V2. KONSUMSI PANGAN DAN STATUS GIZI PADA RUMAH TANGGA DI WILAYAH NON BANTARAN SUNGAI
A. Karakteristik Rumah Tangga Sampel
1. Status Gizi Balita Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan data survei pendahuluan diperoleh data status gizi Balita per jenis kelamin, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 57. Distribusi Status Gizi Balita Berdasarkan Jenis Kelamin Pada Wilayah Non Bantaran Sungai
Status Gizi Jenis Kelamin Jumlah Laki-Laki Perempuan N % N % N % Gizi Buruk 0 0.00 0 0.00 0 0.00 Gizi Kurang 14 9.86 11 7.75 25 17.61 Gizi Baik 57 40.14 60 42.25 117 82.39 Gizi Lebih 0 0.00 0 0.00 0 0.00 Jumlah 71 50.00 71 50.00 142 100.00
Sumber : Hasil Penelitian, 2017
Data di atas menjelaskan bahwa status gizi Balita pada rumah tangga di wilayah non bantaran sungai dengan prevalensi KEP sebesar 17,61%. Pada wilayah ini tidak terdapat prevalensi gizi buruk, namun prevalensi gizi kurang cukup tinggi, yang menunjukkan permasalahan gizi masyarakat. Menurut Jahari dkk (2002) bahwa keadaan bukan masalah gizi masyarakat jika prevalensi KEP sebesar 2,5 persen (yaitu jika prevalens gizi buruk sebesar 0,5% dan gizi kurang 2,0%). Pada kondisi demikian perlu adanya intervensi dari pemerintah setempat untuk menurunkan jumlah penderita status gizi tersebut pada kondisi yang tidak mengkwatirkan atau bahkan tidak ditemukan lagi KEP pada masa mendatang.
2. Status Gizi Berdasarkan Kelompok Umur
Sebanyak 142 anak Balita yang menjadi sampel pada rumah tangga di wilayah non bantaran sungai didapatkan sebesar 82,4 persen berstatus gizi baik dan berada pada semua kelompok umur. Penderita gizi kurang sebesar 17,6 persen, tidak ditemukan penderita gizi buruk dan gizi lebih. Sebanyak 17,6 persen Balita penderita gizi kurang ini tidak ditemukan pada kelompok umur 36-47 bulan, dan persentase gizi kurang yang paling tinggi berada pada
kelompok umur 24-35 bulan sebesar 7,0 persen seperti terlihat pada tabel berikut.
Tabel 58. Distribusi Status Gizi Balita Berdasarkan kelompok Umur Pada Penduduk Asli Yang Bermukin di Wialayah Non bantaran Sungai
Status Gizi Kelompok Umur 6–11 12-23 24-35 36-47 48-59 Total N % N % N % N % N % N % Gizi Buruk 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Gizi Kurang 2 1.4 9 6.3 10 7.0 0 0.0 4 2.8 25 17.6 Gizi Baik 20 14.1 35 24.6 38 26.8 18 12.7 6 4.2 117 82.4 Gizi Lebih 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Jumlah 22 15.5 44 31.0 48 33.8 18 12.7 10 7.0 142 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2017
Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 74 menunjukkan setelah umur diatas 12 bulan terlihat tingginya kecenderungan Balita mengalami KEP. Sejalan dengan hasil penelitian Zakaria dkk (2004) di kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan, bahwa tingginya kecenderungan anak berumur 12 bulan mengalami KEP. Hal ini mungkin disebabkan bahwa umur di atas 12 bulan merupakan umur yang relatif lebih rawan gizi dibandingkan dengan umur di bawah 12 bulan. Anak umur di atas 12 bulan kebutuhan gizi semakin meningkat, untuk itu pemberian MP-ASI yang cukup dan berkualitas sangat diperlukan.
Persentasi jumlah Balita dengan status gizi kurang dan status gizi buruk adalah sebesar 17,6 persen, meskipun nilai ini berada dibawah KEP provinsi dan KEP nasional, prevalensi KEP Balita di wilayah ini cukup besar yang menjadi masalah gizi masyarakat. Kondisi ini mengisyaratkan penanganan serius dari pemerintah setempat dan perlunya langkah-langkah antisipaif agar KEP ini dapat dikurangi bahkan agar ke depan tidak
ditemukan lagi status gizi kurang dan status gizi buruk. Hal ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian di Indonesia bahwa di Jawa Timur kelompok yang rawan gizi adalah anak Balita, usia sekolah dan remaja terutama di wilayah pantai. Diperkotaan usia paling rawan gizi adalah kelompok remaja (Guritno, dkk, 2003).
