6.1 Kesimpulan
1. Di lihat dari tingkat likuiditasnya
Dilihat dari tingkat likuditasnya yaitu current rasio perusahaam pembiayaan selama tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 dengan tahun dasarnya 2004, maka dapat dikatakan bahwa current rasio perusahaa pembiayaan adalah baik hal ini meskipun ada beberapa perusahaan pembiayaan yang nilainya di bawah tahun 2004, hal ini dikarenakan perusahaan melakukan perluasan usaha (ekspansi usaha) sehingga perusahaan membutuhkan modal yang banyak baik itu dari pinjaman pihak ketiga berupa hutang maupun mengeluarkan saham baru untuk membiayai usahanya yang baru, akan lebih baik lagi jika perusahaan pembiayaan mengkaji ulang kinerja keuagan sebelumya apakah perusahaan meiliki aktiva yang cukup untuk menjamin hutang nantinya sebelum mengambil keputusahan untuk hutang maupun mengeluarkan saham baru.
2. Di lihat dari tingkat Solvabilitasnya
Dilihat dari tingkat solvabilitasnya baik dept rasio maupun dept to equity rasio dari perusahaam pembiayaan yang di teliti dari tahun 2004 sampai tahun 2007 maka dapat dikatakan baik, karena besarnya prosentase nilai hutang di bawah 50% artinya rata-rata total aktiva perusahaan di biayai oleh hutang dibawah 50% sehingga kemungkinan untuk melunasi kewajiban dapat terbayar tepat pada waktunya, namu ada perusahaan yang melakukan hutang besar-besaran khususnya perusahaan pembiayaan non go public, ini akan mempengaruhi tingkat kebangkrutan lebih besar di karenakan aktiva yang dimiliki tidak sebanding dengan hutang yang di tanggung, begitu pula dengan dept to equty rasio perusahaan pembiayaan, atau prosentase perbandingan modal sendiri dengan hutang.
3. Di lihat dari tingkat aktivitasnya
Di lihat dari tingkat aktivitasnya yaitu perputaran total aset perusahaan pembiayaan dari tahun 2004 sampai tahun 2007 dapat di katakan kurang baik artinya tingkat perputaran total aktiva sangat lambat untuk meningkatkan penjualan dan menghasilkan laba perusahaan, di mana rata-rata perputran total aset perusahaan pembiayaan dari tahun ke tahun semaki kecil yaitu dibawah 1,00 kali bahkan banyak diantara perusahaan pembiayaan tingkat perputaran total aktvanya 0.1 kali, hal ini akan berpengaruh pada laba yang diinginkan investor,
4. Di lihat dari tingkat Profitabilitasnya
Dilihat dari tingkat profitabilitas prerusahaan yaitu net profit margin, return on aset, dan return on Equity dari tahun 2004 sampai tahun 2007 adalah sangat baik di mana rata-rata perusahaan pembiayaan memiliki laba bersih diatas 20% bahkan ada perusahaan pembiayaan yang mampu meningkatkan net profit margin rasio 100 % yaitu PT Buana Finance pada tahun 2007, namun juga ada perusahaan yang tidak mendapatkan lab aoperasi ( deficit ) sebesar -20,27 % ;pada tahun 2007 yaitu PT Wahana Ottomitra Multiartha, untuk Return On Aset (ROA) perusahaan pembiayaan tahun 2004 sampai tahun 2007 adalah baik diarenakan setiap penjualan aktiva Rp 1.000 rata menghasilkan laba Rp 5,05,- Semakin tinggi nilainya maka semakin baik begitu pula sebaliknya semakin kecil nilainya semakin buruk atau rugi, besarnya keuntungan yang diberikan kepada para pemegang saham pahun 2004 sampai tahun 2007 (ROE) sangat baik karena rata-rata mendapatkan keuantungan diatas 20% dari dana yang di investasikan, besarnya nilai yang diberikan akan membantu manajemen mendapatkan keuntungan dan tanmbahan modal di masa yang akan datang.
6.2 Saran
1. Untuk tingkat likuiditas perusahaan pembiayaan khususnya curren rasio sebaiknya di sesuikan sengan kemmpuan aktiva lancer yang dimiliki, sehingga perusahaan mampu merencanakan keuangannya lebih baik di masa mendatang, jika jumlah aktiva yang dimiliki lebioh kecil dari hutang yang dimiliki maka perusahaan akan mengalami kerugian sehingga berdampak pada kinerja keuangan bahkan akan di tinggalkan
pemegang saham karena tidak bisa memberikan keuntunga yang di harapkan sebaliknya perusahaan akan menanggung bebabn hutang.
2. Untuk tingkat solvabilitas perusahaan sebaikya hutang yang terlanjur dimiliki perusahaan selayaknya di gunakan untuk melakukan perbaikab layanan kepada pelanggan, ekspansi usaha ke berbagai wilayah di Indonesia dan menjaugi persaingan usaha dengan memilih usaha pembiayaan yang berbeda misalnya pembiayaan alat-alat berat, pertanian, dan kredit usaha kecil, dehingga akan meningkatkan laba perusahaan dan mampu melunasi kewajibannya tepat pada waktunya
3. Untuk tingkat aktivitas perusahaan pembiayaan di harapkan memutar aset yang dimiliki untuk meningkatkan laba perusahaan yaitu dengan cara mempermudah kredit konsumsi bagi pelanggan di sertai dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi untuk menghindari kredit macet.
4. Untuk ROA dan ROE, perusahaan pembiayaan sekiranya tidak di bagikan kepada para pemegang saham seluruhnya, akan tetapi bisa dialihkan untuk membiayai atau neningkatkan penjualan serta mengurangi pinjaman dari luar, perusahaan juga harus memberikan prestasi kepada para pekerja yang berhasil meningkatkan penjualan sehingga mereka lebih bersemangat lagi dalam bekerja, secara keseluruhan parusahaan pembiayaan yang di teliti mampu menunjukkan kinerja keuangan yang baik semoga ke depannya perusahaan mampu memberikan sumbangsih bagi perekonomian Indonesia, hasil analisis kinerja keuangan ini tidak 100% sebagai acuan akan tetapi berpengaruh terhadap keputusan yang akan diambil.
5. Bagi para masyarakat umum khususnya mahasiswa yang akan meneliti tentang analisis laporan keuangan suatu perusahaan khususnya perusahaan jasa maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Pahamilah unsur-unsur laporan keuangan itu sendiri, baik itu neraca maupun laporan laba atau rugi pada periode tertentu, karena hal ini akan memudahkan kita untuk memahami laporan keuangan perusahaan dagang, manufactur, dan perusahaan jasa.
b. Setelah memahami unsur- unsure laporan keuangan suatu perusahaan yang perlu kita pahami selanjutnya adalah periode laporan keuangan itu sendiri,
sama, artinya ada perusahaan yang membuat laporan keuangan tiap tiga bulanan, semester, dan tahunan, itupun akan ada perbedaan pada bulan pelaporan misalnya bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
c. Banyak perusahaaan mengalami perubahan-perubahan dalam operasi mereka,jadi masukan neraca dan rasio yang berkaitan dengan neraca tersebut akan ikut berubah menurut laporan keungan itu dibuat, selain itu metode penyusutan, persediaan dan pengumpulan piutang setiap perusahaan akan berbeda-beda.
Laporan keuangan sangatlah penting, baik itu bagi manajemen perusahaan, investor, kreditor, maupun bagi masyarakat umum yang membutuhkan informasi keuangan suatu perusahaan pada periode tertentu, untuk itu perlu adanya pengembangan pengajaran yang tepat guna bagi mahasiswa sehingga mudah di terapkan di lingkungan di mana mereka akan tinggal, semakin banyak contoh kasus dan bentuk laporan keuangan perusahaan maka semakin baik serta untuk menghindari pemahaman yang sempit tentang laporan keuangan perusahaan.
Mahasiswa adalah bagian terpenting dari dunia perguruan tinggi selayaknya tidak dianggap sebagai penghafal materi pengetahuan saja, tetapi sebagai penyampai pesan dan pengetahuan kepada masyarakat maupun dunia usaha, sebagai calon pekerja atau fress graduate tidak hanya bangga dengan almameternya akan tetapi seberapa besar mahasiswa menghasilkan ilmu-ilmu yang tepat, cepat, dan mudah diamalkan oleh orang lain sehingga ilmu yang di dapatkan bisa bermanfaat dan berguna bagi siapa saja yang membutuhkan.