• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESI MPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen lapkir pendampingan cabai 2016 (Halaman 40-56)

5.1. Kesimpulan

1. Melalui kegiatan pendampingan dan pengawalan serta percotohan usahatani cabai pada pengembangan kawasan agribisnis cabai Tahun 2016, telah memberikan dampak terhadap peningkatan produksi cabe sebesar 39,75% dibandingkan kegiatan kegiatan pertanamaman musim sebelumnya.

2. Hasil kajian perobahan prilaku petani dalam penguasaan pengendalian HPT tanaman cabai setelah dilakukan kegiatan pendampingan, pengawalan dan penyebaran bahan informasi, terlihat adanya peningkatan pengetahuqan dan

keterampilan petani sebesar 41,98% dibandingkan tingkat pengetahuan sebelum pendampinngan.

3. Hasil pengamatan dan kajian terhadap mitra kerja yang berkunjung baik itu poktan, petani, petugas, maupun stakeholder menyimpulkan, adanya respon positif sebesar 76,67% terhadap pengembangan kawasan cabai dan komponen teknologi didiseminasikan.

5.2. Saran

1. Perlu dukungan Pemerintah Daerah dalam berbagai aspek untuk mengoptimalkan pelaksanaan pendampingan pengembangan kawasan agribisnis cabai sercara lebih terpadu, melalui pengembangan jalinan komunikasi, pemberdayaan petani dan kelompok maupun mitra usaha dalam menumbuhkan dan meningkatkan perananan serta kemampuan pelaku usaha.

2. Percepatan adopsi teknologi inovasi pengembangan kawasan agribisnis cabai secara padupadan terealisasi dengan baik, maka pelaku kegiatan harus dapat melakukan pendampingan dan mendorong petani dalam menerapkan dan memanfaatkan akses proses percepatan inovasi secara lebih intensif.

KI NERJA HASI L PENGKAJI AN

Pendampingan kegiatan diseminasi pengembangan kawasan hortikultura agribisnis cabai dilakukan pada 5 (lima) wilayah sentra kawasan pengembangan agribisnis cabai, meliputi Kabupaten; Rejang Lebong, Kepahiang, Bengkulu Utara, Kaur, dan Mukomuko telah mendorong :

1. Peningkatan sinergi program daerah dan pusat dalam pengembangan kawasan agribisnis cabai.

2. Peningkatan pengetahuan dan minat petani cabai serta kelompoktani lainnya untuk mengolah limbah pertanian dan kotoran ternak sapi menjadi kompos melalui inovasi fermentasi, karena segera dapat digunakan 3-4 minggu setelah proses pengolahan.

3. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam pengembangan inovasi teknologi komoditas cabai, terutama dalam hal peningkatan produksi dan pemanfaatan pupuk organik/ kompos dalam usahatani cabai merah.

4. Kompetensi penyuluh dan petugas lapang terhadap penerapan dan penyebaran inovasi teknologi produksi cabe di wilayah kerja terkait pendampingan pengembangan kawasan cabai.

DAFTAR PUSTAKA

Adiyoga, W. 2007. Overview of production, consumption and distribution aspects of hot pepper in I ndonesia, Annual report

Azwar, S. 2002. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Penerbit CV. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Balitbangtan. 2011. Paduan Umum Spectrum Diseminasi Multi Channel (SDMC). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Beckerman, J.L 2004. Disease Management in High Tunnels, Minnesota High Tunnel Production Manual For Commercial Drowers, viewed 31 January 2012. www.extension.umn.edu/ distribution/ horticulture/ components/ 8-9. Demitria D, Harianto, Sjafri M, dan Nunung. 2006. Peran Pembangunan Sumberdaya Manusia dalam Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga Petani di Daerah I stimewa Yogyakarta. Forum Pascasarjana. I PB. Bogor. Vol.33. No.3. Juli 2010. hal. 155-164