3. Status Gizi Berdasarkan Tingkat Konsumsi Energi Rumah Tangga
Hasil analisis status gizi berdasarkan kondisi rata-rata tingkat konsumsi energi diperoleh rumah tangga dengan kategori tingkat konsumsi energi “baik” tidak didapatkan Balita penderita gizi kurang bahkan penderita gizi buruk, pada strata ini Balita dengan status gizi baik sebesar 19,0 persen seperti terlihat pada tabel berikut .
Tabel 59. Distribusi Status Gizi Balita Berdasarkan Kategori Tingkat Konsumsi Energi di Wilayah Non Bantaran Sungai
Status Gizi
Tingkat Konsumsi Energi Baik >100% AKG Sedang 80-99% AKG Kurang 70-80% AKG Defisit <70% AKG Total N % N % N % N % N % Gizi Lebih 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Gizi Baik 27 19.0 90 63.4 0 0.0 0 0.0 117 82.4 Gizi Kurang 0 0.0 20 14.1 5 3.5 0 0.0 25 17.6 Gizi Buruk 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 0 0.0 Jumlah 27 19.0 110 77.5 5 3.5 0 0.0 142 100
Sumber : Hasil Penelitian, 2017
Rumah tangga dengan kategori tingkat konsumsi energi “sedang” juga tidak ditemukan Balita dengan penderita status gizi buruk dan status gizi lebih, namun terdapat sebesar 14,1 persen Balita menderita gizi kurang, dan diantara empat kategori tingkat konsumsi energi, pada kategori “sedang” paling banyak didapatkan Balita dengan status gizi kurang.
Tingkat konsumsi energi pada rumah tangga dengan kategori “kurang” terdapat Balita penderita status gizi kurang sebesar 3,5 persen, dan tidak ditemukan Balita penderita gizi buruk, gizi baik dan gizi lebih.
Pada wilayah non bantaran sungai ini tidak ditemukan responden dengan kategori tingkat konsumsi energi defisit, hal ini terutama berkaitan
dengan tingkat pendapatan mereka lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk asli yang bermukim di wilayah bantaran sungai.
Prevalensi gizi kurang pada Balita berada pada kategori tingkat konsumsi energi rumah tangga “sedang dan kurang“ dan status gizi baik cenderung berada pada kategori tingkat konsumsi energi rumah tangga “baik”. Tidak ditemukan Balita dengan prevalensi gizi kurang atau gizi buruk pada kategori tingkat konsumsi energi “baik”. Dan estimasi ini didukung oleh uji statistik korelasi Pearson dengan nilai p = 0,000 dan r = 0,592.
Berdasarkan hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa jika konsumsi pangan rumah tangga dalam kondisi kuantitas yang cukup dan kualitas baik maka akan berdampak baik terhadap status gizi anggota rumah tangga. Mendukung pendapat Azwar (2004), status gizi masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor faktor yang juga saling mempengaruhi secara komplek. Di tingkat rumah tangga, status gizi dipengaruhi oleh kemampuan rumah tangga menyediakan pangan yang cukup baik kuantitas maupun kualitasnya. Dengan demikian status gizi masyarakat merupakan hasil lanjutan dari konsumsi pangan. Juga sesuai dengan pendapat Suhardjo (1992), terdapat hubungan antara konsumsi pangan (energi dan protein) dengan status ekonomi rumah tangga dan status gizi masyarakat. Secara umum dikatakan bahwa masalah gizi merupakan sebagian dari masalah kesejahteraan pribadi, keluarga dan masyarakat akibat adanya ketimpangan antara kebutuhan, persediaan dan permintaan pangan dan kesehatan (Soekirman, 1988).
Jika dibandingkan dengan data analisis antropometri Balita Susenas (2003) di propvinsi Kalimantan Timur menunjukkan, bahwa status gizi baik pada Balita di wilayah penelitian (82,4 persen) berada diatas status gizi baik tingkat provinsi (72,89 persen). Penderita gizi kurang adalah (17,6 persen) berada sama dengan penderita gizi kurang tingkat provinsi (17,6 persen).
Program pemerintah dalam rangka menurunkan prevalensi KEP menjadi 2,5 persen sulit dicapai dalam waktu cepat. Program perbaikan gizi masyarakat yang dilakukan seharusnya secara simultan dengan perbaikan konsumsi pangan dengan target pencapaian bertahap yang pada suatu saat
kelak dapat dicapai. Usaha-usaha yang menjadi prioritas pada wilayah permukiman non bantaran sungai yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan KEP pada Balita sebaiknya dilakukan melalui usaha-usaha : (1) pemberdayaan masyarakat untuk pencapaian keluarga sadar gizi; (2) pemberian subsidi pangan bagi penduduk miskin; (3) peningkatan partisipasi masyarakat melalui revitalisasi pelayanan Posyandu; (4) Bantuan MP-ASI untuk Balita dari keluarga miskin.
E.Overview : Konsumsi Pangan dan Status Gizi Pada Rumah Tangga di