BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Pengertian Ornamen
2.3.1. Jenis Ornamen
2.3.1.2. Ornamen Melayu
Dikutip dari Ekoprawoto (1999: 38) bahwa salah satu kesenian di Indonesia yang berkaitan erat dengan seni ornamen Arabesque adalah seni ornamen Melayu, yang jika diamati akan didapati bahwa kebanyakan ornamen Melayu berbentuk sulur yang masih berhubungan dengan seni ornamen Arabesque. Salah satu contohnya adalah ornamen “itik pulang petang” terlihat sangat mirip dengan ornamen Arabesque berikut ini:
Gambar 12: Ornamen Arabesque dengan motif tumbuhan atau sulur (Sumber: Abdur Rahman, 2010: 64)
Gambar 13: Ornamen Melayu “Itik Pulang Petang”
Ornamen pada masyarakat Melayu biasanya disebut dengan Ornamen. Ornamen sendiri selain berperan dalam pengembangan budaya, juga merupakan sumber pengetahuan dan petunjuk guna melacak kebudayaan yang telah lalu. Ornamen juga bermanfaat sebagai sumber informasi terutama dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan budaya. Selain berperan sebagai media untuk memperindah atau mempercantik, pada satu sisi juga memiliki nilai simbolis dengan makna tertentu pula.
Pola ornamen Melayu pada awalnya kebanyakan berbentuk sulur (tumbuhan menjalar) yang saling berkaitan dan mempunyai hubungan erat dengan ornamen Arabesque, akan tetapi lambat laun terjadi asimilasi budaya yang dipengaruhi budaya asing, sehingga pola bentuk ornamen Melayu berkembang hingga mengenal adanya bentuk fauna (hewan, binatang) (Ekoprawoto, 1998: 38).
Adapun bentuk ornamen Melayu antara lain:
2.3.1.2.1. Ornamen Motif Bunga Matahari
Gambar 14: Ornamen Bunga Matahari (Sumber: Ekoprawoto, 1998: 40)
Secara denotatif, ornamen ini berbentuk setangkai bunga matahari yang mana pada bagian kelilingnya dihiasi secara simetris dengan sulur dedaunan serta pada sisi kiri dan kanannya diberi hiasan bunga di dalam vas. Pada bagian atasnya disusun sederetan bunga matahari yang tidak berdaun.
Kelompok bunga matahari dengan sulur daun-daunan dibuat dalam satu bingkai kemudian pada kiri dan kanannya ada juga dibuat satu bingkai bunga, deretan bunga matahari bagian atas juga berada dalam satu bingkai. Sehingga hiasan ini membentuk empat persegi panjang, yang mana satu dan lainnya dibatasi dengan bingkai.
Bunga matahari merupakan sejenis bunga yang digunakan sebagai tanaman hias maupun tanaman penghasil minyak. Bunga ini sangat khas, biasanya berwarna kuning terang, dengan kepala bunga yang besar. Bunga ini merupakan jenis bunga majemuk karena tersusun dari ratusan hingga ribuan bunga kecil pada satu bongkol. Kekhasan lainnya yaitu terletak pada perilaku bunga ini yang selalu menghadap ke arah matahari Ornamen bunga matahari di atas biasanya ditempatkan pada “singab dalam” yang berfungsi sebagai penyekat bagian atas antara ruang induk dengan ruang depan atau ruang belakang (Ekoprawoto, 1998: 40).
Secara konotatif, ornamen Melayu berbentuk bunga matahari ini tidak memiliki arti yang khusus karena biasanya hanya berfungsi sebagai lubang angin (ventilasi), namun menurut Ekoprawoto dalam bukunya “Makna Simbolis Ornamen Pada Arsitektur Rumah Melayu” bahwa ada yang mengatakan ornamen
ini bermakna ketentraman dan kerukunan serta rasa nyaman bagi penghuninya. Ornamen atau ornamen Melayu motif Bunga Matahari ini tidak dijumpai pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.2. Ornamen Motif Matahari
Gambar 15: Ornamen Matahari (Sumber: Dok. Pribadi, 2014)
Secara denotatif, ornamen dengan motif matahari ini merupakan pengambilan bentuk geometris dan beberapa tambahan motif sebagai penambah keindahan, yang juga gambaran dari matahari dan sinarnya. Selanjutnya, secara konotatif ornamen ini memiliki makna tentang matahari sebagai sumber kehidupan manusia (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor).
