BAB III HIDUP KOMUNITAS DALAM
10. Keseimbangan dalam hidup komunitas
Komunitas Ursulin yang dipersatukan dalam nama Tuhan, pada hakekatnya bersifat rasuli. Makin bersatu dalam cinta kasih, makin dalam pula pengaruhnya. Maka komunitas sebagai keseluruhan terlibat dalam perutusannya. Karya pendidikan dalam bentuknya yang bermacam ragam, selalu merupakan karya komunitas sebagai keseluruhan, juga kalau dilakukan oleh satu orang saja, atau oleh satu kelompok. Hidup komunitas hendaknya sedemikian rupa, sehingga memungkinkan kerasulan Ursulin yang bermacam ragam. Di dalam komunitas mereka menemukan dukungan dan kegembiraan dalam melakukan tugas, juga kepastian akan kesuburan karya mereka yang menerima kekuatan dan daya hidupnya dari persatuan para suster dalam Kristus.
Maka perlu adanya keseimbangan dalam hidup berkomunitas, sehingga komunitas akan tetap kuat dan kokoh dalam kasih persaudaraan. Hal ini ditegaskan dalam Konstitusi:
“Hidup komunitas hendaknya memungkinkan adanya keseimbangan antara doa, kerja dan istirahat, antara hening dan bercakap-cakap, antara menyendiri dan hadir pada orang lain, antara menerima tamu dan kebersamaan di antara kita sendiri. Kalau keseimbangan ini tetap dijaga, maka baik kepentingan pribadi maupun komunitas maupun tuntutan kerasulan terhadap kita dapat dihormati”(Konstitusi, art. 88).
Apabila dalam kehidupan komunitas memperhatikan adanya keseimbangan antara hal-hal yang disebutkan di atas maka komunitas akan menjadi kemunitas yang menampakkan ciri khas yang khusus. Karena dalam hidup bersama perlu adanya keseimbangan antara doa, kerja dan istirahat, antara suasana hening dan bercakap-cakap, antara waktu pribadi dan hadir bersama orang lain. Ada saat menerima tamu dan juga kebersamaan di antara para suster sendiri. Para Ursulin berusaha untuk senantiasa memperhatikan hal-hal ini dengan demikian baik kepentingan pribadi ataupun komunitas dapat dihormati oleh setiap pribadi para suster.
C. Hidup Komunitas Ordo Santa Ursula menurut Kapitel Umum
Kapitel umum merupakan wewenang tertinggi dalam Tarekat dan tanda persatuan dalam cinta kasih. Tugasnya yang utama ialah menjaga khazanah warisan Tarekat, dan berdasarkan itu mendorong pembaharuan rohani dan kerasulan yang disesuaikan (Konstitusi, art. 172).
Komunitas adalah tempat di mana anggotanya dapat menjadi sungguh manusiawi, di mana orang dapat mendapatkan kesembuhan dan kekuatan batin. Disaat ketakutan dan kecurigaan antar anggota menghilang dan kepercayaan kepada Allah dan sesama bertumbuh, maka komunitas itu akan memancarkan kesaksian tentang kualitas dan gaya hidup yang mampu memberi solusi bagi kesulitan-kesulitan yang ada dalam masyarakat kita dewasa ini, seperti kerusuhan ditanggapi dengan hidup sebagai saudara, ketidakadilan dengan hidup berbagi dan solider, keputusasaan dengan kepercayaan dan harapan yang tanpa batas, kecurigaan dan kebencian dengan pengampunan (Komisi Pengembangan Spiritualitas Ursulin, 2000:2). Dalam bagian ini akan diuraikan dari ketiga Kapitel Umum Uni Roma Ordo Santa Ursula yang dilaksanakan pada tahun 1995, 2001 dan 2007.
1. Kapitel Umum Tahun 1995
Pesan Kapitel Umum tahun 1995 adalah Komunitas kita diharapkan semakin menjadi tanda profetis dari persatuan, rekonsiliasi dan harapan bagi orang-orang yang terluka oleh perpecahan, kekerasan dan putus-asa (Pesan Kapitel Umum, 1995).
