BAB VIII PENUTUP
8.1. KESIMPULAN
1. Kinerja Perekonomian Jakarta di masa pandemi
➢ Secara tahunan pertumbuhan DKI Jakarta tahun 2020 turun tajam menjadi minus 2,36% dari sebelumnya tahun 2019 sebesar 5,82% Menurunnya berbagai aktivitas masyarakat dan perekonomian sebagai dampak wabah COVID-19 di Jakarta membuat pertumbuhan ekonomi terkontraksi dari triwulan I 2020 ke triwulan II 2020 hingga minus 11,49 (q-to-q).
➢ Pada triwulan III 2020, upaya pemerintah dalam kebijakan fiskal menaikkan belanja penanganan COVID-19 dan Program PEN mulai menunjukkan hasilnya dimana laju pertumbuhan ekonomi naik positif 8,41% dibandingkan triwulan sebelumnya (q-to-q), kemudian di triwulan IV, meskipun sedikit lebih lambat dibandingkan triwulan sebelumnya, perekonomian masih tumbuh di angka positif 2,54% (q-to-q).
➢ Tantangan ekonomi daerah di Jakarta dengan wilayah geografis didominasi lautan adalah mengangkat laju pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi hingga -2,36% disertai peningkatan jumlah pengangguran dan kemiskinan tertinggi di Indonesia dan menurunkan jumlah penderita COVID-19 yang terus meningkat hingga akhir tahun. ➢ Konsumsi Pemerintah menjadi satu-satunya penopang laju pertumbuhan ekonomi
sepanjang tahun 2020 yang didorong oleh pencairan Program PEN.
2. Indikator Kesejahteraan di DKI Jakarta
➢ Indeks nilai IPM DKI Jakarta tahun 2020 masih menjadi peringkat satu di Indonesia sebesar 80,77.
➢ Angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) DKI Jakarta 2020 melonjak menjadi 10,95% atau 572,7 ribu orang dari sebelumnya 4,22% atau 320,9 ribu orang di tahun 2019.
➢ Peningkatan TPT sejalan dengan kenaikan tingkat kemiskinan DKI Jakarta yang meningkat 37,13% pada periode September 2020 sebesar 4,69% dibandingkan periode tahun sebelumnya 3,42%.
➢ Rasio Gini meningkat 2,30% di tahun 2020 sebesar 0,40 dibandingkan tahun 2019 sebesar 0,391 peningkatan tersebut lebih tinggi dari kenaikan Rasio Gini Nasional
111 yang sebesar 1,31%.
3. Kinerja APBN
➢ Pandemi COVID-19 mengakibatkan realisasi pendapatan negara di DKI Jakarta mengalami penurunan signifikan, namun realisasi belanja negara justru meningkat sehingga menyebabkan defisit. Penurunan pendapatan sebesar 17,86% (dari Rp1.200,05 triliun tahun 2019 menjadi Rp985,72 triliun pada 2020). Realisasi belanja negara mengalami kenaikan sebesar 16,81% dari tahun 2019 sebesar Rp1.749,71 triliun menjadi Rp2.43,89 triliun pada 2020.
➢ Realisasi transfer ke daerah dan desa mengalami penurunan 12,68% dari tahun 2019 sebesar Rp677,17 triliun menjadi Rp596,33 triliun sedangkan realisasi transfer untuk Provinsi DKI Jakarta mengalami kenaikan sebesar 11,45% dari Rp14,93 triliun di tahun 2019 menjadi Rp16,84 Rp16,9 triliun pada tahun 2020.
➢ Realisasi pendapatan perpajakan mengalami penurunan sebesar 22,27%% dari tahun 2019 sebesar Rp955,36 triliun menjadi Rp742,64 triliun. Dengan PDRB DKI Jakarta tahun 2020 sebesar Rp2.772,20 triliun maka rasio pajak terhadap PDRB juga mengalami penurunan yaitu menjadi 26,79% sedangkan tahun 2019 adalah sebesar 33,63%.
4. Kinerja APBD
➢ Berbeda dengan kinerja APBN, kinerja APBD DKI Jakarta tahun 2020 mengalami surplus meskipun realisasi pendapatan dan belanja menurun.
➢ Pendapatan APBD Provinsi DKI Jakarta juga tergerus sebesar minus 10,29% dari tahun 2019 sebesar Rp62,30 triliun menjadi Rp55,89 triliun di tahun 2020. Penurunan tersebut ditopang oleh penurunan PAD sebesar 18,12% dan penurunan lain-lain pendapatan yang sah sebesar 25,27% namun penerimaan dari dana transfer naik sebesar 16,58%. Sedangkan realisasi belanja APBD mengalami penurunan sebesar 19,04% dari tahun 2019 sebesar Rp64,93 triliun menjadi Rp52,57 triliun di tahun 2020, dan SILPA mengalami peningkatan sebesar 295,25% dari Rp1,2 triliun menjadi Rp4,77 triliun.
➢ Provinsi DKI Jakarta memiliki tingkat kemandirian yang tinggi karena 66,96% pendapatan berasal dari pendapatan asli daerah dan tingkat ketergantungan DKI Jakarta terhadap pemerintah pusat hanya 30,23%.
