• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab ini berisi kesimpulan dari penelitian, keterbatasan

6 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Investasi

1. Pengertian Investasi

Menurut Jogiyanto (2003: 3), investasi adalah penundaan konsumsi

sekarang untuk digunakan di dalam produksi yang efisien selama periode

waktu tertentu. Investasi merupakan penempatan sejumlah dana pada saat

ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang

(Abdul Halim, 2005: 4). Jadi, investasi adalah penundaan penggunaan

uang/barang pada saat ini untuk ditempatkan pada aset tertentu agar dapat

memberikan manfaat yang lebih besar di masa yang akan datang.

2. Jenis-jenis Investasi

Menurut Abdul Halim (2005: 4), investasi dibedakan menjadi dua :

a. Investasi pada aset-aset financial (financial assets)

Investasi pada asat-aset financial dilakukan di pasar uang, misalnya

berupa sertifikat deposito, commercial paper, surat berharga pasar uang, dan lainnya. Investasi dapat juga dilakukan di pasar modal,

misalnya berupa saham, obligasi, waran, opsi, dan lainnya.

b. Investasi pada aset-aset riil (real asset)

Investasi pada aset-aset riil dapat berbentuk pembelian aset

produktif, pendirian pabrik, pembukaan pertambangan, pembukaan

Menurut Jogiyanto (2000: 7-11), investasi dibedakan menjadi

dua yaitu :

a. Investasi langsung

Investasi ini dilakukan dengan membeli aktiva keuangan yang

dapat diperjualbelikan di pasar uang (money market), pasar modal (capital market), atau di pasar turunan (derivation market) maupun dengan membeli aktiva keuangan yang tidak dapat diperjualbelikan

yang biasanya diperoleh melalui bank komersial. Jadi investasi

langsung merupakan pembelian langsung aktiva keuangan suatu

perusahaan tanpa melalui perusahaan investasi.

b. Investasi tidak langsung

Investasi ini dilakukan dengan membeli surat-surat berharga dari

perusahaan investasi. Perusahaan investasi menyediakan jasa keuangan

dengan cara menjual sahamnya kepada publik dan menggunakan dana

yang diperoleh untuk diinvestasikan ke dalam portofolionya.

3. Proses investasi

Proses investasi merupakan langkah- langkah yang seharusnya

ditempuh pemodal dalam melakukan investasi sekuritas yang meliputi

jenis sekuritas yang dipilih, jumlah investasi dan waktu yang tepat untuk

Menurut Abdul Halim (2005: 4-7), proses investasi meliputi :

a. Menentukan tujuan investasi

Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan yaitu :

1). Tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return) 2). Tingkat risiko (rate of risk)

3). Ketersediaan jumlah dana yang diinvestasikan

b. Melakukan analisis

Dalam tahap ini investor melakukan analisis terhadap suatu efek

atau sekelompok efek. Salah satu tujuan penilaian ini adalah untuk

mengidentifikasi efek yang salah harga (misprice). Analisis dilakukan dengan dua pendekatan yaitu:

1). Pendekatan fundamental

Pendekatan ini didasarkan pada informasi- informasi yang

diterbitkan oleh emiten maupun oleh administrator bursa efek.

Analisis ini dimulai dari siklus usaha perusahaan secara umum,

selanjutnya ke sektor industrinya, akhirnya dilakukan evaluasi

terhadap kinerjanya dan saham yang diterbitkannya.