Menghadapi milenium ketiga yang sedang kita jalani bersama, hidup komunitas kita diharapkan semakin menjadi tanda profetis dari persatuan, rekonsiliasi dan harapan bagi orang-orang yang terluka oleh perpecahan, kekerasan dan putus asa. Pesan Kapitel ini sungguh menantang para suster untuk mewujudkan kualitas hidup bersama di mana setiap anggotanya terikat satu sama lain dengan ikatan cinta kasih, saling percaya, mengampuni, solider dan ramah
tamah. Kualitas hidup bersama ini dimulai dari dalam komunitas itu sendiri, dengan demikian para suster akan menjadi saksi persatuan, rekonsiliasi dan harapan bagi orang-orang yang sedang terluka karena berbagai permasalahan hidup yang mereka alami. Persatuan dalam komunitas akan terwujud apabila ada sikap keterbukaan, saling percaya satu sama lain, mendengarkan, memahami. Jika ada perbedaan pendapat atau salah paham maka jalan keluarnya adalah melakukan rekonsiliasi. Dengan demikian komunitas menjadi kesaksian yang hidup bagi sesama. Perjalanan hidup komunitas Ursulin melalui proses yang jatuh bangun dimana para suster selalu berusaha untuk lebih menghayati dan mewujudkan semangat dan spiritualitas Santa Angela dalam hidup bersama dengan orang lain dalam komunitas.
Dalam pesan kapitel ini juga tertulis bahwa sebagai Ursulin, kita adalah putri-putri Santa Angela dalam komunitas internasional Uni Roma. Melihat kenyataan bahwa dalam kurun waktu 500 tahun lebih, di bawah dorongan Roh Kudus, karunia asali Santa Angela telah menjelma dalam berbagai cara. Dewasa ini nampak dalam hampir semua bentuk kanonik hidup bakti, kompani diosesan, tarekat sekulir, kongregasi diosesan dan tarekat dengan hak kepausan, kompani otonom dan federasi, uni nasional dan internasional. Seperti pohon yang bercabang banyak, masing-masing kelompok itu menancapkan akarnya dalam-dalam ke dalam-dalam karisma tunggal yang diterima Angela demi kebaikan Gereja. Munculnya cabang baru tidak merugikan yang lain, dan Gereja mengakui semuanya sebagai cara otentik untuk menghayati kharisma Santa Angela. Santa Angela sendiri dengan bijak menulis; “Jika menurut zaman dan keadaan timbul
kebutuhan untuk membuat peraturan baru atau mengubah sesuatu, lakukanlah dengan bijak dan setelah menerima nasihat yang baik”(Warisan Terakhir, art. 2). Dengan bimbingan Roh Kudus, Ursulin telah sampai pada titik sejarah, di mana para Ursulin Provinsi Indonesia termasuk cabang religius di antara putri-putri Santa Angela (Konstitusi, art. 1) yang atas dorongan Roh Kudus menyebar di dunia, dan seratus tahun yang lalu membentuk Uni Roma dan sekarang para suster menjadi anggota-anggotanya. Dalam usaha memperdalam identitas para suster sebagai Ursulin Uni Roma, terlebih dahulu merefleksikan sejenak apa artinya menjadi anggota dan apa konsekuensi keanggotaan itu bagi hidup para suster (Surat Edaran No.250, 1998:3).
Hidup komunitas akan tetap sehat sejauh para suster berhasil menghindari baik kecendrungan untuk menolak batas-batas dan pembatasan diri maupun godaan untuk menutup diri, atau mengucilkan siapa saja yang mempunyai cara berpikir yang berbeda. Komunitas-komunitas dan Tarekat Ursulin adalah salah satu bagian dari Gereja, yang merupakan persatuan organis dalam panggilan dan kharisma khusus yang berbeda-beda yang ditimbulkan oleh Roh Kudus demi kebaikan seluruh Tubuh. Mengingat dunia dewasa ini individualisme yang kuat yang telah merusak masyarakat, sehingga mau tak mau para suster juga terpengaruh olehnya. Maka perlu juga para suster mengkaji apa implikasinya menjadi anggota komunitas. Perlu juga memperdalam kesadaran para suster akan tanggungjawab pribadi sehubungan dengan kepentingan bersama (Surat Edaran, No.250, 1998:4).
