• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 53

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk mendukung perancangan media informasi mengenai pentingnya kemampuan public speaking adalah gabungan metode kuantitatif dan kualitatif (hybrid). Menurut Kumar (2011), penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang bersifat spesifik, terstruktur, telah teruji kebenarannya, dan dapat dijelaskan yang bertujuan untuk memastikan akurasi dalam pengukuran dan klasifikasi. Pengambilan data secara kuantitatif akan dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner melalui Google Form untuk mengetahui pemahaman target audiens mengenai teknik public speaking.

Penelitian kualitatif merupakan penelitian tidak terstruktur yang bersifat fleksibel dan bertujuan untuk memahami, menjelaskan, memeriksa, dan menemukan fenomena tertentu yang didasarkan kepada logika deduktif (Kumar, 2011). Pengambilan data secara kualitatif akan dilakukan dengan melakukan wawancara kepada HR untuk mengetahui soft skills yang diutamakan di dunia kerja, public speaker untuk mengetahui pengalaman dan mendapatkan insight mengenai public speaking, dosen ilmu komunikasi untuk mengetahui strategi dan media yang tepat, dosen interaction design untuk mengetahui cara merancang buku digital interaktif yang baik, FGD terhadap 5 perwakilan target audiens untuk mengetahui sudut pandang target mengenai public speaking serta melakukan studi eksisting dan studi referensi melalui buku, jurnal, dan pencarian melalui internet mengenai kemampuan public speaking.

3.1.1 Wawancara

Wawancara adalah interaksi antara dua atau lebih individu, baik tatap muka atau tidak dengan tujuan untuk memperoleh informasi, bertukar pikiran, pendapat, maupun keyakinan (Kumar, 2011). Penulis akan melakukan wawancara secara online untuk memperoleh informasi mengenai

(2)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 54

faktor yang mendukung kemampuan public speaking dari prespektif seorang Human Resources, mengetahui pengalaman dan insight mengenai public speaking dalam dunia kerja dari seorang public speaker, serta cara membuat media informasi yang baik dari sudut pandang dosen ilmu komunikasi dan dosen interaction design.

3.1.1.1 Wawancara dengan Human Resources

Wawancara dilakukan kepada Lelyta Nugraheni, seorang Human Resources Business Partner dari Dentsu Indonesia. Wawancara dilakukan pada tanggal 11 September 2021 menggunakan Zoom Meeting pada pukul 14.00 WIB untuk mengetahui soft skills yang dicari oleh recruiter dalam menerima kandidat dan mendapatkan insight mengenai pentingnya public speaking dalam dunia kerja.

Gambar 3.1 Wawancara dengan Lelyta Nugraheni

Lelyta mendefinisikan public speaking sebagai kemampuan untuk berbicara di depan orang lain dalam skala besar maupun kecil. Beliau sudah berpengalaman selama 5 tahun sebagai recruiter bagi ratusan orang di 3 perusahaan yang berbeda. Public speaking merupakan salah satu aspek penting bagi kandidat agar dapat mengkomunikasikan diri, baik interview HR maupun User. Jika seseorang tidak dapat mengkomunikasikan diri dengan baik, ide dan gagasan yang dimiliki justru tidak tersampaikan dengan baik. Hal ini yang membuat seseorang dapat gagal untuk menembus proses wawancara karena HR tidak dapat menilai apakah orang tersebut mumpuni untuk berada pada posisi tertentu di perusahaan tersebut.

(3)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 55

Walaupun beliau tidak dapat menyampaikan data berupa angka mengenai berapa banyak jumlah orang yang gagal untuk melewati tahap interview karena kurang menguasai public speaking, beliau menyampaikan bahwa kejadian seperti ini kerap terjadi.

Walaupun terdapat beberapa pekerjaan yang tidak selalu menuntut seseorang untuk melakukan interaksi dengan orang lain dan lebih mengandalkan pengalaman serta hard skills yang dimiliki, recruiter tetap akan memilih seseorang yang setidaknya dapat melakukan personal branding dengan baik di depan recruiter. Perusahaan dapat menoleransi seseorang yang memiliki pengalaman serta hard skills yang baik tanpa kemampuan komunikasi yang terlalu baik asalkan orang tersebut mampu menyampaikan ide dan gagasannya kepada orang lain.

Soft skills yang diutamakan oleh Lelyta sebagai recruiter dalam merekrut kandidat adalah kemampuan public speaking, team work, curiosity, dan eagerness kandidat untuk mencapai sesuatu. Untuk diposisi tertentu, dibutuhkan skill leadership. Public speaking dinilai mendukung soft skills leadership. Hal ini dikarenakan leadership berhubugan dengan kemampuan untuk memimpin diri sendiri dan orang lain yang membutuhkan kemampuan komunikasi yang efektif.

Lelyta berpendapat bahwa fresh graduate masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan ditengah persaingan kerja yang semakin ketat akibat pandemi Covid-19, asalkan tetap memiliki pengalaman dalam hal organisasi maupun magang di beberapa perusahaan sebelum akhirnya melamar pekerjaan. Beliau menilai bahwa penting bagi mahasiswa untuk melatih kemampuan public speaking. Dibandingkan dengan orang yang masih bersekolah, pendidikan tingkat universitas merupakan kesempatan yang baik untuk melatih public speaking karena terdapat banyak kesempatan, contohnya saat mengikuti organisasi. Namun, akan lebih baik lagi apabila setiap orang memiliki kesadaran sejak dini untuk melatih kemampuan ini.

(4)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 56

Di dunia kerja, public speaking sangatlah diperlukan karena seseorang tidak mungkin bekerja sendirian. Maka dari itu dibutuhkan public speaking untuk dapat melakukan komunikasi efektif terhadap partner, atasan, maupun jika saat sudah memiliki bawahan. Proses kerjasama dalam tim sendiri akan selalu membutuhkan proses brainstorming ide dan melakukan presentasi. Karena bekerja tidak hanya sekedar duduk didepan laptop, namun juga harus melakukan interaksi dengan orang lain. Public speaking itu sendiri juga dapat meningkatkan karier. Karena semakin tinggi jabatan yang dimiliki, akan semakin berhubungan dengan skill leadership.

Management akan lebih mengutamakan seseorang yang dapat mengekspresikan dirinya untuk menduduki jabatan tertentu dibandingkan orang-orang yang lebih pasif.

Diakhir sesi wawancara, beliau memberikan tips bagi kandidat yang ingin melakukan interview kerja, yaitu untuk meningkatkan kepercayaan diri. Cara yang terpenting adalah mengubah mindset. Banyak orang yang berpikir bahwa interview kerja adalah waktu untuk dinilai.

Padahal, ini merupakan kesempatan kandidat dan recruiter untuk saling mengenal satu sama lain. Recruiter dan User ingin mengetahui mengenai potensi dan background kandidat, namun kandidat juga berhak untuk mengenal perusahaan lebih jauh. Maka, jangan merasa terintimidasi karena perusahaan juga membutuhkan talent untuk mengisi posisi tertentu di perusahaan. Selain itu, diperlukan riset dan persiapan yang matang sebelum sesi wawancara. Karena di zaman serba digital ini, banyak sekali contoh pertanyaan wawancara yang tersebar di internet, sehingga tidak ada alasan untuk tidak melakukan persiapan.

3.1.1.2 Wawancara dengan Public Speaker

Penulis melakukan wawancara dengan Teuku Daffa, seorang public speaker yang telah berpengalaman menjadi MC dan memberikan materi mengenai public speaking melalui seminar/kelas serta sosial media seperti Tiktok dan Instagram (@daffaspeaks). Wawancara ini dilakukan untuk

(5)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 57

mendapatkan insight mengenai pengalaman beliau selama hampir 8 tahun menekuni public speaking, serta strategi dan teknik yang diterapkan saat berbicara di depan umum. Wawancara dilakukan via Whatsapp Call pada 10 September 2021 pukul 18.30 WIB.

Gambar 3.2 Wawancara dengan Teuku Daffa

Beliau mendefinisikan public speaking sebagai kegiatan komunikasi 2 arah antara pembicara dan audiens untuk menghasilkan komunikasi yang interaktif. Public speaking adalah art of persuasion, dimana merupakan salah satu media komunikasi yang berfokus kepada persuasi dengan berbagai tujuan seperti mengajar, mengajak, menginformasikan, dan menerangkan suatu hal kepada orang lain.

Faktor yang membuat Daffa menekuni public speaking adalah karena kemampuan ini merupakan kebutuhan hidup, dimana seluruh pekerjaan di dunia ini membutuhkan public speaking untuk berkoordinasi dan teamwork. Daffa menekuni public speaking secara tidak sengaja, dimana beliau didorong oleh teman-temannya mengikuti lomba debat public speaking sewaktu SMA. Awalnya beliau merupakan orang yang tidak

(6)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 58

percaya diri, namun karena terpaksa dan dengan bantuan prinsip you only live once, beliau akhirnya tetap menjalankannya karena takut menyesal jika tidak mencoba terlebih dahulu. Sejak saat itu, Daffa menyadari bahwa ternyata dirinya mampu, dan berniat untuk menekuni public speaking.

