BAB III KAJIAN PUSTAKA
KESIMPULAN DAN REKOMENDAS
A. KESIMPULAN
Pengukuran kondisi kesejahteraan sosial (well-being) keluarga di Indonesia berdasarkan dimensi kualitas hidup keluarga, kohesi sosial, keberlanjutan, dan perubahan sosial keluarga secara nasional dan provinsi terpilih. Dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu kesejahteraan secara subyektif dan kesejahteraan secara obyektif. Dari dua pendekatan tersebut, diperoleh kuadran yang menggambarkan kondisi kesejahteraan sebagai berikut (1) Kondisi sejahtera, yaitu apabila secara obyektif maupun subyektif keduanya dalam kondisi baik, (2) Kondisi disonansi, yaitu apabila secara obyektif kondisinya baik, tetapi secara subyektif merasa dirinya buruk (3) kondisi adaptasi, yaitu apabila secara obyektif kondisinya buruk, tetapi secara subyektif merasa dirinya sudah terpenuhi (4) Kondisi deprivasi, yaitu apabila secara obyektif kondisinya buruk, tetapi secara subyektif merasa dirinya buruk atau belum terpenuhi.
1. Dimensi kualitas hidup keluarga di Indonesia, yang terdiri dari pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan papan.
a. Kebutuhan Pangan, meliputi pemenuhan kebutuhan pangan yaitu makanan pokok, lauk pauk hewani, dan lauk pauk nabati.
Berdasarkan hasil analisis gap, diperoleh gambaran sebagai berikut :
• Keluarga dengan kategori sejahtera untuk pemenuhan kebutuhan pokok sebesar 56.1 persen, kebutuhan lauk pauk hewani sebesar 54.6 persen, kebutuhan lauk pauk nabati sebesar 54.3 persen. Artinya secara obyektif maupun subyektif menyatakan sudah terpenuhi kebutuhan makanan pokok.
• Keluarga dengan kategori disonansi untuk pemenuhan kebutuhan pokok sebesar 43.61 persen, kebutuhan lauk pauk hewani sebesar 38.1 persen, kebutuhan lauk pauk nabati sebesar 39.5 persen. Artinya secara obyektif kondisi pemenuhan kebutuhan pokok, lauk pauk hewani dan nabati dalam kondisi baik, tetapi secara subyektif menganggap bahwa pemenuhan kebutuhannya belum terpenuhi atau dinilai buruk.
• Keluarga dengan kategori adaptasi untuk pemenuhan kebutuhan pokok sebesar 0,1 persen, kebutuhan lauk pauk hewani sebesar
1,7 persen, kebutuhan lauk pauk nabati sebesar 1,9 persen. Artinya secara obyektif kebutuhan pokok, lauk pauk hewani dan nabati belum terpenuhi, tetapi secara subyektif menyatakan sudah terpenuhi kebutuhannya.
• Keluarga dengan kategori deprivasi, untuk pemenuhan kebutuhan pokok sebesar 0,2 persen, kebutuhan lauk pauk hewani sebesar 5,7 persen dan kebutuhan lauk pauk nabati sebesar 4,9 persen. Artinya secara obyektif kebutuhan pangan mereka dinilai dalam kategori buruk atau tidak terpenuhi, sejalan dengan pandangan mereka terhadap kebutuhan makanan pokok mereka tidak terpenuhi atau kondisi buruk.
Upaya yang dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan pangan, dengan cara mandiri seperti menjual barang, menggandai dan diatur secukupnya, dengan persentase sebesar 81.41 persen. Kemudian, upaya yang dilakukan dengan bantuan dari luar seperti meminjam atau berhutang dan minta bantuan dengan persentase sebesar 88,98 persen. b. Kebutuhan Sandang atau pakaian:
• Secara obyektif 95.80 persen keluarga di Indonesia mampu menyediakan pakaian berbeda bagi semua anggota keluarganya dan sebesar 81,88 persen mampu membeli pakaian baru untuk anggotanya dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Berdasarkan jumlah pakaian yang dimiliki anggota keluarga, menunjukkan bahwa masih terdapat keluarga yang anggotanya hanya memiliki pakaian antara 4 sampai 7 stel sebesar 42.1 persen keluarga dan sebesar 39.8 persen keluarga memiliki lebih dari 8 stel pakaian.
