• Tidak ada hasil yang ditemukan

(166 Kali)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "(166 Kali)"

Copied!
138
0
0

Teks penuh

(1)

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEJAHTERAAN SOSIAL BADAN PENDIDIKAN, PENELITIAN, DAN PENYULUHAN SOSIAL

KEMENTERIAN SOSIAL RI

SURVEI

(2)

Hak cipta dilindungi Undang-Undang. Dilarang memperbanyak buku sebagian atau seluruhnya tanpa izin dari Puslitbangkesos, Kementerian Sosial RI.

Survei Kesejahteraan Sosial Dasar Tahun 2015.

Jakarta, P3KS Press 2016, xviii +120 hlm. 16 cm x 23 cm.

Tim Peneliti: Alit Kurniasari Badrun Susantyo

Suradi Hari Harjanto Setiawan

Anwar Sitepu Nurdin Widodo

Husmiati Nyi R. Irmayani

Habibullah

Design Cover : Tim Imaji

Tata letak : Tim Imaji

Cetakan Pertama : April 2016

ISBN 978-602-363-018-9

Diterbitkan oleh:

Puslitbangkesos Kementerian Sosial RI.

(3)

Ketua Tim Lapangan

Umi Badri Yusamah, Arief Sitompul, Sutaat, Aulia Rahman, Deni Sehabudin, Achmadi Jayaputra, Sukur Priyanto, Imanudin Sidik, Irwan Nasikin Setiawan, Rokna Murni, Setyo Sumarno, Pribowo, Sony Firmansyah, Catur Herry Wibawa, Annastasia Hustantie, Bambang Indra Kentjana, Dedeh Yuliah, Nenden Rainy S, Teti Ati Padmi, Nurani Kusnadi, M. Belanawane Sulubere, Herman Nugraha, Dayat Sutisna, Ahmad Suhendi, Mudjiastuti, Wandansari, Haryati Roebyantho, Bambang Pudjianto, Suharma, Togiaratua Nainggolan, Muslim Sabarisman, Nurhayani Lubis, Sugiyanto, Eko Gunawan Wibisono, M. Habiburrohman, Subhan Kadir, Yuyun Yuliawati, Sutimbul, Dulman, Syamsudin, B. Mujiyadi, M. Ikhsan Hasyim, Kasim Saleh.

Pewawancara

(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya laporan Survei Kesejahteraan Sosial Dasar (SKSD) Tahun 2015 dapat diselesaikan. SKSD merupakan upaya Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (Puslitbangkesos) untuk menyediakan data makro dan sebagai base line data dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial dan sebagai bahan perumusan kebijakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial di Indonesia.

SKSD merupakan survei yang pertama kali dilakukan oleh Puslitbang Kesejahteraan sosial. SKSD ini dilaksanakan dengan mengambil sampel sebanyak 15.281 keluarga yang tersebar di 806 Kecamatan, 68 Kabupaten di 12 Provinsi. Pada kegiatan pengumpulan data melibatkan pewawancara dari unsur satuan bakti pekerja sosial, dan mahasiswa pekerjaan sosial yang berjumlah 270 orang, serta Ketua Tim dari unsur peneliti dan dosen berjumlah 46 orang.

Laporan ini merupakan laporan nasional, yang memuat 4 (empat) dimensi, yaitu dimensi: kualitas hidup, keberlanjutan, kohesi sosial, dan perubahan sosial. Keempat dimensi tersebut secara konseptual merupakan dimensi utama yang berkaitan langsung dengan kondisi kesejahteraan sosial (well-being) keluarga di Indonesia.

(6)

Meskipun tim SKSD sudah bekerja keras untuk menyelesaikan laporan survei ini, namun demikian laporan ini masih banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh sebab itu, diharapkan masukan, saran dan kritik guna penyempurnaan kegiatan dan penulisan laporan survei ini.

Jakarta, 9 April 2016

Kepala Puslitbang Kesejahteraan Sosial

(7)

RINGKASAN EKSEKUTIF

Survei Kesejahteraan Sosial Dasar (SKSD) tahun 2015 bertujuan untuk mengumpulkan data tentang kondisi kesejahteraan sosial dasar keluarga di Indonesia, digambarkan dalam empat dimensi kesejahteraan yaitu; 1) kualitas hidup; 2) kohesi Sosial 3) keberlanjutan dan 4) perubahan sosial. Masing-masing dimensi diukur melalui kondisi objektif dan subjektif, sehingga dapat diketahui katagorisasi keluarga, sejahtera (secara obyektif dan subyektif kondisinya baik), disonansi (secara obyektif kondisinya baik tetapi secara subyektif kondisinya buruk), adaptif (secara obyektif kondisinya buruk tetapi secara subyektif kondisinya baik) dan deprivasi (secara subyektif dan obyektif kondisinya buruk). Kondisi sejahtera manakala kehidupan manusia aman dan bahagia karena kebutuhan dasar akan gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal dan pendapatan dapat dipenuhi; serta memperoleh perlindungan dari risiko-risiko utama yang mengancam kehidupannya. kemampuan orang (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) dan sistem sosial (lembaga dan jaringan sosial) dalam memenuhi/merespon kebutuhan dasar, melaksanakan peranan sosial, serta menghadapi goncangan dan tekanan (shocks and stresses). Kebutuhan dasar berkaitan dengan pendapatan, pendidikan dan kesehatan. Peranan sosial dimaksud sesuai dengan status sosial, tugas-tugas dan tuntutan norma lingkungan sosialnya. Kemudian, goncangan dan tekanan terkait dengan masalah psikososial dan krisis ekonomi.

Metodologi, domain survei ini adalah nasional dan beberapa provinsi di Indonesia, sehingga level penyajian dapat secara nasional dan provinsi. Kerangka sampel disusun berdasarkan unit sampel provinsi, kabupaten/kota, blok sensus dan rumah tangga berdasarkan hasil pemutakhiran Susenas maret 2015. Penarikan sampel diukur dengan design efect 2.0, response rate 95%,

(8)

Barat; dan 12) Papua Barat. Pada setiap Blok Sensus, terpilih Daftar Sampel Rumah Tangga (DSRT) terdiri dari 10 rumah tangga dan 5 cadangan dengan responden terpilih adalah keluarga dalam rumah tangga tersebut. Data yang diperoleh dari tingkat keluarga akan diberi pembobotan, sehingga dapat diestimasi secara provinsi dan nasional. Data terkumpul sebanyak 15.574 keluarga, karena menghadapi kendala sbb: 1) Bencana asap di Provinsi Riau dan Kalimantan Barat; 2) Konlik sosial/politik di 2 kabupaten di Propinsi Jawa Timur. 3) Penolakan responden di daerah perkotaan di kota Medan, Surabaya, Bandung dan Denpasar; 4) perbedaan daftar sampel rumah tangga dengan kondisi lapangan; 5) Sulitnya kondisi geograis dan transportasi.

Hasil survei menunjukkan bahwa : Secara demograi, sebagian besar kepala keluarga yang diwawancara berjenis kelamin laki-laki, dengan persentase sebesar 86.30 persen dan perempuan sebesar 13,70 persen. Status perkawinan mereka sebesar 84,60 persen sudah menikah atau kawin, belum menikah sebesar 1,93 persen. Umur kepala keluarga diketahui lebih dari 27,5 persen berumur diatas usia 40 tahun. Keluarga dimaksud berkedudukan lebih banyak di perkotaan daripada di perdesaan.

Kualitas hidup keluarga di Indonesia umumnya telah terpenuhi kebutuhannya meski pada beberapa pemenuhan kebutuhan perlu mendapatkan perhatian. Seperti kebutuhan pangan terutama pemenuhan lauk pauk hewani dan nabati perlu mendapatkan perhatian contoh pada keluarga dengan katagori deprivasi. Untuk kebutuhan tempat tinggal, sebagian besar keluarga sudah memiliki rumah, lengkap dengan kepemilikan fasilitas MCK, dengan catatan masih terbatas pada pemenuhan kebutuhan air bersih yang selama ini memanfaatkan sumur bor pompa, dan sumber mata air terlindungi. Penerangan listrik umumnya sudah menggunakan PLN dan gas elpiji sebagai bahan bakar untuk memasak. Pemenuhan pakaian, keluarga di Indonesia, secara kwantitas telah terpenuhi terutama pada saat perayaan hari besar atau hari raya, dimana keluarga mengupayakan untuk membeli pakaian baru, meski secara kwalitas, pakaian mereka belum seluruhnya terpenuhi. Upaya untuk pemenuhan kebutuhan pangan, keluarga melakukan cara meminjam atau berhutang dan minta bantuan bahkan menjual barang, menggandai serta diatur secukupnya, sehingga pemenuhan pangan tetap terpenuhi.

(9)

sekolah dan ada diantaranya yang berusia diatas 21 tahun tidak bisa baca tulis, dengan alasan yang paling banyak adalah karena tidak adanya biaya. Masalah yang perlu menjadi perhatian ternyata alasan disabilitas cukup mewarnai, sebagai alasan dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan, serta masih ditemukannya anak usia wajib belajar yang bekerja membantu orang tua. Dari beberapa pemenuhan kebutuhan tersebut, diperoleh gambaran bahwa kendala yang dihadapi adalah terbatasnya biaya dan kendala lainnya, seperti tidak adanya fasilitas, Upaya untuk mengatasi masalah pendidikan, umumnya dengan cara mengatur secukupnya, sesuai dengan apa yang mereka miliki, meski diantaranya ada yang meminjam atau berhutang dan meminta bantuan orang lain.

