BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Karakteristik Optik Mata
2.2.2. Akomodasi Mata
Akomodasi adalah proses penyesuaian otomatis pada lensa untuk memfokuskan objek secara jelas pada jarak yang beragam. Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa ini mengakibatkan sumber cahaya yang dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina.
Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris. Otot siliaris adalah bagian dari korpus siliaris, suatu spesialisasi lapisan koroid di sebelah anterior. Korpus siliaris memiliki dua komponen utama: otot siliaris dan jaringan kapiler yang menghasilkan aquous humor. Otot siliaris adalah otot polos melingkar yang melekat ke lensa melalui ligamentum suspensorium.
Ketika otot siliaris melemas, ligamentum suspensorium tegang dan menarik lensa, sehingga lensa berbentuk gepeng dengan kekuatan refraksi minimal. Ketika berkontraksi, garis tengah otot ini berkurang dan tegangan di ligamentum suspensorium mengendur. Sewaktu lensa kurang mendapat tarikan dari ligamentum suspensorium, lensa mengambil bentuk yang lebih sferis (bulat) karena elastisitasnya. Semakin besar kelengkungan lensa, semakin besar kekuatannya, sehingga berkas cahaya lebih dibelokkan. Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi otot tersebut berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat untuk penglihatan dekat.
Seumur hidup, hanya sel-sel tepi luar lensa yang diganti. Sel-sel di bagian tengah lensa mengalami kesulitan ganda. Sel-sel tersebut tidak saja merupakan sel tertua, tetapi juga terletak paling jauh dari aquous humor , sumber nutrisi bagi lensa. Seiring dengan pertambahan usia, sel-sel dibagian tengah yang tidak dapat diganti dan mati ini akan menjadi kaku. Dengan berkurangnya kelenturan, lensa tidak lagi mampu mengambil bentuk sferis yang diperlukan untuk akomodasi untuk penglihatan dekat. Penurunan kemampuan akomodasi yang berkaitan dengan usia ini, yaitu presbiopia, mengenai sebagian besar orang pada usia pertengahan (45-50 tahun), sehingga mereka memerlukan lensa korektif untuk penglihatan dekat.
Gangguan penglihatan yang sering dijumpai lainnya adalah berpenglihatan dekat (miopia) dan berpenglihatan jauh (hiperopia). Pada mata normal, sumber cahaya jauh difokuskan di retina tanpa akomodasi, sementara kekuatan lensa ditingkatkan oleh akomodasi untuk membawa sumber dekat ke fokus. Pada miopia, karena bola mata terlalu panjang atau lensa terlalu kuat, sumber cahaya dekat dibawa ke fokus di retina tanpa akomodasi (walaupun dalam keadaan normal akomodasi diperlukan untuk penglihatan dekat), sementara sumber cahaya jauh difokuskan di depan retina dan tampak kabur. Dengan demikian orang yang mengalami miopia memiliki penglihatan dekat yang lebih baik daripada penglihatan jauh, suatu keadaan yang dapat dikoreksi oleh lensa konkaf. Pada hiperopia, bola mata mungkin terlalu pendek atau lensa mata terlalu lemah. Benda-benda jauh terfokus di retina hanya dengan akomodasi,sementara benda-benda dekat difokuskan di belakang retina, walaupun mata mengadakan akomodasi, sehingga tampak kabur. Dengan demikian, individu hiperopia memiliki penglihatan jauh yang lebih baik daripada penglihatan dekat, suatu keadaan yang dapat dikoreksi dengan lensa konveks.
2.3. Ametropia
Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran depan dan kelengkungan kornea dan panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya pembiasan sinar terkuat dibanding bagian mata lainnya. Lensa memegang peranan membiaskan sinar terutama pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang dekat.
Panjang bola mata seseorang dapat berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea ( mendatar, mencembung ) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang , lebih pendek) bola mata, maka sinar normal tidak dapat terfokus pada makula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia yang dapat berupa miopia, hipermetropia, dan astigmatisme.
Dalam bahasa Yunani, ametros berarti tidak sebanding atau tidak seimbang, sedang ops berarti mata. Sehingga yang dimaksud dengan ametropia adalah keadaan pembiasan mata dengan panjang bola mata yang tidak seimbang. Hal ini
terjadi akibat kelainan kekuatan pembiasan sinar media penglihatan atau kelainan bentuk bola mata.
Ametropia dalam keadaan tanpa akomodasi atau dalam keadaan istirahat memberikan bayangan sinar sejajar pada fokus yang tidak terletak pada retina. Pada keadaan ini bayangan pada selaput jala tidak sempurna terbentuk. Dikenal beberapa ametropia , seperti :
a. Ametropia aksial
Ametropia yang terjadi akibat sumbu optik bola mata lebih panjang atau lebih pendek sehingga bayangan benda difokuskan di depan atau di belakang retina. Pada miopia aksial, fokus akan terletak di depan retina karena bola mata lebih panjang (gambar 2.2) dan pada hipermetropia aksial fokus bayangan terletak di belakang retina (gambar 2.3).
b. Ametropia refraktif
Ametropia akibat kelainan sistem pembiasan sinar di dalam mata. Bila daya bias kuat, maka bayangan benda terletak di depan retina seperti pada miopia (gambar 2.2) atau bila daya bias kurang, maka bayangan benda akan terletak di belakang retina seperti pada hipermetropia refraktif (gambar 2.3)
2.4. Miopia 2.4.1. Definisi
Miopia adalah suatu kondisi penglihatan dimana objek yang letaknya dekat terlihat jelas sedangkan objek yang letaknya jauh tidak jelas terlihat atau terlihat kabur. Miopia terjadi jika bola mata terlalu panjang atau kornea memiliki banyak lengkungan, akibatnya cahaya yang memasuki mata tidak terfokus dengan benar dan objek yang jauh terlihat kabur (American Optometric Association , 2006).
