• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fase II Awareness of Loss

KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN

1. Fase-fase grief

a) Fase I: Shock

Pada fase ini, ketiga responden merasakan adanya perubahan-perubahan fungsi secara psikologis dan fisiologis secara tidak disadari.

Saat melihat anaknya sudah meninggal dunia, responden I merasa seluruh badannya lemas dan akhirnya ia tidak sadarkan diri. Dan setelah sadar, ia merasa pikirannya kosong, sampai akhirnya tidak dapat mengenali orang-orang yang datang untuk melayat.

Responden II sangat terkejut dan suhu tubuhnya meningkat saat berita tentang kematian anaknya diberitahukan kepadanya.

Saat mendengar kesimpulan dokter bahwa anaknya telah meninggal dunia, responden III langsung tidak sadarkan diri.

b) Fase II: Awareness of loss

Ketiga responden mulai menyadari bahwa anak mereka memang sudah meninggal dunia dan tidak akan kembali lagi kepada mereka.

Responden I merasa sangat bersedih ketika ia karaokean, kegiatan yang sering ia lakukan bersama dengan anaknya semasa anaknya masih hidup. Ia sering menangis sambil bernyanyi lagu kesukaan anaknya. Ia juga sering menyalahkan dirinya sendiri karena apa yang sudah dilakukannya semasa anaknya masih hidup, yang ia duga sebagai penyebab penyakit yang diderita oleh anaknya.

Pada masa kehamilannya, responden II sudah diberitahu dokter bahwa kemungkinan anaknya lahir dengan selamat sangat tipis, sehingga ia pun tidak terlalu berharap tentang kelahiran putrinya. Tetapi saat ia mengetahui anaknya sudah meninggal dunia, ia merasa sangat terpukul meskipun sudah diperkirakan sebelumnya bahwa kemungkinan besar hal itu akan terjadi. Setelah anaknya meninggal dunia, ia sulit melakukan apa-apa dan sering melamun. Ia juga sering mengunjungi makan putrinya, tetapi ia sering merasa menyesal sepulang dari makam. Kematian putrinya juga membuatnya merasa marah dan kesal kepada perlakuan suami dan mertuanya, yang ia anggap sebagai penyebab kematian putrinya.

Saat berada di tempat kejadian kecelakaan yang menimpa putranya, responden III sudah mengetahui bahwa anaknya sudah meninggal dunia, karena ia sendiri adalah seorang perawat. Setelah kematian putranya, ia sering merasa takut dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia sering tiba-tiba terbangun dari tidurnya, kemudian menangis. Hal ini terjadi kira-kira selama 6 bulan lamanya.

Ia juga merasa marah pada Tuhan karena telah mengambil anaknya. Responden III merasa cemas, rendah diri, malu, dan takut dicemooh oleh orang-orang di sekitarnya akibat peristiwa ini.

c) Fase III: Conservation/Withdrawal

Dari data yang diperoleh, ketiga responden mengalami fase ini, yang ditandai dengan responden yang menarik diri dari lingkungan sekitarnya, baik dari pekerjaan maupun teman-teman

Responden I sempat merasa tidak sanggup melewati rumah sakit dimana dulu anaknya dirawat. Ia juga menolak untuk mengobrol dengan para tetangga dan keluarganya yang tempat tinggal mereka tidak begitu jauh dari rumah responden. Responden mengaku bahwa ia sangat banyak mendapatkan dukungan sosial dari keluarga besar, tetangga-tetangganya, dan juga suaminya seperti yang ia butuhkan. Ia juga tidak mau pergi melayat jika ada anak yang meninggal dunia di lingkungan rumah tempat ia tinggal, dan hal ini terjadi sampai sekarang.

Responden II menolak mendekati dan menggendong anak kecil. Ia juga menolak untuk ikut bergabung dengan pertemuan keluarga besar yang rutin diadakan sekali dalam 2 bulan. Setelah putrinya meninggal dunia, ia sangat diperhatikan dan dirawat oleh keluarganya.

