• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pariwisata Desa

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Setelah peneliti selesai melakukan penelitian terhadap permasalahan yang peneliti ajukan ini sebagai bahan penulisan skripsi ini, maka dapat diketahui beberapa inti sari dari beberapa bab yang telah dikerjakan, untuk kemudian dirumuskan ke dalam kesimpulan skripsi ini.

Adapun rumusan kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Desa Siallagan merupakan sebuah desa pariwisata yang dikembangkan oleh seorang pemilik desa tersebut, yang bernama Bapak Gading Siallagan. Desa Siallagan ini menjadi sangat menarik dikarenakan terdapat situs-situs bersejarah berupa Rumah Adat Batak Toba, Batu Kursi Parsidangan, Batu Eksekusi Pemenggalan Kepala, yang dikembangkan dalam industri kepariwisataan.

2. Dalam pengembangan kepariwisataan Desa Siallagan melibatkan sistem kekerabatan masayarakat Batak Toba. Yang dimana sistem kekerabatan tersebut terwujudkan melalui nilai-nilai dalihan na tolu.Di dalam dalihan na tolu tersebut terdapat pilar utamanya, yaitu sombah marhula-hula, manat mardongan tubu, dan elek marboru. Di dalam dalihan na tolu itu juga terdapat tiga kedudukan dalam masyarakat Batak Toba, yaitu hula-hula, dongan tubu, dan boru. Dengan dalihan na tolu jugalah diatur bagaimana seorang bersuku Batak Toba harus bertindak dan bersikap di dalam

127 Universitas Sumatera Utara masyarakat. Namun meskipun berbeda kedudukan di dalam adat dalihan na

tolu, tetapi sesungguhnya haruslah dianggap sejajar, dan tidak boleh ada yang dianggap lebih tinggi maupun lebih rendah drajatnya.

3. Sistem Kekerabatan dalihan na tolu juga turut ambil bagian di dalam pengembangan kepariwisataan Desa Siallagan, baik itu dalam bentuk narasi, interaksi, maupun atraksi. Pertama, sistem kekerabatan dalihan na tolu dalam bentuk narasi, terealisasikan ketika tour guide menyampaikan cerita atau sejarah tentang Desa Siallagan yang kehidupan masyarakat desanya begitu erat dengan nilai-nilai dalihan na tolu. Masyarakat yang tinggal di Desa Siallagan dari zaman dahulu hingga saat ini masih memegang teguh nilai-nilai dalihan na tolu. Meskipun pada zaman dahulu di dalam satu rumah itu bisa sampai empat keluarga, namun sangat jarang terjadi kekerasan atau konflik antar keluarga tersebut. Hal ini dikarenakan mereka yang mengaggap bahwa semuanya adalah saudara (terlepas dari mereka yang tinggal adalah bermarga Siallagan). Kedua, nilai-nilai dalihan na tolu pada saat berinteraksi berinteraksi dengan wisatawan-wisatawan yang datang ke Desa Siallagan.

Interaksi yang terjalin diantara mereka biasanya dimulai dengan menanyakan marga wisatawan tersebut untuk menentukan tutur yang akan dipakai untuk menyebutkan wisatawan itu, seperti tulang, amangboru, bapa tua, dan lain sebagainya. Namun, apabila wisatawan tersebut berasal dari luar etnis batak, maka ia akan diperlakukan dengan sangat baik layaknya seorang hula-hula yang harus disombah seperti pada dalihan na tolu. Ketiga, yaitu sistem

128 Universitas Sumatera Utara kekerabatan dalihan na tolu dalam bentuk atraksi adalah ketika dilakukannya

suatu acara di Desa Siallagan yang diperuntukkan kepada wisatawan yang datang berkunjung. Biasanya acara tersebut berupa tarian tortor yang disertai dengan gondang mula-mula, gondang sombah, gondang bebas, gondang olop-olop, dan gondang sitio-tio. Pada saat acara menortor itu para petugas wisata yang ada di Desa Siallagan tersebut akan memperlakukan wisatawan tersebut persis seperti perlakukan hula-hula seperti halnya di sombah (sembah) ketika sedang menari, dan lain sebagainya. Selain itu, nilai-nilai dalihan na tolu juga berperan sebagai pengendali sosial terkait kepariwisataan Desa Siallagan. Dengan nilai-nilai dalihan na tolu, konflik yang terjadi anatara Bapak Gading Siallagan selaku pemlik pariwisata Desa Siallagan dengans audaranya telah terselesaikan dengan jalan dibentuknya sebuah objek wisata bernama “Ojek Wisata Batu Sira”. Selain itu, nlai-nilai dalihan na tolu juga berperan dalam mengendalikan pendistribusian terkait pariwisata Desa Siallagan terhadap pemerintah setempat, yakni dengan dibangunnya sebuah dermaga wisata sebagai tempat untuk memperoleh distribusi pariwisata Desa Siallagan kepada pemerintah setempat.

