• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :

1. Terdapat galur-galur F5 sorgum yang memiliki keragaan lebih baik dari kedua tetua.

2. Terdapat beberapa galur yang memiliki daya hasil lebih baik dari rata-rata populasi F5.

3. Diperoleh 15 galur terbaik hasil seleksi berdasarkan bobot biji per malai, bobot per 1000 biji, dan panjang malai.

Saran

Galur-galur ini disarankan untuk dilanjutkan dalam pengujian daya hasil berulang.

Alnopri. 2004. Variabilitas genetik dan heritabilitas sifat-sifat pertumbuhan bibit tujuh genotipe kopi robusta-arabica. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia 6(2):91-96.

Aji, J. M. M. 2008. Diversifikasi saja tidak cukup. http://celebrity.okezone.com. [21 maret 2011].

Beti, Y. A., A. Ispandi dan Sudaryono. 1990. Sorgum. Monografi balai penelitian tanaman Malang No. 5. Malang.

Brewbaker. J. L. 1964. Agricultural Genetics. PRETINCE-HALL. USA

Bullard, R. W. and J. O. York. 1985. Breeding for bird resistance in sorghum and maize. In G. E. Russel (Ed.). Progress in plant breeding 1. Butterworthand Co. Ltd. London. 325 p.

Carter, P. R. Hicks, D. R. Oplinger, E. S. Doll, J. D. Bundy, L. G. Schuler, R. T. & Holmes, B. J. 1989. Sorghum-Grain (Milo), http://corn.agronomy.wisc.edu/AlternativeCrops/sorghumGrainhtm.

Accesed date 5/12/2011.

Clark, J. C. 1959. The prehistory of southern Africa. Penguin Books, Harmondsworth, Middlesex, England.

DEPKES RI., Direktorat Gizi. (1992). Daftar Komposisi Bahan Makanan. Penerbit Bhratara-Jakarta. 57p.

Dogget, H. 1970. Sorghum. Longman, London.

Elrod. S and Stansfield. 2002. schaum’s outlines of Theory and Problems of GENETICS, FOURTH EDITION. McGraw-Hills. Newyork. page 183.

FAO, Agricultural Department. (2002). Sweet Sorghum in China. World Food Summit, 10-13 June 2002. http//www.fao.org/ag

Hagerty, M. J. 1941. Comments on writings concerning Chinese sorghums. Harvard J. Asiatic Studies 5, 234-260.

Harlan, J.R., 1992. Crops and Man. Madison, Wisconsin, CSSA, lnc pp 272.

Hayward M.D, Bosemark. N. O, and Romagosa. I. 1993. Plant Breeding Principles and Prospects. Chapman & Hall. London. page 172.

32

Helena, D. 2000. Pengaruh Jarak Tanam Dalam Tumpang Sari Kedelai (Glycine max (L.) Merril) Dengan Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench.) Terhadap Pertumbuhan dan Produksi. Jurusan budidaya pertanian. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor.

Hoeman, S. 2008. Prospek dan potensi sorgum sebagai bahan baku bioetanol. http://energi.bsl-online.com/archive/1.html. [20 maret 2011].

House, L. R. 1981. The sorghum plant. Growth stages and morphology’ dalam A guide to sorghum breeding, hal. 16-31. ICRISAT, Patancheru P.O. 502 324. India.

Hultquist, J. H. 1973. ‘Physiologic and morphologic investigation of sorghum

(Sorghum bicolor (L.). 1. Vascularisation. II. Response to internal drough

stress’. PhD Thesis, University of Nebraska, Lincoln, Nebraska, USA.

Ismail, G. I. dan A. Kodir. 1977. Cara bercocok tanam sorgum. Buletin tekni lembaga pusat penelitian pertanian Bogor (2). 1-9.

Jonathan, S. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Graha Ilmu.Yogyakarta.

.

Kramer, N. W. & Ross, M. W. 1970. Cultivation of Grain Sorghum in united states. In Wall, J. S. & Ross, M. W. (Eds). Sorghum Production and Utilization. AVI Publishing Co. Inc. USA.

Kuswaraharja, D. 2008. 36 Negara terkena krisis pangan termasuk Indonesia. http://www.detikfinance.com. [20 maret 2011].

Laimeheriwa, J. 1990. Teknologi budidaya sorgum. Departemen Pertanian. Balai informasi pertanian. Irian Jaya.

Leonard, W. H. & Martin, J. H. 1963. Cereal Crops. The Macmillan Company, USA, Pp679-735.

