• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konseling Perkawinan

Memaknai Perasaan dan Berempati dengan Hat

4. Konseling Perkawinan

Perkawinan adalah suatu ikatan antara pria dan wanita sebagai suami istri berdasarkan hukum (UU), hukum agama atau adat istiadat yang berlaku (Dadang Hawari, 2006: 58). Sedangkan

menurut Undang-Undang Perkawinan (Undang-Undang No. 1 Tahun 1974) yang dimaksud dengan perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga40 (rumah tangga) yang bahagia

dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam perkawinan terdapat ikatan lahir batin, yang berarti bahwa dalam perkawinan itu perlu adanya ikatan tersebut pada keduanya. Ikatan lahir adalah merupakan ikatan yang menampak, ikatan formal sesuai dengan peraturan-peraturan yang ada. Ikatan formal ini adalah nyata, baik yang mengikat dirinya yaitu suami dan istri, maupun bagi orang lain yaitu masyarakat luas. Ikatan batin adalah ikatan yang tidak nampak secara langsung, tetapi merupakan ikatan psikologik. Antara suami dan istri harus ada ikatan ini, harus saling mencintai satu sama lain, tidak adanya paksaan dalam perkawinan. Bila perkawinan dengan paksaan, tidak adanya cinta kasih satu dengan yang lain, maka berarti bahwa dalam perkawinan tersebut tidak ada ikatan batin (Bimo Walgito, 1984:10).

40 Gary S. Becker, seorang ahli di bidang ekonomi membuat suatu teori tentang

perkawinan dari sudut pandang ekonomi. Teori tersebut menjelaskan tentang proses keputusan menikah seorang individu. Diawali dengan identifikasi yang dilakukan individu terhadap pasangan-pasangan yang mungkin dinikahi. Pasangan-pasangan yang mungkin dinikahi adalah orang- orang di mana ketika individu memutuskan untuk menikah dengan orang tersebut akan menjadi lebih bahagia daripada hidup sendiri (individu diasumsikan bersikap rasional). Individu kemudian akan memilih pasangan yang akan menghasilkan output pernikahan yang paling besar, paling memberikan kebahagiaan diantara semua alternatif yang ada. Menurut model ekonomi perkawinan, seorang individu akan memutuskan untuk menikah jika pernikahan akan lebih memberikan kebahagiaan daripada hidup sendiri (Bryant dan Zick: 2006, 45-47).

Pengertian perkawinan dapat disejajarkan dengan pengertian

pernikahan. Dalam hal nikah, Sikun Pribadi (1981:33)

mengemukakan bahwa nikah; ialah ikatan janji cinta antara dua jenis kelamin, yang bertemu dalam hatinya. Dalam pengertian cinta, ada dua unsur yaitu saling menyayangi dan tarik-menarik karena birahi. Di dalam gejala birahi terdapat unsur seks, yang selalu ada pada setiap manusia yang normal. Seks ialah energi psikis, yang mewujudkan diri dalam berbagai bentuk, terutama dalam bentuk hubungan antar manusia sebagai pria dan wanita. Atas dasar pendapat-pendapat atau rumusan-rumusan tersebut dapatlah disimpulkan bahwa perkawinan atau pernikahan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami-istri atas dasar cinta dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal ber;dasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Tujuan perkawinan implisit di dalam rumusan tentang pengertian perkawinan sebagaimana diuraikan di muka. Lebih jelasnya, dalam pasal 1 Undang-Undang Perkawinan tersebut dikemukakan bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Rumusan tujuan perkawinan tersebut mengisyaratkan bahwa tujuan kedua individu yang melakukan perkawinan itu haruslah sama. Tidaklah termasuk ke dalam pengertian ini kalau tujuannya berbeda. Kalau sampai terdapat tujuan yang berbeda, tentu saja perlu mendapatkan perhatian yang serius,  karena tujuan yang tidak sama antara suami dan istri akan merupakan sumber permasalahan dalam keluarga. Untuk

membentuk keluarga yang bahagia perlu mempersatukan tujuan yang akan dicapai dalam perkawinan itu.

