28
3.1 Paradigma
Paradigma merupakan pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi (perilaku yang di dalamnya ada konteks khusus atau dimensi waktu). Menurut Khun (1962 dalam “The Structure of Scientific Revolutons”) mendefinikasn paradigma ilmiah sebagai contoh yang diterima tentang praktek ilmiah sebenarnya, contoh-contoh termasuk hukum, teori, aplikasi, dan instrumentasi secara bersama-sama yang menyediakan model yang darinya muncul tradisi yang koheren dari penelitian ilmiah.48
Menurut Guba49, paradigma adalah seperangkat kepercayaan dasar yang menjadi prinsip utama, pandangan tentang dunia yang menjelaskan pada penganutnya tentang alam dunia.
Paradigma konstruktivis berbasis pada pemikiran umum tentang teori-teori yang dihasilkan oleh peneliti dan teoristis aliran konstruktivis. LittleJhon mengatakan bahwa teori-teori aliran konstruktivis ini berlandaskan pada ide
48
Lexy J. Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Remaja Rosdakarya. Bandung. 2006. Hal 50
49 Indiawan Seto Wahyu Wibowo. Semiotika Komunikasi. Mitra Wacana Media. Jakarta. 2013.
bahwa relitas bukanlah bentukan yang objektif, tetapi diskontruksi melalui proses interaksi dalam kelompok, masyarakat, dan budaya.50
Paradigma konstruktivis, realitas konstruksi sosial diciptakan oleh individu. Namun demikian, kebenaran suatu realitas sosial bersifat nisbi, yang berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial (Hidayat, 1993:39).
Asal usul konstruksi sosial berawal dari filsafat konstruktivisme yang dimulai dari gagasan-gagasan kostruktif kognitif. Gagasan-gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya telah dimulai oleh Giambatissta Vico, seorang epistemologi dari Italia, ia adalah cikal bakal konstruktivisme (Suparno, 1997:24).51
Dalam aliran filsafat, gagasan konstruktivisme telah muncul sejak Socrates menemukan jiwa dalam tubuh manusia, sejak Plato menemukan akal budi dan ide (Bertens, 1993:89,106). Dan ia mengatakan bahwa, manusia adalah makhluk sosial, setiap pernyataan harus dibuktikan kebenarannya, bahwa kunci
pengetahuan adalah logika, sedangkan dasar pengetahuan adalah fakta (Bertens, 1993:137, 139). Aristoteles pulalah yang telah memperkenalkan ucapannya ‘Cogito Ergo Sum’ atau ‘Saya Berfikir Karena itu Saya Ada’ (Tom Sorell, 1994:1). Kata-kata Aristoteles yang terkenal itu menjadi dasar yang kuat bagi perkembangan gagasan-gagasan konstruktivisme sampai saat ini.52
50
Indiawan Seto Wahyu Wibowo. Ibid. Hal 165
51
Burhan Bungin. Konstruksi Sosial Media Massa. Jakarta : Kencana. 2011 hal 13
3.2 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian untuk menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dilakukan dan memeriksa sebab – sebab dari suatu gejala tertentu. Menurut Gay metode penelitian deksriptif adalah kegiatan yang meliputi pengumpulan data dalam rangka menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan yang menyangkut keadaan pada waktu yang sedang berjalan dari pokok suatu penelitian.53
Penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) bahwa peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara tringulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi.54
Dari beberapa definisi diatas, maka tipe penelitian kualitatif dalam penelitian ini memakai tradisi fenomenologi. Fenomenologi menyelidiki pengalaman dan kesadaran yang berkaitan dengan pertanyaan seperti bagaimana pembagian antara subjek dan objek muncul dan bagaimana sesuatu hal didunia ini diklasifikasikan.55 Tradisi fenomenologis berasumsi bahwa orang-orang secara aktif menginterpretasikan pengalamannya dan mencoba memahami dunia
53
Mahi M.Hikmat.(2011).Metode Penelitian Dalam Perspektif Ilmu Komunikasi dan
Sastra.Yogyakarta:Graha Ilmu, Hal 44 54
Saebani,Ahmad Beni.(2012).Pengantar Antropologi.Bandung:Pustaka Setia, Hal 73
55
Moleong J Lexy. 2013. Metode penelitian kualitatif edisi revisi. Bandung : PT Remaja Rosdakary hal 14
dengan pengalaman pribadinya. Tradisi ini memperhatikan pada pengalaman sadar seseorang.56
Studi dengan pendekatan fenomenologi berupaya menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang suatu konsep atau gejala, yang dalam hal selfie, termasuk di dalamnya konsep diri atau pandangan hidup mereka sendiri. Fenomenologi bertujuan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan makna dari Remaja yang melakukan selfie dan mengunggah di Instagram.
