ketika mengalami kecemasan, gugup, atau tegang yang sudah ada di internet banyak yang tidak membantu. Narasumber juga menginginkan informasi mengenai arti-arti dari setiap gestur tubuh yang kita lakukan saat berbicara didepan umum dan teori tentang public speaking. Salah satu responden pernah berusaha untuk mencari informasi mengenai teori public speaking, namun mayoritas informasi yang didapatkan berasal dari luar negeri dan tidak relate dengan penemuan yang ada di Indonesia.
3.1.2.1 Kesimpulan Focus Group Discussion
Berdasarkan hasil FGD terhadap 5 mahasiswa dengan 4 jurusan berbeda yaitu Desain Komunikasi Visual, Fotografi, Ilmu Komunikasi, dan Sistem Informasi, seluruh narasumber berpendapat bahwa public speaking merupakan kemampuan yang penting untuk diajarkan sedini mungkin dan berhubungan dengan pekerjaan yang akan ditekuni. Hal ini membuktikan bahwa seluruh jurusan dan profesi membutuhkan public speaking untuk melakukan koordinasi antar tim, atasan, bawahan, maupun client.
Ketakutan mereka saat ini sebagai mahasiswa berhubungan dengan karier dan takut ditak lulus tepat waktu, Namun, narasumber berharap bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passion, dengan gaji yang tinggi, dan dapat mengatasi ketakutan dalam berkarier. 3 narasumber sudah berusaha untuk mempelajar public speaking dari internet, namun kendala yang dialami adalah cara penyampaian kurang sesuai dengan minat audiens. 2 narasumber lainnya yang belum melatih public speaking disebabkan oleh karena media informasi yang ada tidak menarik dan membosankan.
Seluruh responden menilai kemampuan public speakingnya kurang baik dan memiliki pengalaman buruk saat berbicara didepan umum.
Walaupun begitu, 4 narasumber tidak merasa trauma dan justru pengalaman tersebut membuat mereka termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Bagi 2 narasumber, introvert menjadi salah satu penghalang bagi mereka untuk menguasai public speaking karena tidak terbiasa berinteraksi dengan orang lain. Meskipun begitu, seluruh narasumber tertarik untuk mendalami public
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 78
speaking lebih jauh melalui sebuah media informasi, terlebih jika media informasi yang ditawarkan sesuai dengan minat dan karakteristik mereka.
2 narasumber lebih nyaman belajar sendiri dan 3 narasumber lebih nyaman untuk belajar dalam small group berisi 3-4 orang. Seluruh narasumber tidak tertarik untuk mengikuti kelas atau seminar khusus public speaking karena merasa terintimidasi dan panik. 2 narasumber menyukai buku berbentuk fisik, sedangkan 3 narasumber lainnya menyukai buku digital karena lebih efisien, praktis, dan terdapat fitur-fitur yang menarik seperti video dan audio. Gaya bahasa yang diharapkan adalah gaya bahasa sehari-hari dan interaktivitas yang diharapkan adalah audio, video, latihan bersama (small group), latihan mandiri, dan jurnal pribadi. Informasi yang sulit untuk dicari oleh narasumber adalah topik dari sisi psikologi dalam mengatasi kecemasan, gugup, tegang, arti gestur tubuh, serta informasi seputar teori-teori public speaking.
3.1.3 Kuesioner
Menurut Kumar (2011), kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang jawabannya dicatat sendiri responden sehingga pertanyaan yang diajukan harus jelas dan mudah dipahami. Untuk mendapatkan gambaran mengenai pemahaman target audiens mengenai public speaking, penulis melakukan kuesioner menggunakan Google Form dengan menggunakan skala likert dan prosedur pengambilan data random/probability dengan teknik convenience sampling. Perhitungan jumlah sampel yang dibutuhkan menggunakan Rumus Slovin dengan derajat ketelitian 10% sesuai dengan target demografi yaitu mahasiswa berusia 19-23 tahun yang berdomisili di Jakarta, dengan populasi sebesar 960.812 jiwa (berdasarkan data BPS dari
https://www.bps.go.id/statictable/2015/09/14/1839/jumlah-perguruan- tinggi-mahasiswa-dan-tenaga-edukatif-negeri-dan-swasta-di-bawah- kementrian-pendidikan-dan-kebudayaan-menurut-provinsi-2013-2014-2014-2015.html). Berikut ini adalah perhitungannya:
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 79 e = derajat ketelitian
ܵ ൌ ͻͲǤͺͳʹ
ͳ ͻͲǤͺͳʹǤ ሺͲǤͳሻଶ ൌ ͻͻǡͻͻ
Besaran sampel dengan derajat ketelitian 10% sesuai dengan perhitungan adalah sebanyak 100 responden.