2. Kapitel Umum tahun 2001
Pesan Kapitel Umum tahun 2001 adalah, “Dengan mengikuti jejak Santa Angela peziarah pembawa damai dan rekonsiliasi hari ini kita mendengar panggilan untuk semakin menjadi PENDAMAI dalam keadilan, solidaritas dan keserasian di dalam diri sendiri dan di antara kita dalam hidup komunitas kita, dalam doa, kontemplasi dan misi, di antara bangsa-bangsa dan kebudayaan-kebudayaan bersama bumi dan seluruh ciptaan. Damai adalah pemberian Kristus dalam wafat dan kebangkitan-Nya, damai adalah buah Roh” (Pesan Kapitel Uumum, 2001). Dalam Kapitel ini menegaskan bahwa komunitas adalah pertama-tama di mana para suster hidup sebagai pendamai. Untuk itu diharapkan agar setiap propinsi dan komunitas agar mengusahakan cara-cara yang paling baik untuk menghayati hal itu di zaman ini. Setiap orang akan mampu menjadi pembawa atau pendamai jika ia sendiri telah mengalami rasa damai itu dalam hatinya sendiri. Untuk itu damai diusahakan oleh para suster yang dimulai dari dalam diri sendiri, memancar keluar yaitu dalam komunitas itu sendiri dan pada akhirnya damai itu bisa menjiwai setiap orang yang berjumpa dengan mereka. Damai itu perlu diusahakan dengan cara-cara yang paling baik misalnya dalam hidup sehari-hari para suster mengalami suasana komunitas yang kurang memberikan rasa damai oleh karena adanya pertengkaran atau permusuhan. Maka hendaknya setiap suster dengan rendah hati mau mengakui kesalahan dan mengusahakan rekonsiliasi yaitu saling mengampuni dan menerima satu dengan yang lain. Sehingga komunitas akan menjadi komunitas yang damai, sejahtera dan
bahagia yang mampu memberikan rasa aman bagi setiap orang baik bagi para suster itu sendiri ataupun mereka yang ada di sekitarnya. Dengan demikian para suster mampu menjadi pendamai bagi orang lain (Pesan Kapitel Umum, 2001:3). 3. Kapitel Umum Tahun 2007
Pesan Kapitel Umum tahun 2007, “Dikuatkan oleh Sabda Allah dan oleh persatuan kita satu sama lain, marilah kita mempunyai keberanian untuk keluar dari batas-batas kita dan bersama Angela, menjadi tanda rekonsiliasi dan harapan.” Kehidupan komunitas Ursulin dasarnya adalah dikuatkan oleh persatuan para suster satu sama lain. Jika persatuan itu ada dan kuat serta kokoh maka komunitas akan menjadi kokoh dan bertahan, walau kadangkala tidak dapat dihindari peristiwa atau pengalaman perbedaan. Perbedaan di antara mereka menjadi sesuatu yang saling memperkaya satu sama lain dalam kehidupan bersama sebagai sebuah komunitas. Kapitel Umum menghimbau kepada setiap suster untuk membaharui mutu kehidupan komunitas melalui beberapa hal yaitu: a.Menemukan cara-cara konkret untuk menghayati rekonsiliasi
Menjadi putri Santa Angela juga berarti menjaga supaya semangat rekonsiliasi dan pengampunan tetap hidup diantara anggota komunitas. Rekonsiliasi itu nampak dalam kehidupan bersama yang akan menjadi persatuan dalam hidup keseharian, hasrat untuk mendengarkan dengan lebih baik dan bersikap toleran walaupun ada ketegangan, benturan atau kemunduran dalam hidup bersama. Perlu diakui bahwa dalam hidup bersama para suster juga menyadari keterbatasan dan kelemahan, namun para suster tidak berhenti pada kesadaran ini. Mereka tetap bangkit dan berusaha untuk saling mengampuni satu
dengan yang lainnya. Pengalaman kebangkitan untuk saling mengampuni merupakan hal yang penting dalam hidup berkomunitas untuk mengembangkan persatuan dan kasih bagi sesama (Pesan Kapitel Umum, 2007:1).