2). Pendekatan teknikal

Pendekatan ini didasarkan pada data (perubahan) harga

saham di masa lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga

saham di masa mendatang. Dengan analisis ini para analis

memperkirakan pergeseran penawaran dan permintaan dalam

dan pertumbuhan laba dalam menentukan barometer dari

penawaran dan permintaan. Analisis ini mendasarkan pada premis

bahwa harga saham tergantung pada permintaan dan penawaran

saham itu sendiri.

c. Membentuk portofolio

Dalam tahap ini dilakukan identifikasi terhadap efek-efek mana

yang akan dipilih dan berapa proporsi dana yang akan diinvestasikan

pada masing- masing efek tersebut. Efek yang dipilih adalah efek yang

mempunyai koefisien korelasi negatif.

d. Mengevaluasi portofolio

Evaluasi dilakukan atas kinerja portofolio yang telah dibentuk,

baik terhadap tingkat pengembalian yang diharapkan maupun terhadap

tingkat risiko yang ditanggung.

e. Merevisi kinerja portofolio

Tahap ini merupakan tindak lanjut dari tahap evaluasi kinerja

portofolio. Selanjutnya dilakukan revisi terhadap efek-efek yang

membentuk portofolio jika dirasa komposisi portofolio yang ada tidak

sesuai dengan tujuan investasi. Revisi dapat dilakukan secara total dan

secara terbatas.

B. Leverage Keuangan

1. Pengertian Leverage Keuangan

Berikut ini adalah beberapa definisi leverage keuangan:

a. Menurut Dewi Astuti (2004: 138), leverage keuangan adalah suatu ukuran yang menunjukkan sampai sejauh mana hutang dan saham

preferen digunakan dalam struktur modal.

b. Menurut J. Fred Weston dan Thomas E. Copelan (1998: 23), leverage

keuangan berarti penggunaan hutang. Apabila hasil pengembalian

atas aktiva lebih besar daripada biaya hutang, leverage tersebut menguntungkan dan hasil pengembalian atas modal dengan

penggunaan leverage juga akan ditingkatkan. Bila hasil pengembalian atas aktiva lebih kecil daripada biaya hutang, leverage

akan mengurangi hasil atas pengembalian modal.

c. Menurut Sartono (2001: 263), leverage keuangan adalah penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap dengan harapan akan

memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar daripada beban

tetapnya, sehingga akan meningkatkan keuntungan ya ng tersedia

bagi pemegang saham.

d. Menurut Lukas Setia Atmaja (1994: 293), suatu perusahaan dikatakan

menggunakan leverage keuangan jika perusahaan tersebut membelanjai sebagian dari aktivanya dengan sekuritas yang

membayar bunga tetap (misal: hutang pada bank, menerbitkan

perubahan EBIT perusahaan mengakibatkan perubahan yang lebih

besar pada EPS atau penghasilan per lembar saham. Kepekaan EPS

terhadap perubahan EBIT diukur dengan tingkat leverage keuangan (Degree of Financial Leverage, DFL)

Jadi, leverage keuangan adalah penggunaan hutang yang mengharuskan peminjam membayar beban tetap setiap periode dan

diharapkan dapat memberikan tambahan keuntungan bagi pemegang

saham.

2. Teori terkait dengan Struktur Modal

a. Teori MM : Pajak Nol

Teori ini membuktikan bahwa nilai suatu perusahaan tidak

dipengaruhi oleh struktur modalnya. Hasil- hasil MM menyatakan

bahwa tidak menjadi masalah bagaimana perusahaan membiayai

operasinya, jadi struktur modal tidak relevan. Tetapi, studi teori ini

didasarkan pada asumsi yang tidak realistis, antara lain : tidak ada

biaya broker (pialang), tidak ada pajak, tidak ada biaya

kebangkrutan, para investor dapat meminjam dengan tingkat suku

bunga yang sama dengan perseroan, semua investor mempunyai

informasi yang sama seperti manajemen mengenai peluang investasi

perusahaan di masa mendatang, EBIT tidak dipengaruhi oleh

b. Efek Pajak

Teori ini menggunakan asumsi adanya pajak perseroan.

Peraturan perpajakan memperbolehkan pengurangan pembayaran

bunga sebagai beban, tetapi pembayaran dividen kepada pemegang

saham tidak dapat dikurangkan. Perlakuan yang berbeda ini

mendorong untuk menggunakan hutang dalam struktur modal.

c. Efek Biaya Kebangkrutan

Teori MM menggunakan asumsi tidak ada biaya kebangkrutan.

