• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan

Sistem pemeliharaan secara intensif dan pemberian ransum yang disuplemen CGKK dan non CGKK , ternak kerbau tidak menunjukkan perbedaan tingkah laku yang bebeda nyata antara tingkah laku makan, agonistik, eliminatif, merawat diri, dan vokalisasi, namun hanya dipengaruhi oleh waktu pengamatan. Frekuensi tingkah laku makan, agonistik dan eliminasi paling sering dilakukan pada pagi dan sore hari. Tingkah laku merawat diri paling banyak ditunjukan pada siang hari. Tingkah laku vokalisasi paling jarang dilakukan, yang berarti ternak bebas dari ancaman dan kekurangan pakan, sehingga kerbau menunjukkan tingkahlaku yang normal. Dengan denyut jantung, laju pernapasan dan suhu rectal yang mendekati normal serta pemberian pakan yang disuplemen CGKK sistem pemeliharaan secara feedlot dapat dikatakan mampu meningkatkan kesejahteraan ternak kerbau rawa.

Saran

Penelitian lebih lanjut mengenai tingkah laku kerbau rawa dengan memperhatikan pemberian pakan yang berkualitas dan sistem pemeliharaan secara intensif untuk mengetahui tingkat kesejahteraan ternak kerbau dari pola tingkah laku normalnya.

37 UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT dengan karunia dan rahmat-Nya yang telah melimpahkan nikmat tak terhingga serta pertolongan-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing Dr. Ir. M. Yamin, M. Agr. Sc dan Dr. Ir. Rudy Priyanto yang telah membimbing, mengarahkan dan membantu penyusunan usulan proposal hingga tahap akhir penyusunan skripsi. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Ir. Salundik selaku pembimbing akademik atas bimbingan dan nasehatnya selama perkuliahan. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada dosen penguji ujian akhir Ir. Komariah, M.Si, Dr. Ir Afton Atabani, M.Sc dan Dr. Ir. M. Ridla, M.Agr yang telah memberi saran dan masukan untuk perbaikan skripsi ini.

Tidak lupa juga penulis ucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada kedua orang tua tercinta Bapak Zamzami Kimin dan Ibu Yuni Desmi atas doa, harapan, dukungan materi, motivasi serta kasih sayang yang diberikan. Terima kasih penulis ucapkan kepada kakak kandung Fedra Yuniza dan Angga Saputra atas motivasi, dukungan dan doa nya. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada ketua tim penelitian Yurleni serta teman-teman penelitian Ii, Devi, Lusi, Putri, Wiwi dan Gita atas kerjasama dan kebersamaannya yang kompak sehingga penelitian kita berjalan dengan lancar. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada Victor, Sofi, Gita Try, Nawang, Cipi, Wawan serta keluarga besar IPTP 45 atas semangat, motivasi dan dukungannya selama ini. Terima kasih juga kepada teman- teman wisma SQ, Mega, Fatchah, Nengsih, Uland, Hilma, Puji, Yuang, Anna, Lia, Feby, Reffa, Fitri, Irma, Dewi, atas semangat, motivasi, dukungan, dan doa nya selama ini. Terakhir saya ucapkan terima kasih kepada civitas akademik Fakultas Peternakan IPB. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk semua pihak.

Bogor, Januari 2013

38 DAFTAR PUSTAKA

Altman, J. 1973. Observational Study of Behavior : Sampling Methods. Universitas of Chicago, Chicago.

Affandy, L., D. M. Dikman, & Aryogi. 2007. Petunjuk Teknis Manajemen Perkawinan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Bamualim A, Zulbardi M & Thalib C. 2009. Peran dan ketersediaan teknologi pengembangan kerbau di Indonesia. Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau. Tana Toraja 24-26 Oktober 2008. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. Hal 1-10.

Banerjee, G. C. 1982. A Textbook of Animal Husbandry. Fifth Edition. Oxford & IBH Publishing Co. New Delhi.