Martin, J. H. 1970. History and classification of sorghum. In J. S. Wall and W. M. Ross (Eds.). Sorghum production and utilization. The Avi Publishing Co. Inc. Westport Connecticut. 702 p.

Metcalfe, D. S. & Elkins, D. M. 1980. Crop Production: Principles and Practises. Macmillan Publishing co. Inc. NewYork.

Miller, E. C. 1916. Comparative study of the root systems and leaf area of corn

Peacock, J. M. 1979. ‘The effect of water on a growth, development dan yield of

sorghum ( Sorghum bicolor) CV. RS 610’, dalam Dryland farming research scheme (DLFRS) Botswana. Final scientific report phase II. Sorghum physiology and crop climate studies, hal. 29-52. Govermnment printer, Gaberones.

Prihandana, R. dan Hendroko. R. 2008. Energi hijau. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pujaningsih, R. I dan Mukodiningsih, S. 2002. Peningkatan Utilitas Biji Sorgum Dengan Perlakuan Pemanasan. Laporan Akhir. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro. Hal 1.

Purwanto, D. 1986. Pengujian Galur Sorghum (Sorghum bicolor (L.) Moench) pada dua tingkat pemupukan nitrogen. Jurusan budidaya pertanian. Fakultas pertanian Institut Pertanian Bogor.

Puspitasari, W. 2011. Pendugaan Parameter Genetik dan Seleksi Karakter Agronomi dan Kualitas Sorgum di Lahan Masam. Skripsi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Reddy, B.V.S., J.W. Stenhouse, and H.F.W. Rattunde. 1995. Sorghum Grain Quality Improvement for Food, Feed and Industrial Uses. Edisi Khusus Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian No. 4-

1995: 39−52.

Rismunandar. 1989. Sorgum tanaman serba guna. Sinar baru. Bandung. 62 hal.

Rukmana, H dan Y. Oesman. 2001. Usaha tani sorgum. Kanisius. Jakarta. 40 hal.

Singh RK, Chaudary. 1979. Biometrical methods in quantitative genetic analysis. New Delhi: Kalyani Publisher.

Stanfield WD. 1983. Theory and problem of genetic. Ed ke-2. Newyork: McGraw-Hill.

Steenis, C. G. G. J. Van. 1975. Flora. Pradnya Paramita. Jakarta. 495 hal.

Sumarno dan S. Karsono. 1996. Perkembangan produksi sorgum di dunia dan penggunaannya. Risalah Simposium Prospek Tanaman Sorgum untuk

pengembangan agroindustri, 17−18 Januari 1995. Edisi Khusus Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian No. 4-1996:

13−24.

Sungkono, Trikoesoemaningtyas, D. Wirnas, D. Sopandie. S. Human. M. A. Yudiarto. 2009. Pendugaan parameter genetik dan seleksi galur mutan sorgum (Sorhum bicolor (L.) Moench) di Tanah Masam. J. Agron. Indonesia. 37 (3) : 220 – 225.

34

Surya, M. I. 2007. Evaluasi Keragaman Genetik Tanaman Sorgum Manis (Sorghum bicolor L.) Hasil Radiasi Sinar Gamma Pada Generasi ke- 2(M2). Skripsi. Fakultas Matematika dan IPA UI. Jakarta.

Thomas J. C., K. W. Brown and W. R. Jordan. 1976. ‘Stomata response to leaf water potential as affected by preconditioning water stree in the field’,

Agron. J., 68: 706-708.

Vogel, S. and M. Graham. 1979. Sorghum and Millet: Food Production and Use. Int. Dev. Res. Cent. Pub. IDRC, Canada.

36

Lampiran 1. Deskripsi Varietas Numbu (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009)

No silsilah : -

Asal : India

Umur Berbunga : 69 hari Umur Panen : 100-105 hari Tipe Tanaman : Tidak beranak

Bentuk daun : Pita

Panjang daun : -

Lebar daun : -

Panjang Malai : 22-23 cm Jumlah daun/batang : 14 helai Tinggi tanaman : 187 cm

Tipe malai : Berbentuk elip, tegak, kompak, warna krem Sifat sekam : Warna coklat muda menutup sepertiga bagian biji Bobot biji/malai : -

Bobot 100 butir : 3,6-3,7 g

Sifat biji : Mudah dirontok dan disosoh, bentuk bulat lonjong Hasil rata-rata : 3,11 t/ha