Di samping tujuan yang akan dicapai harus sama antara suami dan istri, kebahagiaan dalam keluarga perlu dijadikan arah dan bila perlu dijadikan target yang harus dicapai; karena bahagia merupakan ukuran hidup yang sebaik-baiknya, yaitu sebagai seni hidup, ukuran bagi kebaikan dalam arti etika humanistik (Erich Fromm, dalam Sikun Pribadi, 1981:163). Jadi, menurut Erich Fromm hidup bahagia itu adalah kriteria bagi kehidupan yang utama, bagi kehidupan yang etis. Itulah seni hidup yang paling sukar. Jika kondisi itu tercapai, dapat dikatakan bahwa hidup kita telah berhasil sebagai hidup yang produktif. Hidup yang produktif ialah hidup yang sangat besar manfaatnya, hidup yang banyak amalnya, yang tidak konsumtif sebagai parasit yang hidup dari usaha orang lain. Tidak ada suatu perkawinan yang tidak mengalami cobaan, bagaikan peribahasa yang mengatakan dalam mengarungi bahtera rumah tangga itu tidak selamanya angin dari arah buritan, terkadang badai menghadang. Di sinilah seni hidup, mereka yang berhasil melampuainya akan berakhir pada tujuan kebahagiaan rumah tangga (Dadang Hawari, 2006: ix).

Konflik atau masalah-masalah yang dialami oleh pasangan suami-istri selayaknya diatasi dan bukan dihindari. Menghindari masalah tak ubahnya merusak diri (self-defeating). Konseling perkawinan merupakan salah satu pendekatan dalam mengatasi konflik atau masalah dalam perkawinan tersebut. Lalu apa konseling perkawinan itu?. Konseling perkawinan yang memiliki istilah lain: couple counseling, marriage counseling, dan marital counseling, marupakan konseling yang diselenggarakan sebagai

metode pendidikan, metode penurunan ketegangan emosional,

metode membantu partner-partner yang menikah untuk

memecahkan masalah dan cara menentukan pola pemecahan masalah yang lebih baik (Klemer dalam Latipun, 2008: 221). Konseling perkawinan merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh konselor kepada individu atau sekelompok individu klien, yang dimungkinkan akan atau sedang mengalami sesuatu masalah yang berhubungan dengan hidup sebagai pasangan suami-istri, yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapinya (Soeharto, 2007: 5).

Klemer (1965) mengartikan konseling perkawinan sebagai konseling yang di selenggarakannya sebagai metode pendidikan, metode penurunan ketegangan emosional, metode membantu patner-patner yang menikah untuk memecahkan masalah dan cdara menentukan pola pemecahan masdalah yang lebih baik.

Dikatakan sebagai metode pendidikan karena konseling

perkawinan memberikan pemahaman kepada pasangan yang berkonsultasi tentang diri, pasangannya, dan masalah- masalah hubungan perkawinan yang dihadapi serta cara- cara yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan perkawinan.

Penurunan ketegangan emosional dimaksudkan sebagai konseling perkawinan dilaksanakan biasanya saat kedua belah pihak berada pada situasi emosional yang sangat berat. Dengan konseling, pasangan dapat melakukan ventilasi, dengan jalan membuka emosionalnya sebagai katartis terhadap tekanan-tekanan emosional yang dihadapi selama ini. Yang membantu disebut konselor seorang konselor bukan subyek, karena konselor hanya membantu, subyeknya adalah klien itu sendiri dan obyeknya

adalah masalah yang dihadapi. Yang dapat dilakukan oleh seorang konselor antara lain membantu klien untuk: 1. memahami diri sendiri. 2. mengukur kemampuannya. 3. mengetahui kesiapan dan kecenderungannya. 4. memperjelas orientasi, motivasi dan aspirasinya. 5. mengetahui kesulitan dan problem lingkungan di mana ia hidup, serta peluang yang terbuka baginya. 6. membantu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menetapkan tujuan yang paling kongkrit bagi dirinya. 7. mendorong klien untuk berani mengambil keputusan yang sesuai dengan kemampuannya, dan memanfaatkan se optimal mungkin potensi yang ada pada dirinya untuk merebut peluang yang terbuka. Jika klien nya orang awam, konseling dibutuhkan untuk: membantu pengembangan diri dan memilih gaya hidup (life style) yang sesuai dengan aspirasinya. Menjaga agar mereka tidak terjatuh pada keadaan merasa tidak wajar dan tidak bahagia. Membantu menentukan pilihan-pilihan. Memban-tu meringankan perasaan, frustrasi dn sebangsanya.

