BAB VI KESIMPULAN SARAN DAN KETERBATASAN
A. Kesimpulan
1,55 – 2,46 Tidak Ada Autokorelasi
2,47 – 2,90 Tanpa Kesimpulan
>2,91 Ada Autokorelasi
4. Uji Statistik
a) Uji F
Uji statistik F pada dasarnya untuk melihat apakah model regresi bisa
digunakan atau tidak dalam penelitian.
R2/ k F hitung =
(1-R2)/(n-k-1)
Keterangan:
F : Harga F garis regresi R : Koefisien korelasi berganda K : Jumlah variabel independen N : Jumlah anggota sampel
Cara menentukan formula Ho dan Ha:
Ho : model regresi tidak dapat digunakan. Ha : model regresi dapat digunakan.
Menentukan F tabel:
Dipilih tingkat signifikansi (α) = 10%, artinya taraf kesalahan hanya 10% saja, nilai level of confidence sebesar 90% dengen degree of freedom (df) n- k-l F tabel = F (α, k,n n-k-l) Keterangan: Df : degree of freedom N : banyaknya predicator K : jumlah variabel
Kriteria penolakan dan penerimaan hipotesis uji F adalah sebagai berikut:
1. Apabila nilai F hitung > F tabel, berarti Ho ditolak dan Ha diterima
sehingga semua variabel independen secara bersama-sama
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
2. Apabila nilai F hitung < F tabel, berarti Ho ditterima dan Ha ditolak
sehingga semua variabel independen secara bersama-sama tidak
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
47 BAB IV
GAMBARAN UMUM
A. Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia
Investasi merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Dinamika
investasi mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi, hal ini
mencerminkan marak lesunya pembangunan. Sedangkan modal merupakan
pendorong perkembangan ekonomiuntuk mengadakan investasi atas dana yang
diperoleh dari tabungan masyarakat maupun pinjaman luar negeri. Salah satunya
yaitu PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) yang merupakan sumber
pembiayaan penting pada wilayah dan berkontribusi pada pembangunan nasional.
Penanaman Modal Dalam Negeri atau (PMDN) sesuai dengan UU No. 25
Tahun 2007 adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah
negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dengan
menggunakan modal dalam negeri. Penanaman Modal Dalam negeri (PMDN)
menghasilkan kenaikan output nasional dan pendapatan nasional sehingga dapat
memecahkan masalah neraca pembayaran dan melunasi utang luar negeri. Sedangkan
tujuan penanaman modal yaitu:
1. meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional;
2. menciptakan lapangan kerja;
4. meningkatkan kemampuan daya saing dunia usaha nasional;
5. meningkatkan kapasitas dan kemampuan teknologi nasional;
6. mendorong pengembangan ekonomi kerakyatan;
7. mengolah ekonomi potensial menjadi kekuatan ekonomi riil dengan
menggunakan dana yang berasal, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri;
dan
8. meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
B. Syarat Penanaman Modal Dalam Negeri
Pasal 1 angka 2 UUPM menyebutkan bahwa PMDN adalah kegiatan
menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Negara RI yang dilakukan oleh
penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri. Sedangkan
yang dimaksud dengan penanam modal dalam negeri adalah perseorangan WNI,
badan usaha Indonesia, Negara RI, atau daerah yang melakukan penanaman modal di
wilayah Negara RI (Pasal 1 angka 5 UUPM). Sesuai dengan UU No. 25 Tahun 2007
tentang Penanaman Modal yang menjelaskan bahwa Penanaman modal dalam negeri
dapat dilakukan dalam bentuk badan usaha yang berbentuk badan hukum, tidak
berbadan hukum atau usaha perseorangan, sesuai dengan ketentuan peraturan
Bidang usaha yang dapat menjadi garapan PMDN adalah semua bidang usaha
yang ada di Indonesia. Namun ada bidang-bidang yang perlu dipelopori oleh
pemerintah dan wajib dilaksanakan oleh pemerintah. Seperti:
1. Yang berkaitan dengan rahasia dan pertahanan Negara. PMDN di luar bidang-
bidang tersebut dapat diselenggarakan oleh swasta nasional. Misal : perikanan,
perkebunan, pertanian, telekomunikasi, jasa umum, perdagangan umum.