Namun dalam prakteknya risiko kebangkrutan selalu ada. Perusahaan

yang bangkrut mempunyai biaya hukum dan akuntansi yang sangat

tinggi, sehingga mereka juga sulit menahan pelanggan, pemasok, dan

karyawan. Bahkan, kebangkrutan sering memaksa suatu perusahaan

untuk melikuidasi atau menjual hartanya dengan harga di bawah

harga seandainya masih beroperasi. Masalah kebangkrutan

cenderung muncul jika suatu perusahaan menyertakan lebih banyak

hutang dalam struktur modalnya.

d. Teori Trade-Off

Dalam teori ini perusahaan berusaha menyeimbangkan manfaat

dari pendanaan yang berasal dari hutang (perlakuan pajak perseroan

yang menguntungkan) dengan suku bunga dan biaya kebangkrutan

yang lebih tinggi. Hutang merupakan sumber dana yang lebih murah

daripada saham biasa atau saham preferen karena beban bunga dapat

mengakibatkan peningkatan porsi laba operasi perusahaan (EBIT)

yang mengalir ke investor. Jadi, semakin tinggi hutang semakin

tinggi nilai dan harga sahamnya. Namun, perusahaan tetap

membatasi penggunaan hutang untuk menekan biaya-biaya yang

berkaitan dengan kebangkrutan supaya dapat menerapkan struktur

modal yang optimal.

e. Teori Pengisyaratan

MM mengasumsikan bahwa investor memiliki informasi yang

sama mengenai prospek perusahaan seperti yang dimiliki para

manajer. Kondisi ini disebut kesamaan informasi (symetric information). Akan tetapi, dalam kenyataannya manajer memiliki informasi yang lebih baik daripada investor luar. Hal ini disebut

dengan ketidaksamaan informasi (asymetric information) dan ini sangat berpengaruh terhadap keputusan struktur modal yang optimal.

Perusahaan dengan prospek yang cerah tidak menghendaki

pendanaan dengan menjual saham baru, sedangkan perusahaan

dengan prospek yang suram memang menyukai pendanaan dengan

ekuitas dari luar. Dengan demikian, pengumuman emisi saham oleh

suatu perusahaan umumnya merupakan isyarat (signal) bahwa manajemen memandang prospek perusahaan tersebut suram dan

f. Pecking Order Hypothesis (Baldric Sirega r, 2005: 220)

Pecking Order Hypothesis (POH) menyatakan bahwa perusahaan lebih mengutamakan dana internal daripada dana

eksternal dalam aktivitas pendanaan. Kecukupan dana internal dapat

dilihat dari besarnya laba, laba ditahan, atau arus kas. Apabila dana

eksternal dibutuhkan, maka perusahaan lebih mengutamakan

penggunaan hutang daripada ekuitas. Ide dasar POH sangat

sederhana, yaitu perusahaan membutuhkan dana eksternal hanya

apabila dana internal tidak cukup dan sumber dana eksternal yang

lebih diutamakan adalah hutang daripada emisi saham.

Ada empat alasan yang mendasari mengapa POH

memprediksi bahwa perusahaan mengutamakan hutang daripada

ekuitas apabila pendanaan eksternal dibutuhkan yaitu: (Baldric

Siregar, 2005: 221)

1). Pasar menderita kerugian karena adanya asimetri informasi antara

manajer dengan pasar.

2). Emisi utang dan emisi saham sama-sama membutuhkan biaya

transaksi bagi perusahaan.

3). Perusahaan mendapatkan manfaat pajak dengan mengeluarkan

hutang.