Dirjen Hortikultura. 2006. Pola Produksi Cabai Merah Deptan Belum Dilaksanakan Daerah. diunduh 30 Oktober 2009, http: / / rafflesia.wwf.or.id/ admin/ attachment/ clips/ 2006-08-25-287-0014-001-03-0899

Dirjen Hortikultura. 2013. Program dan Kebijakan Pengembangan Hortikultura TA. 2013. Makalah disampaikan pada acara Workshop Evaluasi Outcome. Analisis Potensi I mpact dan Baseline Study. Tanggal 16-19 April 2013 oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura di Solo. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Kementerian Pertanian. Jakarta.

Fagi,A,M., Subandrio, Rusastra, Wayan. 2009. Sistem I ntegrasai Ternak Tanaman: Sapi-Sawit-Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Litbang Pertanian. Bogor

Fagi,A,M., Subandrio, Rusastra, Wayan. 2009. Sistem I ntegrasai Ternak Tanaman: Sapi-Sawit-Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Litbang Pertanian. Bogor

Fahrurrozi, N., Setyowati dan Sarjono. 2006. Efektivitas Penggunaan Ulang Mulsa Plastik Hitam Perak Dengan Pemberian Pupuk Nitrogen Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Cabai. Bionatura. Jakarta. no. 8 hlm. 17-23. Fawzia, S. 2002. Revitalisasi Fungsi I nmformasi dan Komunikasi Serta Diseminasi

Luaran BPTP. Makalah di Sampaikan Pada Ekspose dan Seminar Teknologi Pertanian Speszifik Lokasi., 14 – 15 Agustus 2002 di Jakarata. Pusat Penelitiuan dan pengembanag Sosial Ekonomi. BogorGunawan dan A, Sulastiyah. 2010. Pengembangan Usaha Peternakan Sapi Melalui Pola I ntegrasi Tanaman Ternak Dan Pembangunan Kawasan Peternakan. Jurnal I lmu I lmu Pertanian , Volume Enam, Nomor 2, Desember 2010. Sekolah Tinggr Penyuluhan Pertanian Magelang, Jurusan Penyuluhan Perlanian Yogyakarta. Yokyakarta., 157-168.

Gunaeni, N dan Wulandari, AW. 2010. Cara Pengendalian Non Kimiawi Terhadap Serangga Vektor Kutu Daun dan I ntensitas Serangan Penyakit Virus Mosaik Pada Tanaman Cabe Merah; J. Hort., vol. 20, no. 4, hlm. 368-76. Hendayana, R. 2009. Analisis Faktor-faktor Sosial Ekonomi yang Mempengaruhi

Percepatan Adopsi Teknologi Usaha Ternak: Kasus pada Usaha Ternak Sapi Potong di Boyolali, Jawa Tengah (Laporan Hasil Penelitian). Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Petanian. Bogor.

I qbal, Q., Amjad, M., Asi, MR., Ali, MA dan Ahmad, R. 2009. The vegetative and reproductive evaluation of hot pepper under different plastic mulches in poly/ plastic tunnel. Pakistan J. Agric. Sci., vol. 46, no. 2, pp. 113-8

Kementerian Pertanian 2011, Agricultural statistics 2011, Center for Agricultural Data and I nformation System Ministry of Agriculture Republic of I ndonesia, Jakarta

Kementerian Pertanian. 2012. Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian. Permentan no.50 tahun 2012. Jakarta.

Kementerian Pertanian. 2014. Rancangan Model Pengembangan Kawasan Pertanian Tahun 2015-2019. Kementerian Pertanaian RI . Jakarta.