2. PMDN dapat merupakan sinergi bisnis antara modal Negara dan modal swasta
nasional. Misal: di bidang telekomunikasi, perkebunan.
Sedangkan kriteria Perusahaan Penanaman Modal Negeri yang mendapatkan fasilitas
dari pemerintah antara lain:
1. Menyerap banyak tenaga kerja
2. Termasuk skala prioritas tertinggi
3. Melakukan alih teknologi
4. Melakukan industri pionir
5. Menjaga kelestarian lingkungan hidup
Dilihat dari banyaknya jenis investasi dalam negeri, maka pemerintah memberikan
syarat-syarat bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di dalam negeri
1. Permodalan: menggunakan modal yang merupakan kekayaan masyarakat
Indonesia baik langsung maupun tidak langsung
2. Pelaku Investasi : Negara dan swasta Pihak swasta dapat terdiri dari orang dan
atau badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum di Indonesia
3. Bidang usaha : semua bidang yang terbuka bagi swasta, yang dibina, dipelopori
atau dirintis oleh pemerintah.
4. Perizinan dan perpajakan : memenuhi perizinan yang ditetapkan oleh pemerintah
daerah. Antara lain : izin usaha, lokasi, pertanahan, perairan, eksplorasi, hak-hak
khusus, dan lain-lain
5. Batas waktu berusaha : merujuk kepada peraturan dan kebijakan masing-masing
daerah
6. Tenaga kerja: wajib menggunakan tenaga ahli bangsa Indonesia, kecuali apabila
jabatan-jabatan tertentu belum dapat diisi dengan tenaga bangsa Indonesia.
Mematuhi ketentuan UU ketenagakerjaan (merupakan hak dari karyawan).
C. Kebijakan Penanaman Modal Dalam Negeri
Pada era reformasi kebijakan penanaman modal dianggap sudah tidak sesuai
lagi dengan kebutuhan percepatan pembangunan perekonomian dan pembangunan
hukum nasional. Di samping itu pengaruh globalisasi ekonomi yang melanda dunia,
memaksa pemerintah untuk menyusun perangkat perundangan mengenai penanaman
mengatur penanaman modal, yaitu Undang-Undang No. 8 tahun 1970 dan Undang-
Undang No. 12 tahun 1970 diubah dan disatukan dalam Undang-Undang No. 25
tahun 2007 tentang Penanaman Modal.
Kebijakan pemerintah dalam rangka penanaman modal, meliputi:
1. Memberi perlakuan yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanam
modal asing dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional;
2. Menjamin kepastian hukum, kepastian berusaha, dan keamanan berusaha bagi
penanam modal sejak proses pengurusan perijinan sampai dengan berakhirnya
kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan
3. Membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada
usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi.
4. Kebijakan dasar dimaksud diwujudkan dalam bentuk Rencana Umum Penanaman
Modal.
D. Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri di Indonesia
Lembaga yang mengkoordinir penanaman modal dalam negeri maupun asing
adalah Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). BKPM juga menerbitkan
berbagai macam informasi terkini terkait penanaman modal di Indonesia. Salah
satunya PMDN. BKPM sendiri menyatakan optimis kepada Indonesia karena masih
investasi. Meski kondisi politik sempat memanas pada tahun 2014. BKPM menilai
fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan kinerja yang solid.
Adapun perkembangan realisasi PMDN dapat dibagi dalam berbagai macam
sektor dan lokasi. Dibawah ini perkembangan realisasi PMDN menurut sektor
Sumber: bkpm.go.id
Dari data diatas menunjukan perkembangan realisasi PMDN tertinggi terletak
pada sektor sekunder yang disumbangkan oleh Industri Makanan. Terbukti pada
setiap tahun selalu mengalami peningkatan proyek investasinya yaitu 166 pada tahun
2010 meningkat menjadi 434 pada tahun 2013, hampir meningkat 100 persen
pertahunnya. Sepanjang Januari-September 2014, nilai investasi PMDN industri
makanan sebesar Rp13,93 triliyun atau meningkat sebesar 7,95 persen dari periode
yang sama tahun 2013. Investasi sektor industri makanan dan minuman memberikan
kontribusi sebesar 33,3 persen dari total investasi PMDN sektor industri. Hal tersebut
dipengaruhi oleh banyaknya pabrik makanan dan ditopang jumlah penduduk yang
mencapai 250 juta orang serta iklim bisnis nasional yang mampu dijaga tetap
Selanjutnya, sektor penyumbang investasi kedua pada sektor Tanaman
Pangan & Perkebunan yang memiliki grafik stabil pada investasinya 5 tahun trakhir.
