Botani dan asal usul Sorgum
Sorgum termasuk tanaman serealia semusim. Dalam klasifikasi tanaman, sorgum termasuk dalam kelas monocotyledoneae, famili poaceae, subfamili panicoideae dan genus andropogon (Rukmana dan Oesman, 2001). Asal muasal dan budidaya sorghum seperti tanaman lainnya tidak diketahui dengan pasti (Martin, 1970). Sorghum mungkin merupakan salah satu tanaman yang pertama kali didomestikasi dalam sejarah umat manusia, karena merupakan tanaman penting di dunia jauh sebelum abad pertama (Leonard dan Martin, 1963). Beberapa bukti menunjukkan bahwa tanaman sorgum sudah ada di Timur Afrika (Ethiopia atau Sudan) sejak zaman prasejarah antara 5000-7000 tahun yang lalu. Penyebarannya mencapai Bostwana pada abad ke-10, Zambia pada abad ke-14 (Clark 1959), dan Afrika Selatan pada abad ke-16. Produksi sorgum menyebar melewati Asia selatan hingga mencapai Cina pada abad ke-13 (Hagerty 1941).
Tanaman Sorgum
Menurut Metcalfe dan Elkins (1980) dan Carter et al. (1989) bentuk tanaman, model pertumbuhan, dan tampilan secara umum tanaman sorgum mirip seperti tanaman jagung atau serealia lainnya. Dogget (1970) dan House (1981) menguraikan, biji sorgum kurang lebih berbentuk bola dengan ujung tumpul. Perikarp dan testa menjadi satu, beraneka ragam warnanya dari putih jernih, atau kuning pucat sampai berbagai tingkat warna merah dan cokelat dan sampai cokelat keunguan tua. Dogget (1970) juga melaporkan daun sorgum biasanya terdapat secara berselang dalam dua baris pada sisi-sisi batang yang berlawanan dan masing-masing terdiri atas suatu pelepah dan helaian. Ukuran daun meningkat dari bawah (pertama ketika mulai tumbuh) ke atas umumnya sampai daun ketiga atau keempat kemudian menurun sampai daun bendera (Martin, 1970). Jumlah daun pada saat dewasa berkorelasi dengan panjang periode vegetatif tetapi, umumnya berkisar antara 7-18 helai daun atau lebih (Leonard dan Martin, 1963).
Rismunandar (1989) mendeskripsikan batang tanaman sorgum tegak, lurus berbentuk silindris, beruas-ruas dan berbuku-buku. Setiap ruas mempunyai alur
yang letaknya berseling seling. Batangnya padat, walaupun bagian tengah dapat menjadi seperti bunga karang, dengan ruang-ruang dalam empulur (Dogget 1970) dan Hultquist (1973). Empulurnya mungkin manis atau tawar, dan berair atau kering (House, 1981). Beberapa varietas sorgum ada yang bercabang atau beranak (Steenis, 1975). Menurut Martin (1970) banyakya cabang anakan yang berkembang tergantung pada faktor genetik, jarak tanam, kelembapan tanah, kesuburan tanah, fotoperiode, vigor tanaman dan waktu. Dogget (1970) menyebutkan ruas paling atas yang memikul malai adalah tangkai malai dan selalu merupakan ruas paling panjang. Berdasarkan kepadatannya malai bisa terbuka (lax), semi tertutup (semikompak) dan tertutup (kompak) (Martin, 1970).
Sistem perakaran sorgum terdiri dari akar-akar primer dan sekunder yang panjangnya hampir dua kali panjang akar jagung pada tahap pertumbuhan yang sama (Miller, 1916) sehingga merupakan faktor utama penyebab toleransi sorgum terhadap kekeringan (Thomas dkk., 1976; Peacock, 1976). Menurut Dogget (1970), toleransi sorgum terhadap kekeringan disebabkan karena pada endodermis akar sorgum terdapat endapan silika yang berfungsi mencegah kerusakan akar pada kondisi kekeringan. Sorgum juga efisen dalam penggunaan air karena didukung oleh sistem perakaran sorgum yang halus dan letaknya agak dalam sehingga mampu menyerap air dengan cukup intensif (Rismunandar, 1989).
Ismail dan Kodir (1977) menyebutkan sorgum memiliki suatu kelebihan dibandingkan dengan tanaman serealia lainnya dalam hal ketahanan tehadap kekeringan. Karena sifat paling penting dari sorgum adalah mampu mentolerir curah hujan yang rendah, mampu hidup pada kondisi kekeringan yang terus menerus atau terputus putus, mampu hidup pada temperatur tinggi maupun kesuburan tanah yang rendah dan banjir (Bullard dan York, 1985).
