BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan
B. Hasil Penelitian
4. Kesimpulan Hasil Kedelapan Responden
Berdasarkan hasil penelitian kedelapan responden, dapat dilihat bahwa
secara garis besar persepsi anak pertama terhadap adik kandung terdiri dari 3
tema besar, yaitu perubahan perhatian orang tua, adanya tanggung jawab baru,
dan hadirnya seorang teman. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan
bahwa ketiga tema tersebut dapat dipersepsikan secara positif dan negatif oleh
anak pertama. Persepsi anak pertama tersebut dipengaruhi oleh faktor internal,
yaitu faktor yang berasal dari dalam diri responden dan faktor eksternal, yaitu
faktor yang berasal dari luar diri responden.
Di masa kanak-kanak, adik dilihat sebagai perebut perhatian orang tua
dan pengalih perhatian orang tua. Persepsi tersebut muncul karena anak
pertama merasa waktu dan perhatian orang tua menjadi berkurang setelah
kelahiran adik. Selain itu, persepsi tersebut juga muncul karena sebelum
kelahiran adik, anak pertama merasa perhatian orang tua hanya tercurah untuk
dirinya karena anak pertama memiliki persepsi bahwa lingkungan hanya terdiri
dari dirinya dan orang tua. Kelahiran adik berarti bahwa anak pertama harus
berbagi perhatian dengan adik. Kecemburuan anak pertama atas perhatian
orang tua yang diberikan kepada adik masih sangat mungkin terjadi meskipun
orang tua telah berusaha mempersiapkan anak pertama untuk menghadapi
kehadiran seorang adik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya temuan unik persepsi anak
Temuan-temuan ini hanya terjadi pada satu responden. Temuan tersebut antara lain
adalah adik dipersepsi sebagai seorang penuntut karena adik akan menuntut
orang tua untuk memperlakukannya dengan responden setara. Selain itu, adik
juga dipersepsi sebagai orang yang selalu mendapatkan pembelaan dari ayah,
orang yang manja, suka mengadu kepada orang tua, tidak mau kalah, dan orang
yang selalu mendapatkan apa yang diminta. Pada responden ini, adik
mendapatkan perlakuan istimewa dari ayah karena adik merupakan anak
kandung ayah, sedangkan responden bukan anak kandung dari ayah.
Menginjak masa remaja, persepsi anak pertama terhadap adik terkait
dengan perhatian orang tua juga negatif. Hal ini dikarenakan anak pertama
melihat orang tua memperlakukan anak pertama dengan adik secara berbeda.
Anak pertama di masa remaja melihat adik sebagai orang yang lebih difasilitasi
orang tua dan orang yang permintaannya selalu dipenuhi oleh orang tua
sehingga membuat anak pertama merasa cemburu. Di masa remaja juga
terdapat temuan unik yang hanya terjadi pada satu responden. Temuan tersebut
adalah, anak pertama mempersepsi adik sebagai orang yang menarik perhatian
lingkungan. Hal ini dikarenakan di masa remaja responden tersebetu sedang
berfokus pada citra tubuh dan responden melihat bahwa lingkungan lebih
memperhatikan adik karena adik lebih menarik dibandingkan responden.
Selain itu, anak pertama juga melihat anak adik kandungnya sebagai pengalih
perhatian orang tua dan pihak yang memisahkan responden dengan ibu.
memperhatikan adik dan tidak lagi memperhatikan responden. Di masa remaja,
anak pertama juga mempersepsi adik sebagai perebut fasilitas.
