• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagan 1 Alur kegiatan analisis data

F. Kesimpulan dan Saran

Penelitian menyimpulkan bahwa: pertama, pengelolaan program DII-PGSD melalui SBJJ “sangat efektif”. Akan tetapi sentralisasi pengelolaan tugas oleh UT-Pusat telah menyebabkan munculnya berbagai kasus registrasi, bahan ajar, dan ujian, yang merugikan mahasiswa. Kedua, pengelolaan tutorial DII-PGSD masuk kategori “sedang”, dilihat dari kelayakan kondisi ruangan yang digunakan untuk tutorial; kedekatan lokasi tempat tutorial dengan tempat tinggal mahasiswa; partisipasi aktif mahasiswa dalam kelas tutorial; komunikasi antara tutor dan mahasiswa dalam tutorial; ketepatan waktu penerimaan modul oleh mahasiswa; ketepatan waktu kehadiran mahasiswa dalam tutorial; dan hubungan kerja antara tutor, mahasiswa,

dan pengelola. Ketiga, prestasi belajar mahasiswa DII-PGSD dengan sistem SBJJ “cukup bervariasi” dan secara keseluruhan “belum memuaskan”. Tingkat kelulusan mahasiswa setiap matakuliah menunjukkan hasil “tinggi”. Akan tetapi, tingkat kelulusan semua per semesternya rendah; perolehan IPS dan IPK sebanyak 50-70% berada pada interval 2.00 – 2.74. Tingkat kelulusan program, secara kuantitatif memang menunjukkan hasil “tinggi”, akan tetapi secara “kualitatif” “belum memuaskan”, karena 68.9% IPK yang dicapai berada pada rentangan 2.00–2.74/cukup.

Berdasarkan temuan di atas disarankan:

Pertama, sentralitas pengelolaan tugas di tingkat pusat yang telah menyebabkan munculnya berbagai kasus registrasi, bahan ajar, dan ujian, yang merugikan mahasiswa perlu dikurangi melalui pemberdayaan dan revitalisasi peran dan fungsi UPBJJ dan Pusat-pusat Layanan Mahasiswa sebagai unit pelayanan teknis administratif mahasiswa. Selain itu juga perlu disusun Juknis dan Juklak tentang pelaksanaan kebijakan DII-PGSD secara lebih rinci dan operasional untuk setiap gugus pelaksana, baik bagi pengelola program, pelaksana, pengelola administrasi, penanggungjawab prodi, dan pengelola UPP. Hal ini dipandang penting, agar setiap pelaksana program bisa menjalankan fungsi pengelolaan sesuai dengan tanggungjawabnya masing-masing.

Kedua, pengelolaan tutorial perlu lebih ditingkatkan melalui: penyiapan kondisi ruang tutorial yang lebih layak; memilih lokasi tempat tutorial yang berdekatan atau dapat dijangkau dari tempat tinggal mahasiswa; lebih mempartisipasiaktifkan mahasiswa dalam kelas tutorial dengan menerapkan model-model tutorial yang aktif-partisipatif; meningkatkan komunikasi dua arah antara tutor dan mahasiswa dalam tutorial; pengiriman modul tepat waktu kepada mahasiswa; memantau ketepatan waktu kehadiran mahasiswa dalam tutorial; dan meningkatkan pola-pola hubungan kerja antara tutor, mahasiswa, dan pengelola yang lebih baik.

Ketiga, untuk lebih meningkatkan hasil belajar mahasiswa, perlu dilakukan kaji

39 ulang terhadap aspek: jumlah beban belajar

(SKS) per semester, dengan mempertimbangkan kesiapan, kemampuan, dan kesempatan belajar mahasiswa dalam aktivitas belajar mandirinya; dan aspek sistem penilaian yang berlaku dengan memberikan nilai kontribusi pada kegiatan/tugas tutorial. Daftar Pustaka

Abdurrahman, et.al. (1999). Model-model tutorial. Bahan ajar program akreditasi tutor Universitas terbuka (PAT-UT). PAU-PAI Universitas Terbuka. 31-78. Belawati, T. (1997). Cara mengukur dropout

di Universitas Terbuka. Komunika, No.15/Tahun IV. hal. 6-11.

Darmayanti, T. (2001). Self-directed learning readiness scale: Adaptasi Instrumen Penelitian Belajar Mandiri. (Versi elektronik), Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. 2(2). 1-4. Elison, (1990). Pengaruh kebiasaan belajar,

sikap dan kemampuan dasar terhadap prestasi belajar mahasiswa Universitas Terbuka di lingkungan UPBJJ-UT Palangkaraya. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT.

