• Tidak ada hasil yang ditemukan

8.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan : 1. KUD Mandiri Cisurupan cukup berperan bagi perkembangan usaha ternak

sapi perah di Kecamatan Cisurupan, hal ini dapat terlihat dari perkembangan jumlah populasi sapi perah dan juga peningkatan jumlah anggota peternak sapi perah di KUD Mandiri Cisurupan. Selain itu, KUD Mandiri Cisurupan juga menyediakan pelayanan kesehatan dengan adanya tunjangan dari pemerintah, yang terdiri dari kegiatan pelaksanaan IB pada sapi perah dan kegiatan pelayanan pemeriksaan kebuntingan, persediaan bahan baku, penyuluhan mengenai cara beternak yang baik secara teknis, pemasaran dan distribusi yang lebih memudahkan hasil produksi, waserda yang menyediakan barang-barang yang dibutuhkan para anggota dalam beternak dengan harga yang lebih terjangkau, dan kegiatan simpan pinjam yang memfasilitasi anggotanya untuk dapat melakukan penyimpanan serta peminjaman dana untuk kepentingan para anggota. Oleh karena itu, KUD Mandiri Cisurupan sangat berperan besar dalam peningkatan pengembangan usaha ternak sapi perah.

2. Sistem pengelolaan KUD Cisurupan sudah cukup baik, diantaranya dapat dilihat dari pengorganisasian kerja yang sudah berjalan dengan baik, bentuk usaha yang telah berbadan hukum dan perizinan usaha lainnya, hubungan kerjasama KUD dengan IPS yang baik dan hubungan kerjasama yang baik dengan pemasok bahan baku. Akan tetapi, kelemahan KUD Cisurupan adalah kurangnya pengetahuan manajer dan karyawan sehingga kurang optimal dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya.

8.2 Saran

Saran-saran yang dapat dikemukakan dengan dasar hasil pembahasan dan kesimpulan di atas adalah:

1. Dalam hal persediaan bahan baku, khususnya konsentrat KUD Mandiri Cisurupan belum mampu memproduksi kualitas konsentrat yang sesuai dengan gizi yang dibutuhkan sapi, oleh karena itu hendaknya pihak KUD berusaha untuk lebih meningkatkan kembali kulaitas konsentrat, sehingga meskipun harganya relatif mahal akan tetapi bisa memenuhi gizi sapi sehingga bisa menghasilkan produksi susu yang lebih tinggi. Selain itu, koperasi juga harus lebih sering memberikan penyuluhan bagi para anggotanya agar bisa merubah pola pikir para peternak yang masih rendah sehingga tidak melakukan kesalahan dalam beternak.

2. Koperasi Unit Desa (KUD) Mandiri Cisurupan harus menetapkan tujuan jangka panjang dan jangka pendek organisasi yang jelas dan kongkrit berdasarkan kebutuhan dan kepentingan anggota untuk memperkuat dan menciptakan keteraturan organisasi dalam mengembangkan usaha menghadapi persaingan usaha yang semakin kompleks. Selain itu, KUD Mandiri Cisurupan harus lebih sering memberikan pelatihan di bidang perkoperasian sehingga para karyawan memiliki pengetahuan yang optimal untuk mendukung sumber-sumber pengetahuan KUD Cisurupan.

DAFTAR PUSTAKA

Cernea, A. 1991. Membangun Koperasi Pertanian Berbasis Anggota. LSP 21. Jakarta.

Departemen Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah. 2009. Pengembangan Sistem Data dan Informasi Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah”. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Departemen Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah.

Direktorat Jenderal Peternakan. 2009. Buku Statistik Peternakan Tahun 2009. Direktorat Jenderal Petrnakan. Jakarta.

Gittinger, J. 1986. Economic Analysis of Agricultural Projects (2nd Edition). Edisi Terjemahan Bahasa Indonesia VI-Press. Jakarta, 1986.

GKSI. 2007. Perencanaan Usaha Koperasi. http://www. henry.wordpress.com. diakses pada tanggal 28 juni 2011.