5. Sektor Unggulan dan Potensial di DKI Jakarta
➢ Sektor unggulan di Jakarta didominasi oleh sektor jasa perusahaan, sektor jasa keuangan dan asuransi serta sektor informasi dan komunikasi. Sedangkan sektor potensial adalah sektor real estate dan sektor pengadaan listrik dan gas. Hal ini memperlihatkan bahwa peranan sektor-sektor yang bergerak dibidang jasa menjadi sektor terdepan di Jakarta dan ini sesuai dengan fungsi strategis perkotaan yakni
112 sebagai kota jasa dan perdagangan.
➢ Sektor Jasa Perusahaan menunjukkan konsistensi dalam berkontribusi terhadap perekonomian Jakarta yang sangat besar bahkan bisa mensuplai ke daerah lain. Kegiatan sektor ini ditahun 2020 sebagian besar berupa pengangkutan, distribusi, dan penjualan barang dari produsen ke konsumen. Sektor Jasa perusahaan dapat menyumbang pajak daerah, menarik tenaga kerja dan investasi, serta menimbulkan multiplier effect ke sektor lainnya.
➢ Kenaikan kinerja sektor Jasa Keuangan di Jakarta pada tahun 2020 didorong oleh kenaikan kinerja Bank yang berasal dari kenaikan transaksi sekunder akibat adanya PSBB selama COVID-19. Selain itu dengan adanya penempatan dana PEN di Bank DKI memberikan ruang bagi Bank DKI untuk turut mendorong perekonomian di Jakarta melalui penyaluran kredit ke sektor produktif seperti UKM, komersial dan korporasi secara selektif, sektor kesehatan termasuk kepada komunitas farmasi, sektor pangan, sektor konstruksi serta kepada sektor lainnya seperti kios-kios binaan Perumda Pasar Jaya dan JakPreneur.
➢ Sektor Jasa Informasi dan Komunikasi tumbuh tinggi mencapai laju 12,86% dikarenakan adanya kebutuhan yang tinggi akan Jasa Informasi dan Komunikasi dalam rangka mematuhi protokol kesehatan PSBB. Fungsi utamanya sebagai enablers sektor lain dan tidak memerlukan mobilitas dan interaksi manusia memungkinkan sektor ini akan terus tumbuh pesat dan perlu didorong oleh kebijakan pemerintah.
➢ Sektor real estate menjadi potensial di Jakarta karena kebutuhan akan hunian dan keterkaitan dengan penyerapan tenaga kerja, bahan bangunan, material, serta menarik investasi membuat sektor ini tetap konsisten berkontribusi ke perekonomian dan tumbuh 4,61% dimasa pandemi COVID-19. Sedangkan sektor pengadaan listrik dan gas menjadi potensial dikarenakan derajat penyerapan dan daya penyebarannya sangat tinggi, yang artinya peningkatan outputnya mampu mendorong peningkatan output sektor-sektor lainnya baik sebagai input maupun output produksi.
6. Tantangan Fiskal dan Sinkronisasi Kebijakan Fiskal
➢ Tantangan fiskal di wilayah DKI Jakarta adalah penanggulangan/mitigasi dampak ekonomi dari serangan wabah COVID-19. Dalam mengelola kebijakan fiskal, fokus utama adalah menekan laju penularan virus, menekan tingginya laju tingkat kemiskinan dan pengangguran, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi sehingga pemerintah perlu melakukan refocussing dan realokasi anggaran pusat maupun daerah.
113 ➢ Tantangan fiskal selanjutnya adalah pemerintah harus mampu mempercepat
pencairan berbagai jenis belanja yang berkaitan langsung dengan penanganan dampak wabah namun tetap harus bisa dipertanggungjawabkan.
➢ Sinkronisasi kebijakan fiskal pusat dan daerah dilangsungkan bersama-sama menerapkan kebijakan terkait penanggulangan dampak COVID-19 serta berkoordinasi dalam penyaluran berbagai jaring pengaman sosial yang diberikan untuk meningkatkan daya beli masyarakat melalui Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Sembako dan Beras Sejahtera. Termasuk bantuan untuk tujuan konsumsi, seperti perluasan program-program bantuan langsung tunai, bantuan pangan non tunai, dan juga program Kartu Pra Kerja dapat diprioritaskan oleh pemerintah DKI Jakarta untuk mendorong daya beli masyarakat melalui konsumsi rumah tangga di wilayah Jakarta.
➢ Pemberian insentif pajak maupun dukungan penempatan dana pemerintah pusat melalui Bank DKI kepada BUMN/BUMD dengan tujuan untuk membantu pelaku usaha khususnya UMKM dan sektor informal di Jakarta.
7. Peran APBD dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN Daerah)
➢ Dampak pandemi COVID-19 menyebabkan Pemerintah DKI Jakarta melakukan refocusing APBD yang mengakibatkan perubahan postur APBD. Target Pendapatan berkurang 30,48% sedangkan alokasi belanja daerah turun 26,08% dari tahun sebelumnya.
➢ Dalam rangka penanggulangan dampak COVID-19, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyelenggarakan program PEN Daerah dengan anggaran yang bersumber dari Belanja Tak Terduga (APBD) dan Pinjaman Daerah