TINJAUAN PUSTAKA
3.1.4. Kesenjangan Pendapatan
Dalam Rubiarko (2013), Bigsten mengemukakan bahwa distribusi pendapatan pada sebuah perekonomian adalah hasil akhir dari seluruh proses ekonomi, yang artinya bahwa distribusi pendapatan pada prinsipnya harus memperhitungkan semua faktor yang mempengaruhinya. Adam Smith dan Marx berpendapat bahwa persoalan pokok dari distribusi pendapatan adalah bagaimana hasil penjulan produk dibagi diantaranya upah, sewa dan laba. Adelman dan Moris berpendapat bahwa kesenjangan pendapatan di daerah ditentukan oleh jenis pembangunan ekonomi yang ditunjukkan oleh ukuran negara, sumber daya alam, dan kebijakan yang dianut.
Todaro (2006:234) menyatakan distribusi pendapatan perorangan (personal
distribution of income)merupakan ukuran yang sering digunakan secara langsung menghitung
jumlah penghasilan yang diterima oleh setiap individu atau rumah tangga. Dengan melihat besarnya gaji, bunga tabungan, hasil laba, hasil sewa, hadiah maupun warisan.
Untuk memberikan gambaran tentang ketimpangan antar wilayah digunakan indeks Williamson. Sirojuzilam (2008:36-40), menyatakan pembangunan dilaksanakan secara umum menyangkut beberapa aspek utama, mulai dari pembangunan di bidang ekonomi, sosial, kelembagaan dan aspek lingkungan. Akan tetapi di dalam pencapaiannya akan selalu mengakibatkan terjadinya ketimpangan. Hal ini sekaligus menolak pendapat kaum neoklasik
yang terlalu optimis menyatakan bahwa pada awal pembangunan memang akan dijumpai ketidakseimbangan atau ketimpangan, akan tetapi pada akhirnya akan dicapai suatu keseimbangan yang terjadi antara lain :
a. Distribution Income Disparities
Berbagai macam alat pengukuran banyak dijumpai dalam mengukur tingkat distribusi pendapatan penduduk. Diantara alat tersebut yang sangat umum digunakan dipergunakan adalah Gini Indeks.
1. Gini Indeks
Todaro (2006:237-238), menyatakan bahwa koefisien Gini adalah ukuran ketimpangan agregat yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna). Pada prakteknya, koefisien Gini untuk negara-negara yang derajat ketimpangannya tinggi berkisar antara 0,50 hingga 0,70 sedangkan untuk negara-negara yang distribusi pendapatannya relatif merata, angkanya berkisar antara 0,20 hingga 0,35.
KoefisienGini
Produk Nasional Bruto Perkapita Sumber : Pembangunan Ekonomi (2003)
Gambar 2.1 Kurva Koefisien gini
Koefisien Gini tampak seperti kurva berbentuk “U Terbalik”, seiring dengan naiknya PDRB seperti yang terlihat dari gambar di atas. Koefisien Gini untuk distribusi pendapatan memiliki rumusan seperti dibawah ini :
Gi = 1 - ∑( ) ( ), 0 ≤ Gi ≤ 1 Dimana :
Qi = % kumulatif jumlah pendapatan Gi = 0, Perfect Equality
Gi = 1,Perfect Inequality
2. Kurva Lorenz
Kurva Lorenz secara umum sering dipergunakan untuk menggambarkan bentuk ketimpangan yang terjadi terhadap distribusi pendapatan masyarakat. Kurva Lorenz digambarkan pada sebuah bidang bujur sangkar dengan bantuan garis diagonalnya. Semakin dekat dengan kurva ini dengan diagonalnya, berarti ketimpangan yang terjadi semakin rendah dan sebaliknya semakin melebar kurva ini menjauhi diagonal berarti ketimpangan yang terjadi semakin tinggi. Todaro (2006:236) menyampaikan bahwa kurva Lorenz memperlihatkan hubungan kuantitatif aktual antara persentase penerima pendapatan dengan persentase pendapatan total yang benar diterima selama satu tahun.
Gambar 2.2 memperlihatkan pengukuran Rasio Gini dengan Kurva Lorenz. Indeks atau Rasio Gini adalah menjelaskan kadar kemerataan (ukuran ketimpangan) distribusi pendapatan nasional yang angkanya berkisar antara 0
hingga 1.