Setelah menekuni public speaking, terdapat banyak sekali manfaatnya didalam kehidupan. Dalam karier, Daffa mampu meningkatkan kariernya berkat kemampuan ini karena dapat mengutarakan ide dan gagasan dengan baik. Karena, akan menjadi sia-sia apabila seseorang memiliki ide dan gagasan yang sangat baik, tapi tidak mampu mengungkapkannya. Hal ini dapat membuat orang lain tidak mengetahui pontensi diri kita yang sebenarnya. Selain itu, seseorang akan lebih dihargai apabila memiliki kemampuan public speaking karena memiliki aura dan wibawa tersendiri yang membuat orang lebih nyaman.

Manfaat public speaking dalam dunia akademis adalah kemampuan ini terbukti dapat mendongkrak nilai seseorang. Bukan karena pintar secara akademis, namun menurut pengalaman Daffa, dosen akan lebih menghargai orang yang berani bertanya, bertanggapan, dan dapat mempresentasikan materi dengan baik. Maka, beliau berpendapat bahwa public speaking sangat penting untuk diajarkan sedini mungkin karena komunikasi merupakan fondasi hidup seseorang.

Selama berpengalaman mengajar public speaking, pertanyaan yang paling sering diajukan oleh audiens adalah cara untuk mengatasi grogi, bagaimana untuk lebih percaya diri, cara untuk berbicara dengan lancar, dan agar tidak kelupaan materi. Seseorang akan lebih tertarik jika materi public speaking dikaitkan dengan sisi “introvert” seseorang. Karena masih banyak orang yang pernah mengikuti kelas beliau memiliki stigma bahwa jika introvert, artinya tidak dapat berbicara di depan umum dengan baik. Cara yang diterapkan untuk membuat seseorang lebih tertarik untuk belajar dan tidak merasa terintimidasi adalah dengan memposisikan diri sebagai teman yang ingin belajar bersama-sama, bukan sebagai seorang expert. Audiens

(7)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 59

akan lebih nyaman apabila melakukan pendekatan dengan cara merangkul mereka untuk belajar bersama.

Selanjutnya, penulis memanfaatkan kesempatan untuk bertanya mengenai tips dan teknik yang selama ini beliau terapkan saat berbicara didepan umum. Hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum berbicara didepan umum adalah mental agar lebih percaya diri. Namun, mental saja tidak cukup. Materi dan persiapan yang baik juga diperlukan. Selanjutnya, riset terkait audiens merupakan hal yang wajib untuk dilakukan sebelum melakukan public speaking agar dapat berhasil.

Walaupun beliau telah berpengalaman selama hampir 8 tahun menjadi public speaker, kecemasan merupakan hal yang akan selalu muncul. Namun, public speaker yang baik itu adalah mereka yang mampu untuk tidak memperlihatkannya. Cara untuk mengatasinya adalah membaca ulang materi dan melihat dokumentasi pengalaman-pengalaman sebelumnya. Hal ini meningkatkan kepercayaan diri dan membantu beliau untuk menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan dan pantas untuk menjadi seorang public speaker. Namun, jika belum memiliki pengalaman, Daffa menyarankan untuk memegang prinsip you only live once, karena jika tidak pernah dicoba, seseorang tidak akan pernah tau bahwa ternyata mereka juga mampu berbicara didepan umum.

Saat awal mula menjadi public speaker, Daffa sering mengalami kelupaan materi. Namun, karena beliau terus berlatih dan memperbanyak jam terbang, saat ini Daffa sudah tidak pernah mengalami kelupaan materi.

Jika kelupaan materi, dirinya akan maju dengan kondisi membawa materi seperti list atau poin-poin penting yang membantunya untuk mengingat materi di kertas kecil. Beliau juga menyarankan untuk melakukan riset yang dalam, karena jika kita sudah memahami materi, akan semakin kecil kemungkinan untuk mengalaminya.

(8)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 60

Sampai saat ini, beliau masih sering mendapatkan pertanyaan yang tidak terduga yang tidak dapat dijawab. Namun Daffa membagikan 2 tips untuk mengatasi ini. Yang pertama adalah memberi tahu orang tersebut secara jujur bahwa kita tidak tau jawabannya dan meminta izin untuk mencari tahu jawabannya terlebih dahulu. Skenario ini dapat diterapkan apabila berhadapan dengan orang yang pangkatnya lebih tinggi atau sedang melakukan interview kerja dibandingkan dengan menjawab jawaban yang salah. Jika kondisinya sedang berhadapan dengan orang banyak, kita dapat meminta audiens lain untuk membantu menjawab atau meminta izin untuk membahasnya di sesi berikutnya atau sesi privat.

Bagi Daffa, tidak ada pengalaman public speaking yang kurang baik, yang ada adalah pengalaman yang membuat dirinya belajar. Untuk membangun kepercayaan diri, beliau menyarankan kita untuk “find your why” yaitu mengapa kita harus percaya diri dan apa yang dapat kita berikan kepada orang banyak. Lalu “find your words” bagaimana cara kita menyampaikannya, dan yang terakhir adalah “give value to people”. Agar kita bisa lebih percaya diri, kuncinya adalah dengan menekankan value apa yang dapat kita berikan keada orang banyak.

Tidak ketinggalan, Daffa menyampaikan bahwa 55% first impression seseorang itu berasal dari penampilan. Penampilan yang menentukan apakah seseorang ingin berbicara atau mendengarkan lebih lanjut. Maka dari itu, Daffa menyarankan untuk menggunakan penampilan yang menimbulkan kesan menjanjikan. Biasanya, beliau menggunakan pakaian yang rapih dan disesuaikan dengan acara yang diikuti. Pastikan sebelum melakukan public speaking, kita berpenampilan dengan pantas.

(9)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 61

Gambar 3.3 Wawancara Kedua dengan Teuku Daffa

Wawancara kedua dilakukan pada tanggal 17 September 2021 via Zoom Meeting untuk membahas lebih jauh mengenai materi public speaking yang telah dibagikan oleh Daffa kepada orang-orang yang telah mengikuti webinar public speaking yang diadakannya. Daffa membagikan modul yang berisi tentang definisi, tujuan, kendala, dan kegunaan public speaking.

Selain itu terdapat pula berbagai tips untuk menghadapi kecemasan, mengatasi filler words, dan cara berbicara dengan lancar saat melakukan public speaking.

3.1.1.3 Wawancara dengan Public Speaker 2

Penulis melakukan wawancara Willy Tan, co-founder dari kursus public speaking yang bernama Brave Speakers yang sudah berpengalaman menulis modul dan mengajar public speaking di sekolah-sekolah, kampus, insitusi, hingga kontestan ajang pencarian bakat ternama di Indonesia.

Beliau bersedia untuk menjadi editor dalam penyusunan konten buku digital dan wawancara dilakukan untuk membahas isi konten lebih lanjut pada hari Jumat, 1 Oktober 2021 via Zoom Meeting jam 21.00 WIB.

Gambar 3.4 Diskusi Konten bersama Public Speaker

(10)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 62

Sebelum wawancara dimulai, penulis telah mengirimkan struktur konten yang memuat quiz pengenalan diri, pengetahuan umum public speaking (manfaat, jenis, metode, persiapan, mitos dan fakta, kecemasan public speaking, dan do’s and don’ts public speaking), latihan dan tips and trick di berbagai kondisi, serta persiapan public speaking di dunia kerja sehingga proses diskusi dapat lebih efektif. Menurut Willy, seluruh struktur konten buku telah mewakili setiap hal-hal penting yang perlu diketahui oleh seseorang yang ingin mempelajari public speaking.

Berdasarkan struktur konten dan tujuan buku, Willy menyarankan bahwa judul yang tepat untuk buku ini adalah “Soft skills yang Bisa Ningkatin Karier dan Penghasilan Kamu”. Setelah itu, penulis melakukan pemaparan isi dari pengembangan struktur yang telah diberikan. Beliau berpendapat bahwa copywriting yang digunakan sudah sangat baik.

Interaktivitas yang ditawarkan seperti games bingo, pilihan jawaban, jurnal, serta tambahan fitur video, audio, dan motion tidak hanya menarik, namun juga membantu seseorang untuk dapat mempelajari public speaking.

Beliau menyarankan untuk menambahkan konten berupa persiapan mental, karena persiapan mental tidak kalah penting dengan persiapan materi. Ketika seseorang memiliki kesiapan mental yang baik, orang tersebut dapat mengontrol diri agar tidak panik dan tidak demam panggung.

Selain itu, persiapan fisik juga penting. Jika seseorang akan melakukan public speaking, ada baiknya untuk beristirahat yang cukup, tidak mengkonsumsi gorengan, dan menghindari makanan yang bersifat asam agar tidak memicu asam lambung.