Potensi hasil : - Kadar protein : 9,12 % Kadar phospor : - Kadar lemak : 3,94 % Kadar karbohidrat : 84,58 % Rasa : -

Ketahanan hama : Tahan Aphis Ketahanan Penyakit : Tahan karat

Keterangan : Dapat ditanam dilahan sawah dan tegalan

Pemulia : Sumarny Singgih, Muslimah Hamdani, Marsum M. Dahlan, Rosalina Amir dan Sahrir Mas’ud Instansi pengusul : -

Lampiran 2. Deskripsi Varietas UPCA-S1 (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009)

No silsilah : 56B

Asal : Filipina

Umur Berbunga : 55-60 hari Umur Panen : 90-100 hari

Tipe Tanaman : Tidak beranak, tidak bercabang, berbatang kokoh, dan tahan rebah

Warna daun : Hijau cerah Panjang daun : 50-70 cm

Lebar daun : 7-9 cm

Panjang Malai : 20-22 cm Jumlah daun/batang : 13-15 helai Tinggi tanaman : 140-160 cm

Tipe malai : Setengah kompak, tegak, berbentuk elip

Sifat sekam : Warna hitam, menutup sepertiga bagian biji dan berbulu halus

Bobot biji/malai : 40 g Bobot 100 butir : 2,4 g

Sifat biji : Warna putih kapur, bentuk bulat, mudah dirontok dan disosoh

Hasil rata-rata : 4,0 t/ha Potensi hasil : - Kadar protein : 9,0 % Kadar phospor : 0,116 Kadar lemak : 5,7 % Kadar karbohidrat : 66,5 % Kadar kalsium : 0,091 % Kadar magnesium : 0,205 % Kadar tanin : 0,215 % Rasa : kurang

Keterangan : Cocok untuk lahan dataran rendah, pH netral, banyak berkembang di Jawa Tengah

Instansi pengusul : - Tahun dilepas : 1985

38

Lampiran 3. Layout Penelitian di Kebun Percobaan Leuwi Kopo

111-6 115-8 159-4 29-7 50-11 126-4 105-7 123-5 161-3 x-5 40-9 153-6 131-11 UPCA-S1 163-4 3-18 37-8 141-7 132-13 93-10 168-16 1-7 48-11 145-15 104-15 121-1 NUMBU NUMBU 31-20 82-4 NUMBU 127-7 167-17 4-3 36-3 152-21 132-11 NUMBU 161-10 79-13 41-2 148-17 133-6 121-11 167-20 47-5 2-16 NUMBU 133-3 107-13 UPCA-S1 7-6 15-1 NUMBU 132-7 117-19 163-18 70-4 NUMBU 73-4 132-18 93-5 76-2 24-15 152 150-14 UPCA-S1 136-16 82-3 153-11 30-3 x-18 109-7 133-11 NUMBU 161-7 74-2 138-9 151-7 139-19 88-6 UPCA-S1 164-1 158-10 146-12 114-1 82-25 163-19 11-6 145-17

UPCA-S1 UPCA-S1 83-10 150-22 26-9 UPCA-S1

144-8 124-5 85-13 152-20 45-14 78-3 137-17 103-6 UPCA-S1 166-7 NUMBU 46-1 141-2 122-6 86-4 145-9 16-13 20-8 142-13 99-7 91-8 161-4 26-8 79-1 140-12 118-3 86-4 NUMBU 13-1 54-20 141-8 101-9 91-5 146-9 1-13 48-4 141-13 138-15 98-9 169-13 1-9 59-6 98-19 311-16 91-7 140-15 12-12 65- 97-10 132-8 89-21 UPCA-S1 UPCA-S1 79-17 NUMBU 130-6 90-5 162-19 10-6 UPCA-S1 142-9 NUMBU 73-2 156-7 8-22 54-15 142-3 130-10 94-7 154-15 UPCA-S1 13-7