Berada di angka Rp5-9 milyar. Hanya saja di tahun 2014 turun sebesar Rp1.895,4
milyar. Investasi dalam sektor Perkebunan di Indonesia dapat menyumbang angka
yang besar karena Indonesia memiliki banyak lahan produktif tanaman pangan,
maupun tanaman perkebunan. Selain itu, disetiap daerah di Indonesia memiliki
spesialisasi perkebunan. Seperti Sumatera dan Kalimantan merupakan pulau yang
banyak ditanami tanaman Kopi, Karet, dan Kelapa Sawit. Sedangkan Jawa banyak
ditanami Padi. Indonesia juga merupakan Negara yang menghasilkan bahan baku dari
alam, seperti kayu dan rotan.
Sementara itu, Perkembangan realisasi investasi dalam negeri yang lain
ditopang oleh realisasi investasi PMDN di sektor listrik, gas dan air; industri
makanan; transportasi, gudang dan telekomunikasi; perumahan, kawasan industri dan
perkantoran serta industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi.
Sumber: bkpm.go.id
Dalam data diatas menunjukkan PMDN mayoritas disumbang oleh Jawa
Timur, Jawa Barat, Kalimantan Timur, DKI Jakarta dan Jawa Tengah. Provinsi Jawa
Timur dari tahun ketahun menjadi primadona penyumbang investasi domestik di
modal dalam negeri (PMDN) dengan angka mencapai Rp 117,5 pada semester
I/2014. PMDN yang menggunakan fasilitas tercatat 139 proyek dengan nilai Rp
47,41 triliun. Sedangkan PMDN nonfasilitas Rp 59,9 triliun dari 136.648 usaha. Hal
tersebut juga terlihat pada besar investasi yang sselalu mengalami kenaikan dari tahun
ketahunnya. Pada tahun 2011 Jawa Timur menyumbang Rp9.687,5 milyar dan naik
secara signifikan pada tahun berikutnya yaitu Rp21.520,3 milyar. Karena hampir
semua kebutuhan tersedia secara keseluruhan di Jawa Timur. Dari 38 kabupaten/kota
yang ada di Jatim, masing-masing kota memiliki keunggulan untuk dimanfaatkan
melebarkan bisnis yang dipilih. Untuk sisi pertambangan, daerah yang memiliki
potensi adalah Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro. Daerah ini menjadi grade
utama dalam bidang pertambangan. Kemudian, untuk grade kedua dalam
pertambangan adalah Banyuwangi, Situbondo, Probolinggo, Malang dan Pasuruan.
Dari kedua data yang diterbitkan memiliki jumlah yang sama tetapi dalam
kriteria yang berbeda. Data tersebut juga mencangkup sebagian besar aspek investasi
yang ada di Indonesia. Selanjutnya data juga direvisi setiap 4 bulan sekali dengan
57 BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2015. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data sekunder. Data tersebut diperoleh dari Badan Pusat Statistik
(BPS) Provinsi Yogyakarta berbagai edisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui seberapa besar faktor Inflasi, Suku Bunga Kredit, dan Kurs
mempengaruhi Penanaman Modal Dalam Negeri.
A. Deskripsi Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data time series atau data runtun waktu sebanyak 21 observasi dari tahun 1994 sampai tahun 2014.
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Penanaman Modal dalam Negeri yang
dinyatakan dalam milyar Rupiah. Adapun untuk variabel independennya adalah
Inflasi yang dinyatakan dalam persen, Suku Bunga Kredit yang dinyatakan dalam
persen, dan Kurs dalam Rupiah.
