• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISA DATA

KASUS INFORMAN III

6.1. Kesimpulan dan Saran 1 Kesimpulan

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia telah menyebabkan terjadinya PHK besar-besaran di sektor industri mereka yang di PHK umumnya adalah kaum buruh masalah PHK ini telah menyebabkan kemiskinan di Indonesia. Kemiskinan yang terjadi di kaum buruh tidak bisa dipisahkan dari kemiskinan yang terjadi dipedesaan atau ditempat lainnya. Hal ini bisa ditunjukkan dari kasus diatas bahwa mereka bukanlah penduduk asli daerah tersebut. Biasanya buruh berasal dari desa terdekat dengan kawasan tersebut.

Kondisi kehidupan buruh sebelum di PHK dan sesudah di PHK tidaklah jauh berbeda karena pendapatan yang mereka dapatkan tidak jauh berbeda

sesudah dan setelah PHK, mereka tetap saja miskin tetapi krisis ekonomilah yang membuat kondisi sosial ekonomi berubah setelah krisis ekonomi kebutuhan hidup semakin mahal dengan gaji yang kecil memperburuk kondisi korban PHK, sebelum di PHK waktu kerja informan tetap tetapi setelah di PHK waktu kerja mereka tidak menetap para korban PHK umunya menggunakan uang yang diperoleh dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Kondisi kehidupan keluarga informan I,II dan III sangat jauh berbeda dimana keluarga yang usia perkawinan masih muda atau keluarga muda yang anaknya paling tua masih duduk dibangku SD/SMP paling merasakan dampak dari PHK karena umumnya keluarga muda belum mempunyai aset keluarga seperti rumah, tabungan dll sehingga rumah masih ngontrak perlu biaya untuk hal tersebut dan juga kebutuhan anak-anaknya seperti kebutuhan sekolah, apalagi krisis ekonomi yang melanda Indonesia di mulai tahun 1998 sudah banyak perusahaan yang mem-PHK karyawannya dan saat itulah kebutuhan pokok yang naik terus, lain halnya jika dibandingkan dengan informan I, II. Sebelum krisis mereka sudah mempunyai tabungan sehingga mempunyai rumah sendiri juga anak mereka telah mampu membantu pendapatan keluarga dengan demikian mereka juga dapat membantu adek mereka. Jadi yang paling merasakan dampak PHK adalah keluarga muda.

Dilihat dari kasus informan I, II kita mengetahui bahwa persoalan dalam masyarakat tidak saja menyangkut persoalan kuantitatif tetapi juga maslah kualitatif karena dalam masyarakat korban PHK jika dihitung pendapatannya tergolong rendah tetapi karena tinggal dilingkup budaya tertentu orang tersebut

merasa tidak miskin, sehingga tidak ada upaya yang lebih dalam meningkatkan pendapatan bahkan merasa cukup dan berterima kasih pada nasipnya hal ini biasanya karena berkaitan dengan nilai – nilai budaya seperti nilai takdir, nasip dll.

Umumnya buruh juga hanya mengenyam pendidikan menengah kebawah hal inilah yang dimanfaatkan oleh perusahaan untuk beralibi untuk menekan upah dan fasilitas yan diberikan. Belum lagi upah lembur, uang makan, uang trasportasi yang dalam perhitungan sering tidak dilakukan dengan jujur semata – mata untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya untuk perusahaan.

Selama ini kita beranggapan bahwa kehidupan korban PHK tidak dapat dilepaskan karena kondisi persoalan ekonomi, hal ini tidak selamanya benar dari kasus diatas kita mengetahui sebagian keluarga korban PHK sebenarnya mampu untuk meningkatkan perekonomiannnya tetapi korban PHK tetap miskin karena persoalan-persoalan non – ekonomi ( sosial, budaya dan politik ) misalnya kaum buruh adalah lapisan yang secara ekonomis miskin akan membentuk kantong-kantong kebudayaan yang disebut budaya kemiskinan demi kelangsungan hidup. Budaya miskin ini dapat dilihat dari nilai-nilai apatis, apolistis, fatalistil, ketidak berdayaan dari nilai ketidak berdayaan ini misalnya masyarakat korban PHK akan merasa tidak berdaya jika sudah berhadapan dengan sosial politis. Apabila budaya ini tidak dihilangkan maka rumah tangga korban PHK akan susah untuk meningkatkan perekonomiannya.

Persoalan lain dalam kehidupan buruh korban PHK adalah adanya perbedaan sikap terhadap pendidikan, etnis tertentu menilai tinggi terhadap

pendidikan maka etnis tersebut melakukan investasi lebih banyak untuk pendidikan maka kondisi tersebut akan mempengaruhi dunia kerja etos kerja berpengaruh kepada kepada produktivitas dari kasus diatas keluarga informan I sebenarnya mampu untuk menguliahkan anaknya tetapi karena pandangan akan pendidikan dan etos kerja yang kurang menyebabkan keluarga informan tidak mengalami perubahan. Rumah tannga korban PHK akan menghasilkan tenaga kerja yang miskin juga karenarumsh tangga korban PHK tidak mampu untuk memberikan pendidikan tinggi kepada anak – anak mereka sehingga nasip mereka akan tidak jauh beda dengan orang tuanya.

