Pada bab terakhir ini peneliti mencoba menyimpulkan dari semua hasil penelitian serta mendiskusikan hasil penelitian ini yang berkaitan dan juga dengan saran untuk penelitian yang sejenis dengan apa yang penulis teliti agar lebih berkembang dan tentu saja lebih baik dari penelitian yang sudah ada.
5.1
KESIMPULANBerdasarkan hasil analisa data serta pengujian hipotesis yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini berdasarkan hasil yang diperoleh adalah :
1. Ada pengaruh yang signifikan aspek kognitif terhadap stress dalam menghadapi tugas perkuliahan pada mahasiswa dalam menghadapi tugas perkuliahan fakultas psikologi UIN Jakarta
2. Ada pengaruh yang signifikan aspek motivasi terhadap stress dalam menghadapi tugas perkuliahan pada mahasiswa fakultas psikologi UIN Jakarta
3. Ada pengaruh yang signifikan aspek perilaku terhadap stress dalam menghadapi tugas perkuliahan pada mahasiswa fakultas psikologi UIN Jakarta
79
4. Ada pengaruh tetapi tidak signifikan aspek kolektif terhadap stress dalam menghadapi tugas perkuliahan mahasiswa fakultas psikologi UIN Jakarta 5. Ada pengaruh tetapi tidak signifikan aspek avoidance terhadap stress dalam
menghadapi tugas perkuliahan pada mahasiswa fakultas psikologi UIN Jakarta
6. Ada pengaruh tetapi tidak signifikan aspek engagement terhadap stress dalam menghadapi tugas perkuliahan pada mahasiswa fakultas psikologi UIN Jakarta
7. Tidak ada pengaruh yang signifikan jenis kelamin terhadap stress dalam menghadapi tugas perkuliahan pada mahasiswa fakultas psikologi UIN Jakarta
8. Dari hasil regresi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tiga dari ke enam aspek variable self regulated learning dan koping cultural dengan stress memberikan sumbangsih secara signifikan yaitu aspek kognitif, motivasi, perilaku. Sedangkan tiga dari enam aspek self regulated learning dan koping kultural dengan stress tidak memberikan sumbangsih secara signifikan yaitu kolektif, avoidance, engagement dan jenis kelamin.
5.2 DISKUSI
Sumbangsih dari aspek self regulated learning dan koping kultural dapat dilihat dari uji regresi pada tabel model summary yang hasilnya didapatkan koefisien determinasi R square menunjukkan self regulated learning dan koping kultural memberikan nilai sebesar 0.570 atau 57%. Hal ini berarti bahwa variabel
80
self regulated learning dan koping cultural memberikan sumbangsih besar terhadap perubahan variabel stress sebesar 57%. Hasil sumbangsih dari demografi berdasarkan jenis kelamin didapatkan jenis kelamin dari self regulated learning dan koping kultural hanya memberikan sumbangsih yang sangat minim terhadap perubahan variabel stress sebesar 2%.
Berdasarkan kesimpulan diatas, bahwa aspek kognitif, motivasi, dan perilaku pada variable self regulated learning serta aspek avoidance, dan engagement pada variable koping kultural secara positif mempengaruhi stress. Nilai sumbangsih yang besar pada aspek self regulated learning dan koping cultural ini mendukung penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Handy Susanto (2006), keberhasilan seseorang dalam menjalankan proses pendidikannya tidak hanya ditentukan oleh tingkat intelegensi (IQ) yang dimilikinya, tetapi dibutuhkan juga kemampuan meregulasi dirinya selama mengikuti proses pendidikan. Dikutip dari Handy (2006) Menurut Boekaerts, ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan seorang untuk mencapai prestasi yang optimal. Di antaranya adalah intelegensi, kepribadian, lingkungan sekolah, dan lingkungan rumah. Namun selain faktor-faktor tersebut ternyata self regulated learning turut mempengaruhi keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi yang optimal. Meskipun seorang siswa memiliki tingkat intelegensi yang baik, kepribadian, lingkungan rumah, dan lingkungan sekolah yang mendukungnya, namun tanpa ditunjang oleh kemampuan self regulated learning maka siswa tersebuttetap tidak akan mampu mencapai prestasi yang optimal, (dalam Boekaerts, 2005).
