Merupakan kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan. Selain itu, penulis juga memberikan implikasi dan saran mengenai permasalahan yang terkait.
9
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kinerja
Banyak batasan yang diberikan para ahli mengenai istilah kinerja, semuanya memiliki visi dan pandangan yang berbeda. Istilah kinerja yang didengar, sering kali mengantarkan kita pada suatu bentuk pekerjaan yang dilakukan, serta seberapa banyak hasil yang diperolehnya dari pekerjaannya itu.
Menurut (Suyadi Prawirosetno, 1999), yang dikutip oleh Joko Widodo, kinerja adalah suatu hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu organisasi sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka mencapai tujuan tujuan organisasi secara legal, tidak melanggar hukum, dan sesuai dengan moral dan etika4.
Menurut Whitmore, kinerja adalah suatu perbuatan, suatu prestasi, atau apa yang diperlihatkan seseorang melalui keterampilan yang nyata5. Kinerja menuntut adanya pengekspresian seseorang. Kinerja yang nyata menetapkan standar-standar yang melampaui apa yang diminta atau diharapkan.
Kinerja menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “suatu yang dicapai” atau prestasi yang dicapai atau diperlihatkan sehingga kinerja dapat
4 Joko Widodo, Membangun Birokrasi Berbasis Kinerja, (Malang: Bayu Publishing, 2005), Cet ke-1, hal 75.
5 John Whitmore, Coaching For Performance; Seni Mengarahkan Untuk Mendongkrak Kinerja, terjemahan Dwi Helly Purnomo dan Louis Novianto, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), hal. 108.
diartikan sebagai prestasi kinerja oleh individu perusahaan6.
Oleh karena itu, pengukuran kinerja adalah mengidentifikasikan indikator pekerjaan yang telah dilakukan dan hasil yang dicapai oleh aktivitas, proses, atau unit organisasi7.
Firman Allah SWT dalam surah Al-Ahqaaf ayat 19:
ٖلُ كِلَو
ٖ
َٖن مَ ۡظ يَٖٖۡ هَوٖۡ َ ٰ َمۡعَ َأٖۡ َيُِفَ َِِوٖ ۖ ا ِمَعٖاَمُِمٖٞتٰ َجَرَد
١٩
ٖ
Artinya: “Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (alasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.”
Dari ayat tersebut Allah pasti akan membalas setiap perbuatan manusia berdasarkan apa yang mereka kerjakan. Artinya, jika seseorang melaksanakan pekerjaan dengan baik dan menunjukan kinerja yang baik pula bagi organisasinya, maka ia akan mendapatkan hasil yang baik pula dari kerjaannya dan akan memberikan keberuntungan untuk organisasinya.
Penilaian kinerja merupakan bagian dari aktivitas entitas perusahaan, baik bank maupun lembaga bukan bank. Sebagai usaha untuk menilai kinerja lembaga keuangan, maka dikenal dengan istilah kinerja keuangan. Penilaian kinerja keuangan bank dapat dilakukan dengan menganalisis laporan keuangan yang diterbitkan oleh pihak bank.
6 Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Balai Pustaka, 1997), Cet ke 9, hal, 22.
7 Edward J, Blocher, et.al, Manajemen Biaya Dengan Tekanan Strategik, (Jakarta: Salemba Empat, 2000), Cet. Ke-1, Hal. 133.
Menurut Irham Fahmi, kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar8. Kinerja perusahaan merupakan suatu gambaran tentang kondisi keuangan suatu perusahaan yang dianalisis dengan alat-alat analisis keuangan, sehingga dapat diketahui mengenai baik buruknya keadaan keuangan suatu perusahaan yang mencerminkan prestasi kerja dalam periode tertentu.
Dalam Standar Akuntansi Keuangan, dijelaskan juga mengenai informasi dari kinerja perusahaan, yaitu informasi kinerja perusahaan terutama profitabilitas dimana diutamakan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan di masa depan.