Perlindungan sosial, yang diikuti keluarga di Indonesia, ditemukan bahwa paling banyak menjadi peserta BLSM dan penerima Rastra. Demikian halnya dengan kepemilikan Kartu BPJS mandiri/pegawai dan KIS-PBI cukup banyak dimiliki keluarga. Sementara untuk akses terhadap berbagai program perlindungan sosial, seperti program Usaha Ekonomi produktif (UEP), PKH, Askesos, Rastra, BLSM, BSPS, Rutilahu dan PPFM, tidak banyak diikuti keluarga karena ketidak tahuan terhadap program dimaksud. Demikian halnya dengan program UEP, PKH, ASKESOS, 50 persen keluarga, menyatakan tidak tahu juga tentang panti sosial dan rehabilitasi diluar panti yang dinyatakan oleh hampir 75 persen keluarga di Indonesia. Demikian juga ketidak tahuan keluarga untuk ikutserta terhadap Program Kampung Siaga Bencana, dinyatakan 76,21 persen keluarga. Ketidak tahuan tersebut menjadikan mereka tidak ikut serta terhadap program-program dimaksud, diluar golongan keluarga mampu, baru pindah dan stasus sebagai PNS. Sistem sumber yang paling dikenal keluarga adalah Karang Taruna sebesar 42,3 persen, Panti Sosial sebesar 28,5 persen dan tenaga Penyuluh Sosial 13,4 persen, dengan pemanfaatan sistem sumber tersebut antara 10 sampai 25 persen dari pengetahuan mereka miliki.

Keberlanjutan kesejahteraan keluarga, maka aset kepemilikan dari keluarga sebagai faktor pendukung kondisi kesejahteraan berupa rumah, tanah, kepemilikan hewan ternak dan barang perhiasan serta tabungan di Bank atau Koperasi dimiliki oleh sebagian kecil keluarga, sementara Hand phone, TV dan motor hampir seluruh keluarga memilikinya.

(10)

diantaranya yang berobat sendiri dengan cara membeli obat ke warung atau meracik obat untuk mengobati penyakitnya.

Relasi sosial keluarga dalam lingkungan, menunjukkan bahwa kegiatan beribadah bersama, perayaan hari besar dan kerja bakti secara signiikan menjadi kegiatan yang banyak dilakukan keluarga. Termasuk memberi pertolongan kepada warga lain jika membutuhkan pertolongan, masih tetap mewarnai keluarga di Indonesia, yakni sebesar 83,04 persen, meski 16,96 persen keluarga tidak memberikan pertolongan kepada warga dengan alasan sakit. Hubungan keluarga dengan lingkungan setempat, secara umum sangat baik berada pada 15,46 persen dan baik pada 78,79 persen.

Perubahan sosial, menyangkut pada rasa aman keluarga dengan kondisi lingkungan saat ini, ditemukan bahwa umumnya keluarga memiliki rasa aman cukup besar, meski ancaman bencana asap dan bencana banjir masih tetap menjadi ancaman dan selain pencurian menjadi kondisi sosial yang mengancam keluarga. Kondisi demograi, keluarga yang diwawancara pada survey ini, sebagian besar kepala keluarga laki-laki daripada perempuan, dengan status perkawinan mereka sudah menikah. Umur kepala keluarga umumnya berada pada usia produktif dan banyak berkedudukan di perkotaan daripada di perdesaan, meski dalam metode yang dirancang jumlah keluarga antara perkotaan dan perdesaan berimbang. Partisipasi keluarga cukup besar terhadap pemilihan umum, dan alasan tidak berpartisipasi terhadap eilihan umum atau kegiatan pemilihan kepala desa, semata karena sibuk bekerja atau bepergian. Meski kebanyakan keluarga yang diwawancara berada diperkotaan namun hasil analisis hubungan keluarga dengan lingkungan setempat, diketahui bahwa kegiatan perayaan hari besar, kerja bakti dan ibadah memiliki hubungan signiikan dengan aktiitas keluarga di lingkungan setempat, sehingga kegiatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk intervensi sosial berbasis komunitas.

(11)

pemahamannya tentang pemenuhan kebutuhan dimaksud. Sebaliknya juga terdapat keluarga dengan kondisi kebutuhannya secara obyektif buruk tetapi dipersepsi secara subyektif sudah baik, sehingga masuk kedalam katagori adaptif, yang diwujudkan dalam strategi pemenuhan kebutuhannya. Dalam hal ini akses terhadap pemenuhan kebutuhan melalui program perlindungan kesejahteraan sosial, selayaknya diperoleh pada keluarga dengan katagori deprivasi dan disonansi.

(12)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR v

KETUA TIM LAPANGAN iii

PEWAWANCARA iii

RINGKASAN EKSEKUTIF vii

DAFTAR ISI xii

DAFTAR TABEL xiv

DAFTAR GAMBAR xvii

BAB I : PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Ruang Lingkup 5

C. Permasalahan Survei 5

D. Tujuan Survei 6

E. Langkah-Langkah 6

F. Organisasi Survei 6

G. Pembiayaan 8

BAB II: METODE SURVEI 9

A. Domain Penelitian 9

B. Kerangka Sampling 9

C. Stratiikasi Wilayah 10

D. Ukuran Sampel 10

E. Alokasi Sampel 11

F. Pengenalan Sketsa Peta Blok Sensus 11

G. Daftar Sampel Rumah Tangga 12

H. Desain Sampling 14

I. Pemilihan Responden 15

J. Pembobotan (Weighting) 15

BAB III : KAJIAN PUSTAKA 17

A. Kesejahteraan Sosial 17

B. Fungsi dan Peranan Keluarga 21

C. Variabel, Indikator dan Parameter Survei 30

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN 31

A. Gambaran Umum 31

B. Kualitas Hidup 37

C. Kohesi Sosial 66

D. Keberlanjutan 88

(13)

BAB V: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 111

A. Kesimpulan 111

B. Rekomendasi 117

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 : Alokasi Sampel berdasarkan Blok Sensus dan Jumlah

Petugas Pengumpul Data 11

Tabel 2.2: Indirect Estimate Provinsi dan Indonesia 16

Tabel 3.1: Variabel, Indikator dan Parameter Survei 30

Tabel 4.1 : Target dan Realisasi Capaian Responden Secara Nasional 32 Tabel 4.2 : Klasiikasi Wilayah Perdesaan dan Perkotaan

berdasarkan provinsi (%) 35

Tabel 4.3 : Keluarga yang Mengkonsumsi Makanan Pokok

Minimal 2 (dua) kali dalam Seminggu Terakhir. 38 Tabel 4.4 : Frekuensi Keluarga Makan Lauk Pauk Nabati

dalam Seminggu Terakhir 40

Tabel 4.5 : Frekuensi Keluarga Mengkonsumsi Lauk Pauk Hewani

dalam Seminggu Terakhir 41

Tabel 4.6 : Pemenuhan Kebutuhan Pangan 42

Tabel 4.7 : Upaya yang Dilakukan dalam Memenuhi Kebutuhan Pangan 43

Tabel 4.8 : Keluarga Yang Memiliki Pakaian Berbeda 47

Tabel 4.9 : Persentase Keluarga yang Membeli Pakaian Baru

dalam 12 bulan Terakhir 48

Tabel 4.10: Persepsi Responden atas Keterpenuhan Kebutuhan

Pakaian Keluarga 49

Tabel 4.11 : Upaya Pemenuhan Kebutuhan Pakaian 50

Tabel 4.12 : Keluarga dengan Status Penguasaan Bangunan Tempat Tinggal 53

Tabel 4.13 : Luas Lantai Rumah 54

Tabel 4.14 : Jenis Dinding Rumah 55

Tabel 4.15 : Jenis Atap Rumah 57

Tabel 4.16 : Rumah dengan Fasilitas MCK 58

Tabel 4.17 : Sumber Air Bersih Utama Keluarga 59

Tabel 4.18 : Keluarga yang Menggunakan Listrik. 61

Tabel 4.19 : Besarnya Daya Listrik Terpasang Di Rumah 61

Tabel 4.20 : Bahan Bakar/Energi Utama untuk Memasak 62

Tabel. 4.21 : Pemenuhan Kebutuhan Tempat Tinggal. 63

Tabel 4.22 : Upaya yang Dilakukan Untuk Memenuhi Kebutuhan

(15)

Tabel 4.23 : Prosentase Pemenuhan Kebutuhan Biaya Pendidikan

berdasarkan Provinsi. 67

Tabel 4.24 : Alasan Anggota Keluarga Usia 3-6 tahun tidak masuk

pendidikan informal 68

Tabel 4.25 : Alasan anggota Keluarga usia wajib belajar tidak bersekolah 70 Tabel 4.26 : Alasan anggota Keluarga usia 16-21 tahun tidak bersekolah 72 Tabel 4.27 : Alasan anggota keluarga >21 tahun tidak bisa baca tulis 73

Tabel 4.28 : Kepemilikan Kartu Perlindungan Sosial 75

Tabel 4.29 : Prosentase Alasan tidak ikut UEP 76

Tabel 4.30 : Anggota Menjadi Peserta Program Perlindungan Sosial (1) 76

Tabel 4.31 : Prosentase Alasan Tidak Ikut PKH 77

Tabel 4.32 : Alasan Tidak Ikut ASKESOS 78

Tabel 4.33 : Prosentase Alasan Tidak Ikut RASTA 79

Tabel 4.34 : Alasan Tidak Ikut BLSM 80

Tabel 4.35 : Alasan Tidak Ikut BSPS 80

Tabel 4.36 : Alasan Tidak Ikut RUTILAHU 81

Tabel 4.37 : Alasan Tidak Ikut KUBE UEP 82

Tabel 4.38 : Anggota Menjadi Peserta Program Perlindungan Sosial (2) 83 Tabel 4.39 : Alasan Tidak Ikut Program Rehabilitasi Sosial 83 Tabel 4.40 : Alasan Tidak Ikut Program Rehabilitasi Sosial Di Luar Panti 84 Tabel 4.41 : Alasan Tidak Ikut Program Keserasian Sosial 85 Tabel 4.42 : Alasan Tidak Ikut Program Kampung Siaga Bencana 86 Tabel 4.43 : Pengetahuan dan Pemanfaatan Potensi dan Sumber