4). Kontrol manajemen lebih besar terhadap perusahaan bila

C. Dividen

1. Pengertian Dividen

Dividen adalah laba perusahaan yang dibagikan kepada

pemegang saham (Dewi Astuti, 2004: 50). Pembayaran dividen bisa

dalam bentuk uang tunai, saham atau barang, namun yang paling umum

adalah pembayaran dalam bentuk uang tunai. Bagi invesor jumlah rupiah

yang diterima dari pembayaran dividen risikonya lebih kecil daripada

capital gain, selain itu dividen dapat diperkirakan sebelumnya. Sedangkan capital gain lebih sulit diperkirakan, sehingga pembayaran dividen yang tinggi dapat diartikan bahwa perusahaan mempunyai

prospek yang baik. Sebaliknya penurunan pembayaran dividen dapat

diartikan bahwa prospek tingkat keuntungan perusahaan kurang baik.

Akhirnya harga saham cenderung mengikuti naik turunnya besarnya

dividen yang dibayarkan.

Pengaruh penurunan besarnya dividen yang dibayarkan dapat

menjadi informasi yang kurang baik bagi perusahaan karena dividen

merupakan tanda tersedianya laba perusahaan dan besarnya dividen yang

dibayar sebagai informasi tingkat pertumbuhan laba saat ini dan

mendatang. Dengan anggapan tersebut, harga saham akan turun, karena

2. Bentuk – bentuk Dividen (Baridwan, 1997 : 236)

a. Dividen kas

Dividen paling umum dibayarkan dalam bentuk kas, pembayaran

dilakukan satu kali dalam satu tahun. Biasanya perusahaan harus

memenuhi tiga kondisi agar dapat membayar dividen tunai yaitu:

1) laba ditahan mencukupi

2) kas yang memadai

3) tindakan formal dari Dewan Komisaris

b. Dividen aktiva selain kas (property dividen)

Aktiva yang dibagikan dapat berupa surat-surat berharga

perusahaan lainnya yang dimiliki oleh perusahaan dagang.

c. Dividen likuidasi

Dividen likuidasi adalah dividen yang sebagian merupakan

pengembalian modal.

d. Dividen utang

Dividen utang terjadi bila laba tidak dibagi saldonya mencukupi

untuk pembayaran dividen, tetapi saldo kas yang ada tidak cukup,

sehingga pimpinan perusahaan akan mengeluarkan scrip dividen yaitu janji yang tertulis untuk membayar jumlah tertentu di masa yang akan

datang.

e. Dividen saham (stock dividen)

Dividen saham adalah pembagian dividen dalam bentuk saham

yang beredar. Apabila dividen saham ini dilakukan, maka tidak akan

menambah jumlah modal sendiri, akan tetapi akan mengubah komposisi

modal perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian, saldo laba

ditahan akan berkurang sebesar jumlah yang dikapitalisai (Abdul Halim,

2005 : 94 ).

Rasio pembayaran dividen (Dividen Payout Ratio / DPR) adalah persentase laba bersih yang dibayarkan sebagai dividen tunai. Target

payout ratio seharusnya didasarkan pada preferensi sebagian besar investor.

3. Beberapa Teori terkait dengan Dividen

a. Teori Ketidakrelevanan Dividen

Teori ini menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak

mempunyai pengaruh terhadap harga saham perusahaan maupun

terhadap biaya modalnya sehingga kebijakan dividen tidak relevan.

Nilai suatu perusahaan ditentukan oleh kemampuan dasarnya

menghasilkan laba dan risiko bisnisnya. Investor kurang

mempedulikan antara dividen dan capital gain. Jika menginginkan kas investor menjual saham dan sebaliknya jika tidak menginginkan

kas mereka membeli saham. Teori ini juga didasarkan pada asumsi

b. Teori Bird-In-The-Hand

Teori ini menyatakan bahwa nilai perusahaan akan

dimaksimumkan dengan menentukan rasio pembagian dividen yang

tinggi. Investor lebih menghargai pendapatan yang diterima dari

dividen daripada pendapatan yang diharapkan diterima dari

keuntungan modal (capital gain). c. Teori Preferensi Pajak

Investor lebih menyukai pembagian dividen yang rendah

daripada yang tinggi. Keuntungan modal (capital gain) dikenakan tarif lebih rendah daripada dividen dan investor dikenai tingkat pajak

yang lebih besar pada dividen dibanding capital gain, capital gain

tidak terkena pajak jika saham tidak dijual. Karena itu, investor lebih

menyukai capital gain daripada dividen, dan ingin perusahaan menahan laba untuk pertumbuhan sehingga harga saham meningkat.