Farisi, M. Imam. (2001), Masalah-masalah belajar mandiri pada mahasiswa PPD-II GSD Universitas Terbuka, Laporan penelitian tidak diterbitkan. Jakarta: Lemlit-Universitas Terbuka. Haryono, A. (2001). Belajar mandiri: Konsep

dan penerapannya dalam system pendidikan dan pelatihan terbuka/jarak jauh. Dalam Jurnal Pendidikan dan Terbuka dan Jarak Jauh. Vol. 2. Number 2. 15-23.

Harsasi, (1993). Hubungan minat membaca dengan prestasi belajar mahasiswa penyetaraan DII guru SD semester V di kabupaten sragen. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT. Kadarko, W. (2000). Belajar mandiri dalam

konteks pendidikan jarak jauh: Suatu

usaha untuk mencari pola pendekatan belajar yang efektif dalam menempuh studi di Universitas Terbuka. Tesis master tidak diterbitkan, Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta, Jakarta. Kasroen, A. (1992). Studi penjajagan tentang

kasus-kasus pesanan bahan belajar lewat surat ke distribusi UT pusat menjelang masa akhir registrasi. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT.

Keegan, D.(1991). Foundations of distance education. 2nd ed. London: Routledge.

Kesuma, R. et.al. (1995). Upaya meningkatkan kualitas pendidikan jarak jauh. dalam Komunika, No.12/Tahun II. 12-16. Moore, M.G. & Kearsley, G. (1996). Distance

education: A system view. California: Wadsworth.

Mulyadijaya. I.S. (1993). Studi terhadap tingkat kesalahan mahasiswa dalam mengisi lembar jawab ujian (LJU) sistem komputer di Universitas Terbuka. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT.

Musa, I., Sulistiorini, & Imawati, L. (1993). Efektifitas penyelenggaraan dan tingkat manfaat ekonomi program penyetaraan D-II PGSD. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT.

McMillan, J.H. & Schumacher, H. (2001). Research in education: A conceptual introduction. fifth edition. New York: Addison Wesley Longman, Inc. Nawawi. H. et.al. (1993). Studi perbandingan

mengenai motivasi dan prestasi belajar mahasiswa PGSD setara D II proyek dan program swadana dengan cara belajar jarak jauh. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT.

Nurhasanah. (1992). Peranan UPBJJ dalam mengurangi kasus registrasi dan ujian

mahasiswa. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT. Nuzia, W.Z. (1990). Kesesuaian antara GBPP

dengan modul matakuliah IPS-I program D-II penyetaraan guru SD di FKIP UT. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT.

Rumanta, M. (1991). Readibility materi pokok pendidikan ilmu pengetahuan alam I edisi pertama program penyetaraan DII guru SD di FKIP Universitas Terbuka. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT.

Suparman, A. (1991), SBJJ, materi pendukung penataran tutor PGSD, Jakarta: Ditjen. Dikti, Universitas Terbuka,

UT. (1992). Katalog program penyetaraan D-II guru sekolah dasar (edisi kedua).. Jakarta: Depdikbud, Universitas Terbuka.

UT. (1998). Katalog Universitas Terbuka 1998 (Edisi Kedua). Jakarta: Depdikbud, Universitas Terbuka. Rumanta, M. (1991). Readibility materi pokok

pendidikan ilmu pengetahuan alam I edisi pertama program penyetaraan DII guru SD di FKIP Universitas Terbuka. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT.

Sunaryo, P.V.M. (2005). Strategi belajar mahasiswa PPD-II PGSD Universitas Terbuka. (Versi elektronik), Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh. 6(1). 4-8.

Steiner (tt). What is distance education. Diambil pada tanggal 10 Maret 2006, dari http://www.dlrn.org/ library/ dl/whatis.html..

Teguh & Narzet, Y. (2004). Sikap tutor PGSD Universitas Terbuka terhadap program tutorial. (Versi elektronik), Jurnal Pendidikan, 5(2), 89-100.

Wasono, N.E. (1980). Evaluasi pendirian UPPT kabupaten: Pengkajian tentang pemrosesan pengiriman naskah tugas mandiri dan lembar jawaban tugas

mandiri serta bukti registrasi mahasiswa UT melalui kantor pos masa registrasi 89.2. Abstrak laporan penelitian. Jakarta: Puslitga-UT. Zuhairi. A. (1995). “Pendidikan tinggi massa,

pendidikan jarak jauh dan pendidikan terbuka”. Dalam Komunika, Nomor 12, Tahun 11. 6-11.

41

PEMANFAATAN CERITA ANAK SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN

Dokumen terkait