Prosedur Operasi Standar Nasional (POSNAS) Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (2014) dan Peraturan Menteri tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (2016) memiliki isu-isu utama yang teridentifikasi secara komprehensif yang perlu diatasi dalam rangka mendapatkan sebuah sistem yang akan mencegah dan memadamkan kebakaran hutan dan lahan, dan mengelola dampaknya. Kedua dokumen tersebut memberikan sinyal niat yang kuat dari pemerintah untuk memajukan sangat banyak tindakan selama setahun, di luar fokus yang ada pada pemadaman kebakaran selama musim kemarau dan sering kali pada situasi darurat. Sebagaimana yang telah kami tekankan, sistem FRS yang memberikan peringatan dini risiko kebakaran dalam skala waktu satu hingga tiga bulan, peta kerentanan kebakaran yang dinamis, penetapan restorasi gambut sebagai prioritas dan fungsionalitas lainnya akan berguna bagi pemerintah untuk mengarusutamakan pencegahan dan pemadaman kebakaran ke dalam kegiatan-kegiatan kelembagaan di tingkat provinsi, kabupaten/kota dan daerah.
Rekomendasi-rekomendasi utama dari laporan ini berfokus pada menggunakan fungsionalitas FRS untuk pengembangan strategi dan rencana pembangunan jangka panjang yang berisiko kebakaran, mengoordinasikan tindakan di banyak periode waktu (mulai dari skala cuaca dan musiman hingga skala tahunan dan skala waktu yang lebih lama, bersama dengan sistem SiPongi/KMS), penyederhanaan arsitektur kelembagaan agar mencakup pencegahan dan pemadaman kebakaran, pentingnya memasukkan kejelasan peran petani kecil, dan sangat perlunya menyediakan anggaran yang memadai dan tepat waktu, termasuk insentif, bagi para pemangku kepentingan kunci yang terlibat dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran.
Penanggulangan kebakaran, yang melibatkan informasi risiko kebakaran berbasis cuaca dan iklim dan memasukkan data perubahan penggunaan lahan yang dinamis, harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya-upaya pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut akan mengembangkan beragam penggunaan lahan yang sesuai dengan konteks ekologi, sosial dan ekonomi setempat serta mendukung berbagai mata pencaharian berbasis sumber daya (termasuk wanatani, pertanian, perkebunan dan budidaya perikanan), semuanya bersatu dalam sebuah strategi menyeluruh yang didedikasikan untuk pengurangan risiko kebakaran jangka panjang dan pemadaman kebakaran jangka pendek, serta mendorong pelibatan sosial, pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
Laporan-laporan CU mendatang dari proyek ini akan membahas isu-isu khusus berikut untuk meningkatkan pengurangan kerentanan jangka panjang terhadap kebakaran hutan dan
meningkatkan penanggulangan risiko kebakaran antisipatif, terutama di daerah-daerah gambut di Indonesia:
• Panduan pengguna akhir untuk meningkatkan kapasitas staf KPH untuk menggunakan FRS
• Rancangan insentif kebijakan partisipatif untuk kabupaten yang berisiko kebakaran tinggi di Riau
• Panduan protokol komunikasi dengan menggunakan sistem peringatan SMS FRS • Studi penjajakan yang mengkaji implikasi risiko kebakaran hutan gambut di masa
depan dari proses pembukaan lahan di Provinsi Papua
• Dinamika kelembagaan penanggulangan kebakaran hutan gambut Provinsi Kalimantan Barat
Referensi
Boer, R., Someshwar, S., Kieft, J., Ardiansyah, M., Siddik, A., Faqih, A., Smith, T. & R. Martens (2015). “Development of the Fire Risk System.” Center for Climate Risk and Opportunity Management at the Institut Pertanian Bogor, Earth Institute Columbia
University, dan United Nations Office for REDD+ Coordination in Indonesia. (Laporan yang Tidak Dipublikasikan).
Ceccato, P, I. Nengah Surati Jaya, J.H. Qian, M.K. Tippett, A.W. Robertson, & S. Someshwar (2010). “Early Warning and Response to Fires in Kalimantan, Indonesia” International Research Institute for Climate and Society, TR 10-14.