Memasuki masa remaja akhir, anak pertama mempersepsikan adik
secara negatif terkait dengan perhatian dari orang tua dan mereka telah
memiliki persepsi mereka sendiri-sendiri. Di masa remaja akhir, adik masih
dipersepsi sebagai orang yang selalu dipenuhi permintaannya, lebih
diperhatikan orang tua, dan lebih diistimewakan oleh ayah sehingga memicu
rasa cemburu pada responden. Selain itu, adik juga dipersepsi sebagai orang
yang menginginkan agar semua keinginannya terpenuhi, lebih difasilitasi oleh
orang tua sekaligus sebagai penghalang responden untuk menggunakan
fasilitas dari orang tua. Di masa remaja akhir, adik bagi salah satu responden
dilihat sebagai sumber amarah ketika ia berada bersama-sama dengan adik. Hal
ini dikarenakan ketika responden bersama-sama dengan adik dan orang tua,
responden melihat secara langsung penilaian yang dilakukan oleh orang tua.
Penilaian orang tua tersebut yang memicu responden agar berusaha terlihat
lebih baik dihadapan orang tua.
Kedua, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak pertama
mempersepsikan adik terkait dengan adanya tanggung jawab baru yang harus
diemban setelah kelahiran seorang adik, seperti harus menjaga dan mengayomi
adik. Di masa kanak-kanak, tanggung jawab tersebut dipersepsikan secara
negatif oleh anak pertama karena ketika berada di masa kanak-kanak mereka
belum memahami peran mereka sebagai seorang kakak meskipun orang tua
itu, sebagian responden melihat adik secara harafiah karena anak pertama tidak
memiliki ikatan emosional dengan adik. Oleh karena itu, di masa kanak-anak
muncullah persepsi bahwa adik bukanlah orang yang harus dilindungi,
pengganggu, orang yang keras kepala, nakal, dan menyebalkan. Akan tetapi
pada salah satu responden, adik telah dipersepsikan sebagai orang yang harus
disayangi layaknya seorang kakak menyayangi adik sehingga memicu anak
pertama untuk membantu orang tua mengasuh adik.
Memasuki masa remaja, persepsi anak pertama terhadap adik kandung
terkait dengan tanggung jawab masih negatif meskipun telah berkurang. Di
masa remaja, sebagian responden mempersepsi adik sebagai orang yang tidak
patuh. Pada salah satu responden, persepsi tidak patuh tersebut hanya muncul
ketika responden sedang bersama-sama dengan adik karena responden
langsung berhadapan dengan adik dan tanggung jawabnya untuk mengayomi
adik kembali muncul. Selain itu, di masa remaja adik juga dipersepsi sebagai
pengganggu, dan orang yang keras kepala. Meskipun sebagian besar responden
masih mempersepsikan tanggung jawab secara negatif, salah satu responden
telah mempersepsi tanggung jawab secara positif. Adik dipersepsi sebagai
orang yang harus dilindungi, sebagai seorang anak, dan orang yang harus
dipantau perkembangannya. Persepsi tersebut muncul karena responden
tersebut telah menyadari tanggung jawabnya sebagai seorang kakak setelah ia
melihat adiknya yang kedua mengalami bullying.
Menginjak masa remaja akhir, adik sebagai sebuah tanggung jawab
penelitian menunjukkan bahwa sebagian responden masih mempersepsi adik
sebagai orang yang tidak patuh dan keras kepala. Penilitian ini juga
menemukan sebuah temuan unik yang hanya terjadi pada satu responden,
seperti adik dipersepsi sebagai orang yang ceroboh, tidak rapi, dan tidak
bersih. Selain itu, adik juga dilihat sebagai orang yang akan mengabaikan
kekhawatiran anak pertama. Salah satu responden melihat bahwa adik
merupakan orang yang nakal dan ugal-ugalan. Persepsi tersebut muncul
karena ia melihat lingkungan mempersepsikan adik sebagai orang yang nakal
dan ugal-ugalan. Meskipun demikian, dua responden di masa remaja akhir
pada akhirnya mempersepsi adik sebagai tanggung jawab secara positif
setelah suatu kejadian tertentu, yaitu ayah meninggal dan perayaan ulangtahun
bersama adik. Kedua responden tersebut pada akhirnya mempersepsikan adik
sebagai orang yang patuh dan bisa diandalkan. Salah satu responden
mempersepsi adik sebagai sosok responden yang baru dan titik aman (check
point) bagi responden. Hal ini dikarenakan responden tidak ingin adik
mengalami kegagalan yang sama dengan yang responden alami dahulu. Salah
satu cara responden tersebut untuk membantu adik adalah dengan
menceritakan pengalamannya terdahulu dan kemudian memberi saran kepada
adik.
