• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 Kesimpulan, Diskusi, dan Saran

5.2. Diskusi

Dari hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab 4, dapat dipahami

bahwa beban kerja, pengembangan karir dan sub divisi adalah faktor-faktor yang

berpengaruh secara signifikan terhadap stres kerja pada polisi lalu lintas. Bahkan

korelasi ketiga variabel tersebut bersifat positif, hal ini sesuai dengan koefisien

regresi beban kerja, pengembangan karir dan sub divisi dengan perolehan hasil

analisis yang positif.

Pada variabel pertama dalam penelitian ini yaitu beban kerja diperoleh

hasil analisis regresi yang menjelaskan bahwa beban kerja berpengaruh secara

122

regresi yang positif. Jika dihubungkan dengan teori beban kerja, hal ini sesuai

dengan teori dari Munandar (2006) yang mengatakan salah satu faktor yang

mempengaruhi stres kerja adalah beban kerja. Bahkan dalam penelitian

sebelumnya oleh Jayanegara (2007) juga memperkuat teori Munandar dengan

hasil yang diperoleh bahwa beban kerja mempengaruhi stres kerja. Hasil

penelitian mengenai beban kerja ini juga sesuai dengan komunikasi personal yang

dilakukan oleh peneliti di awal penelitian dengan beberapa polisi yaitu Kabag

Psikologi Polda Metro Jaya, Kabag polisi lantas bagian Laka dan Staff polisi

bagian Reksa Jakarta Timur, yang mana mereka mengatakan bahwa memang

beban kerja pada polisi lalu lintas adalah faktor yang mempengaruhi stres kerja

pada polisi lalu lintas. Pada penelitian ini, beban kerja itu sendiri memberikan

sumbangan sebesar 12,1 % terhadap stres kerja. Sehingga, dapat disimpulkan

mengenai pengaruh beban kerja terhadap stres kerja pada polisi lalu lintas bahwa

seorang polisi lalu lintas dengan beban kerja yang tinggi cenderung lebih mudah

mengalami stres kerja. Sedangkan seorang polisi lalu lintas dengan beban kerja

rendah cenderung tidak mengalami stres kerja. Beban kerja merupakan variabel

yang secara signifikan berpengaruh sehingga dapat dikatakan bahwa ternyata

faktor dari dalam organisasi berpengaruh terhadap stres kerja pada polisi lalu

lintas. Jika ditilik lagi dari fenomena yang ada pada penelitian ini, hal ini juga

dapat dikaitkan dengan adanya kasus yang terjadi pada polisi lalu lintas, seperti

misalnya penyalahgunaan wewenang, disersi atau lari dari tugas, pencurian dan

lain-lain. Peneliti berpendapat, dengan beban kerja polisi lalu lintas yang berat

123

seperti yang sering kita dengar kerap melakukan pungutan liar pada pengguna

jalan yang melakukan kesalahan. Selain itu, polisi yang melakukan disersi atau

lari dari tugas, pencurian, juga dimungkinkan terjadi karena disebabkan oleh

kelelahan fisik dan psikis.

Berlanjut pada variabel kedua, yaitu konflik peran yang terdiri dari time based conflict, strain based conflict dan behavior based conflict. Dalam penelitian diperoleh hasil analisis regresi yang menjelaskan bahwa time based conflict, strain based conflict dan behavior based conflict, tidak berpengaruh secara signifikan terhadap stres kerja pada polisi lalu lintas karena ketiga variabel

tersebut memiliki sig > 0.05, tetapi ketiganya memiliki koefisien yang positif

terhadap stres kerja pada polisi lalu lintas. Hasil ini juga diperkuat dengan

komunikasi personal yang dilakukan oleh peneliti di awal penelitian dengan

Kabag polisi lantas bagian Laka Jakarta Timur, ia berpendapat bahwa konflik

keluarga tidak terlalu menjadi salah satu penyebab stresful pada polisi lalu lintas.

Berdasarkan hasil penelitian ini juga dapat disimpulkan bahwa ternyata faktor

dalam diri individu tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap stres kerja pada

polisi.

Berlanjut pada variabel berikutnya yaitu pengembangan karir, seperti yang

dikatakan sebelumnya bahwa faktor ini memberikan sumbangan sebesar 5,4 %

dan variabel pengembangan karir ini memberikan pengaruh yang signifikan

terhadap stres kerja. Hal ini sesuai dengan teori Munandar (2006) yang

mengatakan pengembangan karir merupakan pembangkit stres potensial yang

124

Penelitian yang menyoroti permasalahan pengembangan karir yaitu penelitian

Einsenberg (Stratton,1978) yang memperoleh hasil penelitian bahwa karir dalam

hal promosi yang kurang adalah salah satu yang menjadi stresor pada polisi.

