• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Aspek Manajemen dan Operasional

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Industri biodiesel yang terbuat dari jarak pagar (Jatropha Curcas L) merupakan industri yang potensial untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan karena jarak pagar mampu menjadi sumber energi alternatif (biodiesel) yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar berbasis minyak bumi, sehingga jarak pagar menjadi sumber energi terbarukan (renewable energy), atau lebih tepatnya energi hijau yang terbarukan-Bio Fuel. Selain itu, industri ini sudah mendapat dukungan dari pemerintah dengan dikeluarkannya peraturan-peraturan yang tertuang dalam Inpres dan Keppres RI.

Berdasarkan hasil analisa aspek pasar, potensi pasar industri biodiesel ini masih terbuka, karena saat ini kebutuhan bahan bakar minyak terus meningkat sedangkan persedian mulai berkurang sehingga diperlukan suatu energi alternatif baru. Lokasi yang dipilih untuk industri ini adalah kawasan Pabrik Gula Jatitujuh, Majalengka, Jawa Barat. Berdasarkan perhitungan biaya dan kapasitas produksi, maka harga jual biodiesel adalah Rp. 5.880/kg atau Rp. 4.998/liter. Pabrik biodiesel mempunyai kapasitas produksi total 913 ton/tahun atau 1.074.106 liter/tahun; dengan produksi pertama sebanyak 50 persen dari total kapasitas.

Berdasarkan analisis aspek manajemen, kebutuhan akan tenaga kerja sebanyak 52 orang dan hampir semuanya merupakan tenaga ahli terdidik, karena penggunaan teknologi yang tinggi. Berdasarkan hasil analisis legalitas, industri ini diatur dalam Keputusan Presiden RI. No.10/2006 dan Instruksi Presiden RI No.1/2006 serta dari segi lingkungan, industri ini layak untuk direalisasikan. Selain itu, industri biodiesel dari jarak pagar menghasilkan limbah yang tidak menimbulkan bahaya limbah, baik itu gas berbahaya ataupun limbah cair dan padat yang berbahaya. Limbah yang dihasilkan tersebut dapat dimanfaatkan kembali baik untuk dijual atau diolah oleh pihak pabrik.

Berdasarkan analisis finasial diperoleh dari beberapa parameter kelayakan yang meliputi NPV proyek ini sebesar Rp. 9.973.949.052,- ; IRR mencapai 35,52 persen ; B/C Rasio 2,42 ; dan PBB selama 5 tahun 8 bulan Keseluruhan penilaian kriteria kelayakan tersebut menunjukkan bahwa pendirian pabrik biodiesel dari jarak pagar yang didukung dengan pemanfaatan hasil samping produk berupa bungkil jarak pagar dan gliserol di kawasan Pabrik Gula Jatitujuh layak untuk didirikan oleh PT. RNI. Analisis sensitivitas dilakukan terhadap kenaikan biaya operasional dan penurunan harga jual. Industri akan menjadi tidak layak didirikan apabila mencapai kenaikan biaya operasional sampai 49,01 persen dan penurunan harga jual sebesar 32,05 persen. Pendirian industri pengolahan biodiesel ini harus ditunjang dengan adanya pemanfaatan dari hasil samping selama proses produksi.

B. Saran

Berbagai informasi yang diperoleh dari studi kelayakan ini diharapkan dapat bermanfaat untuk semua pihak khususnya PT. RNI dalam merealisasikan pendirian industri biodiesel jarak pagar. Berikut ini beberapa saran yang perlu dipertimbangkan untuk menyempurnakan penelitian ini: 1. Perlu dilakukan kajian aspek pemasaran khusus dan pengujian pasar

produk biodiesel yang dihasilkan, sehingga dapat ditentukan strategi pasar yang tepat.

2. Perlunya dilakukan penelusuran bahan baku yang berkualitas serta penetapan harga bahan baku jarak pagar yang selama ini belum ada ketentuannya.

