DAFTAR LAMPIRAN
VII. KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
1. Nilai jasa lingkungan lebih besar dari nilai jual pohon atau tanaman (dalam tahun). Yang menjadi permasalahan adalah nilai jasa lingkungan tidak langsung dirasakan secara ekonomi.
2. Penilaian pengunjung terhadap KRC umumnya dinyatakan baik. Masalah yang berhubungan dengan pengunjung adalah tindakan vandalisme. Apresiasi pengunjung terhadap kawasan wisata, dalam hal ini KRC masih rendah. Adanya pengunjung yang mencoret-coret fasilitas wisata, membuang sembarangan dan lain-lain. Faktor yang berpengaruh nyata terhadap permintaan wisata individu antara lain: biaya perjalanan, pendapatan individu, jenis kelamin, tingkat pendidikan, umur, waktu yang ingin dihabiskan di lokasi, waktu tempuh menuju lokasi, alokasi untuk rekreasi dan kesediaan membayar.
3. Nilai ekonomi wisata dari sisi permintaan wisata yang didekati dari biaya perjalanan adalah sebesar Rp. 109.326.386.400/tahun per tahun. Nilai ini masih rendah. Surplus konsumen wisata dengan metode biaya perjalanan sebesar Rp.22.727 per individu, sedangkan berdasarkan kesediaan membayar sebesar Rp.12.218 per individu. Adanya surplus konsumen, baik surplus wisata maupun diluar wisata dapat dijadikan acuan dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi. 4. Nilai supply kawasan divaluasi berdasarkan nilai yang berlaku saat ini
diperoleh sebesar Rp. 1.159.157.735.236.870. Pengetahuan dan kelangsungan partisipasi masyarakat dalam penghitungan berapa kekayaan hayati ini yang dimiliki suatu negara, khususnya Indonesia dan kawasan-kawasan di dalamnya, perlu dimiliki masyarakat, agar
selanjutnya masyarakat dapat menghargai kandungan keanekaragaman hayati pada suatu kawasan, terutama yang ada di sekitarnya. Dengan nilai ini juga adanya keberadaan kawasan konservasi tetap dipertahankan karena banyak sisi lain dari kawasan yang dapat kita nikmati manfaat dan keuntungannya dengan tanpa merusak kawasan itu sendiri. Bahkan nilai keberadaan suatu kawasan tidak hanya terletak pada nilai ekonomis semata, justru dari kelestarian kawasan itu dan pemanfaatannya sebagai objek wisata, pendidikan dan sebagai penopang kelangsungan kehidupan.
7.2. Saran
1. Mengadakan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya nilai jasa lingkungan. Dari gambaran di atas, diketahui bahwa keanekaragaman hayati berperan sangat penting dan vital untuk menjamin kehidupan dan kesejahteraan umat manusia. Mulai dari mutu udara, mutu air, mutu tanah dan mutu lingkungan secara keseluruhan, hingga untuk pemenuhan kebutuhan dasar manusia, semuanya tergantung secara langsung maupun tak langsung pada sumberdaya hayati.
2. Kerja sama dan pembinaan industri kecil terutama yang memproduksi souvenir dan penjualan tanaman hias sebagai salah satu usaha pengembangan masyarakat khususnya peningkatan pendapatan dan usaha sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan direct use value. 3. Secara umum, karcis masuk seharga Rp. 6.000 per orang memang
sangat murah dibanding dengan biaya operasional yang harus ditanggung pengelola untuk tetap merawat Kebun Raya dan membibiti serta memberi pupuk pepohonan yang ada disini. Sangat wajar apabila
tiket masuk kebun raya dinaikkan. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian bahwa pengunjung mempunyai surplus yang tercermin dari kesediaan membayar dan biaya perjalanan yang dikeluarkan.