Kuesioner mulai disebarkan pada tanggal 2 September 2021 dan telah diisi oleh 104 responden per 20 Mei 2021. Berdasarkan kuesioner yang telah dilakukan, didapatkan data sebagai berikut:
Tabel 3.3 Data Demografi Responden
Variabel Kategori Frekuensi (n) Presentase
Jenis Kelamin Laki-laki 31 29.8%
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 80
Berdasarkan tabel diatas, terdapat 73 responden wanita dan 31 responden pria yang berdomisili di Jakarta dengan mayoritas usia 19-23 tahun, namun terdapat 3 responden yang berusia dibawah 24-28 tahun dan 1 responden berusia 29-34 tahun (tidak sesuai dengan target audiens yang dituju). Mayoritas audiens merupakan mahasiswa (88.5%) dan yang lainnya bekerja sebagai karyawan (7.7%), freelancer dan wirausaha (masing-masing 1.9%).
Dari segi ekonomi, 33.7% responden memiliki pendapatan sebesar Rp. 3.000.000 – Rp. 5.000. 000, 22.1% responden memiliki pendapatan sebesar Rp. 1.000.000 – Rp. 3.000.000, 18.3% responden memiliki pendapatan sebesar Rp. 5.000.000 – Rp. 8.000.000, 13.5% responden memiliki pendapatan diatas Rp. 12.000.000, 7.7% responden memiliki pendapatan Rp. 8.000.000 – Rp. 12.000.000, dan 4.8% responden memiliki pendapatan dibawah Rp. 1.000.000.
Selanjutnya pendapat responden mengenai berbicara di depan umum, didapatkan data sebagai berikut:
Tabel 3.4 Pendapat Responden mengenai Public Speaking
Pertanyaan Ya (n (%)) Tidak (n (%)) Apakah Anda tau apa yang dimaksud dengan
public speaking? 100% 0%
Pernyataan Mean Keterangan
Public speaking adalah kemampuan yang
penting bagi saya 4.52 Setuju
Menurut saya, public speaking membantu
dalam meraih/meningkatkan karier seseorang 4.61 Setuju Menurut saya, public speaking penting untuk
dilatih sejak masa perkuliahan 4.61 Setuju
Pertanyaan Ya (n (%)) Tidak (n (%)) Apakah Anda pernah mendapatkan materi
mengenai public speaking secara pendalam di perkuliahan?
27% 73%
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 81
Berdasarkan data yang dipaparkan di atas, seluruh responden mengetahui apa itu public speaking dan berpendapat bahwa kemampuan public speaking itu penting dan membantu dalam meraih/meningkatkan karier seseorang dan perlu dilatih sejak masa perkuliahan. Namun, hanya 27% responden yang mendapatkan materi public speaking secara mendalam di perkuliahan.
Selanjutnya mengenai praktik berbicara di depan umum, data yang didapatkan adalah sebagai berikut:
Gambar 3.9 Diagram Frekuensi Berbicara di Depan Umum
Sebanyak 72% responden kerap berada di situasi yang mengharuskan mereka berbicara di depan umum dan 3 hal yang paling sering dirasakan adalah gugup dengan perolehan data sebesar 73%, tidak percaya diri dengan perolehan data sebesar 64%, dan tegang dengan perolehan data sebesar 57%. Selanjutnya diikuti dengan lupa materi yang ingin dibicarakan, cemas, bingung, berkeringat, tangan gemetar, kesulitan tidur (sehari sebelum berbicara di depan umum), dan tubuh menjadi kaku.