Sekitar 3 minggu setelah kematian putranya, responden III memilih untuk pindah dari rumah yang dulunya mereka tempati. Karena rasa takut dan trauma yang dialami, selama sebulan ia dan suaminya ditemani oleh orangtua dan mertua, dan selama setahun mereka dilayani dari gereja tempat mereka beribadah. Ia juga tidak sanggup melewati jalan dimana anaknya mengalami kecelakaan, dan hal ini

berlangsung selama 3 tahun. Peristiwa kematian putranya ini juga membuatnya tidak sanggup lagi bekerja di tempat dulunya ia bekerja, sehingga 10 bulan setelah kematian putranya, ia memutuskan untuk pindah kerja. Dalam masa-masa berkabungnya, ia banyak mendapatkan dukungan dari keluarga besarnya, perkumpulan-perkumpulan yang ia ikuti, teman-teman sekerjanya, maupun dari tetangga-tetangganya.

d) Fase IV: Healing

Ketiga responden merasa mulai pulih ketika mulai mencari kesibukan-kesibukan, dan mulai mencoba kembali bekerja seperti biasanya, meskipun mereka sangat sulit ketika memulainya karena masih sering teringat dengan anak mereka yang sudah meninggal dunia.

Responden I memulai bekerja kembali 2 bulan setelah kepaergian anaknya. Di awal mulai bekerja, ia masih sering menangis, apalagi ketika ia pulang bekerja, ia hanya menemui 1 orang anaknya yang masih hidup. Ia juga sangat merasakan adanya perubahan jumlah anggota keluarga di rumah.

Setelah peristiwa kematian putrinya, responden II tidak mau terlarut dalam perasaan sedihnya. Ia mencoba mencari kesibukan-kesibukan lain. Ia memilih untuk bertemu dengan teman-temannya, serta memulai kembali untuk membuat dan menjual peyek. Tidak ada perubahan yang ia rasakan di dalam hidupnya, karena ia juga tidak pernah melihat anaknya dalam keadaan hidup. Responden II sadar bahwa hanya dirinya sendirilah yang dapat mengeluarkannya dari kesedihan.

Berbagai kesibukan dilakukan oleh responden III agar tidak terus-menerus larut dalam kesedihannya. Ia juga merasa bahwa dirinya yang harus bangkit untuk melawan perasaannya. Ia juga merasakan banyaknya perubahan yang terjadi setelah putranya meninggal dunia. Ia merasa harus memperhatikan dan mengontrol anak-anaknya yang masih hidup dengan lebih ketat, sehingga membuat tanggung jawabnya terasa lebih besar dan pengeluarannya juga semakin bertambah.

e) Fase V: Renewal

Dari data hasil penelitian, ditemukan bahwa ketiga responden mulai pulih dari keadaan grief dan akhirnya kembali ke keadaan mereka semula.

Responden I membutuhkan waktu sekitar 2-3 tahun untuk dapat pulih dari keadaan grief. Selain karena kelahiran putra ketiga yang ia anggap sebagai pengganti putra keduanya, adanya dukungan dari keluarga dan doa yang terus-menerus ia panjatkan juga sangat membantunya untu bangkit dari kesedihannya.

Responden akhirnya mulai pulih dari keadaan grief setelah ia melihat tanggung jawab yang masih ia miliki terhadap putri pertamanya. Imannya kepada Tuhan serta amal yang ia lakukan juga membantunya untuk bangkit dari kesedihannya. Pekerjaan yang saat ini ia jalani, ia anggap sebagai rejeki yang diberikan Tuhan kepadanya setelah kematian putrinya.

Pulihnya kondisi responden III dikarenakan ia sudah pindah bekerja ke Puskesmas, pelayanan dari gereja yang terus menguatkannya selama setahun penuh, dan karena 3 orang anaknya yang masih hidup sampai sekarang yang membuatnya selalu bersyukur kepada Tuhan.

Dokumen terkait