4. Dalam pengembangan kepariwisataan Desa Siallagan juga terlibat upaya-upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak, diantaranya adalah pemerintah, dan masyarakat Desa Siallagan. Pertama, Pemerintah dengan berupaya untuk meningkatkan kepariwisataan Desa Siallagan dengan melakukan promosi terhadap pariwisata Desa Siallagan melalui media sosial, brosur, baliho,

129 Universitas Sumatera Utara spanduk, dan juga melalui pemutaran video front di bandara. Selain itu,

dilakukan juga penbuatan kelompok sadar wisata, perbaikan infrastruktur berupa akses jalan menuju Desa Siallagan, serta pembangunan dermaga kapal.

Selain itu juga dibentuk kelompok becak pariwisata, dan pelatiahan tour guide dan pelatihan bahasa Inggris, dan tidak lupa bantuan fisik berupa tong sampah, toilet, dan lain sebagainya. Dalam pengembangan pariwisata Desa Siallagan juga terlibat peran Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DPC Samosir yang juga turut mempromosikan pariwisata Huta Siallagan. Kedua, adalah upaya yang dilakukan oleh pemilik wisata dan masyarakat yang tinggal di Desa Siallagan dalam mengembangkan kepariwisataan Desa Siallagan adalah dengan melakukan pemilik hotel di Samosir untuk membawakan tamunya ke Desa Siallagan. Selain itu sikap yang baik dan perlakukan yang terhadap wisatawan juga menjadi salah satu langkah yang dilakukan oleh petugan pariwisata serta masyarakat Desa Siallagan untuk meningkatkan nilai kepariwisataan Desa Siallagan itu sendiri. lalu ada pula kegiatan pelatihan pembuatan souvenir yang bertujuan agar menambah penghasilan masyarakat desa. Serta adanya masayarakat desa yang menyediakan jasa transfortasi, jasa penginapan, serta jasa makanan yang turut melengkapi kebutuhan kepariwisataan Desa Siallagan.

5. Adapun sikap yang terjalin antara wisatawan dengan petugas kepariwisataan di Desa Siallagan serta dengan seluruh masyarakat yang tinggal di Desa Siallagan adalah baik adanya. Kebiasaan di Desa Siallagan, ketika wisatawan

130 Universitas Sumatera Utara yang berkunjung ke Desa Siallagan, maka mereka akan menyambut

kedatanganya, dengan menerapkan partuturan dalam masayarakat Batak Toba, yakni dengan menanyakan marga dari wisatawan tersebut, kemudian memberikan tutur penyapaan dalam Batak Toba, seperti tulang, amang tua, dan lain sebagainya. Selain itu, diterapkan pula kebudayaan Batak Toba untuk menyambut wisatawan tersebut, yaitu dengan melakukan tarian tor-tor disertai dengan gondang mula-mula, gondang sombah, gondang bebas, gondang olop-olop, dan gondang sitio-tio. Para wisatawan tersebut juga diperlakukan dengan sangat baik layaknya hula-hula di adat Batak Toba. Selain itu, di luar Desa Siallagan juga, masyarakat lokal memperlakukan baik para wisatawan, dengan bersikap ramah dan penuh kesopanan.

5.2. Saran

Dari kesimpulan diatas terdapat beberapa saran yang dapat dikemukakan sebagai masukan, antara lain:

1. Diharapkan untuk masyarakat yang tinggal di Desa Siallagan agar tetap mempertahankan dan melestarikan kebudayaan Batak Toba, serta menjaga nilai-nilai kekerabatan masyarakat yang diatur dalam dalihan na tolu, agar mampu menopang Desa Siallagan sebagai suatu destinasi pariwisata di Kabupaten Samosir.

2. Kepada pemilik dan pengelola Desa Siallagan agar mampu mengeksplorasi lagi kebudayaan-kebudayaan Batak Toba yang bernilai jual tinggi dalam pengembangan kepariwisataan Desa Siallagan, misalnya seperti tenun

131 Universitas Sumatera Utara tradisional ulos, dan makanan khas Batak Toba. Hal ini berguna agar kelak

Desa Siallagan benar-benar menjadi suatu desa yang hidup dengan keasrian budayanya.

3. Kepada pengelola Desa Siallagan serta masyarakat yang tinggal di sekitaran Desa Siallagan agar menjaga dan merawat situs-situs peninggalan yang ada di Desa Siallagan, seperti Rumah Adat, Batu Kursi Persidangan, dan Batu Ekseskusi Pemanggalan Kepala.

4. Kepada para pemilik usaha kuliner agar lebih memperknalkan kuliner khas Batak Toba kepada para wisatawan yang berkunjung, dan kepada pemilik usaha penginapan atau hotel agar menciptakan daya tarik hotel tersebut agar wisatawan datang untuk bertamu ke hotel tersebut, dan menjaga kenyamanan di hotel tersebut.

5. Kepada pemerintahan serta pihak-pihak lainnya agar lebih gencar lagi dalam memperkenalkan kebudayaan Batak Toba serta destinasi-destinasi wisata yang ada di Danau Toba, tidak terkecuali dengan pariwisata Desa Siallagan, Kabupaten Samosir.

