• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ide-ide matematis yang terdapat dalam kehidupan berbudaya masyarakat Kampung Naga, dengan cara mengeksplorasi aktivitas budaya masyarakat Kampung Naga. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya ide-ide matematis terkait dengan kehidupan berbudaya masyarakat Kampung Naga yang ditemukan yaitu:

1. Secara praktik, masyarakat Kampung Naga dapat menentukan hari ke-a dengan cepat, membutuhkan asumsi yaitu diketahui satu hari yang digunakan sebagai acuan tertentu untuk menentukan hari ke-a nya.

a. Penentuan hari mingguan biasa

Misalkan akan dicari a hari ke depan, a , maka penentuan hari mingguan biasa dapat menggunakan aturan modulo 7, yaitu ab (mod 7), dengan b {0,1,2,3,4,5,6}, b adalah sisa hasil bagi yang di dipasangkan dengan masing-masing hari mingguan biasa dalam satu minggu yaitu: hari pertama acuan = 1;

hari kedua acuan = 2; hari ketiga acuan = 3; hari keempat acuan = 4 hari kelima acuan = 5 hari keenam acuan = 6; hari ketujuh acuan = 0. b. Penentuan hari minggu pasaran

Misalkan akan dicari a hari ke depan, a , maka penentuan hari mingguan pasaran dapat menggunakan aturan modulo 5, yaitu

98

Adhina Mentari Ashri, 2014

Ethnomathematics Sebagai Suatu Kajian Dalam Mengungkap Ide Matematis Pada Sistem Penanggalan Masyarakat Kampung Naga

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

ab (mod 5), dengan b {0,1,2,3,4}, b adalah sisa hasil bagi yang di dipasangkan dengan masing-masing hari minggu pasaran dalam satu minggu yaitu:

hari pasaran pertama = 1; hari pasaran kedua = 2; hari pasaran ketiga = 3; hari pasaran keempat = 4 hari pasaran kelima = 0.

2. Ide matematis yang muncul ketika menentukan aktivitas bertani dengan asumsi: telah ditentukannya suatu hari yang tidak termasuk nahas wedal dan nahas kolot dalam suatu tahun. Kemudian, misalkan n adalah jumlah dari naktu hari mingguan biasa yang dipilih (m) dan naktu pada hari mingguan pasaran yang dipilih (p), kemudian dinyatakan n = m +p,

n dan . Lebih lanjut, gunakan aturan modulo 3, yaitu nq (mod 3), q {0,1,2}, q adalah sisa hasil bagi.

Setelah perhitungan dilakukan, dapat ditafsirkan jika q = 0, maka diartikan bahwa hari yang dipilih tidak boleh digunakan untuk aktivitas tandur/menanam padi. Jika q = 1, diartikan bahwa hari yang dipilih dikatakan bagus untuk menanam padi/tandur sedangkan jika q = 2 diartikan bahwa hari yang dipilih dikatakan bagus untuk memanen padi. 3. Penentuan hari baik yang hanya memperhatikan nahas wedal dapat

digambarkan dengan sebuah matriks.

B. Saran

Melalui penelitian ini, penulis menyampaikan saran/rekomendasi yakni sebagai berikut:

1. Kepada warga masyarakat Kampung Naga, penelitian ini memberikan rekomendasi bahwa kearifan lokal masyarakat Kampung Naga mengandung ide matematis sehingga perlu untuk dibuat dokumen tertulisnya agar dapat menjadi bukti sejarah/artefak.

99

Adhina Mentari Ashri, 2014

Ethnomathematics Sebagai Suatu Kajian Dalam Mengungkap Ide Matematis Pada Sistem Penanggalan Masyarakat Kampung Naga

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

2. Kepada matematikawan, penelitian ini dapat memberikan rekomendasi bahwa sistem penanggalan masyarakat Kampung Naga layak dipandang sebagai salah satu hal yang memiliki keterkaitan dengan matematika. Keterkaitan itu dapat dilihat dari cara berpikir, membuat kesimpulan, dan sebagainya hingga pada model matematika yang diperoleh berdasarkan penelitian ini.

