BAB III KAJIAN PUSTAKA
SUBYEKTIF WELLBEING
2. Pemenuhan Kebutuhan Pakaian
Pakaian memiliki banyak fungsi bagi manusia. Fungsi pakaian dapat dilihat dari berbagai sudat pandang, diantaranya dari sudut pandang biologis, psikologis dan sosial. Dari sudut pandang biologis, pakaian berfungsi sebagai pelindung tubuh dari cuaca, sinar matahari, debu serta gangguan binatang, dan melindungi tubuh dari benda – benda lain yang dapat membahayakan kulit. Dari sudut pandang biologis, pakaian juga berfungsi untuk menutupi atau menyamarkan kekurangan tubuh sipemakai. Dari sudut pandang psikologis, pakaian dapat menambah keyakinan dan rasa percaya diri serta dapat memberi rasa nyaman. Kemudian dari sudut pandang sosial, pakaian berfungsi untuk menutupi memelihara kesusilaan, untuk menggambarkan adat atau budaya suatu daerah, untuk media informasi bagi suatu instansi
atau lembaga. Oleh sebab itu setiap orang memerlukan pakaian berbeda untuk kegiatan berbeda. Secara keseluruhan pakaian dirasakan sebagai salah satu kebutuhan dasar bagi manusia. Kepemilikan atau ketersediaan pakaian berbeda untuk kegiatan berbeda bagi semua anggota keluarga merupakan satu cermin dari kualitas hidup keluarga. Akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan pakaian, seperti halnya pemenuhan kebutuhan lainnya, diperlukan kemampuan tersendiri.
Survei menemukan bahwa tidak semua keluarga mampu menyediakan pakaian berbeda untuk kegiatan berbeda bagi seluruh anggotanya.
Kemampuan keluarga menyediakan pakaian berbeda bagi semua anggotanya bervariasi antar daerah. Secara keseluruhan 95.80 keluarga Indonesia mampu menyediakan pakaian berbeda bagi semua anggotanya untuk di rumah, bekerja atau sekolah, dan berpergian. Artinya, pada sisi lain terdapat sebanyak 4.20 persen keluarga Indonesia belum mampu menyediakan pakaian berbeda untuk kegiatan berbeda. Kualitas keluarga dapat juga dibedakan berdasarkan kuantitas pakaian yang dimiliki anggota keluarga. SKSD menemukan bahwa masih terdapat keluarga yang anggotanya hanya memiliki pakaian 3 stel atau kurang meliputi sebanyak 18 keluarga. Sebanyak 42.1 persen keluarga memiliki pakaian sebanyak 4 sampai 7 stel, dan sebanyak 39.8 persen keluarga memiliki 8 stel pakaian atau bahkan lebih. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak keluarga yang anggotanya memiliki pakaian sangat kurang. Setiap keluarga perlu membeli pakaian baru dalam priode tertentu untuk memenuhi keperluan anggotanya. Di Indonesia ada kebiasaan membeli pakaian menjelang perayaan hari raya tertentu, seperti Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Natal.
Tabel 4.8. : Keluarga Yang Memiliki Pakaian Berbeda.
PROVINSI PERSENTASE SUMATERA UTARA 95.89 RIAU 95.17 LAMPUNG 95.48 JAWA BARAT 95.58 JAWA TIMUR 96.57 BALI 97.33
NUSA TENGGARA BARAT 93.40
KALIMANTAN BARAT 95.47 KALIMANTAN TIMUR 98.05 SULAWESI SELATAN 97.53 SULAWESI BARAT 93.65 PAPUA BARAT 94.46 INDONESIA 95.80
Hasil survey menemukan bahwa 81,88 persen keluarga Indonesia membeli pakaian baru untuk anggotanya dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Persentase keluarga membeli pakaian baru dalam 12 bulan terakhir bervariasi, terendah dialami oleh keluarga di Provinsi NUSA TENGGARA BARAT dan Jawa Timur, yaitu 77.81 persen dan 79.20, sedangkan tertinggi di Provinsi Papua Barat dan Kalimantan Timur, yaitu 91.76 persen dan 89.21 persen. Data menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 18,12 persen keluarga Indonesia tidak membeli pakaian baru dalam 12 bulan terakhir. Alasan keluarga tidak membeli pakaian baru dalam 12 bulan terakhir bervariasi. Secara nasional sebagian terbesar beralasan tidak mampu membeli pakaian sebesar 66.22 persen. Alasan tidak mampu membeli pakaian baru dalam 12 bulan terakhir paling banyak dikemukakan oleh keluarga di Provinsi Sulawesi Barat 87.50 persen dan Kalimantan Barat 83.24 persen. Sebaliknya, prosentase keluarga tidak membeli pakaian baru dalam 12 bulan terakhir terjadi di Provinsi Jawa Timur sebanyak 47.70 persen dan Papua Barat sebanyak 50,00 persen.