Miopia adalah kondisi yang sangat umum yang hampir 30% mempengaruhi penglihatan pada penduduk Amerika Serikat. Beberapa penelitian menunjukan bahwa miopia bersifat herediter. Ada juga bukti bahwa miopia dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti stres visual karena terlalu sering melihat objek dengan jarak yang terlalu dekat. Umumnya, miopia terjadi pada anak-anak usia sekolah, namun miopia juga dapat terjadi pada orang dewasa karena stres visual atau kondisi kesehatan seperti diabetes (American Optometric Association , 2006). Menurut Margan, miopia adalah suatu kondisi yang benign,karena penglihatan dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata, lensa kontak, ataupun operasi.
2.4.2. Epidemiologi
Prevalensi miopia sangat bervariasi, tergantung kepada beberapa faktor yang diduga dapat menyebabkan miopia seperti faktor usia, jenis kelamin, jenis pekerjaaan, tingkat pendapatan, dan pencapaian pendidikan seseorang. Miopia biasanya dimulai pada masa anak-anak.
Dari penelitian sebelumnya disebutkan bahwa prevalensi miopia meningkat di negara-negara berkembang di Asia Timur dan Asia Tenggara seperti Singapura, China, Taiwan, Hongkong, Jepang, dan Korea. Di daerah perkotaan, 80%-90% anak usia sekolah menderita miopia dan sekitar 10%-20% dari mereka menderita miopia berat. Sedangkan di negara-negara maju dan Amerika Serikat, didapati remaja di negara tersebut memiliki prevalensi miopia siktar 25%-35%.
Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Vidyapati (2010), 6%-15% dari anak-anak yang menderita miopia berasal dari orang tua yang tidak menderita miopia, sedangkan jika kedua orang tuanya menderita miopia , angka prevalensi
meningkat rata-rata menjadi 33%-60%. Pada suatu penelitian di Amerika didapatkan bahwa bila pada kedua orang tua menderita miopia, maka anak-anak mereka memiliki kemungkinan enam kali lebih besar untuk mendapatkan miopia dibandingkan dengan hanya salah satu orang tua yang menderita miopia atau sama sekali tidak ada.
2.4.3. Klasifikasi
American Optometric Association (2010) mengklasifikasikan miopia sebagai berikut
Tabel 2.1. Sistem Klasifikasi Miopia
Tipe Klasifikasi Jenis Miopia
Entitas Klinis Simple myopia Nokturnal myopia Pseudomyopia Degenerative myopia Induced myopia
Derajat Low myopia (<3.00 D)
Medium myopia (3.00 D – 6.00 D) High myopia (>6.00)
Umur Congenital myopia
Youth-onset myopia (<20 years of age)
Early adult-onset myopia (2-40 years of age)
Late adult-onset myopia (>40 years of age)
Simple Miopia
Simple miopia adalah miopia yang disebabkan oleh dimensi bola mata yang terlalu panjang atau indeks bias kornea maupun lensa yang terlalu tinggi.
Miopia Nokturnal
Miopia nokturnal adalah miopia yang hanya terjadi pada saat kondisi di sekeliling kurang cahaya. Sebenarnya, fokus titik jauh mata seseorang bervariasi terhadap tahap pencahayaan yang ada. Miopia ini dipercaya penyebabnya adalah pupil yang membuka terlalu lebar untuk memasukkan lebih banyak cahaya , sehinggga menimbulkan aberasi dan menambah kondisi miopia
Pseudomiopia
Pseudomiopia diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan terhadap mekanisme akomodasi sehingga terjadi kekejangan pada otot-otot siliar yang memegang lensa. Di Indonesia, disebut miopia palsu, karena memang sifat miopia ini hanya sementara sampai kekejangan akomodasinya dapat direlaksasikan. Untuk kasus ini, tidak boleh buru-buru diberi lensa koreksi
Miopia degeneratif
Disebut juga sebagai miopia degeneratif, miopia maligna atau miopia progresif. Biasanya merupakan miopia derajat tinggi dan tajam penglihatannya juga di bawah normal meskipun telah mendapat koreksi. Miopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke waktu
Miopia Induksi
Miopia yang diakibatkan oleh pemakaian obat-obatan , naik turunnya kadar gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus lensa dan sebagainya.
Klasifikasi miopia berdasarkan derajatnya :
Ringan : miopia kecil daripada 1-3 dioptri Sedang : miopia lebih diantara 3-6 dioptri Berat : miopia lebih besar daripada 6 dioptri
Klasifikasi miopia berdasarkan umur :
Kongenital : sejak lahir dan menetap pada masa anak- anak Miopia onset anak-anak : di bawah umur 20 tahun
Miopia onset awal dewasa : di antara umur 20 sampai 40 tahun Miopia onset dewasa : di atas umur 40 tahun
Klasifikasi miopia menurut bentuknya : Miopia refraktif
Bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan miopia bias atau miopia indeks, miopia yang terjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.
Miopia aksial
Miopia akibat panjangnya sumbu bola mata, dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal.