• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem Kekerabatan Masyarakat Desa Siallagan

KEBERADAAN DESA SIALLAGAN PINDARAYA SEBAGAI DESTINASI WISATA DI DANAU TOBA

9. Permainan Rakyat a. Marsukkil

3.3.2. Sistem Kekerabatan Masyarakat Desa Siallagan

Sistem kekerabatan pada masyarakat batak Toba memiliki dua jenis, yaitu kekerabatan yang berdasarkan garis keturunan atau genealogis, dan berdasarkan pada sosiologis. Berdasarkan genealogis, sistem kekerabatan masyakat Batak Toba adalah patrilineal. Patrilineal adalah garis keturunan berdasarkan garis keturunan ayah.

Semua suku Batak memiliki marga, dan marga tersebut diperoleh dari ayahnya, inilah yang menunjukkan sistem kekerabatan tersebut bersifat genealogis.

86 Universitas Sumatera Utara Sedangkan sistem kekerabatan yang bersifat sosiologis terbentuk melalui perkawinan. Dalam perkawinan tersebut terlibat nilai-nilai kebudayaan Batak Toba, yakni dalihan na tolu. Dalihan na tolu itu jugalah yang membentuk sistem kekerabatan masyarakat Batak Toba. Dari dalihan na toluinilah masyarakat Batak kemudian dapat mengetahui bagaimana status dan kedudukannya di dalam masyarakat, baik itu sebagai hula-hula, boru, maupun dongan tubu.

Sistem kekerabatan dalihan na tolu, yang apabila diartikan ke dalam bahasa Indonesia, artinya adalah tiga tungku (tungku perapian). Dalihan na tolu telah menjadi filosofi hidup masyarakat Batak Toba, yang dimana ketiga tungku tersebut harus sama besarnya dan sama tingginya, agar tidak oleng atau miring ketika digunakan untuk memasak. Begitu juga dengan masyarakat Batak Toba, ketiga tungku tersebut diibaratkan sebagai hula-hula, boru, dan dongan tubu.

Foto 3.11.

Filosofi Dalihan Na Tolu

Sumber : Petrus Hasiholan Silalahi (2019)

87 Universitas Sumatera Utara Di dalam dalihan na tolu juga ditekankan tiga aspek, yaitu, sombah

marhula-hula, manat mardongan tubu, dan elek marboru. Namun ketiganya itu haruslah dipandang sama drajatnya di dalam masyarakat Batak, meskipun berbeda perannya masing-masing, agar tidak terjadi ketimpangan di dalam masyarakat Batak itu sendiri.

Dengan adanya sistem kekerabatandalihan na tolu jugalah masyarakat Batak dapat mengetahui bagaimana status dan kedudukannya di dalam masyarakat, baik itu sebagai hula-hula, boru, maupun dongan tubu. Selan itu, dengan dalihan na tolu juga masyarakat Batak dapat mengatur bagaimana suatu sikap dan tindakan yang harus dijalinnya terhadap anggota masyarakat lainnya. Dalihan na tolu itu sendiri juga yang mengatur seseorang yang bersuku Batak Toba terhadap kapan ia berperan sebagai hula-hula, boru, dan dongan tubu. Itu mengapa melalui dalihan na tolu, orang Batak itu di ibaratkan sebagai seekor cicak, dikarenakan cicak itu dapat berada diposisi apa saja, baik itu di bawah (di lantai), di tengah (di dinding), dan di atas (di langit-langit rumah). Itu pulalah yang menyebabkan ketika orang Batak yang memperistri seseorang yang bukan keturunan Batak, maka istrinya tersebut kemudian diberikan marga, agar orang tersebut bisa mengambil perannya di dalam dalihan na tolu, ketika berhubungan dengan aktivitas adat maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut merupakan penjelasan oleh Bapak Gading Siallagan (61 tahun) mengenai sistem kekerabatandalihan na tolu.

a. Penjelasan Mengenai Sombah Marhula-Hula.

Dalihan na tolu merupakan filosopi hidup masyarakat Batak Toba dari dulu hingga sekarang. Di dalihan na tolu terdapat hula-hula. Hula-hula adalah keluarga

88 Universitas Sumatera Utara istri (simatua), lebih ke atasnya lagi adalah keluarga ibu. Misalkan ketika seseorang

menikah dengan marga Bakkara, maka semua orang yang bermarga Bakkara adalah hula-hula saya, baik yang kenal maupun tidak kenal. Itu harus di pegang teguh.