Syarat tumbuh
Tanaman sorgum dapat tumbuh di daerah tropis maupun sub tropis dari dataran rendah hingga dataran tinggi yang mencapai ketinggian 1500 m dpl (Rismunandar, 1989). Apabila tanaman sorgum ditanam pada daerah yang berketinggian >500 m dpl tanaman sorgum akan terhambat pertumbuhannya dan memiliki umur yang panjang. Rukmana dan Oesman (2001) menambahkan bahwa
6
tanaman sorgum memerlukan suhu optimal berkisar 23-30oC, dengan kelembapan udara 20 % dan suhu tanah 25oC. Menurut Kramer dan Ross (1970), sorgum dapat bertahan pada kondisi panas lebih baik dibandingkan tanaman lainnya seperti jagung, namun suhu yang terlalu tinggi dapat menurunkan produksi biji.
Curah hujan yang diperlukan berkisar 375-425 mm/musim tanam dan tanaman sorgum dapat beradaptasi dengan baik pada tanah yang sering tergenang air pada saat turun hujan apabila sistem perakarannya sudah kuat. Laimeheriwa (1990) menyebutkan sorgum berproduksi baik pada lingkungan yang curah hujannya terbatas atau tidak teratur. Beti et al., (1990) menambahkan tanaman ini mampu beradaptasi dengan baik pada tanah yang sedikit masam (pH 5) hingga sedikit basa (pH 7,5).
Pemanfaatan
Di Indonesia sorgum juga disebut hermada, singkatan tanaman “harapan
masa depan”. Disebut demikian karena hampir semua bagian dari tanaman ini
dapat dimanfaatkan (Prihandana dan Hendroko 2008). Sorgum merupakan salah satu komoditi unggulan untuk meningkatkan produksi bahan pangan dan energi, karena keduanya dapat diintegrasikan proses budidayanya dalam satu dimensi waktu dan ruang (Sungkono, et al., 2009). Sorgum memiliki kandungan nutrisi yang tidak kalah dari tanaman pangan lain sehingga sangat berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan alternatif. Kandungan nutrisi pada sorgum dibandingkan komoditas serealia lainnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Unsur Nutrisi Lima Komoditas Pangan
Unsur Nutrisi
Kandungan/100 g
Beras Sorgum Singkong Jagung Kedele
Kalori (cal) 360 332 146 361 286 Protein (g) 6.8 11 1.2 8.7 30.2 Lemak (g) 0.7 3.3 0.3 4.5 15.6 Karbohidrat (g) 78.9 73 34.7 72.4 30.1 Kalsium (mg) 6 28 33 9 196 Besi (mg) 0.8 4.4 0.7 4.6 6.9 Posfor (mg) 140 287 40 380 506 Vit. B1 (mg) 0.12 0.38 0.06 0.27 0.93
Sorgum sebagai tanaman pangan dapat diolah menjadi makanan sejenis roti tanpa ragi misalnya chapati, tortila dan makanan sejenis roti dengan ragi misalnya injera, kisia, dosai. Sorgum juga dapat diolah menjadi makanan bentuk bubur kental misalnya to, tuwu, ugale, bagone, sankati dan makanan bentuk bubur cair misalnya ogi, ugi, amli, edi. Alternatif lain pengolahan sorgum adalah dalam bentuk makanan camilan, misalnya popsorgum, tape sorgum, emping sorgum dan sorgum rebus misalnya urap sorgum dan som (Vogel dan Graham 1979; Reddy et al. 1995).
Sorgum juga dapat menjadi subtitusi jagung sebagai bahan pakan ternak. Menurut Beti et al. (1990) dan ICRISAT (1994) dalam Reddy et al. (1995), sorgum dapat mengganti seluruh jagung dalam ransum pakan ayam, itik, kambing, babi, dan sapi tanpa menimbulkan efek samping. Namun perlu diperhatikan juga seberapa besar kandungan tannin pada sorgum yang digunakan sebagai pakan ternak. Kandungan tannin dalam biji sorgum menjadi faktor pembatas untuk digunakan dalam ransum ayam karena rasanya kurang disukai ternak, disamping itu tannin mengandung zat anti tripsin yang dapat menghambat laju pertumbuhan ternak (Pujaningsih dan Mukodiningsih 2002) Beberapa varietas sorgum memiliki batang yang mengandung gula (nira). Umumnya sorgum jenis ini memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap cekaman kekeringan.
Sorgum manis dikenal sebagai tanaman onta atau “a camel among crops” karena memiliki daya adaptasi yang luas dan sangat tahan terhadap kondisi lahan marginal seperti kekeringan, lahan masam, lahan salin dan lahan alkalin (FAO, 2002). Kandungan gula (nira) pada batang sorgum ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sirup dan bio ethanol. Pembuatan bio ethanol juga dapat menggunakan bahan baku biji sorgum. Menurut Somani dan Pandrangi (1993) dalam Sumarno dan Karsono (1996), setiap ton biji sorgum dapat menghasilkan 384 liter alkohol.