BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
6.1. Kesimpulan
Dari uraian-uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dalam penelitian ini dapat diambil beberapa kesimpulan , yaitu :
a. Prevalensi miopia pada siswa-siswi kelas 5-6 SDN Dharmawanita, Medan tahun 2013 adalah senilai 29,5%.
b. Pada siswa-siswi yang mengalami miopia didapati 9,1% dengan penurunan ketajaman unilateral, dan 20,5% dengan penurunan ketajaman bilateral.
c. Dari seluruh siswa-siswi yang miopia 100% tidak dikoreksi dengan menggunakan kacamata atau alat bantu penglihatan lain.
d. Prestasi akademik rata-rata adalah 83.5 dengan standar deviasi 3,89. Sebanyak 20.5% memiliki prestasi belajar kurang, 52.3% memiliki prestasi belajar sedang, 27.3% memiliki prestasi akademik baik.
e. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara miopia yang tidak dikoreksi dengan prestasi belajar pada siswa-siswi kelas 5-6 SDN Dharmawanita, Medan tahun 2013.
6.2. Saran
Dari seluruh proses penelitian yang telah dijalani oleh peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini, maka dapat diungkapkan beberapa saran yang mungkin bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian, antara lain.
a. Masukan kepada orang tua, agar dapat memperhatikan kesehatan mata anaknya, dengan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan mata secara berkala tiap 6 bulan kepada anak tersebut.
b. Masukan kepada pihak sekolah untuk mengupayakan penyuluhan pemeriksaan mata secara berkala setiap 6 bulan secara rutin kepada anak usia sekolah , sehingga tercapai sistem skrining yang efektif untuk membantu menemukan anak dengan kelainan refraksi dan anak dengan kelainan refraksi tersebut bisa dikoreksi dengan alat bantu penglihatan yang sesuai.
c. Masukan kepada peneliti lain di masa yang akan datang untuk melakukan persiapan dalam melakukan penelitian baik sarana, alat , dan lain-lain dan untuk meneliti dengan sampel yang lebih banyak dan bervariasi dan dengan perangkat penelitian yang lebih lengkap untuk mengendalikan bias dalam penelitian ini.
d. Masukan kepada pemerintah dan Institusi Kesehatan, agar dapat diupayakan penyuluhan dan pemeriksaan mata secara berkala atau skrining untuk mengurangi dampak negatif miopia maupun kelainan refraksi lain yang mungkin terjadi pada anak usia sekolah baik dari segi pendidikan, interaksi sosial, maupun hal lain, dan mengupayakan bantuan pemberian alat bantu penglihatan yang sesuai untuk miopia atau kelainan refraksi lain pada siswa-siswi usia sekolah yang kurang mampu baik dalam segi ekonomi, maupun yang lainnya.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Mata
Gambar 2.1. Anatomi Mata
Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari paling luar ke paling dalam, lapisan-lapisan itu adalah : (1) Sklera/kornea, (2) koroid/badan siliaris/iris, (3) retina , (gambar 2.1). Sebagian besar bola mata dilapisi oleh sebuah lapisan jaringan ikat protektif yang kuat disebelah luar, yaitu sklera, yang membentuk bagian putih mata. Di anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri dari kornea transparan tempat lewatnya berkas-berkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah di bawah sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan koroid di sebelah anterior mengalami spesialisasi untuk membentuk badan siliaris dan iris. Lapisan paling dalam dibawah koroid adalah retina , yang terdiri dari sebuah lapisan berpigmen disebelah luar dan sebuah
lapisan jaringan saraf di sebelah dalam. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf. Pigmen di koroid dan retina menyerap cahaya sehingga mencegah pemantulan dan penghamburan cahaya di dalam mata.
