BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan
penelitian ini pemerintah Kota Pekalongan menunjukkan bahwa terjadi
penurunan alokasi anggaran untuk sektor pendidikan antara tahun
2009-2010. Indikasi penurunan tersebut diakibatkan antara lain karena
34
BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian ini adalah studi kasus. Penelitian studi kasus ini
akan dilakukan di Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman. Penelitian
ini dilakukan untuk mengevaluasi implementasi anggaran pendidikan
tahun anggaran 2009-2014. Data yang diambil berupa distribusi
anggaran dan realisasi belanja langsung dan tidak langsung pada
anggaran pendidikan di Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman tahun
anggaran 2009-2014. Data anggaran dan realisasi anggaran pada
periode ini akan dianalisis secara mendalam kemudian akan
dibandingkan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi
No.13/PUU-VI/2008.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Secara spesifik penelitian ini mengambil tempat di wilayah
Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di
Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta, sedangkan waktu penelitian dapat saya batasi selama 1
(satu) hingga 3 (tiga) bulan dalam tahun berjalan.
C. Jenis Data dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian data yang bersifat
kuantitatif. Jenis data yang akan dipergunakan dalam penelitian
1. Data Primer : Data yang diperoleh langsung dari narasumber berupa
hasil wawancara dengan menggunakan pertanyaan mengenai
kebijakan-kebijakan yang diambil dalam menyusun Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terutama pada anggaran
pendidikan 20%.
2. Data Sekunder : Data yang diperoleh melalui data yang telah diteliti
dan dikelompokan oleh pihak lain yang berkaitan dengan
permasalahan penelitian. Data ini umumnya berupa bukti, catatan
atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip (data
dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan.
Data ini berupa :
a. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pemerintah Daerah
Kabupaten Sleman tahun anggaran 2009-2014.
b. Anggaran Pendidikan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman
tahun anggaran 2009-2014.
c. Laporan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman tahun anggaran
2009-2014.
d. Laporan realisasi anggaran pendidikan Pemerintah Daerah
Kabupaten Sleman tahun anggaran 2009-2014.
D. Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai sumber penelitian
a. Wawancara
Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang diperlukan
secara face to face dengan informan yang sesuai dengan bidang
penelitian. Data ini diambil dengan cara melakukan dialog
langsung dengan narasumber dan peneliti mempersiapkan
daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya yang
bersifat semi struktural yaitu kombinasi antara pedoman
wawancara yang disusun secara terperinci dan disusun secara
garis besarnya saja untuk mendapatkan data berupa penjelasan
komponen-komponen anggaran pendidikan, Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran
2009-2014.
b. Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai berupa
dokumen. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan
berbagai informasi khususnya untuk melengkapi data yang
tidak diperoleh dalam observasi dan wawancara. Dokumentasi
yang diperlukan dalam penelitian adalah data pengelolaan
keuangan mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD), anggaran pendidikan, dan laporan realisasi anggaran
pendidikan tahun anggaran 2009-2014. Data tersebut diambil
E. Variabel Operasional
Pelaksanaan anggaran pendidikan 20% pada Pemerintah Daerah
Kabupaten Sleman sangat penting untuk pemerintah mengeluarkan
perincian lebih lanjut yang dipakai sebagai dasar pelaksanaan
distribusi anggaran dan realisasi belanja langsung dan tidak langsung
pada anggaran pendidikan yang merupakan dokumen dasar
pelaksanaan tersebut. Keputusan untuk pelaksanaan anggaran
pendidikan 20% merupakan tahapan kegiatan yang dibuat oleh
Pemerintah Pusat sebagai pelaksana anggaran pendidikan sangat
penting dalam rangka penyelenggaraan kegiatan pada Pemerintah
Daerah Kabupaten Sleman, maka anggaran pendidikan 20% berarti
bahwa program dan rencana operasional tahunan yang dianggarkan
sudah dilaksanakan.
Definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa anggaran
pendidikan merupakan suatu rencana manajemen mengenai perolehan
dan penggunaan sumber daya yang dinyatakan secara terperinci dalam
bentuk kuantitatif dan dalam suatu periode tertentu. Anggaran
pendidikan 20% ini termasuk serangkaian tindakan antisipasi untuk
menyesuaikan dimasa yang akan datang dengan rencana yang telah
ditetapkan karena itu anggaran pendidikan dipakai sebagai alat
koordinasi dan implementasi antara rencana awal dengan aktivitas
yang sedang berlangsung. Penyusunan anggaran pendidikan yang
untuk melaksanakan rencana anggaran pendidikan 20% yang sudah
dibuat sebelumnya sangat penting dalam rangka penyelenggaran
kegiatan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman, maka dengan
disusunnya penyusunan anggaran berarti bahwa program operasional
tahunan yang dianggarkan untuk pendidikan telah dilaksanakan selama
5 tahun terakhir ini.
Anggaran Pendapatan Belanja Daerah cenderung konsisten
dengan realisasi anggaran pendidikan 20% disektor pendidikan
pemerintah Kabupaten Sleman pada tahun anggaran 2009-2014 yang
dilihat dari aspek finansial dan tata kelola anggaran pendidikan di
sektor pendidikan yang teralokasi dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah yang dilihat dari realisasi anggaran pendidikan
Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman pada tahun anggaran
2009-2014 cenderung efektif dan efisien. Definisi Operasional Variabel
Penelitian, ada beberapa variabel yang menjadi pertimbangan dalam
mengukur efisiensi APBD terhadap anggaran pendidikan dan realisasi
anggaran pendidikan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman.
Variabel-variabel yang digunakan terdiri atas:
1. APBD merupakan suatu rencana keuangan tahunan daerah yang
ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah tentang APBD.
2. Realisasi anggaran pendidikan merupakan perwujudan dari rencana
strategi dalam anggaran pendidikan yang termuat dalam Rencana
Data rasio ini digunakan dengan cara menghitung tingkatan data
dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, anggaran pendidikan
dan laporan realisasi anggaran pendidikan pada tahun anggaran
2009-2014.
F. Teknik Analisis Data
Hasil penelitian yang diperoleh menggunakan metode analisis
deskriptif yaitu suatu penelitian yang menjabarkan data dan informasi
yang diperoleh berdasarkan norma atau aturan secara teoritis maupun
praktis untuk kemudian dianalisis. Metode analisis deskriptif ini
digunakan untuk menganalisis suatu permasalahan dan mengklarifikasi
fenomena yang terjadi, dalam hal ini peneliti mengambil data APBD
tahun anggaran 2009-2014.
Data APBD pada periode ini dapat dilihat besarnya fungsi
anggaran pendidikan dalam Surat Edaran (SE) Menteri nomor
903/2706/53 pada tanggal 8 September 2008 tentang Pendanaan
Pendidikan dalam APBD tahun 2009. Surat Edaran ini ditujukan
kepada Gubernur, Bupati, Walikota dan Ketua DPRD di seluruh
Indonesia. Surat Edaran ini berisi tentang perhitungan mengenai
alokasi fungsi anggaran pendidikan. Tujuan dibuatnya perhitungan ini
untuk menyamakan persepsi terhadap alokasi belanja fungsi
pendidikan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Teknik Analisis data yang digunakan untuk mengevaluasi
1. Peneliti menghitung anggaran pendidikan di Pemerintah Daerah
Kabupaten Sleman periode tahun anggaran 2009-2014. Analisis
anggaran pendidikan dilakukan untuk mengetahui besarnya alokasi
anggaran untuk pendidikan. Langkah-langkah yang dilakukan
peneliti untuk menganalisa data adalah sebagai berikut :
a. Mengelompokkan anggaran belanja langsung pada Dinas
Pendidikan untuk kegiatan fungsi pendidikan (belanja
honorarium/upah, barang dan jasa dan belanja modal) tahun
anggaran 2009-2014, pada Dinas Pendidikan tidak
termasuk belanja untuk pendidikan kedinasan. Disamping
itu peneliti juga mengelompokkan jumlah dana yang
digunakan untuk membiayai belanja kegiatan pada
masing-masing Dinas.