Matahari adalah sebuah bintang di pusat tata surya, bentuknya nyaris bulat dan terdiri dari zat-zat bersifat panas dan bercampur medan magnet. Matahari sering kali digambarkan beserta dengan sinarnya yang memancar ke seluruh arah. Ornamen atau ornamen Melayu motif Matahari ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.3. Ornamen Motif Tampuk Pinang
Gambar 16: Ornamen Tampuk Pinang (Sumber: Ekoprawoto, 1998: 42)
Ornamen jenis ini jika dilihat dari unsur denotatifnya merupakan susunan tampuk pinang yang saling berkaitan satu sama lain. Bentuknya tidak mengacu pada suatu susunan tertentu, dapat dibuat memanjang ataupun dibuat sederhana dalam ukuran lebih pendek sesuai dengan kebutuhan. Ornamen motif tampuk pinang ini berfungsi sebagai terawangan (ukiran tembus).
Tampuk merupakan bahasa Melayu yang berarti tangkai buah. Selanjutnya, tampuk pinang ialah tangkai buah pinang. Pinang merupakan buah yang dihasilkan oleh pohon sejenis palma yang tumbuh di daerah Asia, Afrika dan Pasifik. Pinang sering kali diperdagangkan, bijinya dimanfaatkan sebagai salah satu campuran untuk memakan sirih, selain gambir dan kapur. Juga digunakan dalam ramuan untuk mengobati disentri, diare berdarah dan kudisan
Secara konotatif, ornamen Tampuk Pinang tidak memiliki makna simbolis tertentu, hanya memiliki unsur keindahan dan penempatannya pada bagian
singab(bidang ujung atap diatas dinding rumah) dalam (Ekoprawoto, 1998: 42). Ornamen atau ornamen Melayu motif Tampuk Pinang ini tidak dijumpai pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.4. Ornamen Motif Genting Tak Putus
Gambar 17: Ornamen Genting Tak Putus (Sumber: Ekoprawoto, 1998: 43)
Ornamen ini jika dilihat dari ilmu semiotika memiliki unsur denotatif dengan bentuk dasar segitiga, memiliki motif hiasan berbentuk dedaunan bersulur dan tidak putus-putus dan pada beberapa jenis memiliki motif satwa berupa burung ataupun ikan. Biasanya diletakkan pada bagian dalam batas antara serambi tengah dengan serambi ruang kamar yang berfungsi sebagai penyekat.
Hiasan dengan motif genting tak putus ini secara konotatif memiliki makna simbolis yaitu tentang kehidupan manusia yang memiliki sisi susah dan senang, karena bagaimana pun ketika dalam keadaan susah maka tidak akan terus dalam keadaan demikian, begitu pula sebaliknya (Ekoprawoto, 1998: 43). Ornamen atau ornamen Melayu motif Genting Tak Putus ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.5. Ornamen Motif Lilit Kangkung
Gambar 18: Ornamen Lilit Kangkung
(Sumber: Ekoprawoto, 1998: 46)
Bentuk ornamen dengan motif lilit kangkung ini secara denotatif yaitu ornamen memanjang yang mengikuti garis-garis lurus, meliuk ke kanan dan ke kiri, juga berbagai variasi bentuk lainnya, misalnya motif lilit dibuat menjunjung (mengarah ke atas) untuk menghiasi ruang yang tegak dan dibuat melebar (ke arah samping kiri atau kanan) untuk ruang yang mendatar. Ornamen ini biasanya ditempatkan pada tiang dan dinding rumah.