Dalam kehidupan sehari-hari juga demikian.

Misalkan kita berkenalan dengan seseorang, dan kita menanyakan marganya, dan ternyata dia adalah semarga dengan istri kita, maka dia adalah hula-hula kita. dan dia harus di hormati dan dihargai. Naik lagi, masuk ke ibu kita, misalkan ibu kita bermarga Simare-mare, maka siapapun yang bermarga Simare-mare adalah hula-hula kita, dan harus dihormati. Demikian pula nenek kita, misalkan dia bermarga Oppu Sunggu, maka siapapun yang bermarga Oppu Sunggu harus kita hormati, karena dia juga adalah hula-hula kita. Naik lagi, ibunya nenek kita, misalkan dia bermarga Manik, maka siapa pun yang bermarga Manik adalah hula-hulaku juga. Terus naik lagi ke neneknya nenek kita, kalau misalkan saja dia bermarga Bakkara, maka siapapun yang bermarga Bakkara adalah adalah hula-hulaku, wajib dihargai, dan dihormati. Itulah batasnya, disebutnya matamual. Jadi simatua, tulang (keluarga ibu), bona tulang (keluarga nenek), bonaniari (keluarga ibunya nenek), dan matamual (keluarga neneknya nenek). Dan diatas matamual, sudah lepas, artinya sudah tidak adalah lagi penyebutan hula-hula.

Ditambahkan lagi olehnya, bahwa ia memperistri boru Bakkara juga agar tidak putus pertalian hula-hula itu, itu disebutnya mangulaki. Artinya, memulai lagi tali kekeluargaan dari matamual, yang bermarga Bakkara. Namun sebenarnya bisa saja juga memperistri langsung dari marga tulang, atau bona tulang, atau bonaniari.

89 Universitas Sumatera Utara Misalkan dalam contoh kasus, ketika seseorang yang diperantauan mengadakan adat pernikahan, apakah dia harus memanggil hula-hulanya yang dari bona pasogitnya (kampung halaman)? Ya tidak. Ketika dia sudah dipanggil oleh adat semua hula-hulanya (baik itu dari pihak tulang, bona tulang, bonaniari, dan matamual) yang berasal dari bona pasogit itu, namun tidak ada yang datang.

Sementara di desa perantauan tersebut ada orang yang bermarga hula-hulanya, maka bisa saja dia yang menggantikan peran hula-hula itu untuk acara adat tersebut.

Karena, jikapun dilihat dari asal-usulnya, mereka juga adalah keturunan raja yang sama. Atau pada kasus yang lain, ketika acara adat, dipanggil tulangnya, namun ternyata tulangnya tersebut hanya satu, dan sudah meninggal pula. Maka yang ditarik menjadi hula-hulanya adalah hahaanggi. Jadi tidak harus hula-hula kandung kita.

Jadi sebenarnya dalihan na tolu itu disitu, sombah marhula-hula. Bukan hanya artinya keluarga kita kandung yang kita sombah atau hargai, tetapi semua yang semarga dengan hula-hula kita, yang tergolong pada marga tulang, bona tulang, bona niari, dan matamual.

Jadi sangat perlu diketahui siapa saja itu tulangnya, bona tulang, bonaniari, dan matamualnya. Karena itu sangat penting. Karena disitulah salah satu letak pentingnya dalihan na tolu. Dika di daerah Samosir, ketika seseorang tidak mengetahui siapa-siapa saja hula-hulanya, maka itu sudah sangat memalukan.

Bahkan bisa menjadi buah bibir masyarakat. Karena dicap tidak mengetahui adat Batak Toba. Kalau tulang, mungkinlah tahu karena masih dekat pertaliannya.

90 Universitas Sumatera Utara Bagaimana dengan bona tulang, bonaniari, dan matamual. Maka harus di ketahui

juga secara keseluruhannya. Itulah yang disebut “sombah marhula-hula”.

b. Penjelasan Mengenai Manat Mardongan Tubu

Sederhananya, dongan tubu itu adalah seseorang yang sama marganya dengan orang tersebut, atau dapat pula dikatakan dongan tubuh apabila orang tersebut tergolong kepada marga yang sama. Berikut penjelasan mengenai dongan tubu oleh Bapak Gading Siallagan (61 tahun).