Kemudian dalam penelitian ini karena pengembangan karir memiliki koefisien

regresi yang positif maka dapat diasumsikan bahwa seorang polisi lalu lintas

dengan pengembangan karir yang tinggi cenderung lebih mudah mengalami stres

kerja. Sedangkan seorang polisi lalu lintas dengan pengembangan karir rendah

cenderung tidak mengalami stres kerja.

Pada variabel keempat yaitu iklim organisasi diperoleh hasil analisis

regresi yang menjelaskan bahwa iklim organisasi tidak berpengaruh secara

signifikan terhadap stres kerja pada polisi lalu lintas tetapi memiliki koefisien

regresi yang positif. Teori iklim organisasi yang digunakan dalam penelitian ini

didasarkan pada teori Kolb & Rubin (1984, Rani, 2007) yang menjelaskan bahwa

iklim organisasi merupakan suatu perangkat manajemen yang efektif untuk

memadukan motivasi individu dengan tujuan serta tugas-tugas dalam organisasi.

Terdapat tujuh aspek dalam iklim organisasi yaitu konformitas, standar, imbalan,

kejelasan organisasi, dukungan dan kehangatan, dan kepemimpinan. Jika

dihubungkan dalam penelitian sebelumnya, hasil penelitian Eisenberg (Stratton,

1978) memperoleh hasil yang berbeda dengan penelitian ini, penyebab stres pada

polisi diperoleh dari sumber internal adalah dukungan administratif yang kurang

atau bahkan tidak ada.

Selanjutnya, variabel kelima yaitu tipe kepribadian Big Five yang terdiri dari agreeableness, conscientiousness, neuroticism, extraversion dan openness.

125

Dalam penelitian diperoleh hasil analisis regresi yang menjelaskan bahwa

agreeableness, conscientiousness, neuroticism, extraversion dan openness tidak berpengaruh secara signifikan terhadap stres kerja pada polisi lalu lintas karena

kelima variabel tersebut memiliki sig > 0.05. Kemudian tiga dari lima dimensi

tersebut yaitu agreeableness, extraversion dan openness memiliki koefisien refresi yang negatif, sedangkan conscientiousness dan neuroticism memiliki koefisien regresi yang positif terhadap stres kerja pada polisi lalu lintas.

Berdasarkan hasil penelitian ini, dibandingkan dengan variabel beban kerja dan

pengembangan karir yang secara signifikan berpengaruh terhadap stres kerja pada

polisi lalu lintas, ternyata tipe kepribadian Big Five sama sekali tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap stres kerja pada polisi lalu lintas, padahal

peneliti menduga akan ada pengaruh yang signifikan dari tipe kepribadian ini. Hal

ini berarti faktor di dalam diri pekerja tidak berpengaruh secara signifikan.

Berlanjut pada variabel berikutnya yaitu umur, seperti yang dikatakan

sebelumnya variabel ini tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap

stres kerja pada polisi lalu lintas. Dari hasil analisis koefisien regresi yang didapat,

variabel umur memiliki koefisien yang negatif. Pada komunikasi personal peneliti

dengan Kabag Psikologi Polda Metro Jaya, Nurcahyo mengatakan bahwa umur

berhubungan dengan kematangan seseorang secara psikis dan fisik, sehingga

umur dapat menjadi salah satu penyebab stres kerja pada polisi. Tetapi jika dilihat

dari hasil penelitian, ternyata umur tidak memiliki pengaruh yang signifikan

126

Kemudian pada variabel masa kerja, juga diperoleh hasil analisis regresi

bahwa variabel masa kerja tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap

stres kerja pada polisi lalu lintas. Tetapi dari hasil analisis koefisien regresi yang

didapat, variabel masa kerja memiliki koefisien yang positif. Berhubungan dengan

masa kerja, Nurcahyo berpendapat bahwa masa kerja pada polisi berhubungan

dengan adaptasi pekerjaan dan kenaikan jabatan/karir. Tetapi jika dilihat dari hasil

penelitian, ternyata masa kerja tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

stres kerja pada polisi lalu lintas. Tidak berbeda dengan umur, hal ini mungkin

terjadi karena faktor dari dalam individu tidak terlalu berpengaruh terhadap stres

kerja pada polisi lalu lintas.