Tema yang ketiga adalah pertemanan. Di masa anak-anak, persepsi
positif terhadap adik didominasi oleh persepsi yang terkait dengan pertemanan.
Sebagian responden mempersepsi adik sebagai teman karena di masa
responden mempersepsi adik sebagai orang yang lebih pintar, hemat, dewasa,
dan memiliki jiwa sosial yang tinggi dibandingkan responden. Selain itu, hasil
penelitian menunjukkan bahwa salah satu responden juga mempersepsi adik
sebagai orang yang menyukai anak pertama.
Menginjak masa remaja, persepsi anak pertama yang terkait dengan
pertemanan tidak lagi sepenuhnya positif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa di masa remaja terdapat persepsi negatif dan positif terkait dengan
pertemanan. Persepsi tersebut juga bersifat unik yang hanya terjadi pada satu
responden. Adik dipersepsi secara negatif sebagai orang yang agresif dan
kurang dapat menghormati responden sebagai seorang kakak. Persepsi
tersebut muncul karena responden merasa adik telah menganggap responden
sebagai seorang teman sehingga tidak lagi memahami batasan antara kakak
dan adik. Selain itu, hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa di masa
remaja adik juga dipersepsi sebagai orang yang tertutup, musuh, orang asing,
bukan bagian dari keluarga, kecil, dan kurang dapat bersosialisasi. Persepsi
tersebut muncul karena responden merasa di masa remaja ia dan adik telah
jarang berkomunikasi dan jarang menghabiskan waktu bersama. Hasil
penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian responden di masa remaja adik
dipersepsi secara positif karena mereka merasa bahwa memasuki masa
remaja, anak pertama dan adik telah berada di tahapan yang sama. Adik
dipersepsi sebagai seorang teman dan penghilang rasa sepi. Temuan unik
pertemanan adalah adik dilihat sebagai orang yang cerdas, tidak lagi
menyebalkan, dan orang yang lebih dewasa dibandingkan dengan dirinya.
Memasuki masa remaja akhir, pertemanan masih dipersepsi secara
negatif dan positif oleh anak pertama meskipun persepsi negatif menurun dan
persepsi positif meningkat. Persepsi negatif anak pertama terhadap adik dalam
tema pertemanan juga bersifat unik. Hasil temuan tersebut antara lain adalah
adik dilihat sebagai pemicu terjadinya pertengkaran serta bukanlah orang yang
peduli dan memahami kondisi keluarga. Selain itu, adik juga dipersepsi
sebagai orang yang kurang mampu berkomunikasi dengan baik sehingga
seringkali memicu pertengkaran, orang yang agresif, dan orang yang akan
menghindari ketidaknyamanan. Meskipun demikian, di masa remaja akhir
pertemanan dipersepsi secara positif oleh sebagian responden karena di masa
remaja akhir mereka telah menyadari kehadiran seorang adik dan arti penting
seorang adik. Sebagian responden mempersepsi adik sebagai orang yang
dewasa, mandiri, teman terdekat, teman bercerita, dan sumber dukungan
emosional. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 2 dari 8 responden
mempersepsi adik sebagai orang yang telah mampu memahami keadaan.