Pemerintah Indonesia (1999). “UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan” (Terjemahan Bahasa Inggris). Diundangkan pada 30 September 1999 di Jakarta, Indonesia.
Pemerintah Indonesia (2004a). “UU No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan”. Diundangkan pada 11 Agustus 2004 di Jakarta, Indonesia.
Pemerintah Indonesia (2004b). “UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah” (Terjemahan Bahasa Inggris). Diundangkan pada 15 Oktober 2004 di Jakarta, Indonesia.
Pemerintah Indonesia (2009). “UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan” (Terjemahan Bahasa Inggris). Diundangkan pada 3 Oktober 2009 di Jakarta, Indonesia.
Pemerintah Indonesia (2014a). “UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa” (Terjemahan Bahasa Inggris). Diundangkan pada 15 Januari 2014 di Jakarta, Indonesia.
Pemerintah Indonesia (2014b). “UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah”. Diundangkan pada 30 September 2014 di Jakarta, Indonesia.
Pemerintah Indonesia (2014c). “Prosedur Operasi Standar Nasional (POSNAS) Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan,” Dokumen antar-kementerian j.o UU No. 18 Tahun 2013.
(Terjemahan Bahasa Inggris). Ditandatangani oleh Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada 16 Oktober 2014 di Jakarta, Indonesia.
Pemerintah Indonesia (2016). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.32/MenLHK/Setjen/Kum.1/3/2016 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. (Draft Terjemahan Bahasa Inggris). Jakarta.
Pemerintah Indonesia – Kementerian Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup, UKP4, BP REDD+ dan Provinsi Riau (2014). “Audit Kepatuhan Dalam Rangka Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau: Ringkasan Eksekutif.” Diakses pada Mei 2015 di: http://www.reddplus.go.id/berita/berita-redd/2006-audit-kepatuhan-korporasi-dan-pemda-masih-langgar-aturan
Pemerintah Provinsi Riau, Republik Indonesia (2013). “Peraturan Daerah Provinsi Riau No. 17 Tahun 2013 tentang Penanggulangan Bencana Alam.” Diundangkan pada 2013 di
Pekanbaru, Riau.
Page, S., F. Siegert, J. Rieley, H. Boehm, A. Jaya dan S. Limin, 2002. The amount of carbon released from peat and forest fires in Indonesia during 1997. Nature 420: 61-65.
Someshwar, S. (2015). “Government Regulations of Relevance to Forest Fire Risk Mitigation at the National and Provincial Level.” Earth Institute di Columbia University, Proyek UNDP #87421 (Tidak Dipublikasikan).
Someshwar, S., L. Goddard dan E. Conrad, dengan kontribusi dari C. Green, M. Bell, K. Venkatasubramanian, dan S. Nair (2009). “El Nino Tele-connections in Africa, Latin America and Caribbean and Asia Pacific: Overview of current socio-economics and of enhanced odds of anomalous seasonal precipitation. IRI, Columbia University, 2009.
Someshwar, S., Boer, R., E. Conrad (2010). “World Resources Report Case Study. Managing Peatland Fire Risk in Central Kalimantan, Indonesia.” World Resources Report, Washington DC.
Someshwar, S. & W. Widiyanti (2015). “Institutional Architecture for an Effective Anticipatory Response System, in Line with the SOP, in Central Kalimantan and Riau Provinces, and in Select High Fire Risk Districts of Riau and Central Kalimantan, for Land and Forest Fires.” Earth Institute di Columbia University, Proyek UNDP #87421 (Tidak Dipublikasikan).
Tacconi, L., P. F. Moore, dan D. Kaimowitz (2007). Fires in tropical forests – what is really the problem? Lessons from Indonesia. Mitigation and Adaptation Strategies for Global Change 12: 55-66.
Toha, K. dan W. L. Collier (2015). “Land Control, Governance and Agrarian Conflict in Indonesia.” Konferensi Tahunan World Bank tentang Lahan dan Kemiskinan. Washington, DC. 23-27 Maret 2015.