3.3 Narasumber
Berbeda dengan penelitian kuantitatif, dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi. Seperti dikutip dari buku Metode Penelitian Kualitatif dn Kuantitatif dan R&D penentuan Key Informan dan Informan.
Sugiyono menjabarkan, penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, tetapi oleh Spradley dinamakan social situation atau situasi sosial.yang terdiri atas tiga elemen, yaitu: tempat, pelaku, dan aktivitas yang berinteraksi secara sinergis.
Sugiyono juga menambahkan, situasi sosial tersebut dapat dinyatakan sebagai objek penelitian yang ingin diketahui “apa yang terjadi” didalamnya. Pada situasi sosial atau objek penelitian ini peneliti dapat mengamati secara mendalam aktivitas orang-orang yang ada pada tempat tertentu.
56
Little john, Stephen W dan Foss, Karen. A. 2011. Teori Komunikasi. Salemba humanika : Jakarta hal 57
Adapun narasumber yang akan dijadikan sebagai informan yaitu siswa-siswi SMAN 7 Tangerang:
1. Ratu Adellia, 16 tahun. (@ratuadelliaaa)
2. Annisa, 16 tahun. (@fathiaann)
3. Olivia, 16 tahun. (@oliviasya)
4. Den Danoe, 16 tahun. (@dendanoe)
5. Aria Sri Agustin, 16 tahun. (@riaasragstn)
6. Arif Rahmat, 16 tahun. (arifrwibowo)
7. Rosa Maisarah, 16 tahun. (@rosamaisarah)
Informan yang diambil mempunyai kriteria tertentu, yaitu para remaja yang masih duduk di bangku sekolah menengah, khususnya SMAN 7 Tangerang. Selain itu peneliti juga memilih pengamat media sebagai salah satu informan untuk memperkuat fakta yang ada. Mereka adalah remaja-remaja yang suka melakukan selfie. Frekuensi selfie yang dilakukan mereka pun sangat sering. Bahkan setiap ada waktu luang mereka melakukan selfie.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
3.4.1 Data Primer
Data yang diperoleh secara langsung dari objek yang diteliti memperoleh informasi secara menyeluruh, tepat, dan benar.
a. Wawancara mendalam
Peneliti dapatkan wawancara mendalam dalam objek atau informan adalah salah satu cara untuk mendapatkan informasi yang mendalam mengenai sesuatu yang ingin diteliti adalah dengan menggunakan teknik wawancara.
Penulis berusaha untuk menggali pengalaman informan, pengetahuan, persepsi dan asumsi terhadap suatu fenomena yang penulis ajukan sesuatu dengan latar belakang dan pengalaman empiris dari para informan yang pada akhirnya akan memberi dampak informasi-informasi yang diberikannya mengenai fenomena yang penulis ajukan.
Penelitian ini penulis buat berdasarkan metode fenomenologi, yang mengharuskan peneliti memilih informan yang tepat dan kompeten untuk memberikan informasi yang mendalam mengenai subjek peneliti.