Tabel 5.1 Data Penelitian Tahun Y X1 X2 X3 1994 12786.9 9.24 14.96 2200 1995 11312.5 8.64 15.75 2308 1996 18609.7 6.47 16.53 2383 1997 18628.8 70.27 17.34 4650 1998 16512.5 77.55 23.16 8025
1999 16286.7 2.01 22.93 7100 2000 92410.4 9.4 16.6 9595 2001 58816 12.55 17.9 10400 2002 25307.6 10.03 17.82 8940 2003 48484.8 5.16 15.68 8465 2004 37140.4 6.4 14.05 9290 2005 30665 17.11 15.66 9830 2006 20788.4 6.6 15.1 9020 2007 34979.7 6.59 13.01 9419 2008 20363.4 11.06 14.4 10850 2009 37799.9 2.78 12.96 9400 2010 60626.3 6.96 12.28 8991 2011 76000.7 3.79 12.04 9068 2012 92182 4.3 11.27 9670 2013 128150.6 8.38 11.82 12189 2014 156126.2 8.36 12.36 12440 MEAN 48284.69048 13.98333 15.41048 8296.81
Sumber: data primer dari BPS dan Bank Indonesia (data diperoleh 2015)
Keterangan :
Y = PMDN (Milyar Rupiah per tahun) X1 = Inflasi (Persen per tahun)
X2 = Suku Bunga Kredit (Persen per tahun)
Grafik 5.1
Penanaman Modal Dalam Negeri
Pada tabel dan grafik diatas dapat dilihat perkembangan realisasi PMDN di
Indonesia stabil pada tahun 1994-1999 dan mengalami fluktuasi pada periode setelah
krisis. Pertumbuhan PMDN yang cenderung meningkat tiap tahunnya pada periode
1995-1997 dari Rp11.312,5 milyar menjadi Rp18.628,8 milyar. Pada tahun 2000,
PMDN meningkat tajam sebesar Rp92.410,4 milyar. Setelah tahun tersebut
mengalami perubahan menjadi trend negatif. Karena tingginya inflasi pada tahun
1997 menurunkan minat investor sehingga nilai PMDN terus mengalami penurunan
pada tahun-tahun setelah krisis dari nilai Rp16.512,5 milyar menjadi Rp18.628.8
milyar. Pasca krisis moneter 1997, perkembangan realisasi PMDN pada tahun 2003
mengalami trend penurunan, yakni merosot dari Rp48.484,8 milyar menjadi
Rp37.140,4 milyar. Trend penurunan tersebut mencapai 30 persen pertahunnya dan
0 50000 100000 150000 200000 Tahun
Y
sampai pada level Rp20.363,4 milyar pada tahun 2008. Kemudian pada tahun 2010
terjadi peningkatan investasi menjadi Rp60.626,3 milyar.
Di tengah pertumbuhan ekonomi global yang melambat akibat krisis global,
perekonomian Indonesia diperkirakan masih cukup kuat. Pertumbuhan ini didukung
oleh tetap kuatnya permintaan domestik dan investasi yang meningkat. Hal tersebut
jelas terlihat pada ahun 2011 investasi Indonesia naik menjadi Rp76.000,7 milyar dan
terus mengalami kenaikan mencapai 30 persen setiap tahunnya sampai tahun 2014
mencapai Rp15.6126,2 milyar.
Grafik 5.2 Perkembangan Inflasi
Dari grafik diatas terlihat stabilnya tingkat inflasi pada tahun 1994-1996 dari
angka 9,24 persen menurun menjadi 6,47 persen. Namun, imbas dari krisis moneter
yang melanda Indonesia pada tahun 1997 ditandai besarnya inflasi mencapai 77,55
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Tahun
X
1Inflasi
persen. Selain itu tingginya Inflasi disebabkan tingginya harga barang-barang impor.
Kondisi ini mengakibatkan kurangnya kepercayaan investor terhadap perekonomian
Indonesia. Pada tahun 1998 tingkat inflasi berhasil ditekan oleh Bank Indonesia dari
besar inflasi 77.55 persen di tahun 1998 menjadi 2,01 persen pada tahun 1999. Dan
mengalami fluktuasi pada tingkat 5-12 persen pada tahun berikutnya.
