• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

4. Tidak lulus matakuliah

2.4 KOPING KULTURAL

Koentjaraningrat (1974, dalam Sumarti,1983) berpendapat bahwa sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap

42

amat bernilai dalam hidup sehingga biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Dikutip menurut Subagio Sastrowardoyo (1988), di dalam masyarakat Jawa, supaya dapat tumbuh menjadi manusia Jawa yang sebaik-baiknya terdapat sumber-sumber budaya Jawa dalam hubungan pengembangan citra anak yaitu :

a) Sastra Wayang b) Sastra Pitutur c) Lagu-lagu dolanan

d) Ungkapan-ungkapan

Dikutip dalam jurnal Benkuo, “Development of the cross-cultural coping scale: collective, avoidance, and engagement coping”, Skala coping lintas-budaya, instrumen berbasis skenario, dikembangkan dalam 3 studi. analisis faktor eksplorasi dengan remaja Kanada Cina, menunjukkan struktur 3-faktor: Kolektif, Penghindaran, dan Keterlibatan Coping.

2.4.1 Faktor-faktor dalam Koping cultural: 1. Koping Kolektif (collective coping)

Kolektif mengatasi berakar dalam kelompok-referensi dan nilai-nilai budaya mungkin sangat relevan untuk acculturating imigran dan siswa internasional. Keluarga, teman sebaya coethnic, dan komunitas etnis bisa berfungsi sebagai kerangka kognitif dan perilaku penting dari referensi ketika individu menghadapi situasi budaya novel (Roysircar & Maestas, 2002).

43

Pada dimensi collective coping sesuai dengan sumber budaya Jawa pada lagu-lagu dolanan. Dimana moral warga masyarakat Jawa banyak dipengaruhi oleh pengalamannya waktu ia masih anak-anak dan suka menyanyikan bersama lagu-lagu dolanan dengan teman-teman. Rasa kebersamaan dalam suasana gembira ria itu memupuk kesetiakawanan antara anak-anak, yang tetap berpengaruh pada sikap kemasyarakatannya waktu orang menjadi dewasa.

Orang Jawa sudah sejak sebelum adanya lembaga pendidikan formal telah sadar akan pentingnya pendidikan tampak dengan jelas pada kegiatan oleh sastranya, yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan tetapi juga sebagai wahana pendidikan yang erat kaitannya dengan kehidupan religi. Dalam suasana keakraban dan kasih sayang, seorang ibu atau nenek menyampaikan warisan rohani nenek sebelum tidur (Sumarti,1983).

2. Penghindaran Koping (avoidance coping)

Salah satu interpretasi budaya yang mungkin adalah bahwa perilaku avoidant mungkin melekat dalam nilai-nilai Asia (Kim et al, 1999.). Dalam filsafat Timur, orang menerima hal-hal sebagaimana adanya, bukan sebagai salah satu hal yang ingin bisa saat ini juga, meskipun kita dapat berharap untuk hal-hal di masa yang akan berbeda (Sodowsky et al, 1995.). Selain itu, menghindari mungkin termotivasi oleh preferensi Asia untuk saling ketergantungan dan pelestarian harmoni sosial (Lam & Zane, 2004; Markus & Kitayama, 1991), yang berfungsi untuk mencegah konfrontasi langsung dengan orang lain, untuk menyesuaikan diri ke dalam kelompok seseorang-, dan untuk "ketenangan" (Sheu

44

& Sedlacek, 2004) yaitu dengan melupakan (forget), menyamarkan (unobtrusive), dan mempunyai selingan (distraction) .

Pada dimensi avoidance coping, sesuai dengan sumber budaya Jawa yang terdapat dalam sastra pitutur. Di dalam sastra Jawa terdapat berbagai karangan yang mengandung pitutur, nasehat-nasehat yang berdasarkan pandangan hidup tertentu yang dijadikan pedoman bagi perilaku umum di dalam masyarakat. Yang terkenal dan paling banyak pengaruhnya adalah karangan Wedhatama dan Wulangreh. Di dalam Wedhatama itu bahwa para pemuda harus dapat mengendalikan hawa nafsu. Yang harus menjadi teladan hidup, menurut Wedhatama adalah laku Panembahan Senopati, sultan yang menurunkan raja-raja di Mataram. Ia menghindahkan keduniawian dengan memerintah sebagai raja dan bergaul dengan khalayak ramai.