Kangkung ialah tumbuhan yang termasuk jenis sayur-sayuran yang sering kali sengaja ditanam untuk dikonsumsi, dapat hidup dimana saja terutama di kawasan yang berair. Terdapat dua jenis kangkung yang dikenali masyarakat Indonesia pada umumnya, yaitu kangkung dengan daun yang licin dan berbentuk mata panah, dan ada pula yang memiliki daun yang sempit memanjang dan biasanya tersusun menyirip tiga
Ornamen ini secara konotatif memiliki makna semangat yang tidak kunjung padam, terus menggelora walaupun menghadapi berbagai tantangan dan cobaan, tetapi terus melaju sampai ke tujuan (Ekoprawoto, 1998: 46). Ornamen atau
ornamen Melayu motif Lilit Kangkung ini tidak dijumpai pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.6. Ornamen Motif Pucuk Rebung
Gambar 19: Ornamen Pucuk Rebung
(Sumber: Sinar, 2007: 17)
Ornamen dengan motif pucuk rebung di atas merupakan salah satu dari berbagai macam variasi bentuknya. Bagaimanapun ornamen pucuk rebung ini secara denotatif merupakan gambaran sederhana dari pucuk bambu yang memiliki bentuk yang pada hakikatnya sama yaitu bentuk segitiga. Adapun variasi yang dibuat yaitu dengan pengubahan sedikit bentuk segitiga baik itu menjadi segitiga tumpul ataupun lainnya, dan juga dengan penambahan motif dedaunan atau sulur-sulur di sekitarnya ataupun sebagai pengisi motif ini.
Pucuk Rebung adalah tunas muda yang tumbuh dari akar bambu,biasanya digunakan untuk dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk Indonesia khususnya dan penduduk Asia umumnya, dijadikan sebagai bahan sayur, isi lumpia dan saat ini suda sering diolah menjadi berbagai macam bahan makanan, misalnya tepung
rebung, cuka rebung, keripik rebung dan lainnya
Secara konotatif, ornamen ini banyak dibuat sebagai hiasan rumah, bangunan ataupun untuk hiasan benda yang dipakai sehari-hari (Ekoprawoto, 1998: 47). Ornamen atau ornamen Melayu motif Pucuk Rebung ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.7. Ornamen Motif Pokok Kolan
Gambar 20: Ornamen Pokok Kolan
(Sumber: Sinar, 2007: 25)
Ornamen Pokok Kolan ini secara denotatif adalah ornamen dengan motif sulur atau tumbuhan menjalar. Ornamen ini biasa dibuat sebagai ornamen terawangan dan digunakan sebagai ventilasi. Secara konotatif, makna simbolis dari ornamen tersebut adalah menyiratkan kesuburan (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor). Ornamen atau ornamen Melayu motif Pokok Kolan ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.8.Ornamen Motif Daun Pakis
Gambar 21: Ornamen Daun Pakis (Sumber: Sinar, 2007: 22)
Ornamen daun pakis ini secara denotatif juga tergolong dalam ornamen dengan motif sulur atau tumbuhan menjalar, biasa ditempatkan pada pojok atau sudut pada bangunan tertentu untuk fungsi keindahan. Secara konotatif, memiliki makna simbolis untuk menyiratkan tentang kesuburan dan kemakmuran (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor).
Pakis merupakan kelompok tumbuhan dengan sistem pembuluh sejati, berkembang biak dengan spora. Tumbuhan ini secara umum dapat dikenali karena daunnya tumbuh dari tunas yang menggulung lalu membuka . sebagian besar
anggota pakis ini tumbuh di daerah tropika basah
motif Daun Pakis ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.9. Ornamen Motif Pucuk Kacang
(Sumber: Sinar, 2007: 21)
Ornamen ini secara denotatif merupakan ornamen dengan motif sulur. Ornamen dengan motif sulur atau tumbuhan ini tidak ada habis untuk digarap, setiap garis melahirkan bentuk pola daun, bunga ataupun buah tertentu yang seakan tidak pernah putus. Biasa digunakan sebagai ornamen terawangan. Secara konotatif, ornamen ini memiliki makna simbolis tentang kekayaan dan kemakmuran (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor).