b. Mengelompokkan anggaran belanja tidak langsung pada
Dinas Pendidikan tahun anggaran 2009-2014. Data belanja
tidak langsung adalah data gaji dan tunjangan untuk para
tenaga kependidikan serta pegawai negeri yang bekerja
(Guru, Pamong Belajar, Fasilitator, Penilik, Pengawas
Sekolah dan Pengawas Mata Pelajaran dan sebutan lain
yang sesuai dengan kekhususannya).
c. Mengelompokkan belanja tidak langsung pada Satuan
Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) tahun
adalah jumlah dana yang dibagikan oleh pemerintah untuk
siswa-siswa kurang mampu, dana ini berupa dana bantuan
sosial. Belanja tidak langsung pada SKPKD juga dapat
berupa dana hibah kepada sekolah.
d. Menjumlahkan total anggaran belanja langsung dan tidak
langsung pendidikan tahun anggaran 2009-2014.
Penjumlahan dari anggaran belanja langsung dan tidak
langsung pada dinas pendidikan ditambah dengan anggaran
belanja tidak langsung pada SKPKD.
e. Menjumlahkan anggaran total belanja daerah tahun
anggaran 2009-2014. Belanja daerah digunakan untuk
membiayai seluruh belanja yang terkait dengan urusan
pemerintah. Belanja tidak langsung terdiri dari belanja
pegawai, belanja subsidi, belanja bantuan keuangan, dan
belanja tidak terduga. Belanja langsung terdiri dari belanja
pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal.
f. Menghitung rasio anggaran pendidikan tahun anggaran
2009-2014. Rasio anggaran pendidikan dihitung sesuai
dengan ketentuan yang tercantum dalam Surat Edaran (SE)
Menteri Dalam Negeri Nomor 903/2706/SJ.
g. Kesimpulan dari hasil perhitungan rasio anggaran fungsi
pendidikan tahun anggaran 2009-2014.
Hasil perhitungan ini untuk menunjukkan besarnya
presentase alokasi belanja daerah yang digunakan untuk
membiayai pendidikan. Jika hasil menunjukkan anggaran
pendidikan yang telah dialokasikan lebih besar atau sama
dengan 20%, kesimpulannya bahwa Pemerintah Kabupaten
Sleman telah menjalankan amanat Keputusan Mahkamah
Konstitusi (MK) untuk mengalokasikan
sekurang-kurangnya 20% dari total anggaran belanja daerah untuk
belanja fungsi pendidikan.
2. Peneliti menghitung realisasi anggaran pendidikan di Kabupaten
Sleman periode tahun anggaran 2009-2014. Analisis realisasi
anggaran pendidikan dilakukan untuk mengetahui besarnya
alokasi anggaran untuk melihat apakah dalam penggunaan
anggaran pendidikan, Pemerintah Kabupaten Sleman tetap
konsisten menggunakan seluruh anggaran pendidikan sesuai
kebutuhan. Analisis realisasi anggaran pendidikan dilakukan
dengan langkah-langkah, sebagai berikut :
a. Mengelompokkan realisasi anggaran belanja langsung tahun
anggaran 2009-2014. Data realisasi anggaran belanja
langsung kegiatan akan dijumlah. Analisis akan diuraikan
peningkatan dan penurunan yang terjadi antara anggaran
dan realisasinya.
b. Mengelompokkan realisasi anggaran belanja tidak langsung
tahun anggaran 2009-2014. Realisasi anggaran belanja
tidak langsung pada dinas pendidikan berupa besarnya gaji
tenaga kependidikan, tunjangan, serta tambahan
penghasilan lain. Realisasi anggaran ini juga menunjukkan
adanya peningkatan dan penurunan belanja tidak langsung.
c. Mengelompokkan realisasi anggaran belanja tidak langsung
pada Satuan Kerja Pengelolaan Keuangan Daerah pada
tahun anggaran 2009-2014. Data pada komponen ini berupa
bantuan sosial untuk pendidikan di Kabupaten Sleman.