Koefisien Gini = Bidang A yang diarsir D Bidang BCD
Persentase pendapatan
Nasional A
B C
Persentase Jumlah Penduduk Sumber : Pembangunan Ekonomi (2003)
Semakin kecil (semakin mendekati nol) koefisiennya, pertanda semakin baik atu distribusi yang merata. Sebaliknya, jika nilai koefisiennya semakin tinggi (semakin mendekati satu) menunjukkan distribusi yang semakin timpang.
3. Kriteria Bank Dunia
Berdasarkan kriteria Bank dunia di dalam menentukan tingkat ketimpangan yang terjadi dalam distribusi pendapatan pendududuk, maka penduduk dibagi menjadi tiga kategori yaitu :
1. 20% Penduduk pendapatan tinggi.
2. 40% Penduduk pendapatan sedang
3. 40% Penduduk pendapatan rendah
Dengan kriteria ketimpangan,
1. Tinggi, 40% penduduk menerima pendapatan nasional < 12%.
2. Sedang, 40% penduduk menerima pendapatan nasional 12%-17%.
3. Rendah, 40% penduduk menerima pendapatan nasional > 17%.
b. Regional Income Disparities
Ketimpangan yang terjadi tidak hanya terhadap distribudi pendapatan masyarakat, akan tetapi juga terjadi terhadap pembangunan antar daerah di dalam suatu wilayah suatu negara. Ada beberapa alat pengukuran yang umum digunakan untuk melihat ketimpangan yang terjadi antara lain :
1. Williamson Index (��)
Jeffrey G. Williamson (1965) meneliti hubungan antara disparitas regional dengan tingkat pembangunan ekonomi, dengan menggunakan data ekonomi negara yang sudah maju dan negara yang sedang berkembang. Ditemukan bahwa selama tahap awal pembangunan, disparitas regional menjadi lebih besar dan pembangunan terkonsentrasi di daerah tertentu.
Pada tahap yang lebih matang dilihat dari pembangunan ekonomi, tampak adanya keseimbangan antar daeran dan disparitas berkurang secara signifikan.
Williamson menggunakan Williamson indeks (Indeks Williamson) untuk mengukur ketimpangan pembangunan antar wilayah. Indeks Williamson menggunakan PDRB per kapita sebagai data dasar. Alasannya jelas bahwa yang diperbandingkan adalah tingkat pembangunan antar wilayah bukan tingkat kesejahteraan antar kelompok.
Formulasi indeks Williamson secara statistik adalah sebagai berikut:
�� =
�(�� − �)� ���
� �< �� < 1
Dimana :
�� = Indeks Williamson
Yi = Pendapatan per kapita di kabupaten/kota i Y = Pendapatan per kapita Provinsi Sumatera Utara Pi = jumlah penduduk di kabupaten/kota i
P = jumlah penduduk provinsi IW = 0 (artinya merata sempurna) IW = 1 (artinya ketimpangan sempurna)
Angka koefisien Indeks Williamson adalah sebesar 0 < Iw < 1. Jika Indeks Williamson semakin kecil atau mendekati nol menunjukkan ketimpangan yang semakin kecil atau semakin merata dan sebaliknya angka yang semakin besar menunjukkan ketimpangan yang semakin melebar. Walaupun indeks ini memiliki kelemahan yaitu sensitive terhadap defenisi wilayah yang digunakan dalam perhitungan. Artinya, apabila ukuran wilayah yang digunakan berbeda maka akan berpengaruh terhadap hasil perhitungan, namun cukup lazim digunakan dalam mengukur ketimpangan pembangunan antar wilayah (Muhammad, 2012:16).
2. Poverty (kemiskinan)
Usaha pembangunan yang dilakukan tidak lain bertujuan untuk memperbaiki sekaligus untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi usaha ini terkadang
kurang dapat dilaksanakan dengan baik atas beberapa kendala, sehingga menimbulkan masalah yaitu kemiskinan.
