BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
5.1. Kesimpulan
Alokasi dana BOS mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu melebihi 100 persen antara periode tahun 2005-2006. Namun demikian, Program BOS belum banyak menyentuh daerah miskin di Indonesia. Sebagian besar penerima dana BOS tersebut terpusat di Pulau Jawa yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jika dilihat lebih lanjut, distribusi alokasi dana BOS antara periode tahun 2005-2007, masih menunjukkan tingginya disparitas antar wilayah penerima dana BOS. Hal ini dapat dilihat dari provinsi-provinsi yang memiliki persentase penduduk miskin paling besar seperti Papua, Papua Barat, Maluku dan Gorontalo belum memanfaatkan program BOS secara optimal.
Terdapat kecenderungan bahwa tidak ada hubungan antara dana BOS dengan APK SD pada tahun 2007. Hal ini terlihat bahwa provinsi seperti Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Lampung dan Jambi memiliki APK diatas rata-rata nasional, walaupun mereka hanya menerima dana BOS sedikit. Akan tetapi, adanya dana BOS cukup efektif dalam menurunkan ketidakhadiran siswa pada jenjang pendidikan dasar yang ditunjukkan yang ditunjukkan penurunan cukup tajam
dari era pra-BOS ke era BOS, yang rata-rata turun sebesar 1,27 persen. Program BOS terbukti efektif dalam meningkatkan efisiensi internal pendidikan dasar, yang dalam hal ini diindikasikan oleh tingkat ketidakhadiran dan angka putus sekolah. Program BOS berhasil mempertajam laju penurunan angka ketidakhadiran siswa pendidikan dasar. Sementara itu, terbukti efektif dalam menurunkan angka putus sekolah.
Dalam konteks desentralisasi, pemerataan dan perluasan akses pendidikan ditujukan pula untuk mengurangi kesejangan akses pendidikan antar daerah. Sampai dengan tahun 1997, secara umum disparitas akses pendidikan mengalami penurunan yang cukup signifikan dengan melihat 2 indikator utama, Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM).
Dari sisi APK, disparitas akses pendidikan di tingkat SD mengalami penurunan yang cukup signifikan sepanjang 2004-2007. Disparitas APK SD mengalami penurunan dari 9,64 di tahun 2004 menjadi 3,98 di tahun 2008. sementara disparitas APK SMP justru cenderung tidak mengalami perubahan yang cukup berarti, bahkan cenderung meningkat dari 11,40 di tahun 2004 menjadi 12,10 di tahun 2007. Sementara itu, disparitas APM SD juga mengalami penurunan yang cukup berarti walaupun tidak sebesar penurunan disparitas APK SD, yaitu dari 2,80 di tahun 2004 menjadi 1,82 di tahun 2007. untuk disparitas APM SMP justru mengalami penurunan yang cukup berarti, dari
Penetapan besarnya anggaran program pendidikan di tingkat pemerintahan daerah sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah daerah. Oleh karena itu, besaran dan proporsi alokasi anggaran pendidikan termasuk pendidikan dasar juga bervariasi. Namun secara umum alokasi anggaran pendidikan masih terfokus pada kegiatan-kegiatan yang bersifat fisik. Sebagai konsekuensinya, masih terbatasnya anggaran yang berkaitan langsung dengan peserta didik atau layanan pendidikan. Terdapat kesenjangan yang lebar dalam alokasi anggaran pemerintah daerah kepada sektor pendidikan. Di tingkat provinsi misalnya, kesenjangan yang cukup lebar tampak dari anggaran untuk pendidikan dasar dan menengah per jumlah penduduk usia 7-15 tahun di provinsi-provinsi seperti Gorontalo, Maluku Utara, Kepulauan Riau, Bangka Belitung justru jauh lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Lampung dan Jawa Barat. Selain itu juga, masih banyak provinsi-provinsi yang alokasi anggarannya pendidikan dasar dan menengahnya per jumlah penduduk 7-12 tahun ini di bawah rata-rata nasional.
