DAFTAR LAMPIRAN
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1.2. Perumusan Masalah
Hingga kini tidak diketahui pasti jumlah potensi keragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia dan berapa besar manfaat yang bisa digali. Bahkan, sebelum keragaman hayati di Nusantara teridentifikasi, telah terjadi pemusnahan tak terhingga, contohnya akibat penebangan hutan membabi buta dan kebakaran hutan, yang semua adalah ulah manusia. Kerusakan sumberdaya di Indonesia
sudah memprihatinkan. Tidak heran bila Indonesia masuk hotspot country, yaitu negara yang paling tinggi tingkat keterancaman keragaman hayatinya dari kepunahan. Oleh karena itu, upaya konservasi sumberdaya alam di Indonesia dan pemanfaatannya secara lestari segera ditingkatkan. Adanya kerusakan sumberdaya berdampak negatif seperti hilangnya keragaman hayati dan sumber genetika, serta menurunnya nilai ekonomi hutan dan stabilitas ekosistem penyangga. Untuk menyelamatkan hutan termasuk plasma nutfah yang tersisa dilakukan upaya konservasi in-situ seperti taman nasional, hutan lindung, atau suaka margasatwa, maupun eks-situ dengan membangun kebun raya.
Kebun raya keberadaannya mempunyai banyak manfaat. Selain sebagai pusat konservasi di kawasan ex-situ, kebun raya juga berfungsi untuk pendidikan, penelitian dan pengembangbiakan tumbuhan. Pendirian kebun raya baru terutama di daerah tropis perlu diprioritaskan mengingat daerah tersebut merupakan pusat keragaman tumbuhan dunia. Kenyataannya, jumlah kebun raya di negara tropis, kususnya di Indonesia masih sangat sedikit. Kebun raya bertujuan mengkonservasi spesies tumbuhan bernilai ekonomis dan sesuai dengan daya dukung. Upaya konservasi tumbuhan secara ex-situ di Jawa sejauh ini baru dilakukan di Jawa Barat (Kebun Raya Bogor, 1817 dan Kebun Raya Cibodas, 1852) serta di Jawa Timur (Kebun Raya Purwodadi, 1941).
Dimata Internasional Indonesia dianggap kurang serius dalam menangani kelestarian sumberdaya hayati. Anggapan ini rasanya tidak berlebihan karena beberapa kawasan, khususnya hutan-hutan di wilayah republik tercinta ini dari waktu kewaktu jumlahnya makin menurun dengan laju yang semakin cepat, beberapa jenis dan varietas mulai langka bahkan ada yang telah punah sama sekali. Bertambah dan punahnya suatu tumbuhan masih menjadi misteri alam dan ini harus ada bukti secara genetik bukan lagi hanya sekedar daftar atau
deskripsi morfologi tumbuhan (Retnoningsih A, 2006). Krisis global pada dasarnya berakar dari ketidakmampuan bumi dalam mendukung pola penggunaan sumberdaya secara tidak berkelanjutan. Hal ini diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk yang pesat dan kecenderungan perilaku untuk meniru pola pembangunan keliru yang diterapkan oleh berbagai negara maju. Akibatnya, dunia terancam serius oleh perubahan alamiah dan antropogenik berskala mondial. Terdapat sebuah skenario dikembangkan pada akhir dekade 1990-an yang mengemukakan bahwa krisis global tidak terhindarkan lagi yang terjadi pada tahun 2020 apabila lima faktor yang diuraikan berikut ini terjadi dalam kecepatan yang tengah berlangsung dewasa ini. Faktor-faktor tersebut adalah:
(1). Pemanasan global dan kenaikan paras muka air laut. Kota-kota, seperti Jakarta dan berbagai kota lain di dunia serta sejumlah negara pantai akan terancam secara langsung oleh perubahan global ini.
(2). Menipisnya sumberdaya alam. Kebudayaan Barat yang mendominasi dunia, pada dasarnya berbasis pada materialisme dan telah mengkonsumsi bahan, lahan, energi dan pangan dalam jumlah yang sangat besar. Perilaku antroposentris seperti ini telah membebani bumi dengan makin menipisnya sumberdaya yang dikandungnya.
(3). Kepunahan jenis. Pemanasan global pada kesempatan yang pertama merupakan pemicu punahnya sejumlah jenis, sementara bagian terbesar dari kepunahan tersebut berhubungan dengan transformasi permukaan bumi yang disebabkan oleh eksploitasi sumberdaya baik yang terbarukan dan tak terbarukan secara berlebihan.
(4). Ledakan penduduk dan kaitannya dengan kelangkaan air dan pangan. Dapat diramalkan bahwa dengan jumlah penduduk di dunia sebesar 8 milyar pada tahun 2020, dunia akan menghadapi persoalan dahsyat
dalam pasokan air dan pangan. Air dan pangan akan menjadi sumber utama konflik antar negara dan wilayah, sebagaimana yang tengah kita saksikan secara sporadis di berbagai bagian dunia dewasa ini.