Kesejahteraan Sosial 87

Tabel 4.44 : Rasa Aman Keluarga dengan Kondisi Lingkungan Alam 89 Tabel 4.45 : Upaya Keluarga dalam Mengatasi Kondisi Alam

Yang Tidak Aman 90

Tabel 4.46 : Rasa Aman Keluarga dari Peristiwa, dalam Setahun Terakhir 91 Tabel 4.47 : Keluarga yang Mengalami Gangguan Kesehatan dalam

Tiga Bulan Terakhir Dan Pengaruhnya Terhadap

Aktivitas Sehari-Hari 92

Tabel 4.48 : Upaya dilakukan keluarga akibat Terganggunya aktivitas

sehari-hari anggota keluarga 93

Tabel 4.49 : Alasan Keluarga Mengatasi Gangguan Kesehatan dengan

Non Medis 94

(16)

Tabel 4.51: Upaya yang dilakukan keluarga bila pemenuhan kebutuhan biaya kesehatan keluarga sangat tidak

terpenuhi, tidak terpenuhi dan kurang terpenuhi 96 Tabel 4.52 : Prosentase Anggota Keluarga Mengikuti Rapat

di Lingkungan RT/RW dan Alasan Tidak Mengikuti Rapat 99 Tabel 4.53: Prosentase Anggota Keluarga Mengikuti Arisan dan

Alasan Tidak Mengikuti Arisan 99

Tabel 4.54 : Prosentase Anggota Keluarga Mengikuti Ibadah Bersama

dan Alasan Tidak Mengikuti Ibadah Bersama 100

Tabel 4.55 : Prosentase Anggota Keluarga Mengikuti Kerja Bhakti

dan Alasan Tidak Mengikuti Kerja Bhakti 101

Tabel 4.56 : Prosentase Anggota Keluarga Mengikuti Siskamling

dan Alasan Tidak Mengikuti Siskamling 102

Tabel 4.57 : Prosentase Anggota Keluarga Mengikuti Perayaan Hari

Besar dan Alasan Tidak Mengikuti Perayaan Hari Besar 103 Tabel 4.58 : Prosentase Anggota Keluarga Mengikuti Posyandu/PKK/

Pos Lansia dan Alasan Tidak Mengikuti Posyandu/PKK/

Pos Lansia 104

Tabel 4.59 : Prosentase Hubungan Keluarga dengan Lingkungan Setempat 105 Tabel 4.60 : Prosentase Anggota Keluarga Memberi Pertolongan pada

Warga Lain Selama 12 bulan terakhir dan Alasan Tidak

Memberi Pertolongan pada Warga Lain 107

Tabel 4.61 : Prosentase Partisipasi pada Pemilu Terakhir dan

Alasan tidak memberikan suara 108

Tabel 4.62 : Prosentase Partisipasi pada Pilkada Terakhir dan alasan

tidak memberikan suara. 109

Tabel 4.63 : Prosentase Partisipasi pada Pemilihan lokal dan alasan

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Peta Blok Sensus 12

Gambar 2.2 : Daftar Sampel Rumah Tangga (DSRT) 13

Gambar 2.3 : Daftar Sampel Blok Sensus (DSBS) 14

Gambar 4.1 : Contoh Kondisi Lokasi survei di wilayah berasap 32

Gambar 4.2 : Contoh Kondisi Geograis Lokasi Survei 34

Gambar 4.3 : Klasiikasi Wilayah Perdesaan dan Perkotaan 35

Gambar 4.4 : Responden Menurut Kelompok Umur 36

Gambar 4.5 : Responden Menurut Jenis Kelamin. 36

Gambar 4.6 : Responden Menurut Status Perkawinan 36

Gambar 4.7 : Keluarga makan lauk pauk nabati dalam Seminggu Terakhir 39 Gambar 4.8 : Keluarga yang Mengkonsumsi Lauk Pauk Hewani

dalam Seminggu Terakhir 41

Gambar 4.9 : Pemenuhan Kebutuhan Pangan secara Nasional 43 Gambar. 4.10 : Analisis “Gap” Pemenuhan Kebutuhan Pangan 44

Gambar 4.11 : Pemenuhan Makanan Pokok 45

Gambar 4.12 : Pemenuhan Lauk Pauk Nabati 46

Gambar 4.13 : Pemenuhan Lauk Pauk Hewani 46

Gambar 4.14 : Kepemilikan Pakaian 51

Gambar 4.15 : Membeli Pakaian Baru 51

Gambar 4.16 : Jumlah (stel) pakaian yang dimiliki 51

Gambar 4.17 : Lantai Rumah Bukan Tanah 54

Gambar 4.18 : Kondisi Dinding Rumah dalam Kondisi Bagus 56

Gambar 4.19 : Kondisi Atap Rumah Bagus 57

Gambar 4.20 : Mengkonsumsi Air Bersih Utama dengan Membeli 60 Gambar 4.21 : Pemenuhan Kebutuhan Tempat Tinggal Keluarga

Secara Nasional 63

Gambar 4.22 : Analisis Gap Jenis Lantai Rumah 65

Gambar 4.23 : Analisis Gap Kondisi Atap Rumah 65

Gambar 4.24 : Pemenuhan Kebutuhan Biaya Pendidikan secara Nasional 66 Gambar 4.23 : Alasan Anggota Keluarga Usia 3-6 tahun tidak masuk

(18)

Gambar 4.24 : Alasan anggota keluarga usia wajib belajar tidak bersekolah 71 Gambar 4.25 : Alasan anggota keluarga usia 16-21 tahun tidak bersekolah 73 Gambar 4.26 : Alasan anggota keluarga usia 16-21 tahun tidak bisa baca tulis. 74

Gambar 4.28 : Pemenuhan Kebutuhan Kesehatan 95

Gambar 4.29 : Aset Kepemilikan Keluarga 88

Gambar 4.31: Upaya pemenuhan kebutuhan kesehatan pada

keluarga kurang terpenuhi 97

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pembangunan kesejahteraan sosial sebagai bagian tidak terpisahkan dari pembangunan nasional, dilaksanakan untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan berkesejahteraan sosial. Penyelenggaraan kesejahteraan sosial di Indonesia dilandasi oleh Undang-Undang Dasar 1945, mengamanatkan negara mempunyai tanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Secara tegas tercantum pada (a) Pasal 27 ayat (2) bahwa “tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan; (b) Pasal 33 ayat (3), bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat; dan (c) Pasal 34 ayat (1), bahwa “fakir miskin dan anak telantar dipelihara oleh negara dan ayat (2) negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Ayat (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak”.

Berdasarkan amanat Undang-Undang tersebut, pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2015 2019, visi yang akan dicapai Negara dan Pemerintah Republik Indonesia, yaitu: berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Arah Kebijakan Nasional pada RPJM III (2015 – 2019) dilaksanakan dalam rangka mewujudkan RPJPN 2005 – 2025, yaitu Pembangunan Keunggulan Kompetitif Perekonomian yang berbasis: Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia, Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).

(20)

Pengurangan kemiskinan dan kesenjangan; dengan arah dan strategi untuk peningkatan perlindungan, produktivitas, dan pemenuhan hak dasar penduduk kurang mampu, perluasan dan peningkatan pelayanan dasar untuk masyarakat kurang mampu. Agenda Kelima:“Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia” dengan arah dan strategi jaminan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. Agenda Kedelapan,“melakukan revolusi karakter bangsa”.Agenda Kesembilan, “Memperteguh ke-bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.” meningkatkan pembudayaan kesetiakawanan sosial dalam penyelenggaraan perlindungan sosial. Arah strategis: peningkatan penyuluhan sosial untuk pendidikan dan kesadaran masyarakat. Peran dan fungsi Kementerian Sosial akan dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan daya saing penduduk terutama kelompok miskin dan rentan, penyandang disabilitas, lanjut usia, serta kelompok marginal lainnya. Hal ini dilandasi dengan semangat kegotong-royongan dan kesetiakawanan sosial yang merupakan kepribadian bangsa Indonesia yang telah ada sejak lama.

Sejalan dengan Nawa Cita tersebut, dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial dan penanganan fakir miskin, telah tersedia peraturan perundang-undangan, yaitu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial dan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin; Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial, Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2013 tentang Pelaksanaan Upaya Penanganan Fakir Miskin Melalui Pendekatan Wilayah. Selanjutnya, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota.

Selanjutnya, pada Rencana Strategi (Renstra) Kementerian Sosial Tahun 2015-2019, di dalamnya memuat substansi pengembangan sistem perlindungan sosial yang mapan, komprehensif, berkesinambungan dan merupakan perpaduan sinergis antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta antar sektoral untuk meringankan dampak kemiskinan dan kemelaratan. Selanjutnya, pada Renstra tersebut permasalahan sosial dikelompokan sebagai berikut:

1. Permasalahan sosial yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi penduduk miskin dan rentan serta kelompok marjinal lainnya.

(21)

3. Permasalahan sosial yang berkaitan dengan ketimpangan akses dan penjangkauan pelayanan dasar.

4. Permasalahan sosial yang berkaitan dengan terbatasnya akses penduduk miskin dan rentan dalam mengembangkan penghidupan secara berkelanjutan.

5. Permasalahan yang berkaitan dengan sumber daya manusia dan kelembagaan penyelenggara kesejahteraan sosial.

Berbagai permasalahan sosial tersebut merupakan tantangan dan sekaligus menjadi ancaman bagi kelangsungan pembangunan nasional, dan oleh karena itu negara dan pemerintah perlu menempuh kebijakan dan langkah-langkah strategis guna mengatasi permasalahan sosial tersebut. Hal ini sebagaimana tersurat di dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, yang memberikan mandat kepada negara dan pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Berkaitan dengan upaya mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009, Pasal 1 Ayat (2) menegaskan bahwa penyelenggaraan kesejahteraan sosial dimaknai sebagai upaya terarah, terpadu dan berkelanjutan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial.