Hafsah, M. 1999. Kemitraan Usaha. Jakarta: Sinar Harapan.

Hakim, I. 2004. Pengembangan Kelembagaan Koperasi Pedesaan untuk Agroindustri. IPB Press. Bogor.

Kecamatan Cisurupan. 2009. Buku Monografi Kec. Cisurupan Tahun 2009. Garut.

Koperasi Unit Desa (KUD) Mandiri Cisurupan. Laporan Tahunan KUD 2009. KUD Mandiri Cisurupan, Garut.

Krisnamurti, 1998. Dasar-dasar Ilmu Ekonomi dan Koperasi. PT. Intermas. Banda Aceh.

Mubyarto. 1987. Politik Pertanian dan Pembangunan Pedesaan. Cetakan ke-2. Penerbit Sinar Harapan, Jakarta.

Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Lembaga Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, Jakarta.

Pakpahan, A. 1989. Perspektif Ekonomi Institusi dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam. Ekonomi dan Keuangan Indonesia, 37(4): 445-464.

Pakpahan, A. 1990a. Permasalahan dan Landasan Konseptual dalam Rekayasa Institusi (koperasi). Makalah disampaikan pada Seminar Pengkajian Makalah Perkoperasian Nasional, 23 Oktober 1990. Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Koperasi dan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pertanian, Bogor.

Pakpahan, A. 1991b. Penanggulangan Kemiskinan: Prinsip Dasar, Metodologi dan Upaya Penanggulangannya. Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional (Semiloka Nasional) Penanggulangan Kemiskinan. 20-24 Mei 1991. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Partomo, T.S. 2009. Ekonomi Koperasi . Jakarta: Ghalia Indonesia.

Rahardja. 2000. Teori Ekonomi Mikro Suatu Pengantar. Edisi Kedua. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Rahim, A. 2000. Ekonomi Pertanian Pengantar Teori dan Kasus. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rasyaf, 1996. Kelembagaan Peternakan. Penerbit Universitas Padjajaran : Bandung.

Saragih, B. 2000.Agribisnis Berbasis Peternakan.Kumpulan Pemikiran.USESE Foundation dan Pusat Studi Pembangunan IPB, Bogor.

Sembara, R. 2010. Analisis Strategi Pengembangan Usaha Ternak Sapi Perah Koperasi Unit Desa (KUD) Bayongbong, Kaupaten.Garut Jawa Barat. [Skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen.

Schmid, A. A. 1987. Property, Power and Public Choice: An Inquiry into Law and Economics. Second Edition. Preager, New York.

Siregar, 1990. Analisis Usahaternak. Penerbit Universitas Indonesia : Jakarta Soekartawi. 1985. Analisis Usahatani. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Soekartawi, Tjipto L, dan Yanuar R. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk

Pengembangan Petani Kecil. Jakarta : Universitas Indonesia, Jakarta. UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Undang-undang Republik

Indonesia

UU No. 12 Tahun 1967 tentang Perkoperasian. Undang-undang Republik Indonesia.

Lampiran 1. Biaya Penyusutan Usaha Ternak Sapi Perah Anggota KUD Cisurupan

Jenis Penyusutan Harga Awal

Umur Ekonomis

(Thn)

Penyusutan Unit Jumlah

Lahan 4.000.000 10 30.000 1 30.000

Kandang Kecil 500.000 10 50.000 1 50.000

Lampu Kandang 30.000 3 15.000 1 15.000

Selang 300.000 3 65.000 1 65.000

Jumlah Total 160.000

Sumber : Data Primer, diolah (2011)

Lampiran 2. Biaya Peralatan Usaha Ternak Sapi Perah Anggota KUD Cisurupan

Jenis Peralatan Harga Awal Umur Ekonomis Jumlah Pemakaian Nilai (Rp) Sikat Kawat 25.000 2 (thn) 1 25.000 Tambang 20.000 2 (thn) 1 20.000 Arit 32.000 3 (thn) 1 32.000 Sekop 20.000 3 (thn) 1 20.000 Cangkul 50.000 3 (thn) 1 50.000