Kinerja keuangan bank dapat dikatakan sebagai hasil kerja bank untuk meningkatkan nilai usahanya melalui peningkatan laba, peningkatan kualitas aset, dan prospek bank kedepan, namun titik berat yang menjadi fokus tetap pada aspek profitabilitas.
Disamping itu, kinerja keuangan bank merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu baik menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas, dan profitabilitas bank9. Penilaian aspek profitabilitas (ROA dan ROE) pada bank untuk mengetahui kemampuan bank dalam menciptakan profit.
8 Irham Fahmi, Analisis Kinerja Keuangan Panduan Bagi Akademisi, Manajer, dan Investor untuk Menilai dan Menganalisis Bisnis dari Aspek Keuangan, (Bandung: Alfabeta, 2011), hal. 2.
9 Jumingan, Analisa Laporan Keuangan, Cet. Pertama, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006), hal. 239.
Penilaian kinerja keuangan merupakan salah satu cara yang digunakan oleh manajemen bank untuk memenuhi kewajibannya terhadap penyandang dana dan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh perusahaan.
B. Laporan Keuangan
1. Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Di dalamnya berisi ringkasan dari suatu proses pencatatan, serta merupakan ringkasan dari transaksi-transaksi keuangan itu disusun dengan maksud untuk menyediakan informasi keuangan mengenai suatu perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan-pengambilan keputusan ekonomi10.
Menurut Kasmir, laporan keuangan adalah laporan yang menunjukan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu11. Maksud dari kondisi perusahaan saat ini adalah keadaan keuangan perusahaan pada saat tertentu (untuk neraca) dan periode tertentu (untuk laporan laba rugi). Laporan keuangan biasanya dibuat per periode, seperti tiga bulan, enam bulan (untuk keperluan internal perusahaan), dan untuk laporan lebih luas dilakukan satu tahun sekali.
10 Sumarti, Analisis Kinerja Keuangan pada Bank Syariah Mandiri di Jakarta, (Skripsi S1 Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2009), hal. 25.
11 Kasmir, S.E., M.M, Analisis Laporan Keuangan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), hal. 7
Berdasarkan penggunaannya, laporan keuangan bank dibagi tiga, yaitu laporan keuangan untuk masyarakat, laporan keuangan untuk keperluan manajemen bank, dan laporan keuangan untuk keperluan pengawasan Bank Indonesia (Saat ini dialihkan ke Otoritas Jasa Keuangan).
2. Tujuan dan Manfaat Laporan Keuangan
Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No.1), tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut:
1. Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.
2. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan.
3. Laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggung jawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. Pemakai yang ingin menilai apa yang telah dilakukan atau pertangung jawaban manajemen berbuat demikian agar mereka dapat membuat keputusan ekonomi. Keputusan ini mungkin
mencakup, misalnya keputusan untuk menahan atau menjual investasi mereka dalam perusahaan atau keputusan untuk mengangkat kembali atau menggali manajemen.
Secara khusus Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) menyebutkan tujuan laporan keuangan sebagai berikut12:
a. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai aktiva, kewajiban, dan modal suatu perusahaan.
b. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan aktiva neto (aktiva-kewajiban) suatu perusahaan yang timbul dari kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba.
c. Untuk memberikan informasi keuangan dalam menaksir potensi perusahaan yang menghasilkan laba.
d. Untuk memberikan informasi mengenai perubahan aktiva dan kewajiban suatu perusahaan.
e. Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan keuangan.
Laporan keuangan akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat jika masyarakat menaruh kepercayaan pada laporan tersebut dengan catatan-catatan yang lalu. Laporan keuangan berguna sebagai cara untuk mengantisipasi keadaan di masa yang akan datang dan sebagai titik
12 Juliansah Roni, Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Return Saham Perusahaan Perbankan Di Bursa Efek Indonesia (BEI), (Skripsi S1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011), hal. 13
tolak bagi tindakan perencanaan yang akan mempengaruhi jalannya kejadian di masa mendatang. Manfaat laporan tersebut antara lain:
Bagi manajemen: yaitu untuk pengambilan keputusan yang dapat digunakan sebagai bahan membuat perencanaan, bahan evaluasi, dan bahan pertanggungjawaban.