Undang-undang dan agenda pembangunan nasional tersebut merupakan dasar hukum dan landasan operasional penyelenggaraan kesejahteraan sosial di Indonesia. Secara eksplisit, negara dan pemerintah memperoleh mandat untuk bertanggung jawab mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kemudian, Kementerian Sosial sebagai representasi pemerintah yang tugas dan fungsinya menyelenggarakan kesejahteraan sosial, mendapatkan mandat untuk mengembangkan kebijakan dan program-program yang responsif terhadap kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi rakyat Indonesia.

(22)

Situasi tersebut memerlukan respon yang cepat dan tepat, agar permasalahan dan tantangan tersebut tidak mengganggu dan menjadi ancaman penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Sehubungan dengan itu, maka kebijakan dan program yang penyelenggaraan kesejahteraan sosial harus berbasis pada isu-isu strategis, sehingga mampu menjawab kebutuhan dan mengatasi permasalahan sosial yang dirasakan masyarakat. Pada kerangka inilah, maka setiap kebijakan dan program kesejahteraan sosial harus berbasis pada hasil-hasil penelitian.

Agar dapat merancang kebijakan dan program-program dimaksud, maka diperlukan survei sesuai dengan kondisi faktual masyarakat. Survei diarahkan untuk menjawab, apakah kebijakan dan program kesejahteraan sosial sudah menjawab status kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia, dan apakah kebijakan dan program tersebut sudah menjelaskan kehadiran negara dalam mengatasi permasalahan. Maka dalam kerangka inilah survei itu menempati posisi yang sangat penting.

Survei Kesejahteraan Sosial Dasar (SKSD) merupakan langkah yang ditempuh untuk menjawab permasalahan di atas. Survei ini sangat penting karena akan menghasilkan data dan informasi yang bersifat komprehensif guna menjawab permasalahan sosial di masyarakat.

(23)

terjadinya konlik sosial antara kelompok masyarakat (Sumarno dan Roebiyanto, 2013). Kedelapan, Program Keluarga Harapan memberikan dampak positif terhadap kondisi kehidupan Keluarga (Nainggolan dkk, 2012) dan pendamping PKH telah menunjukkan kinerjanya dengan baik, baik pada aspek administratif maupun teknis (Habibullah dan Noviana, 2013). Kesembilan, Asuransi Kesejahteraan Sosial memberikan dampak positif terhadap penerima program (Muhtar dan Habibullah, 2009).

Hasil-hasil penelitian tersebut merupakan penelitian yang dilaksanakan di beberapa lokasi, sehingga belum dapat menggambarkan penyelenggaraan kesejahteraan sosial secara nasional. Meskipun demikian, data dan informasi yang dihasilkan melalui penelitian tersebut, dapat menjadi inspirasi dan bahan dalam penyempurnaan program kesejahteraan sosial. Sedangkan dalam rangka perumusan dan pengembangan kebijakan nasional, diperlukan data dan informasi yang dapat menjelaskan status atau kondisi kesejahteraan sosial keluarga Indonesia.

Sampai saat ini, data makro spesiik kesejahteraan sosial keluarga di Indonesia belum tersedia. Oleh karena itu, Survei Kesejahteraan Sosial Dasar (SKSD), merupakan langkah strategis karena akan menghasilkan data dan informasi status kesejahteraan sosial keluarga di Indonesia secara nasional. Hasil survei ini nantinya akan digunakan sebagai baseline data nasional dan provinsi dalam merumuskan kebijakan dan program kesejahteraan sosial nasional maupun provinsi terpilih.

B. RUANG LINGKUP

Survei Kesejahteraan Sosial Dasar (SKSD) difokuskan pada mengumpulkan data dan informasi berbasis keluarga untuk mengetahui kondisi kesejahteraan sosial dasar tingkat nasional dan provinsi terpilih. Ruang lingkup SKSD ini meliputi 4 (empat) variabel, yaitu:

1. Kualitas hidup 2. Kohesi sosial 3. Keberlanjutan, dan 4. Perubahan sosial.

C. PERMASALAHAN SURVEI

Permasalahan SKSD dirumuskan ke dalam pertanyaan penelitian, yaitu: 1. Bagaimana kualitas hidup keluarga secara nasional dan di provinsi

(24)

2. Bagaimana kohesi sosial keluarga secara nasional dan di provinsi terpilih ?

3. Bagaimana keberlanjutan keluarga secara nasional dan di provinsi terpilih ?

4. Bagaimana dimensi perubahan sosial keluarga secara nasional dan di provinsi terpilih ?.

D. TUJUAN SURVEI

Survei Kesejahteraan Sosial Dasar (SKSD) dimaksudkan untuk menyediakan data dan informasi tentang kondisi kesejahteraan sosial keluarga secara nasional dan di provinsi terpilih. Adapun tujuan yang akan dicapai adalah:

1. Menyediakan data dan informasi tentang kualitas hidup keluarga secara nasional dan di provinsi terpilih ?

2. Menyediakan data dan informasi tentang kohesi sosial keluarga secara nasional dan di provinsi terpilih ?

3. Menyediakan data dan informasi tentang keberlanjutan keluarga secara nasional dan di provinsi terpilih ?

4. Menyediakan data dan informasi tentang dimensi perubahan sosial keluarga secara nasional dan di provinsi terpilih ?.

E. LANGKAH-LANGKAH

Langkah-langkah pelaksanaan SKSD adalah: 1. Penyusunan Protokol

2. Penyusunan Metodologi

3. Penyusunan dan Uji Coba Instrumen 4. Sosialisasi dan Asistensi ke 4 Korwil

5. Seleksi rekruitmen Ketua Tim dan pengumpul data 6. Pemantapan Ketua Tim dan Pewawancara

7. Pengumpulan data

8. Pengolahan dan analisis data 9. Penulisan laporan

F. ORGANISASI SURVEI

(25)

Sosial Dasar Tahun 2015, terdiri dari Tim Penasehat dan Pengarah, Tim Teknis Penelitian Pelaksanaan, sebagai berikut:

1. Tim Penasehat dan Pengarah Pelaksanaan Survei.

No Nama Jabatan dalam Instansi Jabatan dalam Tim

1. Dra. Khoifah Indar Parawansa, M.Si

Menteri Sosial Republik Indonesia Ketua

2. Mu’man Nuryana, M.Sc, Ph.D

Kepala Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial

Sekretaris

3. Drs. Toto Utomo Budi Santosa, M.Si

Sekretaris Jenderal Anggota

4. Karun, AK Inspektur Jenderal Anggota

5. Drs. Hartono Laras, M.Si Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan

Kemiskinan

Anggota

6. Drs. Samsudi, MM Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Anggota 7. Dr. Ir. Andi Zaenal Abidin

Dulung, Mconst, M.Sc

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial

Anggota

2. Tim Teknis Penelitian Pelaksanaan Survei.

No Nama Jabatan dalam Instansi Jabatan dalam

Tim

1. Prof. AdiFahrudin, M.Soc. Sc., Ph.D

Guru Besar Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah, Jakarta

Pembimbing

2. Dr. Ir. Harry Hikmat, M.Si Staf Ahli Menteri Bidang Dampak Sosial

Pembimbing

3. Dra. Alit Kurniasari, M.PM

Peneliti Madya pada Puslitbangkesos Ketua

4. Drs. Badrun Susantyo, M.Si, Ph.D

Peneliti Madya pada Puslitbangkesos Sekretaris

5. Drs. Suradi, M.Si Peneliti Utama pada Puslitbangkesos Anggota 6. Dr. Hari Harjanto

Setiawan, AKS, M.Si

Peneliti Madya pada Puslitbangkesos Anggota

7. Drs. Anwar Sitepu,M.PM Peneliti Madya pada Puslitbangkesos Anggota 8. Drs. Nurdin Widodo, M.Si Peneliti Madya pada Puslitbangkesos Anggota 9. Dra. Husmiati, M.Soc.,

Ph.D

Peneliti Madya pada Puslitbangkesos Anggota

10. Nyi R Irmayani, SH, M.Si Peneliti Muda pada Puslitbangkesos Anggota

11. Habibullah, S.Sos., M.Kesos

(26)

3. Konsultan teknis

No Nama Instansi Jabatandalam Tim

1. Muhardi Kahar, S.Si, M.Si Badan Pusat Statistik KonsultanTeknis

2. Dr. Heru Prasadja Unika Atmajaya KonsultanTeknis 4. Tim Manajemen

Tim manajemen terdiri dari seluruh struktural dan staf Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial.

5. Tim Pengumpul Data

Tim Pengumpul data terdiri dari Ketua Tim dan Pewawancara. Ketua Tim direkrut dari Peneliti Puslitbangkesos, Dosen Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Widyaiswara Pusdiklatkesos dan Balai Diklatkesos, Pekerja Sosial Panti Sosial dan praktisi Pekerjaan Sosial sebanyak 46 orang.

Tim Pewawancara direkrut dari Sakti Peksos, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), mahasiswa jurusan kesejahteraan sosial, praktisi kesejahteraan sosial, sebanyak 270 orang. Setiap tim pengumpul data terdiri dari 5-6 orang pewawancara yang diketuai oleh seorang ketua tim. Kualiikasi tim pengumpul data minimal berpendidikan sarjana (S1) Kesejahteraan Sosial.

6. Tim Pengolah Data

Tim pengolah data direkrut dari ketua tim dan pewawancara yang memiliki latar belakang keterampilan mengolah data dengan menggunakan program excel dan SPSS sebanyak 15 orang.

G. PEMBIAYAAN

(27)

BAB II METODE SURVEI

A. DOMAIN PENELITIAN

Domain penelitian SKSD ini adalah nasional dan beberapa provinsi di Indonesia, dengan level penyajian hasil penelitian adalah nasional dan provinsi. SKSD adalah survei yang secara umum meneliti dan mencakup aspek kesejahteraan di bidang material, spritual, dan aspek sosial. Sebaran sampel diutamakan dapat mewakili daerah perkotaan dan pedesaan, kepadatan/jumlah penduduk, dan daerah pantai/bukan pantai, karena aspek kesejahteraan berkorelasi dengan aspek lingkungan dan kewilayahan.