Alat ukur yang digunakan dalam kaitannya dengan kemiskinan antara lain:
a. Head Count Indeks (HCI)
HCI = �� ��
Dimana :
Pi = Populasi penduduk miskin Pt = Populasi penduduk total
b. Poverty Gap Index (PGI)
��= 1 � � � Z−yi Z � � �=1 Dimana:
n = Jumlah penduduk total
q = Jumlah penduduk dibawah garis kemiskinan z = batas garis kemiskinan
yi = rata-rata pengeluaran penduduk dibawah garis kemiskinan
c. Defency Burden =PendudukUmurTidakProduktif
PendudukUmurProduktif
3. Tipologi Klassen
Analisis yang dipergunakan untuk melihat perkembangan pembangunan dari setiap daearah di dalam proses pembangunannya salah satunya adalah dengan Klassen Typologi. Hipotesis ini dipergunakan untuk melihat daur atau arah perkembangan daerah-daerah, dilihat dari segi pertumbuhan ekonomi daerahnya. Sebagai alat analisis, maka ada dua variabel yang menjadi ukuran dari hipotesis ini yaitu:
1. Perbedaan antara laju pertumbuhan pendapatan perkapita daerah dengan
2. Perbandingan antara pendapatan perkapita daerah dengan pendapatan perkapita nasional dan hasil perbandingan ini selalu bernilai positif.
Tipologi Klassen dilakukan dengan membandingkan pertumbuhan ekonomi daerah yang menjadi acuan atau nasional dan membandingkan pertumbuhan PDRB per kapita daerah dengan PDRB per kapita daerah yang menjadi acuan atau PDB per kapita (secara nasional).
Alat analisis Tipologi Klassen dapat digunakan dengan dua pendekatan, yaitu sektoral dan daerah. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data Pendekatan Domestik Regional Bruto (PDRB). Tipologi Klassen dengan pendekatan wilayah menghasilkan empat kuadran dengan karakteristik yang berbeda yang dikemukakan Syafrizal (dalam Muhammad, 2012:6-7).
1. Daerah yang maju dan tumbuh dengan pesat (Kuadran I). Kuadran ini merupakan kuadran
daerah dengan laju pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan daearah yang menjadi acuan atau secara nasional (g) dan memiliki pertumbuhan PDRB per kapita (gki) yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan PDRB per kapita daeara yang menjadi acuan atau secara nasional (gk). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi>g dan gki>gk.
2. Daerah maju tapi tertekan (Kuadran II). Daerah yang berada pada kuadran ini memiliki
nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g), tetapi memiliki pertumbuhan PDRB per kapita (gki) yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan PDRB per kapita daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (gk). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi<g dan gki>gk.
3. Daerah yang masih dapat berkembang dengan pesat (Kuadran III). Kuadran ini
merupakan untuk daerah yang memiliki nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (g), tetapi pertumbuhan
PDRB per kapita daerah tersebut (gki) lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB per kapita daerah yang menjadi acuan atau secara nasional (gk). Klasifikasi ini biasa dilambangkan dengan gi>g dan gki<gk.
4. Daerah relatif tertinggal (Kuadaran IV). Kuadran ini ditempati oleh daerah yang memiliki
nilai pertumbuhan PDRB (gi) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi atau secara nasional (g) dan sekaligus pertumbuhan PDRB per kapita (gki) yang lebih kecil dibandingkan pertumbuhan PDRB per kapita daerah yang menjadi acuan. Klasifikasi menurut daerah dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1
Klasifikasi Tipologi Klassen Pendekatan Wilayah
Kuadran I
Daerah maju dan tumbuh dengan pesat gi>g dan gki>gk.
Kuadran II
Daerah maju tapi tertekan gi<g dan gki>gk Kuadaran III
Daerah yang masih dapat berkembang dengan pesat
gi>g dan gki<gk
Kuadran IV Daerah relatif tertinggal
gi<g dan gki<gk
Yuni (2010:10-11) menyatakan disparitas pendapatan antar daerah merupakan hal yang wajar dalam konsep pembangunan nasional. Pada tahap awal pembangunan ekonomi nasional, perbedaan laju pertumbuhan regional yang cukup besar antar provinsi di Indonesia telah mengakibatkan disparitas dalam distribusi pendapatan antar provinsi.
Peningkatan pendapatan perkapita memang menunjukkan tingkat kemajuan perekonomian suatu daerah. Namun, meningkatnya pendapatan perkapita tidak selamanya menunjukkan bahwa distribusi pendapatan telah merata. Seringkali di negara-negara berkembang dalam perekonomiannya lebih menekankan penggunaan modal daripada penggunaan tenaga kerja sehingga keuntungan dari perekonomian tersebut hanya dinikmati sebagian masyarakat saja. Apabila ternyata pendapatan nasional tidak dinikmati secara merata oleh lapisan masyarakat, maka dapat dikatakan bahwa telah terjadi ketimpangan
dalam distribusi pendapatan. Pendapatan perkapita banyak digunakan sebagai tolak ukur untuk mengukur ketimpangan dalam suatu daerah. Pendapatan ini tidak dilihat dari tinggi rendahnya pendapatan melainkan apakah pendapatan tersebut terdistribusikan secara merata atau tidak ke seluruh masyarakat.