Bagian dalam mata terdiri dari dua rongga berisi cairan yang dipisahkan oleh sebuah lensa , yang semuanya jernih untuk memungkinkan cahaya lewat menembus mata dari kornea ke retina. Rongga anterior (depan) antara kornea dan lensa mengandung cairan encer jernih, aqueous humor, dan rongga di posterior (belakang) yang lebih besar antara lensa dan retina mengandung zat semicair mirip gel yang disebut vitreous humor.
Vitreous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata yang sferis. Aquous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aquous humor dibentuk dengan kecepatan sekitar 5 ml/hari oleh jaringan kapiler didalam korpus siliaris, turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan ini mengalir ke suatu saluran di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah.
2.2 . Karakteristik Optik Mata 2.2.1. Refraksi Mata
Cahaya adalah suatu bentuk radiasi elektromagnetik yang terdiri dari paket-paket individual energi. Terdapat fotoreseptor pada mata yang peka terhadap cahaya dengan panjang gelombang antara 400 dan 700 nanometer. Gelombang cahaya mengalami divergensi (memancar ke luar) ke semua arah dari setiap titik sumber cahaya dalam arah tertentu dikenal sebagai berkas cahaya. Berkas-berkas cahaya divergen yang mencapai mata harus dibelokkan ke arah dalam untuk difokuskan kembali ke sebuah titik peka-cahaya di retina agar dihasilkan suatu bayangan akurat mengenai sumber cahaya.
Refraksi adalah defleksi, atau pembelokan berkas sinar saat melewati salah satu medium menuju medium lain yang memiliki densitas optik berbeda. Semakin konveks suatu permukaan, maka akan semakin refraktif dayanya. Dua faktor yang
berperan dalam refraksi adalah densitas komparatif antara dua media (semakin besar perbedaan densitas , semakin besar derajat pembelokan) dan sudut jatuhnya berkas cahaya di medium kedua (semakin besar sudut, semakin besar pembiasan). Suatu lensa dengan permukaan konveks (cembung) menyebabkan konvergensi, atau penyatuan, berkas-berkas cahaya, yaitu persyaratan untuk membawa suatu bayangan ke titik fokus. Dengan demikian, permukaan refraktif mata bersifat konveks. Lensa dengan permukaan konkaf (cekung) menyebabkan divergensi (penyebaran) berkas-berkas cahaya; suatu lensa konkaf berguna untuk memperbaiki kesalahan refraktif mata tetrtentu, misalnya berpenglihatan dekat.
Struktur yang berperan dalam refraksi mata adalah kornea, lensa, cairan aquous humor dan vitreous humor. Permukaan kornea, struktur pertama yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, yang melengkung berperan paling besar dalam kemampuan refraktif total karena perbedaan densitas pertemuan udara/kornea jauh lebih besar daripada perbedaan antara lensa dan cairan yang mengelilinginya. Kornea bertanggung jawab untuk sekitar 70% daya refraktif dan merupakan alat penyesuaian kasar pada mata. Pada astigmatisme, kelengkungan kornea tidak seragam/rata sehingga berkas-berkas cahaya mengalami refraksi yang tidak setara. Kemampuan refraksi kornea seseorang tetap konstan karena kelengkungan kornea tidak pernah berubah. Sebaliknya, kemampuan refraksi lensa dapat disesuaikan dengan mengubah kelengkungan sesuai keperluan untuk melihat dekat atau jauh. Lensa berperan dalam sebagian besar alat “penyesuaian halus” pada mata. Cairan Aquous humor dan vitreous humor bertanggung jawab untuk refraksi minimal.
Struktur-struktur refraksi pada mata harus membawa bayangan cahaya terfokus di retina agar penglihatan jelas. Apabila suatu bayangan sudah terfokus sebelum mencapai retina atau belum terfokus sewaktu mencapai retina, bayangan tersebut tampak kabur.
2.2.2. Akomodasi Mata
Akomodasi adalah proses penyesuaian otomatis pada lensa untuk memfokuskan objek secara jelas pada jarak yang beragam. Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa ini mengakibatkan sumber cahaya yang dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina.
Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris. Otot siliaris adalah bagian dari korpus siliaris, suatu spesialisasi lapisan koroid di sebelah anterior. Korpus siliaris memiliki dua komponen utama: otot siliaris dan jaringan kapiler yang menghasilkan aquous humor. Otot siliaris adalah otot polos melingkar yang melekat ke lensa melalui ligamentum suspensorium.
Ketika otot siliaris melemas, ligamentum suspensorium tegang dan menarik lensa, sehingga lensa berbentuk gepeng dengan kekuatan refraksi minimal. Ketika berkontraksi, garis tengah otot ini berkurang dan tegangan di ligamentum suspensorium mengendur. Sewaktu lensa kurang mendapat tarikan dari ligamentum suspensorium, lensa mengambil bentuk yang lebih sferis (bulat) karena elastisitasnya. Semakin besar kelengkungan lensa, semakin besar kekuatannya, sehingga berkas cahaya lebih dibelokkan. Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi otot tersebut berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat untuk penglihatan dekat.
Seumur hidup, hanya sel-sel tepi luar lensa yang diganti. Sel-sel di bagian tengah lensa mengalami kesulitan ganda. Sel-sel tersebut tidak saja merupakan sel tertua, tetapi juga terletak paling jauh dari aquous humor , sumber nutrisi bagi lensa. Seiring dengan pertambahan usia, sel-sel dibagian tengah yang tidak dapat diganti dan mati ini akan menjadi kaku. Dengan berkurangnya kelenturan, lensa tidak lagi mampu mengambil bentuk sferis yang diperlukan untuk akomodasi untuk penglihatan dekat. Penurunan kemampuan akomodasi yang berkaitan dengan usia ini, yaitu presbiopia, mengenai sebagian besar orang pada usia pertengahan (45-50 tahun), sehingga mereka memerlukan lensa korektif untuk penglihatan dekat.
Gangguan penglihatan yang sering dijumpai lainnya adalah berpenglihatan dekat (miopia) dan berpenglihatan jauh (hiperopia). Pada mata normal, sumber cahaya jauh difokuskan di retina tanpa akomodasi, sementara kekuatan lensa ditingkatkan oleh akomodasi untuk membawa sumber dekat ke fokus. Pada miopia, karena bola mata terlalu panjang atau lensa terlalu kuat, sumber cahaya dekat dibawa ke fokus di retina tanpa akomodasi (walaupun dalam keadaan normal akomodasi diperlukan untuk penglihatan dekat), sementara sumber cahaya jauh difokuskan di depan retina dan tampak kabur. Dengan demikian orang yang mengalami miopia memiliki penglihatan dekat yang lebih baik daripada penglihatan jauh, suatu keadaan yang dapat dikoreksi oleh lensa konkaf. Pada hiperopia, bola mata mungkin terlalu pendek atau lensa mata terlalu lemah. Benda-benda jauh terfokus di retina hanya dengan akomodasi,sementara benda-benda dekat difokuskan di belakang retina, walaupun mata mengadakan akomodasi, sehingga tampak kabur. Dengan demikian, individu hiperopia memiliki penglihatan jauh yang lebih baik daripada penglihatan dekat, suatu keadaan yang dapat dikoreksi dengan lensa konveks.
2.3. Ametropia
Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran depan dan kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya pembiasan sinar terkuat dibanding bagian mata lainnya. Lensa memegang peranan membiaskan sinar terutama pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang dekat.
Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea ( mendatar, mencembung ) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang , lebih pendek) bola mata, maka sinar normal tidak dapat terfokus pada makula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa miopia, hipermetropia, dan astigmatisme.
Dalam bahasa Yunani, ametros berarti tidak sebanding atau tidak seimbang, sedang ops berarti mata. Sehingga yang dimaksud dengan ametropia adalah keadaan pembiasan mata dengan panjang bola mata yang tidak seimbang. Hal ini
terjadi akibat kelainan kekuatan pembiasan sinar media penglihatan atau kelainan bentuk bola mata.