B. KERANGKA SAMPLING

Kerangka sampel disusun berdasarkan unit sampel yang akan dipilih dalam survei ini. Unit sampel yang akan dipilih dalam survei ini adalah provinsi, kabupaten/kota, blok sensus Susenas Maret 2015, dan rumah tangga hasil pemutakhiran Susenas Maret 2015.

• Provinsi selanjutnya disebut sebagai Primary Sampling Unit (PSU) adalah daftar provinsi di setiap strata regional wilayah dilengkapi dengan jumlah rumah tangga hasil pencacahan SP2010.

• Kabupaten/kota selanjutnya disebut sebagai Secondary Sampling Unit

(SSU) adalah daftar kabupaten/kota yang dilengkapi dengan jumlah rumah tangga hasil pencacahan SP2010.

• Blok Sensus Susenas Maret 2015 adalah daftar blok sensus terpilih

Susenas Maret 2015, yang dipisahkan menurut daerah perkotaan dan pedesaan.

• Rumah tangga adalah daftar rumah tangga dalam setiap blok sensus

terpilih hasil pemutakhiran rumah tangga Susenas. Rumah tangga terpilih SKSD tidak akan sama dengan rumah tangga Susenas.

• Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami

(28)

C. STRATIFIKASI WILAYAH

Pemilihan provinsi mewakili 5 (lima) regional wilayah yaitu : Sumatera, Jawa Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Untuk menjamin keterwakilan wilayah sesuai domain penelitian setiap provinsi, maka sebaran kabupaten/kota akan dikelompokkan berdasarkan populasi blok sensus atau rumah tangga menurut:

• Desa dan kota

• Tingkat kepadatan penduduk • Jumlah rumah tangga

• Daerah pantai bukan pantai

D. UKURAN SAMPEL

Pada penarikan sampel simple random sampling ukuran sampel optimum yang diperlukan untuk menduga proporsi (prevalensi) P, ditentukan oleh

bound of error b atau presisi yang diinginkan, yaitu adalah :

Angka prevalensi (P) sebagai prior guess adalah 0,50 (50%), pada 95 % level of conidence . Dengan memperhatikan rumus diatas, maka satu parameter lain yang harus ditentukan adalah bound of error atau margin of error atau moe (b) yang diinginkan. Berkaitan rancangan survei yang menggunakan cluster, maka ukuran sampel harus dikalikan dengan def (design efect) yang merupakan rasio antara varians dibawah cluster design

dan SRS design. Besarnya nilai def yang ditetapkan adalah 2,0. Ukuran sampel optimum ini harus dikoreksi dengan response rate (r) sebesar 95%.

(29)

E. ALOKASI SAMPEL

Alokasi sampel berdasarkan alokasi blok sensus dan kab/kota per provinsi adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 : Alokasi Sampel berdasarkan Blok Sensus dan Jumlah Petugas Pengumpul Data

Provinsi

Sampel Sampel

BS Sampel JUMLAH

Kelg @ 10 kelg

Kab/

Kota Kec KT PW

SUMATERA UTARA 1,700 170 6 83 5 30

RIAU 800 80 4 37 2 12

LAMPUNG 1,000 100 4 50 3 18

JAWA BARAT 3,200 320 13 225 9 54

JAWA TIMUR 2,600 260 12 158 6 36

BALI 300 30 3 15 1 6

KALIMANTAN BARAT 1,400 140 4 43 4 24

KALIMANTAN TIMUR 1,000 100 3 32 3 18

SULAWESI SELATAN 2,200 220 7 75 5 30

SULAWESI BARAT 400 40 2 20 1 6

NUSA TENGGARA BARAT 2,100 210 5 55 5 30

PAPUA BARAT 300 30 2 13 2 12

INDONESIA 17,000 1,700 65 806 46 276

F. PENGENALAN SKETSA PETA BLOK SENSUS

(30)

Gambar 2.1: Peta Blok Sensus

G. DAFTAR SAMPEL RUMAH TANGGA

Kerangka sampel yang digunakan untuk pemilihan rumah tangga adalah daftar rumah tangga biasa hasil pemutakhiran Susenas Maret 2015. Ukuran sampel rumah tangga yang dipilih di setiap blok sensus terpilih (DSBS) adalah 10 rumah tangga. Namun, untuk mengantisipasi adanya nonresponse disediakan cadangan sampel sebanyak 5 (lima) rumah tangga per blok sensus sehingga dalam setiap blok sensus terpilih akan di-generate 15 sampel rumah tangga yang terdiri dari 10 sampel utama dan 5 sampel cadangan. Pencacahan harus dilakukan terhadap 10 sampel utama dahulu, ketika dari 10 sampel utama tersebut ternyata ada rumah tangga yang tidak dapat diwawancarai maka harus diganti dengan sampel cadangan. Sampel cadangan yang dipilih untuk menggantikan sampel utama yang

(31)
(32)

Gambar 2.3 : Daftar Sampel Blok Sensus (DSBS)

H. DESAIN SAMPLING

Metode sampling yang digunakan dalam survei ini adalah sampling lima tahap berstrata. Tahapan pemilihan unit sampel sebagai berikut:

• Tahap 1: memilih sejumlah provinsi secara Probability Proportional to Size. Size yang digunakan adalah jumlah rumah tangga hasil pencacahan SP2010.

• Tahap 2: memilih sejumlah kabupaten/kota secara Probability Proportional to Size. Size yang digunakan adalah jumlah rumah tangga hasil pencacahan SP2010. Pemilihan Kab/Kota dilakukan dengan mempertimbangkan sebaran wilayah berdasarkan urban/rural/pantai/ bukan pantai.

• Tahap 3: memilih sejumlah blok sensus pada setiap kab/kota terpilih

(33)

• Tahap 4: memilih 10 rumah tangga dari 15 rumah tangga di DSRT yang

sudah dipilih secara sistematik berdasarkan hasil pemutakhiran Maret 2015 (berbeda dengan rumah tangga SUSENAS Maret 2015).

• Tahap 5: memilih keluarga menjadi responden. Apabila dalam rumah

tangga ada lebih dari satu keluarga, maka dipilih dengan cara random.

I. PEMILIHAN RESPONDEN

Responden adalah kepala keluarga/ rumah tangga. Biasanya satu rumah tangga adalah 1 keluarga. Responden diharapkan mewakili karakteristik kesejahteraan keluarga tersebut. Dengan demikian tidak ada kesulitan dalam proses pemilihan responden. Jika dalam satu rumah tangga terdapat lebih dari satu keluarga, maka dilakukan pemilihan satu keluarga. Proses pemilihan satu keluarga dari sejumlah keluarga menggunakan proses randomisasi, sebagai berikut:

• Tentukan jumlah keluarga dalam rumah tangga misalkan N, berikan

nomor urut berdasarkan usia kepala keluarga, dimulai dari keluarga dengan usia kepala keluarga tertua.

• Catat nomor urut sampel rumah tangga termasuk rumah tangga

cadangan (1-15)

• Selanjutnya memilih keluarga secara random dengan cara undian.

J. PEMBOBOTAN (Weighting)

Berdasarkan metode sampling yang direncanakan, hasil pembobotan

(34)

Tabel 2.2: Indirect Estimate Provinsi dan Indonesia

12. SUMATERA UTARA 1.19 3266792 1544 2518 3887482

14. RIAU 1.12 1532031 605 2836 1715875

18. LAMPUNG 1.08 2066014 955 2336 2231295

32. JAWA BARAT 1.15 12458771 3083 4647 14327587 35. JAWA TIMUR 1.17 10754344 2338 5382 12582582

51. BALI 1.17 1102843 225 5735 1290326

52. NUSA TENGGARA BARAT

1.19 1348128 1870 858 1604272

61. KALIMANTAN BARAT

1.11 1118359 1257 988 1241378

64. KALIMANTAN TIMUR

1.13 856720 880 1100 968094

73. SULAWESI SELATAN

1.15 1961492 1826 1235 2255716

76. SULAWESI BARAT 1.21 287681 398 875 348094

91. PAPUA BARAT 1.15 193654 300 742 222702

Indirect Estimate Indonesia

TOTAL 1.15 65785334 15281 4951 75653134

(35)

BAB III KAJIAN PUSTAKA

A. KESEJAHTERAAN SOSIAL

Kesejahteraan sosial dideinisikan dalam berbagai perspektif, yaitu (1) kesejahteraan sosial sebagai sebuah aktivitas atau sistem yang terorganisasi, (2) sebagai kondisi sejahtera dan (3) sebagai disiplin ilmu (Suharto, 2005; Adi, 2008; Fahrudin, 2013). Memperhatikan perspektif dalam mendeinisikan kesejahteraan sosial, maka deinisi kesejahteraan sosial yang digunakan di dalam survei ini, yaitu kesejahteraan sebagai kondisi sejahtera (well-being). Konsep kesejahteraan sosial yakni suatu keadaan yang lebih baik, kebahagiaan dan kemakmuran yang terdiri dari tiga elemen yang sangat penting yaitu:

A condition of social welfare (or social well-being) is conceived of as comprising three elements. hey are, irst, the degree to which social problems are to managed, second, the extent to which needs are met and inally, the degree to which opportunities for advancement a provided. hese three elements apply to individuals, families, groups, communities and even whole societies. (Midgley, 1995).