Dalam sumber sastra Jawa berupa ungkapan-ungkapan pun sesuai dengan dimensi avoidance coping. Seperti di dalam masyarakat yang lain, juga di masyarakat jawa ungkapan-ungkapan sebagai bentuk ucapan yang tetap dalam pemakaian bahasa mempunyai peranan dalam penentuan atau pengaturan tingkah laku warganya. “aja nggege mangsa” atau “Durung wayahe” yaitu mengingatkan orang supaya bersabar dalam keadaan nasib yang kurang menyenangkan, karena segala sesuatu atau perubahan nasib akan terjadi sesuai dengan waktu yang telah ditentukan “dari atas”. Suatu ungkapan khusus yang dikenal secara luas di dalam masyarakat Jawa dan juga telah menjadi filsafat hidup sendiri adalah “Ma-lima” , yakni lima pedoman hidup yang mulai dengan huruf ma atau m : maling, madon,

45

madat, minum, main. Artinya jangan mencuri, main perempuan, minum madat, minum keras, main kartu atau bertaruh.

3. Keterlibatan Koping (Engagement coping)

Mendefinisikan diri dari perspektif individualistik lebih universal dan kebiasaan daripada melihat diri dalam hubungan dengan orang lain (Rosenberger, seperti dikutip dalam Liem dkk., 2000). Dengan kata lain, ada variasi budaya yang lebih besar dalam kecenderungan lain-diarahkan (kolektivisme) karena relevansi khusus untuk orang Asia daripada kecenderungan ego-centered yang hadir di seluruh kelompok budaya (Liem et al, 2000.) .

Pada dimensi engagement coping, sesuai dengan sumber budaya Jawa yang terdapat dalam sastra wayang. Dimana wayang bagi orang Jawa merupakan sumber moral bagi peri kehidupannya. Seperti lakon Dewaruci dan Arjunawiwaha menjadi tempat berkontemplasi bagi orang Jawa, tidak saja mengenai hakikat juga mengenai tingkah laku bermoral yang tahu mana yang baik dan yang buruk, kemudian keteguhan hati dalam menghadapi halangan-halangan. Arjuna menjadi teladan utama bagi masyarakat Jawa yang cenderung menempuh jalan tengan dan menjadi pencipta harmoni antara unsure-unsur sikap yang saling bertentangan tetapi melengkapkan.

Model ini direproduksi sangat baik dalam analisis faktor konfirmatori. Peserta akulturasi, self-construals, dan agama yang terkait dengan dimensi coping. Dalam jurnal Ben Kuo, An exploratory study of cross-cultural adaptation of adolescent Taiwanese unaccompanied sojourners in Canada” ; Efek dari

46

globalisasi dapat diamati dalam domain pendidikan. Di Kanada, populasi siswa yang terus meningkat internasional dan keragaman etnis di kelas dan kampus di Kanada adalah contoh yang jelas dari tren (Kanada Biro Pendidikan Internasional (CBIE), 2002). Dalam dekade terakhir dan setengah, yang unik sekelompok mahasiswa internasional dari negara-negara Asia mulai pendidikan di Utara American sistem sekolah tinggi telah muncul (Hong, 1998; Lin, 1992, 1998).

Pada jurnal yang ditulis oleh Ben kuo (2006) , pengaruh budaya pada coping telah terlibat secara konseptual di stresscoping literatur untuk beberapa waktu, penelitian empiris di salib-budaya dihadapi telah memperoleh momentum baru-baru ini. Dua dekade terakhir menyaksikan pertumbuhan yang signifikan di penelitian dan basis pengetahuan budaya dan coping, serta panggilan meningkat oleh sarjana lebih kepada budaya-dan-informasi kontekstual dalam mengatasi paradigma stress.

Dilanjutkan dalam Jurnal Ben Kuo (2006); Development of the Cross-Cultural Coping Scale: Collective, Avoidance, and Engagement Coping; membahas, Ketika stres, individu dari Amerika Utara bisa mengindahkan nasihat untuk "mengambil diri bootstraps Anda oleh Anda sendiri" atau "mengambil sapi jantan dengan tanduk." Menurut idiom ini Amerika Utara, individu adalah agen tunggal dalam proses coping. Sebaliknya, ada bukti peningkatan bahwa individu-individu dari masyarakat kolektif, seperti orang Asia, terlibat dalam menghadapi yang mencerminkan kecenderungan mereka saling tergantung (Lam & Zane, 2004). Misalnya, menekankan individu China dapat mengambil kenyamanan dalam aforisme seperti "naik di perahu yang sama," "berbagi nasib yang sama,"