3. Perlu adanya implementasi skala pilot plant untuk memperoleh model proses produksi yang dapat mneghasilkan produk biodiesel berkualitas. 4. Analisa manajemen proyek untuk memperkirakan jumlah waktu dan biaya

yang diperlukan untuk membangun industri biodiesel.

DAFTAR PUSTAKA

Ambarita, M. T. D. 2002. Transesterifikasi Minyak Goreng bekas untuk Produksi Metil Ester.Thesis. Program Psca Sarjana IPB. Bogor.

Anonim. 2005. Petunjuk Teknis Budidaya Jarak Pagar (Jatropha curcas). Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Bogor. Bogor.

--- 2005. Jenis-jenis Tumbuhan Lain Yang Potensial Menjadi Sumber Biodiesel. http:// www.creitb.or.id

Ariyoto, K. 1990.Feasibility Study. Mutiara. Jakarta.

Biodiesel group-ITB. 2006. Brosur : Biodiesel, Bahan Bakar Mesin Diesel Terbarukan dan Ramah Lingkungan.

Canakci M, Gerpen J Van. 2001. Biodiesel from oils and fats with high free fatty acids.Trans Am Soc Automotive Engine44:1492-1436.

Djamin, Z. 1984. Perencanaan dan Analisa Proyek. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta

Edris, M. 1993. Penuntun Menyusun Studi Kelayakan Proyek. Sinar Baru. Bandung.

EIA (Energy Information Administration). 2005. International Energy Outlook 2005. Washington DC. Di dalam: Daryanto, Arief. 2005. Kebijakan Pemerintah Untuk Pengembangan Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn). Seminar Nasional Pengembangan Jarak Pagar Untuk Biodiesel dan Minyak Bakar. Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat IPB, Bogor 22 Desember 2005.

FAO (Food Asociation Organisation). Jatropha curcas http://www.fao.org.

Frankel, E. G. 1990. Project in Engineering Service and Development. Butterworth& Co. (Publisher) Ltd. UK.

Germani, M dan Bruna, HJS. Bruna. 2001. Crude Plam Oil as Fifth Energy Sources: Biodiesel Production Technology. Di dalam: Enhancing Biodiesel Development and Use. Proceedings of the Internasional Biodiesel Workshop. Medan, 2-4 Oktober 2001.

Gray, C., P. Simanjuntak, L. K. Sabur, P. F. L. Maspaitella dan R. G. C. Varley. 1992. Pengantar Evaluasi Proyek. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Behrens dan Hawranek, 1991).

Haas W, Mittelbach M. 2000. Detoxification experiments with the seed oil from

Jatropha Curcas L. Indus Corps prod12:111-118.

Hambali, E. et al. 2006. Jarak Pagar Tanaman Penghasil Biodiesel. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hariyadi. 2005. sistem Budidaya Tanaman Jarak Pagar. Disampaikan pada

Seminar Nasional Pengembangan Jarak Pagar (Jatropha curcas Linn) Untuk Biodiesel dan Minyak Bakar. Bogor, 22 Desember 2005.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia III. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan. Yayasan Sarana Wana Jaya, Jakarta: 1952.

Holmes, P. 1998. Investment Appraisal. Internasional Thomson Business Press. London.

Husnan, S. dan Suwarsono. 2000. Studi Kelayakan Paroyek. Edisi Keempat. Penerbit UPP AMP YKPN. Yogyakarta.

Kadariah, L, Karlina dan C. Gray. 1999. Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi Revisi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Ketaren, S. 1986. Pengatar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI. Press. Jakarta

Kotler, P. 2002. Manajemen Pemasaran. Edisi kesepuluh. Jilid kesatu. Terjemahan. PT Prenhallindo. Jakarta.

Kotler, P. 1993. Manajemen Pemasaran. Edisi ketujuh. Jilid kedua. Terjemahan. UI Press. Jakarta.