Cockrill, W. R. 1984. The Husbandry and Health of the Domestic Buffalo, FAO, Rome.

Diwyanto, K. & H. Handiwirawan. 2006. Strategi pengembangan ternak kerbau: aspek penjaringan dan distribusi. Prosiding lokakarya nasional usaha ternak kerbau mendukung program kecukupan daging sapi. 2006. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Ensminger. 1991. Animal Science. 9th Ed. Interstate Pointers and Publisher. Illinois. Ensminger, M. E. 2002. Sheep and Goat Science. Sixth Edition. Interstate Publisher.

Inc. New York.

Fahimuddin, M. 1975. Domestic Water Buffalo. Oxford and IBH Publishing Co, New Delhi.

Goin, R. & P. Goin. 1978. Introduction to Herpetology 3th Ed. Cambridge University Press, New York.

Gonyou, H.W. 1991. Behavioral methods to answer the question abaut sheep. J. Anim Sci. 69 : 4155-4159

Grier, J.W. 1984. Biology of Animal Behavior. Times Miror/Mosby College Publishing. St. Louis, Misouri.

Hafez, E.S.E. 1969. The Behavior of Domestic Animals. William and Wilking Co. Baltimore.

Hafez, E. S. E., Badreldin, A. L. & M. N. Shafei. 1955. The Hair Coat in Bovinae. Emp. J. Exp. Agric. 23: 34 – 38.

Hamdan, A., E.S. Rohaeni & A. Subhan. 2006. Karakteristik sistem pemeliharaan kerbau rawa di Kalimantan Selatan. hlm.170−177. Prosiding Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi. Sumbawa, 4−5 Agustus 2006. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan bekerja sama dengan Direktorat Perbibitan, Direktorat Jenderal

39

Peternakan, Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa.

Hart, B.L. 1985. The Behavior of Domestik Animal. W.H. Freeman, New York. Hasinah, H. & Handiwirawan. 2006. Keragaman genetik ternak kerbau di Indonesia.

Prosiding lokakarya nasional usaha ternak kerbau mendukung program kecukupan daging sapi. 2006. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.

Heath, E., & S. Olusanya. 1985. Anatomy dan Physiology of Tropical Livestock. Longman. London and New York. 92-99.

Jainudeen, M. R, & E. S. E., Hafez. 1990. Cattle and Boffalo. In; Reproduction in Farm Animals. E. S. E, Hafez (Editor), 6th Edition. Lea and Febiger. Philadelphia. P. 315-329.

Kay, I. 1998. Introduction to Animal Physiology. Bioscientific Publisher Springer Verlag, New York.

Kelly, W. R. 1974. Veterinary Clinical Diagnose. The Williams and Wilkins Co. Baltimore. 21-38.

Lita, M. 2009. Produktivitas kerbau rawa di kecamatan Muara Mutai, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Maryana, L. 2002. Pengaruh penambahan minyak ikan lemuru (Sardinella longiseps) terhadap produksi gas metan, vfa dan aktifitas carboxymethil cellulose pada fermentasi selulosa oleh mikroba rumen secara invitro. Skripsi. Fakultas Peternakan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Moran, J. B. 1973. Heat olerance of brahman cross, buffalo, banteng and shortorn steer during exposure to sun and as a result of exercise Austrl. J. Agr. Res. No. 24: 775-782.

Nurbianti, R. 2012. Performa kerbau rawa dan sapi peranakan ongole yang digemukkan secara feedlot menggunakan ransum yang disuplementasi minyak ikan lemuru terproteksi. Skripsi, Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas

Indonesia Press, Jakarta.

Prijono, S. N. 1997. Perilaku burung Cacatua offini dalam populasi campuran di kandang penangkaran. Proseding Hasil Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Hayati. Puslitbang Biologi LIPI. Bogor.