Realisasi anggaran bantuan sosial dapat dilihat setelah
pencairan dan penyaluran dana bantuan sosial kepada
siswa-siswi yang tercantum dalam daftar penerima bantuan
tersebut.
d. Menjumlahkan total realisasi anggaran belanja langsung dan
tidak langsung pendidikan pada tahun anggaran 2009-2014.
Total realisasi akan diperoleh dari penjumlahan realisasi
anggaran belanja langsung dan tidak langsung dinas
pendidikan, ditambah realisasi anggaran belanja tidak
e. Menjumlahkan realisasi anggaran total belanja daerah pada
tahun anggaran 2009-2014. Realisasi total belanja daerah
merupakan total dana yang telah digunakan untuk
membiayai seluruh belanja daerah baik secara langsung
maupun tidak langsung untuk urusan pemerintahan yang
terdapat di Kabupaten Sleman.
f. Menghitung realisasi rasio anggaran pendidikan pada tahun
anggaran 2009-2014. Realisasi rasio diperoleh dari realisasi
anggaran pendidikan dibagi dengan realisasi total belanja
daerah, dikalikan 100%. Besarnya presentase menunjukkan
jumlah alokasi dana realisasi anggaran pendidikan.
Rumus Perhitungan :
Perhitungan ini dibuat untuk menyamakan persepsi
terhadap alokasi 20% anggaran pendidikan dalam APBD.
g. Kesimpulan dari hasil perhitungan rasio realisasi anggaran
fungsi pendidikan tahun anggaran 2009-2014.
Hasil perhitungan ini untuk menunjukkan besarnya
presentase alokasi belanja daerah yang digunakan untuk
membiayai pendidikan. Jika hasil menunjukkan realisasi
atau sama dengan 20%, kesimpulannya bahwa Pemerintah
Kabupaten Sleman telah menjalankan amanat Keputusan
Mahkamah Konstitusi (MK) untuk mengalokasikan
sekurang-kurangnya 20% total anggaran belanja daerah
46 BAB IV
GAMBARAN UMUM KABUPATEN SLEMAN A. Sejarah Singkat Kabupaten Sleman
Pembentukan wilayah Kabupaten Sleman yang keberadaan dapat dilacak
pada peraturan kerajaan/Kadipaten Pakualaman (Rijksblad) no. 11 Tahun
1916 tanggal 15 Mei 1916 yang membagi wilayah Kasultanan Yogyakarta
dalam 3 Kabupaten, yakni Kalasan, Bantul, dan Sulaiman yang kemudian
disebut Sleman, dengan seorang bupati sebagai kepala wilayahnya.
Berdasarkan Perda no.12 Tahun 1998, tanggal 15 Mei tahun 1916 akhirnya
ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Sleman. Menurut Almanak, hari
tersebut tepat pada Hari Senin Kliwon, Tanggal 12 Rejeb Tahun Je 1846
Wuku Wayang. Beberapa tahun kemudian Kabupaten Sleman sempat
diturunkan statusnya menjadi distrik dibawah wilayah Kabupaten Yogyakarta.
Pada tanggal 8 April 1945, Sri Sultan Hamengkubuwono IX melakukan
penataan kembali wilayah Kasultanan Yogyakarta melalui Jogjakarta Koorei
angka 2 (dua). Penataan ini menempatkan Sleman pada status semula, sebagai
wilayah Kabupaten dengan Kanjeng Raden Tumenggung Pringgodiningrat
sebagai bupati. Pada masa itu, wilayah Sleman membawahi 17
Kapenewon/Kecamatan (Son) yang terdiri dari 258 Kalurahan (Ku). Ibu kota
kabupaten berada di wilayah utara, yang saat ini dikenal sebagai desa Triharjo.
Melalui Maklumat Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor
Kelurahan di Kabupaten Sleman saling menggabungkan diri hingga menjadi
86 kelurahan/desa. Kelurahan/Desa tersebut membawahi 1.212 padukuhan.