Machfud dan Agung, Y. 1990. Perencanaan Tata Letak Pada Industri Pangan. PAU Pangan dan Gizi-IPB, Bogor.

Noureddini, H., D. Harkey dan V. Medikonduru. 1998.A Continuous Process for the Conversion of Vegetable Oils into Methyl Esters of Fatty Acids.J. of Am. Oil Chem. Soc. 75 (12) : 1775 1783.

Prihandana, R dan Roy Hendroko. 2006. Petunjuk Budidaya Jarak Pagar. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Soerawidjaja TH. 2002. Perbandingan Bahan Cair alternatif Pengganti Solar. Disampaikan pada Pertemuan Forum Biodiesel Indonesia Ke-7 di Balai Penelitian Penerapan Teknolog. Jakarta.

Simarmata, D. A. 1992. Pendekatan Sistem dalam Analisa Proyek Investasi dan Pasar Modal. PT Gramedia. Jakarta.

Stanton, W.J. 1991. Prinsip Pemasaran. Erlangga. Jakarta.

Sudrajat, H. R. 2006. Memproduksi Biodiesel Jarak Pagar. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sutojo, S. 1983. Studi Kelayakan Proyek. PT. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.

Susilo, B. 2006. Biodiesel. Trubus Agrisarana. Surabaya.

Syah, A.N. 2006. Biodiesel Jarak Pagar. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Tim Jarak Pagar RNI . 2005. Buku Saku Jarak Pagar. PT Rajawali Nusantara Indonesia. Jakarta

Trabi, M. 1998. Die Gifstoffe der Purgiernub (Jatropha curcas L) MSc thesis, Graz University of Technology, Graz.

Umar, H. 2001. Studi Kelayakan Bisnis. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. UNIDO. 1978. Manual for The Preparation of IndustrialFeasibility Studies.

Vienna. Watkins, C. 2001.All Eyes are on Texas.INFORM.

Watt, J.M dan Breyer-Brandwijk, M.G. 1962. The Medical and Poisonous Plants of Southern and Easthtern Africa. Edisi ke-2. E&S. Livingstone.Ltd.,Edinburg and London. Didalam: Duke, J.A. 1983.

Handbook of Energy Crops. Tidak dipublikasikan. Didalam: http//www.hort.purdue.edu.

Yuliana, Dina. 2003. Studi Kelayakan Pendirian Industri Surfaktan Metil Ester Sulfonat dari Minyak Sawit (CPO). Skripsi. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB. Bogor.

L a m p i r a n

Jatropha curcas

-Kayu bakar

-Pelindung Tanaman

Daun Buah Lateks

-Pengembangan ulat sutera Eri -Protease Penyembuh Luka (Kurkaina)

-Obat-obatan -Obat-obatan -Zat anti radang

Biji Kulit buah

- Insektisida -Material bakaran - Pakan ternak (varietas non toksik) -Pupuk hijau