Putu, I.G.M., M. Sabrani, M. Winugoho, T. Chaniago, Santoso, Tarmudji, A.D. Supriyadi, & P. Oktaviana. 1994. Peningkatan produksi dan reproduksi kerbau kalang pada agroekosistem rawa di Kalimantan Selatan. Laporan

40

Robey, C. A. Jr. 1976. Physiological Responses of Water Buffalo in the Florida Environment. M.S. Thesis University of Florida, Cainsville, Florida, UCA. Schoenian, S. 2005. Ruminant digestive system. http://www.sheep 101. info/cud.

html. (23 Juni 2012).

Scott, J. P. 1987. Animal Behavior. 2ndEd. The University of Chicago Press, Chicago.

Smith, J. B. & S. Mangkoewidjojo. 1987. The Care, Breeding and Management of Experiment Animals for Research in the Tropics. p. 171.

Suhubdy. 2007. Strategi penyediaan pakan untuk pengembangan usaha ternak kerbau. Wartazoa 17 (1) : 1-11.

Tanudimadja, K. & S. Kusumamihadja. 1985. Perilaku Hewan Ternak. Diktat Jurusan Anatomi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

Tasse, A. M. 2010. Tampilan asam lemak dalam susu sapi hasil pemberian ransum mengandung campuran garam karboksilat dan garam karboksilat atau metil ester kering. Disertasi. Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor. Terzano, G. M., S. Allegrini & A. Borghese. 2005. Metabolic and harmonal

parameters in buffaloes. In: Buffalo Production and Research. A, Borghese (Ed). Food and Agriculture Organization of The United Nations, Rome, PP. 219-247.

Tinbergen, N. 1979. Perilaku Binatang. Tira Pustaka :Jakarta.

Wanapat M. 2001. Swamp buffalo rumen ecology and its manipulation. Proceeding Buffalo. Workshop Desember 2001.

Williamson G. & W. J. A. Payne. 1993, Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Edisi ketiga. Diterjemahkan oleh : Darmadja, S. G. N. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Whittow, C. H. 1962. Significance of Extrimities of the Ox in Thermoregulation. J. Agr. Sci. Camb. 58: 109.

Wodzicka-Tomaszewka, M.., I. K. Sutama, I. G. Putu., & T. D. Chaniago. 1991. Reproduksi Tingkah Laku dan Produksi Ternak di Indonesia. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Yani, A. 2006. Pengaruh iklim mikro terhadap respon fisiologis sapi peternakan

Fries Holland dan modifikasi lingkungan untuk meningkatkan produktivitasnya. Met. pet. 1:35-46.

Yurleni. 2000. Produktivitas dan peluang pengembangan ternak kerbau di provinsi Jambi. Thesis, Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

42 Lampiran 1. Hasil Uji T Rataan Tingkah Laku Kerbau Rawa yang Disuplemen

CGKK Tingkah Laku yang

Diamati Perbandingan Keterangan

Tingkah Laku Kerbau Rawa yang Disuplemen CGKK

MKN PGI vs MKN SNG tn

MKN PGI vs MKN SRE tn

MKN SNG vs MKN SRE tn

AGO PGI vs AGO SNG **

AGO PGI vs AGO SRE *

AGO SNG vs AGO SRE tn

ELM PGI vs ELM SNG tn

ELM PGI vs ELM SRE tn

ELM SNG vs ELM SRE tn

MRD PGI vs MRD SNG tn

MRD PGI vs MRD SRE tn

MRD SNG vs MRD SRE tn

VOK PGI vs VOK SNG tn

VOK PGI vs VOK SRE tn

VOK SNG vs VOK SRE tn

Keterangan : MKN = Makan, AGO = Agonistik, ELM = Eliminasi, MRD = Merawat Diri, VOK = Vokalisasi, PGI = Pagi, SNG = Siang, SRE = Sore, CGKK = Campuran Garam Karboksilat Kering, NCGKK = Non Campuran Garam Karboksilat Kering, tn = Tidak Berbeda Nyata. * = Berbeda Nyata, ** = Sangat Berbeda Nyata.