B. Keadaan Geografis
1. Batas Wilayah
Kabupaten Sleman merupakan salah satu kabupaten di provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta. Kabupaten Sleman terdiri dari 17 kecamatan.
Berikut ini merupakan batas-batas wilayah Kabupaten Sleman :
Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Boyolali, Provinsi
Jawa Tengah
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Klaten, Provinsi
Jawa Tengah
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan KotaYogyakarta, Kabupaten
Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo,
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan
Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah
2. Keadaan Alam
Secara Geografis Kabupaten Sleman terletak diantara 110° 33 00 dan 110° 13 00 Bujur Timur, 7° 34 51 dan 7° 47 30 Lintang Selatan. Luas Wilayah Kabupaten Sleman adalah 57.482 Ha atau 574,82 Km2 atau
sekitar 18% dari luas Propinsi Daerah Istimewa Jogjakarta 3.185,80 Km2
utara kabupaten ini merupakan pegunungan dengan puncaknya Gunung
Merapi diperbatasan dengan Jawa Tengah, salah satu gunung berapi aktif
yang paling berbahaya di Pulau Jawa, Sedangkan di bagian selatan
merupakan dataran rendah yang subur. Di antara sungai-sungai besar yang
melintasi kabupaten ini adalah Kali Progo (membatasi kabupaten Sleman
dengan Kabupaten Kulon Progo), Kali Code, Kali Kuning, Kali
Opak dan Kali Tapus.
C. Pemerintahan Kabupaten Sleman 1. Visi dan Misi Kabupaten Sleman
a. Visi
Kabupaten Sleman memiliki visi yang merupakan cita-cita yang
ingin dicapai, yaitu “Terwujudnya masyarakat Sleman yang lebih
sejahtera lahir batin, berdaya saing, dan berkeadilan gender". Pengertian
visi ini Masyarakat Sleman yang lebih sejahtera lahir dan batin adalah
masyarakat yang lebih sehat, cerdas dan berkemampuan ekonomi
memadai sehingga dapat mengembangkan kehidupan sosial dan
spiritualnya dengan baik.
Masyarakat Sleman yang lebih berdaya saing adalah masyarakat
yang mampu memanfaatkan keunggulan komparatif secara efektif dan
mampu menciptakan keunggulan kompetitif sehingga dapat bersaing
secara sehat dengan lingkungan lokal, regional dan
internasional. Masyarakat yang lebih berkeadilan gender adalah
hasil pembangunan antara laki-laki dan perempuan, sehingga dapat
mengeliminasi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di segala
bidang.
b. Misi
1) Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik melalui
peningkatkan kualitas birokrasi dalam memberikan pelayanan prima
bagi masyarakat.
2) Meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan dan kesehatan yang
terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
3) Meningkatkan kemandirian ekonomi, pemberdayaan ekonomi rakyat
dan penanggulangan kemiskinan.
4) Memantapkan pengelolaan prasarana dan sarana, sumberdaya alam
dan lingkungan hidup.
5) Meningkatkan pemberdayaan dan peran perempuan di segala bidang.
2. Kepala Daerah
Kabupaten Sleman dipimpin oleh seorang Bupati. Sejak tahun
2010 Kabupaten Sleman dipimpin oleh seorang Bupati bernama Drs. H. Sri
Purnomo, MSi dan seorang Wakil Bupati bernama Hj. Yuni Setia Rahayu
S.S., M.Hum. Bupati dan Wakil Bupati dibantu beberapa staff ahli dalam
menjalankan tugasnya.
Para staff ahli ini membantu tugas bupati dalam berbagai bidang
pembangunan, bidang kemasyarakatan dan sumber daya manusia, serta
bidang ekonomi dan keuangan.