(5). Berkembangnya kaum urban. Sehubungan dengan gerakan urbanisasi penduduk ke kota-kota besar dunia, berbagai megalopolis raksasa kerap kali lebih merasakan pertautan di antara mereka sendiri ketimbang dengan negara asal dimana mereka berada.
Adanya kelima faktor tersebut di atas juga berperan dalam pelestaraian sumberdaya alam. Peran dari kelompok pesimistis semakin menguatkan agar perlunya menjaga dan melestarikan lingkungan. Salah satu bentuk upaya pelestarian lingkungan adalah Kebun Raya. Diantara sekian banyak obyek wisata yang ada di Kabupaten Cianjur, Kebun Raya Cibodas (KRC) salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi. Potensi yang dimiliki KRC sangat besar, diantaranya adalah pemandangan yang indah dan kualitas udara yang sejuk dan bersih. Lokasi KRC yang strategis menjadikannya potensial untuk dikunjungi.
Obyek wisata merupakan salah satu barang publik, artinya fasilitas yang ada di lokasi tersebut dapat digunakan secara bersama oleh banyak pelaku ekonomi. Barang publik adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak mengurangi konsumsi orang lain terhadap barang tersebut. Barang publik yang berkaitan dengan lingkungan antara lain adalah udara segar, pemandangan yang indah, rekreasi, air bersih, kenyamanan dan yang sejenisnya. Kebun Raya Cibodas termasuk ke dalam barang publik karena memenuhi ciri-ciri tersebut.
Rekreasi dalam suatu kawasan, dalam hal ini KRC, dapat dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang permintaan yang diwakili oleh pengunjung. Pengunjung yang datang ke KRC ingin menikmati kegiatan rekreasi dan merasakan kenyamanan, keindahan alam, udara yang bersih dan lain-lain.
Permasalahan yang timbul dari sudut pandang ini adalah terkadang pengunjung masih mempunyai apresiasi yang rendah terhadap sumberdaya alam. Contohnya, pengunjung ingin membayar murah dan terkadang berperilaku yang negatif, seperti: vandalisme, membuang sampah sembarangan dan lain-lain. Padahal, jika apresiasi pengunjung cukup baik atau baik, mereka akan memperoleh kegiatan rekreasi yang bernilai edukatif. Sudut pandang yang kedua dari sisi penawarannya, dalam hal ini pihak pengelola. Pengelola tempat rekreasi harus dapat menawarkan tempat rekreasi dengan sebaik mungkin sehingga menarik untuk dikunjungi. Permasalahannya adalah pihak pengelola belum mampu mengapresiasi sumberdaya wisata dan belum bisa mengexplore sumberdaya yang terdapat dalam kasawan wisata. Pihak pengelola seharusnya bisa memberikan manfaat atau nilai lebih kepada pengunjung dengan menawarkan kawasan wisata yang meningkatkan nilai. Dengan adanya penilaian secara kuantitatif mengenai hal ini, maka diharapkan adanya alokasi sumberdaya secara optimal.
Gagalnya pasar dalam mengalokasikan barang publik ditentukan oleh tidak terdapatnya informasi yang harus dibayar oleh individu dalam menikmati barang publik atau rekreasi alam. Padahal informasi tersebut berguna dalam mengestimasi manfaat yang diterima dan biaya yang harus dikeluarkan. Ketidakmampuan pasar dalam menilai manfaat rekreasi secara kuantitatif, mengakibatkan alokasi sumberdaya alam dalam bentuk rekreasi belum optimal atau dapat diamanfaatkan secara berlebihan. Kesulitan ini dapat diatasi dengan pendekatan kurva permintaan berdasarkan willingness to pay dengan mentukan harga yang direfleksikan melalui kesediaan membayar dari setiap pemakai. Dengan menggunakan pendekatan biaya perjalanan, dapat diestimasi fungsi permintaan yang dapat menentukan nilai ekonomi demand suatu kawasan. Jika
dilihat dari sisi penawaran suatu rekreasi, dapat didekati dengan Total Economic Value.
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
(1) berapakah nilai Kebun Raya Cibodas berdasarkan jasa lingkungan?; (2) berapakah nilai Kebun Raya Cibodas berdasarkan nilai sumberdaya
hayati?;
(3) bagaimana penilaian pengunjung terhadap KRC, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan terhadap rekreasi dan berapa nilai ekonomi wisata?;
(4) apakah pengelolaan KRC efisien dan upaya apa saja yang seharusnya dilakukan oleh pihak pengelola agar alokasi sumberdaya wisata dapat optimal serta menduga nilai ekonomi KRC jika dilihat dari sisi penawarannya?.