Bagi stakeholder: yaitu untuk pengambilan keputusan yang digunakan oleh para pemegang saham, pekerja, kreditur, pemerintah, masyarakat, pesaing dan konsumen lainnya.
3. Pihak-Pihak Yang Berkepentingan Terhadap Laporan Keuangan Banyak pihak yang mempunyai kepentingan untuk mengetahui lebih dalam tentang laporan keuangan dari bank. Karena masing-masing pihak mempunyai kepentingan yang berbeda, maka sudah tentu mereka akan memberikan tekanan-tekanan analisa pendekatan-pendekatan maupun cara-cara analisa yang berbeda pula sesuai dengan sifat dan kepentingan masing-masing. Berikut ini adalah pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan13:
1. Pemilik
Pemilik yang dimaksud adalah mereka yang memiliki usaha tersebut. Hal ini tercermin dari kepemilikan saham yang dimilikinya.
13 Kasmir, S.E., M.M, Analisis Laporan Keuangan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), hal. 19.
Kepentingan bagi para pemegang saham yang merupakan pemilik perusahaan terhadap hasil laporan keuangan yang telah dibuat adalah: a. Untuk melihat kondisi dan posisi perusahaan saat ini.
b. Untuk melihat perkembangan dan kemajuan perusahaan dalam suatu periode. Kemajuan dilihat dari kemampuan manajemen dalam menciptakan laba dan pengembangan aset perusahaan. Dari laporan ini pemilik dapat menilai kedua hal tersebut apakah ada perubahan atau tidak. Kemudian jika memperoleh laba, pemilik akan atau berapa dividen yang akan diperolehnya.
c. Untuk menilai kinerja manajemen atas target yang telah ditetapkan. Artinya penilaian diberikan untuk manajemen perusahaan ke depan, apakah perlu prgantian manajemen atau tidak. Kemudian disusun rencana berikutnya untuk menentukan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan, baik penambahan maupun perbaikan.
2. Manajemen
Kepentingan pihak manajemen perusahaan terhadap laporan keuangan perusahaan yang mereka buat juga memiliki arti tertentu. Bagi pihak manajemen, laporan keuangan yang dibuat merupakan cermin kinerja mereka dalam suatu periode tertentu.
3. Kreditor
Kreditor adalah pihak penyandang dana bagi perusahaan. Artinya pihak pemberi dana atau lembaga keuangan lainnya. Kepentingan pihak kreditor terhadap laporan keuangan perusahaan adalah dalam hal memberi pinjaman atau pinjaman yang telah berjalan sebelumnya. Bagi pihak kreditor, prinsipkehati-hatian dalam menyalurkan dana (pinjaman) kepada berbagai perusahaan sangat diperlukan.
4. Pemerintah
Pemerintah juga memiliki nilai penting atas laporan keuangan yang dibuat perusahaan. Bahkan pemerintah melalui Departemen Keuangan mewajibkan kepada setiap perusahaan untuk menyusun dan melaporkan keuangan secara periodic. Arti penting laporan keuangan bagi pemerintah adalah:
a. Untuk menilai kejujuran perusahaan dalam melaporkan seluruh keuangan perusahaan yang sesungguhnya;
b. Untuk mengetahui kewajiban perusahaan terhadap negara dari hasil laporan keuangan yang dilaporkan. Dari laporan ini akan terlihat jumlah pajak yang harus dibayar kepada negara secara jujur dan adil.
5. Investor
Investor adalah pihak yang hendak menanamkan dana di suatu perusahaan. Jika suatu perusahaan memerlukan dana untuk memperluas
usaha atau kapasitas usahanya disamping memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan seperti bank dapat pula diperoleh dari para investor melalui penjualan saham.