Moekasan, T. K., L. Prabaningrum, dan M. L.Ratnawati. 2005. Penerapan PHT pada SistemTanam Tumpanggilir Bawang Merah danCabai. Monografi No. 19. Balai PenelitianTanaman Sayuran Lembang. 44 hlm

Mujiyati and Supriyadi. 2009. ‘Effect of manure and NPK to increase soil bacterial population of Azotobacter and Azospirillus in chili (Capsicum annuum L.) cultivation’, BioScience, vol.1, no.2, pp. 59-64

Reijntjes, C., Haverkort, B dan Water-Bayer, A. 1999. Pertanian Masa Depan, Pengantar Untuk Pertanian Berkelanjutan Dengan I nput Luar Rendah, I LEI A, Penerbit Kanisus. Yogyakarta

Reyes, I ., Alvarez, L., El-Ayoubi dan Valery, A. 2008. Selection and Evaluation Of Growth Promoting Rhizobacteria on Pepper and Maize. Bioagro, vol. 20, no. 1, pp.37-48.

Rosliani, R., Hidayat, A dan Asandhi, AA. 2004. Respons Pertumbuhan Cabai dan Selada Terhadap Pemberian Pakan Kuda dan Pupuk Hayati’. J.Hort., vol. 14, no. 4, hlm. 258-68. 24.

Setiawati, W., Murtiningsih, R and Hasyim, A. 2011. Laboratory and field evaluation of essensial oil from Cymbopogon nardus as oviposition detterent and ovicidal activities. I ndonesian J. Agric. Sci., vol 12, no. 1, hlm. 9-16

Soetiarso, T.A dan Setiawati, W. 2010. Kajian Teknis dan Ekonomis Sistem Tanam Dua Varietas Cabai Merah Di Dataran Tinggi. Pusatlitbang Hortikultura. Badan Litbang Pertanian. Jakarta. J. Hort., vol. 20, no. 3 Tahun 2010, hlm. 284-98.

Subagiyo, dkk. 2005. Kajian Faktor-Faktor Sosial yang Berpengaruh Terhadap Adopsi I novasi Usaha Perikanan Laut di Desa Pantai Selatan Kabupaten Bantul, Daerah I stimewa Yogyakarta. Jurnal Pengkajian dan

Pengembangan Teknologi Pertanian. Vol 8 No 2. Pusat Penelitian dan Penembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian. Bogor. Sumarni, N dan A. Muharam. 2015. Panduan Tekhnis Budidaya Tanaman Cabai

Merah. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. Badan Litbang Pertanian. Jakarta.

Tjitropranoto, P. 2000. Strategi Diseminasi Teknologi dan I nformasi Pertanian. Balai Pusat Pengkajian Teknologi Pertanian. Bogor.

Yulimasni, A. Tanjung, dan K. Zen. 2003. Penggunaan mulsa pada usahatani cabaimerah serta pengaruhnya terhadap seranganhama dan penyakit. Jurnal PengelolaanHama dan Penyakit Tanaman (2): 64-67

ANALI SI S RI SI KO

Analisis risiko dalam kajian diseminasi sangat membantu dalam pencapaian dan pelaksanaan kegiatan, untuk dapat mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan pendampingan pengembangan kawasan agribisnis cabai di Bengkulu, kemudian apa penyebab dan dampaknya telah disusun daftar dan analisis penanganan risiko berdasarkan penyebab dan dampaknya baik secara antisipatif maupun responsif.

Tabel 3. Daftar Risiko

No I dentifikasi Resiko Penyebab Dampak

1. Sinergi program tidak berjalan

Koordinasi tidak berjalan dengan baik

Sasaran pendampingan tidak sesuai harapan

2. Petani kurang kooperatif

Tidak memahami kegiatan

Kebutuhan data dan sasaran inovasi tidak sesuai harapan 3 Teknologi tidak sepenuhnya diadopsi petani Penyebaran bahan informasi inovasi terlambat Peningkatan produktivitas tidak optimal

Tabel 4. Daftar Penangan Risiko

No I dentifikasi Resiko Penyebab Penanganan risiko

1. Sinergi program tidak berjalan

Koordinasi tidak berjalan dengan baik

Menyamakan

persepsikan rencana kegiatan dan program daerah 2. Petani kurang kooperatif Tidak memahami kegiatan Meningkatkan

komunikasi antar petani dan pelaksana 3. Teknologi tidak sepenuhnya diadopsi petani Penyebaran bahan informasi inovasi terlambat Penyiapan bahan informasi direncanakan sebelum kegiatan lapangan