4. Isu lain dalam kebijakan dividen

a. Hipotesis Kandungan Informasi atau Pengisyaratan

MM mengasumsikan bahwa setiap investor dan juga manajer

mempunyai informasi yang sama mengenai pendapatan dan dividen

perusahaan di masa mendatang. Namun dalam kenyataannya,

investor yang berbeda mempunyai pandangan yang berbeda tentang

tingkat pembayaran dividen di masa mendatang dan ketidakpastian

informasi yang lebih baik mengenai prospek masa depan daripada

pemegang saham.

Kenaikan dividen seringkali menyebabkan kenaikan harga

saham, sementara pemotongan dividen umumnya menyebabkan

penurunan harga saham. Hal ini menunjukkan bahwa investor secara

keseluruhan lebih menyukai dividen daripada keuntungan modal.

Akan tetapi, MM berpendapat lain. Mereka memberikan fakta yang

cukup kuat bahwa perusahaan-perusahaan enggan menurunkan

dividen, sehingga mereka tidak menaikkan dividen kecuali kalau

mereka mengantisipasi laba yang lebih tinggi di masa mendatang.

lebih tinggi daripada yang diperkirakan merupakan isyarat bagi

investor bahwa manajemen memperkirakan peningkatan laba di

masa mendatang. Sebaliknya penurunan dividen atau kenaikan yang

lebih kecil daripada yang diperkirakan, merupakan suatu isyarat

bahwa manajemen meramalkan laba yang rendah di masa

mendatang. Jadi, MM menegaskan bahwa reaksi investor terhadap

perubahan dalam kebijakan dividen tidak harus menunjukkan

investor lebih menyukai dividen daripada laba yang ditahan.

Sebaliknya mereka menyatakan bahwa perubahan harga saham

sesudah pembagian dividen hanya menunjukkan adanya kandungan

informasi atau pengisyaratan yang penting dalam pengumuman

b. Pengaruh Klientele

Pengaruh klientele merupakan kecenderungan suatu

perusahaan untuk menarik sekelompok investor yang menyukai

kebijakan dividennya. Adanya pengaruh kliente tidak menunjukkan

bahwa satu kebijakan dividen lebih baik daripada kebijakan dividen

yang lain.

5. Kebijakan dividen (Astuti, 2004: 145–147).

Kebijakan dividen menyangkut keputusan untuk membagikan laba atau

menahannya guna diinvestasikan kembali. Adapun faktor- faktor yang

mempengaruhi kebijakan tersebut adalah

a. Peraturan pemerintah

Beberapa negara ikut campur tangan dalam mengatur kebijakan

dividen bagi perusahaan supaya dapat melindungi kreditur.

b. Hambatan dalam perjanjian/kontrak

Bank akan membatasi pembayaran dividen tunai sampai batas

tertentu dari laba bisa dicapai atau bank mengatur pembayaran denda

sampai jumlah tertentu.

c. Hambatan internal

Jumlah pembayaran dividen tunai tergantung pada tersedianya kas

perusahaan. Walaupun laporan rugi laba menyatakan adanya laba

yang cukup besar namun jumlah tersebut belum tentu sama dengan

jumlah kas tunai yang ada di perusahaan. Jadi, saldo dari laporan

d. Perkiraan pertumbuhan di masa yang akan datang

Pimpinan perusahaan akan cenderung menahan laba untuk

pembiayaan rencana pembangunan bila melihat ada banyak peluang

untuk pengembangan perusahaan.

