa kesehatan perilaku seksual seseorang diwarnai oleh kesehatan kepribadiannya. Dengan kata lain, sehat tidaknya perilaku seksual

seseorang tergantung pada sehat tidaknya kepribadian seseorang tersebut. Pertanyaan yang sering muncul dan ditunggu-tunggu jawabannya adalah apakah perilaku seksual yang tidak sehat tersebut dapat diatasi apa tidak? Jawabnya adalah dapat.

Perilaku seksual yang tidak sehat dapat diatasi. Bagaimana caranya? Dalam hal cara mengatasi, Wimpie Pangkahila (2006:14- 15) menyatakan bahwa pada dasarnya cara mengatasi disfungsi seksual, baik pada pria maupun wanita, terdiri dari: (1) konseling seksual, (2) sex therapy, (3) penggunaan obat, dan (4) penggunaan alat bantu. Dengan demikian, konseling khususnya konseling seksual sebagai salah satu alternatif cara dapat ditempuh guna membantu klien-klien yang sedang menderita karena tidak sehat perilaku seksualnya.