Kondisi buruh setelah di PHK sudah sangat mengkhawatirkan karena mereka adalah aset bangsa yang mengerakkan roda perekonomian negara. Para buruh yang di PHK umumnya akan mengalami kendala sabagai berukut :

A. Kesempatan kerja. Buruh yang sudah diPHK akan mengalami kemiskinan karena kondisi yang sudah menganggur, sehingga tidak memperoleh upah atau penghasilan atau jika bekerja tidak penuh, baik dalam ukuran hari maupun ukuran minggu, bulan atau tahun. Hal ini yang sering disebut sebagai gejala setengah menganggur. Apabila buruh tersebut memperoleh upah yang lumayan maka buruh tersebut akan terbebas dari kemiskinan jika dia memanfaatkan dengan baik hasil yang dia peroleh.

B. Upah gaji yang dibawah standart minimum meneyebabkan buruh yang di PHK berpikir kembali dalam mengambil pekerjaan tersebut karena

jika dibandingkan dengan penghasilan buruh dengan ngojek tidak jauh berbeda.

C. Ketiadaan aset. Dalam kasus diatas korban PHK biasanya tidak memiliki aset berupa simpanan tabungan baik yang berupa benda maupun uang sehingga mereka susah untuk membuka usaha baru.

D. Tekanan harga. Pendapatan yang rendah akan sangat berpengaruh dalam pemenuhan kebutuhan yang digunakan oleh korban PHK karena tekanan harga yang tinggi menyebabkan pendapatan yang diperoleh korban PHK semakin sulit.

E. Diskriminasi. Buruh yang di PHK dan telah berumur 30 tahunan keatas akan susah mendapatkan pekerjaan karena faktor dari usia mereka tidak dianggap produktif lagi.

6.1.2 Saran

Adapun saran-saran yang akan disampaikan oleh penulis kepada semua pihak yang terkait dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Sebaiknya pemerintah menaikkan upah minimun untuk para buruh dengan tujuan agar para buruh sebelum di PHK dapat menabung lebih banyak dan setelah di PHK uang yang ditabung dapat digunakan untuk memulai suatu usaha baru karena para korban PHK umumnya susah untuk mendapatkan modal karena tidak adanya jaminan mereka dapat mengembalikan pinjamannya.

b. Kepada pemerintah seharusnya menghapuskan sistim kerja kontrak dan outsourching karena sistem ini sangat merugikan para buruh, sehingga sewaktu – waktu perusahaan dapat memPHK karyawan dengan semena-mena tanpa adanya pesangon dan asuransi jiwa.

c. Kepada pihak yang terkait dengan ketenaga kerjaan baik pemerintah maupun swasta dituntut kerja samanya agar memberi perhatian kesejahteraan dan perlindungan keselamatan terhadap tenga kerja/buruh.

d. Pemerintah memberi kemudahan bagi kaum buruh dalam memperoleh akses dalam berbagai pelayanan sosial seperti pengobatan, pendidikan, keluarga berencana air bersih, sanitasi dll untuk meningkatkan ketahanan keluarga.

e. Lebih mengoptimalkan peranan Dinas Sosial dan menciptakan banyak pekerja sosial karena masalah setelah buruh di PHK bukan semata-mata masalah ekonomi tetapi harus ada yang memberikan motivator, bimbingan dan strategi bagi korban PHK untuk bangkit dari keterpurukan untuk merubah budaya pasrah.

f. Pemerintah memberi kemudahan bagi kaum buruh dalam memperoleh pinjaman ke Bank untuk memulai suatu usaha baru setelah mereka di PHK

Daftar Pustaka

Ahmadi,abu, 2002. Psikologi Sosial.Jakarta: PT Rineka Cipta.

Arikunto, Prof,Dr, Suharsimi, 1997. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta Koentjaraningrat, 1977. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Penerbit

Aksara Baru

Khairuddin, W. 1997. Sosiologi Keluarga. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta Manulang, sendjun, 1988. Pokok-pokok Hukum ketenagakerjaan di Indonesia.

Jakarta: Rineka Cipta

Nazir. M, 1983. Metode Penelitian, Jakarta : Galia Indonesia.

Nawawi, Hadari, 1998. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Nurdin, Fadil, 1989. Pengantar Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial. Bandung: Angkasa

Raharja, Dawam, 1995. “Sebab – sebab kemiskinan” dalam Awan Setya Dewanta (Editor). Kemiskinan dan kesenjangan di Indonesia. Jakarta : Adytia Media

Salim, Peter, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Modern english Press.

Shadily, Hassan, 1961. Sosiologi Untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: Pembangunan.

Singarimbun, Masri, 1981. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.

Subagyo, joko, 1997, Metode Penelitian Dalam Teori Dan Praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sunarto, Kamanto, 2000. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas UI.

Sunindhia,W. 1987. Masalah PHK dan Pemogokan . Jakarta: Bina Aksara

Sumber lain

Harja, Ramita. 2009. data korban PHK di Sumut,

http://www.medanbisnisonline.com/2009/02/20/30-perusahaan-phk-5627-pekerja-di-sumut/. Diakses tanggal 22 Februari 2009 Pukul 15:30 WIB

Modjo, Ikhsan. 2008. Mengantisipasi masalah perburuhan,

2009 Pukul 15:03 WIB

Piningit, Satrio. 2009.krisis ekonomi global,

2009 Pukul 18:53 WIB

Solihin, Akhmad. 2004. Strategi adaptasi masyarakat miskin.

Suhartono,Edi. 2007. Coping strategis.

htpp://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_07.htm Diakses tanggal 22 Februari 2009 Pukul 16:00 WIB

Dokumen terkait