Sebelum krisis tahun 2008, tanda adanya lonjakan perekonomian juga terasa
sejak tahun 2005 yang ditandai besar inflasi pada 17,11 persen. Pada tahun 2010
tingkat inflasi berhasil ditekan kembali oleh Bank Indonesia dari besar inflasi 11.06
persen di tahun 2008 menjadi 2,78 persen pada tahun 2009. Walaupun inflasi tahun
2010 sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2009 yaitu 6,96 persen, namun inflasi di tahun
2010 jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2008. Tingginya inflasi tahun 2010 bersumber
dari tekanan kenaikan inflasi akibat kenaikan harga barang impor yang terus
meningkat seiring dengan penguatan nilai tukar yang semakin mereda. Laju inflasi
Grafik 5.3
Perkembangan Suku Bunga Kredit
Suku bunga kredit bank umum merupakan acuan para investor untuk
melakukan investasi. Dari grafik diatas, suku bunga kredit (SBK) pada tahun 1994
sampai tahun 1997 stabil pada angka 14,96 persen sampai 17,34 persen. Namun
perekonomian yang bergejolak pada tahun 1997 menyebabkan pemerintah menaikkan
tingkat suku bunga menjadi 23,16 persen pada tahun 1998.
Pada tahun 2000 sampai sekarang, terlihat bahwa suku bunga mengalami tren
penurunan. Mulai dari 16,6 persen pada tahun 2000 naik menjadi 17,9 persen dan
17,82 persen pada tahun 2001 sampai 2002. Kemudian dari tingkat suku bunga 17,82
turun sampai 13,01 persen pada tahun 2007. Dan naik lagi akibat krisis finansial
tahun 2008 menjadi 14,4 persen. Dari tahun 2008 sampai ahun 2014 suku bunga
stabil yaitu pada angka tertinggi 12,96 pada tahun 2009 sampai pada angka terendah
11,27 pada tahun 2012. Dan saat tahun 2014 berapa pada angka 12,36 persen.
0 5 10 15 20 25 Tahun
X
2Grafik 5.4
Perkembangan Nilai Tukar
Nilai tukar pada tahun 1994 masih berada pada Rp2.200, Rp2.308 pada tahun
1995, Rp2.383 pada tahun 1996, kemudian nilai tukar rupiah merosot dengan cepat dan
tajam dari rata-rata Rp2450 per dollar AS bulan Juni 1997 menjadi Rp16.500 per dollar pada
bulan Juni 1998, namun berhasil menguat kembali menjadi sekitar Rp8.000 di awal
Mei 1999.
Pasca krisis, Kurs Rupiah juga melemah pada Rp10.850 di tahun 2008 yang
pada tahun sebelumnya stabil pada Rp9.419. Hal tersebut dipengaruhi oleh intensitas
krisis yang semakin membesar seiring dengan bangkrutnya bank investasi terbesar
AS Lehman Brothers, yang diikuti oleh kesulitan keuangan yang semakin parah di
sejumlah lembaga keuangan berskala besar di AS, Eropa, dan Jepang seperti UBS
Bank, Citibank, Merryl Lynch, dan lain sebagainya. Pada tahun 2010 nilai tukar dapat
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 Tahun
X
3Nilai Tukar
ditekan oleh Bank Indonesia, Rupiah berhasil menguat dari Rp10.850 di tahun 2008
menjadi Rp9.400 dan kembali menguat menjadi Rp8.991 pada tahun 2010.
Namun, ditengah baiknya iklim investasi di Indonesia, Rupiah semakin
terpuruk dari Rp9.068 pada tahun 2011 menjadi Rp9.670 di tahun 2012. Menurut
Bank Indonesia, pelonggaran likuiditas keuangan di kawasan Eropa dan Jepang
mendorong pelemahan Rupiah yang terjadi saat ini. Pada tahun 2013 telah mencapai
level Rp12.189 dan semakin lemah pada tahun 2014 yaitu Rp12.440.