Latar Belakang

Beberapa tahun ini, tanaman pangan mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah karena isu global krisis pangan yang terjadi di beberapa negara berkembang. Bahkan pada tahun 2008 berdasarkan pantauan Badan Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) Indonesia termasuk salah satu negara yang mengalami krisis pangan dari 36 negara yang tersebar di Asia, Afrika, dan Eropa (Kuswaraharja, 2008). Krisis pangan ini mengakibatkan kenaikan harga beberapa komoditas pangan dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, pada tahun 2008 harga beras berkisar Rp. 5.376-5.501/kg dan melonjak pada Februari 2009 Rp. 5.736. Harga beras meningkat dari tahun ke tahun hingga pada Februari 2010 harga beras sudah mencapai 7.409/kg. Kenaikan harga ini juga terjadi pada beberapa komoditas tanaman pangan lainnya seperti jagung, kedelai, kentang, dan lain-lain. Meskipun terhitung sejak Oktober 2010 Indonesia tidak lagi termasuk dalam daftar 22 negara yang mengalami krisis pangan, Indonesia tetap tidak bisa dikatakan bebas dari ancaman krisis pangan karena Indonesia adalah negara berpenduduk besar. Harga komoditas pangan bersifat fluktuatif akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Hal ini merupakan ancaman nyata bagi ketahanan pangan Indonesia.

Diversifikasi pangan merupakan salah satu jawaban dari permasalahan ini. Diversifikasi pangan telah dicanangkan sejak tahun 1970. Diversifikasi menempati urutan teratas pada sektor pertanian disusul dengan intensifikasi dan ekstensifikasi pada Repelita IV (Aji, 2008). Dalam perjalanannya, pemerintah lebih menekankan pada pentingnya swasembada beras yang kemudian tercapai pada tahun 1984. Kondisi ini mengakibatkan terbentuknya paradigma beras sebagai makanan pokok bangsa Indonesia dan menyebabkan beberapa potensi pangan lokal tergerus oleh beras. Serbuan beras sebagai makanan pokok utama menyebabkan masyarakat menjadi tergantung pada beras hingga saat ini.

Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench) merupakan tanaman pangan yang komposisi nutrisinya tidak kalah dibandingkan beras maupun tanaman serealia lainnya seperti, jagung, dan ubi kayu. Meskipun tanaman ini berasal dari luar

2

Indonesia, namun prospek pengembangannya masih sangat potensial karena kondisi agroekologis dan ketersediaan lahan yang mendukung. Sorgum dibawa kolonial belanda masuk ke Indonesia pada tahun 1925, tetapi perkembangannya baru terlihat pada tahun 1970-an. Penyebabnya adalah minimnya produksi pangan khususnya beras pada tahun 1960 sehingga pemerintah mulai serius mengembangkan komoditas sorgum. Hasilnya pada tahun 1970-an pemerintah melepas beberapa varietas unggul sorgum seperti UPCA-S2, NO. 6C, dan KD4. Membaiknya perekonomian Indonesia setelah tahun 1970 membuat sorgum kembali terlupakan oleh masyarakat, karena penanamannya hanya dilakukan oleh masyarakat secara terbatas untuk keperluan sendiri.

Hingga saat ini terdapat 10 varietas unggulan sorgum yang telah dilepas oleh pemerintah melalui kementrian pertanian diantaranya : No. 6C, UPCA-S2, KD4, Keris, UPCA-S1, Badik, Hegari Genjah, Mandau, Sangkur, dan Numbu (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian 2009). Masing-masing varietas tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Potensi hasil sorgum di Indonesia mencapai 1,14 ton/ha. Bila faktor lingkungan bukan menjadi faktor pembatas, potensi hasil sorgum dapat melebihi 11 ton/ha dengan rata-rata hasil antara 7-9 ton/ha (Hoeman, S. 2008). Oleh karena itu masih diperlukan penelitian dan pengembangan lebih lanjut untuk dapat menghasilkan varietas-varietas sorgum dengan potensi hasilnya lebih baik.

Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB telah memulai upaya pengembangan sorgum varietas baru sejak beberapa tahun lalu melalui persilangan tanaman. Hingga saat ini dari persilangan yang dilakukan antara varietas UPCA-S1 dan Numbu telah menghasilkan 150 galur sorgum (F5). Galur- galur yang dihasilkan perlu diseleksi untuk mendapatkan informasi tentang potensi hasil dan keragaan karakter yang ada pada setiap galur tersebut.

Tujuan

1. Memperoleh informasi keragaan karakter agronomis galur-galur F5 Sorgum 2. Menguji daya hasil 84 galur F5 sorgum hasil persilangan varietas Numbu x

UPCA-S1

Hipotesis

1. Diduga terdapat perbedaan keragaan karakter agronomis di antara galur-galur yang diuji

2. Diduga terdapat perbedaan daya hasil di antara galur-galur yang diuji

3. Diduga terdapat beberapa galur yang memiliki karakter agronomis dan potensi hasil yang lebih baik dari kedua tetuanya

Dokumen terkait