Berdasarkan pemaparan materi yang penulis rangkum, terdapat satu materi yang kurang tepat, yaitu tentang rumus 7, 38, dan 55. Pemaparan yang benar yaitu 7% adalah tentang kata-kata yang dikeluarkan, 38% adalah tentang intonasi, dan 55% adalah tentang body language. Sehingga keberhasilan public speaking mayoritas ditentukan oleh body language dan intonasi yang membuat aura, energi, dan vibes seseorang menjadi lebih

(11)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 63

berwibawa. Selain itu beliau menambahan pemaparan materi mengenai cara mengatasi demam panggung sesaat sebelum tampil yang bisa diatasi dengan cara mengatakan hal positif, menarik nafas dalam-dalam, dan memakan hal- hal yang manis seperti coklat dan permen, dengan syarat tidak terlalu banyak agar tidak mengganggu pita suara ketika akan tampil.

Willy menambahkan quotes pribadi untuk melengkapi isi konten, yaitu “public speaking bukan berbicara tentang apa yang dapat kita berikan, melainkan apa yang dapat diterima”. Public speaking bukanlah tentang apakah pembicara dapat terlihat pintar atau mendapatkan tepuk tangan, tapi apakah penjelasan pembicara dapat tersampaikan dengan baik kepada audiens atau tidak. Selain itu, beliau juga memberikan berbagai tips cara melatih pernafasan, intonasi, kecepatan, serta latihan secara mandiri. Hal ini disebabkan karena public speaking merupakan keterampilan yang harus terus dilatih. Selain itu latihan secara kelompok juga dinilai penting untuk saling mengevaluasi satu sama lain.

3.1.1.4 Wawancara dengan Dosen Ilmu Komunikasi

Penulis melakukan wawancara dengan Irwan Fakhruddin, dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Multimedia Nusantara untuk mendapatkan insight mengenai public speaking, media, serta strategi komunikasi yang tepat dalam merancang media informasi mengenai public speaking bagi mahasiswa. Wawancara dilakukan via Zoom Meeting pada 3 September 2021 pukul 13.00 WIB.

Gambar 3.5 Wawancara dengan Irwan Fakhruddin

(12)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 64

Menurut beliau, public speaking merupakan kemampuan yang penting diajarkan sejak dini. Public speaking dan presentation skill harus menjadi kompetensi dasar mahasiswa. Komunikasi merupakan tulang punggung society yang memungkinkan setiap orang membangun hubungan, mempengaruhi keputusan, dan mendorong perubahan. Tanpanya, akan kecil kemungkinan terjadi kemajuan dalam dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.

Public speaking adalah kemampuan paling dasar komunikasi dan merupakan gabungan antara latihan dan pengetahuan. Industri kreatif saat ini sangat membutuhkan kemampuan public speaking karena yang ditawarkan adalah sebuah ide dan gagasan yang akan hanya dapat menarik client saat dipresentasikan. Namun, tidak hanya industri kreatif, seluruh industri di dunia ini membutuhkan public speaking.

Beliau menyayangkan keterampilan ini tidak dilatih di seluruh program studi Universitas Multimedia Nusantara untuk menyampaikan pendapat, berargumen, atau mempresentasikan sesuatu. Walaupun terdapat mata kuliah public speaking di program studi Ilmu Komunikasi, namun beliau berharap semua mata kuliah dapat memasukkan rubrik penilaian presentasi dan public speaking di dalamnya untuk melatih mahasiswa dan memperbanyak jam terbang.

Pak Irwan menyarankan, dalam membuat konten media informasi, harus dapat mendorong audiens untuk berlatih secara mandiri karena praktek merupakan hal yang penting untuk meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri. Kemampuan public speaking akan semakin baik jika diimbangi dengan banyak latihan sehingga konten yang disajikan tidak hanya sebatas knowledge. Walaupun seseorang memiliki pengetahuan yang sangat baik, namun tidak pandai berbicara, akan memiliki batasan di dalam dirinya yang membuat dirinya gagal berbicara didepan umum. Konten dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan pemahaman audiens kedalam beberapa chapter yang didalamnya terdapat latihan rutin.

(13)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 65

Media yang disarankan adalah media digital interaktif yang dilengkapi dengan audio dan video yang dapat menjadi guidebook untuk dapat berlatih dan membangun keberanian. Akan lebih baik apabila media tersebut menggunakan pendekatan immersive, dimana audiens dapat merasakan pengalaman secara langsung atau simulasi di berbagai kondisi, seperti ketika berhadapan di depan recruiter, presentasi, seminar, atau entertainment. Dengan begitu, audiens dapat berlatih untuk menghadapi keadaan-keadaan tersebut sebelum benar-benar diterapkan di dunia nyata.

Strategi yang bisa diterapkan untuk membuat seseorang tertarik membaca media informasi lebih jauh adalah dimulai dari judul buku yang harus dapat menjawab kebutuhan audiens, membuat audiens penasaran, dan tidak membuat pemula merasa minder/terintimidasi. Sebuah clickbait dan SEO friendly penting untuk mempersuasi orang. Selain itu, copywriting dan cara penyampaian konten juga harus diperhatikan agar jangkauan media ini dapat luas. Tidak hanya dalam konteks formal, namun juga untuk pengembangan diri. Konten berupa tips dan trik dapat menarik perhatian dan menggunakan gaya bahasa yang sesuai dengan bahasa gen Z sehari- hari, namun tetap tampil formal karena media ini harus tetap dapat dipertanggung jawabkan secara professional.

Endorse atau testimonial juga merupakan salah satu aspek yang membuat seseorang tertarik. Lebih baik testimonial datang dari orang yang memang tadinya tidak berkecimpung di dunia komunikasi dan tidak percaya diri, namun akhirnya berhasil meningkatkan rasa kepercayaan dirinya. Hal ini dapat membuat seorang pemula yang tidak percaya diri namun ingin berhasil untuk meningkatkan kemampuan public speaking dapat termotivasi. Dalam membuat sebuah media informasi, distribusi dan promosi yang tepat juga harus diperhatikan dan disesuaikan dengan target audiens dan consumer journey. Collateral atau material secara gimmick dapat menjadi salah satu materi komunikasi.

(14)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 66

Beliau merupakan sarjana Desain Komunikasi Visual dan sebelumnya pernah bekerja sebagai art director. Penulis menggunakan kesempatan ini untuk meminta saran mengenai desain grafis yang tepat.

Beliau menyarankan untuk menggunakan gabungan ilustrasi dan teks dengan grid 2 kolom sehingga nyaman dibaca. Tulisan dapat menggunakan sans serif dengan ukuran yang cukup besar dan menggunakan kombinasi ukuran serta tebal tipis yang beragam sehingga orang yang membacanya tidak cepat lelah. Terlebih lagi gen Z merupakan generasi yang sangat dinamis dan memiliki durasi perhatian yang pendek, sehingga dibutuhkan perhentian-perhentian ketika membaca seperti ilustrasi dan penekanan.

Diakhir sesi wawancara, beliau juga memberikan tips yang diterapkan saat harus berbicara didepan umum. Ketika menghadapi audiens, setiap orang harus menempatkan diri dimana sang pembicara perupakan orang yang paling menguasai materi. Saat berhadapan dengan klien dengan pangkat yang tinggi, minder merupakan hal yang wajar. Yang dilakukan oleh Pak Irwan adalah beliau membayangkan bahwa audiens kita menggunakan pakaian yang lucu untuk menjaga tingkat kepercayaan dirinya. Lalu ketika mendapat pertanyaan yang sulit untuk dijawab, beliau akan memutar pembicaraan ke topik yang paling dikuasai dan membuat dirinya memegang control dan menguasai pembicaraan. Menurutnya, tips unik yang merupakan hasil improvisasi setiap oranglah yang dapat menarik perhatian bagi generasi Z.

3.1.1.5 Wawancara dengan Dosen Interaction Design

Penulis melakukan wawancara dengan Thomas Simpson, dosen interaction design pada 15 September 2021 pukul 17.30 WIB menggunakan aplikasi Zoom. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan insight mengenai cara merancang media informasi digital interaktif yang tepat.

(15)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 67

Gambar 3.6 Wawancara dengan Thomas Simpson

Beliau berpendapat bahwa topik mengenai public speaking saat ini merupakan topik yang sangat penting dan sangat diperlukan. Hal ini disebabkan karena saat ini, mayoritas kegiatan komunikasi menggunakan media online yang membuat seseorang mudah lengah karena kemudahan yang ditawarkan. Media interaktif itu sendiri merupakan sebuah media yang memiliki interaksi atau feedback dari apa yang pengguna berikan. Maka, media interaktif dinilai menjadi sebuah solusi yang baik karena public speaking sendiri membutuhkan latihan secara langsung.

Sebuah media yang termasuk dalam kategori self-assessment dimana terdapat tugas-tugas maupun chapter yang dapat diisi oleh audiens dan dinilai pada setiap akhir sesinya merupakan hal yang menarik. Namun, akan lebih baik jika menekankan unsur orang kedua, karena public speaking merupakan kegiatan yang membutuhkan minimal 2 orang didalamnya.

Beliau menyarankan untuk mengajak audiens agar dapat tergabung dalam komunitas privat untuk bertukar pikiran maupun jawaban yang telah dijawab dalam buku tersebut.

