• G-20 merupakan forum intergovernmental yang merefleksikan pendekatan multilateral baru dalam menjawab masalah global. G-20 adalah lebih daripada sekedar klub eksklusif, namun klub dengan keanggotaan terbatas dengan mandat global yang sistemik. Lahir sebagai lembaga ad hoc dalam merespon krisis-krisis ekonomi tahun 1990an, namun menjadi sangat penting di dekade awal abad ke-21 dengan munculnya krisis finansial tahun 2007. Munculnya krisis ekonomi di Yunani yang berdampak sistemik ke beberapa negara di Eropa menjadikan forum intergovernmental ini semakin diperlukan. Pentingnya forum ini dalam mendiskusikan solusi bagi krisis ekonomi merupakan dasar argumentasi bagi institusionalisasi G-20, setidaknya dalam pengertian permanen.
• Beberapa responden mempertanyakan secara kritis legitimasi G-20
dan fokusnya eksesif terhadap reformasi struktural finansial daripada pada solusi terhadap dampak sosial dari krisis ekonomi. Beberapa melihat bahwa G-20 hanyalah sekedar alat negara-negara anggota G-7 untuk mempertahankan dominasinya dalam struktur ekonomi global. Beberapa responden peduli terhadap pembentukan G-20 yang dapat mengurangi fungsi kerjasama multilateral yang lebih legitimate seperti PBB. Beberapa responden tidak yakin terhadap komitmen serius untuk mereformasi institusi-institusi Bretton Woods.
Tentang peran Indonesia dalam proses G-20
• Responden sepakat bahwa keanggotaan dalam G-20 memiliki arti
penting bagi Indonesia. Keanggotaannya pada forum yang sangat memiliki prestise memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk meningkatkan daya saingnya, yang penting untuk mempromosikan kepentingan nasional vitalnya.
• KepentingannasionalIndonesiamemilikidimensidomestikdanglobal.
Yang berdimensi domestik adalah meningkatan daya saing bangsa di tingkat internasional dan menjaga stabilitas ekonomi nasional yang tahan terhadap krisis global dan dampak sistemiknya. Menjadi anggota G-20 yang tujuan utamanya untuk mengatasi krisis ekonomi, Indonesia terbantu untuk menangani dampak krisis finansial pada perekonomian
nasional dan untuk membangun struktur ekonomi nasional yang tahan dari krisis serupa dimasa yang akan datang (jika terjadi). Yang berdimensi global adalah ‘tanggung jawab Indonesia untuk turut menjaga ketertiban dunia sebagaimana diatur dalam konstitusi dan perundang-undangan nasional.
• Kepentingan Indonesia juga dapat dibedakan antara prakmatis
dan simbolis. Kepentingan prakmatis Indonesia adalah cara efektif untuk mengatasi krisis ekonmi dan ‘mengantisipasi krisis ekonomi;’, kepentingan simbolis adalah meningkatkan citra Indonesia sebagai negara yang kooperatif dan akomodatif yang siap mengakomodasi bangsa-bangsa lain dalam arena internasional. Dalam kaitan ini, Indonesia menekankan karakteristiknya sebagai negara Muslim yang sedang mengkonsolidaikan demokrasinya. Pidato yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di berbagai kesempatan mengindikasikan kepentingan kuat Indonesia untuk membangun citra positif di mata komunitas internasional.
• Melihat pentingnya G-20 bagi kepentingan strategis Indonesia,
pemerintah Indonesia mendukung penuh G-20. Indonesia telah mengusulkan beragam inisiatif seperti General Expenditure Support Fund dan telah aktif menjadi co-chairperson kelompok-kelompok kerja untuk mereformasi MDBs (2008-2009) dan anti korupsi (2009). Dalam kaitan ini sejumlah perwakilan asing di Jakarta mengapresiasi peran Indonesia dalam G-20.
• Indonesiatelahmelakukanupayaseriusuntukmemenuhikomitmennya
pada G-20. Indonesia telah membuat penyesuaian terhadap kebijakan nasionalnya termasuk di sektor fiskal dan perbankan untuk memenuhi kerangka G-20 bagi pertumbuhan yang kuat, berkelanjutan dan seimbang.