3. Pembagian Wilayah Kabupaten Sleman
Kabupaten Sleman terdapat 17 kecamatan, 86 desa, dan 1.212
dusun. Pemerintahan untuk masing-masing daerah ini dipegang oleh
camat, kepala desa, dan kepala dusun. Berikut ini merupakan data
kecamatan di Kabupaten Sleman :
Tabel 4.1 : Data Kecamatan, Desa, dan Pedukuhan di Kabupaten Sleman
No. Kecamatan Desa Pedukuhan
1. Moyudan 4 65 2. Godean 7 57 3. Minggir 5 68 4. Gamping 5 59 5. Seyegan 5 67 6. Sleman 5 83 7. Ngaglik 6 87 8. Mlati 5 74 9. Tempel 8 98 10. Turi 4 54 11. Prambanan 6 68 12. Kalasan 4 80 13. Berbah 4 58 14. Ngemplak 5 82 15. Pakem 5 61 16. Depok 3 58 17. Cangkringan 5 73
D. Kependudukan
1. Jumlah Penduduk
Pada tahun 2011 jumlah penduduk di Kabupaten Sleman adalah
tercatat sebanyak 1.125.369 jiwa. Jumlah penduduk berjenis kelamin
laki-laki berjumlah 559.302 jiwa (49,70%), sedangkan jumlah penduduk yang
berjenis kelamin perempuan berjumlah 566.067 jiwa (50,30%) dengan
pertumbuhan penduduk sebesar 0,73% dengan jumlah Kepala Keluarga
sebanyak 305.376 jiwa.
Berdasarkan data angkatan kerja tahun 2009 jumlah tenaga kerja
sebanyak 422.490 jiwa, jumlah pengangguran pada tahun 2009 sebanyak
45.534 jiwa (9,73%). Data angkatan kerja tahun 2010 jumlah tenaga kerja
sebanyak 415.295 jiwa, jumlah pengangguran pada tahun 2010 sebanyak
58.295 jiwa (12,31%), sedangkan data angkatan kerja tahun 2011 jumlah
tenaga kerja sebanyak 484.405 jiwa, jumlah pengangguran pada tahun
2011 sebanyak 39.921 jiwa (7,61%).
2. Sosial
Pada tahun 2011 sebagian besar sumber mata pencaharian
penduduk di Kabupaten Sleman bergerak di sektor pertanian sebanyak
28,6%, sehingga jumlah terbesar penduduk menurut lapangan usahanya
sebagai petani. Kabupaten Sleman juga menyimpan banyak potensi pada
Tabel 4.2 : Proporsi Penduduk Kabupaten Sleman yang Bekerja Per Lapangan Usaha (%) Tahun 2011
No. Lapangan Pekerjaan Utama Persentase
1. Pertanian 28,26
2. Pertambangan dan Penggalian 2,47
3. Industri 11,24
4. Listrik, Gas & Air 2,06
5. Bangunan 11,47
6. Perdagangan 10,53
7. Angkutan dan Komunikasi 4,23
8. Keuangan 4,8
9. Jasa-jasa 24,95
Jumlah 100,00
Sumber : www.slemankab.go.id
3. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu pembelajaran pengetahuan, keterampilan,
dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Pendidikan merupakan komponen yang sangat penting
bagi setiap masyarakatnya. Pemerintah sebagai pelaksanaan tugas dalam
suatu pembangunan untuk memprioritaskan pendidikan bagi seluruh
penduduknya. Pemerintah Kabupaten Sleman juga melaksanakan tugas
untuk pembangunan demi tercapainya tujuan negara tersebut, maka
pemerintah membangun sekolah-sekolah sebagai sarana untuk
Tabel 4.3 : Kondisi Pendidikan Kabupaten Sleman Tahun 2010 dan 2011 No. Jenjang Tahun 2010 Tahun 2011 Jumlah Sekolah Jumlah Siswa Jumlah Sekolah Jumlah Siswa 1 TK/RA 519 26.356 521 27.141 2 SD/MI 519 89.335 521 90.622 3 SMP/MTs 121 39.519 123 39.857 4 SMA/SMK/MA 110 33.257 110 34.195 Sumber : www.slemankab.go.id
Berdasarkan data persentase penduduk untuk warga belajar yang
tidak dapat mengakses pendidikan formal telah dilaksanakan kelompok
belajar paket A setara dengan SD, kelompok belajar paket B setara dengan
SMP dan kelompok belajar paket C setara dengan SMA. Pada tahun 2011
kelompok belajar kejar paket jumlahnya berkurang sehingga dapat
disimpulkan bahwa Kabupaten Sleman kualitas pendidikannya mengalami
peningkatan karena masyarakat semakin lebih memahami pendidikan yang
mereka dapatkan sangat penting.