3. Kepada peneliti ethnomathematics selanjutnya yang mengkaji sistem penanggalan masyarakat Kampung Naga diharapkan dapat mengungkap sistem penanggalan ini terkait dengan bangsa lain seperti penanggalan Cina.

Adhina Mentari Ashri, 2014

Ethnomathematics Sebagai Suatu Kajian Dalam Mengungkap Ide Matematis Pada Sistem Penanggalan Masyarakat Kampung Naga

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR PUSTAKA

Alangui, W. V. (2010). Stone Walls and Water Flows: Interrogating Cultural Practice and Mathematics. Doctoral Dissertation, University of Aucland, Aucland, New Zealand: Unpublished.

Ary, Jacobs, Sorensen & Razavieh (2010). Introduction to Research in Education (8th Edition).Weadworth Cengage Learning: USA.

Ascher, M and Ascher, R. (1997). “Ethnomathematics” dalam Ethnomathematics Challenging Eurocentrism in Mathematics Education. Albany: State

University of New York Press.

Atkinson, P. & Hammersley, H. (2009). Etnografi dan Observasi Partisipan. In Denzin, N.K. & Lincoln, Y.S. (Eds.). (2009). Handbook of Qualitative Research. Sage Publication: Thousand Oaks.

Barton, W.D. (1996). Ethnomathematics: Exploring Cultural Diversity in Mathematics. A Thesis for Doctor of Philosophy in Mathematics Education University of Aucland: Unpublished.

Bishop, A. J. (1997). Educating the mathematical enculturators (Paper presented at ICMI China Regional Conference, Shanghai, China, August 1994). Papua New Guinea Journal of Teacher Education, 4(2), 17-20.

Borba, M.C. (1997). “Ethnomathematics and Education” dalam

Ethnomathematics Challenging Eurocentrism in Mathematics Education. Albany: State University of New York Press.

Bjarnadotir, K. (2010). A Pagan Calendar. [Online]. Tersedia: http://nasgem.rpi.edu/files/1776. [17 September 2013].

Creswell, J. W (2009). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Sage Publications, Inc. : Thousand Oaks.

Darwis, R. (2008). Hukum Adat. Bandung: Laboratorium PKn Universitas Pendidikan Indonesia.

Ekadjati (2004). “Paguyuban Pasundan Sebuah Kebangkitan Kembali Orang Sunda” dalam Fatimah in West Java Moral Admonitions to Sundanese

101

Adhina Mentari Ashri, 2014

Ethnomathematics Sebagai Suatu Kajian Dalam Mengungkap Ide Matematis Pada Sistem Penanggalan Masyarakat Kampung Naga

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Eves, Howard. (1953). An Introduction to The History of Mathematics. (Third Edition). United States of Amerika : Holt, Rinehart and Winston. Inc.

François, K. (Tanpa Tahun). Ethnomathematics as a Human Right I. [Online]. Tersedia:http://people.exeter.ac.uk/PErnest/pome26/Francois%20Ethnomathe matics%20as%20a%20Human%20Right.docx. [7 November 2013]

Firdaus, J. (2013). “Analisis Penanggalan Sunda dalam Tinjauan Astronomi”.

Skripsi pada Prodi Ilmu Falak IAIN Walisongo Semarang: Tidak Diterbitkan

Gerdes, P. (1996). “Ethnomathematics and Mathematics Education” dalam

International Handbook of Mathematical Education. Dordrecht: Kluwer Academic Publiser.

Gerdes, P. (1997). “Survey of Current Work on Ethnomathematics” dalam

Ethnomathematics Challenging Eurocentrism in Mathematics Education. Albany: State University of New York Press.

