• Tidak ada hasil yang ditemukan

V.2.

A. Kesimpulan

1. Situasi konsumsi pangan pada rumah tangga penduduk asli di wilayah bantaran sungai dan non bantaran sungai berada pada kategori “baik” (tahan pangan), namun kualitas dan keragamannya belum menunjukkan kondisi ideal yaitu dengan skor PPH masing-masing hanya 85.6 dan 83.

2. Pada wilayah bantaran sungai konsumsi protein lebih tinggi, hal ini berkaitan dengan persfektif tentang “ Kebiasaan Makan Ikan Air Tawar “. Penduduk asli di wilayah bantaran sungai sangat memprioritaskan mengkonsumsi ikan air tawar. Tidak hanya lebih menyukai ikan air tawar dibandingkan sumber protein hewani lainnya, tetapi juga diantara sumber pangan lainnya. Kebiasaan makan ikan air tawar menduduki superioritas diantara jenis pangan yang lain, dan lebih jauh sebagai keberadaan status sosial dan nilai kebersamaan dalam kelompok masyarakat adat. Menurut Sanjur (1982) kondisi tersebut menjelaskan adanya kepercayaan terhadap pangan (food belief), atau konsumsi pangan merupakan fungsi dari faktor budaya suatu wilayah.

3. Pada wilayah bantaran sungai faktor sosial yang berpengaruh bermakna terhadap konsumsi pangan rumah tangga hanya pengetahuan pangan dan gizi ibu, sedangkan ukuran keluarga dan pendidikan kepala keluarga tidak berpengaruh secara bermakna. Pada wilayah non bantaran sungai justeru ukuran keluarga, dan pengetahuan pangan dan gizi ibu yang berpengaruh secara bermakna terhadap konsumsi pangan, sedangkan pendidikan kepala keluarga tidak berpengaruh secara bermakna. Hal ini terjadi karena jumlah anggota rumah tangga Orang Dayak tidak banyak yaitu biasanya hanya berkisar 4 – 5 orang. Ukuran keluarga ternyata bukan merupakan faktor pembatas dalam konsumsi pangan rumah tangga, meskipun menurut den Hartog, Van Staveran dan Brouwer (1995) bahwa semakin besar ukuran keluarga maka semakin sedikit pangan tersedia yang dapat didistribusikan pada anggota keluarga dan semakin sedikit pangan yang dikonsumsi.

4. Faktor-faktor budaya yang berpengaruh bermakna terhadap konsumsi pangan pada rumah tangga di wilayah bantaran sungai adalah preferensi terhadap pangan. Pada wilayah non bantaran sungai preferensi terhadap pangan tidak berpengaruh secara bermakna. Preferensi terhadap pangan merupakan peubah yang dominan mempengaruhi konsumsi pangan rumah tangga. Hal ini mendukung pendapat Sanjur (1982), bahwa sikap terhadap pangan terutama preferensi mempengaruhi komsumsi pangan dan menurut Suhardjo (1989) bahwa preferensi dan cara memilih bahan pangan sebagai bagian dari kebiasaan makan dapat mempengaruhi konsumsi pangan. Dalam hal ini, orang tidak akan memilih dan mengkonsumsi makanan yang tidak disukainya. Preferensi dan cara memilih bahan pangan memiliki hubungan yang erat dengan konsumsi pangan. 5. Faktor-faktor ekonomi berpengaruh secara bermakna terhadap konsumsi pangan

rumah tangga di wilayah bantaran sungai dan non bantaran sungai adalah tingkat pendapatan. Tingkat konsumsi protein pada rumah tangga di wilayah bantaran sungai jauh lebih tinggi dari pada wilayah non bantaran sungai, padahal tingkat pendapatan rumah tangga di wilayah bantaran sungai lebih rendah jika dibandingkan dengan wilayah bantaran sungai. Tingginya konsumsi protein di wilayah bantaran sungai karena pada wilayah ini masih cukup tersedia berbagai jenis ikan air tawar yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan hewani rumah tangga. Bertolak belakang dengan pendapat Perisse dalam Sanjur (1982) memberikan gambaran bahwa pada kelompok rumah tangga berpendapatan rendah, besarnya porsi protein banyak didominasi oleh pangan sumber protein nabati. Sedangkan rumahtangga berpendapatan tinggi, pangan sumber protein nabati akan semakin berkurang. Jadi teori ini kurang berlaku pada wilayah yang masih didukung oleh ketersediaan sumberdaya alam.