-Produksi biogas

Tempurung Biji Bungkil Biji Minyak Biji -Material bakaran -Pupuk -Produksi sabun

-Biogas -Bahan bakar

-Pakan ternak -Insektisida

(Varietas non toksik) -Obat-obatan

Nama Tanaman Kandungan Minyak per hektar

Setara US gallon/acre Inggris Indonesia Kilogram Liter

Corn Jagung 145 172 18

Cashew nut Jambu mete 148 176 19

Oats Gandum 183 217 23

Cotton Kapas 273 325 35

Hemp Ganja 305 363 39

Soybean Kedelai 375 446 48

Coffee Kopi 386 459 49

Linseed (flax) Rami 402 178 51

Pumpkin seed Biji Labu 449 534 57

Coriander Ketumbar 450 536 57

Sesame Wijen 585 696 74

Safflower - 655 779 83

Rice Beras 696 828 88

Cocoa Cokelat 863 1026 110

Peanuts Kacang tanah 890 1059 113

Opium Poppy Opium 978 1163 124

Rapeseed Lobak 1000 1190 127

Olives Zaitun 1019 1212 129

Castor beans Jarak kepyar 1188 1413 151

Pecan nuts Kemiri 1505 1791 191

Jatropha Jarak Pagar 1590 1892 202

Avocado Avokad 2217 2638 282

Coconut Kelapa 2260 2689 278

Palm oil Kelapa sawit 5000 8950 635

Oil

Filter Press

Spesifikasi mesin

No. Name Of Equipment Capacity Net WT VOLUME CU. MT. 1. OIL EXPELER 125 Kg / hour 500 Kg 1.60 Cu. mt. 2. COOKING KETTLE 125 Kg / hour 150 Kg 0.70 Cu. mt. 3. FILTER PRESS -16" X 16" -

12 PLATES 200 Lit. / hour 450 Kg 0.80 Cu. mt.

Reaktor TransesterifikasiSAVOIA M4 module:

Spesifikasi mesin :

• 1 BD2-D, vacuum dryer 100-200 L/h of oil

• 1 BD2 reactor , dapat menghasilkan rendemen tinggi.

• 1 SA-T pendular compressor, supplying oilless and dry compressed air • Kapasitas: 2000 liter/day.

• Energy : 60 Wh/liter

Lampiran 5. Lanjutan

Keterangan gambar :

Peralatan: A) Heater, B) Mixing tank, C) Centrifuge, D) Gums/water separator, E) Refining tank, F) Centrifuge, G) Heater, H) Vacuum oil dryer, I) Surge tank, J) Continuous Stirred Tank Reactor (CSTR)1, K) Decanter 1, L) CSTR 2, M) Decanter 2, N) Heater, O) Heater, P) Wash Colums, Q) Settler Tank, R) Heater, S) Vacuum ester dryer, T) Collecting tank, U) Heater, V) Glycerol-alcohol stripper, W) Distillation Column/reboiler, X) Reflux condensor, Y) Glycerol tank, Z) Acidulation reactor, and AA) Decanter.

Aliran : 1) Crude oil, 2) Heated crude oil, 3) Phosphoric acid, 4) Soft water, 5) Mixing tank outstream, 6) Gums-water mix, 7) Gums, 8) Water, 9) Degummed oil, 10) NaOH solution 11) Wash Water, 12) Refining tank outstream, 13) Soap stock, 14) Centrifuge outstream, 15) Heatet outstream, 16) Water vapor, 17) Hot oil, 19) Sodium methoxide, 20) Methanol, 21) CSTR 1 outstream, 22) Glycerol phase, 23) Ester phase, 24) Sodium methoxide, 25) Methanol, 26) CSTR 2 outstream, 27) Glycerol phase, 28) Ester phase, 29) Heater outstream, 30) Soft water, 31) Heated wash water, 32) Waste stream, 33) Washed esters, 34) Aqueous phase, 35) Esters, 36) Heated esters, 37) Water Vapor, 38) Biodiesel, 39) Glycerol/aqueous phase, 40) Heater outstream, 41) Super heted stream, 42) saturated methanol vapors andsaturated steam, 43) Methanol Vapor, 44) Distillation column bottoms, 45) Recycled methanol, 46) Hot glycerol solution, 47) Glycerin, 48) HCL solution, 49) Acidulation reactor outstream, 50) Waste, and 51) Product glycerol.

Lampiran 6. Peraturan pemerintah

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2006

TENTANG

TIM NASIONAL PENGEMBANGAN BAHAN BAKAR NABATI UNTUK PERCEPATAN PENGURANGAN KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran melalui pengembangan bahan bakar nabati, perlu membentuk Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran dengan Keputusan Presiden;

1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan

Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4436);

4. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan: KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG TIM NASIONAL PENGEMBANGAN BAHAN BAKAR NABATI UNTUK PERCEPATAN PENGURANGAN KEMISKINAN DAN PENGANGGURAN.