Dikemukakan oleh Midgley et.al. bahwa kesejahteraan sosial sebagai “a condition or state of human wel-being”. Kondisi sejahtera terjadi manakala kehidupan manusia aman dan bahagia karena kebutuhan dasar akan gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal dan pendapatan dapat dipenuhi; serta manakala manusia memperoleh perlindungan dari risiko-risiko utama yang mengancam kehidupannya. Suharto, dkk. (2003), mendeinisikan kesejahteraan sosial sebagai kemampuan orang (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat) dan sistem sosial (lembaga dan jaringan sosial) dalam memenuhi/merespon kebutuhan dasar, melaksanakan peranan sosial, serta menghadapi goncangan dan tekanan (shocks and stresses). Kebutuhan dasar berkaitan dengan pendapatan, pendidikan dan kesehatan. Peranan sosial dimaksud sesuai dengan status sosial, tugas-tugas dan tuntutan norma lingkungan sosialnya. Kemudian, goncangan dan tekanan terkait dengan masalah psikososial dan krisis ekonomi.

(36)

dilakukan oleh kelompok-kelompok ilantropi, dan juga bukan bantuan publik yang diberikan oleh pemerintah. Kesejahteraan sosial akan terjadi ketika keluarga, masyarakat semua mengalami kesejahteraan sosial. Sejalan dengan pendapat tersebut Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial sebagai berikut: “Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya”

Mengacu pada konsep tersebut, maka kesejahteraan merupakan suatu hal ideal yang ingin dicapai oleh setiap orang. Usaha untuk mencapai kesejahteraan tak dapat berjalan secara mulus, tetapi terdapat berbagai hambatan dan kendala. Demikian pula untuk mengukur sejauh mana tingkat kesejahteraan seseorang atau sekelompok orang agak sulit untuk menentukan indikatornya. Meskipun demikian pemerintah berusaha memberikan garis kebijakan sebagai kerangka acuan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan seseorang. Kesejahteraan anak tidak terlepas pula dengan bagaimana pola pengasuhan terhadap anak. Sejalan dengan hal tersebut diatas, tujuan kesejahteraan sosial menurut Zastrow adalah :

“he goal of social welfare is to fulill the social, inancial, health, and recreational requierements of all individuals in a society. Social welfare seeks to enhance the social functioning of all age groups, both rich and poor.When nother institutions in our society, such as the market economy and the family, fail at times to meet the basic needs of individuals or groups of people, then social services are needed and demanded (Zastrow, 2004).

Jadi, kesejahteraan menurut Zastrow (2004) adalah memenuhi kebutuhan sosial, inansial kesehatan dan rekreasional bagi individu dalam masyarakat. Haryanto dan Tomagola (1997), menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan dasar (basic needs), dan yang termasuk ke dalam jenis-jenis kebutuhan dasar, yaitu: pangan, sandang, papan dan kesehatan. Kemudian, Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin mendeinisikan kebutuhan dasar adalah kebutuhan pangan, sandang, perumahan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan dan / atau pelayanan sosial. Berdasarkan pengertian tersebut, kebutuhan material merupakan kebutuhan manusia yang berkaitan dengan aspek isiologis.

(37)

dengan hidup layak, yaitu: 1) Economic wellbeing: memiliki pendapatan cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, 2) BeingHealthy: isik, mental sehat dan hidup sehat. 3) Staying Safe: hidup aman, dari bahaya dan eksploitasi dan mampu memelihara keamanan diri. Selain mampu hidup layak, manusia yang sudah mampu memenuhi kebutuhan akan mampu mengembangkan dirinya. Dikemukakan oleh Payne (2007), bahwa yang dimaksud dengan mampu mengembangkan diri, yakni: 1) Enjoying dan

achieving: hidup bahagia dan mengembangkan keterampilan-keterampilan yang berguna bagi kehidupannya, 2) Making positive contribution:

kemampuan berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan dan kontribusi pada masyarakat.

Selanjutnya, konsep keberfungsian sosial dikemukakan oleh Siporin (Fahrudin, 2012) mendeinisikan keberfungsian sosial sebagai berikut:

social functioning refers to the way individuals or collectivities (families, associations, communities and soon) behave in order to carry out their life task and meer their needs. Kemudian, Skidmore, hakeray and Fakey

(Suharto, 2005), bahwa keberfungsian sosial merupakan resultante dari interaksi individu dengan berbagai sistem sosial di masyarakat, seperti sistem pendidikan, sistem keagamaan, sistem keluarga, sistem politik, sistem pelayanan sosial dan seterusnya.

Kesejahteraan sosial dan keberfungsian sosial dapat direalisasikan melalui usaha yang terencana, sistematis dan berkelanjutan serta melembaga dalam bentuk pelayanan sosial. Berbagai terminologi digunakan untuk menjelaskan usaha yang terencana tersebut. Suharto (2007), menggunakan terminologi pembangunan kesejahteraan sosial. Menurutnya, Pembangunan kesejahteraan sosial adalah usaha yang terencana dan melembaga yang meliputi berbagai bentuk intervensi sosial dan pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan manusia, mencegah dan mengatasi masalah sosial, serta memperkuat institusi-institusi sosial. Tujuan pembangunan kesejahteraan sosial adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia secara menyeluruh yang mencakup:

1) Peningkatan standar hidup, melalui seperangkat pelayanan sosial dan jaminan sosial segenap lapisan masyarakat, terutama kelompok-kelompok masyarakat yang kurang beruntung dan rentan yang sangat memerlukan perlindungan sosial.

(38)

3) Penyempurnaan kebebasan melalui perluasan aksesibilitas dan pilihan-pilihan kesempatan sesuai dengan aspirasi, kemampuan dan standar kemanusiaan.

Lebih lanjut dikemukakan oleh Suharto (1997), bahwa ciri utama pembangunan kesejahteraan sosial adalah komprehensif, dalam arti setiap pelayanan sosial yang diberikan senantiasa menempatkan penerima pelayanan (beneiciaries) sebagai manusia, baik dalam arti individu maupun kolektivitas yang tidak terlepas dari sistem lingkungan sosiokulturalnya. Prioritas utama pembangunan kesejahteraan sosial adalah kelompok-kelompok yang kurang beruntung (disadvantage groups), khususnya terkait dengan masalah kemiskinan. Kemudian, Adi (2005) menggunakan terminologi usaha kesejahteraan sosial. Menurutnya, usaha kesejahteraan sosial merupakan suatu program atau pun kegiatan yang didesain secara kongkrit untuk menjawab masalah, kebutuhan masyarakat atau pun meningkatkan taraf hidup masyarakat, yang ditujukan pada individu, keluarga, kelompok-kelompok dalam komunitas, atau pun komunitas secara keseluruhan (lokal, regional dan nasional).

Selanjutnya, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 (Pasal 1, ayat 2) menggunakan terminologi penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Menurut UU tersebut, Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial. Dari pengertian tersebut diketahui unsur-unsur penyelenggaraan kesejahteraan sosial, yaitu:

1) Sebagai upaya yang terarah, terpadu dan berkelanjutan.

2) Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat sebagai pelaku. 3) Bentuk kegiatannya, yakni pelayanan sosial dan pemenuhan kebutuhan

dasar.

4) Sasarannya setiap warga negara Indonesia.

5) Pendekatan yang digunakan meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial.

(39)

other exclusive category (Ward & Birgden, 2007, p. 630) . Secara ringkas Ward dan Birgden menjelaskan, bahwa ada dua nilai dalam hak asasi manusia yaitu kebebasan (freedom) dan kesejahteraan (well being). Survei ini menghasilkan data tentang kesejahteraan sosial di Indonesia. Selain dari deinisi kesejahteraan menurut undang-undang, juga akan diperkuat dengan teori dan konsep menurut para ahli. Adapun dimensi kesejahteraan antara lain :

1) Quality of life (objective living condition dan subjective well-beeing)

2) Social cohesion (disparities, inequalities, social exclusion dan social ties/ social capital)

3) Sustainability (human capital dan natural capital)

4) Dimensions of social change (Sociodemographic and economic structure and values and attitudes)

(Noll, 2004).

Berdasarkan konsep kesejahteraan sosial diatas, yang dimaksud kualitas hidup adalah kombinasi dari kehidupan obyektif yang baik dan apresiasi terhadap kehidupan secara subjectif (Zapt, 1984). Selain itu salah satu dimensi kesejahteraan adalah kohesi sosial. Kohesi sosial mencakup perasaan kebersamaan (sense of belonging), kepercayaan sosial (social trust), dan kerjasama timbal balik (generalised reciprocity and cooperation), serta keharmonisan sosial (social harmony) (Harpham, Grant, & homas, 2002). Kohesi sosial itu ditandai kehidupan yang terhindar pada hal berikut : kesenjangan, ketidak-setaraan dan eksklusiitas sosial. Kesejahteraan juga semestinya bersifat berkelanjutan yang didalamnya menyangkut

human capital dan natural capital. Keberlanjutan kesejahteraan sosial sudah barang tentu dipengaruhi oleh dimensi perubahan sosial terutama menyangkut pada perubahan struktur ekonomi dan sosiodemograi serta perubahan sikap dan nilai.

B. FUNGSI DAN PERANAN KELUARGA

Keluarga merupakan ikatan sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga merupakan wadah bagi individu untuk memperoleh berbagai kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan isiologis, rasa aman, dan sosial. Pada hakekatnya keluarga merupakan hubungan seketurunan maupun tambahan (adopsi) yang diatur melalui kehidupan perkawinan bersama, searah dengan keturunan-keturunan mereka yang merupakan suatu satuan khusus.

Mac Iver and Page (Khaerudin, 2002), mengemukakan bahwa

(40)

and enduring to provide for the procreation and upbringing of children”.

Kemudian Elliot and Merrill (Khaerudin, 2002) mengatakan “… a group of two or more persons residing together who are related by blood, marriage, or adoption.” Bogardus mengatakan bahwa “he family is snall social group, normally composed of a father, a mother, and one or more children, in which afection and responsibility are equitably shared and in which the children are reared to become self controlled and socially motivated persons”.