6. Pantangan makan atau tabu terhadap makanan masih dipraktekkan pada sebagian penduduk asli di wilayah bantaran sungai, hal ini akan menghambat perbaikan konsumsi pangan dan status gizi keluarga meskipun adanya pangan substitusi lainnya. Sesuai pendapat Sanjur (1982), menempatkan pantangan ke dalam sistem kepercayaan dan praktek atas pangan (food beliefs and practices

dan masyarakat. Lebih lanjut den Hartog, Van Staveren dan Brouwer (1995) menyatakan bahwa pantangan atau tabu atas pangan tertentu merupakan bagian dari konsep sosial yang berlaku dalam suatu masyarakat yang dapat mempengaruhi pendistribusian makanan di dalam keluarga.

7. Pada wilayah bantaran sungai disparitas konsumsi pangan diduga karena menurunnya ketersediaan sumber pangan dari hutan dan dari perairan sungai sebagai akibat kebijakan pemerintah dengan adanya pembukaan HPH, usaha pertanian komersial (kelapa sawit) dan pertambangan. Menurut perspektif Orang Dayak kebijakan tersebut telah membuat terdesak karena penyempitan lahan (lebensraum) dan memarginalisasikan mereka untuk memanfaatkan sumberdaya pangan. Pada wilayah non bantaran sungai, disparitas konsumsi pangan terjadi terutama karena perbedaan tingkat pendapatan akibat perbedaan pilihan hidup sebagai petani, buruh perusahaan, wisaswasta, PNS.

8. Kemampuan penduduk asli untuk dapat mengatasi keadaan rawan pangan (coping mechanism) melalui upaya-upaya preventif dalam hukum adat masyarakat dayak melalui : melestarikan sumber pangan di hutan dan di perairan sungai secara turun-temurun, dan penjarangan melahirkan. Dan kegiatan rutinitas untuk mengatasi rawan pangan melalui : fenomena tolong- menolong dan barter hasil pertanian atau hasil buruan, kegiatan religi dan magis, melakukan pekerjaan majemuk.

9. Terdapat hubungan yang sangat bermakna antara status gizi Balita dengan tingkat konsumsi energi rumah tangga. Prevalensi gizi buruk pada Balita berada pada kategori tingkat konsumsi energi rumah tangga “kurang dan defisit “ dan status gizi baik kecenderungan berada pada kategori tingkat konsumsi energi rumah tangga “sedang dan baik”. Semakin terpenuhinya jumlah dan kualitas pangan rumah tangga maka akan berdampak pada status gizi Balita yang lebih baik.

B.Saran

Perbaikan konsumsi pangan dan status gizi pada penduduk asli harus terlebih dahulu diupayakan pemenuhan kebutuhan sosial-budaya, dan ekonomi yang mendasar yaitu perlindungan dan pemeliharaan terhadap hukum Adat Dayak. Upaya-upaya tersebut meliputi :

1. Pemerintah melindungi Hukum Adat Dayak untuk mengembalikan hak-hak penduduk asli memanfaatkan sumberdaya hutan dan sumberdaya perairan berdasarkan persfektif mereka yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Daerah;

2. Pemerintah daerah dapat melakukan evaluasi untuk mengurangi atau menutup praktek pembukaan lahan kepentingan global, dan mengganti kebijakan dengan mengedepankan kepentingan hutan adat agar penduduk asli terbebas dari rasa terdesak karena penyempitan lahan (lebensraum);

3. Kebijakan pemerintah daerah yang memihak pada penduduk asli di bidang kesehatan masyarakat dengan memasukkan program perbaikan konsumsi pangan dan status gizi berbasis sumberdaya lokal pada rencana induk pembangunan desa, hal ini mengingat lingkungan SDA yang menjadi sumber pangan mereka telah banyak berubah fungsi ke industri pertanian komersial dan pertambangan;

4. Pemerintah daerah secara berkelanjutan dapat mengembangkan kemandirian lokal penduduk asli agar mereka tidak termarginalisasi dari kegiatan pembangunan wilayah, yaitu dengan penguatan kelembagaan masyarakat Adat Dayak;

5. Perbaikan dan pembangunan infrastruktur desa terutama pada wilayah permukiman bantaran sungai untuk memudahkan distribusi dan akses pangan masyarakat;

6. Penelitian konsumsi pangan dan status gizi pada suatu etnik sebaiknya dilakukan sebagai suatu sistem sosial-budaya yang berkaitan dengan sumberdaya alam lokal