PERTAMA : Membentuk Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Untuk Percepatan Pengurangan Kemiskinan dan Pengangguran yang selanjutnya dalam Keputusan Presiden mi disebut Tim Nasional.

KEDUA : Susunan keanggotaan Tim Nasional adalah: a. Tim Pengarah

1. Ketua Bersama : 1. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian;

2. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat;

2. Anggota :1. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral; 2. Menteri Pertanian;

3. Menteri Kehutanan; 4. Menteri Perindustrian; 5. Menteri Perdagangan; 6. Menteri Perhubungan; 7. Menteri Dalam Negeri; 8. Menteri Keuangan;

9. Menteri Negara Riset dan Teknologi; Memutuskan :

10. Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah;

11. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara; Lampiran 6. (lanjutan)

12. Menteri Negara Lingkungan Hidup; 13. Kepala Badan Pertanahan Nasional; 14. Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

15. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal b. Tim Pelaksana :

1) Ketua : Ir. Alhilal Hamdi;

2) Sekretaris I : Dr.-Ing. Evita Herawati Legowo; 3) Sekretaris II : Dr. Ir. Unggul Priyatno, M.Sc;

4) Anggota :

a. Kelompok Kerja Kebijakan dan Regulasi: 1) Ketua : Ir. J. Purwono, MSEE;

2) Anggota : 1. Dr. Bayu Krisnamurti; 2. Dra. Nenny Sri Utami; 3. Dr. Anny Ratnawati; 4. Erie Soedarmo, Ph.D; 5. Yenny Wahid, MPA. b. Kelompok Kerja Penyediaan Lahan:

1) Ketua : Kepala Badan Planologi, Departemen Kehutanan;

2) Anggota : 1. Deputi Pengaturan dan Penataan Pertanahan, Badan Pertanahan

Nasional;

2. Direktur Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian; 3. Dr. Hermanto Siregar; 4. Dr. Harianto.

c. Kelompok Kerja Budidaya dan Produksi:

1) Ketua Prof. (Riset) Dr. Wahono Sumaryono; 2) Anggota : 1. Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Jklim Usaha dan Investasi; 2. Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia.

3. Direktur Utama PT Rekayasa Industri (PERSERO);

4. Dr. Ir. Agus Eko, M.Eng. d. Kelompok Kerja Pasar dan Harga Produk:

1) Ketua : Direktur Utama PT Pertamina (PERSERO)

2) Anggota : 1. Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Jklim Usaha;

2. Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PERSERO); 3. Jndra Winarno;

4. Drs. Adi Subagyo, MM; 5. Jmmanuel Sutarto. e. Kelompok Kerja Sarana dan Prasarana:

2) Anggota : 1. Direktur Utama PT Barata (PERSERO);

Lampiran 6. (lanjutan)

2. Direktur Utama PT PINDAD (PERSERO);

3. Direktur Utama PT PAL (PERSERO);

4. Direktur Utama PT Waskita Karya (PERSERO);

5. Direktur Utama PT Pupuk Sriwijaya (PERSERO);

6. Direktur Utama PERUM BULOG; 7. Dr. D.S. Priyarsono.

f. Kelompok Kerja Pendanaan:

1) Ketua : Direktur Jenderal Perbendaharaan, Departemen Keuangan;

2) Anggota : 1. Deputi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Bidang Iklim Investasi;

2. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (PERSERO);

3. Direktur Utama PT Bank Mandiri (PERSERO);

4. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (PERSERO);

5. Direktur Utama PT Dana Reksa; 6. Aulia Pohan, S.F.;

7. Patrick S. Waluyo; 8. Gita Wirjawan;

9. Hendi Kariawan, M.Sc; 10. Dr. Yudi Purba Sadewa; 11. Dr. Taufik Sumawinata. KETIGA : Tim Nasional mempunyai tugas:

a. menyusun cetak biru pengembangan bahan bakar nabati untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran;

b. menyusun Peta Jalan (Road Map) pengembangan bahan bakar nabati untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran;

c. menyiapkan rumusan langkah-langkah pengembangan bahan bakar nabati untuk ditindakianjuti oleh seluruh instansi terkait, sebagaimana dimaksud dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain;

d. melaksanakan evaluasi terhadap pelaksanaan pengembangan bahan bakar nabati untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran; e. melaporkan kemajuan pengembangan bahan bakar nabati untuk

percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran secara berkala kepada Presiden.