Dari beberapa deinisi tersebut, menurut Khairudin (2002) suatu keluarga di dalamnya memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

1. Keluarga merupakan kelompok sosial yang kecil yang umumnya terdiri dari ayah, ibu dan anak.

2. Hubungan sosial di antara anggota keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan/atau adopsi.

3. Hubungan antara anggota keluarga dijiwai oleh suasana kasih sayang dan rasa tanggung jawab.

4. Fungsi keluarga ialah merawat, memelihara dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.

Burgess dan Locke dalam Khairuddin (2002) mengemukakan terdapat 4 (empat) karakteristik keluarga yang terdapat pada semua keluarga, yaitu :

1. Keluarga adalah susunan orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah, atau adopsi. Pertalian antara suami dan isteri adalah perkawinan; dan hubungan antara orang tua dan anak biasanya adalah darah dan kadangkala adopsi.

2. Anggota-anggota keluarga ditandai dengan hidup bersama di bawah satu atap dan merupakan susunan satu keluarga; atau jika mereka bertempat tinggal, keluarga tersebut menjadi rumah mereka.

3. Keluarga merupakan kesatuan dari orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi yang menciptakan peranan-peranan sosial bagi suami dan isteri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan saudara perempuan.

(41)

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, kemudian Khairudin (2002) mendeinisikan keluarga sebagai suatu kelompok dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan-ikatan perkawinan, darah atau adopsi, merupakan susunan keluarga sendiri, berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain yang menimbulkan peranan-peranan sosial bagi suami istri, ayah dan ibu, putra dan putri, saudara laki-laki dan perempuan dan merupakan pemeliharaan kebudayaan bersama.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan, bahwa keluarga merupakan kelompok yang disatukan melalui ikatan perkawinan yang menghasilkan peranan. Peranan yang ditampilkan oleh anggota keluarga disesuaikan dengan kedudukannya. Ayah/suami mempunyai peran sebagai kepala keluarga yang melindungi dan mendidik anak-anaknya serta mencari nafkah. Ibu/istri mempunyai peran sebagai pendidik dan pendamping kepala keluarga dalam mengurus keluarga. Dilain pihak, keluarga mempunyai sistem jaringan interaksi yang bersifat interpersonal berdasarkan perannya masing-masing.

Adapun ciri-ciri umum keluarga menurut Mac Iver and Page (Khairudin, 2002) yaitu :

1) Keluarga merupakan hubungan perkawinan;

2) Berbentuk perkawinan atau susunan kelembagaan yang berkenaan dengan hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk dan dipelihara; 3) Suatu sistim tata nama, termasuk bentuk perhitungan garis keturunan; 4) Ketentuan-ketentuan ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggota

kelompok yang mempunyai ketentuan khusus terhadap kebutuhan-kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan membesarkan anak;

5) Merupakan tempat tinggal bersama, rumah atau keluarga yang walau bagaimanapun, tidak mungkin menjadi terpisah terhadap kelompok keluarga.

(42)

potensi anggota keluarga. Oleh karena itu, keluarga dengan komunikasi dan interaksi sosial yang baik, merupakan keluarga yang mampu mewujudkan ketahanan keluarga. Sebagaimana dikemukakan oleh Achir (1994), bahwa “suatu keluarga dikatakan memiliki ketahanan dan kemandirian yang tinggi bila keluarga itu dapat berperan optimal dalam mewujudkan seluruh potensi anggota-anggotanya. Karena itu, tanggung jawab keluarga meliputi tanggung jawab terhadap kesehatan, pendidikan, ekonomi sosial budaya anggota keluarga”. Selanjutnya Yaumil (1994) mengemukakan “fungsi keluarga meliputi; fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan atau proteksi, fungsi refroduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi pengembangan lingkungan”.

Kesejahteraan keluarga mengacu kepada kondisi-kondisi yang memungkinkan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan anggota keluarga. Pemenuhan kebutuhan ini akan berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan dan perkembangan keluarga, yang pada gilirannya akan berpengaruh pula pada kemampuan pelaksanaan peranan sosial anggota keluarga. Terkait dengan pemenuhan kebutuhan keluarga, menurut Abraham Maslow (Khairuddin, 2002) pada setiap manusia memiliki kebutuhan yang memerlukan pemenuhan, yaitu:

1) Kebutuhan isiologis (isiological needs). Kebutuhan isiologis ini merupakan kebutuhan yang berkaitan dengan kelangsungan hidup atau kebutuhan untuk mempertahankan hidup secara isik, seperti kebutuhan akan makanan, minuman, seksual, tempat tinggal, pakaian. 2) Kebutuhan akan rasa aman (safety need). Kebutuhan ini merupakan

kebutuhan yang mendorong individu anggota keluarga untuk memperoleh perlindungan, jaminan atau terbebas dari segala ancaman, kepastian dan keteraturan dari keadaan lingkungannya.

3) Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (need for love and belongness). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional dengan individu anggota keluarga lainnya, seperti kebutuhan untuk dicintai dan mencintai sehingga anggota keluarga tersebut merasa dibutuhkan.

4) Kebutuhan akan rasa harga diri (need for self esteem), yaitu kebutuhan yang diarahkan kepada penghargaan seseorang dari dirinya dan keluarganya serta lingkungannya, seperti kebutuhan untuk berprestasi, memperoleh kompetensi, rasa percaya diri atas apa yang dilakukan, dan kemandirian.

(43)

diri sesuai dengan keinginan dan potensi yang dimilikinya seperti berprestasi, karier dan keahlian dalam salah satu bidang pekerjaan.

Selanjutnya, dikemukakan oleh Khairuddin (2002) bahwa setiap keluarga memiliki sejumlah fungsi, yaitu: fungsi biologis, fungsi afeksi dan fungsi sosialisasi. Keluarga merupakan tempat lahirnya anak-anak. Fungsi biologis orang tua adalah melahirkan anak-anaknya. Fungsi ini merupakan dasar keberadaan dan keberlangsungan suatu masyarakat. Selanjutnya, orang tua (ayah/suami atau istri/ibu) harus mempunyai peran dalam memberikan kesempatan hidup pada anggotanya. Peran yang ditampilkan dalam memberikan kesempatan hidup ini harus diikuti oleh perilaku memberikan makanan, pakaian dan membiasakan cara hidup yang sehat pada anak-anaknya.

Di dalam keluarga biasanya terjadi hubungan sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi atau kasih sayang. Hubungan kasih sayang tersebut terjadi antara anak dengan orang tua, suami dengan istri atau adik dengan kakak. Hubungan afeksi ini tumbuh sebagai akibat dari hubungan cinta kasih yang menjadi dasar perkawinan, sehingga lahirlah hubungan persaudaraan, persahabatan, persamaan dan kebiasaan bersama. Namun apabila dalam keluarga tersebut mengalami permasalahan berkaitan dengan kemiskinan, maka fungsi afeksi ini akan terganggu.

Fungsi sosialisasi menunjukkan peranan dalam membentuk kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga, anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita, nilai dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Orang tua (ayah atau ibu) mempunyai kewajiban dan mempunyai peran dalam menanamkan nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga dan lingkungannya (masyarakat) untuk mempersiapkan dan mengantarkan anak dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak adanya peranan orang tua (ayah atau ibu) yang memberikan pendidikan tentang sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai masyarakat, maka anak menjadi kurang memahami yang akhirnya akan menimbulkan sikap dan pola perilaku yang melanggar norma dan nilai yang ada di masyarakat. Dengan kata lain anak tersebut akan mempunyai pola perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma masyarakat.

(44)

setiap anggota keluarga. Pembagian dan pemberian tugas serta fungsi tersebut akan memposisikan anggota keluarga pada suatu kedudukan diantara anggotanya. Kedudukan tersebut dapat dilihat dari statusnya sebagai ayah, ibu dan anak, adik, kakak. Tentunya dengan adanya status tersebut, di dalamnya terdapat peranan-peranan yang harus ditampilkan. Peranan-peranan tersebut disesuaikan dengan statusnya serta disesuaikan dengan tugas dan fungsinya.

Salah satu aspek yang penting untuk dicermati terkait dengan pelaksanaan peran dan fungsi keluarga adalah ketahanan (resiliensi) keluarga. Walsh (2003) menjelaskan bahwa terdapat 3 hal yang terkait dengan ketahanan keluarga yakni sistem keyakinan keluarga, pola organisasi keluarga dan proses pemecahan atau komunikasi dalam keluarga. Sistem keyakinan keluarga terbangun berdasarkan persepsi mengenai ancaman, tantangan, dan peristiwa trauma yang terjadi di masa lampau. Pikiran, perasaan dan tindakan yang didasarkan pada kegagalan dan kelemahan yang menguatkan perasaan tidak berdaya. Sistem organisasi keluarga terkait dengan kemampuan keluarga dalam mengakses sistem sumber sosial dan ekonomi. Sementara terkait dengan proses komunikasi dalam pemecahan masalah meliputi proses komunikasi yang jelas, ekspresi emosi yang terbuka, dan pemecahan masalah yang kolaboratif. Dengan komunikasi yang jelas dan terbuka dapat meningkatkan hubungan dalam keluarga secara lebih baik dan membangun kesamaan pemahaman terhadap segala krisis, konlik maupun harapan baik dimasa sekarang, maupun dimasa yang akan datang (Walsh, F, 2003).

Sebagai kesatuan ekonomi, pusat untuk berproduksi, untuk mendatangkan penghasilan, dan untuk konsumsi, keluarga semakin diakui fungsinya. Namun demikian, kadangkala fungsi keluarga tersebut tidak dapat dilaksanakan karena terjadinya kemiskinan. Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 42 tahun 1981, Departemen (Kementerian) Sosial mengentaskan masyarakat lapisan bawah yang rentan dan kurang beruntung; yaitu (1) mereka sebagai kelompok fakir, yaitu orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan, (2) kelompok miskin, yaitu orang yang mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan.