Kacang merupakan sebutan dari tumbuhan polong-polongan (namun tidak semua). Namun di Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya menyebut kata kacang dimaksudkan untuk polong kacang tanah, yaitu biji kering yang berbentuk menyerupai ginjal dan dimakan setelah dikeringkan Pucuk Kacang ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.10. Ornamen Motif Bunga Hutan
Gambar 23: Ornamen Bunga Hutan (Sumber: Sinar, 2007: 21)
Secara denotatif, ornamen ini dengan pola bersegi yang berulang-ulang, dan diambil dari motif geometris ini berfungsi untuk menambah keindahan. Secara konotatif, memiliki makna simbolis tentang keindahan bunga (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor). Ornamen atau ornamen Melayu motif Bunga Hutan ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.11. Ornamen Bunga Kala Bukit
Gambar 24: Ornamen Bunga Kala Bukit
(Sumber: Sinar, 2007: 23)
Ornamen ini secara denotatif merupakan ornamen dengan motif sulur atau tumbuhan menjalar. Secara konotatif, ornamen Bunga Kala Bukit ini memiliki makna simbolis tentang kekayaan alam sebagai simbolisasi kesuburan dan kemakmuran (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor). Ornamen atau ornamen Melayu motif Bunga Kala Bukit ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.12. Ornamen Motif Bunga Ketola
Gambar 25: Ornamen Bunga Ketola
(Sumber: Sinar, 2007: 28)
Ornamen bunga ketola ini secara denotatif merupakan gambaran bunga yang indah dikelilingi dengan motif sulur atau tumbuhan menjalar di sekitarnya. Secara konotatif, memiliki makna simbolis tentang rasa keindahan (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor).
Ketola dalam bahasa Indonesia adalah gambas, yaitu sejenis sayuran yang termasuk dalam jenis labu-labuan, sering juga disebut “oyong”. Gambas dipercaya bisa menurunkan kadar gula darah Ornamen atau ornamen Melayu motif Bunga Ketola ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.13. Ornamen Motif Kiambang
(Sumber: Sinar, 2007: 28)
Ornamen kiambang secara denotatif merupakan salah satu ornamen dengan motif sulur yaitu motif tumbuhan menjalar, dalam hal ini yaitu gambaran tumbuhan yang hidup di air, biasa digunakan sebagai ornamen terawangan sebagai ventilasi angin.
Selanjutnya ornamen ini secara konotatif memiliki makna simbolis dari nilai kehidupan dan tentang air yang menjadi sumber kehidupan dan sebagai lambang kesuburan (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor).
Kiambang merupakan sebutan umum untuk paku air dari genus Salvinia, ki artinya pohon, kemudian ambang artinya mengapung. Tumbuhan ini biasa ditemukan mengapung di air menggenang, seperti sawah, kolam dan danau. Terdapat dua tipe daun pada kiambang, ada kiambang dengan daun yang tumbuh di permukaan air berbentuk cuping agak melingkar, yang kedua adalah tipe daun yang tumbuh di dalam air, berbentuk menyerupai akar. Kiambang tidak menghasilkan bunga karena termasuk dalam jenis paku-pakuan. Kiambang tidak asing lagi di kebudayaan Melayu, terdapat sebuah pepatah Melayu, “biduk berlalu, kiambang bertatut”, yang berarti setelah gangguan berlalu, keadaan akan kembali seperti sem ornamen Melayu motif Kiambang ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.14. Ornamen Motif Naga Berjuang
Gambar 27: Ornamen Naga Berjuang
(Sumber: Ekoprawoto, 1998: 50)
Ornamen ini secara denotatif memiliki motif fauna khayalan yaitu naga yang saling berhadapan. Pada bagian tengah ornamen ini terdapat motif dedaunan bersulur dan juga bunga. Terlihat pada gambar di atas bahwa bagian atasnya diberi batas berupa garis lengkung setengah lingkaran, dan di sisi kiri-kanan bagian atas lengkungan ini juga diberi hiasan berupa motif daun bersulur. Motif naga diyakini baru-baru saja diasimilasi oleh masyarakat Melayu, karena binatang jenis ini berasal dari mitologi masyarakat Cina.