Wawancara yang dilakukan peneliti meliputi wawancara mendalam satu persatu dengan para informan, dan wawancara secara berkelompok. Dan juga peneliti mewawancara beberapa informan melalui line messenger untuk keperluan penelitian.
b. Observasi
Suatu penyelidikan yang dijalankan secara sistematis dan sengaja diadakan dengan menggunakan alat indera terutama mata, terhadap kejadian-kejadian yang langsung.
1. Membandingkan data hasil pengamatan selfie yang diunggah para remaja pada instagram dengan data hasil wawancara langsung kepada para pelaku selfie
2. Membandingkan apa kata orang-orang sekitar yang berada atau mengamati keberadaan para pelaku selfie 3. Membandingkan akun Instagram para informan dengan
akun Instagram yang lain.
3.4.2 Data Sekunder
Penulis mengumpulkan referensi dari materi-materi perkuliahan, buku-buku yang berkaitan dengan penelitian dan data-data yang dibutuhkan mengenai dunia jurnalistik dari berbagai sumber.
3.5 Teknik Analisa Data
Teknik analisa data yang diteliti meliputi:
a. Reduksi data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari càtatan-catatan tertulis di lapangan. Sebagaimana kita
ketahui, reduksa data, berlangsung terus-menerus selama proyek yang berorientasi kualitatif berlangsung. Sebenarnya bahkan sebelum data benar-benar terkimpul, antisipasi ákan adanya reduksi data sudah tampak waktu penelitinya memutuskan (acapkali tanpa disadari sepenuhnya) kerangka konseptual wilayah penelitian, permasalahan penelitian, dan pendekátan pengumpulan data yang mana yang dipilihnya. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadilah tahapan reduksi selanjutnya (membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, rnembuat gugus-gugus, membuat partisi, menulis memo). Reduksi data/proses-transformasi ini berlanjut terus sesudah penelitian lapangan, sampai laporan akhir lengkap tersusun.57
b. Penyajian data atau display data
Penyajian Data, Alur penting yang kedua dan kegiatan analisis adalah penyajian data. Miles dan Huberman membatasi suatu “penyajian” sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Béraneka penyajian yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari mulai dati alat pengukur bensin, surat kabar, sampai layar komputer. Dengan melihat penyajian-penyajian kita akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan lebih jauh mengailalisis ataukah mengambil tindakan
57
berdasarkan atas pemahaman yang didapat dan penyajian-penyajian tersebut.
Dalam pelaksanaan penelitian Miles dan Huberman yakin bahwa penyajian-penyajian yang lebih balk merupakan suatu cara yang utama bagi analisis kualitatif yang valid. Penyajian-penyajian yang diamksud meliputi berbagai jenis matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Semuanya dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih, dengan demikian seorang penganalisis dapat melihat apa yang sedang terjadi, dan menentukan apakah menarik kesimpulan yang benar ataukah terus melangkah melakukan analisis yang menurut saran yang dikiaskan oleh penyajian sebagai sesuatu yang mungkin berguna.58
c. Kesimpulan atau Verifikasi
Menarik Kesimpulan atau Verifikasi, Kegiatan analisis ketiga yang penting adalah menarik kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan pengumpulan data, seorang penganalisis kualitatif mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan. penjelasan, konfigurasi-koritigurasi yang mungkin, alur sebab- akibat, dan proposisi. Peneliti yang berkompeten akan menangani kesimpulan-kesimpulan itu dengan longgar, tetap terbuka dan skeptis, tetapi kesimpulan sudah disediakan, mula-mula belum jelas, namun
58 Ibid
dengan meminjam istilah kiasik dan Glaser dan Strauss (1967) kemudian meningkat menjadi lebih rinci dan mengakar dengan kokoh. Kesimpulan-kesimpulan “final” mungkin tidak muncul sampai pengumpulan data berakhir, tergantung pada besarnya kumpulan -kumpulan catatan lapangan, pengkodeannya, penyimpanan, dan metode pencarian ulang yang digunakan, kecakapan peneliti, dan tuntutan-tuntutan pemberi dana, tetapi seringkali kesimpulan itu telah dirumuskan sebelumnya sejak awal, sekalipun seorang peneliti menyatakan telah melanjutkannya “secara induktif”.