Bentuk media informasi akan lebih baik jika disajikan secara digital, mengingat saat ini semua orang menggunakan gadget untuk mencari informasi. Terlebih, media digital mudah diakses dari mana saja dan hal ini dapat menjadi salah satu nilai jual. Namun, tidak menutup kemungkinan jika bisa di publish secara fisik untuk menjadi media tambahan. Untuk penamaan media informasi, dapat menggunakan bahasa-bahasa gimmick seperti interactive digital learning.

(16)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 68

Untuk menciptakan media informasi yang menarik bagi gen Z, hashtag merupakan suatu hal yang menarik agar audiens dapat melakukan share apabila sudah selesai melakukan challenge atau menemukan fakta- fakta menarik dari media yang dirancang. Elemen interaktif yang dapat dimanfaatkan adalah video, audio, motion, pilihan-pilihan, maupun game.

Hal ini dikarenakan berdasarkan behavior user, audiens lebih senang dan tertarik untuk mengejar achievement yang dapat ditampilkan berupa angka maupun skor tertentu.

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk membangun keberhasilan penyampaian informasi adalah membangun fase, tempo, flow, dan ice breaking. Jangan langsung memaparkan informasi yang berat di awal.

Berikan kesempatan audiens untuk memilih level skill public speakingnya, lalu berikan ice breaking berupa games membaca kalimat yang sulit sebagai pemanasan, lalu berikan pilihan-pilihan jawaban, dan semakin lama akan semakin masuk kepada informasi yang lebih berat. Hal ini diperlukan untuk membantu audiens mencerna informasi yang dipaparkan.

3.1.1.6 Wawancara dengan Editor Elex Media

Penulis melakukan wawancara dengan Farah Rizki, editor buku non-fiksi Elex Media pada 25 Oktober 2021 pukul 10.00 WIB menggunakan aplikasi Zoom. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan insight mengenai teknis pembuatan dan pemasaran buku digital yang tepat.

Gambar 3.7 Wawancara dengan Farah Rizki

Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa Farah kerap menjadi editor buku non-fiksi yang memiliki tema mengenai management,

(17)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 69

self-improvement, dan bisnis. Sejak tahun 2019, beliau fokus kepada divisi product development yang khusus mengerjakan buku digital atau kerap dikenal dengan sebutan e-book.

Ukuran yang biasa digunakan untuk membuat buku digital adalah 14 x 21 cm dengan pertimbangan kemungkinan pencetakan secara fisik. Hal tersebut dikarenakan ukuran ini lebih mudah dibawa dan tidak terlalu memakan banyak ruang. Jumlah maksimal untuk buku teks adalah 300 halaman dan tidak ada ketentuan baku untuk ukuran huruf. Yang terpenting adalah kemudahan pembaca dalam membaca buku. Namun, ukuran yang biasa digunakan adalah ukura 11-12 pt.

Jenis layout yang biasa digunakan adalah layout single column untuk full text. Namun, tidak menutup adanya kemungkinan perubahan layout jika terdapat gambar atau ilustrasi didalamnya. Ilustrasi dan permainan ukuran huruf merupakan elemen yang penting untuk mendorong minat pembaca. Gaya bahasa yang digunakan juga harus menyesuaikan dengan target audiens. Untuk target audiens 19-23 tahun, disarankan menggunakan bahasa casual.

Untuk pemasaran buku, Elex Media melakukan kerja sama dengan Gramedia Digital dan Google Play Book, namun marketing yang dilakukan masih marketing pasif. Hal ini disebabkan karena buku yang diterbitkan sangat banyak, namun tidak mungkin cara promosinya akan seragam. Elex Media lebih mengarahkan penulis untuk lebih aktif, bersama-sama melakukan pemasaran melalui jaringan komunitas pribadi penulis maupun mengadakan games dan quiz. Selain itu, dilakukan pula kerja sama dengan radio untuk melakukan promosi berupa talk show.

Ketentuan pembabakan buku pada halaman awal dapat dimulai dari cover luar, lalu memasuki isi buku terdapat judul buku, halaman hak cipta, halaman judul buku dengan nama penulis dan nama penerbit, halaman copyright yang berisi judul buku, editor, penulis, dan nomor ISBN, lalu

(18)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 70

terdapat kata pengantar, dan diakhiri dengan daftar isi. Setelah itu, akan masuk kedalam isi dari buku yang akan dirancang.

3.1.1.7 Kesimpulan Wawancara

Berdasarkan hasil wawancara terhadap perwakilan HR, public speaker, dosen ilmu komunikasi, dan dosen interaction design, seluruh narasumber berpendapat bahwa public speaking merupakan kemampuan yang penting untuk diajarkan sejak seseorang berada di jenjang perguruan tinggi, karena berhubungan dengan dunia kerja. Akan lebih baik jika seseorang sudah memiliki kesadaran sejak dini untuk melatih kemampuan ini. Seorang recruiter akan lebih mengutamakan orang yang mampu mengkomunikasikan dirinya dengan baik walaupun tidak terlalu mahir.

Karena dengan begitu, recruiter dapat mengetahui apakah potensi dan background kandidat sesuai dengan kriteria perusahaan. Walaupun terdapat beberapa profesi yang tidak terlalu banyak melakukan interaksi antar tim, public speaking tetap dibutuhkan untuk melakukan koordinasi agar komunikasi dapat efektif.

Dalam meningkatkan karier pada posisi jabatan tertentu, public speaking sangat dibutuhkan karena mendukung kemampuan leadership.

Management perusahaan akan lebih mengutamakan orang yang dapat mengutarakan ide dan gagasannya dibandingkan orang yang pasif. Public speaking juga membuat seseorang lebih dihargai di dunia kerja. Hal ini dikarenakan seseorang mampu berkomunikasi dengan baik dan memiliki aura atau wibawanya tersendiri. Tidak hanya memiliki manfaat saat bekerja, public speaking juga memberikan manfaat dari sisi akademis. Bukan karena pintar, namun kemampuan public speaking mampu meningkatkan rasa kepercayaan diri karena sering berinteraksi dengan orang lain sehingga membuat seseorang lebih berani untuk bertanya, mengemukakan pendapat, dan melakukan presentasi dengan baik.

Setiap orang dapat melatih kemampuan ini jika mereka mau berusaha. Introvert bukanlah alasan bagi seseorang untuk tidak menguasai

(19)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 71

kemampuan ini. Seorang public speaker yang handalpun pasti pernah mengalami rasa tidak percaya diri, cemas, gugup, tidak dapat menjawab pertanyaan, bahkan kelupaan materi. Bahkan, jam terbang yang tinggipun tidak menghilangkan rasa gugup dalam diri seseorang. Namun, jika mengetahui tekniknya, seseorang pasti dapat melakukan public speaking dengan baik. Kuncinya adalah mempersiapkan mental, materi, riset terkait audiens, dan menggunakan penampilan yang baik.

Pendekatan pembelajaran yang baik agar seseorang tidak terintimidasi untuk belajar public speaking adalah dengan merangkul mereka dan mengajak untuk belajar bersama-sama. Public speaking merupakan keterampilan yang harus terus menerus dilatih. Maka, dalam merancang sebuah media informasi, harus dapat membuat seseorang dapat belajar secara mandiri. Memposisikan diri sebagai audiens juga diperlukan agar audiens dapat lebih menangkap pesan yang ingin disampaikan dan dapat langsung mempraktekannya.

Untuk membuat seseorang tertarik membaca sebuah media informasi lebih jauh adalah dimulai dari cover, judul, interaktivitas, gaya bahasa, cara penyampaian yang sesuai dengan minat audiens. Karena targetnya merupakan generasi Z, yang merupakan generasi dengan rentang perhatian yang sangat rendah, disarankan untuk menggunakan bahasa sehari-hari yang mereka gunakan. Ilustrasi, infografis, layout, warna, dan permainan tipografi juga berperan sebagai perhentian-perhentian agar audiens tidak cepat bosan.

Lebih baik bila media informasi dibuat dalam bentuk digital agar mudah diakses dan dapat ditambahkan fitur video, audio, motion, pilihan jawaban, maupun game untuk menarik minat audiens. Ukuran buku yang sesuai adalah 14 x 21 cm, karenamempertimbangkan adanya kemungkinan untuk pencetakan secara fisik. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang media informasi yang interaktif adalah dengan memperhatikan fase, tempo, flow, dan ice breaking. Informasi yang dipaparkan mulai dari

(20)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 72

yang ringan dan akan menjadi semakin dalam untuk membantu audiens mencerna informasi yang didapatkan.

Endorsement atau testimony yang datang dari orang yang tadinya tidak percaya diri, namun akhirnya berhasil juga diperlukan untuk memotivasi audiens. Selain itu, konten mengenai tips yang merupakan personalisasi setiap orang akan lebih menarik. Perancangan media collateral atau media komunikasi yang berfungsi sebagai gimmick juga diperlukan untuk meningkatkan awareness terkait media informasi yang dirancang.