47

dan "persaudaraan dalam kesulitan." Dalam filsafat Hindu dan Buddha, ketika dialog internal bergeser dari "Apa untungnya bagi saya?" untuk "Bagaimana bisa saya bantu?" individu melampaui ego ke dalam domain tugas sosial atau dharma. Ini Amerika Utara dan Asia ucapan mencerminkan perbedaan dalam psikologi Barat dan Timur sepanjang garis saling independen-diri-construals (Markus & Kitayama, 1991). Studi Asia diri construal (Cousins, 1989, Cross, 1995; Yeh, Inose, Kobori, & Chang, 2001) menunjukkan adanya hubungan antara saling self-construal dan collectivistic coping. Selain itu, hubungan yang mungkin ada di antara akulturasi dari Asia kepada masyarakat Amerika Utara dan cara mereka mengatasi (Roysircar & Maestas, 2002).

Masih dalam jurnal yang sama, Zheng dan Berry (1991) melaporkan bahwa siswa internasional Cina di Kanada lebih aktif terlibat dalam coping (seperti menerapkan pengurangan ketegangan dan informasi-mencari strategi) dan kurang pasif (seperti terlibat dalam angan-angan dan menyalahkan diri sendiri) daripada yang non Kanada-Cina. Lam dan Zane (2004) menemukan bahwa mahasiswa Asian American diatasi dengan tekanan interpersonal dengan menggunakan strategi yang lebih untuk mengubah diri untuk menyesuaikan diri dengan orang lain dan strategi yang lebih sedikit untuk mengubah lingkungan atau stres daripada rekan-rekan mereka Amerika putih.

Studi self-construal Asia, misalnya, menunjukkan adanya hubungan antara saling construal diri dan collectivistic coping (Cross, 1995) juga sebagai penghubung antara tingkat akulturasi orang Asia dan metode coping mereka (Roysircar & Maestas, 2002). Kuo, Roysircar, dan Newby-Clark (di pers)

48

ditentukan bahwa individu keturunan Asia sering menggunakan metode khusus budaya coping, termasuk melibatkan bantuan orang lain dan mendekati masalah dari perspektif kolektif di samping pribadi atau individualistis perspektif.

Dari paparan jurnal diatas, penulis mengambil kesimpulan pengertian koping kultural adalah pengaruh budaya pada coping telah terlibat secara konseptual di stresscoping literatur untuk beberapa waktu, penelitian empiris di salib-budaya dihadapi telah memperoleh momentum baru-baru ini (cara penanganan stress berdasarkan karakteristik budaya) (Ben Kuo, 2006). Dalam penelitian ini, penulis mengambil dari budaya Jawa.

Orang Jawa seringkali beranggapan tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah hidup ini. Dan dalam cara pandang terhadap waktu lebih melihat ke masa sekarang dan masa lalu. Kultur Jawa mendorong kepada cara berpikir yang reflektif, orang lain mungkin saja tidak dapat menyadari betapa dalamnya seorang Jawa terlibat dalam pemikirannya sendiri karena pemikiran tersebut tidak ditunjukkan oleh bahasa tubuhnya.

2.5 MAHASISWA

2.5.1 Pengertian Mahasiswa

Sarlito Wirawan dalam bukunya (1978) menjelaskan mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya dalam ikatannya dengan perguruan tinggi. Tidak ada seorangpun yang dinamakan mahasiswa kalau tidak terikat pada salah satu perguruan tinggi. Dapat juga dikatakan bahwa mahasiswa adalah setiap orang yang secara resmi terdaftar untuk

49

mengikuti pelajaran-pelajaran di perguruan tinggi dengan batas usia antara 18-25 tahun.

Definisi mahasiswa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Wikipedia Bahasa Indonesia,1988) adalah sebagai orang yang belajar di pergurun tinggi. Mahasiswa adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah universitas atau perguruan tinggi.

Menurut penulis sendiri mahasiswa adalah setiap orang yang menjalani tingkat pendidikan di perguruan tinggi. Dalam mengatasi stress, mahasiswa mempunyai coping yang berbeda-beda berdasarkan karakteristiknya. Dalam penelitian ini, penulis meneliti mahasiswa yang berasal dari Jawa.

2.5.2 Tugas Mahasiswa

Proses pembelajaran menuju pematangan akademik bagi mahasiswa adalah peningkatan kemampuan di kelas (melalui tatap muka) ataupun peningkatan kemampuan di luar kelas (membaca dan menulis) (Mage, Priyowidodo 2005). Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa peserta pendidikan ialah akademik di lingkungan perguruan tinggi adalah melakukan penelitian.

Dokumen terkait