JADWAL KERJA

Tabel 5. Jadwal Kerja Kegiatan

No Kegiatan B u l a n 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1. Persiapan: Dekstudy, pengumpulan data Penyempurnaan proposal, seminar Koordinasi internal Koordinasi ekternal, pemantapan lokasi 2. Pelaksanaan: Hunting dan pemantapan lokasi I dentifikasi potensi sumber daya I dentifikasi kebutuhan teknologi Sosialisasi kegiatan Penetapan kooperator Penyiapan bahan/ materi diseminasi Pendampingan inovasi Percontohan inovasi Penyebaran inovasi Bimbingan tekhnis Pembinaan lembaga Pengamatan

3. Analisis data dan hasil 4. Seminar - Pelaporan

PEMBI AYAAN

Tabel 6. Rencana Anggaran Belanja (RAB)

No URAI AN Volume Harga Satuan Jumlah (Rp) 1. Belanja Bahan (521211) 8.500,0

• Penggandaan dan penjilidan 1 paket 1.500 1.500,0 • Konsumsi dalam rangka rapat koordinasi,

sosialisasi, pertemuan

140 OK (5 kab)

50 7.000,0

2. Honor Output Kegiatan (521213) 3.000,0

• Honor petugas lapang 15 OB 200 3.000,0

3. Belanja Barang non operasional lain(521219) 7.000,0

• UHL petani 140 OH 50 7.000,0

4. Belanja Barang untuk Persediaan Konsumsi (521811)

18.500,0 • Bahan Pendampingan & pendukung

lainnya

1 paket 14.200 14.200,0

• ATK dan komputer Suply 1 paket 2.800 2.800,0

• Bahan Diseminasi/ Penyuluhan 1 paket 1.500 5.600,0

5. Belanja Jasa Profesi (522151) 3.000,0

• Narasumber, fasilitator, evaluator 6 OJ 500 3.000,0

6. Belanja Perjalanan Biasa (524111) 50.000,0

• Perjalanan dalam rangka pelaksanaan kegiatan (berkisar antara 365.000-5.000.000)

10 OP 5.000 50.000,0

7. Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Luar Kota (524119)

5.000,0 • Uang jalan dan transportperjalanan ke

luar provinsi/ pusat dalam rangka pelaksanaan kegiatan

1 OH 2.900 2.900,0

• Penginapan perjalanan ke luar

provinsi/ pusat dalam rangka pelaksanaan kegiatan

3 OP 700 2.100,0

Tabel 7. Realisasi Anggaran No URAI AN Realisasi Anggaran (Rp.) Persentase Keuangan (% ) Persentase Fisik (% ) 1. Belanja Bahan (521211) 8.500,0 8,95

• Penggandaan dan penjilidan 1.500,0 • Konsumsi dalam rangka rapat koordinasi,

sosialisasi, pertemuan

7.000,0

2. Honor Output Kegiatan (521213) 3.000,0 3,16

• Honor petugas lapang 3.000,0

3. Belanja Barang non operasional lain(521219) 7.000,0 7,37

• UHL petani 7.000,0

4. Belanja Barang untuk Persediaan Konsumsi (521811)

18.446,0 19,42 • Bahan Pendampingan & pendukung

lainnya

14.146,0 • ATK dan komputer Suply 2.800,0 • Bahan Diseminasi/ Penyuluhan 1.500,0

5. Belanja Jasa Profesi (522151) 3.000,0 3,16 • Narasumber, fasilitator, evaluator 3.000,0

6. Belanja Perjalanan Biasa (524111) 49.909,0 52,54 • Perjalanan dalam rangka pelaksanaan

kegiatan (berkisar antara 365.000-5.000.000)