Gambar 3.10 Hal-hal yang Sering Dirasakan Ketika Berbicara di Depan Umum
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 82
Pada bagian selanjutnya, diajukan pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman responden mengenai kemampuan public speaking dan didapatkan data sebagai berikut:
Tabel 3.5 Pemahaman Audiens mengenai Public Speaking
Pernyataan Mean Keterangan
Saya tidak tahu cara meningkatkan kepercayaan diri saat harus berbicara di depan umum
3.41 Setuju
Saya menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus saya bicarakan ketika berbicara di depan umum
3.45 Setuju
Saya tidak tahu cara mengontrol rasa cemas
ketika harus berbicara di depan umum 3.56 Setuju Saya merasa panik jika ditunjuk secara
tiba-tiba (tanpa persiapan) untuk berbicara di depan umum
4.12 Setuju
Ketika melakukan kesalahan saat berbicara di depan umum, saya merasa sulit berkonsentrasi pada bagian-bagian selanjutnya
4 Setuju
Saya tidak berusaha melakukan riset terkait audiens sebelum mulai berbicara di depan umum
3.22 Setuju
Saya kerap merasa sulit mengontrol suasana 3.64 Setuju Saya tidak mengetahui cara membawa diri
dengan baik saat berbicara di depan umum 3.6 Setuju Saya tidak mengetahui apa saja yang perlu
disiapkan saat berbicara di depan umum 3.3 Setuju
Pertanyaan Ya (n (%)) Tidak (n (%)) Apakah Anda membutuhkan informasi
tambahan mengenai kemampuan public speaking?
96% 4%
Public speaking berhubungan dengan
bekerjaan yang sedang/akan Saya tekuni 72% 28%
Apakah Anda ingin mendalami lebih jauh
mengenai public speaking? 99% 1%
Berdasarkan data yang dipaparkan di atas, mayoritas responden belum tau cara untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri dan mengontrol rasa cemas saat berbicara di depan umum sehingga menjadi bingung/tidak tau apa yang harus dibicarakan. Responden juga kerap merasa panik dan
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 83
sulit berkonsentrasi pada keadaan terdesak seperti saat ditunjuk tanpa persiapan secara tiba-tiba mapupun ketika melakukan kesalahan saat berbicara di depan umum.
Mayoritas responden tidak tau apa yang harus disiapkan saat berbicara di depan umum dan tidak melakukan riset terkait audiens sebelum berbicara di depan umum. Responden juga kerap merasa sulit mengontrol suasana dan tidak tau cara membawa diri yang baik saat melakukan public speaking. Namun, pekerjaan yang akan ditekuni oleh kebanyakan responden berhubungan dengan kemampuan public speaking.
Hal ini menuntut responden untuk melatih kemampuan ini, terutama saat memasuki dunia kerja. Responden merasa mereka membutuhkan informasi tambahan mengenai kemampuan public speaking dan 99%
responden ingin mendalami kemampuan ini lebih jauh. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa media informasi dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai teknik public speaking, terutama dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.
Pada section berikutnya, ditujukan untuk mengetahui upaya yang telah dilakukan responden untuk melatih kemampuan public speaking.
56% responden sudah melakukan upaya mempelajari public speaking dengan mencoba berlatih, mencari tahu tentang public speaking di internet dan media sosial, mengikuti organisasi, membaca, memperhatikan orang yang memiliki kemampuan public speaking, mengikuti kelas maupun seminar/webinar, aktif menjawab pertanyaan dosen, memilih jurusan komunikasi, dan mengikuti lomba. Namun, 83% responden mengalami kendala saat mempelajari public speaking.
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 84
Gambar 3.11 Diagram Kendala Mempelajari Public Speaking
Tiga kendala yang paling sering ditemui adalah informasi yang dipaparkan terlalu umum (46.4%), terkadang terdapat pertanyaan yang kurang mampu dijawab (44.6%), dan tidak mendapatkan informasi yang diinginkan (37.5%). Selanjutnya diikuti dengan biaya mahal, bahasa yang harus dipelajari cenderung formal dan membosankan, tidak dapat menjawab dengan spontan dan cepat, serta jam pengajaran yang didapatkan di perkulahan hanya sebentar sementara public speaking membutuhkan jam terbang yang tinggi agar terbiasa.
Bagi 44% responden yang tidak mempelajari public speaking, alasan utamanya disebabkan karena kurangnya informasi yang tersebat/dapat dijangkau dengan mudah (50%), kurangnya tingkat literasi/malas membaca dan informasi yang tersedia membosankan (masing-masing 40.9%), kesulitan diksi/bahasa terlalu berat dan susah untuk dimengerti (20.5%), dan 9.1% responden tidak tertarik untuk mendalami public speaking.