KEEMPAT : Dalam melaksanakan tugasnya, Tim Nasional bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang engineering serta perusahaan swasta yang terkait untuk melakukan:

a. desain dan rekayasa pabrik biofuel (green energy) dalam berbagai skala/kapasitas produksi lengkap dengan instalasi pendukungnya untuk pelaksanaan program biofuel;

Lampiran 6. (lanjutan)

b. konstruksi pabrik di lokasi yang ditetapkan;

c. pengembangan mesin, peralatan, dan teknologi proses dalam rangka peningkatan produktivitas maupun efisiensi energi.

KELIMA : a. Untuk membantu kelancaran tugasnya, Tim Nasional dapat membentuk Sekretariat dan mengangkat Tenaga Ahli. b. Dalam melaksanakan tugasnya, Tim Nasional dapat meminta bantuan dan pejabat Pemerintah, akademisi, praktisi, atau pihak lainnya yang dipandang perlu.

KEENAM : Tata kerja Tim Pengarah dan Tim Pelaksana ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

KETUJUH : Biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan tugas Tim Nasional dibebankan pada Anggaran Belanja Negara pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara.

KEDELAPAN : Masa kerja Tim Nasional terhitung mulai ditetapkannya Keputusan Presiden mi berlaku selama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang apabila diperlukan.

KESEMBILAN: Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan untuk pelaksanaan Keputusan Presiden mi ditetapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

KESEPULUH : Keputusan Presiden mi mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 24 Juli 2006

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd.

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Salinan sesuai dengan aslinya

Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum, ttd

Lampiran 6. (lanjutan)

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2006

TENTANG

KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa untuk menjamin keamanan pasokan energi dalam negeri dan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan, perlu menetapkan Kebijakan Energi Nasional sebagai pedoman dalam pengelolaan energi nasional;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Kebijakan Energi Nasional;

Mengingat : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuanketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2831);

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3317); 4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran

(Lembaran Negara Republik Indonesia Draft tanggal 14 November 2005 Tahun 1997 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3676);

5. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4152);

6. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4327); 7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN PRESIDEN TENTANG KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL.

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksudkan dengan :

1. Energi adalah daya yang dapat digunakan untuk melakukan berbagai proses kegiatan meliputi listrik, energi mekanik dan panas.

2. Sumber energi adalah sebagian sumber daya alam antara lain berupa

minyak dan gas bumi, batubara, air, panas bumi, gambut, biomasa dan sebagainya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat dimanfaatkan sebagai energi.

3. Energi baru adalah bentuk energi yang dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari energi terbarukan maupun energi tak terbarukan, antara lain : Hidrogen, Coal Bed Methane, Coal Liquifaction, Coal Gasification dan Nuklir.

4. Energi terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumberdaya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain : panas bumi, biofuel, aliran air sungai, panas surya, angin, biomassa, biogas, ombak laut, dan suhu kedalaman laut.

5. Diversifikasi energi adalah penganekaragaman penyediaan dan pemanfaatan berbagai sumber energi dalam rangka optimasi penyediaan energi.

6. Konservasi energi adalah penggunaan energi secara efisien dan rasional tanpa mengurangi penggunaan energi yang memang benar-benar diperlukan.

7. Sumber energi alternatif tertentu adalah jenis sumber energi tertentu pengganti Bahan Bakar Minyak.

8. Elastisitas energi adalah rasio atau perbandingan antara tingkat pertumbuhan konsumsi energi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi.