Kurangnya sosialisasi pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota menjadi permasalahan tersendiri baik dalam desentralisasi pendidikan secara umum maupun pelaksanaan Wajardikdas 9 Tahun secara khusus. Terdapat inkonsistensi perencanaan dan penganggaran pendidikan. Banyak daerah yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas namun dari sisi anggaran justru sebaliknya. Studi yang dilakukan oleh SMERU tahun 2004 terhadap 10
kabupaten/kota di Indonesia menunjukkan bahwa daerah yang secara tegas menyebut pendidikan dalam visi dab misinya, ternyata tidak satupun yang menempatkan sektor pendidikan ke dalam 3 besar alokasi anggaran pembangunan. Sementara terdapat daerah yang tidak menyebutkan pendidikan sebagai
prioritas pembangunan, justru mengalokasikan anggaran
pendidikan 3 besar diantara sektor lainnya.
Kinerja kuantitas guru dapat dilihat dari rasio siswa per guru. Data antara tahun 2001/02-2005/06 menunjukkan bahwa tren rasio siswa per guru semakin kecil, kecuali untuk MTs, dimana pada tahun 2003/2004 dan 2004/2005 menurun, tetapi pada tahun berikutnya meningkat kembali. Jika dilihat rasio siswa per guru per daerah maka akan terlihat perbedaan antar daerah. Pada tahun 2005, beberapa provinsi memiliki rasio yang lebih besar dari rata-rata, yaitu Nusa Tenggara Timur, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Irian Jaya Barat, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Gorontalo, Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Sedangkan untuk tahun 2007 antara lain Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur, Papua, Gorontalo, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Papua Barat.
Kinerja kualitas guru dapat dilihat dari tingkat pendidikan kepala sekolah dan guru. Tingkat pendidikan dari kepala sekolah
pada jenjang SD dan MI yaitu 15 persen layak masih 85 persen tidak layak. Sedangkan untuk SMP dan MTs, sebesar 60 persen layak dan sisanya 40 persen tidak layak. Kelayakan guru lebih tinggi di sekolah swasta daripada sekolah negeri. Dari data tahun 2006 terlihat bahwa untuk SD dan MI negeri pengajar yang layak mengajar sebesar 14 persen, sedangkan untuk SD dan MI swasta sebesar 21 persen. Sebaliknya untuk SMP dan MTs, pengajar yang layak mengajar lebih besar di SMP dan MTs negeri, yaitu sebesar 63 persen. Untuk SMP dan MTs swasta sebesar 56 persen. Beberapa provinsi yang tingkat kelayakan gurunya rendah sebagian besar terletak di Kawasan Timur Indonesia seperti seluruh provinsi di Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, Maluku serta sebagian provinsi di Sumatera, yaitu Lampung, Bengkulu, Jambi dan Bangka Belitung.
5.2 Implikasi Kebijakan
Tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam kerangka program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun utamanya selama periode 2005-2008 telah dijalankan melalui kerja keras serta dukungan dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, komite sekolah, dewan sekolah dan masyarakat secara umum. Upaya perluasan akses pendidikan baik untuk SD dan sederajat serta SMP dan sedejat dapat dikatakan telah menunjukkan hasil-hasil yang diharapkan. Angka Partipasi Murni tingkat SD dan sederajat meningkat dari 94,12
persen di tahun 2004 menjadi 94,9 persen di tahun 2007, sementara Angka Partipasi Kasar SMP dan sederajat meningkat dari 81,22 persen di tahun 2004 menjadi 92,52 persen di tahun 2007. belum lagi capaian-capaian lain seperti meningkatnya rata-rata nilai Ujian Nasional, peningkatan tingkat kelulusan dan capaian-capaian lainnya. Hal ini menjadi bukti bahwa program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun yang telah dilaksanakan selama ini telah menunjukkan hasil-hasil yang positif dan bahkan secara signifikan melampaui indikator-indikator kinerja yang ditargetkan.
Oleh karena itu, upaya-upaya telah dilakukan selama ini perlu terus dilanjutkan baik untuk lebih mengoptimalkan pembangunan pendidikan secara umum maupun pendidikan dasar 9 tahun secara khusus. Untuk itu pulalah Studi Evaluasi program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun ini dilaksanakan. Selain melihat sejauhmana capaian-capaian dari pelaksanaan program ini, juga untuk merumuskan kebijakan-kebijakan yang dibutuhkan untuk lebih mengoptimalkan tujuan-tujuan dari pelaksanaan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.