Ametropia dalam keadaan tanpa akomodasi atau dalam keadaan istirahat memberikan bayangan sinar sejajar pada fokus yang tidak terletak pada retina. Pada keadaan ini bayangan pada selaput jala tidak sempurna terbentuk. Dikenal beberapa ametropia , seperti :
a. Ametropia aksial
Ametropia yang terjadi akibat sumbu optik bola mata lebih panjang atau lebih pendek sehingga bayangan benda difokuskan di depan atau di belakang retina. Pada miopia aksial, fokus akan terletak di depan retina karena bola mata lebih panjang (gambar 2.2) dan pada hipermetropia aksial fokus bayangan terletak di belakang retina (gambar 2.3).
b. Ametropia refraktif
Ametropia akibat kelainan sistem pembiasan sinar di dalam mata. Bila daya bias kuat, maka bayangan benda terletak di depan retina seperti pada miopia (gambar 2.2) atau bila daya bias kurang, maka bayangan benda akan terletak di belakang retina seperti pada hipermetropia refraktif (gambar 2.3)
2.4. Miopia 2.4.1. Definisi
Miopia adalah suatu kondisi penglihatan dimana objek yang letaknya dekat terlihat jelas sedangkan objek yang letaknya jauh tidak jelas terlihat atau terlihat kabur. Miopia terjadi jika bola mata terlalu panjang atau kornea memiliki banyak lengkungan, akibatnya cahaya yang memasuki mata tidak terfokus dengan benar dan objek yang jauh terlihat kabur (American Optometric Association , 2006).
Miopia adalah kondisi yang sangat umum yang hampir 30% mempengaruhi penglihatan pada penduduk Amerika Serikat. Beberapa penelitian menunjukan bahwa miopia bersifat herediter. Ada juga bukti bahwa miopia dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti stres visual karena terlalu sering melihat objek dengan jarak yang terlalu dekat. Umumnya, miopia terjadi pada anak-anak usia sekolah, namun miopia juga dapat terjadi pada orang dewasa karena stres visual atau kondisi kesehatan seperti diabetes (American Optometric Association , 2006). Menurut Margan, miopia adalah suatu kondisi yang benign,karena penglihatan dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata, lensa kontak, ataupun operasi.
2.4.2. Epidemiologi
Prevalensi miopia sangat bervariasi, tergantung kepada beberapa faktor yang diduga dapat menyebabkan miopia seperti faktor usia, jenis kelamin, jenis pekerjaaan, tingkat pendapatan, dan pencapaian pendidikan seseorang. Miopia biasanya dimulai pada masa anak-anak.
Dari penelitian sebelumnya disebutkan bahwa prevalensi miopia meningkat di negara-negara berkembang di Asia Timur dan Asia Tenggara seperti Singapura, China, Taiwan, Hongkong, Jepang, dan Korea. Di daerah perkotaan, 80%-90% anak usia sekolah menderita miopia dan sekitar 10%-20% dari mereka menderita miopia berat. Sedangkan di negara-negara maju dan Amerika Serikat, didapati remaja di negara tersebut memiliki prevalensi miopia siktar 25%-35%.
Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Vidyapati (2010), 6%-15% dari anak-anak yang menderita miopia berasal dari orang tua yang tidak menderita miopia, sedangkan jika kedua orang tuanya menderita miopia , angka prevalensi
meningkat rata-rata menjadi 33%-60%. Pada suatu penelitian di Amerika didapatkan bahwa bila pada kedua orang tua menderita miopia, maka anak-anak mereka memiliki kemungkinan enam kali lebih besar untuk mendapatkan miopia dibandingkan dengan hanya salah satu orang tua yang menderita miopia atau sama sekali tidak ada.
2.4.3. Klasifikasi
American Optometric Association (2010) mengklasifikasikan miopia sebagai berikut
Tabel 2.1. Sistem Klasifikasi Miopia
Tipe Klasifikasi Jenis Miopia
Entitas Klinis Simple myopia Nokturnal myopia Pseudomyopia Degenerative myopia Induced myopia
Derajat Low myopia (<3.00 D)
Medium myopia (3.00 D – 6.00 D) High myopia (>6.00)
Umur Congenital myopia
Youth-onset myopia (<20 years of age)
Early adult-onset myopia (2-40 years of age)
Late adult-onset myopia (>40 years of age)
Simple Miopia
Simple miopia adalah miopia yang disebabkan oleh dimensi bola mata yang terlalu panjang atau indeks bias kornea maupun lensa yang terlalu tinggi.
Miopia Nokturnal
Miopia nokturnal adalah miopia yang hanya terjadi pada saat kondisi di sekeliling kurang cahaya. Sebenarnya, fokus titik jauh mata seseorang bervariasi terhadap tahap pencahayaan yang ada. Miopia ini dipercaya penyebabnya adalah pupil yang membuka terlalu lebar untuk memasukkan lebih banyak cahaya , sehinggga menimbulkan aberasi dan menambah kondisi miopia
Pseudomiopia
Pseudomiopia diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan terhadap mekanisme akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada otot-otot siliar yang memegang lensa. Di Indonesia, disebut miopia palsu, karena memang sifat miopia ini hanya sementara sampai kekejangan akomodasinya dapat direlaksasikan. Untuk kasus ini, tidak boleh buru-buru diberi lensa koreksi
Miopia degeneratif
Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna atau miopia progresif. Biasanya merupakan miopia derajat tinggi dan tajam penglihatannya juga di bawah normal meskipun telah mendapat koreksi. Miopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke waktu
Miopia Induksi
Miopia yang diakibatkan oleh pemakaian obat-obatan , naik turunnya kadar gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus lensa dan sebagainya.
Klasifikasi miopia berdasarkan derajatnya :
Ringan : miopia kecil daripada 1-3 dioptri Sedang : miopia lebih diantara 3-6 dioptri Berat : miopia lebih besar daripada 6 dioptri
Klasifikasi miopia berdasarkan umur :
Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak- anak Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun
Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40 tahun Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun
Klasifikasi miopia menurut bentuknya : Miopia refraktif
Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan miopia bias atau miopia indeks, miopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.
Miopia aksial
Miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal.
2.4.4. Etiologi dan Faktor Resiko
American optometric Association (2010), mengklasifikasikan penyebab miopia berdasarkan jenis miopia sebagai berikut :
Tabel 2.2. Klasifikasi Kemungkinan Penyebab Miopia
Tipe Miopia Penyebab
Miopia Sederhana Genetik
Sering bekerja dengan jarak yang terlalu dekat
Tidak diketahui
Miopia Nokturna Kebiasaan fokus atau akomodasi dengan pencahayaan yang kurang
Pseudomiopia Kelainan akomodasi
Eksophoria Kolinergik agonis
Miopia Degeneratif Genetik
Retinopati prematur
Gangguan cahaya melewati media okular Miopia Induksi Nuklear katarak yang berhubungan dengan
umur
Terekspos sulfonamides dan obat lain Gula darah
American Optometric Association
Faktor resiko yang dapat menyebabkan miopia diantaranya adalah faktor genetik. Studi menunjukkan 33%-60% anak menderita miopia berasal dari kedua orang tua yang juga menderita miopia. Tingkat pendidikan juga dapat mempengaruhi kejadian miopia pada diri seseorang , semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin tinggi kemungkinan seseorang tersebut mengalami miopia. Begitu juga halnya dengan pekerjaan seseorang, seseorang yang sering bekerja dengan melihat sesuatu pada jarak yang dekat dapat meningkatkan terjadinya miopia. Beberapa hasil penelitian sebelumnya juga menyebutkan bahwa status gizi, penyakit tertentu, kelainan genetik, prematuritas, dan terpapar cahaya yang sangat terang juga dapat menjadi faktor resiko untuk terjadinya miopia.