9. Harga keekonomian adalah biaya produksi per unit energi termasuk biaya lingkungan ditambah biaya margin.

BAB II

TUJUAN DAN SASARAN KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL Pasal 2

(1) Kebijakan Energi Nasional bertujuan untuk mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri.

(2) Sasaran Kebijakan Energi Nasional adalah :

a. Tercapainya elastisitas energi lebih kecil dari 1 (satu) pada tahun 2025.

b. Terwujudnya energi (primer) mix yang optimal pada tahun 2025, yaitu peranan masing-masing jenis energi terhadap konsumsi energi nasional :

1) minyak bumi menjadi kurang dari 20% (dua puluh Lampiran 6. (lanjutan)

3) batubara menjadi lebih dari 33% (tiga puluh tiga persen). 4) biofuel menjadi lebih dari 5% (lima persen).

5) panas bumi menjadi lebih dari 5% (lima persen).

6) energi baru dan terbarukan lainnya, khususnya, Biomasa, Nuklir, Tenaga Air Skala Kecil, Tenaga Surya, dan Tenaga Angin

menjadi lebih dari 5% (lima persen).

7) Bahan Bakar Lain yang berasal dari pencairan batubara menjadi lebih dari 2% (dua persen).

BAB III

LANGKAH KEBIJAKAN Pasal 3

(1) Sasaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dicapai melalui Kebijakan Utama dan Kebijakan Pendukung.

(2) Kebijakan Utama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Penyediaan energi melalui :

1) penjaminan ketersediaan pasokan energi dalam negeri; 2) pengoptimalan produksi energi;

3) pelaksanaan konservasi energi. b. Pemanfaatan energi melalui : 1) efisiensi pemanfaatan energi; 2) diversifikasi energi.

c. Penetapan kebijakan harga energi ke arah harga keekonomian, dengan tetap mempertimbangkan bantuan bagi rumah tangga miskin dalam jangka waktu tertentu.

d. Pelestarian lingkungan dengan menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan.

(3) Kebijakan pendukung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi

a. pengembangan infrastruktur energi termasuk peningkatan akses konsumen terhadap energi;

b. Kemitraan pemerintah dan dunia usaha; c. pemberdayaan masyarakat;

d. pengembangan penelitian dan pengembangan serta pendidikan dan pelatihan.

Pasal 4

(1) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan Blueprint Pengelolaan Energi Nasional setelah berkonsultasi dengan Menteri terkait.

(2) Blueprint Pengelolaan Energi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat sekurang-kurangnya:

a. kebijakan mengenai jaminan keamanan pasokan energi dalam negeri.

b. kebijakan mengenai Kewajiban Pelayanan Publik (Public Lampiran 6. (lanjutan)

Service Obligation).

c. pengelolaan sumber daya energi dan pemanfaatannya. (3) Blueprint sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi dasar bagi

penyusunan pola pengembangan dan pemanfaatan masing-masing jenis energi.

BAB IV

HARGA ENERGI

Pasal 5

(1) Harga energi disesuaikan secara bertahap sampai batas waktu tertentu menuju harga keekonomiannya.

(2) Pentahapan dan penyesuaian harga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memberikan dampak optimum terhadap diversifikasi energi.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai harga energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dan bantuan bagi rumah tangga miskin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) huruf c dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

BAB V

PEMBERIAN KEMUDAHAN DAN INSENTIF Pasal 6

(1) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan sumber energi alternatif tertentu.

(2) Pemerintah dapat memberikan kemudahan dan insentif kepada pelaksana konservasi energi dan pengembang sumber energi alternatif tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian kemudahan dan insentif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri terkait sesuai kewenangan masing-masing. BAB VI

KETENTUAN PENUTUP Pasal 7

Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 25 Januari 2006

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd.

DR.H. SUSILO BAMBANG

Dokumen terkait