3.1.5. Hubungan antara kesenjangan pendapatan dengan pertumbuhan ekonomi
Untuk melihat perkembangan perekonomian suatu negara atau daerah serta untuk melihat peningkatan kesejahteraan masyarakat atas suatu pembangunan, perlu melihat besarnya jumlah perdapatan perkapita, pendapatan nasional dan pertumbuhan ekonomi.
Kuncoro (2004:129) menyatakan bahwa Pendapatan per kapita sering dijadikan patokan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara. Besarnya pendapatan per kapita sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan penduduk, sehingga apabila pertambahan pendapatan nasional lebih besar dari tingkat pertumbuhan penduduk, maka tingkat pendapatan per kapita penduduk meningkat. Sebaliknya, apabila tingkat pertambahan pendapatan nasional lebih kecil dari pertumbuhan penduduk, maka pendapatan perkapita akan turun. Usaha untuk mempertahankan tingkat pendapatan per kapita atau tingkat kesejahteraan relatif, perlu dicapai tingkat pertambahan pendapatan nasional yang sama dengan tingkat pertambahan penduduk.
Pembangunan di dalam lingkup daerah secara spasial tidak terlalu merata. Ketimpangan antar daerah seringkali menjadi permasalahan serius. Beberapa daerah mencapai pertumbuhan yang lambat dan di daerah lainnya mengalami pertumbuhan yang pesat. Pembangunan yang berorientasi pada penghapusan kemiskinan bertujuan untuk penghapusan kemiskinan, peningkatan kesempatan kerja produktif dan peningkatan gross
national product (GNP) kelompok miskin. Strategi ini dapat dilakukan dengan redistribusi
kekayaan harta prpduktif melalui kebijakan fiskal dan kredit, pemanfaatan fasilitas-fasilitas ekonomi, reorientasi produksi melalui proyek padat karya dan realokasi sumber daya
produktif yang menguntungkan golongan miskin melalui pengalihan investasi dan konsumsi serta penekanan sektor tradisional dan informal di perkotaan (Suryana, 2000:55-59).
Menurut Sugiyono (Annisa G, 2010:56) pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan mempunyai hubungan yang khas. Bentuk hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan di tingkat dunia adalah sebagai berikut :
1. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, semakin besar pendapatan per kapita dan semakin
besar perbedaan antara kaum miskin dan kaum kaya.
2. Fenomena tersebut terjadi di Asia Tenggara, negara sedang berkembang lainnya, Swedia,
Inggris, Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa Barat.
3. Penyebab ketimpangan karena pergeseran demografi, perubahan pasar buruh dan
perubahan kebijakan publik.
4. Simon Kuznets (Hipotesis kurva U terbalik) : evolusi distribusi pendapatan dari ekonomi
pedesaan (pertanian) ke ekonomi perkotaan (industri). Ketimpangan pendapatan bertambah besar akibat urbanisasi dan industrialisasi.
3.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Yeniwati (2013) dalam studinya yang berjudul Ketimpangan Ekonomi Antar Provinsi Di Sumatera Utara, hendak melihat dan mengidentifikasi ketimpangan pembangunan ekonomi dengan pendekatan PDRB perkapita atas harga konstan 2000 pada 10 provinsi yang ada di Sumatera Utara dalam tahun 2005-2010. Untuk mengetahui ketimpangan pembangunan tersebut menggunakan indeks ketimpangan Williamson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 10 provinsi yang ada di Sumatera Utara yang memiliki indeks ketimpangan yang lebih besar dari rata-rata Sumatera ada 5 provinsi. Sementara itu, hasil estimasi terdapat pengaruh signifikan terhadap ketimpangan ekonomi di wilayah Sumatera Utara.
Dalam studinya, Caska dan Riadi yang berjudul Pertumbuhan Dan Ketimpangan Pembangunan Antar Daerah Di Provinsi Riaumenyampaikan bahwa dalam pertumbuhan ekonomi di daerah Provinsi Riau termasuk daerah yang termasuk mengalami cepat maju dan cepat tumbuh. Selama periode pengamatan 2003-2005, terjadi ketimpangan yang tidak signifikan berdasarkan indeks Williamson, sedangkan menurut indeks entropi Theil, ketimpangan boleh dikatakan kecil yang berarti masih terjadi pemerataan setiap tahunnya selama periode pengamatan.