Konseling perkawinan bebeda dengan konseling pranikah

dan konseling keluarga. Konseling pranikah (premarital

counseling) merupakan konseling yang diselenggarakan kepada pihak-pihak yang belum menikah, sehubungan dengan rencana pernikahannya, seperti: dalam rangka membuat keputusan agar lebih mantap dan dapat melakukan penyesuaian di kemudian hari secara lebih baik; Sedangkan konseling keluarga (family counseling) secara umum dibatasi sebagai konseling yang

berhubungan dengan masalah-masalah keluarga, seperti:

hubungan peran di keluarga, masalah komunikasi, tekanan dan peraturan keluarga, ketegangan orang tua-anak, dan lain-lain. Pemecahan masalah yang dialami oleh anggota keluarga perlu

adanya keterlibatan anggota keluarga lainnya. Sementara konseling perkawinan lebih menekankan pada masalah-masalah pasangan suami-istri (Latipun, 2008: 222-230).

Membedakan secara sangat ketat antara konseling

perkawinan dan konseling keluarga adalah tidak gampang, dan oleh karenanya dalam kajian ini ada kemungkinan menyentuh wilayah konseling keluarga. Yang jelas, pemecahan masalah- masalah baik yang dialami oleh pasangan suami-istri maupun yang dialami oleh anggota keluarga, adalah menggunakan pendekatan konseling. Pendekatan konseling bercirikan pemecahan masalah yang ditempuh melalui komunikasi dua arah (two way traffic) antara konselor dengan klien, dan bukan satu arah (one way traffic) seperti dalam kepenasihatan.

Konseling perkawinan diselenggarakan tidak dimaksudkan untuk mempertahankan suatu pasangan. Konselor perkawinan menyadari betul bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menentukan apakah suatu pasangan suami-istri harus bercerai atau tidak. Tujuan konseling perkawinan adalah membantu klien- kliennya untuk mengaktualisasikan yang menjadi perhatian pribadi, apakah dengan jalan bercerai atau tidak (Brammer Shostrom, 1982: 348-349); membantu klien membuat keputusannya sendiri bercerai atau tidak, dan konselor bertanggung jawab membantunya berpikir secara rasional, dan oleh karenanya klien dapat hidup dengan keputusan yang dibuatnya (Gibson and Mitchell, 1986: 100).

Dalam konseling perkawinan, konselor membantu klien (pasangan) untuk melihat realitas yang dihadapi, dan membantu membuat keputusan yang tepat bagi keduanya. Keputusannya

dapat berbentuk menyatu kembali, berpisah, cerai; dalam rangka mencari kehidupan yang lebih harmonis, dan menimbulkan rasa aman bagi keduanya. Huff dan Miller, mengemukakan bahwa tujuan jangka panjang daripada konseling perkawinan adalah: (1) meningkatkan kesadaran dirinya dan dapat saling empati di antara pasangan, (2) meningkatkan kesadaran tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing, (3) meningkatkan sikap saling membuka diri, (4) meningkatkan hubungan yang lebih intim, (5) mengembangkan ketrampilan komunikasi, pemecahan masalah, dan mengelola konfliknya (Brammer and Shostrom, 1982: 348-349).

Sesuai dengan pengertian dan tujuan konseling perkawinan tersebut, berikut ini konselor perkawinan menyampaikan pandangannya dan pandangan-pandangan lain seputar bagaimana menciptakan hubungan suami-istri atau keluarga yang harmonis, serta mengatasi masalah berkaitan dengan ketidak harmonisan hubungannya sebagai suami-istri dan ketidak sehatan perilaku seksualnya secara garis besar.

Di bagian depan telah dijelaskan bahwa pada dasarnya suatu perkawinan tidak akan terelakkan dari konflik. Adalah wajar dalam suatu perkawinan terjadi pertengkaran antara suami dengan istri. Di samping nilai negatifnya, pertengkaran suami-istri terdapat juga nilai positifnya. Beberapa terapis perkawinan, menekankan bahwa memang dalam situasi yang tepat, pertengkaran dapat memproduksi kedekatan yang lebih di antara pasangan (Sawitri Supardi Sadarjoen, 2005: 100). Beberapa terapis perkawinan tersebut menyarankan beberapa cara untuk mengatasi konflik secara adil dan produktif, sebagai berikut:

1. Hendaknya pasangan mengungkapkan keluhan secara spesifik dan meminta pasangannya untuk melakukan perubahan-perubahan perlakuan dan tingkah laku yang memang bisa diubah agar segala sesuatu menjadi lebih baik. Untuk itu, pasangan harus mengungkapkan keurutan isu-isu tertentu yang pasti pada waktu yang tepat.