e. Pertimbangan pemilik perusahaan

Perusahaan perlu mengutamakan kesejahteraan pemilik dalam

menentukan kebijakan dividen dan perlu memberi kebebasan jika

ada peluang investasi yang lebih menguntungkan bagi pemilik. Bila

peluang investasi lain di luar perusahaan tampak lebih

menguntungkan maka perusahaan hendaknya menentukan persentase

pembayaran dividen yang lebih besar.

f. Pertimbangan pasar

Perusahaan sebaiknya mempertimbangkan reaksi pasar dalam

membuat kebijakan dividen. Pasar akan bereaksi positif atas

kebijakan dividen yang tetap atau bertumbuh secara tetap sedangkan

reaksi negatif dari pasar akan menurunkan harga saham

D. Review Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai Leverage Keuangan, Investasi dan Dividen telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Myer dan Majluf, 1984 (dikutip

dalam Baldric Siregar, 2005 : 219) yang memperkenalkan salah satu teori

struktur modal modern yaitu Pecking Order Hypothesis (POH) memprediksi bahwa perusahaan lebih mengutamakan dana internal

daripada dana eksternal dalam aktivitas pendanaan. Perusahaan

membutuhkan dana eksternal hanya apabila dana internal tidak

mencukupi. Namun apabila dana eksternal dibutuhkan, perusahaan lebih

mengutamakan penggunaan hutang daripada ekuitas.

Baskin (1989) menguji apakah asimetri informasi mempengaruhi

kebijakan pendanaan perusahaan seperti yang diprediksikan oleh Pecking Order Hypothesis (POH). POH memprediksi bahwa perusahaan mengutamakan pendanaan melalui hutang daripada ekuitas apabila dana

internal tidak mencukupi. Karena dana yang tersedia tidak memadai, maka

perusahaan mengeluarkan hutang untuk mendanai investasi. Baskin

menemukan bahwa leverage keuangan mempengaruhi investasi secara positif

Allen (1993) (dikutip dalam Baldric Siregar, 2005: 223) menguji

perilaku pendanaan perusahaan publik Australia. Allen menemukan bahwa

leverage keuangan berpengaruh secara positif karena. Pengaruh positif ini terjadi karena perusahaan mengeluarkan hutang apabila dana internal tidak

mencukupi untuk melakukan investasi.

Tong dan Green (2004) (dikutip dalam Baldric Siregar, 2005: 223)

menguji keputusan keuangan perusahaan publik China yang terdaftar di

bursa Shanghai dan Shenzen. Mereka menemukan bahwa hutang

berhubungan negatif dengan ketersediaan dana internal. Temuan ini

menunjukkan bahwa apabila dana internal tidak cukup, maka perusahaan

perusahaan kepada pemegang saham, maka dana internal tidak lagi

mencukupi untuk melakukan investasi sehingga perusahaan berusaha

memperoleh dana eksternal melalui hutang.

Heti Herawati (2001) yang menganalisis hubungan antara

Financial Leverage, Rentabilitas Ekonomi dan Rentabilitas Modal Sendiri menemukan bahwa hubungan antara Financial Leverage dan Rentabilitas Ekonomi adalah negatif dan tidak signifikan dengan intensitas lemah, serta

hubungan antara Financial Leverage dan Rentabilitas Modal Sendiri adalah negatif dan tidak signifikan dengan intensitas lemah.

S. Prasetyo Kurniawan (2004) yang meneliti Pengaruh Laba Per

Lembar Saha m, Financial Leverage dan Perubahan Harga Saham di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2002-2003 menemukan bahwa variabel laba per

lembar saham tidak mempunyai hubungan positif terhadap variabel harga

saham, variabel Financial Leverage tidak mempunyai hubungan negatif terhadap harga saham, dan variabel laba per lembar saham, serta Financial Leverage tidak berhubungan positif terhadap variabel harga saham.