Bagi investor yang ingin menanamkan dananya dalam suatu perusahaan sebelum memutuskan untuk membeli saham, perlu mempertimbangkan banyak hal. Dasar pertimbangan investor adalah dari laporan keuangan yang disajikan dari perusahaan yang akan ditanamnya. Dalam hal ini investor akan melihat prospek usaha ini di masa sekarang dan masa yang akan datang. Prospek yang dimaksud adalah keuntungan yang akan diperolehnya (dividen) serta perkembangan nilai saham kedepan. Setelah itu, baru investor dapat mengambil keputusan untuk membeli sahan suatu perusahaan atau tidak.
C. Rasio Keuangan
1. Pengertian Rasio Keuangan
Rasio keuangan merupakan salah satu informasi yang dapat digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi keuangan dari suatu perusahaan. Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari suatu laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan14.
14 Syofan Syafri Harahap, Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2009), hal. 297.
Pengertian rasio keuangan menurut James C. Van Home merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya15. Rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Dari hasil rasio keuangan ini akan terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan.
Jadi dapat dikatakan bahwa rasio keuangan adalah kegiatan membandingkan angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan dengan cara membagi angka tersebut dengan angka lainnya. Hasil dari rasio keuangan ini dapat digunakan untuk menilai kinerja manajemen perusahan apakah mencapai target yang ditetapkan atau tidak.
2. Jenis-Jenis Rasio Keuangan
Rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: a. Return On Asset (ROA)
Return On Asset merupakan kemampuan manajemen bank dalam
menghasilkan laba dari pengelolaan aset yang dimiliki. ROA penting bagi bank karena ROA digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar pula tingkat keuntungan yang
15 Kasmir, S.E., M.M, Analisis Laporan Keuangan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), hal. 104
dicapai bank, dan semakin baik posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset16. Rumus ROA adalah sebagai berikut:
b. Return On Equity (ROE)
Return On Equity atau yang sering disingkat dengan ROE adalah tingkat profitabilitas yang sering dihubungkan dengan penggunaan modal sendiri oleh perusahaan. Perhitungan ROE dapat dilakukan dengan menggunakan basis setelah pajak, maupun sebelum pajak. Namun, basis setelah pajak-lah yang sering dipergunakan di dalam menghitung ROE. ROE dapat digunakan untuk memperkirakan keuntungan bersih yang diterima oleh shareholder apabila menginvestasikan dananya pada bank.
Return On Equity (ROE) is a central measure of performance in the banking industry, whuch is used to allocate capital inside and cross divisions17.
c. Capital Adequacy Ratio (CAR)
CAR adalah rasio perbandingan jumlah modal baik modal inti maupun modal pelengkap terhadap aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Besarnya modal suatu bank akan berpengaruh terhadap mampu atau tidaknya suatu bank secara efisien menjalankan kegiatannya, selain itu juga berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan masyarakat peminjam. Penggunaan modal bank juga dimaksudkan untuk memenuhi segala kebutuhan bank guna menunjang
16 Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2009), hal. 118.
17 Christophe Moussu dan Arthtur Petit-Romec, ROE in Banks: Myth and Reality, (Journal of ESCP Europe, 2013), hal. 2.
kegiatan operasi. Penurunan jumlah CAR merupakan akibat dari menurunnya jumlah modal bank atau meningkatnya jumlah aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Jumlah modal yang kecil disebabkan oleh adanya penurunan laba yang diperoleh perusahaan18.
Rasio CAR digunakan untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya dari pembiyaan atau kredit yang diberikan. Jika nilai CAR tinggi (sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia sebesar 8%), berarti bahwa bank tersebut mampu membiayai operasi bank. Rumus untuk mencari CAR adalah sebagai berikut:
d. Financing to Deposit Ratio (FDR)
Financing to Deposit Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur likuiditas suatu bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya, yaitu dengan cara membagi jumlah pembiayaan yang diberikan oleh bank terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK)19.