Penarikan kesimpulan, dalam pandangan Miles dan Huberman, hanyalah sebagian dan satu kegiatan dan konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Verifikasi itu mungkin sesingkat pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran penganalisis selama ia menulis, suatu tinjauan ulang pada catatan-catatan lapangan, atau mungkin menjadi begitu seksama dan memakan tenaga dengan peninjauan kembali serta tukar pikiran di antara teman sejawat untuk mengembangkan “kesepakatan intersubjektif,” atau juga upaya-upaya yang luas untuk menempatkan salinan suatu temuan dalam seperangkat data yang lain. Singkatnya, makna-makna yang muncul dan data harus diuji kebenarannya, kekokohannya, dan kecocokannya, yakni yang merupakañ validitasnya. Jika tidak demikian, yang dimiliki adalah cita-citá yang
menarik mengenai sesuatu yang terjadi dan yang tidak jelas kebenaran dan kegunaannya.59
3.6 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Pemeriksaan keabsahan data sangat diperlukan dalam penelitian kualitatif demi kesasihan dan keandalan serta tingkat kepercayaan data yang telah terkumpul. Teknik keabsahan data adalah dengan menggunakan teknik triangulasi. Hal ini merupakan salah satu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. (Moleong, 2006:330)
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data itu.60
Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastian bahwa yang berukur benar-benar merupakan variabel yang ingin diukur. Keabsahan ini juga dapat dicapai:
a. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber data adalah menggali kebenaran informai tertentu melalui berbagai metode dan sumber perolehan data. Misalnya, selain melalui
59
Ibid
60
Lexy J. Moleong 2009, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, hal. 330
wawancara dan observasi, peneliti bisa menggunakan observasi terlibat (participant obervation), dokumen tertulis, arsif, dokumen sejarah, catatan resmi, catatan atau tulisan pribadi dan gambar atau foto. Masing-masing cara itu akan menghasilkan bukti atau data yang berbeda, yang selanjutnya akan memberikan pandangan (insights) yang berbeda pula mengenai fenomena yang diteliti.
b. Triangulasi Metode
Triangulasi metode dilakukan dengan cara membandingkan informasi atau data dengan cara yang berbeda. Dalam penelitian kualitatif peneliti menggunakan metode wawancara, obervasi, dan survei. Untuk memperoleh kebenaran informasi yang handal dan gambaran yang utuh mengenai informasi tertentu, peneliti bisa menggunakan metode wawancara dan obervasi atau pengamatan untuk mengecek kebenarannya. Selain itu, peneliti juga bisa menggunakan informan yang berbeda untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Triangulasi tahap ini dilakukan jika data atau informasi yang diperoleh dari subjek atau informan penelitian diragukan kebenarannya.61
Dalam kegiatan penelitian lapangan seseorang akan begitu cepat kehilangan pandangannya tentang berapa banyak data, data macam apa, yang telah dikumpulkan dari informan yang berbeda-beda. Karena data ini seringkali koroboratif - dengan memverifikasi penjelasan yang diberikan orang lain, menguji
61
Mudjia Rahardjo, Triangulasi Dalam Penelitian Kualitatif, http:// mudjiarahardjo.com/artikel/270.html?task=view
tesis yang muncul - ketidakhadirannya lebih serius daripada sekedar “kehilangan data”.62
Adapun desain triangulasi dalam penelitian ini seperti pada gambar berikut :
Gambar 3.1 Model Desain Kombinasi Triangulasi Sumber
dan Triangulasi Metode
62