• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

30 A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2014:23) Data Kuantitatif adalah data penelitian yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang di angkakan (skoring). di mana data dikumpulkan, dicatat, disusun dan disajikan dalam bentuk tabel frekuensi yang selanjutnya dilakukan pengukuran nilai-nilai statistiknya untuk membuktikan kebenaran terhadap teori. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena yang ada serta hubungan yang ada. Dalam penelitian ini data yang dibutuhkan adalah data sekunder yang berupa laporan keuangan tahunan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Periode tahun 2019- 2021 dengan periode laporan keuangan yang berakhir pada 31 Desember. Data tersebut diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD), IDX Fact book, IDX Statistic, http://www.idx.co.id/, www.idnfinancials.com.

B. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini terdapat sebanyak 160 perusahan yang melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia dari 2019-2021. Adapun saham yang dijadikan sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan teknik purposive sampling yakni penentuan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Adapun kriteria tersebut adalah :

a. Perusahaan go public yang melakukan Initial Public Offering (IPO) dari tahun 2019 sampai tahun 2021.

b. Menerbitkan laporan keuangan tahunan pada saat melakukan Initial Public offering (IPO), memiliki informasi, ketersedian data dan variabel yang diperlukan dalam melakukan penelitian tersebut serta telah di audit dan di publikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2019-2021.

c. Tersedia nama auditor yang mengaudit dan nama underwriter.

d. Perusahaan yang mengalami underpricing pada Initial Public Offering (IPO) selama periode 2019-2021.

e. Perusahaan yang laporan keuangannya dinyatakan dalam mata uang rupiah.

(2)

C. Tahapan Penelitian 1. Teknik Sampling

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan purposive sampling dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian. Metode purposive sampling adalah metode pengambilan sampel yang didasarkan pada beberapa pertimbangan atau kriteria tertentu. Ringkasan perolehan sampel penelitian perusahaan adalah sebagai berikut :

Tabel 2.

Ringkasan Perolehan Sampel Penelitian

Kriteria Pengambilan Sampel 2019 2020 2021 TOTAL Perusahaan yang terdaftar di BEI tahun

2019-2021 55 51 54 160

Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangan pada saat IPO dan datanya tidak lengkap

(0) (0) (6) (6)

Perusahaan yang laporan keuangannya

dinyatakan selain dalam Rupiah (2) (1) (2) (5) Perusahaan yang tidak mengalami

underpricing (4) (1) (8) (13)

Data Outlier (2) (1) (0) (3)

Jumlah sampel perusahaan 47 48 38 133

Sumber : Data olahan Peneliti, 2022.

2. Tahapan

Tahapan dari penelitian ini adalah menganalisis seluruh perusahaan yang go public dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 160 saham yang kemudian dipilih kembali menjadi 133 saham sebagai sampel penelitian.

Perusahaan yang diambil sebagai sampel dalam penelitian ini dipilih berdasarkan keriteria-kriteria yang sesuai dengan tujuan penelitian menggunakan teknik purposive sampling.

(3)

D. Definisi Operasional Variabel

Definisi Operasional Variabel adalah seperangkat petunjuk yang lengkap tentang apa yang harus diamati dan mengukur suatu variabel atau konsep untuk menguji kesempurnaan. Definisi operasional variabel ditemukan item-item yang dituangkan dalam instrumen penelitian (Sugiyono, 2014:3).

1. Variabel Independen

Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab timbulnya variabel dependen. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, dan umur perusahaan.

Pengukuran Variabel independen, sebagai berikut:

a. Reputasi Underwriter

Reputasi underwriter adalah skala kualitas underwriter dalam penawaran saham emiten. Reputasi underwriter diukur berdasarkan peringkat underwriter.