2. Pasangan hendaknya memahami diri masing-masing, dengan

mencoba meminta dan memberikan umpan balik dari pasangannya.

3. Pasangan tidak dibenarkan untuk membuat keputusan

tentang karakteristik spesifik tertentu pasangannya, misalnya: Kamu keras kepala, Kamu pembohong. Pasangan juga tidak dibenarkan membuat keputusan seolah pasangannya tidak mungkin untuk konsisten terhadap kesepakatan yang telah ditentukan oleh pasangan, apalagi dengan kata-kata yang mengandung unsur sarkastik.

4. Pasangan hendaknya mengkomunikasikan hal-hal yang

terjadi, di sini dan pada saat ini, sehingga tidak akan terkomplikasi dengan muatan-muatan perilaku negatif dan kesusahan-kesusahan terdahulu yang telah terjadi pada masa lalu, atau bahkan menyertakan keluhan-keluhan yang tidak relevan dengan masalah aktual yang saat ini dan pada waktu ini terjadi.

5. Pasangan hendaknya mempertimbangkan kemungkinan

untuk selalu mencari jalan kompromi, karena tidak akan pernah menjadi pemenang tunggal dalam argumentasi yang jujur di antara pasangan perkawinan. Dalam hal ini, pasangan

harus mengingat bahwa mereka adalah satu tim dan bukan dua kelompok yang berbeda dan terpisah.

6. Pasangan harus trampil untuk berkomunikasi dengan penuh

empati sehingga mampu memahami sudut pandang pasangannya. Pasangan hendaknya memiliki optimisme bahwa akan selalu dapat dicapai satu jalan terbaik bagi penyelesaian konflik yang mereka hadapi.

Kita semua baik yang sudah menikah maupun yang baru akan menikah pasti menginginkan pernikahan/ perkawinan kita mencapai hubungan perkawinan yang sehat dan bahagia. Untuk itu perlu adanya pegangan atau kriteria yang jelas untuk perwujudannya. Adapun pegangan atau kriteria menuju hubungan perkawinan yang sehat dan bahagia, atau keluarga yang harmonis, adalah sebagai berikut:

1. Kehidupan beragama dalam keluarga. Ciptakan kehidupan

beragama dalam keluarga, sebab dalam agama terdapat nilai- nilai moral atau etika kehidupan. Landasan utama dalam kehidupan keluarga berdasarkan ajaran agama ialah kasih sayang. Cinta mencintai dan kasih mengasihi berarti

silaturahmi tidak terputus, tetapi diperbaiki dan

dikembangkan. Hasil penelitian lain yang mendukung hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa keluarga yang tidak religius, yang komitmen agamanya lemah, dan keluarga yang tidak mempunyai komitmen agama sama sekali, mempunyai resiko empat kali untuk tidak berbahagia dalam keluarganya.

2. Waktu bersama keluarga. Waktu untuk bersama keluarga itu

harus ada. Menciptakan suasana kebersamaan dengan unsur keluarga itu penting. Untuk memelihara perkawinan itu;

sendiri, seorang suami harus menyempatkan waktu untuk istrinya. Berdua saja, tidak dengan anak-anak lagi pergi ke mana saja secara pribadi.

3. Hubungan yang baik antar anggota keluarga. Harus

diciptakan hubungan yang baik antara anggota keluarga. Harus ada komunikasi yang baik (timbal balik), demokratis. Ayah dan ibu dituntut untuk menciptakan suasana yang komunikatif dan demokratis.

4. Saling harga menghargai antar anggota keluarga. Seorang anak perlu menghargai sikap ayahnya, begitu juga ayah bisa menghargai prestasi anak atau sikap anak. Seorang istri menghargai sikap suami dan sebaliknya suami menghargai sikap istri.

5. Hubungan yang erat dalam keluarga. Hubungan antara ayah,

ibu, dan anak harus erat dan kuat. Jangan longgar dan rapuh. Hubungannya harus menghasilkan keadaan dekat di mata dekat dihati. Setidaknya jauh di mata dekat di hati, dan bukannya dekat di mata jauh di hati atau jauh di mata jauh di hati.