Angela adalah seorang pembawa damai, ini merupakan karismanya yang menarik. Teladan Bunda Angela ini patut diteruskan oleh para putrinya. Para suster dapat menjadi pembawa damai bagi sesama. Hal yang sangat penting jika para suster mau menjadi pembawa damai adalah perlu adanya terlebih dahulu ada damai dalam hati mereka. Tingkah laku lahiriah tidak cukup kalau hati digerogoti rasa benci atau pahit. Perlu sikap rendah hati untuk mengakui kerapuhan, mengakui kesalahan sendiri, mengampuni dan tetap mencintai. Intinya adalah mereka dapat membawa damai ke dunia jikalau mereka mau terbuka untuk saling mengampuni, dan membimbing banyak orang lain dalam jalan rekonsiliasi ini. Dengan demikian para suster juga akan menjadi pembawa damai ke lingkungan yang lebih luas misalnya menjadi pembawa damai, persatuan dan rekonsiliasi dalam menghadapi konflik keluarga.
Kerja sama dengan kaum awam dalam kerasulan juga memberi kemungkinan bagi para suster untuk membina semangat rekonsiliasi. Membuat orang melihat perbedaan-perbedaan dan menghayatinya sebagai kesempatan untuk saling melengkapi, merupakan jalan yang penuh kesulitan, pertentangan dan konflik. Pengalaman kesulitan ini memiliki segi positif yaitu para suster mampu mengenal keterbatasan sendiri dan kebutuhan untuk berdoa dekat kaki Yesus Kristus. Perlu diakui bahwa tak ada jalan lain kecuali berkumpul bersama dekat kaki Yesus Kristus, dan memohon semangat Santa Angela.Yesus akan membantu
mereka untuk melihat orang lain dengan mata-Nya, mengatasi situasi-situasi dengan hati-Nya, dalam terang Roh Kudus. Hal ini lebih dipertegas dalam Konstitusi artikel 99 yang menyatakan bahwa, komunitas religius kita selalu ada dalam proses pertumbuhan. Dengan rendah hati kita menerima kesulitan-kesulitan dalam mengasihi sesama sebagai saudara dengan sesempurna mungkin. Namun Bunda Angela meninggalkan nasehat yang begitu indah dan sangat mengagumkan bagi para putrinya, “Terikat satu sama lain dengan cinta kasih” kita akan memberi kesaksian tentang persatuan, damai dan harapan dalam dunia yang terluka oleh begitu banyak perpecahan, pemisahan dan pertikaian.
b.Memajukan pembinaan berkelanjutan (sifat-sifat yang dibutuhkan untuk menghayati hidup dalam komunitas, relasi antar pribadi, kerja sama, membagi tanggungjawab, persiapan pensiun dan lain-lain).
Pembentukan adalah proses di mana segala sarana dikerahkan untuk menjawab panggilan Kristus dan untuk mengembangkan kurnia-kurnia Allah demi Kerajaan-Nya. Pembentukan itu terutama karya Roh Kudus. Dalam Tarekat Ursulin pembentukan selalu dianggap hal yang pokok. Pembentukan itu berkesinambungan atau berkelanjutan dan untuk sebagian besar menemukan dalamnya hidup rohani dan suburnya kerasulan mereka. Pembentukan Ursulin bertujuan untuk mengembangkan pribadi secara harmonis sesuai dengan rahmat panggilannya. Pembentukan Ursulin dijiwai semangat Santa Angela, dan dengan mempertahankan nilai-nilai asli tradisi, berusaha untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan setiap pribadi, kebutuhan Gereja dan dunia (Konstitusi, art. 106-107)
Pelayanan Gereja dan masa depan kehidupan religius tergantung dari kemurahan hati kaum muda untuk menjawab panggilan Kristus. Maka tanggungjawab para suster baik sebagai pribadi dan sebagai komunitas untuk membangkitkan dan mengembangkan panggilan pertama-tama mengandaikan doa. Kesaksian hidup bakti mereka yang dihayati dengan gembira serta keterbukaan komunitas mereka merupakan daya tarik yang paling besar.