3.1.2 Focus Group Discussion

Narasumber dalam FGD merupakan 5 mahasiswa dari 4 jurusan yang berbeda, yaitu Alexander, William Pugar, Fenardy Halim, Sheren Pramana, dan Vinadia Nadia. Data demografi narasumber dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 3.1 Data Demografi Narasumber

Nama Usia Pendidikan SES Pekerjaan Domisili Alexander 20 Menempuh S1 AB Mahasiswa

(Sistem Informasi)

Jakarta

William Pugar 19 Menempuh S1 B Mahasiswa (Desain Komunikasi Visual)

Jakarta

Fenardy Halim 21 Menempuh S1 AB Mahasiswa

(Fotografi) Jakarta Sheren

Pramana 21 Menempuh S1 AB Mahasiswa (Desain Komunikasi Visual)

Jakarta

Vinadia Nadia 21 Menempuh S1 B Mahasiswa (Ilmu

Komunikasi)

Jakarta

FGD dilakukan pada tanggal 9 September 2021 via Zoom Meeting untuk data mengenai pandang target mengenai public speaking dan behavior audiens dalam mencari informasi.

(21)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 73

Gambar 3.8 Focus Group Discussion

Berdasarkan hasil FGD, diketahui bahwa ketakutan narasumber saat ini sebagai mahasiswa adalah mengenai karier mereka kedepannya, dan 1 orang narasumber mengatakan dirinya takut tidak lulus tepat waktu. Seluruh narasumber berharap mendapatkan pekerjaan yang sesuai passion dengan gaji yang tinggi dan dapat mengatasi ketakutannya dalam dunia karier.

Public speaking menurut narasumber adalah kemampuan berbicara di depan orang lain untuk memotivasi dan mempengaruhi seseorang berdasarkan perkataan yang diucapkan dengan berwibawa. Seluruh narasumber berpendapat bahwa public speaking adalah kemampuan yang sangat penting agar komunikasi dapat efektif, dapat bermanfaat saat melakukan presentasi, dan untuk mendukung soft skills lain seperti leadership. Alexander berpendapat bahwa di perkuliahan, presentasi hanya sekedar formalitas dan berdasarkan pengalamannya, mayoritas dosen tidak benar-benar memperhatikan apakah public speaking setiap mahasiswa sudah baik atau belum, padahal saat ini semuanya membutuhkan public speaking.

3 dari 5 narasumber sudah berusaha untuk mempelajari public speaking dengan cara menonton video Youtube motivator dan orang-orang yang memiliki kemampuan public speaking yang baik. Namun, terdapat kendala yaitu tidak menyukai cara penyampaian dari video yang sudah ada di internet sehingga kurang tertarik untuk mendalaminya lebih jauh. 2 narasumber yang belum melatihnya disebabkan karena tidak tertarik dengan

(22)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 74

media yang sudah ada sekarang dan malas membaca buku text book public speaking yang ada di pasaran. Selain itu, narasumber lainnya hanya berusaha untuk memotivasi diri sendiri dan belum ada usaha untuk belajar dari media manapun karena kurang tertarik dengan media yang sudah ada.

2 dari 5 narasumber menganggap dirinya introvert dan hal ini menghambat mereka untuk melatih public speaking karena tidak terbiasa dan merasa malu ketika berinteraksi dengan orang lain. Walaupun 3 narasumber lainnya tidak menganggap diri mereka introvert, namun mereka merasa kurang percaya diri dengan opini yang dimiliki, takut berbicara di depan orang lain sehingga membuat kelupaan materi, dan terlalu memikirkan pendapat orang lain terhadap apa yang diucapkan. Namun, hal itu tidak mengurungkan niat mereka untuk belajar.

Pekerjaan yang akan ditekuni seluruh responden kedepannya berhubungan dengan public speaking dan menganggap bahwa apapun profesinya, pasti membutuhkan public speaking untuk berkoordinasi bersama tim, atasan, bawahan, maupun client. Maka dari itu, public speaking merupakan kemampuan yang dibutuhkan oleh mahasiswa, apapun program studi maupun jurusannya.

Seluruh responden berpendapat bahwa public speaking sangat penting untuk diajarkan sedini mungkin. Sheren membagikan cerita dimana saat dirinya masih duduk di bangku SMA, guru tidak membiasakannya untuk melatih kemampuan public speaking. Hal ini membuat dirinya terkejut saat kuliah, dimana ternyata public speaking sangat dibutuhkan karena banyak tugas presentasi dan dapat bermanfaat saat mengikuti organisasi. Fenardy berpendapat bahwa lebih baik public speaking diterapkan dalam ekstrakurikuler kuliah sehingga hanya yang berminat saja yang mengikutinya. Namun, William memiliki pendapat yang berbeda, dimana akan lebih baik bila diterapkan di seluruh mata kuliah agar mahasiswa mau tidak mau harus belajar public speaking.

(23)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 75

Dari 5 narasumber, hanya 2 orang yang memiliki pengalaman berkesan ketika melakukan public speaking karena mereka dapat menguasai materi dengan baik. Walaupun begitu, mereka tetap memiliki lebih banyak pengalaman buruk dibandingkan pengalaman yang berkesan. Saat berbicara didepan umum, 3 narasumber lainnya selalu merasa gugup, tegang, berkeringat, terlalu banyak menggunakan filler words, tidak dapat menjawab pertanyaan, dan walaupun sudah mengetahui apa yang ingin dibicarakan, namun tetap tidak mengemukakannya secara verbal dengan lancar. Hal ini membuat 1 narasumber trauma dan menghindari public speaking jika tidak tedesak. 4 narasumber lainnya tidak merasa trauma dan justru pengalaman buruk yang dialaminya membuat mereka termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi.

Saat diminta untuk menilai kemampuan public speaking dari skala 1- 10, berikut ini adalah penilaian diri narasumber yang dapat dijelaskan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 3.2 Penilaian Diri Narasumber

Nama Nilai Alasan

Alexander 5 Tetap berani maju, jika lupa materi yang ingin dibicarakan memilih untuk membaca materi presentasi/slides.

William Pugar 4 Walaupun sudah mengetahui apa yang ingin dibicarakan, namun tidak dapat mengutarakannya dalam berntuk kata-kata.

Fenardy Halim 5.5 Bermodalkan kepercayaan diri, namun bergantung dengan situasi dan audiens yang dihadapi.

Sheren Pramana 1 Menilai diri memiliki public speaking yang sangat buruk, namun tetap berani untuk maju walaupun mungkin pesan yang ingin disampaikan tidak tersampaikan dengan baik.

Vinadia Nadia 5.5 Terkadang dapat berfikir dengan cepat saat mendapatkan pertanyaan mendadak, namun tetap sering gelagapan saat berbicara didepan umum.

Seluruh narasumber tertarik untuk mendalami public speaking, terutama jika terdapat media yang menarik. 2 dari 5 narasumber lebih nyaman untuk belajar sendiri agar lebih berkonsentrasi. 3 narasumber

(24)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 76

lainnya lebih nyaman untuk belajar di dalam small group yang berisi 3-4 orang yang mereka kenal agar dapat bertukar pikiran, mencoba langsung dengan audiens yang sesungguhnya, dan bisa saling mengajari dan evaluasi satu sama lain. Seluruh responden tidak tertarik untuk mengikuti kelas atau seminar khusus public speaking karena merasa terintimidasi dan panik.

Seluruh narasumber tertaik mempelajari public speaking melalui media buku interaktif yang dapat mendorong mereka untuk belajar secara mandiri. 2 dari 5 narasumber lebih menyukai buku fisik karena jenuh karena terlalu lama menatap layar. 3 narasumber lainnya lebih menyukai buku digital karena dapat menggunakan fitur-fitur menarik seperti audio, video, dan lebih mudah untuk dibawa kemana-mana. Budget yang rela dikeluarkan untuk buku mengenai public speaking adalah Rp. 50.000 – Rp. 100.000 (3 narasumber), Rp. 100.000 – Rp. 150.000 (1 narasumber), dan dibawah Rp.

500.000 (1 narasumber).

Gaya bahasa yang diharapkan untuk mempelajari public speaking adalah bahasa sehari-hari yang menimbulkan kesan fun agar lebih mudah untuk dimengerti. Namun, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bahasa yang formal apabila dibutuhkan untuk acara yang lebih formal.

Selain itu, Vina mengusulkan untuk menambahkan bahasa asing untuk menambah pengetahuan kosa kata baru. Jenis interaktivitas yang diharapkan adalah audio, video, latihan bersama (small group), latihan mandiri, dan jurnal sehingga pembaca dapat mencatat dan melakukan review perkembangan diri mereka. Narasumber tertarik membaca buku atau informasi lebih jauh apabila terdapat lebih banyak gambar dibandingkan teks, cover yang menarik, dan topik yang diangkat berhubungan dengan yang sedang dibutuhkan dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, penulis menanyakan informasi yang dibutuhkan oleh narasumber terkait dengan public speaking, namun sangat sulit untuk ditemukan atau pemaparan yang terlalu umum. 4 narasumber mengatakan topik dari sisi psikologi sangat sulit untuk ditemukan. Informasi atau saran

(25)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 77

ketika mengalami kecemasan, gugup, atau tegang yang sudah ada di internet banyak yang tidak membantu. Narasumber juga menginginkan informasi mengenai arti-arti dari setiap gestur tubuh yang kita lakukan saat berbicara didepan umum dan teori tentang public speaking. Salah satu responden pernah berusaha untuk mencari informasi mengenai teori public speaking, namun mayoritas informasi yang didapatkan berasal dari luar negeri dan tidak relate dengan penemuan yang ada di Indonesia.