2.4.5. Gejala Klinis
Gejala yang paling umum pada miopia adalah melihat jelas bila dekat, sedangkan melihat jauh kabur atau disebut pasien dengan rabun jauh. Pasien miopia juga akan mengeluhkan sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak mata yang sempit. Seorang miopia mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek pinhole ( lubang kecil).
Pasien miopia memiliki pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau berkedudukan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka pasien akan kelihatan juling
ke dalam atau esoptropia. Tanda seseorang itu miopia bisa juga diukur dengan menggunakan Snellen Chart yang memiliki nilai visus kurang dari 6/6 atau 5/5 tergantung Snellen Chart yang digunakan.
2.4.6. Diagnosis
Untuk mengetahui seseorang itu menderita miopia,harus ditanyakan kepada pasien berkaitan dengan gejala yang dihadapinya. Pada pasien miopia, pasien akan mengeluhkan penglihatan kabur ketika melihat objek yang jauh dan melihat jelas pada objek yang dekat. Beberapa pasien mengeluhkan sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak mata yang sempit. Pasien juga terlihat sering menyerngitkan matanya untuk mendapatkan efek pinhole. Pasien juga mengeluhkan kelelahan mata. Selain itu pemeriksa juga harus menanyakan secara pasti ada tidaknya pasien memiliki riwayat faktor resiko miopia, riwayat penyakit yang dialami dan obat yang diambil pasien sebelumnya.
Selain dari mengenal gejala klinis pasien diatas, kita juga dapat melakukan beberapa pemeriksaan lain :
A. Pemeriksaan Visus dengan Menggunakan Snellen Chart
Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan pada mata tanpa atau dengan kacamata. Setiap mata diperiksa secara terpisah. Biasakan memeriksa tajam penglihatan kanan terlebih dahulu kemudian kiri lalu mencatatnya. Pemeriksaan tajam penglihatan sebaiknya dilakukan pada jarak 5 atau 6 meter, karena pada jarak ini mata akan melihat benda dalam keadaan beristirahat atau tanpa akomodasi.
Pada pemeriksaan tajam penglihatan dipakai kartu baku atau standar, misalnya snellen chart yang setiap hurufnya membentuk sudut 5 menit pada jarak tertentu sehingga huruf pada baris tanda 60, berarti huruf tersebut membentuk sudut 5 menit pada jarak 60 meter, dan pada baris tanda 30, berarti huruf tersebut membentuk sudut 5 menit pada jarak 30 meter.
Dengan snellen chart standar ini dapat ditentukan tajam penglihatan atau kemampuan melihat seseorang, seperti :
Bila tajam penglihatan 6/6 maka berarti ia dapat melihat huruf pada jarak 6 meter, yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter. Bila pasien hanya dapat membaca pada huruf baris yang menunjukkan angka
30, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/30
Bila pasien hanya dapat membaca huruf pada baris yang menunjukkan angka 50, berarti tajam penglihatan pasien adalah 6/50
Bila tajam penglihatan adalah 6/60 berarti ia hanya dapat terlihat pada jarak 6 meter yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 60 meter Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu Snellen, maka
dilakukan uji hitung jari. Jari dapat dilihat terpisah oleh orang normal pada jarak 60 meter
Bila pasien hanya dapat melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pada jarak 3 meter, maka dinyatakan tajam 3/60. Dengan pengujian ini, tajam penglihatan hanya dapat dinilai sampai 1/60, yang berarti hanya dapat menghitung jari pada jarak 1 meter.
Dengan uji lambaian tangan, maka dapat dinyatakan tajam penglihatan pasien yang lebih buruk daripada 1/60. Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300 meter. Bila mata hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter, berarti tajam penglihatannya adalah 1/300.
Kadang-kadang mata hanya dapat mengenal adanya sinar sejajar saja dan tidak