Tabel. 4.9. : Persentase Keluarga yang Membeli Pakaian Baru dalam 12 bulan Terakhir PROVINSI PROSENTASE SUMATERA UTARA 80.66 RIAU 85.79 LAMPUNG 85.56 JAWA BARAT 80.80 JAWA TIMUR 79.20 BALI 68.00
NUSA TENGGARA BARAT 77.81
KALIMANTAN BARAT 83.60 KALIMANTAN TIMUR 89.21 SULAWESI SELATAN 84.03 SULAWESI BARAT 85.40 PAPUA BARAT 91.76 INDONESIA 81.88
Tabel 4.10. : Persepsi Responden atas Keterpenuhan Kebutuhan Pakaian Keluarga PROVINSI Sangat tidak terpenuhi Tidak terpenuhi Kurang terpenuhi Terpenuhi Sangat terpenuhi SUMATERA UTARA 3.7 10.2 33.4 52.3 .4 RIAU .5 4.4 28.5 66.0 .5 LAMPUNG 1.8 9.1 45.0 43.4 .7 JAWA BARAT 1.4 5.7 32.4 59.6 .9 JAWA TIMUR 1.1 3.6 23.5 71.0 .8 BALI 1.4 3.2 35.3 59.3 .9 NUSA TENGGARA BARAT 2.3 9.2 36.7 51.2 .6 KALIMANTAN BARAT 2.3 11.6 29.8 55.0 1.3 KALIMANTAN TIMUR 1.1 2.8 20.2 74.7 1.1 SULAWESI SELATAN .7 4.5 29.6 64.1 1.2 SULAWESI BARAT 2.0 13.7 26.4 57.4 .5 PAPUA BARAT 1.8 2.8 16.6 76.7 2.1 INDONESIA 1.7 6.7 30.6 60.1 .9
Selain mengidentiikasi kondisi objektif pemenuhan kebutuhan pakaian keluarga, SKSD ini juga mencari tahu persepsi responden atas pemenuhan kebutuhan pakaian keluarga. Sebagian terbesar responden memandang pemenuhan kebutuhan pakaian keluarganya sudah terpenuhi (60,1 persen) dan 0,9 persen bahkan memandang sudah sangat terpenuhi. Akan tetapi terdapat sebanyak 30,6 persen memandang kurang terpenuhi, 6,7 persen memandang tidak terpenuhi dan 1,7 persen bahkan mengatakan sangat tidak terpenuhi. Pandangan responden berbeda antara provinsi. Apabila dikaitkan dengan kepemilikan pakaian berbeda untuk di rumah, bekerja atau sekolah, dan berpergian, terdapat 26,7 persen keluarga dengan anggota memiliki pakaian berbeda untuk tiga kegiatan namun menilai pemenuhan kebutuhan pakaian keluarga mereka belum terpenuhi. Artinya memiliki pakaian berbeda untuk kegiatan di berbeda belum berarti sudah dirasakan cukup. Jika dilihat pemenuhan kebutuhan pakaian yang sudah terpenuhi, menunjukkan di Provinsi Papua Barat sebesar 76,7 persen dan sebesar 74,7 persen responden di Provinsi Kalimantan Timur.
Tabel 4.11. : Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pakaian Provinsi Meminjam/ berhutang minta bantuan menjual barang menggadai diatur secukup- nya SUMATERA UTARA 45.57 27.09 2.97 2.99 64.53 RIAU 44.39 25.91 2.07 2.07 81.87 LAMPUNG 31.41 21.81 2.31 0.97 91.25 JAWA BARAT 40.02 30.91 4.24 1.02 83.49 JAWA TIMUR 39.49 20.42 3.89 2.49 72.43 BALI 43.68 25.29 8.05 2.30 51.72 NUSA TENGGARA BARAT 53.42 31.05 5.15 4.71 70.18 KALIMANTAN BARAT 38.18 22.98 7.13 4.61 87.74 KALIMANTAN TIMUR 26.37 11.88 3.48 3.48 63.37 SULAWESI SELATAN 22.24 31.69 3.27 2.38 78.56 SULAWESI BARAT 16.10 34.65 8.04 2.70 76.15 PAPUA BARAT 40.91 46.81 14.89 2.27 76.47 INDONESIA 39.19 27.12 4.30 2.67 77.01
Upaya yang dilakukan untuk memenuhi kondisi pemenuhan kebutuhan pakaian, umumnya mengatakan diatur secukupnya 77.01, sementara meminjam/berhutang sebesar 39.19 persen, minta bantuan sebesar 27.12 persen, menjual barang sebesar 4.30 persen, menggadai sebesar 2.67 persen.
Selanjutnya pemenuhan kebutuhan pakaian keluarga dianalisis dengan membandingkan antara keluarga dengan pemenuhan kebutuhan pakaian anggotanya “sangat tidak terpenuhi” dan “sangat terpenuhi”. Hasil survei menunjukkan ada perbedaan dari kedua kelompok tersebut yang akan dilihat dari: 1) aspek kepemilikan pakaian berbeda untuk tiga kegiatan berbeda: 2) membeli atau tidak membeli pakaian baru dalam satu tahun terakhir; dan 3) banyaknya pakaian yang dimiliki.
Gambar 4.14. Kepemilikan Pakaian
Gambar 4.15. Membeli Pakaian Baru
Gambar 4.16 Jumlah (stel) pakaian yang dimiliki
Pada keluarga yang sangat tidak terpenuhi kebutuhan pakaian menunjukkan bahwa mereka memiliki pakaian dinyatakan oleh 76,1 persen keluarga, dengan rincian yang memiliki pakaian kurang dari 3 stel sebesar 59,2 persen, dan memiliki 4 – 7 stel sebesar 29,2 persen, dan 11,7 persen saja yang menyatakan memiliki pakaian lebih dari 8 stel pakaian. Mereka yang mampu membeli pakaian baru dinyatakan oleh 29,9 persen keluarga. Sementara pada keluarga yang terpenuhi kebutuhan
pakaian, menyatakan 84,1 persen memiliki pakaian sebanyak 8 stel atau lebih, dan hanya 12,1 persen saja yang menyatakan memiliki pakaian sebanyak 4 sampai 7 stel.