B. Analisis Data 1. Pengujian Hipotesis a) Uji Hipotesis Tabel 5.2 Pengujian Hipotesis Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 60963.716 46320.082 1.316 .206 INF 70.955 385.886 .036 .184 .856 SBK -4682.160 2496.833 -.379 -1.875 .078 KURS 7.049 2.372 .524 2.972 .009 a. Dependent Variable: Y Sumber: data diolah 2015
1) Inflasi (X1)
Rumusan masalah dalam variabel Inflasi adalah sebagai berikut:
H0 : Tidak ada pengaruh antara Inflasi terhadap perkembangan investasi
dalam negeri di Indonesia tahun 1994-2014.
Ha : Ada pengaruh antara Inflasi terhadap perkembangan investasi dalam
negeri di Indonesia tahun 1994-2014.
Pada kolom Standardized Coefficient menunjukan Nilai Beta (β) pada variabel inflasi sebesar 0,036 yang artinya bahwa inflasi berpengaruh
terhadap investasi di Indonesia tahun 1994-2014 sebesar (0,036 : 0,939) x
100% = 3,83%.
Sedangkan untuk menguji apakah pengaruh tersebut signifikan atau tidak
dengan membandingkan nilai dalam kolom Sig. Probabilitas variabel Inflasi
pada tabel Coefficients. Kolom Sig. Probabilitas menunjukan nilai 0,856
yang berarti nilai ini berada di atas signifikansi 10% (0,10). Oleh karena itu
Sig. > 0,10 (0,856 > 0,10) maka dapat dikatakan H0 di terima dan Ha ditolak.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Laju inflasi tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap perkembangan investasi di Indonesia tahun 1994-2014.
2) Suku Bunga Kredit (X2)
H0 : Tidak ada pengaruh antara Suku Bunga Kredit terhadap perkembangan
investasi dalam negeri di Indonesia tahun 1994-2014.
Ha : Ada pengaruh antara Suku Bunga Kredit terhadap perkembangan
investasi dalam negeri di Indonesia tahun 1994-2014.
Kolom Standardized coefficient menunjukan Nilai Beta (β) pada variabel SBK sebesar -0,379 namun angka tersebut dianggap konstan sehingga
menjadi 0,379 yang artinya bahwa variabel SBK berpengaruh terhadap
investasi Indonesia tahun 1994-2014 sebesar (0,379 : 0,939) x 100% =
40,36%.
Sedangkan untuk menguji apakah pengaruh tersebut signifikan atau tidak
dengan membandingkan nilai dalam kolom Sig. Probabilitas variabel SBK
pada tabel Coefficients Kolom Sig. Probabilitas menunjukan nilai 0,078
yang berarti nilai ini berada di atas signifikansi 10% (0,10). Oleh karena itu
Sig. < 0,10 (0,078 < 0,10) maka dapat dikatakan H0 ditolak dan Ha diterima.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Suku Bunga Kredit berpengaruh secara
signifikan terhadap perkembangan investasi di Indonesia tahun 1994-2014.
3) Kurs (X3)
Rumusan masalah dalam variabel Kurs adalah sebagai berikut:
H0 : Tidak ada pengaruh antara Kurs terhadap perkembangan investasi
Ha : Ada pengaruh antara Kurs terhadap perkembangan investasi dalam
negeri di Indonesia tahun 1994-2014.
Kolom Standardized coefficient menunjukan Nilai Beta (β) pada variabel
Kurs sebesar 0,524 yang artinya bahwa variabel Kurs berpengaruh terhadap
investasi Indonesia tahun 1994-2014 sebesar (0,524 : 0,939) x 100% =
55,80%.
Sedangkan untuk menguji apakah pengaruh tersebut signifikan atau tidak
dengan membandingkan nilai dalam kolom Sig. Probabilitas variabel Kurs
pada tabel Coefficients. Kolom Sig. Probabilitas menunjukan nilai 0,009
yang berarti nilai ini berada di bawah signifikansi 10% (0,10). Oleh karena
itu Sig. < 0,10 (0,009 > 0,10) maka dapat dikatakan H0 ditolak dan Ha
diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Kurs berpengaruh positif dan
signifikan terhadap perkembangan investasi di Indonesia tahun 1994-2014.