Variabel reputasi underwriter diukur dengan pemeringkatan Bursa Efek Indoensia (BEI) “The Most Active IDX Members in Total Trading Volume” yang dipublikasikan pada IDX Fact Book. Variabel reputasi underwriter juga menggunakan angka dummy. Kode 1 untuk underwriter yang termasuk di Top 10 The Most Active Members in Total Trading Volume pada 1 tahun sebelumnya dan kode 0 bagi yang tidak termasuk (Adityawarman, 2017:4).

b. Reputasi Auditor

Reputasi Auditor diukur bedasarkan frekuensi auditor melakukan audit terhadap laporan keuangan emiten. Dalam penelitian ini dibuat peringkat auditor dengan cara membuat record dari perusahaan yang melakukan IPO dan membuat urutan sesuai dengan frekuensi auditor yang melakukan audit selama 1 tahun dalam periode penelitian. Asumsinya emiten diberi nilai 1 apabila menggunakan jasa auditor yang masuk kategori big four dalam setiap tahun dan bila emiten tidak menggunakan jasa auditor yang tidak masuk dalam big four dalam setiap tahun diberi skala 0 (Pahlevi, 2014:225).

(4)

c. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan dapat dijadikan sebagai proxy tingkat ketidakpastian saham. Perusahaan yang berskala besar cenderung lebih dikenal oleh masyarakat, sehingga informasi mengenai prospek perusahaan berskala besar lebih mudah diperoleh investor daripada perusahaan berskala kecil. Ukuran perusahaan dihitung dengan menggunakan logaritma dari total aktiva perusahaan (Setiawan, 2015:49).

Size = log of total asset

d. Umur Perusahaan

Umur perusahaan dihitung dalam skala tahun dan diukur dengan lamanya perusahaan beroperasi yaitu sejak perusahaan didirikan sampai dengan ketika perusahaan tersebut melakukan IPO. Informasi mengenai tanggal berdirinya perusahaan dan saat perusahaan tersebut melakukan IPO dapat dilihat di catatan atas laporan keuangan (Pahlevi,2014:226). Formula Umur Perusahaan dapat dirumuskan:

Age = Lamanya perusahaan beroperasi yaitu sejak perusahaan didirikan sampai dengan ketika perusahaan tersebut melakukan IPO.

2. Variabel Dependen

Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau merupakan akibat dari dari variabel independen. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tingkat underpricing.

Pengukuran Variabel dependen (underpricing), sebagai berikut:

Underpricing adalah selisih positif antara harga saham di pasar sekunder dengan harga saham di pasar perdana. Selisih harga inilah yang dikenal sebagai initial return (IR) atau positif return bagi investor (Setiawan, 2015). Dalam penelitian ini, variabel underpricing diwakili dengan initial return dan diukur dengan rumus sebagai berikut:

(5)

Keterangan

IR = Initial Return (return awal)

CP = Closing Price ( Harga penutupan pada hari pertama perdagangan di pasar sekunder

OP = Offering Price ( Harga penawaran perdana)

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakan. Kepustakaan dilakukan dengan mempelajari dan menggali literatur-literatur berupa buku, jurnal, dan referensi-referensi lainnya yang berkaitan dengan objek penelitian sehingga diharapkan mampu menunjang pengolahan data.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data adalah suatu metode atau cara untuk mengolah sebuah data menjadi informasi sehingga karakteristik data tersebut menjadi mudah untuk dipahami dan juga bermanfaat untuk menemukan solusi permasalahan, yang terutama adalah masalah yang tentang sebuah penelitian.

1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif memberikan gambaran ata deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, nilai tertinggi (maksimum dan nilai terendah (minimum) (Ghozali, 2011:19). Hal ini perlu dilakukan untuk melihat gambaran keseluruhan dari sampel yang berhasil dikumpulkan dan memenuhi syarat untuk dijadikan sampel penelitian. Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel dependen, dan variabel independen. Variabel dependen pada penelitian ini adalah tingkat underpricing. Variabel independen pada penelitian ini adalah reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, dan umur perusahaan.

(6)

2. Uji Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik merupakan syarat utama untuk menilai apakah persamaan regresi yang digunakan sudah memenuhi syarat BLUE (Best Linear Unbias Estimator). Untuk membuktikan hipotesa yang dibentuk dalam penelitian ini yang dilakukan dengan menggunakan uji regresi berganda, sebelumnya harus dilakukan pengujian asumsi klasik terlebih dahulu yang masing-masing dijelaskan dibawah ini :

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variable pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Cara mendetesi dilakukan dengan dua cara yaitu (Ghozali, 2011) :

1) Analisis Grafik

Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat grafik histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Namun demikian hanya dengan melihat histogram dapat menyesatkan khususnya untuk jumlah sampel yang kecil. Metode yang handal dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis diagonal dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika data residual normal, maka garis yang menggambarkan sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya.

