6.1 Kesimpulan
1. Tidak dijumpai perbedaan bermakna pada indeks trombosit (MPV, PDW dan P-LCR) antara kelompok DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi mikrovaskular (retinopati dan nefropati).
2. Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi mikrovaskular ditinjau dari durasi menderita DM. Jadi, semakin lama pasien menderita DM maka kecenderungan mendapatkan komplikasi mikrovaskular menjadi lebih besar.
6.2 Saran
1. Diperlukan penelitian selanjutnya dengan pemeriksaan HbA1c untuk menilai kontrol glikemik dan melihat hubungannya dengan kejadian komplikasi mikrovaskular dan nilai indeks trombosit dan pemeriksaan agregasi trombosit untuk melihat fungsi dan aktivasi trombosit
2. Pada penderita DM tipe 2 yang berusia lebih dari 40 tahun disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya komplikasi mikrovaskular diabetik, sehingga angka kecacatan dan angka kematian pada penderita DM tipe 2 dapat dikurangi.
BAB 7 RINGKASAN
Diabetes melitus (DM) dikenal sebagai ‘‘prothrombotic state’
dengan reaktivitas trombosit yang meningkat. Peningkatan reaktivitas trombosit ini diduga memegang peranan penting dalam perkembangan komplikasi mikrovaskular diabetik. Aktivasi trombosit dan potensi agregasi berperan penting dalam aterogenesis dan trombogenesis, dan dapat dengan mudah diperkirakan dengan mengukur Mean Platelet Volume (MPV) yang merupakan bagian dari pemeriksaan darah lengkap menggunakan Automated cell counters (Bath & Butterworth, 1996;
Bancroft AJ dkk, 2000).
MPV merupakan salah satu parameter dari indeks trombosit.
Indeks trombosit yaitu Mean Platelet Volume (MPV) menggambarkan volume trombosit rerata yang merefleksikan perubahan morfologi akibat rangsangan atau aktivasi trombosit16, Platelet Distribution Width (PDW) yang menggambarkan keheterogenan dari ukuran trombosit dan Platelet Large Cell Ratio (P-LCR) yang menggambarkan rasio trombosit-trombosit berukuran lebih besar. Nilai MPV sering digunakan dalam beberapa penelitian pada penderita diabetes. Dijumpai peningkatan nilai MPV pada pasien-pasien dengan sindroma metabolik, strok, hiperkolesterolemia dan diabetes. Nilai MPV yang lebih tinggi juga dijumpai pad penderita dengan retinopati dan nefropati diabetik. Sejak meningkatnya angka kematian,
kecacatan dan besarnya biaya pemeliharaan kesehatan akibat komplikasi mikrovaskulat diabetik maka diperlukan indikator yang tepat, praktis,mudah dan murah untuk memprediksi komplikasi mikrovaskular diabetik sehingga kejadian komplikasi dapat dikurangi.
Penelitian ini bertujuan umtuk menilai indeks trombosit (MPV, PDW dan P-LCR) pada penderita DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi mikrovaskular (retinopati, nefropati atau neuropati).
Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional (potong lintang). Dilakukan di Departemen Patologi Klinik dan bekerja sama dengan Divisi Endokrinologi Departemen Penyakit dalam Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / RSUP Haji Adam Malik Medan. Penelitian dilakukan pada bulan September 2012 sampai dengan bulan Maret 2013. Populasi penelitian adalah pasien DM tipe 2 yang berkunjung ke Poliklinik Endokrinologi RSUP Haji Adam Malik Medan.
Subjek penelitian adalah penderita DM tipe 2 yang memenuhi kriteria subjek penelitian. Adapun kriteria inklusinya adalah bersedia ikut dalam penelitian, penderita DM tipe 2 ( pasien baru atau pasien lama) berumur antara 40-65 tahun.
Kriteria Eksklusi adalah penderita DM tipe 2 dengan jumlah trombosit abnormal, menderita penyakit keganasan hematologi dan kelainan hemostasis, kehamilan, menjalani hemodialisa, menderita
komplikasi makrovaskular (riwayat penyakit jantung, strok, dan penyakit arteri perifer), dan ulkus diabetikum.