Setiap Ursulin mempunyai tanggungjawab pribadi untuk selama hidupnya berkembang terus sebagai manusia dan sebagai religius demi kemuliaan Allah dan pelayanan sesama. Ia berusaha membaharui diri dan tetap terbuka untuk penyesuaian yang perlu (Konstitusi, art. 150). Melalui pembinaan berkelanjutan para suster mampu merefleksikan diri sehingga dapat menemukan sifat-sifat yang positif yang sungguh dibutuhkan untuk menghayati hidup dalam komunitas. Dengan demikian relasi antar pribadi menjadi lebih baik dan akan semakin mampu membangun kerja sama yang baik sehingga setiap anggota akan melaksanakannnya dengan penuh tanggungjawab. Jika semua Ursulin dan masing-masing berusaha untuk bertekun dan berkembang dalam panggilan yang diterima, maka mereka akan mewujudkan imbauan Santa Angela; “Tempuhlah hidup baru” (Konstitusi, art. 151).
Pembinaan berkelanjutan tidak terdiri dalam tempat yang pertama-tama dan dari hal-hal yang istimewa, kursus yang khusus atau kejadian-kejadian yang istimewa yang semuanya mempunyai peran yang positif dan perlu untuk memerankan setiap saat. Pembinaan berkelanjutan ini terdiri di atas semua dalam membiarkan diri sendiri ditantang dan dibentuk oleh hidup sehari-hari, melalui
meditasi harian, lewat hidup bersama dengan para suster dalam komunitas, kejadian-kejadian, kelelahan dalam kerasulan, hubungan dengan Tuhan, melalui Sabda harian, karisma Institut yang ditawarkan dalam Konstitusi. Dengan demikian kehidupan berkomunitas Ursulin melalui usaha dan pergulatan para suster akan menjadi komunitas yang formatif, yang terus menerus dibentuk agar dapat mencapai suasana komunitas yang diwarnai kasih, persatuan dan persaudaraan dalam hidup bersama (Pesan Kapitel Umum, 2007:1).
c.Mendatangkan nara sumber sesuai dengan kebutuhan untuk membantu dalam hal konseling pribadi, fasilitasi untuk komunitas.
Perlu diakui bahwa komunitas yaitu para suster memiliki kelemahan dan kerapuhan. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya luka batin yang dimiliki seseorang. Keadaan ini akan sangat mempengaruhi seseorang dalam usaha untuk hidup bersama. Dan perlu juga disadari oleh setiap suster bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tetapi penting juga para suster mulai memikirkan dan mencari jalan keluar misalnya mendatangkan nara sumber yang sesuai dengan kebutuhan untuk membantu sesama komunitas khususnya dalam hal konseling pribadi. Kehadiran tokoh ini lebih sebagai sahabat yang menjadi fasilitasi untuk membantu anggota komunitas dalam konseling pribadi sehingga mutu hidup bersama menjadi lebih baik jika setiap orang mau dan rela dengan tulus untuk mengolah luka-luka batin yang mengganjal dalam hidupnya. Pengolahan ini tidak berarti menjadi sembuh total dan hilang semuanya, namun lebih pada menyiapkan diri seseorang untuk lebih kuat dan tegar dalam menghadapi kesulitan dalam hidup bersama (Pesan Kapitel Umum, 2007:1).
d.Merefleksikan keseimbangan antara hidup komunitas dan pelayanan. Para suster perlu merefleksikan kembali untuk melihat keseimbangan memerlukan tenaga yang besar, ada kemungkinan bahwa mereka akan terlena dengan pelayanan yang dipercayakan kepada tiap-tiap suster sehingga hidup komunitas menjadi kurang berkualitas. Dalam Konstitusi artikel 77 dikatakan bahwa masing-masing mempunyai tanggungjawab untuk hadir di dalam komunitas. Perkembangan komunitas tergantung dari mutu kehadiran dari setiap anggota komunitas.