Misalkan untuk marga Siallagan. Siallagan adalah marga yang tergolong pada marga Parna itu ada 96 marga, yaitu keturunan Raja Nai Ambaton. Mulai dari Tamba Tua, Simbolon Tua, Saragi Tua, Munte Tua, dan, Nahampun Tua, dan kesemuanya itu memiliki keturunan-keturunan, cucu-cucu, hingga akhirnya adalah marga Siallagan, dan marga-marga parna lainnya, yang totalnya 96 marga. Dan keseluruhannya itu adalah dongan tubu. Terserah itu mau berada di dunia manapun, ketika di dapati bahwa orang tersebut sama-sama bermarga Parna, maka mereka adalah dongan tubu.

Contoh lainnya dalam acara adat. Ketika pemuka adat memanggil pinoppar ni Parna Raja Nai Ambaton (keturunan Parna, Raja Nai Ambaton), maka siapa pun yang tergolong kepada marga Parna itu, maka mereka sudah tau untuk mengambil bagian pada acara adat tersebut. maka dari itu, sangat pentinglah bagi setiap orang Batak Toba untuk mengetahui siapa-siapa atau marga-marga apa saja yang sama atau tergolong ke dalam suatu marga tertentu. Hal ini sangat penting untuk dipahami, baik

91 Universitas Sumatera Utara dalam acara adat maupun dalam kehidupan sehairi-hari, agar orang tersebut memahami dengan baik sebagaimana perannya sesuai dengan adat.

Misalnya ketika adong na marulaon (ada yang melaksanakan kegiatan adat), pasti akan dikatakan, “jou da dongan tubuh nami na isan da” (panggil/undang teman semarga kami yang disana). Dari situ terlihat betapa pentingnya kehadiran atau peran dongan tubuh dalam suatu acara adat Batak. Karena ketika dalam acara adat, dongan tubunya tidak di undang atau dipanggil, maka dongan tubuhnya tersebut akan marah, karena dinilai seperti tidak menganggap lagi adanya dongan tubunya.

Maka yang dimaksud dengan manat mardongan tubu, artinya adalah kita harus berhati-hati dalam bersikap terhadap dongan tubuh kita. meskipun dikatakan semarga, namun kita harus bisa benar-benar menjaga sikap kita terhadap dongan tubukita, jangan sampai membuatnya sakit hati. Karena rasa sakit hati pada dongan tubuh itu susah untuk didamaikan. Karena kalau sama tulang kita misalnya ada masalah, bisa didamaikan dengan membawa lomok-lomok (anakan Babi). Bigitu pula ketika tulang bermasalh dengan namboru, bisa di damaikan dengan membawa dekke (ikan mas arsik). Namun, ketika kita bermasalah dengan dongan tubu, apa yang bisa kita berikan, jambar apa yang akan kita berikan untuk dongan tubu kita? Tidak ada, karena kita dengan dongan tubu kita serumah atau saudara. Jadi untuk itu, manatlah mardongan tubu. Berhati-hatilah ketika bersikap dan berprilaku terhadap dongan tubu kita.

92 Universitas Sumatera Utara c. Penjelasan Mengenai Elek Marboru.

Boru itu adalah pekerja, dalam bahasa batak disebut parhobas. Orang sebenarnya harus bangga menjadi boru. Karena boru itu akan diperlakukan sangat baik, yakni dengan elekan atau bujukan. Mengapa demikian? Karena ketika kita tidak elek marboru, maka siapa nanti yang akan mengerjakan acara adat kita. borulah yang akan berkemas dan bekerja membantu mempersiapkan acara adat tersebut.

Peran seorang boru itu juga tidak memperhatikan siapa dia dengan statusnya.

Baik itu dia seorang petani, direktur, atau bahkan jendral, dia tetaplah seorang boru yang berperan yang sama seperti sedemikian adanya peran boru pada suatu acara adat Batak, yaitu sebagai parhobas.

Perlakukan yang elek (bersifat membujuk) terhadap seorang boru itu dilkaukan agar seorang boru tersebut mau melakukan pekerjaan yang disuruhkan kepadanya. Karena kalau tidak elek kepada seorang boru, maka boru tersebut juga tidak akan mau melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Dan itu bukan hanya berlaku pada acara adat di desa atau bona pasogit saja, tetapi yang di perantauan, diperkotaan juga harus berlaku demikian, harus memahami dan menerapkan betul nilai-nilai dalihan na tolu itu, baik dalam acara adat maupun dalam kehidupan sehari-hari.