Gambar 3.12 Diagram Alasan Belum Mempelajari Public Speaking
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 85
Pada pertanyaan section terakhir mengenai media informasi, didapatkan data mengenai 3 informasi yang dibutuhkan oleh responden tentang kemampuan public speaking, yaitu tips mengatasi keadaan darurat saat berbicara di depan umum dengan perolehan data sebesar 74%, cara mengatasi kecemasan saat berbicara di depan umum dengan perolehan data sebesar 71%, dan cara menyampaikan materi pembicaraan dengan baik dengan perolehan data sebesar 62%. Selanjutnya diikuti dengan hal-hal yang perlu diperhatikan saat berbicara di depan umum dan hal-hal-hal-hal yang dapat membangun keberhasilan saat berbicara di depan umum.
Dalam mencari Informasi, 49% responden menggunakan sosial media, lalu diikuti dengan buku/e-book (25%), website/blogs (14%), dan seminar/workshop (11%). Walaupun sudah terdapat seminar atau kelas public speaking berbayar, ternyata mayoritas responden tidak bersedia mengeluarkan banyak uang untuk mengikutinya. Hanya terdapat 33%
responden yang bersedia membayar sebesar Rp. 250.000 – Rp. 750.000 dan 5% responden bersedia membayar Rp. 750.000 – Rp. 1.250.000.
Media sosial yang paling sering digunakan oleh responden adalah Instagram (62%), Youtube (34%), Tiktok (3%), dan Twitter (1%).
Gambar 3.13 Diagram Informasi yang Dibutukan mengenai Public Speaking
Saat belajar, didapatkan data bahwa sebanyak 99% responden lebih menyukai media yang menggunakan gabungan teks dan visual, dengan jenis visual ilustrasi (77%), video (54%), foto (42%), infografis (38%), dan motion graphic (37%).
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 86
s Gambar 3.14 Diagram Preferensi Jenis Visual
3 hal yang membuat responden tertarik untuk membaca atau mencari informasi lebih lanjut adalah karena visual yang menarik (78%), bahasa yang ringan dan mudah dimengerti (72%), dan topik yang diangkat sesuai dengan kehidupan atau yang sedang dibutuhkan (62%). Kemudian diikuti dengan judul yang menarik, ringkasan atau sinopsis yang menarik, menggunakan pendekatan storytelling, ditulis oleh figur yang dikenal atau dikagumi, dan direkomendasikan oleh teman atau keluarga.
Gambar 3.15 Diagram Hal-Hal yang Menarik dari Sebuah Media Informasi
Bagi responden kelompok usia 24-28 tahun, 29-34 tahun, dan > 34 tahun, penulis memberikan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan insight dari mereka yang sudah memasuki dunia kerja.
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 87
Tabel 3.6 Pendapat Responden mengenai Public Speaking
Pertanyaan Ya (n (%)) Tidak (n (%)) Apakah public speaking berkaitan dengan
pekerjaan yang Anda tekuni? 75% 25%
Menurut Anda, apakah public speaking
penting dalam memasuki dunia kerja? 100% 0%
Apakah public speaking membantu dalam mendapatkan pekerjaan/meningkatkan karier dilingkungan kerja Anda?
100% 0%
Apakah saat berada di jenjang perguruan tinggi
Anda diajarkan mengenai public speaking? 75% 25%
Berdasarkan tabel diatas, mayoritas pekerjaan yang ditekuni oleh responden berkaitan dengan public speaking (75%). Seluruh responden menganggap bahwa public speaking penting dalam memasuki dunia kerja dan membantu untuk mendapatkan pekerjaan serta meningkatkan karier di lingkungan kerja mereka. 75% responden sudah diajarkan kemampuan public speaking saat berada di perguruan tinggi.
Gambar 3.16 Diagram Tingkat Kesulitan Melamar Kerja
Mayoritas responden merasa kesulitan saat melamar kerja karena tidak memiliki kemampuan public speaking yang baik (75%) dan seluruh responden setuju bahwa public speaking penting untuk diajarkan kepada mahasiswa. Hal ini dikarenakan dalam dunia kerja, public speaking adalah kemampuan yang diperlukan untuk membuat seseorang terlihat professional, memiliki kredibilitas, serta mendapatkan perhatian lebih dibandingkan orang yang tidak memiliki kemampuan public speaking.
Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 88
Gambar 3.17 Alasan Pentingnya Public Speaking bagi Mahasiswa
Seluruh responden berharap mendapatkan materi mengenai public speaking ketika berada di jenjang pendidikan tinggi untuk mempersiapkan diri dalam dunia kerja dan akan lebih baik jika dipelajari sejak dini.
Gambar 3.18 Alasan Kebutuhan Pengajaran Public Speaking saat Berkuliah