Naga ialah sebutan umum untuk makhluk mitologi yang berwujud reptile berukuran raksasa. Makhluk ini muncul dalam berbagai kebudayaan. Pada umumnya, berwujud seekor ular besar, namun ada pula yang menggambarkannya sebagai kadal bersaya
Ornamen berbentuk naga ini biasanya diletakkan pada lubang angin (ventilasi) di atas daun pintu depan. Secara konotatif memiliki makna tentang kemampuan dalam menghadapi tantangan dan adanya semangat juang yang tidak kenal lelah (Ekoprawoto, 1998: 50). Ornamen atau ornamen Melayu motif Naga Berjuang ini tidak dijumpai pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.15. Ornamen Motif Roda Sula
Gambar 28: Ornamen Roda Sula
(Sumber: Ekoprawoto, 1998: 52)
Hiasan ini secara denotatif, menggambarkan roda berbentuk setengah lingkaran dengan hiasan tujuh mata sula sebagai jari-jarinya. Tujuh sula dalam ornamen jenis ini merupakan lambang dari tujuh petala (lapisan) langit. Ornamen ini diletakkan di atas pintu ataupun jendela sebagai lubang angin.
Ornamen ini secara konotatif memiliki makna tentang kekuatan dan ketahanan manusia dalam menghadapi tantangan hidup (Ekoprawoto, 1998: 52). Ornamen atau ornamen Melayu motif Roda Sula ini tidak dijumpai pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.16. Ornamen Motif Roda Jangkar
Gambar 29: Ornamen Roda Jangkar (Sumber: Ekoprawoto, 1998: 53)
Ornamen ini secara denotatif menggambarkan motif lima buah jangkar dengan ukiran tebukan (terawangan), yang pada bagian atasnya dibatasi dengan bentuk setengah lingkaran. Bagian atas hiasan ini diberi hiasan motif dedaunan bersulur di sisi kanan dan kirinya.
Jangkar ialah perangkat penambat kapal ke dasar perairan, di laut, sungai ataupun danau, sehingga tidak berpindah tempat karena hembusan angina, arus ataupun gelombang. Jangkar terbuat dari bahan besi cor dan didesain sedemikian rupa sehingga dapat tersangkut di dasar perairan. Jangkar juga merupakan perangkat yang menjadi symbol dari hampir semua kegiatan yang terkait dengan kepelautan ataupun maritim konotatif memiliki makna simbolis tentang tempat berlabuh atau istirahat (Ekoprawoto, 1998: 53). Ornamen atau ornamen Melayu motif Roda Jangkar ini tidak dijumpai pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.17. Ornamen Motif Ombak-ombak
Gambar 30: Ornamen Ombak-ombak (Sumber: Ekoprawoto, 1998: 56)
Ornamen ombak-ombak ini secara denotatif memiliki bentuk dasar setengah lingkaran yang dibuat berkali-kali dan memanjang, dapat dibuat dalam satu baris maupun dua baris. Bentuk lengkungan setengah lingkaran yang didapat dengan
penyusunan berkali-kali menyerupai gambaran alunan ombak. Secara konotatif berfungsi sebagai penutup saja tanpa memiliki makna simbolis tertentu (Ekoprawoto, 1998: 56).