Komunitas akan menjadi hidup, kokoh dan menarik jika setiap anggota berusaha untuk terlibat dalam pembangunan komunitas itu sendiri. Maka para suster perlu selalu ingat bahwa keseimbangan hidup komunitas dan pelayanan itu penting. Jangan sampai ada yang merasa bahwa ia harus selalu berada ditempat pelayanan karena tanpa kehadirannya karya pelayanan itu tidak akan berjalan. Atau juga bila ada perselisihan atau beda pendapat akan mencari jalan lain dengan menghindar dari komunitas dengan menyibukkan dirinya dalam pelayanan. Sehingga ada kesan seolah-olah ia sangat tekun dalam pelayanan dan dikenal sebagai pekerja keras. Maka tiap anggota perlu menanamkan dalam dirinya rasa memiliki komunitas. Masing-masing di antara para suster dengan caranya sendiri menyumbang untuk pembangunan komunitas (Konstitusi, art. 77). Ursulin adalah komunitas rasuli maka perlu adanya selingan teratur antara waktu kerja atau pelayanan dan waktu untuk mengalami kebersamaan dengan sesama anggota komunitas dalam hidup komunitas itu sendiri (Pesan kapitel Umum, 2007:1).
BAB IV
TINJAUAN KRITIS TENTANG HIDUP BERSAMA DALAM KOMUNITAS
A. Undangan Gereja tentang hidup komunitas yang sejalan dengan Ursulin Gereja senantiasa mengundang kaum hidup bakti untuk hidup dalam komunitas. Hal ini menjadi ciri khas bagi kaum hidup bakti yang secara khusus memilih jalan hidup untuk mengikuti Kristus. Martasudjito mengatakan bahwa,
“Komunitas adalah sebuah kehidupan bersama. Dan kehidupan bersama adalah suatu anugerah dan karunia Allah. Ciri khas dari suatu karunia adalah diberikan, dihadiahkan. Dan hal itu sungguh nyata, dimana kita menerima segala sesuatu dalam komunitas sebagai anugerah, hadiah dan pemberian gratis dari Tuhan. Komunitas sebagai karunia berarti bahwa komunitas yang kita miliki bukanlah hasil daya upaya kita dan bukanlah hasil jerih payah kita sendiri. Dan kita tidak mempunyai suatu jasa apa pun terhadap komunitas. Setiap anggota komunitas yang ada dipandang dan diterima sebagai anugerah dan kurnia Tuhan dan bukan sebagai milik atau bawahan yang bisa kita manfaatkan (Martasudjita, 1999: 88).
Setiap orang yang dipersatukan dalam hidup komunitas memiliki keunikan yang khas, dan jika setiap orang mengakui dan menghargai kekhasan tersebut sungguh hidup komunitas akan menjadi komunitas yang penuh cinta kasih. Setiap anggota komunitas menjadi pribadi yang mandiri, bebas dan autentik dengan segala kekhasannya sesuai dengan anugerah Allah sendiri. Dan setiap pribadi itu menjadi karunia bagi kita dan itu semua bukan hasil karya kita. Karena cinta kasih menjadi dasar atau fundasi yang kuat bagi anggota komunitas yang ada. Setiap anggota hendaknya menyadari bahwa kehadirannya menjadi hadiah bagi sesama dan pribadinya merupakan kurnia dari Tuhan. Dengan demikian setiap anggota
akan saling menerima, menghargai satu sama lain sehingga komunitas ini menjadi sekolah cinta.
Gereja mengundang kaum hidup bakti khususnya Ursulin untuk menjawab kebutuhan zaman saat ini. Para Ursulin juga dengan hati yang terbuka dan bebas menanggapi undangan Gereja dengan hidup berkomunitas. Hidup berkomunitas merupakan ciri pokok panggilan Ursulin (Konstitusi, art. 1). Hal ini sangat nampak dimana para Suster Ursulin tinggal dalam berbagai komunitas yang tersebar di berbagai daerah baik itu komunitas kecil maupun besar. Setelah membahas dan mendalami undangan Gereja untuk hidup berkomunitas pada bab II dan melihat hidup komunitas Ursulin berdasarkan nilai-nilai yang dihidupi Santa Angela pada bab III maka penulis mau menguraikan hal-hal yang sejalan tentang hidup bersama dalam komunitas baik dari undangan Gereja maupun dari Ordo Santa Ursula. Persamaan ini menjadi kekuatan bagi para suster Ursulin dalam menjalani hidup bersama dalam komunitas. Hal-hal itu antara lain;