81
Pada beberapa etnik terdapat koping yang berbeda-beda. Sesuai dengan hasil penelitian ini, koping budaya Jawa menunjukkan senang dengan hidup berkelompok untuk menghindari stress. Jadi, semakin sering berkelompok berarti semakin stress individu tersebut karena ia sedang berusaha melakukan penghindaran (avoidance). Hasil penelitian ini yang terkait dengan koping kultural terhadap stress ternyata sepaham dengan Santrock (1996), yang menyebutkan faktor-faktor sosial-budaya yang menyebabkan stress adalah stress akulturatif ; akulturasi (acculturation) mengacu pada perubahan kebudayaan yang merupakan akibat dari kontak langsung yang sifatnya terus menerus antara dua kelompok kebudayaan yang berbeda. Stress akulturatif (acculturative) adalah konsekuensi negative dari akulturasi. Dikutip dari Ben Kuo (2005), teori akulturasi menjelaskan perubahan yang terjadi dalam transisi budaya (Kim & Abreu, 2001). Ia memperkirakan perubahan dalam bahasa, gaya kognitif, kepribadian, identitas, sikap, dan menghasilkan stres akulturatif untuk individu menjalani perubahan budaya (Berry, 1997). Selain itu, efek secara bersamaan dari proses akulturasi adalah stress akulturatif; itu di definisikan sebagai respon perilaku dan emosi negative yang disebabkan oleh pengalaman penyesuaian terhadap lingkungan budaya baru (Berry, Kim, Minde, & Mok, 1987). Di Kanada, keberhasilan akademis remaja Kanada Cina ditemukan berhubungan negatif dengan tingkat stress mereka (Leung,2001).
Para teoretikus sosiokultural telah memperingatkan kita tentang pentingnya memperhitungkan stressor sosial dalam menjelaskan tingkah laku abnormal. Salah satu sumber stress utama adalah kebutuhan atau tuntutan untuk
82
beradaptasi dengan kultur baru, hal ini terjadi dalam kelompok imigran atau kelompok penduduk asli yang hidup dalam kultur mayoritas kelompok pendatang. Istilah akulturasi menunjukkan pada suatu proses adaptasi terhadap kultur baru melalui perubahan sikap dan tingkah laku, yang harus dilakukan oleh kelompok imigran dan penduduk asli (Rogler, Cortes & Malgady, 1991). Pikirkanlah tantangan-tantangan yang dihadapi oleh kelompok Hispanik-Amerika. Ada dua teori umum tentang hubungan akulturasi dengan penyesuaian diri (Griffith, 1983). Teori pertama disebut teori peleburan (melting pot theory), menyatakan bahwa akulturasi membantu orang menyesuaikan diri dengan kultur setempat. Dari sudut pandang ini, Hispanik-Amerika dapat lebih mudah menyesuaikan diri dengan mengganti bahasa Spanyol nya dengan bahasa inggris dan mengambil atau memakai nilai-nilai dan adat istiadat kultur mayoritas orang Amerika. Teori yang ke dua, teori bikultural (bicultural theory), mengemukakan bahwa penyesuaian psikososial dilakukan dengan mengidentifikasi diri ke dalam dua kultur, kultur tradisional tempat asal dengan kultur setempat. Dimaksudkan disini, kemampuan adaptasi terhadap kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang baru, dipadukan dengan tradisi kultural yang mendukung dan perasaan memiliki identitas etnik, akan menghasilkan penyesuaian yang baik. Dari sudut pandang teori bikultural, para imigran mempertahankan identitas etnik dan nilai-nilai tradisi mereka sambil mempelajari dan beradaptasi dengan bahasa dan adat istiadat kultur setempat.
Kelemahan dalam penelitian ini adalah pemilihan dalam subjek yang tidak asli langsung dari Jawa, melainkan hanya sekedar orangtua yang berketurunan
83
langsung dari Jawa. Karena koping kultural akan lebih terlihat ketika subjek lahir dan besar di Jawa kemudian pindah ke Jakarta, dalam menghadapi stress.
5.3
SARANBerdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan pengalaman yang dialami dalam penelitian ini, peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan didalam penulisan ini. Untuk itu, ada beberapa saran untuk bahan pertimbangan sebagai penyempurnaan penelitian selanjutnya yang terkait dengan penelitian serupa dan ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan untuk penelitian selanjutnya, yaitu:
5.3.1 Saran Teoritis
Peneliti selanjutnya perlu mengembangkan penelitian tentang stress yang dipengaruhi oleh variabel lainnya selain self regulated learning dan koping kultural. Di harapkan penelitian selanjutnya akan semakin menyempurnakan hasil penelitian sebelumnya.
5.3.2 Saran Praktis
1. Bagi mahasiswa hendaknya mendisiplinkan diri dalam mengikuti kegiatan perkuliahan sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh fakultas, dan tepat waktu dalam pengerjaan tugas-tugas yang telah diberikan oleh dosen sehingga tugas-tugas tidak bertumpuk.
84
2. Bagi individu, semoga penelitian ini dapat dijadikan bahan acuan untuk lebih memahami dan melihat kehidupan mahasiswa yang berasal dari budaya yang berbeda dalam menghadapi stress.
85