(45)

menggunakan tolak ukur uang, batas garis kemiskinan. Keluarga miskin merupakan kelompok yang memiliki ketidakberuntungan. Chambers (1987) mengemukakan, bahwa keluarga miskin dapat dikelompokkan ke dalam lima kelompok ketidakberuntungan, yaitu :

Pertama, Keluarga yang miskin. Tidak ada atau sedikit sekali memiliki kekayaan. pondok, rumah atau tempat tinggalnya kecil, terbuat dari kayu, bambu, tanah liat, jerami, alang-alang, daun nipah atau kulit binatang; dilengkapi sedikit perabot keluarga; sebuah ranjang tua, tikar, beberapa alat masak dan sedikit peralatan lainnya. Tidak mempunyai lahan garapan atau sedikit sekali, sehingga tidak dapat menunjang kebutuhan hidup atau menjadi penyanga. Juga tidak memiliki ternak piaraan, atau hanya beberapa ekor saja (ayam, itik, kambing, babi atau tidak mempunyai sapi atau kerbau). Keluarga selalu dalam keadaan berhutang, kepada tetangga, sanak keluarga, dan pedagang baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang. Produktivitas tenaga kerja keluarga sangat rendah; kalau bertani, lahannya sempit sekali atau gersang, kalau tidak bertani, tidak atau sedikit sekali menguasai produksinya, itulah yang pokok dan seringkali kekayaan produktif satu-satunya adalah tenaga kerja anggota keluarga. Persediaan dan arus makanan atau uang dalam keluarga sedikit sekali, tidak menentu musiman dan tidak mencukupi. Keluarga tergantung pada seorang majikan yang kadang-kadang memberinya kerja atau penghasilan sekedar untuk dapat bertahan hidup, yang dari segi lain dapat dilihat sebagai cerminan dari daya tahan dan kekenyalan dalam mengarungi arus kehidupan yang keras. Hasil kerja berupa sedikit makanan atau uang, hanya cukup untuk sekali makan atau persediaan sehari. Semua anggota keluarga bekerja semampunya kecuali yang masih kecil, terlalu tua, cacat atau sakit parah. Anggota keluarga wanitanya bekerja puluhan jam sehari mengurus keluarga dan mencari penghasilan di luar rumah. Tingkat pendapatan keluarga rendah, dan pada musim paceklik lebih rendah lagi, sekiranya masih ada sesuatu yang dapat dikerjakan.

(46)

mempunyai banyak anak kecil yang perlu dirawat dan diberi makan tanpa mendatangkan penghasilan karena belum kuat bekerja; atau keluarga dengan orang dewasa yang sakit-sakitan atau cacat karena penyakit atau cedera atau karena kematian anggota keluarga dewasa; atau suatu keluarga yang ditinggalkan oleh anggota keluarga dewasa yang mencari kerja di tempat lain untuk melepaskan diri dari jeratan hutang atau kehidupan yang sulit. Keluarga selalu kekurangan pangan pada musim-musim tertentu, anggota-anggota keluarga lemah jasmani karena parasit, penyakit atau kurang gizi. Tetapi kehamilan, tingkat kelahiran dan kematian bayi di dalam keluarga tersebut tinggi. Bayi-bayi yang dilahirkan rata-rata mempunyai berat badan di bawah normal. Semua anggota keluarga rata-rata bertubuh kecil dengan pertumbuhan badan yang tidak maksimal.

Ketiga, Keluarga tersisih dari arus kehidupan. Rumah tangga keluarga miskin terisolasi dari dunia luar. Tempat tinggalnya di daerah pinggiran, terpencil dari pusat keramaian dan jalur komunikasi, atau jauh dari pusat perdagangan, pusat informasi dan pusat diskusi di desa. Sering buta huruf dan tanpa radio, anggota keluarga tidak mendapat informasi tentang segala sesuatu yang terjadi di luar lingkungan tetangganya. Anak-anak tidak bersekolah atau kalau pun masuk sekolah, umumnya putus sekolah. Anggota keluarga tidak pernah ikut rapat atau pertemuan dan kalaupun hadir tidak pernah ikut bicara. Mereka tidak pernah menerima penyuluhan dari petugas lapangan pertanian atau petugas kesehatan. Kalaupun bepergian, hanya untuk mencari kerja atau minta pertolongan kepada sanak-keluarga. Mereka terikat pada tetangganya karena tingkat kewajiban kepada seseorang yang menjadi sumber kehidupan, atau terikat utang, kebutuhan yang mendesak, atau karena memang tidak mempunyai uang untuk bepergian.

(47)

Kerentanan semakin bertambah pada waktu musim hujan, sewaktu paceklik, atau musim kerja yang bersamaan dengan datangnya penyakit, lebih parah lagi kalau musim hujan dan panen sebelumnya gagal. Keluarga sangat rawan terhadap penyakit dan kematian.

Kelima, Keluarga tidak berdaya. Buta hukum, jauh dari bantuan hukum, padahal harus bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dan pelayanan pemerintah, sehingga menjadi sasaran empuk bagi penyalahgunaan kaum yang lebih kuat. Kedudukan sosialnya berada di tingkat paling bawah. Kedudukannya lemah dalam setiap perkara penggunaan tenaga kerja, menjual hasil produksi atau menjual kekayaannya. Keluarga ini mudah diperas oleh pihak tertentu misalnya rentenir. Menyadari kekuatan kaum kaya dan orang kota serta sekutu-sekutunya, keluarga ini menghindari kegiatan politik yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya dalam hal lapangan kerja, sewa menyewa, permintaan pinjaman dan perlindungan atas dirinya. Keluarga ini menyadari bahwa hanya dengan memasrahkan diri, dia dapat selamat.

Kelima ciri keluarga miskin tersebut, Chambers (1987) mengungkapkan bahwa dua ketidakberuntungan yang harus diperhatikan untuk melihat keluarga miskin, yaitu kerentanan dan ketidakberdayaan. Sebuah keluarga semakin miskin karena kehilangan kekayaan. Untuk memenuhi kebutuhan kecil saja, orang terpaksa harus menukar atau menjual barang yang ada, atau meminjam pada tetangganya, sanak keluarganya, majikan atau pedagang. Untuk kebutuhan yang besar atau kebutuhan yang kecil pada saat “kosong” atau krisis, seringkali orang terpaksa menggadaikan atau menjual barang modalnya sendiri. Apabila untuk memenuhi kebutuhan tersebut, orang terpaksa harus meminjam uang dengan suku bunga tinggi atau menjual harta yang menjadi sumber penghasilannya, maka keluarga tersebut jatuh ke dalam lilitan kemiskinan, seperti roda penggerak yang mundur dengan cepat, yang sulit atau tidak mungkin untuk berbalik, sehingga membuat orang miskin tetap miskin. Lazimnya, kebutuhan yang mendorong seseorang terlilit kemiskinan, berkaitan dengan lima hal, yaitu; kewajiban adat; musibah; ketidakmampuan isik; pengeluaran tidak produktif; dan pemerasan.

(48)

memfungsikan diri sebagai jaring yang menjaring bantuan yang sebenarnya diperuntukan untuk orang miskin. Ketidakberdayaan keluarga miskin juga dimanifestasikan dalam hal seringnya keluarga miskin ditipu oleh orang yang mempunyai kekuasaan baik dalam bidang politik dan ekonomi serta lemahnya keluarga miskin untuk menjalin hubungan kerjasama (to bargain). Ketidakberdayaan keluarga miskin inipun dapat menjadikan keluarga miskin secara cepat menjadi lebih miskin.

C. VARIABEL, INDIKATOR DAN PARAMETER SURVEI

Berdasarkan kajian pustaka, maka variabel, indikator dan parameter pada Survei Kesejahteraan Sosial Dasar (SKSD) sebagai berikut :

Tabel 3.1. Variabel, Indikator dan Parameter Survei

VARIABEL INDIKATOR PARAMETER

• Kualitas Hidup Kondisi Kehidupan Objektif

Pangan, Sandang, Papan

Kesejahteraan Subjektif Persepsi kesejahteraan • Kohesi Sosial Kesenjangan, Kesetaraan

dan Eksklusi sosial

Aksesibilitas layanan Ketersediaan layanan Modal sosial Relasi sosial

Pendidikan • Keberlanjutan Modal Manusia Kesehatan

Modal Alam Rasa aman • Perubahan Sosial Struktur Ekonomi dan

Sosiodemograi

Demograi, Pekerjaan, Penghasilan

Sikap dan Nilai Menjaga Lingkungan alam, Kegotong-royongan, Kesetiakawanan,

Gambar

Gambar 2.1: Peta Blok Sensus
Gambar 2.2 : Daftar Sampel Rumah Tangga (DSRT)
Tabel 4.3. :  Keluarga yang Mengkonsumsi Makanan Pokok Minimal 2 (dua) kali dalam Seminggu Terakhir.
Tabel 4.4. : Frekuensi Keluarga Makan Lauk Pauk Nabati dalam Seminggu Terakhir
+7

Referensi

Dokumen terkait

Keluarga memiliki peranan yang penting dalam konsep sehat sakit anggota keluarganya yang sudah lansia, dimana keluarga merupakan sebuah sistem pendukung yang

Intervensi ini bertujuan untuk membantu anggota keluarga mengerti tentang gangguan yang dialami oleh salah satu anggota keluarganya, membantu memberikan wawasan

Keluarga memiliki peranan yang penting dalam konsep sehat sakit anggota keluarganya yang sudah lansia, dimana keluarga merupakan sebuah sistem pendukung yang

Intervensi ini bertujuan untuk membantu anggota keluarga mengerti tentang gangguan yang dialami oleh salah satu anggota keluarganya, membantu memberikan wawasan

Fenomena keluarga yang terpisah jarak yang satu atau lebih anggota keluarganya tidak tinggal bersama, khususnya yang tinggal di negara yang berbeda, memunculkan

gangguan mobilitas fisik pada Ny.M berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarganya yang sakit di

1) Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggotanya. Keluarga menegnal perkembangan emosional dari anggota keluarganya.. dan tingkah laku ataupun aktivitas yang normal

gangguan mobilitas fisik pada Ny.M berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarganya yang sakit di