Lampiran 2. Hasil Uji T Rataan Tingkah Laku Kerbau Rawa yang Disuplemen Non CGKK

Tingkah Laku yang

Diamati Perbandingan Keterangan

Tingkah Laku Kerbau Rawa yang Disuplemen Non CGKK

MKN PGI vs MKN SNG tn

MKN PGI vs MKN SRE tn

MKN SNG vs MKN SRE tn

AGO PGI vs AGO SNG tn

AGO PGI vs AGO SRE tn

AGO SNG vs AGO SRE tn

ELM PGI vs ELM SNG tn

ELM PGI vs ELM SRE tn

ELM SNG vs ELM SRE tn

MRD PGI vs MRD SNG tn

MRD PGI vs MRD SRE tn

MRD SNG vs MRD SRE tn

VOK PGI vs VOK SNG tn

VOK PGI vs VOK SRE tn

VOK SNG vs VOK SRE tn

Keterangan : MKN = Makan, AGO = Agonistik, ELM = Eliminasi, MRD = Merawat Diri, VOK = Vokalisasi, PGI = Pagi, SNG = Siang, SRE = Sore, CGKK = Campuran Garam Karboksilat Kering, NCGKK = Non Campuran Garam Karboksilat Kering, tn = Tidak Berbeda Nyata. * = Berbeda Nyata, ** = Sangat Berbeda Nyata.

43 Lampiran 3. Hasil Uji T Rataan Tingkah Laku Kerbau Rawa Secara Keseluruhan

yang Disuplemen CGKK dan Non CGKK

Tingkah Laku yang Diamati Perbandingan Keterangan Tingkah Laku Kerbau Rawa

yang Disuplemen CGKK dan Non CGKK MKN CGKK vs MKN NCGKK tn AGO CGKK vs AGO NCGKK tn ELM CGKK vs ELM NCGKK tn MRD CGKK vs MRD NCGKK tn VOK CGKK vs VOK NCGKK tn

Keterangan : MKN = Makan, AGO = Agonistik, ELM = Eliminasi, MRD = Merawat Diri, VOK = Vokalisasi, PGI = Pagi, SNG = Siang, SRE = Sore, CGKK = Campuran Garam Karboksilat Kering, NCGKK = Non Campuran Garam Karboksilat Kering, tn = Tidak Berbeda Nyata. * = Berbeda Nyata, ** = Sangat Berbeda Nyata.

Lampiran 4. Hasil Uji T Rataan Denyut Jantung, Pernapasan dan Suhu Rektal Kerbau Rawa yang Disuplemen CGKK dan Non CGKK

Tingkah Laku yang

Diamati Perbandingan Keterangan

Denyut Jantung Kerbau Rawa yang Disuplemen CGKK dan Non CGKK

PGI CGKK vs PGI NCGKK tn SNG CGKK vs SNG NCKK tn SRE CGKK vs SRE NCGKK tn Laju Pernapasan Kerbau

Rawa yang Disuplemen CGKK dan Non CGKK

PGI CGKK vs PGI NCGKK tn SNG CGKK vs SNG NCKK tn SRE CGKK vs SRE NCGKK tn Suhu Rektal Kerbau Rawa

yang Disuplemen CGKK dan Non CGKK

PGI CGKK vs PGI NCGKK tn SNG CGKK vs SNG NCKK tn SRE CGKK vs SRE NCGKK tn

Keterangan : MKN = Makan, AGO = Agonistik, ELM = Eliminasi, MRD = Merawat Diri, VOK = Vokalisasi, PGI = Pagi, SNG = Siang, SRE = Sore, CGKK = Campuran Garam Karboksilat Kering, NCGKK = Non Campuran Garam Karboksilat Kering, tn = Tidak Berbeda Nyata. * = Berbeda Nyata, ** = Sangat Berbeda Nyata.