Tabel 4.4 : Kondisi Pendidikan Luar Sekolah Kabupaten Sleman
Tahun 2010 dan 2011
Sumber : www.slemankab.go.id
E. Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
Luas Hutan Rakyat di Kabupaten Sleman pada tahun 2009 mengalami
peningkatan sebesar 2,18% menjadi 4167,41 ha. Pengurangan lahan sangat
kritis 2,59% dan pengurangan lahan kritis sebesar 6,17% ha. Penanaman No. Jenjang Tahun 2010 Tahun 2011
Warga Belajar Warga Belajar 1 Kejar Paket A Setara SD 60 0 2 Kejar Paket B Setara SMP 2.620 360 3 Kejar Paket C Setara SMA 1.040 400
perindang jalan 5.000 batang. Hasil produksi kehutanan adalah kayu bundar
9.422,22 m3, kayu olahan adalah 4.044,27 m3, bambu 691.244 batang, dan
madu 4.030 kg.
Pembangunan taman kota meningkat tajam dari 37.838 m2 pada tahun
2008 menjadi 56.562 m2 pada tahun 2009. Luasa hutan kota di Kabupaten
Sleman dapat dipertahankan 1,5 hektar dan secara kumulatif telah dilakukan
perlindungan terhadap 138 mata air. Dibidang energi alternatif, sampai dengan
tahun 2009 telah dibangun 181 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS),
3 unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), dan 105 unit
instalasi biogas limbah ternak.
F. Ekonomi dan Keuangan
Kondisi perekonomian suatu wilayah dapat dilihat dari neraca
perekonomiannya yang tercermin dalam Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB). Data peningkatan PDRB dapat menunjukkan kondisi makro ekonomi
suatu daerah. Data PDRB Kabupaten Sleman juga menunjukkan kondisi
ekonomi di Kabupaten Sleman. Berdasarkan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
(ADHB) mengalami peningkatan dari tahun 2010 sebesar Rp13.611.725
menjadi Rp14.975.573 pada tahun 2011.
Terdapat empat sektor yang mempunyai kontribusi tertinggi terhadap
pertumbuhan PDRB yaitu sektor pertanian yang mengalami penurunan dari
13,02% pada tahun 2010 menjadi 12,56% pada tahun 2011, sektor industri
sektor jasa-jasa mengalami peningkatan dari 18,80% menjadi 18,48% pada
tahun 2011 dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 22,76% menjadi
23,16% pada tahun 2011. Berdasarkan data PDRB Atas Dasar Harga Konstan
(ADHK) mengalami peningkatan dari tahun 2010 sebesar Rp6.373.200
menjadi Rp6.681.917 pada tahun 2011.
G. Gambaran Umum Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPKAD) Kabupaten Sleman
1. Tugas dan Fungsi DPKAD Kabupaten Sleman
Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Sleman
mempunyai tugas melaksanakan urusan rumah tangga Pemerintah Daerah
dan tugas pembantuan di bidang pengelolaan keuangan dan aset-aset yang
dimiliki daerah. DPKAD mempunyai fungsi perumusan kebijakan teknis
di bidang pengelolaan keuangan dan aset; penyelenggaraan urusan
pemerintahan dan tugas pembantuan di bidang pengelolaan keuangan dan
aset; pembinaan dan pelaksanaan tugas bidang pengelolaan keuangan dan
aset; pelaksanaan kesekretariatan dinas; dan pelaksanaan tugas lain yang
diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugasnya.
2. Visi dan Misi
a. Visi
Terwujudnya dinas pengelolaan keuangan dan aset daerah sebagai
b. Misi
1) Menyelenggarakan pelayanan pemerintahan di bidang pengelolaan