3.1.2.1 Kesimpulan Focus Group Discussion

Berdasarkan hasil FGD terhadap 5 mahasiswa dengan 4 jurusan berbeda yaitu Desain Komunikasi Visual, Fotografi, Ilmu Komunikasi, dan Sistem Informasi, seluruh narasumber berpendapat bahwa public speaking merupakan kemampuan yang penting untuk diajarkan sedini mungkin dan berhubungan dengan pekerjaan yang akan ditekuni. Hal ini membuktikan bahwa seluruh jurusan dan profesi membutuhkan public speaking untuk melakukan koordinasi antar tim, atasan, bawahan, maupun client.

Ketakutan mereka saat ini sebagai mahasiswa berhubungan dengan karier dan takut ditak lulus tepat waktu, Namun, narasumber berharap bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passion, dengan gaji yang tinggi, dan dapat mengatasi ketakutan dalam berkarier. 3 narasumber sudah berusaha untuk mempelajar public speaking dari internet, namun kendala yang dialami adalah cara penyampaian kurang sesuai dengan minat audiens. 2 narasumber lainnya yang belum melatih public speaking disebabkan oleh karena media informasi yang ada tidak menarik dan membosankan.

Seluruh responden menilai kemampuan public speakingnya kurang baik dan memiliki pengalaman buruk saat berbicara didepan umum.

Walaupun begitu, 4 narasumber tidak merasa trauma dan justru pengalaman tersebut membuat mereka termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi. Bagi 2 narasumber, introvert menjadi salah satu penghalang bagi mereka untuk menguasai public speaking karena tidak terbiasa berinteraksi dengan orang lain. Meskipun begitu, seluruh narasumber tertarik untuk mendalami public

(26)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 78

speaking lebih jauh melalui sebuah media informasi, terlebih jika media informasi yang ditawarkan sesuai dengan minat dan karakteristik mereka.

2 narasumber lebih nyaman belajar sendiri dan 3 narasumber lebih nyaman untuk belajar dalam small group berisi 3-4 orang. Seluruh narasumber tidak tertarik untuk mengikuti kelas atau seminar khusus public speaking karena merasa terintimidasi dan panik. 2 narasumber menyukai buku berbentuk fisik, sedangkan 3 narasumber lainnya menyukai buku digital karena lebih efisien, praktis, dan terdapat fitur-fitur yang menarik seperti video dan audio. Gaya bahasa yang diharapkan adalah gaya bahasa sehari-hari dan interaktivitas yang diharapkan adalah audio, video, latihan bersama (small group), latihan mandiri, dan jurnal pribadi. Informasi yang sulit untuk dicari oleh narasumber adalah topik dari sisi psikologi dalam mengatasi kecemasan, gugup, tegang, arti gestur tubuh, serta informasi seputar teori-teori public speaking.

3.1.3 Kuesioner

Menurut Kumar (2011), kuesioner adalah daftar pertanyaan tertulis yang jawabannya dicatat sendiri responden sehingga pertanyaan yang diajukan harus jelas dan mudah dipahami. Untuk mendapatkan gambaran mengenai pemahaman target audiens mengenai public speaking, penulis melakukan kuesioner menggunakan Google Form dengan menggunakan skala likert dan prosedur pengambilan data random/probability dengan teknik convenience sampling. Perhitungan jumlah sampel yang dibutuhkan menggunakan Rumus Slovin dengan derajat ketelitian 10% sesuai dengan target demografi yaitu mahasiswa berusia 19-23 tahun yang berdomisili di Jakarta, dengan populasi sebesar 960.812 jiwa (berdasarkan data BPS dari https://www.bps.go.id/statictable/2015/09/14/1839/jumlah-perguruan-

tinggi-mahasiswa-dan-tenaga-edukatif-negeri-dan-swasta-di-bawah- kementrian-pendidikan-dan-kebudayaan-menurut-provinsi-2013-2014- 2014-2015.html). Berikut ini adalah perhitungannya:

(27)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 79

ܵ ൌ ݊ ͳ ൅ ܰǤ ݁ Keterangan:

S = jumlah Sampel N/n = jumlah populasi e = derajat ketelitian

ܵ ൌ ͻ͸ͲǤͺͳʹ

ͳ ൅ ͻ͸ͲǤͺͳʹǤ ሺͲǤͳሻ ൌ ͻͻǡͻͻ

Besaran sampel dengan derajat ketelitian 10% sesuai dengan perhitungan adalah sebanyak 100 responden.

Kuesioner mulai disebarkan pada tanggal 2 September 2021 dan telah diisi oleh 104 responden per 20 Mei 2021. Berdasarkan kuesioner yang telah dilakukan, didapatkan data sebagai berikut:

Tabel 3.3 Data Demografi Responden

Variabel Kategori Frekuensi (n) Presentase

Jenis Kelamin Laki-laki 31 29.8%

Perempuan 73 70.2%

Usia <19 tahun 0 0%

19 – 23 tahun 100 96.2%

24 – 28 tahun 3 2.9%

29 – 34 tahun 1 1%

>34 tahun 0 0%

Domisili Jakarta 105 100%

Luar Jakarta 0 0%

Pekerjaan Mahasiswa 92 88.5%

Karyawan 8 7.7%

Wirausaha 2 1.9%

Freelancer 2 1.9%

Tidak/belum

bekerja 0 0%

Pendapatan per bulan < Rp. 1.000.000 5 4.8%

Rp. 1.000.000 –

Rp. 3.000.000 23 22.1%

Rp. 3.000.000 –

Rp. 5.000.000 35 33.7%

Rp. 5.000.000 – 19 18.3%

(28)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 80

Rp. 8.000.000 Rp. 8.000.000 –

Rp. 12.000.000 8 7.7%

> Rp. 12.000.000 14 13.5%

Berdasarkan tabel diatas, terdapat 73 responden wanita dan 31 responden pria yang berdomisili di Jakarta dengan mayoritas usia 19-23 tahun, namun terdapat 3 responden yang berusia dibawah 24-28 tahun dan 1 responden berusia 29-34 tahun (tidak sesuai dengan target audiens yang dituju). Mayoritas audiens merupakan mahasiswa (88.5%) dan yang lainnya bekerja sebagai karyawan (7.7%), freelancer dan wirausaha (masing-masing 1.9%).

Dari segi ekonomi, 33.7% responden memiliki pendapatan sebesar Rp. 3.000.000 – Rp. 5.000. 000, 22.1% responden memiliki pendapatan sebesar Rp. 1.000.000 – Rp. 3.000.000, 18.3% responden memiliki pendapatan sebesar Rp. 5.000.000 – Rp. 8.000.000, 13.5% responden memiliki pendapatan diatas Rp. 12.000.000, 7.7% responden memiliki pendapatan Rp. 8.000.000 – Rp. 12.000.000, dan 4.8% responden memiliki pendapatan dibawah Rp. 1.000.000.

Selanjutnya pendapat responden mengenai berbicara di depan umum, didapatkan data sebagai berikut:

Tabel 3.4 Pendapat Responden mengenai Public Speaking

Pertanyaan Ya (n (%)) Tidak (n (%)) Apakah Anda tau apa yang dimaksud dengan

public speaking? 100% 0%

Pernyataan Mean Keterangan

Public speaking adalah kemampuan yang

penting bagi saya 4.52 Setuju

Menurut saya, public speaking membantu

dalam meraih/meningkatkan karier seseorang 4.61 Setuju Menurut saya, public speaking penting untuk

dilatih sejak masa perkuliahan 4.61 Setuju

Pertanyaan Ya (n (%)) Tidak (n (%)) Apakah Anda pernah mendapatkan materi

mengenai public speaking secara pendalam di perkuliahan?

27% 73%

(29)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 81

Berdasarkan data yang dipaparkan di atas, seluruh responden mengetahui apa itu public speaking dan berpendapat bahwa kemampuan public speaking itu penting dan membantu dalam meraih/meningkatkan karier seseorang dan perlu dilatih sejak masa perkuliahan. Namun, hanya 27% responden yang mendapatkan materi public speaking secara mendalam di perkuliahan.

Selanjutnya mengenai praktik berbicara di depan umum, data yang didapatkan adalah sebagai berikut:

Gambar 3.9 Diagram Frekuensi Berbicara di Depan Umum

Sebanyak 72% responden kerap berada di situasi yang mengharuskan mereka berbicara di depan umum dan 3 hal yang paling sering dirasakan adalah gugup dengan perolehan data sebesar 73%, tidak percaya diri dengan perolehan data sebesar 64%, dan tegang dengan perolehan data sebesar 57%. Selanjutnya diikuti dengan lupa materi yang ingin dibicarakan, cemas, bingung, berkeringat, tangan gemetar, kesulitan tidur (sehari sebelum berbicara di depan umum), dan tubuh menjadi kaku.