4. Sekalipun ada kecenderungan penikmat KR meningkat, harus tetap diperhatikan bahwa pohon-pohon belum seramai dunia fantasi. Jumlah pengunjung kebun raya di seluruh muka bumi berkisar 300-juta-400-juta orang setahun. Padahal, jumlah penikmat kebun binatang bisa 600-juta lebih. Artinya, 10 persen dari penduduk Indonesia, sekurang-kurangnya satu kali datang ke kebun binatang, taman safari, taman burung, atau akuarium raksasa atau Sea World. Di Indonesia, para pencinta kebun raya masih sedikit. Ini berbeda dengan KR di Amerika Serikat yang bisa menyerap ribuan anggota tetap. Misalnya, Chicago Botanical Garden punya lebih dari 48.000 mitra. Jika bukan anggota, karcis masuk sekitar US$15 setara Rp. 135.000 per hari. Sedangkan untuk anggota dapat potongan. Selain itu, kartu anggota juga diperlukan untuk mendapat diskon jika ingin mengikuti berbagai acara. Adanya pemberlakuan diskriminasi harga dengan pengelompokan pengunjung berdasarkan keanggotaanya.
5. Acara memang merupakan komponen penting untuk setiap Kebun Raya. Tanpa adanya acara, koleksi aneka tanaman belum cukup menarik. Kebun raya di berbagai kota besar dunia ramai dikunjungi karena menyediakan bermacam-macam kursus. Ada pelajaran merangkai bunga, fotografi dan cinematografi tanaman, latihan mencukur, memindahkan, serta memperbanyak tanaman. Merawat anggrek, menghitung burung, bahkan melindungi kodok dan reptil pun bisa menjadi acara menarik di kebun raya.
6. Selain sarana, aktivitas dan warga pendukung perlu adanya produk yang bersinambungan. Produk terpenting dari kebun raya adalah munculnya peneliti, tenaga-tenaga ahli, dan masyarakat yang sehat. KR dapat menjadi tempat olahraga pagi, latihan yoga dan tempat semua orang bisa belajar menjadi pakar, pengamat evolusi tumbuhan, penemu obat-obatan dan inovator industri.
7. Kebun raya yang perlu mengembangkan diri menjadi pusat informasi. Masalah fundamental yang membedakan kebun raya dan hutan kota, hutan lindung, atau taman penghijauan, adalah peranannya sebagai pusat informasi. Kebun raya memiliki sistem dan kebijakan koleksi. Kebun raya seharusnya selalu didukung oleh tenaga-tenaga handal di bidang taksonomi, biologi, dendrologi (ilmu tentang pohon), bahkan dendro kronologi, ilmu menghitung umur pohon.
8. Setiap pohon di taman botani atau kebun raya berhak mempunyai nomor induk, label tanaman dan catatan kehidupannya. Contohnya KR Singapura memasang chip pada pohon-pohon dan tanaman yang penting. Malaysia memasang penangkal petir di setiap pohon yang diperhitungkan dan harus dilindungi. Pohon-pohon itu dipetakan, diasuransikan, dipromosikan dan benar-benar dipelihara.
9. Untuk dapat mencukupi biaya pengelolaan, dapat dilakukan dengan jasa pembuatan taman, penjualan bibit, program asuh pohon, penjualan publikasi, penarikan biaya penelitian, retribusi restoran, termasuk penjualan cenderamata dan biji-biji pohon untuk benih. Berbagai pohon tua menghasilkan biji-bijian untuk ditanam lagi. Contohnya, adalah biji kenari (Canarium indicum )dan sekitar 10 varietasnya, dari yang paling kecil sampai kenari babi. Harga satu kilogram biji kenari Rp10.000. Kalau
dirawat dan dipanen dengan benar, satu pohon besar menghasilkan sedikitnya 30 kg setahun.
10. Pembangunan sarana dan prasarana pengelolaan promosi, pendidikan, wisata alam dan menawarkan paket-paket wisata. Selain itu, membuat zona-zona ekslusif yang dengan penyediaan fasilitas yang dapat diakses untuk mereka yang bersedia membayar lebih. Untuk kawasan yang sifatnya fragile, contohnya Taman Lumut di KRC, perlu adanya pembatasan pengunjung agar tidak merusak kawasan tersebut.
11. Selain fungsi ekonomi dan ekologis, seperti tersebut di atas, keanekeragaman hayati mempunyai fungsi sosial. Perlu dilakukan penelitian mengenai fungsi sosial, seperti penyerapan tenaga kerja dan sosial ekonomi masyarakat.