Variabel terakhir yang tidak disangka yaitu sub divisi yang dihasilkan oleh

penelitian ini ternyata memberi pengaruh yang signifikan terhadap stres kerja

pada polisi. Sebelumnya peneliti belum menemukan adanya penelitian yang

menggunakan faktor ini sebagai variabel dalam penelitian mengenai stres kerja

pada polisi lalu lintas. Pada penelitian ini sub divisi memberi pengaruh sebesar

2,1%. Sub divisi ini sendiri terdiri dari empat macam sub divisi pada polisi lalu

lintas yaitu Bin Operasional, Gatur, PJR dan Pamwal. Ternyata perbedaan

penempatan kerja pada sub divisi ini memberi pengaruh yang signifikan

dibandingkan dengan variabel yang lain. Karena pada sub divisi ini

masing-masing sub divisi memiliki beban kerja dan jam kerja yang berbeda. Perbedaan

tugas dan jam kerja pada masing-masing sub divisi tersebut memungkinkan

127

Oleh karena itu, dari penelitian ini, stresor kerja yang berpengaruh secara

signifikan pada polisi lalu lintas adalah berasal dari faktor luar diri polisi lalu

lintas tersebut, faktor yang ternyata lebih mempengaruhi stres kerja berasal dari

organisasi tempat mereka bekerja. Pekerjaan polisi lalu lintas dengan beban kerja

yang banyak dan tuntutan yang tinggi dari berbagai pihak menimbulkan stres

kerja. Tuntutan jam kerja yang tidak tepat, tuntutan dari atasan dan masyarakat

yang terkadang memaksa polisi harus melakukannya walaupun ia sendiri tidak

ingin melakukannya, waktu bersama keluarga yang kurang, gaji rendah, semua itu

dirasakan polisi sebagai suatu stresor yang membuat mereka lelah secara fisik dan

psikis (Komunikasi Personal, 14 Juni 2011). Mereka merasa banyaknya tuntutan

dari organisasi terutama dari masyrakat yang menuntut kesempurnaan dari mereka

membuat psikis mereka lelah, apalagi polisi lalu lintas adalah divisi yang paling

diperhatikan masyarakat secara langsung karena bekerja di lapangan dan

berhubungan secara langsung dengan masyarakat, tidak mungkin jumlah personil

mereka yang terbatas mampu melayani seluruh masyarakat di Indonesia dengan

sempurna. Tetapi walaupun begitu, mereka mengatakan untuk selalu berusaha

melayani masyarakat dengan baik, karena itu adalah prinsip dari pekerjaan mereka

(Komunikasi Personal, 7 Juni 2011).

Keterbatasan fisik dan psikologis pada polisi dan berbagai stresor yang ada

pada pekerjaan mereka, sangat baik jika organisasi kepolisian mampu membuat

128

agar keseimbangan fisik dan psikis mereka dapat terwujud. Sehingga cintra

negatif pada kepolisian dapat berkurang bahkan hilang di mata masyarakat.

Pada saat penelitian, peneliti memiliki beberapa kekurangan antara lain

yaitu kurang seimbangnya jumlah sampel yang digunakan dalam empat sub divisi

yang digunakan penelitian ini. Selain itu, dalam membuat skala pengukuran

peneliti juga banyak memperoleh item-item yang ternyata ketika diuji validitasnya

tidak valid, sehingga ada beberapa item yang walaupun tidak valid tetap

digunakan sebagai alat ukur karena keterbatasan item yang ada pada skala, seperti

pada skala stres kerja dan iklim organisasi. Dalam penelitian ini juga terdapat

variabel-variabel lain yang tidak peneliti jadikan variabel, padahal kemungkinan

variabel-variabel yang lain seperti pangkat kepolisian dapat berpengaruh terhadap

stres kerja pada polisi lalu lintas. Alasannya, karena dari hasil komunikasi

personal peneliti dengan beberapa polisi, mereka menjelaskan bahwa semakin

tinggi kepangkatan maka ada kemungkinan semakin tinggi jabatan yang diduduki,

semakin berat beban kerja dan imbalan yang diberikan juga mengalami kenaikan

sehingga memungkin terjadinya perbedaan tingkat stres kerja pada polisi lalu

lintas.

Dokumen terkait