Lampiran 5. Perbandingan Rataan Denyut Jantung Kerbau Rawa yang Disuplemen CGKK dan Non CGKK

Waktu Kerbau Rataan

CGKK Non CGKK

Pagi (07.00-09.00 WIB) 75,05±5,36 75,17±2,33 75,11±3,70 Siang (12.00-14.00 WIB) 64,72±2,87 65,78±4,03 65,25±3,18 Sore (16.00-18.00 WIB) 62,17±3,37 62,89±5,44 62,53±4,07

44 Lampiran 6. Perbandingan Rataan Laju Pernapasan Kerbau Rawa yang Disuplemen

CGKK dan Non CGKK

Waktu Kerbau Rataan

CGKK Non CGKK

Pagi (07.00-09.00 WIB) 44,94±1,94 42,67±1,87 43,81±2,11 Siang (12.00-14.00 WIB) 40,72±0,19 41,17±1,45 40,94±0,96 Sore (16.00-18.00 WIB) 42,89±1,34 41,56±1,60 42,22±1,51

Lampiran 7. Perbandingan Rataan Suhu Rektal Kerbau Rawa yang Disuplemen CGKK dan Non CGKK

Waktu Kerbau Rataan

CGKK Non CGKK

Pagi (07.00-09.00 WIB) 38,89±0,13 38,91±0,13 38,90±0,12 Siang (12.00-14.00 WIB) 38,76±0,03 38,84±0,06 38,80±0,07 Sore (16.00-18.00 WIB) 38,67±0,05 38,78±0,15 38,73±0,12

Lampiran 8. Hasil uji Friedmant Tingkah Laku Kerbau Rawa yang Disupemen CGKK pada Waktu yang Berbeda

Tingkah Laku Perlakuan Rataan Ranking N Chi-Square Db P-Value Makan Pagi 2,22 Siang 1,81 18 1,97 2 0,374 Sore 1,97 Agonistik Pagi 1,92 Siang 2,08 18 0,39 2 0,822 Sore 2,00 Eliminasi Pagi 1,94 Siang 1,94 18 0,80 2 0,670 Sore 2,11 Merawat Diri Pagi 1,47 Siang 2,31 18 9,10 2 0,011 Sore 2,22 Vokalisasi Pagi 2,06 Siang 1,97 18 2,00 2 0,368 Sore 1,97

45 Lampiran 9. Hasil uji Friedmant Tingkah Laku Kerbau Rawa yang Disupemen Non

CGKK pada Waktu yang Berbeda

Tingkah Laku Perlakuan Rataan Rankng N Chi-Square Db P-Value Makan Pagi 2,36 Siang 1,81 18 4,03 2 0,133 Sore 1,83 Agonistik Pagi 2,06 Siang 1,97 18 0,10 2 0,950 Sore 2,97 Eliminasi Pagi 2,08 Siang 1,92 18 0,78 2 0,676 Sore 2,00 Merawat Diri Pagi 1,94 Siang 1,97 18 0,23 2 0,890 Sore 2,08 Vokalisasi Pagi 2,00 Siang 2,00 18 - 2 - Sore 2,00

Lampiran 10. Hasil Uji Mann Whiteney Frekuensi Kejadian Seluruh Tingkah Laku Kerbau Rawa yang Disuplemen CGKK dan Non CGKK

Tingkah Laku Jenis Pakan N X Ranking X Ranking Uji Statistik Mann Whiteney Wilcoxon Z P Value Makan CGKK 54 52,43 2831 1346 2831 -0,72 0,47 Non CGKK 54 56,57 3055 Agonistik CGKK 54 51,25 2767 1282 2767 -1,22 0,22 Non CGKK 54 57,76 3119 Eliminasi CGKK 54 55,30 2986 1415 2900 -0,39 0,69 Non CGKK 54 53,70 2900 Merawat Diri CGKK 54 55,25 2983,5 1417,5 2902,5 -0.25 0,79 Non CGKK 54 53,75 2902,5 Vokalisasi CGKK 54 55,00 2970 1431 2916 -1,00 0,32 Non CGKK 54 54,00 2916

Dokumen terkait