• Namun terdapat beberapa tantangan yang menghambat peningkatan
peran Indonesia dalam proses G-20. Tantangan tersebut meliputi masalah-masalah dalam koordinasi antar kementrian, situasi politik yang penuh perubahan, pertanyaan akan pemahaman Indonesia
terhadap struktur finansial global yang komlek dan keraguan terhadap keanggotaan Indonesia dalam G-20.
• Beberapa responden mengemukakan kritik mereka terhadap sejauh
mana Indoensia telah berupaya memenuhi komitmennya pada G-20. Ini tidak hanya pertanyaan menyangkut kompetensi Indonesia untuk membuat kebijakan strategis di tingkat nasional dalam kerangka G-20, tetapi juga isu kondisi-kondisi ekonomi dan politik yang mendukung penerapan komitmen G-20. Beberapa reformasi lembaga-lembaga domestik sangat penting sehingga Indonesia dapat menjadi anggota komunitas ekonomi terbuka dunia. Pemerintah Indonesia telah dikritik karena keengganannya untuk berdialog dengan LSM.
Keterwakilan ASEAN dalam G-20
• Pertanyaan bagaimana Indonesia dapat membawa ASEAN dalam
G-20 cukuplah menantang. Ada beberapa keterbatasan yang terbukti menghambat Indoensia dalam memainkan perannya untuk “mewakili” ASEAN dalam G-20. Meskipun Indonesia adalah anggota pendiri ASEAN dan hanya anggota ASEAN dalam G-20, Indonesia tidak dapat mengklaim dirinya mewakili ASEAN dalam G-20.
• KeterbatasanlainterkaitdengancaraanggotaASEANmempersesikan
pmbentukan G-20 sebagai forum utama kerjasama ekonomi internasional. Beberapa anggota terkemuka ASEAN telah menunjukkan kritik mereka secara formal menyangkut legitimasi G-20 dan tindakan- tindakan kolektif untuk menunjukkan kepedulian mereka pada PBB. Ini dapat mengindikasikan bahwa anggota-anggota ASEAN memilii pandangan yang berbeda terhadap G-20.
• Namun terdapat kesempatan yang dapat menciptakan kondisi yang
tepat bagi Indoensia untuk memainkan peran strategis pada tingkat regional. ASEAN secara formal memberikan dukungan bagi peningkatan peran G-20 untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkelanjutan dan seimbang seperti diindikasikan dalam pernyataan pemimpin-pemimpin ASEAN tentang Pemulihan dan Pembangunan yang berkelanjutan di ASEAN dalam KTT ke-16 di Hanoi bulan
April 2010. Anggota-anggota ASEAN telah bersepakat bahwa ASEAN seharusnya memberi kontribusi pada proses G-20.
• Sebuah kesempatan juga muncul dari cara anggota G-20 melihat
pentingnya ASEAN dalam arena global. Tuan rumah KTT G-20 memahami bahwa partisipasi perwakilan ASEAN dalam KTT G-20 akan memperkuat legitimasi G-20 terkait dengan mandat global yang diklaimnya sendiri. Banyak pemimpin mengakui ASEAN sebagai satu dari organisasi-organisasi regional yang sangat berpengaruh.
• KetuaASEANdanSekretarisJenderalASEANsecaralangsungdanreguler
menjadi pengamat dalam KTT G-20 sejak KTT di London. Pemimpin- pemimpin G-20 juga telah sepakat bahwa ASEAN seharusnya menjadi satu dari lima pengamat tetap dalam KTT-KTT G-20, di samping Uni Afrika dan negara-negara terpilih lainnya. Ini menciptakan kesempatan besar bagi Indonesia untuk mempromosikan kepentingan ASEAN dalam proses G-20.
• ASEANperlumeyakinkanbahwaG-20mempertimbangkankepentingan-
kepentingan anggota ASEAN dalam membuat komitmen-komitmen G-20. Pembentukan kelompok kontak ASEAN-G-20 merupakan langkah penting untuk meyakinkan bahwa suara ASEAN akan didengar oleh pemimpin-pemimpin G-20. Karenanya Indonesia sebagai satu-satunya anggota ASEAN dalam G-20 dapat berpartisipasi di semua tingkat dapat memberikan keuntungan bagi semua negara anggota ASEAN khususnya jika Indonesia mengakomodasi posisi negara-negara anggota ASEAN.