4) Inflasi, Suku Bunga Kredit, dan Kurs Secara Bersama-Sama
Rumusan masalah dalam variabel Inflasi, Suku Bunga Kredit, dan Kurs
adalah sebagai berikut:
H0 : Inflasi, Suku Bunga Kredit, dan Kurs Secara Bersama-Sama tidak
berpengaruh positif terhadap perkembangan investasi dalam negeri di
Ha : Inflasi, Suku Bunga Kredit, dan Kurs Secara Bersama-Sama
berpengaruh positif terhadap perkembangan investasi dalam negeri di
Indonesia tahun 1994-2014.
b) Uji Model
Tabel 5.3
Hasil Pengujian Model
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .802a .643 .580 .50200 .816
a. Predictors: (Constant), KURS, INF, SBK
b. Dependent Variable: Y Sumber: data diolah 2015
Hasil perhitungan yang dilakukan dengan program SPSS menunjukkan bahwa
nilai adjusted R square sebesar 0,643. Hal tersebut berarti Inflasi, Suku Bunga
Kredit, dan Kurs secara bersama-sama berpengaruh sebesar 64,3% terhadap
perkembangan investasi dalam negeri di Indonesia tahun 1994-2014.
2. Pengujian Prasyarat Regresi
a) Uji Normalitas
Uji Normalitas digunakan untuk mengetahui kondisi masing-masing
data berdistribusi normal atau tidak. Untuk menentukan data berdistribusi
sig < taraf nyata (0,10), maka distribusi data variabel penelitian dinyatakan
tidak normal. Dan sebaliknya jika asymp. sig > taraf nyara (0,10) maka
variabel penelitian dinyatakan normal. Penelitian ini menggunakan Statistical Package for Social Sciences (SPSS 16.00) yaitu dengan rumus Kolmogorov- Smirnov Test.
Tabel 5.4
Hasil Pengujian Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 21
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation .46281875
Most Extreme Differences Absolute .086
Positive .086
Negative -.073
Kolmogorov-Smirnov Z .395
Asymp. Sig. (2-tailed) .998
a. Test distribution is Normal. Sumber : data diolah 2015
Dari output diatas diketahui bahwa nilai signifikansi Asymp. Sig (2-tailed)
adalah 0,998. Dapat dikatakan bahwa nilai Asymp. Sig lebih besar dari taraf nyata (0,10), maka dapat disimpulkan bahwa residual berdistribusi normal.
b) Pengujian Linieritas
Uji Linieritas bertujuan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel
bebas mempunyai hubungan yang linier atau tidak dengan variabel terikatnya.
Hasil uji linieritas dapat dilihat pada output berikut ini:
Tabel 5.5 Uji Linieritas
ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 7.711 3 2.570 10.199 .000a
Residual 4.284 17 .252
Total 11.995 20
a. Predictors: (Constant), KURS, INF, SBK
b. Dependent Variable: Y Sumber: data diolah 2015
Berdasarkan output diatas, diperoleh besar F hitung sebesar 10,199 dengan
probabilitas sebesar 0,000. Hasil F hitung kemudian dibandingkan dengan F
tabel dengan menggunakan taraf signifikansi 0,10, dengan F tabel sebesar
2,62. Jadi F hitung (10,199) > F tabel (2,62) maka dapat disimpulkan bahwa
variabel Inflasi , Suku Bunga Kredit ,dan Kurs memiliki hubungan yang linier
3. Pengujian Asumsi Klasik
a) Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas merupakan suatu perselingkuhan atau hubungan
antara variabel bebas yang satu dengan yang lain. Dalam hal ini variabel
tersebut disebut variabel yang bersifat tidak orthogonal. Sifat tidak orthogonal
merupakan variabel bebas yang korelasinya tidak sama dengan nol. Untuk
mendeteksi masalah multikolinearitas dapat menggunakan rumus korelasi
sebagai berikut:
= N XY – ( (
√ - ( X)2] [N -( Y)2]
Selanjutnya dengan program SPSS menggunakan analisa collinerity
statistics. Dari hasil analisis Collinerity Statistics akan memperoleh VIF (Variance Inflation Factor). Dasar analisis yang digunakan yaitu jika tolerance lebih dari 0,1 dan VIF < 5 maka tidak terjadi masalah