Beberapa implikasi kebijakan yang dapat disampaikan diantaranya adalah pertama, intensifikasi dan ekstensifikasi sosialisasi program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun serta berbagai kebijakan yang terkait didalamnya. Diharapkan
untuk mendukung pelaksanaan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Dalam hal kebijakan alokasi BOS, sosialisasi dibutuhkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai tujuan dan peruntukan dana BOS dengan menekankan pada 2 hal, yaitu: (1) bahwa program BOS hanya memenuhi pelayanan minimum pendidikan, sehingga dalam rangka peningkatan mutu pendidikan tidak menutup partisipasi dan kontribusi masyarakat, dan (2) sasaran utaama program adalah untuk membebaskan biaya pendidikan bagi masyarakat miskin sehingga tidak terjadi putus sekolah. Sementara itu sosialisasi dalam kerangka desentralisasi pendidikan diperlukan terutama dalam hal yang erat kaitannya dengan pembagian
kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi dan
kabupaten/kota. Hal ini dilaksanakan agar konsistensi dan harmonisasi pelaksanaan Wajardikdas 9 tahun antar tingkat pemerintahan dapat lebih ditingkatkan lagi.
Kedua, sinkronisasi kebijakan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun serta berbagai kebijakan yang terkait
didalamnya. Sikronisasi kebijakan ini hendaknya dapat
dilaksanakan tidak saja pada tingkat kebijakan hingga tingkat implementasi teknis di lapangan namun juga sinkronisasi antar instansi terkait, antar tingkat pemerintah dan bahkan antar stakeholder dalam pendidikan dasar 9 tahun diantaranya: pemerintah pusat, pemerintah daerah, dewan sekolah, pengelola sekolah, kepala sekolah, guru, siswa bahkan masyarakat secara
umum. Sikronisasi juga dibutuhkan dalam rangkaian
Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun serta berbagai kebijakan yang terkait didalamnya. Dalam konteks desetralisasi pendidikan, diperlukan adanya komitmen bersama antar pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota bahkan hingga pada tingkat alokasi anggaran yang memadai untuk penyelenggaran pendidikan dasar. Diharapkan hal ini dapat menurunkan kesenjangan pembiayaan sektor pendidikan antar daerah. selain itu pula diperlukan peningkatan konsistensi antara perencanaan pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang
mendukung program Wajardikdas dengan kebijakan
penganggaran juga perlu terus dilaksanakan. Sinkronisasi kebijakan juga diperlukan dalam meningkatakan peranan guru dalam pencapaian program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Kerangka kebijakan pembinaan guru yang tersistem dan terarah diperlukan untuk dapat meningkatkan metode mengajar yang lebih baik sehingga dalam meningkatkan prestasi siswa dan lebih jauh lagi kualitas lulusan sekolah.
Ketiga, reformulasi kebijakan dan peraturan dalam kerangka program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun serta berbagai kebijakan yang terkait didalamnya. Beberapa kerangka kebijakan yang ada hendaknya dapat disesuaikan agar sehingga hasil yang diharapkan dapat dicapai secara lebih optimal. Misalnya kebijakan alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Diperlukan rumusan formulasi alokasi BOS yang lebih
jumlah siswa sedikit, yang memiliki banyak guru honor, banyak siswa miskin, sekolah khusus (SDLB atau SMPLB), sekolah yang berlokasi di daerah terpencil perlu memperoleh titik berat tertentu dalam alokasi BOS. Reformulasi kebijakan juga diperlukan dalam menselaraskan kebijakan desentralisasi pemerintahan secara umum dengan desentralisasi pendidikan secara khusus.