Joseph, G. G (1997). “Foudations of Eurocentrism in Mathematics” dalam

Ethnomathematics Challenging Eurocentrism in Mathematics Education. Albany: State University of New York Press.

Koentjaraningrat. (2011). Pengantar Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta.

Marwoto, B.J. (2008). Kamus Latin Populer. Penerbit Buku Kompas: Jakarta.

Moleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Rosdakarya.

Mudzakkir, A. (2012). Antara Masyarakat Adat dan Umat: Masyarakat Kampung Naga dalam Perubahan. [Online]. Tersedia:

http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/30429769/Antara_Masyar akat_Adat_dan_Umat.pdf.

Mukhopadhyay,S. And Greer,B. (2013).Can ethnomathematics Enrich Mathematics Education?. [Online]. Tersedia:

http://episteme.hbcse.tifr.res.in/index.php/episteme5/5/paper/download/ 176/442 [7 November 2013].

Mulyana, D. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rosdakarya: Bandung.

Nugraha, A. (2011). Chapter I. [Online]. Tersedia:

102

Adhina Mentari Ashri, 2014

Ethnomathematics Sebagai Suatu Kajian Dalam Mengungkap Ide Matematis Pada Sistem Penanggalan Masyarakat Kampung Naga

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Nursyahida, S. (2013). “Hukum Waris Adat Baduy: Mengungkap Kearifan

Budaya Lokal dan Matematika”. Skripsi pada jurusan Pendidikan Matematika

UPI Bandung: Tidak Diterbitkan.

Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam. (1981). Almanak Hisab Rukyat. Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama. Jakarta: Departemen Agama.

Peard, R. (1996). “Ethnomathematics” dalam Review of Mathematics Education

in Australia 1992-1995 Bill Atweh, Ed. Washington, D.C: ERIC Clearinghouse.

Powell, A.B and Frankenstein, M. (1997). “Considering Interactions Between Culture And Mathematical Knowledge” dalam Ethnomathematics

Challenging Eurocentrism in Mathematics Education. Albany: State University of New York Press.

Richards, E.G. (1999). Mapping Time: The Calendar and Its History. Oxford University Press: New York.

Riduwan. (2011). Belajar Mudah Penelitian. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Rofiq, A. (2007). Fiqh Hisab Rukyah. Jakarta: Erlangga.

Savitri, M.H. (2011). “Kajian Tentang Nilai- Nilai Budaya Adat Kampung Naga Dan Dikaitkan Dengan Ketaatan Masyarakat Dalam Membayar Pajak Bumi

dan Bangunan”. Skripsi pada jurusan Pendidikan Kewarganegaraan UPI

Bandung: Tidak Diterbitkan.

Saringendyanti, E. (2008). Kampung Naga, Tasikmalaya Dalam Mitologi: Upaya Memaknai Warisan Budaya Sunda. [Online]. Tersedia:

http://repository.unpad.ac.id/bitstream/handle/123456789/1766/

kampung_naga_tasikmalaya_dalam_mitologi.ps?sequence=2. [20 Oktober 2013].

Sirate, F. (2011). “Studi Kualitatif Tentang Aktivitas Etnomatematika Dalam Kehidupan Masyarakat Tolaki” [Online]. Tersedia:

www.uin-alauddin.ac.id/detailjurnal-20.html.

Spradley, J. (2007). Metode Etnografi (Penerjemah: Elizameth. M. Z., dari The Ethnographich Interview) edisi II. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Suganda, H. (2006). Kampung Naga Mempertahankan Tradisi. Bandung: Penerbit PT. Kiblat Buku Utama.

103

Adhina Mentari Ashri, 2014

Ethnomathematics Sebagai Suatu Kajian Dalam Mengungkap Ide Matematis Pada Sistem Penanggalan Masyarakat Kampung Naga

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Turmudi. (2010). “Mengurangi Rasa Cemas Belajar Matematika dengan Menampilkan Matematika Eksploratif untuk Merangsang Siswa Belajar”.

Dokumen terkait