• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

Dalam dokumen Pemaknaan Hidup Seorang Homoseksual (Halaman 81-88)

V.A. Kesimpulan

Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah dikemukakan pada Bab I

sebelumnya, maka dalam bab ini akan diuraikan kesimpulan yang diperoleh dari

hasil penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Pemaknaan hidup homoseksual di tengah konflik dengan reaksi

lingkungan yang negatif

Pada awalnya, kedua responden menyangkal dan bertanya-tanya tentang

keadaan dirinya yang homoseksual. Mereka berusaha untuk

mengabaikan perasaan terhadap laki-laki yang timbul. Meskipun

demikian, mereka tetap bertahan karena kemudian merasa bahwa ini

adalah sesutau hal yang sudah tidak bisa diubah lagi. Mereka menerima

diri mereka apa adanya dan tidak mempermasalahkan orientasi

seksualnya dengan melakukan hal-hal yang berguna bagi dirinya sendiri

dan orang lain. Responden I berusaha bekerja sebaik mungkin di

kantornya sehingga menempati posisi yang cukup bagus, sementara

Responden II menyibukkan diri dengan mengajar dan membantu di

Sekolah Luar Biasa (SLB) yang dikelola oleh gereja tempanya

berkunjung.

Keinginan untuk mengubah orientasi seksual kerap muncul, meskipun

pasangan hidup membuat mereka bertahan dalam menjalani hidupnya

dan merasa hidup mereak berarti dan bermakna. Pada Responden I

pasangan hidup wanita memberikan harapan bahwa dirinya dapat

mengubah orientasi seksualnya, apalagi dia kemudian menemukan

bahwa perasaan suka dan dorongan seksual terhadap calon istri

memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam usahanya mengubah

orientasi seksual. Pada Responden II pasangan hidup laki-laki lah yang

justru mendorongnya untuk terus bertahan dan berkarya. Fokus untuk

memberi sosok ayah dan pacar bagi pasangan hidupnya membuat

Responden II menyadari bahwa dirinya masih berguna dan dapat

melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain.

Kedua responden sama-sama telah sampai pada tahap perealisasian

makna, dimana Responden I memutuskan untuk menikah dan

membangun keluarga dengan wanita sementara Responden II berusaha

memberikan tabungan dan jaminan bagi pasangannya apabila suatu saat

merka harus berpisah.

2. Pengambilan sikap

Ketakutan akan reaksi negatif yang akan muncul dari lingkugan

membuat kedua responden tetap berusaha untuk menutupi identitas

orientasi seksual mereka. Keduanya beranggapan bahwa masyarakat

dan keluarga belum dapat menerima dan memahami keadaan meraka

yang homoseksual. Responden I memiliki keluarga yang antipati

hasil yang buruk akibat pengakuan yang dilakukan oleh salah seorang

saudara perempuannya yang lesbian.

Oleh karena itu, keuda responden sangat berhati-hati dalam menjalin

hubungan dengan orang lain, terutama dengan sesama homoseksual.

Orang-orang yang ingin berkenalan tidak serta merta diterima begitu

saja. Responden I selalu meminta kartu identitas atau tanda pengenal

orang-orang yang akan berkenalan dengannya. Sementara itu, kedua

responden selalu bersikap selektif dan hati-hati, terutama ketika ingin

bertmeu dengan orang lain. Sedapat mungkin mereka akan berusaha

supaya orang lain tidak mengetahui orientasi seksualnya. Mereka

merasa puas dengan menjalankan dua gaya hidup yang berbeda

meskipun mereka harus mengerahkan tenaga dan usaha yang lebih

banyak.

V.B. Diskusi

Dalam usaha menjawab permasalahan dalam penelitian ini, ditemukan

pula beberapa hal yang menarik untuk dijadikan bahan diskusi, antara lain:

1. Pengaruh/ peran keluarga /lingkungan terhadap munculnya suatu perilaku,

dalam hal ini orientasi seksual yang sejenis.

Responden I merupakan anak ke-6 dari 7 bersaudara yang semuanya

adalah perempuan. Ayahnya memiliki peran yang lemah dalam keluarga

sementara ibunya adalah seorang yang dominan. Oleh karena itu, dapat

disimpulkan bahwa Responden I memiliki keluarga yang didominasi oelh

Responden II merupakan anak ke-2 dari 5 bersaudara. Ayahnya adalah

seorang yang otoriter dan dominan. Ibunya tidak banyak berperan.

Meskipun secara fisik keluarganya terlihat dekat, namun hubungan

perasaan antara orang tua dengan anak tidak terjalin. Dapat disimpulkan

bahwa Responden II berasal dari keluarga yang berjarak.

Kedua hal dia atas sesuai dengan penelitan yang dilakukan oleh Beiber,

dkk (1962, dalam Carroll, 2005) tentang triangulasi ayah-ibu-anak yang

berjarak atau bermasalah memiliki kecendrungan untuk menimbulkan

ketakutan akan heteroseksualitas dalam diri anak yang pada akhirnya

mendorong munculnya orientasi homoseksual.