Keempat, reorientasi fokus program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun serta berbagai kebijakan yang terkait didalamnya. Hal-hal yang telah dicapai hingga tahun 2007 atau bahkan 2008 telah menunjukkan hasil yang positif dan bahkan signifikan pada tingkat sekolah dasar dan sederajat. Ke depan, formulasi kebijakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun hendaknya lebih difokuskan untuk pendidikan SMP dan sederajat sembari mempersiapkan pula instrumen-instrumen kebijakan untuk melaksanakan wajib belajar yang lebih jauh lagi misalnya tuntas APM untuk seluruh kabupaten/kota baik tingkat SD dan sederajat maupun SMP dan sederajat atau bahkan Wajib Belajar pendidikan dasar 12 tahun. Reorientasi focus kebijakan ini juga
perlu dipertimbangkan misalnya dalam kebijakan yang
berorientasi pada pembangunan fisik kepada pembangunan kualitas pendidikan dasar. Instrumen-instrumen yang dibutuhkan telah dilaksanakan pemerintah dan segenap pemangku sekolah, misalnya dengan mulai diarahkannya beberapa pendidikan bertaraf internasional, mulai dilaksanakannya peningkatan kualitas guru selain ketersediaan guru dan bahkan hal-hal lain yang berkaitan dengan manajemen sekolah. Peningkat kualitas guru baik dari sisi latar belakang pendidikan secara formal
maupun kesesuaian bidang-bidang pengajaran sesuai dengan kebutuhan siswa perlu terus dilanjutkan dan ditingkatkan. Selain itu pula, untuk lebih meningkatkan capaian dalam pemerataan akses pendidikan, skema insentif bagi guru di daerah tertentu perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan.
Dengan beberapa implikasi kebijakan di atas diharapkan ke depan tidak saja perluasan akses pendidikan dasar bagi masyarakat tetapi juga pemerataan pendidikan baik antar daerah maupun antar lapisan masyarakat dapat lebih dioptimalkan. Implikasi di atas hendaknya dapat menjadi pertimbangan untuk perumusan kebijakan Wajib Belajar yang akan datang atau bahkan lebih jauh lagi menjadi satu pijakan untuk lebih meningkatkan pembangunan pendidikan nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ______________, 1965. Illustrated World Encyclopedia, Bobley
Publishing Company.
______________, 1965.The World University Encyclopedia,
Publishing Company, Washington.
______________, 1994. Inpres No.1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar.
______________, 2006. Inpres No.5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.
______________, 2007.Peraturan Pemerintah No 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara
Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
______________, 1993. Encyclopedia Americana, Glolier,
Incorporated.
______________, 2003. UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
______________, 2003. Desentralisasi Pendidikan Butuh Kejelasan Kewenangan, KOMPAS, 18 Desember.
______________, 2007. Akibat Desentralisasi Pendidikan, www.wawasandigital.com, 24 Juli.
_____________,2008. Prospek dan Tantangan Desentralisasi Pendidikan, http://caturratna.wordpress.com, 10 Juni.
Bayhaqi, Akhmad, 2004. Decentralization in Indonesia: The
Possible Impact on Education (Schooling) and Human Resource Development for Local Regions, LPEM-UI.
Bentri, Alwen.,et.al “Efektifitas Pelaksanaan Wajib Belajar Sembilan Tahun di Sumatera Barat. Universitas Negeri Padang
Bruce Joyce, Improving America’s Schools. Longman Publishing
Group (January 1986)
Charles P. Cozic , Education in America, Greenhaven Pr, 1992 Depdiknas, 2005. Rencana Strategis Departemen Pendidikan
Nasional 2005-2009, Desember. ______________, Lakip 2005-2008 http://endang965.wordpress.com/2007/05/06/potret-pendidikan-di-jepang http://forum.wgaul.com/archive/thread/t-47086-Pendidikan -di-Amerik-Serikat.html http://one.indoskripsi.com/content/sistem-pendidikan-di-argentina http://panmohamadfaiz.com/2007/08/29/hukum-dan-pendidikan-di-india
Kingdon, Geeta Gandhi. (2007).”The Progress of School
Education in India”. Global Poverty Research Group
(GPRG) and Economic and Social Research Council (ESRC)
SMERU “Kajian Cepat PKPS-BBM bidang Pendidikan: Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 2005” September 2006
Toyamah N., Usman S, 2004. Alokasi Anggaran Pendidikan di Era Otonomi Daerah: Implikasinya terhadap Pengelolaan Pelayanan Pendidikan Dasar, SMERU, Juni.
Tiedao, Zhang., Minxia, Zhao., Xueqin, Zhao., Xi, Zhang and Yan, Wang. (2004).”Universalizing Nine-Year Compulsory
Education for Poverty Reduction in Rural China. Scaling Up Poverty Reduction: A Global Learning Process and Conference. Shanghai.
Usman S.,dkk, 2008. Mekanisme dan Penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK), SMERU, April.
World Bank: Poverty Reduction & Economic Management Unit
East Asia & Pacific Region “ Investing in Indonesia’s Education: Allocation, Equity & Efficiency of Public Expenditure”. Januari 2007