• Analisis gap antara persepsi subyektif dengan kondisi obyektif terhadap pemenuhan kebutuhan pakaian menunjukkan bahwa pada keluarga yang sangat tidak terpenuhi kebutuhan pakaiannya menyatakan bahwa mereka memiliki pakaian sebesar 76,1 persen, dengan rincian yang memiliki pakaian kurang dari 3 stel sebesar 59,2 persen, dan memiliki 4–7 stel pakaian sebesar 29,2 persen, dan 11,7 persen saja yang menyatakan memiliki pakaian lebih dari 8 stel pakaian. Untuk membeli pakaian baru dinyatakan oleh 29,9 persen keluarga.
Upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakaian, sebagian besar keluarga atau 77,01 persen menyatakan dengan mengatur secukupnya dan meminjam atau berhutang untuk memenuhi kebutuhan pakaian sebesar 39.19 persen.
c. Kebutuhan Tempat Tinggal;
Analisis gap antara kondisi obyektif kondisi tempat tinggal berdasarkan jenis lantai dan dinding rumah dihubungkan dengan persepsi suyektif terhadap pemenuhan kebutuhan tempat tinggal diperoleh hasil sbb:
• Keluarga dengan kategori sejahtera, kondisi lantai sebesar 61.4 persen dan kondisi atap rumahnya 51,7 persen menyatakan baik bahwa secara obyektif maupun subyektif kondisi lantai dan atap rumah mereka baik.
• Keluarga dengan kategori disonansi, kondisi lantai sebesar 28.7 persen, dan kondisi atap 16,5 persen menyatakan bahwa kondisi lantai rumah secara obyektif sudah baik, tetapi secara subyektif dinyatakan masih belum terpenuhi atau kondisinya buruk.
• Kategori adaptasi, kondisi lantai sebesar 53 persen dan atap rumahnya sebesar 15 persen, menyatakan bahwa kondisi lantai dan atapnya buruk tetapi secara subyektif sudah baik atau terpenuhi.
• Kategori deprivasi, kondisi lantai rumah dinyatakan oleh 4,6 persen dan kondisi atap dinyatakan oleh 16,9 persen keluarga yang memiliki lantai rumah secara obyektif maupun subyektif kondisinya buruk. Sebagian besar keluarga atau 72,56 persen menempati rumah milik sendiri, dan memiliki MCK sendiri sebesar 75,66 persen, sementara yang tidak punya fasilitas MCK sebesar 7,66 persen. Jenis sumber air bersih sebesar 31,37 persen dengan memanfaatkan sumur bor pompa dan sumber mata air terlindung sebesar 24.66 persen. Untuk penerangan, sebesar 98.57 persen keluarga sudah menggunakan penerangan listrik, dan sebesar 95.60 persen keluarga memperoleh sumber listrik dari PLN. Bahan bakar/energi utama yang digunakan keluarga untuk memasak sebesar 66,78 persen menggunakan gas/elpiji dan listrik.
Upaya yang dilakukan untuk memenuhi tempat tinggal, sebagian besar keluarga berupaya dengan cara mengatur secukupnya yang dinyakatn oleh 73,7 persen keluarga dan meminjam atau berhutang sebesar 47,7 persen.
2. Dimensi Kohesi Sosial; meliputi pendidikan dan perlindungan sosial. a. Pendidikan: Secara nasional persentase keluarga, dengan kategori
mampu memenuhi kebutuhan biaya pendidikan sebesar 65 persen dan tidak mampu memenuhi kebutuhan biaya pendidikan, sebesar 34.30 persen. Berbagai alasan dikemukakan oleh keluarga, dalam pemenuhan hak pendidikan bagi anak; alasan paling besar yaitu tidak ada biaya dikemukakan oleh keluarga yang memiliki anggota keluarga dalam rentang usia 3-6 tahun tidak masuk pendidikan
informal sebesar 48,51 persen, anak usia waib belajar sebesar 54.12 persen dan usia 16-21 tahun sebesar 47,77 persen.
Selain itu alasan disabilitas pada anak usia rentang 3-6 tahun memasuki pendidikan informal, dikemukakan oleh 1,27 persen keluarga, anak usia wajib belajar sebesar 6,96 persen dan alasan tidak bersekolah pada anggota keluarga usia 16-21 tahun sebesar 2,60 persen. Selain itu terdapat anggota keluarga penyandang disabilitas berusia diatas 21 tahun yang tidak bisa baca tulis yakni sebesar ,69 persen. Selain penyandang disabilitas juga kelompok usia wajib belajar tetapi mereka bekerja dan membantu orang tua, masng masing sebesar 10,85 persen dan 7,47 persen selayaknya perlu menjadi perhatian untuk tetap mendapatkan hak mereka terhadap pendidikan.
b. Perlindungan Sosial:
Secara nasional terdapat 52,04 persen keluarga yang menjadi peserta Beras Sejahtera (Rasta) dan 22,55 persen yang menjadi peserta Bantuan Bantuan Langsung Sosial Masyarakat (BLSM). Untuk kepemilikan kartu, sebesar 21,68 persen memiliki kartu BPJS Kesehatan Mandiri/Pegawai dan KIS-PBI sebesar 13,83 persen. Akses terhadap berbagai program perlindungan sosial, seperti
program Usaha Ekonomi produktif (UEP), PKH, Askesos, Rasta, BLSM, BSPS, Rutilahu dan PPFM, menjadi bagian penting dalam perlindungan sosial. Alasan keluarga tidak dapat mengakses pada program perlindungan sosial, sebagian besar karena ketidak tahuan mereka terhadap program dimaksud. Keluarga tidak ikut pada program UEP karena tidak tahu sebesar 66,75 persen, tidak ikut PKH karena tidak tahu sebesar 57,54 persen, tidak ikut ASKESOS, karena tidak tahu dinyatakan oleh 63,20 persen keluarga, tidak ikut Rasta karena tidak tahu dinyatakan oleh 37,94 persen, tidak iktu BLSM, karena tidak tahu sebesar 43,73 persen, BSPS 65,51 persen, tidak tahu program Rutilahu sebesar 63,82 persen, tidak tahu program KUBE UEP, sebesar 66,75 persen. Selain itu keluarga tidak tahu tentang panti sosial sebesar 73,48 persen, tidak tahu tentang Rehabilitasi diluar panti sebesar 74,09 persen, tidak tahu program keserasian sosial sebesar 75,95 persen. tidak ikut program Kampung Siaga Bencana, sebesar 76,21 persen. Ketidak tahuan tersebut sebagai bagian dari ketidak ikut sertaan keluarga terhadap program-program dimaksud, selain karena keluarga tersebut masuk kedalam golongan keluarga mampu, baru pindah dan stasusnya sebagai PNS.
Sistem sumber yang paling dikenal keluarga adalah Karang Taruna sebesar 42,3 persen, Panti Sosial sebesar 28,5 persen dan
tenaga Penyuluh Sosial 13,4 persen serta dunia usaha sebesar 11,1 persen. Adapun pemanfaatan sistem sumber tersebut kurang lebih seperempat atau antara 10 sampai 25 persen dari pengetahuan yang mereka miliki.
3. Keberlanjutan; meliputi aset kepemilikan, dan lingkungan tempat tinggal dan modal sosial.
a. Aset Kepemilikan, menunjukkan bahwa lebh dari 60 persen keluarga Indonesia memiliki Hand Phone (Hp) dan Televisi dan sepeda motor. Untuk wilayah tertentu, dengan kondisi geograisnya, maka memiliki perahu bermotor, sebagai sarana transportasi masyarakat antar desa, kecamatan, kota dan kabupaten serta antar pulau. Kepemilikan aset lainnya yang dimiliki oleh sebagian keluarga Indonesia adalah mobil, terutama di wilayah wisata.
b. Lingkungan tempat tinggal, terutama berkaitan dengan rasa aman yang akan mempengaruhi terhadap keberlanjutan kesejahteraan . Kondisi alam yang memberikan rasa tidak aman terhadap lingkungan tempat tinggal, dihubungkan dengan air seperti banjir, limbah, udara seperti kabut asap dan dari tanah seperti longsor. Kondisi lingkungan alam terkait dengan air sebenarnya memiliki nilai paling rendah untuk rasa aman keluarga di Indonesia. Artinya kondis alam terkait air, berupa banjir, dapat merupakan ancaman dan menimbulkan rasa tidak aman bagi keluarga di Indonesia.
Sementara untuk kondisi udara, menunjukkan bahwa 90 persen keluarga di provinsi Riau merasakan tidak aman dengan kondisi asap, demikian juga 66,77 persen keluarga di provinsi Kalimantan Barat menyatakan tidak aman dengan kondisi udara. Upaya yang dilakukan pada masing masing provinsi hanya bisa pasrah akan kondisi tersebut, sebagaimana dikemukakan oleh 75,76 dan 83,40 persen keluarga.
Perasaan aman juga berkaitan dengan kondisi konlik, pencurian, pemerasan, penyalahgunaan narkotika dan teror, ternyata perasaan tidak aman dari pencurian dirasakan oleh sebagian kecil keluarga di Indonesia daripada kondisi lainnya.
c. Kesehatan sebagai modal sosial manusia yang penting untuk diperharikan dalam keberlanjutan kesejahteraan keluarga.
Sebesar 72,6 persen keluarga merasakan gangguan kesehatan dalam tiga bulan terakhir, yang berpengaruh kepada aktivitas sehari-hari. Sebagaimana di Provinsi Riau yang merasakan gangguan kesehatan akibat kabut asap, sebesar 62,40 persen. Upaya dilakukan untuk mengati gangguan kesehatan paa sebagian besar keluarga Indonesia dengan
pergi ke petugas medis dalam upaya mengatasi gangguan kesehatannya sebesar 69,76 persen dan sekitar 30 persen keluarga yang tidak pergi ke tempat medis, melainkan dengan membeli obat di warung, ke dukun, meracik obat sendiri bahkan mendiamkannya. Alasan yang dikemukakan adalah merasa tidak perlu berobat, dikemukakan oleh 44,8 persen keluarga, tidak ada biaya transport sebesar 30,8 persen selain sulit akses ke pelayanan kesehatan 16,9 persen serta waktu tunggu yang lama menjadi alasan mereka tidak ke tempat medis.
4. Perubahan Sosial: meliputi: struktur ekonomi dan sosio demograi dengan parameter demograi, pekerjaan dan penghasilan, serta sikap dan nilai dengan parameter menjaga lingkungan alam, kegotongroyongan, kesetiakawanan dan partisipasi politik
a. Struktur ekonomi dan sosio demograi
Berdasarkan jenis kelamin kepala keluarga yang menjadi responden menunjukkan bahwa persentase laki-laki sebesar 86.30 persen sementara perempuan sebesar 13,70 persen. Status perkawinan mereka sebesar 84,60 persen sudah menikah atau berstatus kawin, dan yang belum menikah sebesar 1,93 persen. Untuk umur responden diketahui bahwa lebih dari 27,5 persen umur responden atau kepala keluarga berumur diatas usia 40 tahun. Sample lokasi SKSD di 12 provinsi menunjukkan bahwa keluarga di perkotaan sebesar 56,41 persen daripada di perdesaan sebesar 43,59 persen. Sebagaimana data BPS (tahun 2015) menunjukkan bahwa persentase penduduk di perkotaan semakin meningkat daripada penduduk di pedesaan. b. Hubungan keluarga dengan lingkungan setempat, secara umum
sangat baik 15,46 persen dan baik sebesar 78,79 persen. Partisipasi anggota keluarga terhadap pemilihan umum sangat baik yakni sebesar 97,71 persen, meski alasan tidak berpartisipasi politik, karena sibuk bekerja/bepergian 31,13 persen. Analisis hubungan keluarga dengan Lingkungan setempat, menunjukkan bahwa pada kegiatan perayaan hari besar, kerja bakti dan ibadah bersama dalam hubungannya dengan aktiitas keluarga di lingkungan setempat, cukup signiikan dengan nilai sebesar 0.001. Oleh karena itu, kegiatana tersebut dapat digunakan untuk melakukan intervensi sosial berbasis komunitas, misalnya ketika terjadi konlik antar warga maka dapat menggunakan wahana kegiatan berupa perayaaan hari besar, kerja bhakti dan ibadah bersama
Pemberian pertolongan kepada warga lain banyak dilakukan warga lain yang membutuhkan yakni 83,04 persen. Hal tersebut mencerminkan bahwa nilai-nilai saling mengasihi, tolong-menolong dan toleransi
anggota keluarga di Indonesia masih tinggi. Hanya sebanyak 16,96 persen saja anggota keluarga di Indonesia tidak memberikan pertolongan kepada warga dengan alasan karena dalam kondisi sakit.