Semakin tinggi Financing to Deposit Ratio (FDR) maka semakin tinggi dana yang disalurkan ke Dana Pihak Ketiga (DPK) yang besar maka pendapatan bank semakin meningkat. Hal ini serupa dengan High Risk High
18 Sri Wahyuni Asnaini, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Non Performing Financing (NPF) Pada Bank Umum Syariah di Indonesia, (Jurnal TEKUN, Universitas Mercu Buana, 2014), vol. V, hal. 271.
19 Suryani, Analisis Pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR) Terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah Di Indonesia, (Jurnal STAIN Malikussaleh Lhokseumawe, 2011), Vol. 19, hal. 59.
Return. Tingginya angka dari rasio FDR tidaklah selalu menunjukan besarnya return yang akan didapatkan oleh bank. Apabila rasio FDR bank di bawah dari standar yang ditetapkan, berarti bahwa ada bagian dari DPK bank yang tidak tersalurkan kepada pihak yang membutuhkan. Sedangkan apabila rasio FDR melebihi standar yang ditetapkan, dapat dikatakan bahwa bank over budget dalam menggunakan dana pihak ketiga untuk pembiayaan dan menunjukan semakin riskan kondisi likuiditas bank. Rasio ini dirumuskan dengan:
e. Non Performing Financing (NPF)
Non Performing Financing (NPF), menurut surat edaran Bank Indonesia Nomor 9/24/DPbs tahun 2007 tentang sistem penilaian kesehatan bank berdasarkan prinsip syariah, Non Performing Financing adalah “pembiayaan yang terjadi ketika pihak debitur (mudharib) karena berbagai sebab tidak dapat memenuhi kewajiban untuk mengembalikan dana pinjaman”.
NPF secara luas dapat dikatakan sebagai suatu pembiayaan dimana pembayaran yang dilakukan tersendat-sendat dan tidak mencukupi kewajiban minimal yang ditetapkan sampai dengan kredit yang sulit untuk dilunasi atau bahkan tidak dapat ditagih.
Risiko kredit umumnya muncul dari berbagai kredit masuk yang tergolong kredit bermasalah. Rasio NPF yang tinggi memberikan kesulitan sekaligus menurunkan tingkat kesehatan bank yang bersangkutan, atau dapat dikatakan bahwa kineja bank yang bersangkutan kurang baik. Oleh karena itu, bank dituntut untuk selalu menjaga kreditnya agar tidak masuk dalam golongan
kredit bermasalah.
NPF dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana pembiayaan bermasalah yang ada dapat dipenuhi dengan aktiva produktif yang dimiliki oleh suatu bank. NPF adalah rasio yang membandingkan antara total pembiayaan bermasalah terhadap total pembiayaan yang disalurkan dalam bentuk presentase.
D. Kerangka Pemikiran
PENGARUH CAPITAL ADEQUACY RATIO, NON PERFORMING FINANCING, DAN FINANCING TO DEPOSIT RATIO TERHADAP
RETURN ON ASSET DAN RETURN ON EQUITY
BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH
BPRS YANG BERADA DI JABODETABEK
VARIABEL Y: ROA & ROE
VARIABEL X: CAR, NPF, FDR
PEMILIHAN MODEL ESTIMASI DATA PANEL
FIXED EFFECT
COMMON EFFECT RANDOM EFFECT
UJI AKAR-AKAR UNIT
UJI HAUSMAN UJI CHOW DATA STASIONER DATA TIDAK STASIONER UJI F UJI t UJI R2 INTERPRETASI KESIMPULAN ESTIMASI TERPILIH
E. Tinjauan Studi Terdahulu
Tabel 2. 1 Tinjauan Studi Terdahulu
No Peneliti/ Sumber Judul/ Hasil Perbedaan
1. Esther Novelina Hutagalung, Djumahir, dan Kusuma Ratnawati/ Analisa Rasio Keuangan terhadap Kinerja Bank Umum di Indonesia/ Jurnal Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Malang, SK DIRJEN DIKTI NO. 66b/DIKTI/KEP/2011 , ISSN: 1693-5241, 2011
Metode yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil dari penelitian ini menunjukan NPL, NIM dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap ROA. Sedangkan variabel CAR dan LDR berpengaruh tidak signifikan terhadap ROA
Perbedaan penelitian ini dengan yang akan penulis lakukan adalah penulis menggunakan dua rasio porfitabilitas yaitu ROA dan ROE sebagai indikator kinerja. Kemudian, rasio keuangan lain yang digunakan ada 4 rasio yaitu CAR, NPF, dan FDR. Penulis tidak menggunakan rasio NIM dan BOPO dalam penelitiannya.