49.909,0

7. Belanja Perjalanan Dinas Paket Meeting Luar Kota (524119)

4.133,0 4,35 • Uang jalan dan transportperjalanan ke

luar provinsi/ pusat dalam rangka pelaksanaan kegiatan

2.900,0 • Penginapan perjalanan ke luar

provinsi/ pusat dalam rangka pelaksanaan kegiatan

1.233,0

PERSONALI A

Tabel 8. Personalia Kegiatan

No. Nama/ NI P Jabatan Fungsional/ Bidang Keahlian Jabatan dalam Kegiatan Uraian Tugas Alokasi waktu (jam/ minggu) 1. I r Ruswendi, MP 19610320 198903 1 003 PP Madya/ Sosek peternakan Penanggung jawab

- Bertanggung jawab atas kegiatan dieminasi

- Mebuat RODHP, Juknis dan renc. pertemuan tim

- Mengkoordinir pelaksanaan diseminasi kegiatan pendampingan kawasan komoditas cabai merah

- Melakukan koordinasi antar tim dan pihak terkait

- Melakukan kegiatan sosialisasi dan pertemuan

- Mengamati

pelaksanaan/ permasalahan kegiatan

- Koordinasi dan konsultasi kebijakan di luar Prov.

- Pengolahan dan analisis data/ pelaporan hasil diseminasi pengebangan kawasan komoditas cabai 12 2. I r Eddy Makruf 19561005 198803 1 001 PP Madya/ Agronomi

anggota - Koordinasi dan identifikasi potensi pengemb cabai

- Merencanakan desain teknis diseminasi inovasi cabai

- Melakukan sosialisasi, pelaksanaan kegiatan, pertemuan dan rencana tindak hasil diseminasi

- Mengamati

pelaksanaan/ permasalahan kegiatan

- Melakukan analisis dan pengolahan data 6 3. Dr. Shannora Yuliasari, STP.,M.Si 19740731 200312 2 001 Peneliti Muda/ Pascapanen

anggota - Penyusunan metoda analisis kegiatan

- Koordinasi dan membantu perencanaan kegiatan, panen dan pascapanen serta pengolahan hasil

- Mengamati

pelaksanaan/ permasalahan kegiatan

- Melakukan analisis dampak dan rencana tindak

- Membantu menyusun input data primer/ skunder

- Melakukan analisis dan

pengolahan data Lanjutan Tabel 8. No. Nama/ NI P Jabatan Fungsional/ Bidang Keahlian Jabatan dalam Kegiatan Uraian Tugas Alokasi waktu (jam/ minggu) 4. Hertina Artanti, SP 19900603 201403 2 001 Peneliti / Pennyakit Tanaman

anggota - Melakukan pengumpulan dan analisis serangan HPT

- Membantu kegiatan sosialisasi dan pertemuan

- Membantu pengolahan data skunder/ primer

- Membantu entri data dan laporan hasil kegiatan

5 5. Zainani S,Sos 19561005 198803 1 001 Tekhnisi/ Administrasi

Anggota - Membantu persiapan administrasi pelaksanaan

- Membantu kegiatan sosialisasi dan pertemuan

- Membantu pengumpulan data lapangan

- Membantu entri data dan laporan hasil kegiatan

3 6.. Juarsih, A.Md 19810226 200912 2 003 Tekhnisi/ Administrasi

Anggota - Membantu persiapan administrasi pelaksanaan

- Membantu kegiatan sosialisasi dan pertemuan

- Membantu pengumpulan data lapangan

- Membantu entri data dan laporan hasil kegiatan

3 7. Yanhar 19630119 198903 1 001 Tekhnisi/ Administrasi

Anggota - Membantu persiapan dan pelaksanaan kegiatan

- Membantu pengamatan lapangan

- Membantu pengumpulan data hasil kegiatan

Lampiran 1. : Foto Dokumentasi Kegiatan pendampingan pengembangan kawasan agribisnis hortikultura komoditas cabai di Provinsi Bengkulu Tahun 2016