Ember Stainless Steel 40.000 5 (thn) 2 80.000

Saringan Susu 15.000 1 (bulan) 1 30.000

Pemotong Kuku 20.000 10 (thn) 12 180.000

Literan 45.000 10 (thn) 1 45.000

Total Biaya Peralatan 322.000

Sumber : Data Primer, diolah (2011)

Lampiran 3. Biaya Usaha Ternak Sapi Perah Anggota KUD Cisurupan per Bulan

No Komponen Biaya Jumlah Harga Satuan Nilai

Biaya Variabel

1 Pakan Ternak

a. Konsentrat 189 1600 Kg 302.400

b. Hijauan 850 100 Kg 85000

c. Jerami 7 2500 Karung 17500

d. Ampas Tahu 6 3000 Karung 18000

2 Obat-obatan

a. Vitamin 7.150

b. Antibiotik 38.000

3 Biaya Angkut Pakan 10.000

Biaya Tetap

1 Biaya Listrik 20.000

2 Simpanan Wajib 5.000

No Komponen Biaya Jumlah Harga Satuan Nilai 4 Dana Kematian 1.500 5 Retribusi Susu 1.440 6 DPSP 537 7 Tabungan Anggota 1.500 8 Tenaga Kerja a. Pemeliharaan dan Pemerahan 2 10.000 HOK 600.000

b.Pencarian Pakan Hijauan 1 5.000 HOK 150.000

12 Penyusutan

a. Peralatan 53.555

b. Kandang 40.000

13 Pajak 8.500

14 Biaya Tata Niaga

a. Biaya Transportasi Susu 0

b. Biaya Transportasi Pakan 0

c. Biaya Pemasaran 0

d. Biaya Modal 0

Total Biaya 1.361.082

Sumber : Data Primer, diolah (2011)

Lampiran 4. Penerimaan Usaha Ternak Sapi Perah Anggota KUD Cisurupan per Bulan

Komponen Penerimaan Jumlah Satuan Harga

1 Penjualan susu 544 Liter 1.577.957

2 Usaha Sampingan

a.Usahatani 575.000

b.Buruh tani 150.000

c.Buruh Bangunan 300.000

Total Penerimaan (Rp) 2.602.957

Sumber : Data Primer, diolah (2011)

Lampiran 5. Pendapatan Usaha Ternak Anggota KUD Cisurupan per Bulan

Komponen Biaya dan Penerimaan Jumlah

Penerimaan Total 2.602.957

Biaya Total 1.361.082

Pendapatan Total 1.241.875

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Garut pada tanggal 31 Agustus 1989 sebagai putra pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Yana dan Ibu Nia. Pada tahun 1994 penulis memulai studinya di TK PGRI I Garut. Pada tahun 1995 penulis melanjutkan studinya di SDN Karangmulya II Garut dan lulus pada tahun 2001. Penulis melanjutkan pendidikan di SMPN I Garut dan lulus pada tahun 2004. Selanjutnya, penulis bersekolah di SMAN II Garut dan lulus pada tahun 2007. Pada tahun yang sama, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Setelah setahun belajar di Tingkat Persiapan Bersama (TPB-IPB) pada tahun 2007, penulis memilih Mayor Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan yang diampu Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen-IPB. Untuk melengkapi kompetensi Mayor, penulis memilih Minor Konservasi Sumberdaya Hutan IPB.

Selama kuliah penulis aktif pada berbagai lembaga kemahasiswaan intra kampus. Tercatat penulis pernah menjadi ketua divisi Humas Domba Cup, staf divisi Human Resource Development (HRD) BEM FEM IPB, Bendahara Himpunan Mahasiswa Garut (HIMAGA), staf Logstran Stimulus For A BEM TPB. Selain itu, penulis juga aktif di berbagai kegiatan baik sebagai peserta maupun sebagai panitia.

Dokumen terkait