B. REKOMENDASI
Survei Kesejahteraan Sosial Dasar (SKSD) ini menghasilkan data dan informasi yang dapat digunakan oleh penyelenggara kesejahteraan sosial, baik di tingkat pusat (Kementerian Sosial) maupun daerah (Dinas Sosial) dan pihak lain terkait dalam perumusan dan atau pengembangan kebijakan kesejahteraan sosial. Berikut ini rekomendasi berdasarkan hasil survei: 1. Penanganan Fakir Miskin
Strategi penanganan permasalahan sosial yang dilakukan hendaknya bersifat komprehensif dan komplementeri. Misalkan, penerima Program Keluarga Harapan/PKH, selain mendapatkan KUBE, juga dapat menerima program RUTILAHU, RASTA (berupa voucher), Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP). Strategi tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan pemenuhan kebutuhan sosial dasar, pendidikan dan kesehatan yang merupakan unsur utama dalam mewujudkan kondisi kesejahteraan keluarga. Selain itu peningkatan kualitas hidup dengan penambahan pada kebutuhan lauk-pauk hewani dan nabati, selain makanan pokok 2. Program penyuluhan sosial perlu ditingkatkan dengan sasaran
peningkatan pengetahuan masyarakat tentang program Kementerian Sosial melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE). Melalui penyuluhan sosial program-program Kementerian Sosial dapat diketahui masyarakat, yang pada akhirnya akan mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan kesejahteraan sosial.
3. Impelementasi program kesejahteraan sosial harus dilakukan dengan mengoptimalkan peran aktif Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS), terutama yang ada di tingkat akar rumput. PSKS direkomendasikan untuk dikelompokkan, menjadi TKS di lembaga pelayanan sosial, dan TKS di tingkat komunitas untuk memudahkan dalam pengembangan kapasitas, seperti menumbuh-kembangkan Karang Taruna dan tenaga Penyuluh Sosial.
4. Pengembangan intervensi sosial berbasis komunitas. Misalnya, ketika terjadi konlik antar warga, maka dapat menggunakan wahana kegiatan berupa perayaaan hari besar, kerja bhakti dan ibadah bersama.
5. Pemenuhan kebutuhan pangan bagi fakir miskin perlu dilengkapi dengan pemenuhan kebutuhan protein hewani dan nabati. Kebutuhan pangan bukan hanya dalam bentuk beras, melainkan dalam bentuk
voucher, yang dapat ditukarkan dengan bahan pangan sesuai dengan bahan makanan pokok setempat, telor dan susu.
6. Perluasan program PKSA bagi anak usia wajib belajar yang terpaksa harus bekerja dan peluasan aksesibilitas pada bidang pendidikan bagi penyandang disabilitas sejak usia 3 tahun sampai usia 21 tahun.
7. Perlunya penelitan lanjutan untuk mendalami lebih lanjut permasalahan kesejahteraan sosial pada tingkat kecamatan, sehingga dapat menyediakan base line data aktual tentang penyandang masalah kesejahteraan sosial.