Pada prinsipnya normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran datapada sumbu diagonal dari grafik atau dengan melihat histogram dari residualnya.

Dasar pengambilan keputusan :

a. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis normal atau grafik histogram menunjukkan pola distribusi normal maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.

b. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.

(7)

2) Analisis Statistik

Untuk mendeteksi normalitas data dapat dilakukan pula melalui analisis statistik Kolmogorov-Smirnov test (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis:

Ho = Data residual terdistribusi normal Ha = Data residual tidak terdistribusi normal

a. Apabila probabilitas nilai Z uji K-S signifikan secara statistik maka Ho ditolak, yang berarti data terdistribusi tidak normal.

b. Apabila probabilitas nilai Z uji K-S tidak signifikan secara statistik maka Ho diterima, yang berarti data terdistribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Pengujian ini berguna untuk mengetahui apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel bebas (independen) (Ghozali, 2011). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel bebas (independent).

Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dalam suatu model regresi dapat dilihat dari tolerance value atau Variance Inflation Factor (VIF). Sebagai dasar acuannya dapat disimpulkan :

1. Jika nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

2. Jika nilai tolerance 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.

c. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi.

Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Masalah yang timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Hal ini sering ditemukan pada

(8)

data runtut waktu (time series). Model regresi yang baik adalah yang bebas dari autokorelassi (Ghozali, 2011).

Uji autokorelasi menggunakan Run Test. Run Test digunakan untuk menguji apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi. Jika antar residual tidak terdapat hubungan korelasi maka dikatakan bahwa residual adalah acak. Run Test digunakan untuk menguji apakah data residual terjadi secara random atau acak (Ghozali, 2011).

d. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteoskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan kepengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homoskedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas (Ghozali, 2011:139).

Menurut Ghozali (2011) dasar analisis untuk mendeteksi ada atau tidaknya Heteroskedastisitas adalah :

1. Jika ada pola tertentu (bergelombang, melebar kemudian menyempit) maka mengindikasikan telah terjadi Heteroskedastisitas.

2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi Heteroskedastisitas.

3. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel independen (variabel bebas), dengan tujuan untuk mengestimasi dan atau memprediksi rata-rata populasi atau nilai-nilai variabel independen yang diketahui (Ghozali, 2011). Penelitian ini menggunakan teknik analisis data dengan metode analisis.

Analisis Regresi Linear Berganda (Multiple Linear Regression), analisis ini secara matematis ditulis dengan persamaan sebagai berikut :

(9)

Y = α + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ε

Dimana :

Y = Underpricing hari pertama sebagai dependen variabel α = Konstanta

X1 = Reputasi underwriter X2 = Reputasi Auditor X3 = Ukuran Perusahaan X4 = Umur perusahaan

β1 = Koefisien regresi reputasi underwriter β2 = Koefisien regresi reputasi auditor β3 = Koefisien regresi Ukuran Perusahaan β4 = Koefisien regresi Umur Perusahaan ε = error term

Analisis regresi berganda disamping untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan independen. Jadi analisis regresi berganda merupakan analisa untuk mengukur seberapa besar pengaruh variabel reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, dan umur perusahaan, dengan tingkat underpricing pada perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia. Apabila koefisien β bernilai positif (+) maka terjadi pengaruh searah antara variabel independen dengan variabel dependen, demikian pula sebaliknya, bila koefisien β bernilai negatif (-) hal ini menunjukkan adanya pengaruh negatif dimana kenaikan nilai variabel independen akan mengakibatkan penurunan nilai variabel dependen.

4. Uji Hipotesis a. Uji Statistik (T)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/ independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing dari

(10)

variabel independen (reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, dan umur perusahaan) secara individual mempunyai pengaruh terhadap underpricing.