2. Proses pembentukan suatu tingkah laku, dalam hal ini perilaku

homoseksual.

Responden I mengalami aktivitas seksual pertamanya dengan laki-laki dan

kemudian merasakan kenikmatan dan ketagihan. Oleh karena itu, Ia

kemudian mencari pemuasan seksual dari laki-laki. Pada beberapa

kesempatan, ia dapat memperolehnya tanpa adanya penolakan yang

berarti. Akibatnya, ia semakin merasa bahwa homoseksualitas adalah

suatu hal yang menyenangkan

Responden II menyukai laki-laki sejak kecil, namun ia merasa itu adalah

hal yang wajar. Perilakunya semakin dapat diterima ketika ia melakukan

touching terhadap pasangannya. Merasa mendapat lampu hijau, ia melanjutkan hingga hubungan badan. Tidak adanya penolakan dari

Responden I mengalami perilaku seksual yang menyenangkan dengan

sesama jenis lebih awal dari yang seharusnya, dan akibatnya ia

mengidentifikasikan pengalaman itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan

memilih untuk menjalankan orientasi homoseksual. Hal ini sesuai dengan teori

exotic-becomes-erotic yang dikemukakan oleh Bem (1996). Pengalaman seksual

yang dialami Responden I ketika kecil juga sesuai dengan teori yang dikemukan

oleh Storm (1981) yang menemukan bahwa homoseksual cenderung melaporkan

kontak seksual yang lebih cepat dibandingkan heteroseksual.

3. Struktur nilai

Kedua responden sama-sama telah mencapai tahap penemuan makna

hidup. Meskipun demikian, keduanya menganut struktur nilai yang

berbeda. Responden I cenderung menganut sistem nilai paralel dimana

kesemua aspek nilai memiliki peran dan posisi yang sama, tidak ada yang

lebih dibandingkan yang lain. Sementara itu, Responden cenderung

menganut sistem nilai piramidal dengan pasangan hidup menjadi tujuan

utama dalam menjalani kehidupannya. Ia merasa pasangan hidupnya

adalah satu-satunya hal yang paling berarti dalam hidupnya sekarang, dan

akibatnya ia tidak berani membayangkan bila suatu saat harus berpisah

dengan pasangannya.

4. Kelompok orang yang mencari makna

Dalam proses menjalani kehidupannya, Responden I merupakan orang

yang termasuk di dalam kelompok People in Despair, yaitu mereka

dan menyadari mereka mengejar sesuatu yang tidak memiliki kelanjutan ,

dan sekarang merasa kosong.

Sebaliknya, Responden II merupakan orang yang termasuk di dalam

kelompok People in Doubt, yaitu mereka yang berada dalam keraguan,

sehingga segala sesuatu terlihat negatif dan dipertanyakan. Mereka

mencari tujuan untuk dikejar, ide untuk dipercayai, tugas untuk dipenuhi,

karena mereka menemukan diri mereka berada dalam kekosongan

V.C. Saran-saran

Dengan melihat hasil penelitian yang diperoleh, maka peneliti mengajukan

beberapa saran sebagai berikut:

V.C.1. Saran Praktis

1. Bagi orang-orang yang memiliki orientasi homoseksual hendaknya tidak

terlalu hanyut dalam penyesalan dan penyangkalan. Masih banyak hal

yang bisa dilakukan untuk diri sendiri dan orang lain. Homoseksualitas

hanyalah satu apsek kecil dari sekian banyak aspek yang dapat dijalani

oleh setiap manusia.

2. Kepada keluarga yang memiliki anggota keluarga yang homoseksual

hendaknya dapat menerima dan memahami alasan mereka memilih

orientasi tersebut. Pada kebanyakan kasus, mereka juga tidak ingin

mendapatkan keadaan tersebut, dan oleh karenanya, dukungan dari

keluarga sangat membantu dalam usaha mereka untuk menjadi manusia

3. Kepada masyarakat, hendaknya dapat menerima bahwa homoseksual

adalah bagian dari masyarakat dan keberadaan mereka bukanlah suatu hal

yang baru. Diskriminasi dan stigmatisasi hendaknya dihilangkan karena

dapat membuat kaum homoseksual terisolasi secara sosial.

4. Bagi para praktisi, terutama di bidang klinis, agar dapat memahami konflik

dan kegelisahan yang dialami oleh orang-orang yang menyadari

homseksualitasnya.

V.C.2. Saran Penelitian Lanjutan

1. Agar peneliti selanjutnya melakukan penelitian mengenai makna hidup pada

kaum lesbian atau transeksual sehingga dapat dijadikan bahan pembanding

dengan hasil penelitian ini.

Dalam dokumen Pemaknaan Hidup Seorang Homoseksual (Halaman 81-88)

Dokumen terkait