6. Keutuhan keluarga. Jika keluarga mengalami krisis karena sesuatu persoalan, maka prioritas utama adalah keutuhan keluarga. Keluarga harus kita pertahankan, baru apa masanya atau apa krisisnya kita selesaikan. Jangan karena krisis, lalu kita pisah, kita cerai saja. Apapun alasan perceraian, yang menjadi korban adalah anak-anaknya. Mungkin si istri atau suami bahagia, tetapi anak-anaknyap; akan menderita (Dadang Hawari, 2006:17-25).

Berikut sejumlah panduan sebagai bahan pertimbangan pada saat Anda merasa memerlukan bantuan profesional untuk memperbaiki bahtera rumah tangga.

1. Pastikan terapis yang dipilih telah berpengalaman.

Sering kali seorang konsultan mengatakan, dia adalah terapis perkawinan yang baik dan sudah berpengalaman. Ia pun mengaku sudah menolong sekian banyak pasangan yang bermasalah, terutama dalam menangani salah satu pihak (suami atau istri saja dan bukan keduanya). Pada kenyataannya, kita tidak dapat mengidentifikasikan suatu jenis terapi hanya dengan jumlah klien yang datang. Terapi

perkawinan memerlukan suatu keahlian dan

keterampilan khusus demi membantu mengatasi perbedaan suami-istri yang tinggal serumah. Mereka harus mencari tahu penyebab perselisihan. Bisa saja seorang terapis amat piawai membantu seseorang dalam mengatasi suatu masalah, tetapi untuk membantu menyelesaikan masalah dari dua orang yang tinggal serumah haruslah memiliki keahlian tertentu. Oleh karena itu, Anda tidak perlu ragu-ragu untuk menanyakan kepada si konsultan mengenai jam terbang, ilmu, dan pengalamannya.

2. Pastikan terapis Anda cenderung memberi jalan keluar yang

terbaik bagi perkawinan Anda yang sedang guncang dan bukan menganjurkan perpisahan.

Jangan ragu untuk menanyakan kepada si terapis tentang persentase pasangan suami-istri yang akhirnya bercerai serta yang berhasil rukun dan bahagia lagi setelah berkonsultasi dengannya. Walaupun mungkin ia tidak akan menyukai

pertanyaan tersebut dan tidak mau memberi angka yang spesifik, Anda dapat menemukan jawabannya dari raut mukanya pada saat membicarakan hal ini. Anda harus memastikan perasaan dan keyakinan Anda bahwa tujuan utama konsultan yang Anda pilih adalah mempersatukan kembali Anda dan pasangan.

3. Harus merasa aman, nyaman, dan dihormati oleh terapis

Bila terapis hanya memihak Anda atau pada pasangan, jelas ia bukan konsultan yang tepat. Terapis yang baik harus dapat mengerti permasalahan dan cerita yang disampaikan oleh kedua belah pihak dan membantu pasangan tersebut mencari jalan keluar. Bila Anda merasa tidak setuju dengan saran yang disampaikannya, sebaiknya ungkapkan dengan terus terang. Bila ia memberi umpan balik yang baik, hal itu merupakan pertanda baik. Bila tidak, sebaiknya tinggalkan terapis tersebut.

4. Pandangan terapis terhadap hubungan suami-istri berperan penting dalam hal kerja sama dengan Anda

Bicara mengenai mencintai dan dicintai serta untuk tetap saling menyintai, maka tidak ada peraturan yang universal. Oleh karena itu, bila si terapis mengatakan hanya ada satu cara dalam mencapai suatu perkawinan yang bahagia, sebaiknya cari konsultan yang lain.

5. Pastikan pasangan dan terapis menyusun sasaran dan tujuan

yang konkret sedini mungkin.

Bila tidak, kemungkinannya setiap minggu sesudah terapi Anda tak akan ada kemajuan serta tidak jelas arah tujuan dari terapi tersebut. Begitu Anda sudah menentukan sasaran yang

akan dicapai, sebaiknya perhatikan kemajuan yang diperoleh. Bila tidak merasakan suatu kemajuan atau keadaan tak membaik sesudah dua atau tiga pertemuan, sebaiknya diskusikan dengan si konsultan.

6. Biasanya pasangan yang sedang menghadapi masalah dalam

rumah tangganya tidak tahu cara mencari jalan keluar yang terbaik.

Bila konsultan memusatkan terapinya pada masalah masa lalu Anda berdua, minta ia melakukan pendekatan yang berorientasi ke masa depan. Bila tidak, sebaiknya cari ahli lainnya yang mau melakukan terapi sesuai dengan permintaan Anda.