Ombak ialah gelombang air yang terjadi karena pasang surut laut akibat adanya gaya tarik bulan dan matahari Ornamen atau ornamen Melayu motif Ombak-ombak ini dijumpai 3 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.18. Ornamen Motif Awan Semayang
Gambar 31: Ornamen Awan Semayang (Sumber: Sinar, 2007: 18)
Ornamen ini secara denotatif merupakan ornamen yang menggambarkan awan yang dibuat dengan pengulangan bentuk yang sama, digunakan untuk memberikan keindahan pada sebuah bangunan. Secara konotatif, memiliki makna simbolis tentang alam semesta (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor). Ornamen atau ornamen Melayu motif Awan Semayang ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.19. Ornamen Motif Awan Jawa
Gambar 32: Ornamen Awan Jawa
(Sumber: Sinar, 2007: 18)
Ornamen Melayu ini menggunakan motif kosmos atau alam, yang secara denotatifnya menggambarkan sebentuk awan yang beriringan di alam semesta. Ornamen jenis ini secara konotatif memiliki makna simbolis tentang kebesarab Sang Pencipta (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor). Ornamen atau ornamen Melayu motif Awan Jawa ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.20. Ornamen Motif Awan Selimpat
Gambar 33: Ornamen Awan Selimpat (Sumber: Sinar, 2007: 23)
Ornamen di atas secara denotatif merupakan gambaran awan yang dibuat sedemikian rupa untuk menjadi pengisi dalam sebuah ruang, yang biasanya digunakan di bagian bawah atap atau bubungan Limas, ornamen ini merupakan ornamen terawangan. Selanjutnya, secara konotatif memiliki makna simbolis tentang kebesaran alam semesta (Wawancara dengan Bapak Ekoprawoto, pada 5 Mei 2015 melalui surat-menyurat ke kota Bogor). Ornamen atau ornamen Melayu motif Awan Selimpat ini dijumpai 1 buah pada Masjid Azizi Langkat.
2.3.1.2.21. Ornamen Motif Itik Pulang Petang
Gambar 34: Ornamen Itik Pulang Petang
(Sumber: Sinar, 2007: 23)
Ornamen “Itik Pulang Petang” diatas secara denotatif merupakan gambaran dari hewan itik yang berjalan beriringan, namun pada ornamen ini dibuat variasi yaitu dengan bentuk berhadapan. Bentuk itik pada ornamen ini digambarkan meyerupai huruf “S” yang berhadapan dan dihias dengan sedikit lengkungan sulur. Ornamen “Itik Pulang Petang” ini secara konotatif memiliki makna simbolis tentang kerukunan dan ketertiban (Kartini, 2014: 26).
Peneliti menemukan beberapa hasil penelitian mengenai ornamen Melayu yang terdapat pada Masjid Azizi Langkat, yaitu:
1. Ornamen Melayu dengan Bentuk Floralis terdapat pada Masjid Azizi Langkat sebanyak 16 buah yaitu ornamen “Pucuk Rebung” pada atap serambi masjid, ornamen “Bunga Ketola”, ornamen “Pucuk Kacang”, ornamen Awan Semayang dan ornamen “Bunga Hutan” pada dinding masjid, ornamen “Kiambang” pada tempat mukhabar, ornamen “Genting Tak Putus”, ornamen “Itik Pulang Petang”, ornamen “Daun Pakis”, ornamen “Bunga Kala Bukit”, ornamen “Pokok Kolan”, ornamen “Awan Jawa” dan ornamen “Awan Selimpat” pada mimbar utama masjid, ornamen “Pucuk Kacang” dan ornamen “Bunga Matahari” pada mimbar masjid yang berada di serambi.
2. Ornamen Melayu dengan Bentuk Geometris sebanyak 3 buah yaitu 3 buah ornamen “Ombak-ombak” pada pagar masjid, pada dinding atap serambi masjid dan pada menara masjid.
3. Ornamen Melayu dengan Bentuk Kosmos sebanyak 1 buah yaitu ornamen “Matahari” pada mimbar utama masjid.
4. Diketahui bahwa dari 27 jenis ornamen yang terdapat di Ornamen Melayu yang diuraikan di atas, didapati 13 jenis ornamen Melayu, yang terdiri atas: 1 buah ornamen motif Genting Tak Putus, 1 buah ornamen motif Pucuk Rebung, 1 buah ornamen motif Pokok Kolan, 1 buah ornamen motif Daun Pakis, 1 buah ornamen motif Bunga Hutan, 1 buah ornamen motif Bunga Ketola, 1 buah ornamen motif Kiambang, 3 buah ornamen motif Ombak-ombak, 1 buah ornamen motif Awan Semayang, 1 buah ornamen motif
Awan Jawa, 1 buah ornamen motif Awan Selimpat, 2 buah ornamen motif Itik Pulang Petang dan 2 buah ornamen motif Pucuk Kacang.