Apabila nilai probabilitas signifikansinya lebih kecil dari 0,05 (5%) maka suatu variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel independen. Hipotesis diterima jika taraf signifikan (a) < 0,05 dan hipotesis ditolak jika taraf signifikan (a) >

0,05. Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan apakah ada pengaruh yang nyata secara parsial antara variabel terikat (Y) dengan variabel bebas (X).

√ √

Keterangan :

KKP = Koefisien korelasi parsial n = Banyaknya data

m = Banyaknya variabel

a. H0 : βi= 0, artinya terdapat pengaruh X1, X2, X3, dan X4 secara parsial terhadap Y.

b. H1 : βi ≠ 0, artinya tidak terdapat pengaruh X1, X2, X3, dan X4 secara parsial terhadap Y.

Dasar pengambilan keputusan menggunakan angka signifikansi :

a. Apabila angka signifikansi ≥ 0,05 dan nilai koefisien β negatif, maka H0 diterima.

b. Apabila angka signifikansi ≥ 0,05 dan nilai koefisien β positif, H0 ditolak atau H1 diterima.

c. Apabila angka signifikansi ≤ 0,05 dan nilai koefisien β negatif, maka H0 ditolak atau H1 diterima.

d. Apabila angka signifikansi ≤ 0,05 dan nilai koefisien β positif , maka H0 ditolak atau H1 diterima.

(11)

b. Uji Statistik (F)

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah ada pengaruh secara bersama-sama antara variabel terikat (Y) dengan variabel bebas (X), yaitu pengaruh variabel reputasi underwriter, reputasi auditor, ukuran perusahaan, dan umur perusahaan, dengan tingkat underpricing.

Keterangan :

FHit = Nilai hitung

R2 = Koefisien korelasi berganda k = Banyaknya variabel bebas n = Banyaknya data

a. H0 : βi = 0, artinya tidak terdapat pengaruh X1, X2, X3, dan X4 secara bersama- sama terhadap Y.

b. H1 : βi ≠ 0, artinya terdapat pengaruh X1, X2, X3, dan X4 secara bersama-sama terhadap Y.

Dasar pengambilan keputusan menggunakan angka signifikansi : a. Apabila angka signifikansi ≥ 0,05 , maka H0 diterima.

b. Apabila angka signifikansi < 0,05 , maka H0 ditolak atau H1 diterima.

c. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi R2 digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen (Ghozali, 2011:97). Koefisien deterninasi R2 dinyatakan dalam presentase yang nilainya antara 0 < R2 < 1. Koefisien determinasi (Adjusted R2 ) menunjukkan seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependennya. Nilai Adjusted R2 adalah antara nol sampai satu. Semakin kecil nilai Adjusted R2 , maka semakin kecil

(12)

pengaruh variabel independen terhadap pengaruh dependennya. Sebaliknya, jika nilai Adjusted R2 semakin mendekati satu, maka semakin kuat pengaruh variabel independen dalam menjelaskan variabel dependennya.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu juga analisis terhadaap data hasil tes akhir dilakukan untuk melihat kemampuan pemahaman konsep dari pembelajaran yang dilakukan dengan cara menghitung

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi terhadap variabel penganggu atau residual memiliki distribusi secara normal atau

Uji normalitas menurut Ghozali (2016:154), bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Model regresi yang

Untuk menguji apakah distribusi data normal atau tidak maka dapat dilakukan analisis grafik atau dengan melihat normal probability plot yang membandingkan

Dalam triangulasi sumber, peneliti membandingkan data hasil observasi dengan hasil wawancara serta membandingkan hasil wawancara dengan dokumen berupa foto-foto yang

- Jika data menyebar lebih jauh dari diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka

Uji normalitas pada model regresi digunakan untuk menguji apakah nilai residual yang dihasilkan dari regresi terdistribusi secara normal atau tidak. Model regresi

Observasi Dalam metode ini penulis melaksanakan pengamatan langsung dengan cara melihat bagaimana tata cara kerja karyawan dan mengadakan pengamatan langsung terhadap obyek yang