Adapun temuan yang unik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, adik
dipersepsi sebagai orang yang akan dicari pertama kali ketika orang tua tidak
ada. Selain itu, anak pertama juga mempersepsi adik sebagai orang yang
penting, seorang anak, dan orang yang membutuhkan teman sebaya. Di masa
remaja akhir, adik juga dilihat sebagai orang yang dapat dipercaya dan sebagai
yang tidak ramah dan negatif terhadap cerita responden. Selain itu, adik juga
dipersepsi sebagai orang yang cerdas, hebat, memiliki jiwa sosial yang tinggi,
dan bertanggung jawab. Berdasarkan hasil penelitian, responden juga
mempersepsi adik sebagai orang yang rendah hati karena adik telah mau
meminta maaf atas kesalahan yang ia buat. Hasil penelitian juga menunjukkan
bahwa adik dilihat sebagai rekan untuk membahagiakan orang tua. Selain itu,
di masa remaja adik juga dilihat sebagai orang yang mudah bergaul dan orang
yang nantinya akan menggantikan peran anak pertama ketika ia tidak lagi
berada di rumah.
Selain menemukan 3 tema utama persepsi anak pertama terhada adik
kandung, penelitian ini juga menemukan sebuah kasus unik. Kasus unik
tersebut adalah adanya salah satu responden yang tidak memiliki persepsi
positif terhadap adik dari ia berada di masa anak-anak hingga remaja akhir.
Responden tersebut adalah R7. R7 adalah seorang anak laki-laki yang
memiliki adik laki-laki dengan jarak usia 1.5 tahun. Orang tua R7 menyadari
bahwa relasi R7 dengan adik pertama tidak hangat. Oleh karena itu orang tua
mencoba mengajak R7 dan adik untuk melakukan aktifitas bersama-sama.
Akan tetapi hal tersebut tidak membantu karena menurut R7, adik tetap tidak
mau mengalah. R7 sejak remaja hingga remaja akhir tidak banyak
berkomunikasi dengan adik dan melihat bahwa adik sebagai orang yang
diperlakukan secara istimewa oleh orang tua sejak ia berada di masa
Gambar 10. Skema Kesimpulan Kedelapan Responden
saudara kandung
Masa Kanak-kanak
Perebut Perhatian Orang tua, pengalih perhatian orang tua Pemberi tanggung jawab baru, seperti mengayomi dan melindungi adik
Masa Remaja
Orang tua memperlakukan
adik secara istimewa Perebut Perhatian Orang tua, orang yang diistimewakan orang tua
Teman
Anak pertama belum menyadari peran sebagai
kakak
Anak pertama telah menyadari perannya
sebagai kakak
Orang yang tidak patuh, pengganggu, dan keras kepala
Orang yang harus dilindungi, seorang anak, orang yang harus
dipantau perkembangannya
Anak pertama jarang berkomunikasi dengan adik
Adik sebagai orang yang negatif dalam relasi pertemanan (Introvert, orang asing, tertutup,
musuh, dll.
Teman dan penghilang rasa sepi
Anak pertama merasa berada dalam tahapan yang sama dengan adik
Masa Remaja Akhir
Orang yang lebih diistimewakan orang tua
Orang tua memperlakukan adik secara istimewa
Lingkungan mempersepsi adik secara negatif, anak pertama
belum menyadari perannya sebagai kakak
Orang yang tidak patuh, nakal, keras kepala, ugal-ugalan
Anak pertama telah menyadari perannya sebagai
kakak Orang yang patuh, check point
Orang yang mengabaikan kekhawatiran kakak, agresif, orang yang menghindari ketidaknyamanan
Anak pertama telah menyadari kehadiran dan arti
penting adik
Teman terdekat, teman bercerita sumber dukungan emosional, orang
yang telah mampu memahami keadaan
Orang tua lebih memperhatikan adik, waktu
dan perhatian orang tua berkurang
Anak pertama belum menyadari peran seorang kakak, orang tua memberi tanggung jawab baru
Anak pertama tidak memiliki teman ketika di
rumah
Keterangan: : Faktor : Persepsi