Gambar 1. Melakukan koordinasi dan hunting lokasi dengan pihak terkait dalam rangka menggali informasi perkembangan komoditas cabe serta program daerah untuk sinergi pelaksanaan kegiatan pendampingan pengembangan kawasan komoditas cabe Tahub 2016 di Kabupaten Bengkulu Utara dan Rejang Lebong

Gambar 2. Gambaran usahatani cabai petani pada saat identifikasi penggalian teknologi eksisting pengembangan kawasan cabai di Kecamatan Bermani Ulu Raya, Rejang Lebong dan Kecamatan Kaur Selatan Kabupaten Kaur

Gambar 3. Kondisi tanaman cabai terserang penyakit virus kuning dan busuk buah termasuk permasalahan utama pada pertanaman cabai masyarakat di

daerah sentra produksi cabai Provinsi Bengkulu yang mengakibatkan penurunan produksi dan gagal panen cabai.

Gambar 4. Melakukan obsevasi lapang dan komunikasi langsung dengan petani dan pertugas lapang, dalam rangka menggali informasi perkembangan usahatani cabai dan kendala yang dihadapi petani dalam berusahatiani

Gambar 5. Melakukan pendampingan kegiatan pelatihan pengolahan dan praktek langsung pembuatan kompos pada petani dan kelompoktani cabai di Kecamatan Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara

Gambar 6. Melakukan pendampingan inovasi penyiapan media tanam dan pembibitan cabai, serta persiapan lahan percontohan teknologi produksi komoditas cabai merah di Desa Tambak Rejo Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara

Gambar 7. Melakukan pendampingan inovasi pemupukan dasar dan pemasangan mulsa persiapan lahan tanam percontohan teknologi budidaya komoditas cabai merah di Desa Tambak Rejo Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara

Gambar 8. Melakukan pendampingan inovasi pengendalian penyakit dengan menanam border (tanam perangkap) berupa tanaman jagung disekeliling lahan tanaman percontohan teknologi budidaya komoditas cabai merah di Desa Tambak Rejo Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara

Gambar 9. Melakukan pendampingan inovasi pemupukan dan penyiangan pada lahan percontohan teknologi budidaya komoditas cabai merah di Desa Tambak Rejo Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara

Gambar 10. Menjadi Narasumber inovasi pengendalian HPT cabai di Kabupaten Kepahiang dan Budidaya cabai di Kabupaten Rejang Lebong, dalam rangka pendampingan inovasi pengembangan kawasan agribisnis cabai Tahun 2016

Gambar 11. Melakukan pendampingan dan kunjungan langsung dilahan petani kegiatan pengembangan kawasan cabai Tahun 2016 di Kabupaten Mukomuko dan Kabupaten Kaur

Gambar 12. Melakukan pendampingan melalui pertemuan, sosialisasi, bimbingan teknis dan pelatihan inovasi biopestisida dan pupuk organik cair (POC) langsung oleh pengguna, dalam rangka peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani dalam pengendalian HPT Cabai.

Gambar 13. Melakukan pendampingan dan pengamatan hasil panen cabai merah kegiatan percontohan inovasi pengembangan kawasan agribisnis cabai merah di Desa Tambak Rejo Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara.

Gambar 14. Sinergi program pendampingan dan respon positif stakeholder terhadap pelaksanaan kegiatan percontohan inovasi pengembangan kawasan agribisnis cabai merah di Desa Tambak Rejo Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara

Gambar 15. Kondisi serangan penyakit virus bkuning, layu fusarium dan busuk buah mencapai ambang batas, mengakibatkan tanaman cabai percontohan di Desa Tambak Rejo Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara tidak dapat dipanen lagi.

Dalam dokumen lapkir pendampingan cabai 2016 (Halaman 40-56)

Dokumen terkait