Tian dalam studinya The Effect Of Income Inequality On Economic Growth In China, menyampaikan bahwa kesenjangan pendapatan memiliki pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan ekonomi pada situasi dan kondisi perekonomian di China. Dalam penelitianya dengan menggunakan indeks Ghini pada pengamatan selama 22 tahun (1985-2007), menunjukkan peningkatan kesenjangan pendapatan yang terjadi mengakibatkan penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi China.
Dalam penelitiannya Raswita dan Utama yang berjudul Analisis Pertumbuhan Ekonomi Dan Ketimpangan Pendapatan Antar Kecamatan Di Kabupaten Gianyaringin mengetahui pola dan struktur pertumbuhan ekonomi serta ketimpangan pendapatan yang terjadi di Kabupaten Gianyar. Penelitian ini menggunakan data sekunder selanjutnya dianalisis dengan menggunakan alat analisis Tipologi Klassen, Indeks Williamson dan Regresion Curve Estimation.
a. Berdasarkan hasil analisis Tipologi Klassen, Kabupaten Gianyar diklasifikasikan
menjadi empat: daerah maju dan daerah cepat tumbuh, daerah berkembang cepat tetapi tidak maju, daerah maju tapi tertekan, dan daerah yang relatif tertinggal.
b. Berdasarkan hasil Indeks Williamson ketimpangan antar kecamatan di Kabupaten
Meskipun meningkat ketimpangannya masih relatif rendah rata-rata nilainya sebesar 0,300 (masih dibawah 0,5).
c. Berdasarkan hasil Hipotesis Kuznets yang menunjukkan hubungan antara
pertumbuhan ekonomi dengan ketimpangan yang berbentuk U terbalik berlaku di Kabupaten Gianyar.
Penelitian Rubiarko yang berjudul Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Disparitas Pendapatan di Provinsi Jawa Timur Tahun 2008-2011, menyampaikan bahwa terdapat hubungan negatif antar pertumbuhan ekonomi dengan disparitas pendapatan dan terbukti secara signifikan bahwa pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi disparitas pendapatan di Jawa Timur.
Dalam penelitianya yang berjudul Hubungan Antara tingkat Kesenjangan Pendapatan Dengan Pertumbuhan Ekonomi: Suatu Studi Lintas Negara, Waluyomenyampaikan bahwa hubungan tersebut adalah negatif dan signifikan. Artinya, setiap adanya penurunan kesenjangan pendapatan maka akan menaikkan pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya setiap ada kenaikan pertumbuhan ekonomi maka akan menurunkan kesenjangan pendapatan. Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis Kuznet yang menyatakan bahwa dalam jangka pendek hubungan antara kesenjangan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi adalah positif dan signifikan. Hubungan negatif akan terjadi dalam jangka panjang, dengan nilai koefisien 0,269, artinya setiap ada kenaikan sebesar 1% pada kesenjangan pendapatan maka pertumbuhan ekonomi akan menurun sebesar 0,269% dan berlaku sebaliknya.
Dari hasil pembahasan mengemukakan pola distribusi pendapatan yang perlu diperhatikan lebih dahulu. Model yang digunakan dengan Theil’s Inequality coefficient dengan hasil analisis mendekati nol.
Naito dan Nishida (2011) dalam The Effects Of Income Inequality On Education
memiliki pengaruh yang negatif terhadap kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi. Dimana kenaikan tingkat kesenjangan pendapatan akan menurunkan dan memperlambat tingkat pertumbuhan ekonomi.
Muhammad Ilham (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Disparitas Pendapatn Di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2010 (studi kasus: Pantai Barat, Pantai Timur, Dataran Tinggi dan Pantai Selatan)menyatakanketimpangan di Provinsi Sumatera Utara relatif sedang (IW > 0,5) sedangkan ketimpangan antar wilayah menunjukkan ketimpangan tertinggi di wilayah Pantai Timur sebesar 0,341675, Pantai Barat sebesar 0,164721, Dataran Tinggi sebesar 0,087357 dan ketimpangan terendah di Pantai Selatan sebesar 0,046183.