2. Didik Purwoko dan Bambang Sudiyanto/ Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Bank Studi Empirik Pada Industri Perbankan di Bursa Efek Indonesia/ Jurnal Bisnis dan Ekonomi, Program Studi Manajemen, Universitas Stikubank Semarang, ISSN: 1412-3126, (Maret 2013).
Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian ini adalah tiga
faktor yang
mempengaruhi kinerja bank (ROA) adalah efisiensi operasi (BOPO), risiko kredit (NPL), dan risiko pasar (NIM), sedangkan permodalan (CAR) dan likuiditas (LDR) ditemukan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja bank (ROA).
Perbedaan penelitian ini dengan yang akan penulis lakukan adalah penulis menggunakan dua rasio porfitabilitas yaitu ROA dan ROE sebagai indikator kinerja. Kemudian, rasio keuangan lain yang digunakan ada 3 rasio yaitu CAR, NPF, dan FDR. Penulis tidak menggunakan rasio NIM dan BOPO dalam penelitiannya
3. Rosy Mustika Maharani/ Analisis Hubungan Capital Adequacy Ratio, Loan to Deposit Ratio, Non Performing Loan, Net Interest Margin, dan Biaya Operasional dengan Pendapatan Operasional terhadap Profitabilitas Bank Umum yang Listing di Bursa Efek Indonesia Periode 2003-2007/ Skripsi S1 Universitas Indonesia, 2009
Penelitian ini menggunakan regresi linier berganda dengan data panel. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara variabel NIM dan BOPO terhadap ROA, namun CAR. LDR, dan NPL tidak berhubungan signifikan terhadap ROA. Sementara itu, terdapat hubungan yang signifikan antara variabel NIM, NPL, LDR, dan BOPO terhadap ROA,
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian penulis adalah variabel yang digunakan. Penulis hanya menggunakan 3 variabel yaitu CAR, NPF dan FDR. Selain itu, sampel yang penulis jadikan objek adalah Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dengan periode 2012-2015.
sedangkan CAR tidak berhubungan signifikan terhadap ROA. 4. Ahmed Mohamed Badreldin/ Measuring the Performance of Islamic Banks by Adapting Conventional Ratios / Working Paper Series No.16, Faculty of Management
Technology, German University in Cairo, October 2009
Hasil penelitian ini adalah The produce results are suggesting to be more reliable, accurate and fairly representing the financial position and performance of the bank, and should function similarly for Islamic banks in generate (disarankan untuk lebih handal, akurat, dan cukup mewakili posisi keuangan dan kinerja bank dan harus berfungsi juga untuk bank syariah secara umum).
Dengan mengadaptasi alat tersebut pada bank syariah, dapat dipastikan bahwa makna yang dimaksud disajikan dengan jelas dan penafsiran-penafsirannya lebih akurat dari sebelumnya.
Dalam penelitian yang penulis lakukan, penulis menggunakan dua rasio profitabilitas dalam mengukur kinerja bank syariah, yaitu ROA dan ROE. Sedangkan dalam penelitian ini hanya menggunakan ROE.
5. Ahmad Khairul Anwar/ Kinerja Bank Muamalat Indonesia dan Bank Mandiri / Skripsi S1, Fakultas Syariah dan Hukum,
UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2009
Metode yang digunakan yaitu dengan menggunakan rasio keuangan Quick Ratio, Cash Ratio, FDR, ROA, ROE, dan BOPO. Hasil dari penelitian ini adalah