Gambar 3.10 Hal-hal yang Sering Dirasakan Ketika Berbicara di Depan Umum

(30)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 82

Pada bagian selanjutnya, diajukan pertanyaan untuk mengetahui tingkat pemahaman responden mengenai kemampuan public speaking dan didapatkan data sebagai berikut:

Tabel 3.5 Pemahaman Audiens mengenai Public Speaking

Pernyataan Mean Keterangan

Saya tidak tahu cara meningkatkan kepercayaan diri saat harus berbicara di depan umum

3.41 Setuju

Saya menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus saya bicarakan ketika berbicara di depan umum

3.45 Setuju

Saya tidak tahu cara mengontrol rasa cemas

ketika harus berbicara di depan umum 3.56 Setuju Saya merasa panik jika ditunjuk secara tiba-

tiba (tanpa persiapan) untuk berbicara di depan umum

4.12 Setuju

Ketika melakukan kesalahan saat berbicara di depan umum, saya merasa sulit berkonsentrasi pada bagian-bagian selanjutnya

4 Setuju

Saya tidak berusaha melakukan riset terkait audiens sebelum mulai berbicara di depan umum

3.22 Setuju

Saya kerap merasa sulit mengontrol suasana 3.64 Setuju Saya tidak mengetahui cara membawa diri

dengan baik saat berbicara di depan umum 3.6 Setuju Saya tidak mengetahui apa saja yang perlu

disiapkan saat berbicara di depan umum 3.3 Setuju

Pertanyaan Ya (n (%)) Tidak (n (%)) Apakah Anda membutuhkan informasi

tambahan mengenai kemampuan public speaking?

96% 4%

Public speaking berhubungan dengan

bekerjaan yang sedang/akan Saya tekuni 72% 28%

Apakah Anda ingin mendalami lebih jauh

mengenai public speaking? 99% 1%

Berdasarkan data yang dipaparkan di atas, mayoritas responden belum tau cara untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri dan mengontrol rasa cemas saat berbicara di depan umum sehingga menjadi bingung/tidak tau apa yang harus dibicarakan. Responden juga kerap merasa panik dan

(31)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 83

sulit berkonsentrasi pada keadaan terdesak seperti saat ditunjuk tanpa persiapan secara tiba-tiba mapupun ketika melakukan kesalahan saat berbicara di depan umum.

Mayoritas responden tidak tau apa yang harus disiapkan saat berbicara di depan umum dan tidak melakukan riset terkait audiens sebelum berbicara di depan umum. Responden juga kerap merasa sulit mengontrol suasana dan tidak tau cara membawa diri yang baik saat melakukan public speaking. Namun, pekerjaan yang akan ditekuni oleh kebanyakan responden berhubungan dengan kemampuan public speaking.

Hal ini menuntut responden untuk melatih kemampuan ini, terutama saat memasuki dunia kerja. Responden merasa mereka membutuhkan informasi tambahan mengenai kemampuan public speaking dan 99%

responden ingin mendalami kemampuan ini lebih jauh. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa media informasi dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai teknik public speaking, terutama dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Pada section berikutnya, ditujukan untuk mengetahui upaya yang telah dilakukan responden untuk melatih kemampuan public speaking.

56% responden sudah melakukan upaya mempelajari public speaking dengan mencoba berlatih, mencari tahu tentang public speaking di internet dan media sosial, mengikuti organisasi, membaca, memperhatikan orang yang memiliki kemampuan public speaking, mengikuti kelas maupun seminar/webinar, aktif menjawab pertanyaan dosen, memilih jurusan komunikasi, dan mengikuti lomba. Namun, 83% responden mengalami kendala saat mempelajari public speaking.

(32)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 84

Gambar 3.11 Diagram Kendala Mempelajari Public Speaking

Tiga kendala yang paling sering ditemui adalah informasi yang dipaparkan terlalu umum (46.4%), terkadang terdapat pertanyaan yang kurang mampu dijawab (44.6%), dan tidak mendapatkan informasi yang diinginkan (37.5%). Selanjutnya diikuti dengan biaya mahal, bahasa yang harus dipelajari cenderung formal dan membosankan, tidak dapat menjawab dengan spontan dan cepat, serta jam pengajaran yang didapatkan di perkulahan hanya sebentar sementara public speaking membutuhkan jam terbang yang tinggi agar terbiasa.

Bagi 44% responden yang tidak mempelajari public speaking, alasan utamanya disebabkan karena kurangnya informasi yang tersebat/dapat dijangkau dengan mudah (50%), kurangnya tingkat literasi/malas membaca dan informasi yang tersedia membosankan (masing-masing 40.9%), kesulitan diksi/bahasa terlalu berat dan susah untuk dimengerti (20.5%), dan 9.1% responden tidak tertarik untuk mendalami public speaking.

Gambar 3.12 Diagram Alasan Belum Mempelajari Public Speaking

(33)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 85

Pada pertanyaan section terakhir mengenai media informasi, didapatkan data mengenai 3 informasi yang dibutuhkan oleh responden tentang kemampuan public speaking, yaitu tips mengatasi keadaan darurat saat berbicara di depan umum dengan perolehan data sebesar 74%, cara mengatasi kecemasan saat berbicara di depan umum dengan perolehan data sebesar 71%, dan cara menyampaikan materi pembicaraan dengan baik dengan perolehan data sebesar 62%. Selanjutnya diikuti dengan hal- hal yang perlu diperhatikan saat berbicara di depan umum dan hal-hal yang dapat membangun keberhasilan saat berbicara di depan umum.

Dalam mencari Informasi, 49% responden menggunakan sosial media, lalu diikuti dengan buku/e-book (25%), website/blogs (14%), dan seminar/workshop (11%). Walaupun sudah terdapat seminar atau kelas public speaking berbayar, ternyata mayoritas responden tidak bersedia mengeluarkan banyak uang untuk mengikutinya. Hanya terdapat 33%

responden yang bersedia membayar sebesar Rp. 250.000 – Rp. 750.000 dan 5% responden bersedia membayar Rp. 750.000 – Rp. 1.250.000.

Media sosial yang paling sering digunakan oleh responden adalah Instagram (62%), Youtube (34%), Tiktok (3%), dan Twitter (1%).

Gambar 3.13 Diagram Informasi yang Dibutukan mengenai Public Speaking

Saat belajar, didapatkan data bahwa sebanyak 99% responden lebih menyukai media yang menggunakan gabungan teks dan visual, dengan jenis visual ilustrasi (77%), video (54%), foto (42%), infografis (38%), dan motion graphic (37%).

(34)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 86

s Gambar 3.14 Diagram Preferensi Jenis Visual

3 hal yang membuat responden tertarik untuk membaca atau mencari informasi lebih lanjut adalah karena visual yang menarik (78%), bahasa yang ringan dan mudah dimengerti (72%), dan topik yang diangkat sesuai dengan kehidupan atau yang sedang dibutuhkan (62%). Kemudian diikuti dengan judul yang menarik, ringkasan atau sinopsis yang menarik, menggunakan pendekatan storytelling, ditulis oleh figur yang dikenal atau dikagumi, dan direkomendasikan oleh teman atau keluarga.

Gambar 3.15 Diagram Hal-Hal yang Menarik dari Sebuah Media Informasi

Bagi responden kelompok usia 24-28 tahun, 29-34 tahun, dan > 34 tahun, penulis memberikan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan insight dari mereka yang sudah memasuki dunia kerja.

(35)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 87

Tabel 3.6 Pendapat Responden mengenai Public Speaking

Pertanyaan Ya (n (%)) Tidak (n (%)) Apakah public speaking berkaitan dengan

pekerjaan yang Anda tekuni? 75% 25%

Menurut Anda, apakah public speaking

penting dalam memasuki dunia kerja? 100% 0%

Apakah public speaking membantu dalam mendapatkan pekerjaan/meningkatkan karier dilingkungan kerja Anda?

100% 0%

Apakah saat berada di jenjang perguruan tinggi

Anda diajarkan mengenai public speaking? 75% 25%

Berdasarkan tabel diatas, mayoritas pekerjaan yang ditekuni oleh responden berkaitan dengan public speaking (75%). Seluruh responden menganggap bahwa public speaking penting dalam memasuki dunia kerja dan membantu untuk mendapatkan pekerjaan serta meningkatkan karier di lingkungan kerja mereka. 75% responden sudah diajarkan kemampuan public speaking saat berada di perguruan tinggi.

Gambar 3.16 Diagram Tingkat Kesulitan Melamar Kerja

Mayoritas responden merasa kesulitan saat melamar kerja karena tidak memiliki kemampuan public speaking yang baik (75%) dan seluruh responden setuju bahwa public speaking penting untuk diajarkan kepada mahasiswa. Hal ini dikarenakan dalam dunia kerja, public speaking adalah kemampuan yang diperlukan untuk membuat seseorang terlihat professional, memiliki kredibilitas, serta mendapatkan perhatian lebih dibandingkan orang yang tidak memiliki kemampuan public speaking.