7. Memahami bahwa sebagian besar dari masalah rumah tangga

dapat diatasi

Jangan biarkan si konsultan mengatakan, perubahan

merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Manusia

merupakan makhluk yang menakjubkan dan sanggup melakukan hal-hal yang luar biasa. Terutama untuk orang yang dicintainya.

8. Ikuti naluri

Dari naluri, Anda akan mengetahui, apakah seorang terapis akan membantu atau tidak. Jangan lakukan terapi dengan seorang konsultan yang hanya menginginkan uang Anda. Cari yang sungguh-sungguh akan membantu mengembalikan kerukunan Anda berdua.

9. Cara yang terbaik untuk mendapatkan seorang terapis yang baik adalah dari mulut ke mulut.

Tidak ada promosi yang lebih baik dibanding masukan yang diberikan langsung dari seorang pelanggan yang merasa puas. Walaupun kadang ada perasaan malu untuk mencari informasi mengenai terapis yang baik dan bagus, Anda tetap harus melakukannya demi rumah tangga Anda berdua. Jangan menyerah untuk melakukan terapi, tetapi Anda harus menyerah dengan terapi yang buruk. Andalah yang menentukan, apa yang terbaik bagi Anda. Banyak yang harus dilakukan dalam mencari nasehat dari orang ketiga yang dapat membantu menemukan jalan keluar yang terbaik bagi masalah kehidupan rumah tangga yang rumit.

Kaitannya dengan pembinaan rumah tangga yang harmonis, Rasullullah Muhammad SAW memberi nasihat kepada pasangan yang hendak menikah dengan mengemukakan 3 hal menjadi suami yang baik dan 3 hal menjadi istri yang baik. Suami yang baik, adalah suami yang: (1) setia pada istrinya, (2) bertanggung jawab terhadap istri dan keluarganya (anak-anaknya), (3) tidak kasar terhadap istrinya. Sedangkan istri yang baik, adalah istri yang: (1) loyal pada suaminya, (2) hormat (respect) kepada suaminya, (3) melayani dan merawat suaminya dengan baik, lemah lembut, dan penuh kasih sayang. Konselor perkawinan sering menambahkan bahwa istri yang baik itu adalah istri yang anggun di depan umum, hemat di dapur, dan hangat di tempat tidur (Dadang Hawari, 2006: 9-12).

Perkawinan41 yang bahagia tidak cukup hanya didukung

dengan cinta dan pemenuhan kebutuhan biologis saja, meskipun cinta diperlukan dan bahkan menjadi syarat dalam suatu perkawinan. Bekal cinta dan pemenuhan kebutuhan biologis saja

tidak cukup, karena pada hakekatnya kebahagiaan suatu perkawinan terletak pada sampai seberapa jauh kemampuan masing-masing pasangan untuk saling berintegrasi dari dua kepribadian yang berbeda. Cinta dan kepuasan biologik mungkin menyenangkan pada awal perkawinan, tetapi tidak akan berlangsung lama; karena masing-masing pasangan tidak mampu untuk saling berintegrasi dan beradaptasi menjaga hubungan silaturahmi (Dadang Hawari, 2006: 27-28).41

Dalam penelitiannya terhadap pasangan-pasangan

perkawinan yang bertahan (tidak bercerai), Grunebaum, H.U (1990) menemukan 5 faktor yang mengikat suami-istri sehingga mereka mem¬pertahankan perkawinannya, yaitu: (1) saling memberi dan mene¬rima kasih sayang, (2) suami-istri merupakan kemitraan persahabatan (bukan rival atau pesaing satu dengan lainnya), (3) saling memuaskan dalam pemenuhan kebutuhan biologis (seksual) dan bertindak serta berperilaku sesuai dengan etika moral agama, (4) masing-masing pihak mempunyai komitmen

41 Setiap makhluk melaksanakan pernikahan atau perkawinan adalah karena

ada sesuatu dalam diri setiap makhluk yang tidak kecil peranannya dalam wujud ini. Ia adalah naluri yang melahirkan dorongan seksual. Ikan- ikan mengarungi samudra yang luas menuju tempat terpencil, untuk memenuhi naluri itu guna melanjutkan generasinya. Pernahkah kita menyaksikan sepasang burung merpati berkicau dan bercumbu sambil merangkai sarangnya..? Tidakkah bunga- bunga mekar dengan indahnya, merayu burung dan lebah agar mengantarkan benihnya ke kembang lain untuk di