Baldric Siregar (2005) menguji tentang hubungan antara Leverage

Keuangan, Investasi dan Dividen menemukan bahwa leverage keuangan berpengaruh positif terhadap dividen dan investasi berpengaruh negatif

E. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis Penelitian 1. Pengaruh Leverage Keuangan terhadap Dividen

Perusahaan yang terus berkembang akan selalu melakukan inovasi

terhadap produk dan akan memperluas skala usaha. Untuk melakukannya,

perusahaan memerlukan dana yang kadang tidak sedikit. Perusahaan perlu

memikirkan perencanaan pendanaan yang baik supaya investasi yang

direncanakan dapat dilaksanakan dengan baik dan tidak terjadi kekurangan

dana.

Kekurangan dana akan merugikan perusahaan karena

kemungkinan investasi gagal dilaksanakan sehingga perusahaan tidak

memperoleh keuntungan. Kekurangan dana dapat diatasi dengan modal

sendiri, utang maupun campuran antara keduanya. Jika perusahaan

memilih investasi dibiayai dengan hutang maka akan meningkatkan

tingkat pengembalian yang diharapkan untuk suatu investasi tetapi juga

meningkatkan risiko investasi bagi pemilik (pemegang saham biasa)

karena mereka menanggung risiko keuangan (financial risk). Financial risk merupakan risiko yang harus ditanggung oleh pemegang saham biasa akibat penggunaan hutang (financial leverage) (Brigham, 2001: 145). Namun penggunaan hutang juga menguntungkan yaitu dapat memotong

bunga yang dibayarkan untuk tujuan pajak sehingga menurunkan bunga

efektif dari bunga dan pemegang hutang mendapat pengembalian tetap,

dalam kondisi prima. Pada tingkatan tertentu misalnya 50%, utang dapat

menaikkan laba per lembar saham, harga saham dan risiko.

Meskipun menggunakan hutang, perusahaan tetap memperhatikan

kesejahteraan pemegang saham dengan cara membagikan dividen

sehingga perusahaan mengeluarkan kebijakan dividen. Kebijakan dividen

menyangkut keputusan untuk membagikan laba atau menahannya guna

diinvestasikan kembali pada perusahaan (Astuti, 2004 : 145). Dividen

merupakan bagian dari penghasilan yang diharapkan pemegang saham dan

dapat dibayarkan secara tunai dalam bentuk uang kas. Jumlah pembayaran

dividen tunai tergantung dari tersedianya uang kas perusahaan. Laba yang

cukup besar dalam Laporan Rugi Laba belum tentu sama dengan jumlah

uang kas tunai yang ada di perusahaan. Laporan Arus Kas akan lebih

menentukan jumlah pembayaran dividen tunai karena arus kas

mencerminkan kemampuan perusahaan membayar dividen (Brigham,

2001 : 84).

Dalam menentukan kebijakan dividen perusahaan juga

mempertimbangkan reaksi pasar atas kebijakan tersebut. Umumnya pasar

menganggap kebijakan dividen yang tetap atau bertumbuh secara tetap

sebagai sinyal yang baik dari perusahaan. Akibatnya pemilik perusahaan

kadang enggan menurunkan pembayaran dividen meski laba turun. Hal ini

dilakukan agar pasar tidak bereaksi negatif dan tidak menurunkan harga

pada saat laba turun dan arus kas yang kurang memadai tetapi, maka

perusahaan dapat menggunakan arus kas yang berasal dari hutang.

Berdasarkan kerangka teori yang telah diuraikan diatas, maka

dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

Ho : Leverage Keuangan tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap dividen

HA : Leverage Keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap dividen

2. Pengaruh Investasi terhadap Dividen

Perusahaan yang sukses akan memperoleh laba. Laba tersebut

Dokumen terkait