(36)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 88

Gambar 3.17 Alasan Pentingnya Public Speaking bagi Mahasiswa

Seluruh responden berharap mendapatkan materi mengenai public speaking ketika berada di jenjang pendidikan tinggi untuk mempersiapkan diri dalam dunia kerja dan akan lebih baik jika dipelajari sejak dini.

Gambar 3.18 Alasan Kebutuhan Pengajaran Public Speaking saat Berkuliah

3.1.3.1 Kesimpulan Kuesioner

Berdasarkan hasil kuesioner terhadap 100 mahasiswa berusia 19-23 tahun yang berdomisili di Jakarta, seluruh responden menganggap public speaking itu penting dan membantu meningkatkan karier seseorang.

Mayoritas responden kerap berada di situasi yang mengharuskan mereka berbicara didepan umum dan kerap merasakan gugup, tidak percaya diri, dan tegang. Mayoritas responden belum memiliki penguasaan mengenai teknik public speaking yang baik. Namun, pekerjaan yang akan ditekuni oleh mayoritas responden berhubungan dengan public speaking. Maka, diperlukan pelatihan public speaking agar dapat menjadi bekal dalam memasuki dunia kerja.

99% responden ingin mendalami kemampuan public speaking lebih jauh. 56% responden sudah mencoba untuk mendalami public speaking

(37)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 89

dengan berlatih, mengikuti organisasi, memperhatikan orang lain, dan mencari informasi dari internet. Namun, masih terdapat kendala saat mempelajari public speaking yaitu informasi terlalu umum, terdapat pertanyaan yang kurang mampu dijawab, dan tidak mendapatkan informasi yang diinginkan. 44% responden lainnya belum mempelajari public speaking karena kurangnya informasi yang dijangkau dengan mudah, malas membaca, informasi membosankan, dan bahasa yang terlalu berat. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa media informasi yang sesuai dengan minat audiens dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai teknik public speaking.

Informasi yang dibutuhkan oleh responden adalah tips mengatasi keadaan darurat saat berbicara didepan umum, cara mengatasi kecemasan, dan cara menyampaikan materi dengan baik. Dalam mencari informasi, responden mengandalkan sosial media, buku/e-book, dan website/blogs.

Seminar/workshop memiliki peminat yang paling sedikit karena responden tidak bersedia mengeluarkan banyak uang untuk mengikutinya. Saat belajar, responden menyukai visual berupa ilustrasi, video, foto, infografis, dan motion graphic. Hal-hal yang membuat responden tertarik untuk mencari informasi lebih lanjut karena visual yang menarik, bahasa yang mudah dimengerti, dan topik sesuai dengan kebutuhan.

Bagi 4 responden dengan kelompok usia 24-28 tahun, 29-34 tahun, dan > 34 tahun, mayoritas pekerjaan yang ditekuni berhubungan dengan public speaking dan keterampilan ini penting serta membantu untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan karier di lingkungan kerja mereka. Karena tidak memiliki kemampuan public speaking yang baik, mayoritas responden merasa kesulitan dalam melamar pekerjaan dan menganggap bahwa public speaking merupakan kemampuan yang penting untuk diajarkan di jenjang perguruan tinggi.

(38)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 90

3.1.4 Studi Eksisting

Studi eksisting dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai media informasi yang memiliki tema self-improvement dengan topik public speaking yang sudah ada.

3.1.4.1 Seni Menaklukan Lawan Bicara

Buku dengan tema self-improvement yang ditulis oleh Ayu Usada R., M.Sos. merupakan buku panduan yang dapat membantu pembaca untuk meningkatkan kemampuan public speaking yang diterbitkan pada tahun 2020. Buku ini ditulis dengan harapan dapat menjadi bekal dan penuntun bagi orang-orang yang ingin mempelajari seni mempengaruhi orang lain. Tidak hanya menyajikan panduan komunikasi secara umum, buku ini menyediakan contoh-contoh praktisnya dalam kehidupan sehari- hari dengan beragam situasi seperti wawancara kerja, berbisnis, memimpin rapat, pidato, dan presentasi. Buku ini dikemas dengan ilustrasi vector dengan warna monokrom dan menggunakan jenis singlecolumn grid.

Gambar 3.19 Cover Buku Seni Menaklukan Lawan Bicara

Buku ini menyediakan cerita pengalaman beberapa tokoh terkenal yang berhasil sukses berkat kemampuan public speaking yang dapat membuat audiens termotivasi. Selain itu, terdapat tips berbicara di depan

(39)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 91

umum dengan berbagai situasi sehingga audiens dapat menyesuaikan dengan kebutuhan mereka masing-masing.

Kelebihan dari buku ini dari sisi desain adalah terdapat halaman quotes disetiap akhir chapter yang berfungsi sebagai perhentian- perhentian dan penutup chapter sehingga pembaca tidak merasa lelah membaca buku. Selain itu penggunaan ukuran huruf yang besar dan jenis huruf sans serif membuat pembaca lebih nyaman. Selain itu, jika terdapat informasi yang ingin ditekankan, terdapat box highlight yang memperkaya variasi dan memancing pembaca untuk membacanya.

Kekurangan dari buku ini adalah minimnya penggunaan ilustrasi dan warna monokrom membuat buku kurang terlihat menarik dan monoton. Selain itu, terdapat beberapa ilustrasi yang memiliki kualitas gambar yang kurang baik dan tidak konsisten, serta memiliki gaya visual yang tidak seragam di setiap halamannya.

Gambar 3.20 Isi Buku Seni Menaklukan Lawan Bicara

Berikut ini adalah tabel analisa SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, dan Threats) dari buku Seni Menaklukan Lawan Bicara:

(40)

Perancangan Buku Digital…, Cheryl Tadea, Universitas Multimedia Nusantara 92

Tabel 3.7 Analisa SWOT Buku Seni Menaklukan Lawan Bicara

Strengths Weaknesses

- Menyajikan informasi mengenai public speaking di berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari.

- Informasi yang disajikan menyertakan sumber yang jelas yaitu buku, jurnal, dan artikel dari internet.

- Terdapat ilustrasi percakapan yang membuat pesan buku lebih mudah dimengerti.

- Dilengkapi dengan visual (ilustrasi dan foto).

- Terdapat quotes dan cerita pengalaman keberhasilan seseorang berkat kemampuan public speaking untuk

memotivasi pembaca.

- Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.

- Minimnya penggunaan ilustrasi dan buku yang tidak berwarna membuat buku kurang terlihat menarik.

- Terdapat beberapa kualitas gambar yang kurang baik.

- Gaya ilustrasi yang digunakan tidak konsisten.

- Hanya dapat dibaca oleh orang yang membeli buku, karena tidak tersedia versi digital.

Opportunities Threats

- Konten buku dapat

dikembangkan, tidak hanya menyajikan teknik-teknik yang tepat, namun juga cara menghadapi permasalahan yang sering dihadapi seperti kecemasan.

- Dapat dikembangkan menjadi versi digital.

- Buku digital lebih mudah diakses.

- Masyarakat masih lebih banyak menjadi informasi melalui internet dengan sumber yang kurang valid dan terpercaya.

3.1.4.2 Brave Speakers

Brave Speakers merupakan sebuah tempat kursus untuk pengembangan skill di bidang public speaking sejak bulan Mei 2020.

Walaupun berfokus sebagai tempat kursus, Brave Speakers juga kerap membagikan informasi-informasi dan tips seputar public speaking di sosial media yaitu Instagram.

Gambar

Gambar 3.2 Wawancara dengan Teuku Daffa
Gambar 3.4 Diskusi Konten bersama Public Speaker
Gambar 3.5 Wawancara dengan Irwan Fakhruddin
Gambar 3.6 Wawancara dengan Thomas Simpson
+7

Referensi

Dokumen terkait

Salah satu cara yang mudah dilakukan bagi pembelajar bahasa Jepang orang Indonesia dalam menentukan makna dasar, yaitu dengan menggunakan hasil penelitian

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan meliputi, Apakah siswa mengalami kesulitan dalam pembelajaran berbicara khususnya kegiatan berdebat pada mata pelajaran bahasa

Dalam penelitian ini peneliti mengajukan validasi instrument test tertulis materi bangun datar dengan beberapa validator setelah peneliti menyerahkan instrument test

Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat grafik histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang

Terdapat beberapa cara untuk menguji multikolonieritas salah satunya adalah dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF) dimana keduanya ini

Peneliti dapatkan wawancara mendalam dalam objek atau informan adalah salah satu cara untuk mendapatkan informasi yang mendalam mengenai sesuatu yang ingin

Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan tanya jawab, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan sumber data. 57)

Tes akan dilakukan setelah uji coba lapangan dilaksanakan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah menggunakan media pembelajaran bangun ruang sisi datar limas dan prisma tegak