132 Universitas Sumatera Utara DAFTAR PUSTAKA

Buku/Literatur :

Abdulsyani, A. M. SOSIOLOGI: Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara. 1993.

Brown, Redcliffe. Method in Social Anthropology. USA: The University of Chicago Press. 1958.

Buaton, Kleofine, Heru Purwadio. “Kriteria Pengembangan Kawasan Wisata Danau Toba Parapat, Sumatera Utara,” Jurnal Teknik ITS, I (2015), hal. 1-5.

Budianta, Eka. Toba dan Samosir Untuk Dunia. Jakarta: Badan Pelestari Pusaka Indonesia. 2011.

Causey, Andrew. Danau Toba. Medan: Bina Media Perintis, 2006.

Damanik, Janianton, et.al. Membangun Pariwisata Dari Bawah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2015.

Dwi, Ike. Pemasaran Pariwisata Yang Bertanggungjawab. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. 2011.

Koentjaraningrat. Sejarah Teori Antropologi 1. Jakarta: UI Press. 1980.

Marintan Dina. “Filosofi Bentuk Rumah Adat Batak”. Medan: Universitas Negeri Medan. 2018

Marpaung, Happy. Pengantar Pariwisata. Bandung: Alfabeta. 2002.

Pinata, I Gede, Putu G. Gayatri. “Sosiologi Pariwisata” Yogyakarta: ANDI Yogyakarta. 2005.

Rahardjo, Supratikno, Hamdi Muluk. Pengelolaan Warisan Budaya di Indonesia.

Bandung: Lubuk Agung, 2011.

Ratman, Dadang Rizki.“Äkselerasi Pembangunan Kepariwisataan Dalam Rangka Pencapaian Target 12 Juta Wisman dan 260 JutaWisnus 2016”. Jakarta:

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Investasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata. 2016.

Richardson, John, Martin Fluker. Understanding and Managing Tourism. Australia:

Pearson Education. 2004.

Sedarmayanti. Membangun & Mengembangkan Kebudayaan & Industri Pariwisata.

Bandung: PT. Refika Aditama, 2014.

Setiadi, Elly, Usman Kolip. PENGANTAR SOSIOLOGI: Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya. Jakarta:

Kencana. 2011.

Shri, Ahimsa, Heddy. Strukturalisme Levi-Srauss Mitos dan Karya Sastra.

Yogyakarta: Galang Press, 2001.

Sibarani, Robert. Masirimpa. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan, 2017.

Siswanto. Sumberdaya Arkeologi. Jawa Barat: Balai Arkeologi Jawa Barat. 2018 Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Penganar. Jakarta: Rajawali Pers. 2002.

Sparkes, Stephen, Signe Howell. The House in Southeast Asia. London: Routledge Curzon, 2003.

133 Universitas Sumatera Utara Taylor, Steven, Robert Bogdan. Introduction to Qualitative Research Methods.

United States of America: University Research Corporation. 1981.

Wardi, I Nyoman. “Pengelolaan Warisan Budaya Berwawasan Lingkungan: Studi Kasus Pengelolaan Living Monument Di Bali,” Jurnal Bumi Lestari, 8 (Agustus 2008), hal. 193-204.

134 Universitas Sumatera Utara Referensi dari Internet:

http://mywisatafaisal.blogspot.com/2016/02/huta-siallagan-samosir-tradisi.html

http://www.sumutprov.go.id/berita-lainnya/992-geopark-kaldera-toba-jadi-ikon-pariwisata-sumut

https://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan_adat_Batak_Toba https://id.wikipedia.org/wiki/Simanindo,_Samosir

https://www.tripadvisor.co.id/LocationPhotoDirectLink-g2301775-d338410-i58406267-Lake_Toba-North_Sumatra_Sumatra.html

135 Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN

Lampiran 1. Informan Penelitian Informan Kunci, antara lain:

1. Bapak Ojahan Tambunan (Kepala Desa Siallagan Pindaraya) 2. Bapak Gading J. Siallagan (Pemilik Wisata Desa Siallagan) Informan Pangkal, antara lain:

1. Ibu Lydia Siallagan (Staf Dinas Pariwisata untuk Desa Siallagan Pindaraya) 2. Ibu Tetty Naibaho (Kepala Bidang Seni Budaya, Museum, dan

Kepurbakalaan, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olah Raga Kabupaten Samosir)

3. Bapak Jefrianto Hutabalian (Kepala Seksi Kerjasama Pengelolaan Objek Wisata, Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir)

4. Bapak Ambarita (Tour Guide)

5. Bapak Juita Sinurat (Pedagang Souvenir) 6. Bapak Friston Siallagan (Pengrajin) 7. Ibu Yati br. Siallagan (Petugas Tiket) 8. Bapak Sondang Silalahi (Petugas Parkir) 9. Sbastian (Wisatawan Mancanegara) 10. Fuji Napitupulu (Wisatawan Domestik) 11. Petrick Siahaan (Wisatawan Domestik)

136 Universitas Sumatera Utara Lampiran 2. Interview Guide

Paduan wawancara penelitian:

SISTEM KEKERABATAN DALAM PENGEMBANGAN SITUS DI DESA