Penderita DM tipe 2 ditegakkan berdasarkan kriteria ADA 2010-2011 & PERKENI 2010-2011, atau adanya riwayat memakan obat antidiabetik atau injeksi insulin. Dilakukan anamnesa dan pemeriksaan rekam medis pada semua subjek penelitian setelah informed consent. Kemudian subjek diambil darahnya untuk pemeriksaan darah lengkap dan ditampung urin sewaktu untuk pemeriksaan mikroalbuminuria dan kreatinin urin.
Pemeriksaan darah lengkap untuk menilai jumlah trombosit dan indeks trombosit segera dilakukan dengan memakai alat Sysmex XT 2000i.
Pengukuran mikroalbuminuria dengan metode immunoturbidimetric dan kreatinin urin dengan metode enzymaticdilakukan secara serentak satu kali menggunakan alat Cobas 6000 c501 Analyzer (Roche).
Penderita DM tipe 2 ini dibagi kedalam 2 (dua) kelompok yaitu kelompok DM tipe 2 dengan komplikasi mikrovaskular yaitu DM tipe 2 dengan retinopati dan atau nefropati (40 orang) dan kelompok DM tipe 2 tanpa komplikasi mikrovaskular (30 orang). Adanya komplikasi mikrovaskular seperti retinopati ditegakkan berdasarkan kriteria American Academy of Ophthalmology/AAO dari pemeriksaan funduskopi yang dilakukan di poliklinik mata, nefropati jika terdapat mikroalbuminuria (30–
300 ug/mg kreatinin urin) atau makroalbuminuria (>300 ug/ mg kreatinin urin) dan neuropati jika terdapat parastesia/hiperestesia yang diperoleh dari anamnesa.
Gambaran karakteristik data subjek penelitian kelompok DM tipe 2 disajikan dalam bentuk tabulasi dan dideskripsikan. Untuk melihat perbedaan bermakna nilai indeks trombosit pada kelompok DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi mikrovaskular digunakan uji T independent.
Subjek penelitian penderita DM tipe 2 berjumlah 70 orang terdiri dari 38 orang perempuan dan 32 orang laki-laki dengan rentang umur 40-65 tahun. Kelompok penderita DM tipe 2 dengan komplikasi mikrovaskular dengan rata-rata umur 54 ± 6,87 tahun dan durasi menderita DM selama 5,64 ± 3,46 tahun sedangkan pada kelompok penderita DM tipe 2 tanpa komplikasi mikrovaskular didapat rata-rata umur 54,87 ± 5,98 tahun dan durasi menderita DM selama 2,86 ± 1,99 tahun. Tidak dijumpai perbedaan bermakna pada umur antara kelompok DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi mikrovaskular, sedangkan pada durasi menderita DM dijumpai perbedaan bermakna antara kedua kelompok.
Nilai indeks trombosit yang dijumpai pada kelompok penderita DM tipe 2 dengan komplikasi dibandingkan kelompok DM tipe 2 tanpa komplikasi mikrovaskular adalah nilai MPV (9,81 ± 0,76 Vs 9,97 ± 0,68 fl), PDW (11,44 ± 1,50 Vs 11,81 ± 1,55 fl), dan P-LCR (23,79 ± 4,88 Vs 24,93
± 4,72 %). Tidak dijumpai perbedaan bermakna pada nilai indeks trombosit baik itu nilai MPV,PDW dan P-LCR antara kelompok DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi mikrovaskular.
Berdasarkan penelitian ini, disimpulkan bahwa tidak dijumpai perbedaan bermakna pada nilai indeks trombosit (MPV, PDW dan P-LCR)
antara kelompok DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi mikrovaskular.
Terdapat perbedaan bermakna antara kelompok DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi mikrovaskular ditinjau dari durasi menderita DM. Jadi, semakin lama pasien menderita DM maka kecenderungan mendapatkan komplikasi mikrovaskular menjadi lebih besar.